BOND — by Len K

bond-lenk

 

Jadi sebenarnya dia ini siapa?

Oh Sehun?

atau …

Wu Shixun?

BOND

Storyline © Len K. Standard disclaimer applied. No profit taken from this fiction

 

Starring : Sehun EXO – Wu Shixun/Oh Sehun, Wu Yifan, Suho EXO – Kim Junmyeon, etc | Rate : T | Genre : Family, Brothership, Friendship

WARNING!

AU, possibly OOC, typo(s), kinda rush

 poster by ohclaren


 

“Aku sudah selesai.” Shixun mengambil tisu di meja untuk membersihkan sisa-sisa makanan yang sekiranya belepotan di sekitar mulutnya sebelum beranjak dari meja makan dengan cepat.

Kentara sekali ia berusaha untuk segera pergi dari meja makan. Pergi dari hadapan ayah, ibu, dan kakak laki-lakinya. Rasanya Shixun tidak ingin melihat wajah mereka semua. Terlebih tatapan cemas ibunya yang menurutnya begitu palsu.

“Kau tidak berpamitan pada orang tuamu?” suara bariton ayahnya menghentikan langkah Shixun.

Tanpa berusaha memutar tubuh atau menoleh, Shixun berkata singkat, “Aku berangkat dulu.” Baru kemudian ia melenggang pergi setelah membenahi letak tas ranselnya yang hari ini kelihatan lebih menggembung dari biasanya.

“Ah, aku juga harus berangkat.” Yifan meminum susunya dengan tergesa. “Ada rapat untuk event kebudayaan di kampus. Mungkin aku akan pulang terlambat. Makin sibuk.” Yifan menyambar ransel dan kunci mobilnya.

“Ya. Hati-hati.” Ayahnya berujar singkat.

Tapi lain cerita dengan ibunya.

“Shixun. Dia … kau bisa berangkat dengan dia kan, Yifan?”

Yifan tersenyum. “Tentu saja, Ma. Tidak perlu khawatir.” Yifan mencium kening ibunya lalu bergegas menuju mobilnya yang sudah keluar dari garasi.

Melaju dengan kecepatan pelan, Yifan bisa menemukan Shixun yang berjalan di trotoar. Gayanya masih sama; memasukkan dua tangan ke saku celana dengan telinga yang semuanya tersumpal headset. Laju mobil Yifan makin memelan hingga berhenti agak di depan Shixun.

Langkah Shixun terhenti. Tapi begitu ia tahu kalau itu mobil kakaknya, Shixun kembali melangkah. Mengabaikan seruan Yifan dari belakang kursi kemudi, serta berdecih tanda kesal. Diacuhkan begitu Yifan hanya bisa menghela nafas dan kembali melajukan mobilnya. Pelan, amat pelan, menyamai langkah lebar-lebar Shixun.

Shixun masih terus berjalan. Berlagak tidak kenal Yifan. Berlagak Yifan tidak ada di sana. Sampai tiba-tiba lengan Shixun ditarik paksa oleh Yifan yang entah kapan keluar dari mobil.

“Lepaskan aku!” Shixun berontak.

Tapi tenaganya yang belum seberapa jika dibandingkan kakaknya itu membuat perlawanannya tidak berarti. Tubuh jangkungnya dihempaskan di kursi depan. Bunyi auto-lock yang memenuhi ruang pendengaran Shixun membuat remaja itu menjejakkan kakinya kasar dan memukul dashboard mobil Yifan. Yifan yang melihatnya hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya.

Mobil mulai melaju. Deru halusnya jadi pengisi hening.

“Kenapa kau suka membuang-buang waktu? Bukankah dengan berangkat bersamaku kau bisa hemat banyak waktu yang nantinya kau manfaatkan untuk menyalin PR yang belum selesai?” Yifan menggoda adiknya.

Shixun mendecih. Dari tadi tatapannya belum dialihkan dari luar jendela. “Jangan sok perhatian,” katanya dingin.

Yifan menghela nafas pelan. Berusaha memahami. Berusaha tidak emosi.

Sebenarnya Shixun itu adik yang baik dan manis. Kalaupun ada kelakuannya yang nakal dan sedikit kurang ajar, itu wajar. Semuanya masih dalam batas wajar. Tapi Sehun mulai berubah―lebih banyak memberontak, lebih banyak membentak, lebih mudah marah, dan lainnya―sejak Shixun mengetahui fakta bahwa ia adalah anak angkat.

“Pulang jam berapa?” tanya Yifan.

“Kenapa memang?” pertanyaan dibalas pertanyaan. Hal yang lumrah dulunya, tapi sekarang terasa begitu berbeda.

“Kujemput.”

“Tidak usah.”

“Kenapa?”

“Kenapa kau begitu ingin tahu?” akhirnya Shixun menoleh. Menatap Yifan dengan kesal.

Yifan mengangkat bahu. “Setidaknya kau bisa menjawabnya. Bagaimanapun juga … kau itu adikku.” Sengaja Yifan mempertegas kalimat terakhir yang diucapkannya.

Adikku.

Kata itu menyentil Shixun tepat di hati. Dulu ia selalu senang dipanggil seperti itu. Memiliki kakak seperti Yifan yang tampan, baik, perhatian, penyanyang, juga berprestasi tentu jadi kebanggaan tersendiri. Tapi sekarang Shixun tidak merasakan itu lagi. Sebelum tahu bahwa dia diadopsi, Shixun percaya jika ia dan keluarganya terhubung. Tapi sekarang Shixun merasa benang merah penghubung itu putus begitu saja.

Yifan masih diam, fokus menyetir, tapi terus-terusan mencuri pandang ke Shixun.

Shixun tidak tidak peka. Ia tahu kakaknya―kakak angkatnya―itu menuntut jawaban. Dan sebelum Yifan membuka mulut untuk menginterogasinya dan makin membuat mood-nya hancur, Shixun lekas menjawab, “Mau main ke rumah Qian Kun setelah ikut latihan klub baseball.”

Yifan mengangguk seraya ber-oh tanpa suara.

Tanpa terasa, mobilnya sudah sampai di sekolah Shixun. Dengan cepat Shixun melepas sabuk pengamannya dan keluar dari mobil.

“Shixun!” panggil Yifan. “Hei, Shixun! Wu Shixun!”

Sebelum Yifan meneriakkan namanya seperti orang gila dan dia jadi pusat perhatian, Shixun berhenti dan menoleh singkat, melempar tatapan ada-apa-cepatlah-aku-tak-punya-banyak-waktu yang beda tipis dengan kenapa-sih-kau-berteriak-memanggilku-seperti-orang-gila.

“Selamat belajar.” Ugh, senyum Yifan yang tidak berubah padanya itu membuat Shixun muak! Dengan cepat ia melenggang pergi.

Kenapa … kenapa kakaknya masih bisa tersenyum seperti itu? Padahal belakangan ini reaksi yang Shixun berikan adalah kebalikannya.

“Cih!” Shixun berdecih pelan ketika otaknya memikirkan hal tersebut. “Membuat kesal saja.”

 

 

 

“Shixun!” Shixun menoleh pada suara yang memanggilnya. “Kami pulang duluan ya!” lambaian tangan mayoritas teman-teman satu klubnya mengikuti.

“Ya! Enyah saja sana!” Shixun balas berseru. Umpatan dan makian lalu menyahut, tapi Shixun justru tertawa lepas mendengarnya.

Laki-laki berbeda dengan perempuan, tahu? Perempuan itu makhluk sensitif. Dengan perkataan halus saja bisa tersinggung, apalagi perkataan kasar. Tapi laki-laki tidak begitu. Kata-kata kasar itu sama saja bentuk kasih sayang.

Sekarang ruangan klub sudah sepi. Dua anggota terakhir baru saja keluar semenit tadi, membuat Shixun menjadi satu-satunya penghuni ruangan itu. Shixun duduk terpekur pada bangku kayu panjang di sana. Punggungnya yang basah yang menempel pada loker besi memberinya sensasi dingin.

Di tangan Shixun kini terdapat sebuah kartu pos bergambar Sungai Han yang terkenal di Korea sana. Ada tulisan tangan acak-acakan di sebaliknya. Kartu pos itu hanya kartu pos biasa. Harganya murah dan bisa kau temui di kantor pos atau tempat-tempat wisata. Namun bagi Shixun, kartu pos itu harta karun baginya. Ia bawa kemana-mana tak ubahnya seperti remaja jaman sekarang yang tidak bisa lepas dari ponsel.

Karena kartu pos itu dari ibunya.

Kartu pos yang bagi Shixun datang karena terpaksa. Ya, terpaksa. Karena Shixun berkeras ingin mengontak ibunya. Karena Shixun tidak mendengar ucapan ayah-ibunya jika ibu kandungnya tidak mau berhubungan lagi dengannya. Ayah-ibunya sudah berusaha melacak ibu kandungnya, tapi untuk beberapa alasan ibunya tidak mau mengenalnya dan Shixun tidak percaya. Ibu mana yang tega? Paksa, paksa, paksa. Kepala batu Shixun akhirnya berhasil menjebol tembok tinggi nan tebal itu. Suatu hari ada kartu pos yang ditujukan untuknya. Lengkap dengan sebuah alamat juga selembar foto yang tidak begitu jelas.

