[Vignette] Let’s Move On | by L.Kyo

black-black-and-white-boy-channie-favim-com-2810661

Title: Let’s Move On! | Author: L.Kyo♪ [@ireneagatha] | Cast: Shin Gaeun (OC/YOU), Park Chanyeol (EXO) | Genre: Au!Life, Little!Sad | Rating: PG-15 | Lenght: Vignette | Disclamer: This story is mine. Don’t plagiarize or copy without my permission.

 

[ https://agathairene.wordpress.com/ ]

 

Summary: Kau tak akan mati jika dia meninggalkanmu.

 

—oOo—

 

H A P P Y R E A D I N G

 

 

“Apa kau pernah cemburu?”

 

“Mungkin!”

 

“Apa yang kau lakukan?”

 

“Aku ingin menangis? Tapi untuk apa? Itu membuang waktuku? Bukankah mengharapkan sesuatu namun tak ada hasilnya akan benar-benar membuat hatiku semakin membusuk?”

 

“Kau bodoh! Kau sama sekali tak memperjuangkan cintamu!”

 

“Tahu apa kau tentang hidupku!”

 

BUSS!! Asap putih mengempul begitu saja dan gadis itu seakan terjungkal dalam lubang yang dalam dan gelap. Teriakan dari gadis itu tak akan membuatnya kembali kepermukaan.

 

Mungkin ia mati? Suara gemaan itu sirna bersamaan dengan matahari yang sudah terbenam diujung sana.

 

***

 

Teriakan panik didalam kamar membuat gadis itu harus mengatur nafasnya dalam. Keringat dingin bercucuran melewati dahinya. Oksigennya seraya habis seperti paska berlarian kesana-kemari.

 

Tapi ia sama sekali tak kemana-mana. Ia baru saja bangun tidur dan sebuah kejutan luar biasa datang dari alam bawah sadarnya. Suara bentakan yang sama persis dengannya masih saja terngiang.

 

Bahkan ia ingat betul cerminan dalam dirinya seolah sedang menginterogasinya. Gaeun ingat, bahwa kemarin malam ia mendapatkan satu peristiwa. Rasanya hatinya sudah berubah menjadi batu. Sungguh, semua seolah membeku dan hilang.

 

Intinya, ia sudah tidak mempunyai perasaan pada mantan pacarnya. Park Chanyeol. Walau hanya beberapa persen saja ia masih merasakan hal yang menyakitkan, tapi bagi Gaeun sudah tak ada gunanya lagi untuk berharap, kan?

 

***

 

Rambut panjang gadis itu saat ia melihat dijalan membuat Gaeun terus saja berandai. Mungkin kekasih Park Chanyeol yang baru adalah gadis yang sangat cantik. Ia seharusnya sudah menerimanya. Ia bukan tipe gadis yang terbuka, ceria dan manja. Tak suka bergelayut dibahu kekasihnya.

 

Sudah pantas bukan jika Chanyeol meninggalkannya. Gaeun menghela nafasnya dan duduk tak jauh dari ia berdiri menghabiskan waktu untuk melamun. Kemarin malam, ia pergi jalan-jalan bersama Jimin.

 

Tak ayal Demi Fortuna seakan sengaja membuatnya flashback mempertemukannya dengan Chanyeol. Sangat bagus jika pria itu tak melihatnya. Sudah dipastikan Gaeun tak akan bisa mengontrol menatapnya gugup. Dan lebih bagus lagi jika pacar baru Park Chanyeol memunggunginya. Ia cukup bersyukur setidaknya ia tak mendapatkan dentuman keras dalam hatinya.

 

Ayolah, ayolah. Gaeun menepuk pipi mulusnya. “Tak ada gunanya memikirkan Chanyeol, bodoh. Kau sudah putus dengannya 2 tahun lalu. Dan tak ada harapan lagi untukmu!” Inilah satu-satunya cara Gaeun untuk memotivasi dirinya. Patah hati? Heol. Itu bukan gayanya walaupun itu terdengar sangat munafik.

 

Lalu bagaimana menurutmu? Melihat mantan pacarmu bersama gadis lain dan tidak cemburu apakah sesuatu hal yang salah? Gaeun ingin menanyakan itu pada Jimin. Tapi percuma, ia pasti akan mendapatkan sumpah serapah dan dipastikan bahwa Jimin akan mengatakan gadis bodoh.

 

Gaeun sudah 3x pacaran tapi sungguh, ia masih terlalu dini untuk mengetahui hal itu semua. Mengetahui payahnya dan susahnya menjaga suatu hal hubungan. “Aku payah dan aku memang tak bisa!” Gaeun menutup matanya dan merasakan hawa dingin memasuki pori-pori kulitnya.

 

“Itu salahmu karena kau sibuk dengan kegiatanmu sendiri. Pantas saja Chanyeol berpaling darimu!”

 

Kalimat itu selalu saja Gaeun dapatkan tiap kali berkumpul. Gaeun benci sangat benci. Ia rasa ia tak secuek itu. Seolah semua orang memojokkan. Apakah hubungannya dengan Chanyeol berakhir karena salahnya?

 

Rasa sakit? Jujur saja. ia tak terlalu sakit saat berpacaran dengan pria sebelumnya. Entahlah, Gaeun pun tak tahu. Dari pria yang ia kencani, Chanyeol yang lebih waras baginya. Namun hatinya seolah menjadi batu saat Chanyeol meninggalkannya.

