BATHROOM -Chapter 1 : Being Ignored- by AYUSHAFIRAA

―BATHROOM―

bathroom-irenebaekhyun1

― Chapter 1 : Being Ignored ―

Author : AYUSHAFIRAA ( @ayushafiraa_ )

Cast : Bae Joohyun as Irene, Byun Baekhyun, Oh Sehun.

Genre : AU, Gore, Kidnapping, Romance, Sad, Sadism.

Rated : R / PG-17

Length : Chaptered/Series

Disclaimer : Casts belongs to God and their real life. Inspired by ‘ROOM’ Movie. Sebenernya belum nonton filmnya sih-_- Cuma ya udah tau garis besar ceritanya aja, jadi terinspirasi😀 Selebihnya hanya bagian dari imajinasi/khayalan saya sendiri. Sifat/sikap/kehidupan karakter di dalam cerita ini diubah untuk kepentingan dramatis cerita sehingga mungkin tidak sama dengan sifat/sikap/kehidupan karakter dalam dunia nyata.

© AYUSHAFIRAA, 2016. All Rights Reserved. Unauthorized Duplication & Plagiarism is Prohibited.

 

I love you more than anything you knows…

.

.

.

Awan mendung disertai hujan deras sore itu membuat siapapun bergegas mencari tempat berlindung. Sepasang mata elang seorang lelaki terlihat memperhatikan setiap gerak-gerik gadis cantik dengan segala kesempurnaannya yang sedang berteduh di depan sebuah toko dari dalam mobil yang sudah lebih dulu lelaki itu sulap menjadi taksi kelas eksekutif yang berjarak sedikit jauh dari gadis cantik itu.

Gadis cantik yang wajahnya terpampang di hampir setiap toko pakaian, toko alat kecantikan, toko elektronik dan juga hampir di setiap sampul majalah bulanan itu terkenal sebagai Irene. Model cantik tanpa cacat yang menjadi pujaan lelaki di seluruh penjuru Asia, khususnya Korea Selatan.

Irene tampak kesal menunggu, sesekali dirinya terlihat menempelkan ponsel pintarnya ke telinga, entah menghubungi siapa. Seorang gadis tampak dengan setia mendampinginya, entah manager, entah asisten pribadi. Yang jelas saat ini, lelaki di dalam mobil taksi itu menyeringai.

“Di mana mereka?! Aku bisa terlambat kalau begini caranya!” omel Irene pada gadis yang terlihat lebih tua di sampingnya itu.

“Sabarlah, Irene-ah. Mungkin jalanan macet.”

Irene menghela nafasnya kasar, kemudian memaksakan diri menembus derasnya air hujan untuk memberhentikan taksi. Sebuah taksi pun berhenti tepat di depannya, tanpa ba-bi-bu lagi, Irene masuk ke dalam taksi itu bersama gadis yang sedaritadi mendampinginya.

Setelah menyebutkan tujuan, taksi itu melaju membelah jalanan kota Seoul. Raut wajah Irene masih terlihat kesal. Tentu saja. Bagaimana ia tidak kesal jika mobil yang seharusnya menjemputnya satu setengah jam yang lalu tidak juga menunjukkan tanda-tanda kedatangan sedikitpun?

Lelaki berpakaian ala sopir taksi itu melirik ke arah kaca dengan seringaian dan tatapan mistisnya yang tak pernah hilang. Ia teringat bagaimana rencana yang sudah ia susun rapi berjalan lancar tanpa halangan. Kalau saja ia tidak bergerak cepat dalam mengempiskan seluruh ban dan mengotak-atik rem mobil jemputan model itu hingga blong, mungkin ia akan kehilangan kesempatannya untuk menghabiskan waktu bersama gadis yang sangat digilainya itu.

Ahjussi, sepertinya kau salah jalan. Ini bukan jalan menuju tempat yang kami tuju.” Ujar gadis yang duduk di sebelah Irene. Sementara itu, Irene tampak tak perduli lagi dengan pemandangan jalanan asing yang sepi di hari yang mulai gelap itu.

“Memang benar, Agassi. Ini bukan jalan menuju tempat yang kalian tuju. Tapi ini jalan menuju surgaku bersama gadis pujaanku.”

Irene berpaling dan…

Prat! Cipratan darah gadis di sampingnya mengenai wajah mulus gadis itu tepat setelah bunyi tembakan terdengar. Lelaki itu dengan wajah tak bersalah menembak kepala gadis di samping Irene hingga meninggal di tempat dengan mata terbuka. Irene otomatis terkejut. Dengan tangan gemetar ia pun membuka pintu taksi tersebut dan nekat meloncat ke luar hingga dirinya jatuh berguling-guling di aspal jalanan yang kasar.