Nah, bukankah itu artinya ibunya tidak benar-benar tidak mau berhubungan lagi dengannya?

Jadi Shixun membobol tabungannya―tidak semua sih. Juga membawa semua uang hasil kerja paruh waktunya. Mengambil beberapa helai pakaian dari lemarinya. Lalu menjejali tasnya dengan semua pakaian itu, ponsel, power bank, charger, dan peralatan dasar yang dibawa orang-orang ketika bepergian. Oh, tidak lupa tiket pesawat.

Shixun berniat pergi ke tempat ibunya, lalu tinggal bersama ibunya. Mengubur Shixun dan hidup sebagai Sehun―nama aslinya, nama pemberian ibu kandungnya. Ada banyak waktu terlewat di antara mereka dan kebersamaan mereka yang akan terjadi pasti bisa menebus rentang waktu itu kan? Shixun juga bisa menemani ibunya berbelanja. Ke Menara Namsan. Jalan-jalan di sepanjang sungai Han dan naik kapal pesiar. Liburan ke Jeju sepertinya menyenangkan. Keliling Gangnam juga tidak buruk. Siapa tahu ia bisa bertemu idola Hallyu atau jadi idola Hallyu betulan. Insandong, Dongdaemun, Myeondong … ah, mana lagi ya? Terserah mau kemana yang penting ia bersama ibunya! Pokoknya nanti mereka akan saling betukar cerita, banyak, banyak sekali. Ah, Shixun jadi tidak sabaran hanya dengan membayangkannya! Maka dari itu ia bergegas menyambar tasnya dan keluar ruangan klub.

Menuju bandara.

 

 

 

“Yifan, kau tahu dimana Shixun? Jam makan malam sudah lewat dua jam lalu tapi dia belum juga pulang.”

Diberi pertanyaan mendadak seperti itu membuat Yifan tidak siap. Terpaksa ia menelan dahulu minumannya dengan buru-buru. Rasanya sakit, seolah-olah ia baru saja menelan batu sebesar bola ping-pong bukannya likuid bening.

“Dia pamit ke rumah Qian Kun. Mungkin dia menginap di sana.”

“Tapi tidak ada pesan atau telpon darinya.” Ibu Yifan meremas telepon genggam di tangannya tanpa sadar.

Ada jeda sejenak yang diisi oleh hening.

“Mungkin … Shixun butuh waktu untuk menerima ini semua, Ma. Ini semua … tidak mudah bagi Shixun, juga bagi kita.”

“…”

Yifan melangkah mendekati ibunya. Tangannya yang besar dan panjang merengkuh tubuh wanita yang melahirkannya itu dalam pelukannya.

“Semua akan baik-baik saja,” bisik Yifan walau ia sendiri ragu.

Tapi keesokan harinya saat Yifan hendak menjemput Sehun di rumah Qian Kun, Yifan tahu kalau adiknya telah berbohong padanya. Yifan juga tahu kalau adiknya … menghilang.

 

***

 

“Terima kasih!”

Shixun mengangguk pada paman yang berjaga di jimjjilbang―sauna―tempatnya bermalam semalam. Bermalam di sauna jauh lebih murah daripada harus menginap di hotel. Bagaimanapun juga Shixun harus menghemat uangnya.

Ah, ngomong-ngomong soal bahasa, tidak perlu khawatir. Shixun bisa berbahasa Korea walau tidak begitu fasih. Ada teman kakaknya dari Korea yang juga sudah seperti keluarga sendiri yang selalu datang ke rumahnya tiap liburan musim panas. Kadang liburan akhir tahun, kadang waktu luang lain pula. Namanya Kim Junmyeon, tapi Shixun lebih suka memanggilnya ‘Junmian ge’―itu nama Cina-nya Junmyeon, kata Yifan ge. Selain itu Shixun pernah tinggal di Korea selama lima tahun mulai dari dia lahir.

Oh! Sekarang semua terlihat begitu jelas bagi Shixun. Jika dulu ia berpikir ia dilahirkan di Korea karena ayahnya sedang bertugas di sana, sekarang tidak lagi. Tentu saja ia lahir di Korea! Kan dia anak adopsi. Shixun tidak memiliki darah Tiongkok, dia orang Korea tulen. Sekarang ia tengah pulang ke kampung halamannya. Untuk memulai hidup sebagai Oh Sehun. Memang, ini bukan kali pertama ia ke Korea. Tapi kali ini rasanya berbeda. Ia merasa … pulang.

Hei! Shixun tiba-tiba teringat satu hal lagi. Kebetulan macam apa ini? Marga Oh jika ditulis dalam karakter Hanja atau diterjemahkan ke bahasa Mandarin berubah jadi Wu. Marga aslinya Oh dan dia diadopsi oleh keluarga Wu. Permainan takdir yang cantik, eh?

Tapi sekarang, ia hanya harus menemui ibunya. Beruntung tanpa menunggu lama ia sudah bisa mendapatkan taksi. Dan dalam tiga puluh menit perjalanan, Shixun sudah tiba di sebuah apartemen sederhana yang terletak di pinggiran kota. Lebih terlihat seperti rumah susun. Beda jauh kalau dibandingkan apartemen Junmyeon yang terletak di Apgujeong yang merupakan kawasan elit.

Shixun sudah menyiapkan semuanya termasuk uang. Terburu-buru ia membayar ongkos taksi sebelum keluar dan berlari kecil menuju apartemen. Kartu pos dari ibunya ada di tangan kanannya mulai kusut karena ia menggenggamnya terlalu keras. Salahkan adrenalinnya.

Lantai empat, nomor lima puluh.

Shixun terus menggumamkan kalimat itu sepanjang langkah kakinya. Saking bersemangatnya, ia melangkahi dua anak tangga sekaligus. Terima kasih pada tubuh jangkung dan kaki panjangnya. Walaupun nafasnya harus tersengal-sengal setelahnya. Namun ketika tempat yang ditujunya berada tepat di hadapannya, senyum Shixun merekah. Rasanya semua terbayar sudah.

Bel berbunyi dan tidak lama kemudian seorang wanita di kisaran empat puluhan berdiri di depan pintu. Menatap heran pada bocah laki-laki yang membungkukkan tubuhnya dengan menumpukan tangannya pada kedua lututnya serta memandangnya dengan pandangan berbinar.

Nuguseyo?” tanya wanita itu sopan.

Aih! Jadi ini ibunya? Cantik, cantik! Ibunya cantik! Lebih cantik daripada yang di foto! Suaranya juga lembut sekali. Lalu rambutnya yang bergelombang itu membingkai indah parasnya. Yang dihadapannya ini adalah ibunya, ibu kandungnya. Wanita yang mengandungnya selama sembilan bulan. Wanita yang darahnya juga mengalir di dalam tubuh Shixun.

Tiba-tiba saja Shixun jadi begitu emosional. Ada banyak perasaan yang menumpuk di dalam hatinya dan karena semua perasaan itu begitu kuat, Shixun tidak mampu menahannya lagi. Likuid bening yang jatuh dari matanya terasa asin ketika memasuki mulutnya. Dan ibunya makin menatapnya dengan heran.

“Ma … maaf. Maafkan aku. Aku hanya … ah! Aku tidak tahu bagaimana harus menjelaskannya.” Shixun menghapus air matanya kasar. Ibunya semakin mengernyitkan dahi karena dirinya berbicara dalam bahasa Mandarin.

“Apa ada yang bisa kubantu?” tanya ibunya dalam bahasa Korea.

Shixun langsung berdiri tegak. Tinggi ibunya hanya sepundaknya saja. Otak Shixun langsung merekam informasi ini dan menyimpannya rapat-rapat. “Eomma!” langsung saja Shixun menghambur memeluk ibunya. “Eomma, naega jeongmal bogoshipeoyo.” Pelukan Shixun makin erat. Dan ibunya juga makin kuat memberontak. Dipeluk orang asing yang langsung memanggilmu ‘ibu’, siapa yang tidak keheranan dan takut?

“Ah, maaf.” Shixun buru-buru melepas pelukannya ketika ibunya semakin memberontak. “Aku hanya terlalu senang ketika bertemu dengan Eomma.” Shixun nyengir sambil menggaruk kepalanya. Bahasa Koreanya terdengar aneh.

Ibunya menggeleng pelan. “Apa maksudmu dengan ’Eomma’? Aku tidak punya anak.”

Shixun melongo tapi langsung sadar. “Tidak! Aku anakmu! Aku Shixun, Wu Shixun!” jelas Shixun. Tapi kening ibunya semakin mengernyit tidak mengerti. “Oh Sehun! Oh Sehun! Kau memberiku nama itu saat aku lahir. Ta-tapi, tapi, tapi … sebuah keluarga dari Tiongkok datang mengadopsiku. Jadi nama berubah, namaku, berubah. Tapi aku anakmu!” masa bodoh dengan bahasa Koreanya yang belepotan dan bercampur dengan sedikit bahasa Mandarin! Shixun mengibas-ngibaskan kartu pos di tangannya tepat di hadapan ibunya. “Ini, ini! Kau ingat ini? Kartu pos! Darimu! Ingat ini?”