 

“Aku tidak punya perasaan lagi dengan Chanyeol. Tidak!” Gaeun memantapkan hatinya. Namun masih saja mimpi buruk itu menghantuinya. Ia bahkan tak bisa mendengarkan hati kecilnya. Intinya ia tak ingin disangkut pautkan dengan Chanyeol. Jika tidak, bisa-bisa ia mati kutu dengan pacar baru Chanyeol. Ia bukan tipe pengganggu hubungan orang.

 

“Apa yang sedang kau lakukan disini?” Suara berat itu seolah membuyarkan lamunan Gaeun. Suara yang biasanya menjadi makanan kesehariannya. Gaeun beranjak dan membalikkan tubuhnya. Kacamata bulat dan senyuman manis dengan hiasan lesung pipi membuat Gaeun gugup.

 

Satu hal yang membuat Gaeun aneh. Baiklah, tak ada perasaan apapun saat ia tak bertemu, membicarakan ataupun melihat Chanyeol dari kejauhan tanpa saling menatap satu sama lain. Tapi beda lagi jika mereka saling menatap seperti ini. Rasa gugup yang sangat luar biasa seolah mengingatkan Gaeun pada pertemuan pertama saat ia merasakan jatuh cinta.

 

Lucu sekaligus geli. Ia ingin merutuk dirinya sendiri. “Aku bolos kuliah!” Itulah Gaeun. Gadis itu hanya terkikik dan mengabaikan alasan polosnya yang mungkin saja membuat Chanyeol memandangnya tidak-tidak. “Membolos?” Nada tinggi Chanyeol membuat Gaeun tersadar tidak seharusnya ia mengatakan itu.

 

“Ke … kenapa? Ada masalah?” Dan Gaeun mulai sewot. Tak ada alasan Chanyeol menaikkan nada dengan alasan real nya. Baiklah, mungkin pilihan Chanyeol benar tak mempertahankan gadis malas sepertinya. “Jangan marah seperti itu!” Dan senyuman manis Chanyeol membuat Gaeun terkesiap.

 

Dan bukan saat nya untuk terpesonanya. Dan waktunya untuk membicarakan hal lain. Jujur, ia tidak ingin membahas tentang dirinya. Dan satu hal yang membuatnya ingin mengatakan hal lain adalah. “Kemarin aku melihatmu dengan gadis lain. Itukah pacar barumu? Ahh, orang-orang mengatakan jika kau punya pacar baru. Selamat! Aku turut bahagia!”

 

Dan dengan polosnya Gaeun menengadahkan tangannya meminta salam. Chanyeol mengernyitkan dahinya dan menatap Gaeun datar. “Kau tak berubah”. Chanyeol membalas salam Gaeun dan kemudian berlalu, tak ada sepatah katapun setelahnya.

 

Ia melakukan kesalahan? Ia rasa tidak. Gaeun menatap punggung lebar Chanyeol yang semakin lama menjauh. “Mungkin kau melihatku tak ada rasa sakit, kan? Kau salah! Aku hanya ingin mempertahan diriku agar aku terlihat tidak menyedihkan. Tapi jujur, aku… tidak merasakan sakit apapun”.

 

Kemudian gadis itu terdiam, menatap jalanan dengan pandangan kabur. Dan oh ternyata sialnya, airmatanya terkumpul. “Bodoh. Apa yang aku lakukan?” Gaeun terkikik dan menghapus airmatanya. “Tck, memalukan! Seperti tidak ada pria lain saja!” Gaeun mengambil ranselnya dan berjalan pergi.

 

Berharap ia tak seharusnya menetap disana. Mengingat beberapa hal yang seharusnya ia hapus. Saatnya untuk menyibukkan diri. Bukankah melamun dan duduk tanpa melakukan hal apapun merupakan hal yang tak berguna. “Tenang! Setelah ini aku harus mengerjakan laporanku. Lupakan hal itu. Kau tak akan mati!” Gaeun mengangguk dan berjalan penuh semangat.

 

Cinta itu memang suatu hal dasar kebutuhan manusia. Tapi jika cinta itu berakhir dan tak sesuai harapan kita? Menjadi suatu beban? Tidak! Sebaiknya harus menyerah, bukan? Bagaimana dengan mempertahan suatu hubungan. Jangan memaksakan untuk mempertahannya jika orang yang kau cintai tak sama berjuang. Jika jodoh, semua akan kembali. Gaeun percaya, naskah hidupnya akan tertulis sempurna.

 

Mungkin saja ada pria lain yang lebih baik dari Chanyeol, tak selalu menuntut perhatiannya dan seorang yang pengertian. Jalani hidup dan nikmati. Ini bukan masalah tak kepedulian tapi mencoba tak berbalik kemasa lalu dan menatap kedepan. Sama saja? Orang yang yang mencintaimu pasti akan menerima semua sifat burukmu, kan? Dan Gaeun mengerti. Chanyeol bukanlah belahan jiwanya. Dan sudah tak ada alasan untuk mencintainya.

 

Tak ada alasan lagi jika alam bawah sadarnya masih memimpikannya. Munafik jika ia masih tak ada rasa. Tapi saatnya Gaeun memutuskan untuk hatinya dan mengabaikan rasa sakitnya. “Dia sudah punya pacar dan melupakanku. Kenapa aku tidak bisa?” Gaeun tertawa. Seolah ada sebongkah batu menghujam jantungnya.

 

-FIN-

4 thoughts on “[Vignette] Let’s Move On | by L.Kyo

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s