Lelaki itu menghentikan mobilnya dan keluar untuk kembali mendapatkan gadis pujaannya. Irene berlari tertatih dengan tubuh yang penuh luka akibat terjatuh tadi. Gadis itu berlari tanpa tahu arah dan tujuan, ia hanya ingin menyelamatkan dirinya dari lelaki pembunuh yang terus mengejarnya di belakang.

BRUK!

Irene terjatuh dan meringis kesakitan setelah lelaki itu menembak dengan tepat ke arah betisnya yang sudah tidak mulus lagi itu sebanyak dua kali. Lelaki itu menjambak rambutnya kasar hingga kepalanya menengadah menghadap lelaki itu. tanpa peduli tangis dan rintih kesakitan Irene, lelaki itu pun membekap mulut dan hidung Irene dengan sapu tangan yang sudah lebih dulu diberi obat bius hingga Irene tak sanggup lagi mempertahankan kesadarannya.

.

.

.

Lelaki itu tersenyum menyeramkan. Sebuah televisi layar datar berukuran 32 inchi di ruang tamunya yang berantakan itu terlihat sedang menayangkan berita hilangnya seorang model cantik kenamaan Korea Selatan, Bae Irene. Oh Sehun, artis pria yang diketahui telah bertunangan dengan Irene dan berencana akan melangsungkan pernikahan mereka sekitar satu bulan lagi itu terlihat keluar dari kantor polisi dengan wajah khawatir dalam berita itu.

“Kau menjijikkan, Oh Sehun.” gumam lelaki itu.

Lelaki berdarah dingin yang tergila-gila dengan sosok Bae Irene itu, Byun Baekhyun namanya. Lelaki penyendiri yang sudah tak memiliki orang tua maupun kerabat dekat lainnya. Mendiang kedua orang tuanya yang kaya raya itu meninggalkan kekayaan yang seolah takkan pernah habis untuknya.

Baekhyun berjalan di antara sampah-sampah bekas makanan ringan yang berserakan di mana-mana. Rumah mewahnya itu benar-benar berantakan dan tak lagi terlihat seperti rumah manusia, rumahnya itu sepertinya lebih cocok disebut kandang binatang. Lelaki itu turun ke ruang bawah tanahnya. Di sana terdapat pintu yang dikunci rapat-rapat dengan kunci gembok serta rantai yang terbelit-belit. Dengan sabar, Baekhyun membuka kunci serta lilitan rantai-rantai itu.

“Kau sudah sadar rupanya, Cantik.”

Irene yang semula terlihat berusaha keras melepaskan diri itu akhirnya terdiam. Gadis itu duduk di atas kloset duduk, matanya tertutupi lilitan kain, kedua tangannya diborgol diantara tepian besi yang mengelilingi ruangan yang tak lain adalah kamar mandi yang sudah lama tak terpakai oleh keluarga Byun, kedua kakinya pun diikat oleh tali. Terlihat bekas merah di sekitar tangan serta kakinya yang memperlihatkan betapa keras usahanya untuk terbebas dari jeratan penculik bengis itu.

“Tolong lepaskan aku…” ucap gadis itu dengan suara pelan yang hampir habis.

Baekhyun menyentuh dagu Irene, memandangi setiap inchi wajah gadis itu yang ternodai oleh debu-debu yang beterbangan.

“Kau pasti berusaha keras untuk berteriak meminta tolong. Sayang sekali, Cantik, ruangan lembab ini kedap suara. Sekalipun ada seseorang berdiri di depan pintu kamar mandi ini, orang itu tidak akan mampu mendengar teriakanmu.”

Dahi gadis itu mengkerut, matanya yang tertutupi kain itu terpejam kuat. Ia tak bisa mengingat wajah lelaki yang masih menyentuh dagunya itu. Karena syok yang berlebihan, gadis itu akhirnya melupakan wajah lelaki yang seharusnya paling ia ingat ketika polisi nanti menanyakan ciri-ciri penculiknya.

“Siapa kau sebenarnya? Kenapa kau melakukan ini padaku?”

Baekhyun dapat melihat kain yang menutupi mata gadis itu basah, gadis itu pasti menangis lagi. Ia lalu menyentuh pipi Irene sambil menunjukkan seringaiannya yang tak mungkin dapat dilihat gadis itu dalam kondisi seperti ini.

“Karena kau tak pernah menganggapku ada…” bisik lelaki itu tepat di telinga Irene. “Dengan ini, akhirnya kau bisa menyadari kehadiranku yang selalu ada untukmu.”

.

.

.