Ibunya, wanita itu, mengambil kartu pos dari tangan Shixun dan mengamatinya. Shixun merasa was-was. Keheningan di sana begitu mencekamnya. “Oh Sehun…” wanita itu menggumamkan sebuah nama dan Shixun langsung kegirangan hanya dengan mendengarnya.

“Ya! Ya! Oh Sehun! Itu aku!” kepala Shixun mengangguk-angguk cepat.

Sebuah memori melintas di kepala wanita itu. Tujuh belas tahun lalu ia memang pernah melahirkan seorang bayi laki-laki. Buah cintanya dengan pria yang dulu begitu ia cintai. Pria yang membuatnya gila dan melawan semua termasuk keluarganya. Ia dibuang oleh keluarganya, memilih menjalani hidup bersama pria pilihannya. Tapi ternyata pria itu menipunya, mengecewakannya, mempermainkannya, lalu mencampakkannya. Ia ingat, dulu ia begitu membenci jabang bayi yang dikandungnya karena luka hati yang ia dapatkan dan bahkan berniat untuk membunuh bayi tak berdosa itu.

Waktu itu masa-masa kelamnya. Ia sungguh membenci jabang bayinya. Tidak menginginkannya. Karena hanya mengingatkannya pada kepercayaan yang diluluhlantakkan dalam sekejap. Ia coba untuk bunuh diri tapi gagal. Hingga bayinya lahir dan tiba-tiba sebuah keluarga ekspatriat datang dan meminta ijin untuk mengadopsi bayinya. Dan tentu saja ia tidak keberatan. Karena sejak awal dia tidak menginginkan bayi itu.

“Ka-kau benar ibuku kan?” Shixun bertanya dengan hati-hati ketika ibunya hanya diam seribu bahasa. Baru menyadari tindakannya yang buru-buru itu bisa mempermalukannya.

“Ya,” jawab wanita itu dingin.

“Syukurlah!” lagi-lagi Shixun memeluk ibunya tanpa ijin.

“Tapi kenapa kau datang kemari?” pertanyaan dari ibunya yang terdengar begitu defensif membuat Shixun keheranan dan melepas pelukannya.

“Karena aku ingin tinggal bersamamu!” jawab Shixun tanpa ragu sedikitpun.

“Maaf?”

“Tinggal bersamamu, bersama Ibu. Mulai sekarang aku mau tinggal bersama Eomma.”

Wanita itu terkekeh pelan. Shixun dibuat heran lagi. Lalu ia menggeleng-gelengkan kepalanya, masih terkekeh. “Tidak, tidak bisa. Tidak boleh.”

“Tapi kenapa?” erang Shixun.

“Karena sejak awal aku tidak pernah menginginkanmu.”

Shixun merasa jantungnya sempat berhenti untuk sepersekon. Apa katanya? Tidak pernah … menginginkanmu? Tapi wanita di hadapannya ini ibunya, ibu kandungnya! Bagaimana bisa ibu kandungnya tidak pernah menginginkannya? Bagaimana bisa ibunya mengatakan hal sekejam itu pada dirinya, darah dagingnya sendiri, di saat pertama kali bertemu setelah tujuh belas tahun berpisah? Bagaimana bisa?!

“Tapi aku anakmu. Kita sedarah.” Shixun memelas.

“Tidak ada artinya untukku. Mungkin memang benar aku ini ibu kandungmu dan kita sedarah. Tapi aku bukan keluargamu. Jadi lebih baik kau pulang ke Tiongkok sana.”

Barusan … ibunya mengusirnya?

“Tidak mau!” raung Shixun. “Aku mau tinggal di sini bersama Eomma!”

“Tapi aku yang tidak menginginkan itu! Aku tidak pernah dan tidak akan pernah menginginkanmu, jadi lebih baik kau kembali ke Tiongkok saja.”

Pintu mulai menutup, tapi berhasil diganjal oleh tangan Shixun. “Kumohon, biarkan aku tinggal di sini. Barang hanya sehari saja. Kumohon.”

“Tidak.” Jawaban dingin yang keluar membuat Shixun merasa baru saja disiram es.

Buyar sudah semua rencana yang sudah ia persiapkan untuk bersenang-senang dengan ibunya.

Dan ketika Shixun menatap mata ibunya, ia tahu hanya penolakan yang akan didapatnya.

“Lalu … kenapa?” suara Shixun mulai terdengar aneh. Serak dan bergetar.

“Apanya?”

“Kalau kau tidak menginginkanku, kenapa kau menulis alamatmu di kartu pos? Kau bisa memalsukan alamatnya agar aku tidak bisa bertemu denganmu. Kenapa kau juga memberiku foto? Itu memudahkanku dalam menemukanmu.”

“Karena … itu supaya aku bisa menegaskan penolakanku terhadapmu.”

Ibunya … tidak mungkin sekejam itu kan? Iya kan? Tolong bangunkan Shixun. Ini cuma mimpi kan? Iya kan? Katakan dia terjebak dalam halusinasi.

Keterkejutan yang melanda Shixun membuatnya tidak sadar kalau pintu di hadapannya sudah terkunci rapat.

 

***

 

“Hai, Yifan. Sayang sekali kau menelepon di saat yang tidak tepat. Aku sedang … sangat-sangat sibuk dengan tugas yang minta dibereskan―” Junmyeon menjawab teleponnya tanpa berhenti mengetik laporan di komputer jinjing miliknya.

Sudah hampir tengah malam tapi Junmyeon harus rela bermesraan dengn tugasnya ketimbang bermesraan dengan tempat tidurnya atau Minrin kekasihnya.

Meja belajar di kamarnya sekarang penuh dengan tumpukan buku, jurnal, clearfile, map, dan lainnya. Browser yang ia bukapun berjajar-jajar tab-nya sampai tidak muat.

Ya, maaf Jun. Tapi ini mendadak sekali.

Ketikan Junmyeon berhenti. Sumpah, belum pernah ia mendengar kepanikan yang begitu kuat dalam suara Yifan selama ia mengenal Yifan.

“Sepertinya kau sedang dalam masalah―”

besar. Masalah besar.

“Apa itu?”

Shixun kabur. Sudah tiga hari.”

“Apa?!”

Dia sudah tahu kalau dia itu anak angkat. Minggu-minggu yang berat bagiku dan keluargaku. Shixun memberontak. Dan kurasa sekarang … kemungkinan besar, dia ke Korea untuk menemui ibu kandungnya

“Dimana alamatnya?” potong Junmyeon yang seolah-olah menelanjangi jalan pikiran Yifan. “Katakan padaku dimana alamat ibu kandung Shixun.”

Di seberang Yifan tertawa. “Kau yang terbaik, Bung. Tapi sayang sekali, aku lupa dimana alamatnya.”

Junmyeon facepalm. “Kau sungguh jenius, Wu Yifan.”

 

***

 

Tapi bukan Shixun namanya kalau tidak keras kepala. Meski diusir dan ditolak, Shixun tetap berada di depan apartemen ibunya. Menunggu ibunya keluar lalu memohon lagi, menunggu hati ibunya terketuk untuknya, menunggu kesempatan kedua yang mungkin datang. Shixun tahu kadang ibunya mengintip lewat lubang kaca di pintu. Ia bisa merasakannya meski tidak pernah mengonfirmasi kebenarannya.

Ini hanya soal siapa yang lebih keras kepala. Tidak mungkin ibunya berdiam di apartemen terus-menerus. Ibunya juga butuh makanan, ada pekerjaan yang harus dikerjakan, teman-teman untuk ditemui, tempat-tempat yang harus didatangi. Ini hanya masalah waktu sampai ibunya keluar dari apartemen. Atau mungkin, seseorang akan datang ke apartemen ibunya lalu Shixun bisa ikut menyelinap masuk saat itu terjadi.

Tapi ini sudah hari ketiga dan ibunya masih betah mengurung diri dan Shixun juga masih setia berada di tempatnya. Beberapa penghuni apartemen mulai menatapnya heran dan takut (karena ayolah, Shixun sudah setia di tempatnya selama tiga hari!). Mungkin beberapa dari mereka menganggapnya tidak waras tapi Shixun tidak peduli.

Persediaan makanannya makin menipis dan uangnya juga. Shixun benar-benar tidak mau beranjak dari tempatnya jadi ia selalu memesan makanan cepat saji. Dan ya, ya, si pengantar makanan akan menatapnya heran. Shixun sudah biasa dengan itu. Dan kalau ada yang bertanya, Shixun akan menjawab, “Aku diusir Ibuku.”. Hei! Dia tidak salah kan? Tapi hari ini uangnya benar-benar menipis. Ada sih uang cadangan. Tapi itu tidak untuk digunakan untuk beli makanan! Duh, kenapa juga perutnya ini sejenis perut karet? Tidak mungkin Shixun menggunakan kartu ATM atau kartu kreditnya. Bisa dilacak. Shixun tidak mau terlacak lalu diseret kembali ke Tiongkok. Di sini adalah rumahnya, kampung halamannya, tanah kelahirannya, (calon) rumah barunya. Ingat? Ini hanya masalah waktu.

Perutnya berbunyi lagi untuk yang kesekian kalinya dan Shixun juga mengerang untuk yang kesekian kalinya. Tidak, tidak. Ia tidak bisa pesan makanan karena uangnya tidak cukup. Tapi dia sangat lapar! Shixun melihat ponselnya dan oh, sial! Baterai ponselnya tinggal dua puluh empat persen dan semua power bank-nya sudah kehabisan daya. Kenapa dia terlahir sebagai maniak game?! Tidak mungkin juga ia beli baterai baru. Malam-malam begini toko-toko pasti sudah tutup. Beli baterai baru berarti pergi dari sini dan ibunya bisa pergi kapan saja. Tidak, Shixun tidak mau itu terjadi. Eh, tapi bukan itu tujuan utamanya melihat ponsel tadi! Dia kan mau melihat jam. Sudah lewat tengah malam. Artinya Ibunya sudah tidur. Dalam waktu tiga hari ia sudah hafal kebiasaan ibunya lho. Hebat bukan?

Jadi kalau ibunya sudah tidur artinya dia aman untuk cari makanan kan? Kalau tidak salah di sekitar sini ada minimarket dua puluh empat jam. Mungkin Shixun bisa makan ramyeon di sana, ditambah minuman dan beberapa tangkup roti. Terdengar tidak buruk kan? Akhirnya dengan enggan Shixun beranjak dari tempatnya dan berjalan menuju minimarket yang dimaksud.

 

 

Niat Shixun ia hanya akan makan ramyeon instan saja. Tapi karena dia sudah teramat lapar, semua makanan yang ia beli ia sikat habis. Dan sekarang ia menyesal sejadi-jadinya. Lapar membuatnya gelap mata. Dengan perasaan menyesal tapi juga senang karena perut kenyang, Shixun kembali berjalan ke apartemen ibunya. Jalanan cukup sepi dan sekelompok orang mabuk―sepertinya berandalan―yang berjalan sempoyongan mendekat kearahnya seraya mengoceh tidak jelas juga mengumpat membuat Shixun sedikit takut.

“Heeeiiiii anak kecil! Sendirian saja?”

Nah, benar kan apa kata hatinya? Kini dirinya sudah dikepung lima pria mabuk.

Shixun mengangguk pelan. Udara di sekitarnya langsung penuh dengan bau alkohol.

“Mau ikut bersama kami? Yongseo masih punya banyak soju di rumahnya. Kita bisa minum-minum sampai puas! Mau?”

Shixun menggeleng. Mati kutu karena dirinya semakin didempet, didesak. Bahkan ia bisa merasakan tubuhnya dirangkul-rangkul dan dijamah-jamah. Ya ampun, dia ini laki-laki!

“Oy, sudahlah Jin-guk! Kau membuat bocah ini takut. Ayo kita pergi saja!” seorang yang lain berbicara dan dibalas cibiran juga cemoohan.

Shixun menghela nafas lega. Akhirnya ia terbebas dari gerombolan tidak jelas ini.

“Maaf,” Shixun bergumam ketika seorang lain yang mabuk berat menabraknya.

“Apa kau bilang? Maaf?! Hanya itu hah?!” suara pria itu menggelegar.

Oh, tidak, tidak. Ini gawat. Siaga satu. Tapi itu tadi bukan salah Shixun. Pria itu terlalu mabuk hingga berjalan saja kepayahan. Wajar Shixun tidak terima.

“Hei, aku sungguh tidak sengaja.” Shixun membela diri. “Dan hal bagus aku sudah mau minta maaf,” tambah Shixun.

“Arogan sekali kau, Bocah.” Kemudian satu bogem mentah mendarat di wajah Shixun. Membuat tubuh tingginya terhuyung ke belakang dan nyeri mulai menyapanya.

Shixun itu remaja labil. Sumbu emosinya pendek dan makin memendek dengan hal-hal yang belakangan menimpanya. Satu bogem tadi sudah cukup untuk memangkas habis sumbu kesabarannya. Shixun balas menghajar pria tadi tanpa rasa takut. Meski Yifan masih lebih kuat daripada Shixun, tapi kekuatan Shixun juga tidak bisa diremehkan. Pria itu sampai tersungkur di tanah. Itu juga berkat mabuknya pria itu sih.

“Apa yang sudah kau lakukan, keparat?!”

Teman-teman pria tadi mulai tidak terima dan maju untuk memberi Shixun pelajaran. Awalnya Shixun masih bisa mengatasinya. Tapi satu banding lima bukan jumlah yang adil. Dan Shixun bukanlah pahlawan super atau ahli beladiri yang sanggup melawan banyak orang. Lama-kelamaan Shixun kewalahan dan dia berubah jadi karung tinju kelima pria mabuk itu.

Makanan yang dimakan Shixun tadi entah kemana perginya. Karena dalam sekejap Shixun tidak punya kekuatan untuk melawan. Sekarang yang bisa dilakukan Shixun adalah bertahan. Bisa gawat kalau ia sampai pingsan dan berakhir di kantor polisi.

“Hei, hei, hei, hentikan. Hentikan. Lebih baik kita pergi dari sini.”

“Kenapa kau mengganggu?!”

“Hei! Dengarkan aku! Lebih baik kita pergi sebelum polisi datang kemari. Ayo, ayo.”

Shixun merasa lega ketika kelima pemuda itu pergi meninggalkannya terkapar di tanah dengan nyeri di sekujur tubuh dan lebam yang mungkin akan lama hilangnya. Tapi dasar remaja, di saat sialpun masih sempat mengumpat. Shixun mengumpat, berusaha bangkit dan kembali mengumpat karena sakit di sekujur tubuhnya makin menjadi. Dengan langkah terseok, Shixun kembali ke apartemen ibunya.

 

***

 

Pagi ini Shixun bangun dengan cara yang amat berbeda. Ada perintah-perintah yang nampaknya ditujukan padanya. Ada suara lembut tapi ada juga bentakan. Shixun merasa samar karena memang dirinya masih dalam kondisi setengah sadar.

“Hei, Nak. Lekas bangun!”

“Ugh.” Shixun menggoyangkan kepalanya. Kesadarannya harus kembali, bersamaan dengan sakit di sekujur tubuhnya. Samar, ia bisa melihat dua orang berseragam sudah memegangi lengannya. “Siapa kalian?”

“Polisi. Dan kau harus ikut kami,” jawab suara yang berat.

“Hah? Polisi?!” oke, kesadaran Shixun sudah kembali sepenuhnya. “Tapi … apa salahku?!”

Si pemilik suara berat yang kembali menjawab. Tak lupa ia mengedikkan kepalanya ke apartemen ibunya. “Pemilik apartemen ini mengirim laporan pada kami tentang seorang pemuda yang sudah menunggui apartemennya selama empat hari. Dan ketika kami kemari, kami menemukan dirimu. Tetangga pemilik apartemen ini juga mengatakan kau memang sudah disini selama empat hari.”

Hei, hei, tidak mungkin ibunya melaporkan dirinya kan?

“Jadi bagaimana, Nak? Mau mengelak?”

Tidak, tidak. Polisi itu benar tapi tidak sepenuhnya benar. Shixun berhak berada disini karena ini tanah kelahirannya, karena ini adalah apartemen ibunya!

“Tapi aku putra pemilik apartemen ini!” elak Shixun.

“Oh ya? Apa buktinya?”si suara berat mencibirnya.

Ah, sialan. Shixun baru ingat kalau dia tidak punya bukti yang cukup kuat untuk membuktikan kalau dia ini putra kandung ibunya. Selembar kartu pos tidaklah cukup.

“Nah, Nak, mari ikut kami ke kantor polisi.” Teman si suara berat menyahut.

“Tidak! Tidak mau! Aku tidak bersalah! Eomma! Eomma! Kumohon keluarlah. Katakan pada mereka kalau aku ini putramu! Eomma!” Shixun memberontak dalam cengkraman kedua polisi itu.

Ribut-ribut itu menarik perhatian para penghuni yang lain. Masa bodoh dengan orang lain! Shixun hanya ingin ibunya keluar dan mengatakan kalau dia ini putranya.

Eomma! Jebal, jebal … katakan pada mereka kalau aku ini putramu! Eomma!”

Tapi naas, pintu itu tidak pernah terbuka meski suara Shixun sudah serak, hampir habis, tenggorokannya sakit, dan wajahnya berlinangan air mata.

Ibunya … kenapa setega dan sekejam itu?

 

 

Di kantor polisi Shixun hanya diam. Kumal, kusut, mata merah dan bengkak, bekas air mata di wajah, lebam-lebam, Shixun benar-benar berantakan. Baik secara fisik maupun psikologis. Penolakan ibunya benar-benar menghantamnya dengan keras. Polisi-polisi yang ada di sana sampai jengkel dan kesal karena diamnya.