Sorot balik ingatan Baekhyun kembali ke saat di mana dirinya rela berdesak-desakan di antara ribuan penggemar Irene yang berkumpul untuk berjumpa langsung dengan model cantik yang mereka puja-puja. Irene yang saat itu terlibat kontrak dengan salah satu brand kecantikan ternama mengadakan jumpa fans di depan gedung brand kecantikan tersebut. Baekhyun sudah membawa segala hal yang berhubungan dengan idolanya itu untuk ditandatangan, dan tak lupa ia juga membawa hadiah spesial untuk idolanya itu.

Annyeong, Irene-ssi.” Sapa lelaki itu dengan penuh senyuman. Namun gadis yang disapanya itu terlihat sibuk mengobrol dengan staff penyelenggara dan melupakannya. Lelaki yang mengantri di belakangnya pun mendorongnya karena terlalu lama berdiam diri. Tepat setelah Baekhyun menyingkir, Irene kembali menyapa penggemarnya dan memberikan tanda tangan kepada mereka. Lelaki itu tersenyum pahit.

Di senja beberapa hari setelah acara jumpa fans Irene, Baekhyun yang sedang berjalan-jalan sendirian melihat gadis cantik bertubuh mungil dengan rambut blonde itu memakai sweater, celana jeans, kacamata, dan topi yang serba hitam. Sebagai penggemar berat Bae Irene, Baekhyun tak mungkin salah orang.

“Kau Bae Irene, kan?” tanya Baekhyun tersenyum lebar pada gadis itu. Gadis itu terkejut, lalu melihat ke kanan kirinya dan mulai berjalan menunduk menjauhi Baekhyun. Baekhyun yang tak mengerti dengan sikap gadis itu akhirnya mengikuti ke manapun langkah gadis itu pergi.

Gadis yang ia yakini sebagai Irene itu masuk ke dalam sebuah hotel bintang lima. Baekhyun benar-benar bingung, kenapa Irene harus berpakaian seperti itu untuk mengunjungi hotel bintang lima?. Irene menekan tombol ke atas saat langkah kakinya yang tergesa itu berhenti tepat di depan elevator. Setelah memastikan Irene masuk ke dalam elevator, Baekhyun melihat angka merah yang tertera di elevator itu. Lantai 6.

Baekhyun berlari menaiki tangga darurat menuju lantai 6 untuk memastikan apa yang dilakukan Irene sendirian di hotel itu. tak butuh waktu lama, Baekhyun berhasil naik ke lantai 6 dan kembali mengikuti Irene dari jarak jauh.

“Eoh? Apa dia sudah memesan kamar itu sebelumnya?” lelaki itu bersembunyi di balik dinding. 5 menit… 10 menit… 20 menit… 40 menit… 1 jam 20 menit kemudian…

“Ada yang bisa saya bantu, Tuan?” pelayan hotel menawarkan bantuannya pada Baekhyun yang sedaritadi pelayan itu sadari terus berdiri di tempat yang sama lebih dari 1 jam.

“Tidak ada, terimakasih.” Tolak Baekhyun.

Baekhyun berjalan mendekat ke arah kamar yang Irene masuki lebih dari 1 jam yang lalu itu. Belum sampai 6 langkah, matanya menangkap sosok pria berkulit putih dengan tinggi lebih dari 180 sentimeter keluar dari kamar yang sama dengan yang Irene masuki. Lelaki itu juga berpenampilan serba hitam sama seperti Irene.

Chogiyo…”

Lelaki tinggi itu berhenti dan membenarkan posisi topinya hingga sedikit menutupi wajahnya. Bagaimanapun, Baekhyun berusaha bersikap senormal mungkin dan menurunkan sedikit posisi tubuhnya untuk dapat melihat wajah lelaki yang menundukkan kepalanya itu.

Oh Sehun….

“Apa kau tahu kamar 6504?” tanya Baekhyun asal.

“Kau pasti salah masuk hotel, jumlah kamar di hotel ini tidak lebih dari 6000.” Jawab lelaki itu sebelum akhirnya bergegas pergi meninggalkan Baekhyun. tak lama setelah kepergian lelaki tinggi yang Baekhyun ketahui sebagai Oh Sehun, artis pria terpopuler di Korea Selatan, Irene terlihat keluar dari kamar hotel yang jaraknya tak jauh lagi dari tempat Baekhyun berdiri sekarang. Gadis itu hanya lewat tanpa sedikitpun melirik ke arahnya.

large

Model cantik Bae Irene dan Artis tampan Oh Sehun terlibat skandal’, ‘Oh Sehun bantah perihal kedekatannya dengan Irene’, ‘Irene : Aku dan Artis Oh Sehun tidak pernah mengadakan pertemuan di kamar hotel. Jangan percaya berita yang tak berdasar.’, ‘Setelah saling membantah, Artis tampan Oh Sehun umumkan hubungan spesialnya dengan Model cantik Bae Irene di depan publik.