“Nak, kami sudah menggeledah tasmu tapi kami tidak menemukan apapun yang bisa dijadikan petunjuk siapa dirimu. Jadi sekarang katakan pada kami, kau ini siapa dan apa maksudmu berdiam di depan apartemen Nyonya Hwang Jina?”

Jadi karena Shixun tidak mau bicara sama sekali, polisi-polisi di sana menggeledah tasnya. Shixun tidak keberatan. Justru itu lebih baik karena ia tidak perlu menjelaskan siapa dirinya. Karena … siapa dirinya yang sebenarnya?

Tapi apa tadi petugas itu bilang? Tidak menemukan apapun yang bisa dijadikan petunjuk? Di dalam tasnya kan, ada dompet dan ponsel. Kenapa mereka tidak bisa menemukannya? Atau jangan-jangan … SIAL! Shixun mengumpat dalam hati. Dompet dan ponselnya raib, berikut semua dokumen pentingnya; paspor, kartu identitas, visa, kartu ATM, kartu kredit, dan lainnya. Tapi bagaimana bisa? Oh! Jangan-jangan … dasar pemabuk sialan! Umpat Shixun.

“Hei, Nak, bersikaplah kooperatif atau kami tidak akan berbaik hati padamu. Sekarang jawab pertanyaanku, kau ini siapa?”

Kau ini siapa?

Dia siapa?

Wu Shixun? Atau Oh Sehun?

Dia tidak ingin hidup sebagai Wu Shixun. Bisa dibilang ia membuang Wu Shixun begitu ia pergi kabur dari rumahnya. Wu Shixun itu masa lalu. Oh Sehun itu sekarang dan masa depan. Tapi dirinya juga tidak bisa hidup sebagai Oh Sehun. Ibu kandungnya menolaknya. Apa artinya hidup jika tidak ada seorangpun di dunia ini yang mengenalmu, mengakuimu, mengetahui kalau kau ada? Apa artinya hidup jika satu-satunya orang yang tahu kau ada justru mencampakkanmu?

“Janghyuk! Jebloskan bocah kurang ajar ini ke dalam sel!”

“A-apa? Tapi Kapten―”

“Haish! Turuti saja apa perintahku! Lama-lama aku juga muak menghadapi bocah kurang ajar yang tidak bisa diajak kerjasama seperti dia. Jebloskan dia sekarang juga!”

Teriakan si Kapten sungguh memekakkan telinga. Tapi Shixun tidak merasa terganggu. Pun saat ia diseret ke dalam sel, ia hanya pasrah.

 

***

 

“Myeon, kita break dulu, bagaimana?” Kibum mengerucutkan bibirnya dan menjatuhkan kepalanya di atas meja dan beralaskan buku diktat.

Junmyeon tak langsung menjawab. Ia melihat sekelilingnya dan mendapati kelompok belajarnya dalam suasana yang benar-benar tidak kondusif. Tidak ada yang fokus lagi sekarang termasuk dirinya.

“Oke,” jawab Junmyeon diikuti helaan nafas. Dan situasi makin tidak terkendali. Dasar, waktu belajar terlihat loyo. Tapi begitu break semangatnya langsung penuh. “Minseok hyung,” panggil Junmyeon pada salah satu seniornya.

“Ya?”

“Apa ada orang aneh yang masuk kantor ayahmu? Ayahmu kan, polisi.”

Alis Minseok bertaut. “Orang aneh? Orang aneh bagaimana maksudmu?”

Junmyeon memijat-mijat keningnya. Susah juga mencari pendeskripsian yang pas. “Orang aneh yaaa orang aneh.”

“Apa definisi ‘aneh’ bagimu? Orang aneh itu banyak, tahu. Contohnya Kibum, atau Chanyeol, atau Heechul hyung. Mereka yang lahir dengan kepribadian 4D, mereka aneh. Kau sendiri, kau yang bertanya soal orang aneh secara mendadak begini juga bisa kusebut aneh kalau aku menggunakan definisi ‘aneh’ dalam kamusku.”

Junmyeon menepuk jidatnya sendiri. “Entahlah Hyung, aku sendiri juga bingung.”

Minseok diam sejenak. “Kenapa tidak cerita terus terang saja? Aku tahu kau sedang memikirkan sesuatu. Belakangan ini kau nampak terganggu.”

Cerita atau tidak? Minseok bukan orang asing bagi Junmyeon. Jadi … tidak masalah kan? “Adik Yifan kabur dari rumah. Kabarnya dia kabur ke Korea mencari ibunya. Ibu kandungnya maksudku. Yah, kau tahu … masa remaja, pemberontakan, pencarian jati diri, realita yang tak sesuai, fakta mengejutkan, tidak bisa menerima kenyataan lalu kabur, seperti itulah.”

“Siapa Yifan?” celetuk Kibum yang diam-diam menguping.

“Kekasih Junmyeon,” jawab Minseok mantap. Kibum melongo.

Hyung! Kekasihku itu Minrin!” Junmyeon mengerang.

“Ya. Minrin itu kekasih wanitamu dan Yifan itu kekasih priamu.”

Hyung, aku bukan biseksual, oke? Kumohon.”

Minseok tergelak melihat ekspresi Junmyeon. “Oke, oke. Bromance-mu saja kalau begitu. Bagaimana menurutmu?”

“Terserah.” Junmyeon sudah jengah.

“Oke, jadi Yifan itu bromance-nya Junmyeon dan adiknya kabur ke Korea mencari ibu kandungnya. Dan si Yifan itu meminta bantuan Junmyeon untuk mencari adiknya. Koreksi aku,” sahut Kibum dengan mengutarakan hipotesanya.

Junmyeon mengangguk.

Minseok nampak berpikir. “Adik Yifan itu masih remaja kan? Masih SMA kalau tidak salah.”

“Ya. Kelas tiga SMA tepatnya.”

Lagi, Minseok diam. Sepertinya berpikir. “Kurasa aku pernah dengar tentang bocah remaja yang baru-baru ini masuk ke kantor polisi. Curi dengar waktu teman ayahku mampir. Dan kalau dihubungkan dengan pertanyaanmu soal orang aneh di kantor polisi, kurasa yang dibicarakan ayahku dan temannya itu adiknya Yifan.”

Oh, dunia memang sempit! Semoga saja itu memang Shixun!

“Dimana dia?” buru Junmyeon.

 

 

 

“Hei, Nak. Keluarlah. Ada yang mau bertemu denganmu.”

Shixun mendongakkan wajahnya. Petugas itu sedang berbicara padanya. Karena tidak ada anak lain selain dirinya di sel ini. Hanya ada dia dan pria yang baru ditangkap sejam yang lalu karena mabuk hingga membuat onar. Tapi … siapa yang mau bertemu dengannya malam-malam begini? Di Korea pula. Apa mungkin … ibunya? Mungkinkah hati ibunya sudah luluh? Ah, memikirkan gagasan itu saja sudah membuat Shixun bersemangat.

Tapi Shixun kecewa ketika melihat siapa yang menemuinya. Itu bukan ibunya. Melainkan Junmian ge―Junmyeon. Ingin rasanya Shixun kabur. Tapi di tempat penuh polisi? Oh, Shixun tidak mau babak belur lagi. Eh, tapi apa itu artinya Yifan ge sudah tahu posisinya? Sial betul namanya kalau begitu.

“Shixun!” Junmyeon berseru seraya menghampirinya.

“Kau kenal dia?” tanya petugas yang bersama Shixun.

“Ya. Tentu saja. Dia adikku, dari Tiongkok.”

Petugas itu mengernyit mendengar jawaban Junmyeon. Adik dari Tiongkok? Terdengar aneh baginya tapi dia tidak mau repot-repot tahu latar belakang ataupun hubungan keduanya. Yang penting bocah kurang ajar yang sama sekali tidak mau bicara ini cepat pergi dari sini.

“Oh, pantas saja dia selalu diam. Dia tidak bisa berbahasa Korea?”

Oke, gantian Junmyeon yang heran. Shixun bisa bahasa Korea kok. Tapi … oke, Junmyeon agaknya paham kenapa Shixun tidak mau bicara. “Yah, begitulah,” jawab Junmyeon.

“Lalu kenapa dia ada di Korea dan tidak mau pergi dari apartemen seorang wanita?”

“Ahahahaha,” Junmyeon tertawa kering. “Dia hanya salah alamat. Dia sebenarnya ingin mengunjungiku setelah sekian lama. Jadi mungkin dia lupa dan … begitulah.”

“Oh.”

“Ya.” Suasana jadi canggung. “Jadi … boleh aku membawanya pulang, Pak?”

 

 

Di sinilah Shixun sekarang. Duduk di samping Junmyeon yang mengemudikan mobil dalam kecepatan tinggi. Tidak ada dari mereka yang buka suara. Shixun masih terguncang dan Junmyeon seolah memberi Shixun ruang untuk diri Shixun sendiri. Hingga mereka tiba di rumah Junmyeonpun tidak ada yang buka suara.

“Ayah dan ibuku sedang berlibur ke Brazil selama satu bulan kalau kau bertanya kenapa rumahku begitu sepi.” Akhirnya Junmyeon jadi yang pertama yang memecah kebekuan. “Kau pasti lapar. Ayo, kubuatkan makanan.”

Belum. Belum waktunya untuk berbicara ke inti permasalahan dan menginterogasi Shixun. Junmyeon tahu Shixun lelah, baik itu secara fisik maupun psikis, jadi mungkin makan malam―meski terlambat―adalah pembuka yang baik. Junmyeon hanya bisa tersenyum saat melihat Shixun makan dengan lahap.

“Yifan sudah bercerita padaku tentang semuanya.” Dan sendok Shixun terhenti di udara. “Tapi kau tenang saja. Tidak perlu khawatir. Aku belum bilang padanya kalau aku sudah menemukanmu.” Sendok Shixun kembali bergerak. “Ini sudah larut. Kau pasti lelah. Setelah makan kau taruh saja piringnya di tempat cuci piring. Setelah itu kau bisa mandi dulu lalu kurawat luka-lukamu itu sebelum tidur. Di kamar biasa oke? Akan kusiapkan air hangatnya dulu.” Lalu Junmyeon pergi meninggalkan Shixun di meja makan.

 

***

 

“Tidak kuliah, Ge?” Shixun heran mendapati Junmyeon malah asyik menonton tv di ruang tengah.

Junmyeon menoleh, cukup terkejut dengan suara Shixun. Tolong garis bawahi kalau pertanyaan Shixun tadi adalah kalimat pertama yang keluar dari mulut Shixun sejak insiden dia dibawa ke kantor polisi.

“Ya,” angguk Junmyeon. “Tidak ada jadwal.”

“Ho, begitu.” Shixun mengambil tempat duduk di samping Junmyeon. “Aku boleh duduk di sini kan, Ge?”

“Tentu saja. Kenapa kau bertanya begitu, hm? Biasanya kau langsung duduk sesuka hatimu tanpa permisi.” Junmyeon mengusak rambut Shixun. Dari dulu Junmyeon ingin punya adik tapi tidak kesampaian, jadi wajar saja kalau dia begitu gemas pada Shixun.

“Soalnya … aku kan, cuma anak angkat.” Shixun melirik-lirik Junmyeon sungkan.

Ah, yaaa … Junmyeon paham. “Kenapa kau mempermasalahkannya? Aku tidak pernah mempermasalahkan itu. Tidak peduli kau anak apa atau anak siapa, kau tetap adikku.”

“…”

Perkataan Junmyeon tidak jauh beda dengan perkataan Yifan. Dan … entahlah, Shixun antara suka dan tidak suka mendengarnya.

Ge?” panggil Shixun. Tidak ada jawaban memang, tapi Shixun tahu itu artinya ia harus lanjut bicara. “Aku ini siapa?”

“Apa maksudmu?”

“Aku ini Wu Shixun atau Oh Sehun?” Shixun menatap Junmyeon lekat-lekat.

“Kenapa kau bertanya pertanyaan semacam itu?” makin heranlah Junmyeon.

Shixun mengangkat bahu. “Karena aku lahir sebagai Oh Sehun tapi tumbuh besar sebagai Wu Shixun?” jeda sejenak. “Saat mengetahuinya, aku merasa dibohongi, dikhianati. Aku merasa mereka―Yifan ge, baba, mama―bukan keluargaku lagi. Hingga aku memutuskan untuk membuang Wu Shixun agar dapat hidup sebagai Oh Sehun. Sesuatu dalam diriku mendorongku untuk kembali jadi Oh Sehun. Aku … ingin hidup bersama keluargaku, yang sesungguhnya.”

Junmyeon mengulas salah satu senyum terbaiknya.

“Sebut aku sok tahu atau apalah, tapi serius … aku tahu ini berat bagimu. Mengetahui fakta bahwa kau adalah anak angkat setelah hidup sekian lama dengan orang-orang yang kau sebut dengan keluarga, itu tidaklah mudah. Kenyataan yang seperti itu tidak akan pernah mudah bagi siapapun itu. Pernah dengar peribahasa ‘darah lebih kental daripada air’?”

Shixun mengangguk. Tv di sana sudah mati.

“Memang benar, hubungan darah itu kuat. Tidak ada yang namanya mantan anak, kan? Tapi apa kau tahu yang lebih berharga dari hubungan darah? Yang lebih tinggi tingkatannya dari hubungan darah?” Shixun menggeleng. “Sebuah ikatan, Shixun.”

“Sebuah … ikatan?”

Junmyeon mengangguk. “Iya. Sebuah ikatan bisa membuat satu-dua atau beberapa orang merasa seperti keluarga sendiri.”

“Seperti kau dan Yifan ge?”

Tawa Junmyeon pecah. “Ya, kau benar. Seperti itu.”

“…” Shixun nampak berpikir.

“Menurutmu keluarga itu apa?” Junmyeon melempar tanya.

“Kumpulan orang yang berikatan darah?” tebak Shixun.

“Itu ada benarnya. Tapi apa kau tahu? Ada beberapa orang tanpa ikatan darah yang kuanggap sebagai keluarga―seperti kau, Yifan, orang tua kalian―dan ada juga orang dengan ikatan darah yang … tidak bisa kuanggap sebagai keluarga. Bagiku … keluarga itu adalah seseorang yang kau cintai tanpa syarat dan mencintaimu tanpa syarat. Keluarga tidak harus memiliki ikatan darah, melainkan keluarga itu ada dan tercipta melalui hubungan yang seseorang jalani dengan seseorang lainnya.”

Shixun diam. Mencerna, memperhatikan setiap ucapan Junmyeon. Yang diucapkan Junmyeon tidak salah. Jadi kalau begitu … Yifan ge, baba, dan mama memang benar keluarganya?

“Keluarga itu juga tidak kebal akan waktu. Keluarga tidak dapat dicegah perubahannya. Entah itu karena sesuatu yang disebut kematian, kelahiran, atau pernikahan. Jadi jika berbicara keluarga adalah suatu unit yang tidak pernah berevolusi dari seseorang, hal itu tidaklah benar. Dan sejujurnya, keluarga itu sangat susah didefinisikan.”

“Kenapa?”

“Karena … keluarga adalah sebuah perasaan.”

“Apa? Sebuah perasaan?”

“Iya. Sebuah perasaan yang kau dapatkan dengan beberapa orang dalam hidupmu. Layaknya kata ‘home’ dalam bahasa Inggris, artinya sama dengan ‘house’―rumah, tapi ‘home’ bukanlah suatu tempat. Keluarga adalah suatu ‘tempat’ dimanapun itu, kau merasa dicintai dan merasa aman, juga merupakan sesuatu yang amat subjektif dan pengalaman yang amat pribadi bagi tiap individu. Keluarga adalah sesuatu yang membutuhkan usaha dan waktu, namun dari usaha dan waktu itu akan ada hasil yang amat manis. Kau, Yifan, paman, dan bibi sudah memetik hasilnya itu. Tapi jangan tidak menganggap atau tidak menghargai nilainya karena sudah sangat biasa terjadi.”

Shixun terpekur di tempatnya.

Iya juga ya?

Faktanya, meski dia anak adopsi tapi kasih sayang yang diberikan baba dan mama-nya tidak beda dengan yang diberikan pada Yifan ge. Meski ia tidak ada ikatan darah dengan kakak dan orang tuanya, mereka semua tetap sayang padanya tidak peduli sebandel apa dia.

“Aku tidak habis pikir kenapa kau tega dan berani membuang keluarga yang membesarkanmu selama ini demi seseorang yang hanya berikatan darah denganmu. Tidak salah sih, tapi kurang bijaksana saja. Terdengar kejam, eh? Tapi seperti yang kukatakan tadi, keluarga itu bukan hanya soal ikatan darah.”

Mata Shixun mulai berkaca-kaca. “Ka-karena aku merasa dibohongi. Dan karena kupikir, ibu kandungku adalah tempat dimana harusnya aku berada. Tapi ternyata yang kualami adalah penolakan. Dia bahkan melaporkanku pada polisi dan berkata terus terang jika tidak menginginkanku.”

“Tapi bukankah kau masih bisa mencari keluarga kandungmu dalam hal ini ibumu tanpa harus mengorbankan keluarga, atau ikatan, yang selama ini sudah terbentuk di antara kau, Yifan, paman, dan bibi?”

Pertahanan Shixun runtuh sudah. “Tidak terpikirkan olehku.”

Junmyeon mengulum senyum. “Tergesa-gesa sekali. Khas remaja labil.” Shixun tertawa di sela lelehan air matanya. “Ngomong-ngomong, ibumu―yang di Tiongkok―sangat cemas terhadap keadaanmu. Ayahmu dan Yifan juga.”

“Tapi … aku masih belum mau bicara atau bertemu dengan mereka.”

“Aku juga tidak memaksamu, kok.” Junmyeon kembali mengusak surai Shixun. “Kau bisa tinggal disini dulu. Selama yang kau mau. Tinggal disini terus juga tidak apa-apa.”