Baekhyun merobek semua surat kabar yang memberitakan kedekatan Irene dengan Oh Sehun hingga tak berbentuk lagi. Komputer dan televisinya pun sudah ia hancurkan setelah tayangan seputar hubungan Irene dan Oh Sehun terekspos di mana-mana. Rasa cintanya yang terlalu besar untuk seorang Bae Irene membuatnya tak bisa menerima kenyataan kalau gadis itu ternyata memiliki hubungan spesial dengan lelaki lain yang sama-sama memiliki pekerjaan di dunia entertainment. Terlebih lagi, setelah menjadi saksi pertama pertemuan Irene dan Oh Sehun di hotel beberapa hari yang lalu semakin membuatnya membenci lelaki itu.

1453196854110

Oh Sehun umumkan kabar bahagia, Irene tak sabar kenakan gaun pengantin.’, ‘Rencana menikah cepat, Netizen curiga Irene telah berbadan dua.’, ‘Setelah resmi bertunangan, Oh Sehun bocorkan tanggal pernikahannya dengan Irene di Instagram.

“Kau tidak bisa memilikinya, Oh Sehun. Dia milikku!” Baekhyun membanting laptopnya ke sembarang arah hingga hancur. Ia tersenyum seperti orang gila sambil memandangi ribuan foto Bae Irene yang tertempel hingga memenuhi setiap inchi dinding ruangan pribadinya itu.

“Kau milikku, Irene-ah.”

.

.

.

Irene menelan ludahnya sendiri setelah mendengar penuturan lelaki yang ternyata begitu tergila-gila padanya. Gadis itu semakin takut, lelaki yang menculiknya sudahlah pasti tak waras lagi.

“Jika aku berjanji akan membatalkan pernikahanku dengan Oh Sehun, apa kau mau membiarkanku pergi?” tangan gadis itu gemetar.

Baekhyun menyunggingkan senyumnya, merasa lucu dengan kata-kata gadis itu.

“Sayang sekali, aku sudah terlalu paham tentang lidah manusia yang tak bertulang. Tidak ada janji yang dapat sepenuhnya dipercaya jika yang mengucap janji itu adalah manusia. Bahkan buaya sekalipun akan tetap memangsa seekor kancil meski buaya itu telah berjanji untuk tidak akan memangsanya.”

Bunyi terbukanya pisau lipat terdengar jelas di telinga Irene, permukaan pisau yang dingin berhasil menyentuh kulit wajahnya. Baekhyun mengendus kulit wajah gadis itu dan berakhir dengan hembusan nafas di telinga gadis itu.

“Jika aku mengukir sedikit gambar di wajahmu, akankah seluruh pria di negeri ini masih mau untuk memujamu? Jika sedikit saja wajah cantikmu ini cacat, akankah mereka percaya kalau model cantik kebanggaan Korea ini bisa berubah menjadi buruk rupa?”

“A-ap-apa yang akan k-kau lakukanh? Tolong jangan lakukan itu!” pinta Irene ketakutan.

“Ssshh….” Baekhyun menempelkan telunjuknya di bibir Irene.

“Kau milikku dan takkan pernah menjadi milik orang lain, Irene-ah.”

Tubuh gadis itu bergemetar hebat saat telinganya menangkap suara resleting celana yang sengaja dibuka. Irene berontak pada setiap sentuhan menjijikkan yang dilakukan lelaki itu terhadapnya, tapi apalah daya, pergerakannya yang terbatas oleh borgol dan ikatan tali membuatnya tak sanggup melakukan apapun lagi untuk menghindar.

“Jangan! Jangan lakukan itu! kumohon jangan!” pinta Irene dalam tangisnya.

SRET!

Baekhyun merobek dress mini berwarna putih yang dikenakan gadis itu hingga pahanya yang sedikit lebih mulus dari anggota tubuhnya yang lain itu terpampang begitu jelas.

“OH SEHUN! TOLONG AKU!”

.

.

.

To be continued…

125 thoughts on “BATHROOM -Chapter 1 : Being Ignored- by AYUSHAFIRAA

  1. Omooo omooo ini apaaa
    Gua sukaaa
    Tapi kok gak bisa bayangin wajah psyco nya bacon ya
    Pingin nya sehun aja yg jadi pemeran utama nya

    Tapi gapapa lahhh
    Ini fanfic bagus banget

    Lanjut bacaa thorrrr

  2. Aku kira yang bakal jadi yang jahat itu sehun tapi ternyata baekhyun kekekek gagal paham
    Suka jalan ceritanya yaaa walaupun agak serem sih sama sadisnya itu hehehe

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s