Shixun nyengir. Kelihatan jelek karena ia melakukannya sembari menangis. Mana mau dia tinggal bersama Junmyeon yang―baginya―mengidap brother complex terhadapnya?

 

***

 

“Hei, Yifan. Adikmu ada di rumahku. Dia baik-baik saja, hanya sedikit terguncang. Dia bicara soal penolakan oleh ibu kandungnya jadi yaaahhh kurasa itu pemicunya. Tapi serius, dia baik-baik saja. Namun dia belum mau pulang atau menghubungi kalian di sana. Yah, mari kita beri dia waktu.”

 

***

 

“Xun, ayo ikut aku.” Junmyeon tergesa keluar dari kamarnya dengan pakaian casual dan kunci mobil di tangan.

“Kemana?” tanya Shixun yang tengah bermain game dalam nada malas. Oh, haruskah Minggu paginya berantakan?

Seminggu di rumah Junmyeon membuat Shixun tidak produktif sama sekali. Kerjanya hanya makan, main game, menonton tv, berselancar di dunia maya, dan tidur. Parasit. Tapi kondisi psikisnya mulai stabil. Shixun banyak bercerita dan merepotkan Junmyeon. Minta ini-itu, cerita ini-itu, curhat ini-itu ke Junmyeon sampai Junmyeon kewalahan menghadapi kelabilannya.

“Menjemput temanku di Gimpo.”

“Kenapa harus mengajak aku?”

“Supaya kau tidak alergi matahari. Ayo!”

“Ah! GE!”

Tanpa ampun Junmyeon mencengkram leher Shixun selayaknya manusia mengangkat kucing.

 

 

“Siapa sih, temanmu itu?” gerutu Shixun. Sebagian dirinya masih dendam karena momen berduaan dengan PS4 tercinta harus terganggu. Dan sekarang, ia berada dalam barisan orang-orang yang sedang menjemput seseorang yang mereka tunggu di salah satu terminal kedatangan Bandara Gimpo.

“Ada deh.” Junmyeon meleletkan lidah. “Rahasia pokoknya.”

“Dasar pelit.”

“Hei, kalau aku pelit kau pikir selama ini kau makan pakai apa hah?” tanpa sungkan Junmyeon memukul kepala belakang Shixun.

“Aish! Ge!” Shixun mengerang. Yaaa … perkataan Junmyeon tidak salah. Seminggu ini Shixun berhasil makan yang enak-enak berkat black card Junmyeon. Tapi bukan berarti selama ini Shixun tidak pernah makan makanan enak. Salah sendiri kenapa Junmyeon harus punya black card segala, kan Shixun gelap mata jadinya.

Tiba-tiba tangan Junmyeon terulur ke depan. Telunjuknya mengarah ke suatu titik. “Nah, itu mereka. Kau lihat?”

Shixun mengikuti arah telunjuk Junmyeon. Dan perasaannya langsung campur aduk seketika.

Junmian ge bohong.

Itu bukan teman Junmyeon.

Itu Yifan ge, baba, dan mama.

Yifan ge tersenyum padanya seperti biasa. Baba juga. Dan mama berlari kecil sambil berlinangan air mata, juga tangan terentang minta dipeluk.

Ada rasa rindu, menyesal, sesak, beribu maaf, haru yang dirasa Shixun. Oh, matanya juga mulai terasa panas dan berair.

“Kalau kau terus-terusan tinggal di rumahku, bisa bangkrut aku nanti,” cibir Junmyeon. “Dan lagi, aku tidak mau ada parasit-hidup di rumahku.”

Shixun tertawa. Tidak perlu tersinggung. Shixun tahu apa maksud Junmyeon sebenarnya. “Kau mana bisa bangkrut sih, Ge?”

“Shixun!” itu suara ibunya. Bukan ibu kandung memang. Tapi … yang penting kenangan dan momen yang mereka bagi selama ini kan?

Mama!” dan Shixun langsung memeluk ibunya. Air matanya langsung banjir. Ayahnya ikut memeluk mereka belakangan. “Maafkan aku Ma, Ba. Maafkan aku, maafkan aku.”

“Ya, ya, bukan masalah Shixun. Bukan masalah.” Tangan mama tidak mau berhenti mengusap-usap sayang kepala Shixun. Sementara ayahnya menepuk-nepuk punggungnya. Yah, ayahnya bukan orang verbal kalau dalam hal pamer afeksi.

Sementara ketiganya masih berharu-biru, Yifan dan Junmyeon berdiri berdampingan dan tertawa kecil.

“Aneh. Kenapa kau menyuruh kami datang? Bukannya kau senang kalau Shixun ada di dekatmu? Dulu kan, kau sering berkoar-koar untuk menculiknya,” goda Yifan.

Junmyeon mencebik sinis. “Ya, sama-sama, Wu Yifan.” Yifan tergelak. “Aku tidak berminat memelihara parasit hidup seperti dia di rumahku. Sejak kapan adikmu berubah profesi jadi penguras kantong orang, heh?”

Yifan tergelak. “Kurang ajar begitu kau suka kan?”

“Oh, diamlah, Tiang. Ada yang mau bicara denganmu.”

Yifan mengikuti arah pandang Junmyeon dan matanya langsung berisorobok dengan mata penuh air milik Shixun. Dan lihat, adiknya itu juga mewek denga tidak elitnya. Meski tampan, kalau mewek begini adiknya cukup jelek juga ya? Tapi lebih jelek Junmyeon. Soalnya Junmyeon itu tidak bisa dibedakan apa dia sedang menangis atau tertawa.

Gege,” cicit Shixun.

“Ya, ya, aku rindu kamu juga, Adik.” Yifan nyengir dan langsung ditubruk pelukan oleh Shixun yang masih menangis. “Ya ampun, sudah sebesar ini masih memeluk manja kakaknya sambil menangis. Kalau berita ini tersebar di sekolahmu, kira-kira anggota fan club-mu bakal menurun tidak ya? Atau jangan-jangan mereka langsung kabur? Aku jadi penasaran.”

“Yang penting Gege tidak kabur dariku saja.”

Yifan tergelak. Junmyeon juga. Orang tua Yifan-Shixun juga. Gombal yang menggelikan tapi manis, Wu Shixun.

Shixun tidak peduli. Yang terpenting sekarang adalah rasa rindunya yang terbayar. Shixun juga tidak peduli lagi dia ini Wu Shixun atau Oh Sehun. Dia adalah Wu Shixun, tapi juga Oh Sehun. Sekarang hal itu bukan masalah lagi baginya.

 

FIN

Note :

Naega jeongmal bogoshipeoyo : aku benar-benar merindukanmu

 

A/N        :

Dua puluh halaman dan 6k+ kata. WOW! Dan ane tulis pas lagi WB. WOW! Apa ini artinya WB ane teratasi? WOW! Such a great relief and peasure that I could write this fic so smooth, ahehehe. Awalnya nulis baru nyampe enam halaman terus stuck dan sisanya bisa selesai dalam satu hari. LOLOLOL

Di tengah progress baru nyadar kalo marga ‘Oh’ itu karakter Hanja-nya ‘Wu’. Kebetulan yang manis.

Dan … nggak tahan buat nggak ngasih KrisHo moment dimari meski ini bukan fiksi shounen-ai or even yaoi! /kibarin banner KrisHo/

Intinya, ane seneng ni cerita bisa kelar😀 Monggo coret-coret kolom komentar😄

40 thoughts on “BOND — by Len K

  1. Haduh.. Kalo ceritanya gini, jadi bingung mau gimana. Campur aduk..
    Mau nangis, tapi kocak.. Mau ketawa, Tapi ada sedihnya juga… Bingung jadinya..
    Eh, tapi btw KrisHo nya dapet banget Kak! Pas!

  2. baca ini.. entahlah.. perasaan jadi campur aduk.. pengen sedih ehh mala kocak juga.. pas akhir” baca bikin ketawa ngakak tp ceritanya sedih.. entahlah hahaha

  3. Len aku kangen Choi Han ,jd pengen peluk Sehun….ma Len,jd kita semua berpelukan hahaaha,emg labil ni otak mau nya yg ga mungkin,jd skrng peluk guling aj!

  4. hii Len, yaampun apa ini??!! 😂😂
    aq bayangin dsni Sehun tu wktu rmbutnya warna/i n bahunya blum selebar skrg, yaampun wktu imut”nya Sehun, skrg mah amit”(biarpun amit” tp dy ttp dihatiku pemirsa) 😳
    seringan bkin kya gni Len, kyanya ekspresi ‘nangis sambil ketawa’nya Sehun ama Junmyeon jdi favoritku dsni 😂 gw ikutan nangis smbil ketawa, tp g sampe ingusan kog tnang aja 😅
    bkin sequel nya ttg brother complexnya Junmyeon k Sehun yg memudar(?)😄
    keep writing yaa Len, fighting!!! :* :*

    • Lu tanya apa? Udah jelas ini epep😄 /digeplak/
      Jaman awal-awal debut gitu ye? Sekarang mah Sehun tuh gans banget ama boyfriend material banget dah :”) Bangga ane ama dia :”)

      Ekspresi nangis sambil ketawa … kalo Sehun unyu sih. Tapi kalo Junmyeon … kayaknya menjijikkan deh jatohnya😄 /disambit sendal/

      Itu memudarnya cuma sesaat kok. Bikos Sehun jadi pemalak halus😛

  5. Emeyzing, emeyzing *keprokin kak len*
    Aku juga dulu merasa takdir begitu manis saat tau hanja Oh nya si sehun itu Wu. Kesamaan lain yg menarik dari 2 bias selain bikin paru-paru kempes tanpa udara :3 wkwkwk #jadi curhat kan

    Entah ada apa dengan para writernim, akhir2 ini aku sering menemukan cerita dimana sehunnya jadi rasa-rasa menderita sejenis butuh belaian atau ketjupan gitu *lalu di sambit*

    BE TE WE AKU GAK BISA FOKUS SAMA CERITA SETELAH ADA BAGIAN INI NIH, INI : potong Junmyeon yang seolah-olah menelanjangi (Azzz! we te ef dengan kata ini) jalan pikiran Yifan.
    DEMI KERANG AJAIB, I DON’T KNOW WHAT TO SAY NO MORE :3 *ikut angkat banner Krisho*

    • Manis banget kan? Apalagi kalo Sehun itu anaknya Yifan terus ibunya Suho, terus sodaranya Tao. MANIS KAN? :”)

      Sehun terlalu sering dapet peran enak. Di sini ane merasa harus menderitakan dia bikos dia di MV Lotto itu kamvret banget apalagi pas solo dance! /lah?/
      Iya, Sehun belum ane elus-elus sih dua hari ini. Ospek soalnya😄😄

      ._________. Itu biasa aja lho susunannya, elunya yang mikir iya-iya kali😄😄

      Elu KrisHo shipper juga? O_O

      • Terus Luhan kakak perempuannya gitu :3 haduhhh giung lah syudah shipperin satu keluarga :v whahaa

        Itu solo dance emang zyalan kak, bikin kezang-kezang sampe mulut berbusa karna terus2an mengumpat tentang gerakan meliuk-liuk yang memang kamvret syekaleh dan itu tuh seksi gak ketulungan dan- /WOY!/ (kak Len mode on) oke oke.
        Engga perlu kak, udah aku kelonin kok tiap hari😄 *lalu di sambit*

        Iya itu biasa aja tapi, tapi, itu krisho.. #lupakanlah

        Honestly aku HunHan shipper😄 wkakakk

      • Errrr itu boleh juga sih. Tapi ane personal ngga sreg ama GS :3 karena ga bisa bayangin /mari kita cut saja sebelum lebih frontal lagi😄😄 /

        IYA KAN! Liukannya maut! Mau deh ane nyawer dia. IKHLAS SUMPAH!😄

        Oh, oke. Bilang ama Sehun besok tidur emperan ya?

        Iya, itu krisho dan aarrggghhh … stop sebelum baper :”
        Howalaaahhhhh HunHan to :O

  6. Huhuuuhuuu,,swerr beneran ane ni nangis Len.. huwaaaa mau donk peluk Len yg dh bikin ane baper,,,,!serius klo ngomongin kluarga dan arti kluarga dlm hal ini org tua,slalu nguras emosional,dan aku setuju banget ma Joonmyeoni soal divinisi kluarga,, keren pke banget buat Len!!!! Kiss n hug for u Len
    – duh jd pengen ikutan peluk Sehun! Wqwq

  7. baru nyadar banget mas kalo wu sama oh itu berangkat dari kata yg sama?
    tapi
    WB APAAN YG BISA HASILIN 6000 KATA
    terus ceritanya manis-manis ada pahitnya kyk gula gosong, suka banget! udh lah aku cuma bisa ninggal like
    typo ada tapi ga mengganggu, yg jelas storylinenya keren! keep writing!

    • Iya kak😄😄😄😄😄 /ketawa ganas lalu dikeplak/ Padahal ya dulu-dulu itu udah baca-baca soal hanjanya member EXO. Cuma nyadarnya pas ni cerita in progress LOL😄😄😄

      Gula gosong katanya … karamel dong?😄

      Dan ane kena komplain typo lagi😄 Maap maap deh, wkwkwkwk

  8. Lenn..!! Kamu post ff br starring by my main bias KrisHun ‘tepat’ on 내 새일 날 😍 diri ini brasa di ksh 선물 ff bday project 😁 yah, wlw br bc di H+1 but still I’m very happy!! Thank you so much 😘 for this great story. 진짜?? Marga ‘오’ klo di tls ke dlm karakter hanja jd ‘Wu’? Kyaa~ 😍 tambah cinta sm KrisHun!! Bener itu, cewe tuh prasaan’ny halus jd jgn pk kata2 kasar, wlw bagi cowo kata2 kasar ke sesama tmn tu slh wjd ‘ksh syng’ antar mrk. I’m so blessed to hv found that strong ‘bond’ in a friendship with my 5 soulsisters ☺ yet, still strugling to build a stronger bond within 내 가적 😢 /미안 curcol/
    bikin baper xplanation Len ttg strong bond di ff ni ky 동방신기 jg EXO wkt msh formasi lngkp! 😭 diri ini mewek pas di airport scene itu 😢 Happily ever after ya Wu family 😊 sk bgt sm deskripsi Len ttg 세훈 yg msh ababil, perut karet n gamer. Jg sm candaan’ny 민석 ttg bromance’ny KrisHo! 😂 ㅋㅋㅋㅋㅋ and.. Skp cool’ny Kris towards 세훈 itu.. 너무 젛아~ 😍 once again, thank you so much 😘 Len, I love this great story so much!! I do really love this strong bond between KrisHun.. Jg among EXO mmbr formasi lngkp! 사라하자!!

    • Eeehhh yang bener? Happy bornday noona!😀

      Iya. Marga ‘oh’ kalo ditulis ke hanja itu jadinya ‘wu’🙂

      Yang ada kakak yang bikin ane baper kalo inget du grup itu pas masih lengkap :”)

  9. Aah malam malam baca beginian jadi sedihh ceritanya baguss kak aku terharu pas endingnya ahh beruntungnya punya abang kaya kris jadi pengen huhu ditunggu kak cerita lainnya ^^

      • Gak asing? Apa mungkin kita saling kenal kak wkwkwk oyaa kak kalau gk slah dulu kak pake nama nuelavasta kah? Aku yakin pasti aku slh nulis tapi seinget aku sih nue nue gitu hhehe.. okede ntar aku mampir ke fanfic mu yang lain ya btw slam kenal yaa kak ^^

      • Iya, itu dulu pen-name ane. Maklum, memori ane suka kocak gitu. Kalo reader yang sekali-dua kali nongol emang ga apal, tapi yang udah langganan(?) apal. Etapi kadang ada yang lupa juga ding😄😄😄

        Salam kenal juga

      • Emm jadi gini kak sebenarnya aku bingung mesti mulai darimana hehehe
        Aku ada ngefans sama sesoorg namanya itu linka entah kenapa setiap inget nama dia aku jadi keinget sma kak len disaat uda gnt penname yang skrg dan aku juga bbrp coment fotonya dia pake nama aku yang ini, gegara kak len blg username aku uda gak asing aku jd mikir apakah kak linka slama ini org yang sma yaitu kak len? Sebelumnya maap bangett nih kak kl aku nny sejauh ini hehehe.. kak pliss jgn marah😦

      • /baca terus cengo/
        Bukan, Linka itu bukan bagian dari persona ane. Iyasih ane punya beberapa persona, tapi si linka ini ga pernah masuk😄
        Maap kalo udah ngecewain😛

  10. Ff apaan inihhh ,, bkin w mewek baper pas baca bagian hun d usir ama ema kandungny ,, astaga gmn y ngutarain prasaan w buat ff ini

    1 kata aj dehh
    ‘DAEBAK’

    semangat nulis crita yg lain thor

  11. Kak Lennn., huhuhu 😢😢😢😢😢😢
    “Memiliki kakak seperti Yifan yang tampan, baik, perhatian, penyanyang, juga berprestasi tentu jadi kebanggaan tersendiri.” aku juga maauuu dongg#dalammimpi😂😂😂

    “Karena sejak awal aku tidak pernah menginginkanmu.” kak aku nangis bcanya😢😢😢. Ibu kandungnya sehun tega banget, bener” tega, gx punya hati 😢
    “Tapi aku yang tidak menginginkan itu! Aku tidak pernah dan tidak akan pernah menginginkanmu, jadi lebih baik kau kembali ke Tiongkok saja.” Huwaaa., sehun oppa..hisk aku jadi tambah nangiss bener bener nyesek, menyayat hati (?)..😢😢😢😢

    Ff kakk bikin aku nangisss..
    Baca ini perasaanku bener benar campur aduk😂 bneran lohh kak.
    Sedih, senang, nyesek, kecewa smuanya dehh😂

    Duh bingung mau ngomong apa lagi nih kak, pokoknya kakk Jjang deh^^

    Dtunggu cerita yg lainnya kak^^
    Buat aku nangis dan ktawa gaje lagi dengan cerita kakk..😂😂😂😂

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s