[EXOFFI FREELANCE] Skyreach (Chapter 6C – The End of Love and Live)

Skkyy2_resized_1.jpg

SKYREACH (Chapter 6C – The End of Love and Live)

 

Main Cast :

  • Oh Sehun
  • Kim Eunbi
  • Byun Baekhyun
  • Jang Nana

Genre  : Mystery, Romance

Author            : Aichan

Length            : Chapter

Rating : T

DisclaimerFF ini murni hasil karya imajinasiku. Semua yang ada di FF ini hanya fiksi belaka. Maaf jika banyak typo. Jangan lupa kritik dan sarannya. Don’t be plagiat. Happy Reading.. ^^

**Part 6C**

 

AUTHOR POV

“Apa masalah ini sungguh serius hingga kau ada disini, hyung?”

Chanyeol menoleh memperhatikan pemilik suara yang baru saja berucap itu. Pandangan menerawang diperlihatkannya saat ini, sedetik kemudian ia menghembuskan nafas panjang. Tidak habis pikir, kalau dirinya akan bertemu dengan pemilik suara itu ditempat seperti ini.

“Sebenarnya ini tidak akan menjadi masalah serius kalau seandainya polisi yang menangani kasus ini tidak menolakku,” ucap Chanyeol sambil membenarkan posisi tubuhnya. Ia saat ini sedang duduk berhadapan dengan beberapa anak sekolah diteras vila Busan yang kacau balau. Setidaknya ia menemukan tempat untuk berbicara dengan tenang saat ini, kalau bukan karena posisinya, ia tidak mungkin melakukan hal ini. “Aku tidak pernah membayangkan kalau aku akan bertemu denganmu ditempat seperti ini. Benar-benar kebetulan yang sangat tidak disangka-sangka, bukan begitu, Oh Sehun?”

Sehun menaikkan sebelah alisnya. Ia kemudian menarik ujung bibirnya tipis. “Aku tidak akan terkejut tentang ini semua, semenjak aku datang ke Korea, masalah seperti ini selalu datang menghampiriku. Dari awal, tanpa sadar kau juga berhubungan dengan ini, hyung” ucapnya sambil tetap menatap lawan bicaranya. “Bisa kau ceritakan permasalahan kasus ini? Sepertinya ini menarik karena kau juga ada ditempat ini.”

“Tunggu sebentar,” ucap seorang gadis sambil mengangkat tangannya mencoba menghentikan pembicaraan yang dirasanya akan panjang. Ia kemudian berdiri dari posisinya sambil menatap orang-orang yang ada disekelilingnya bergantian. Saat matanya bertemu dengan mata milik Sehun, ia merubah ekspresinya, ia memiringkan kepalanya sambil mengerutkan kening, seolah memberi suatu tanda pada teman masa kecilnya itu. “Tidak bisakah kau jelaskan pada kami terlebih dahulu tentang hubungan kalian. Maksudku, ya, kalian daritadi berbicara seolah tidak menganggap keberadaan kami. Hey, disini ada aku, Baekhyun dan juga Nana, kenapa kalian berbicara sesuatu yang sama sekali tidak ku mengerti. Oke, baiklah, kau sudah menyebutkan kalau pria itu, Chanyeol, orang yang selama ini membantumu dalam menguatkan semua hipotesismu. Jadi apa maksudnya itu?”

“Aku memang tidak mengerti apa yang baru saja diucapkan Eunbi. Tapi ku pikir, tidakkah sebaiknya ada sesi perkenalan terlebih dahulu sebelum memulai ini semua?” ucap Baekhyun menyetujui.

Nana hanya menunjukkan senyuman kecil sambil mengangguk perlahan.

“Ini bukan saatnya aku menjelaskan pada kalian hal-hal yang tidak terlalu penting tentang itu,” ucap Sehun begitu ia menghembuskan nafas panjang. “Ada hal yang lebih penting yang harus kita pikirkan. Intinya, pria dihadapan kalian ini adalah Chanyeol hyung, dia seorang profiler kepolisian. Untuk saat ini, bisakah kalian menerimanya?”

Eunbi, Nana dan Baekhyun saling bertukar pandang.

“Baiklah, kalau begitu kalian bisa melanjutkan pembicaraan sebelumnya. Tapi, ingat, jangan mengabaikan kami,” ucap Eunbi sambil menarik ujung bibirnya tipis.

Chanyeol terkekeh pelan melihat kelakuan kanak-kanak yang jarang dilihatnya belakang ini. Itu mengingatkannya tentang kenangan masa mudanya dulu. “Sehun banyak cerita tentang kalian, terutama tentang kasus-kasus yang selama ini kalian hadapi. Perlu kalian tau, aku juga terkena dampak dari kasus itu, secara tidak langsung aku juga membantu dalam penyelesain kasus-kasus itu. Bukankah ini hebat.”

“Kau hanya membantu dalam pemberian informasi, hyung. Jangan berlebihan.”

Chanyeol mendecakkan lidahnya. “Hey, kalau bukan karena informasi yang ku berikan, kau tidak mungkin mengetahui semua itu dengan pasti,” ucapnya yang kemudian melipat tangannya didada. “Jadi, untuk sekarang, karena aku pernah membantu kalian, tidak bisakah kalian berbalik membantuku? Aku suka bagaimana cara kalian menyelesaikan kasus-kasus sebelumnya. Jadi, bisakah kalian membantuku, Skyreach?”

***

Eunbi mematung berdiri dipojokan ruangan sambil mengamati gerak-gerik yang mungkin mencurigakan dari tempatnya berada. Ia sesekali memainkan jari-jarinya mencoba untuk melupakan kenangan singkatnya tentang kejadian yang dilihatnya beberapa waktu yang lalu.

Saat ini ia tengah dipanggil oleh beberapa polisi untuk dimintai keterangan dengan beberapa orang lainnya. Mereka dikumpulkan menjadi satu disebuah galeri pertunjukkan yang sebelumnya digunakan untuk tempat pameran.

“Nona Eunbi, bisakah kau menceritakan apa yang kau lihat pada saat itu? Bisakah kau menceritakannya kembali?”

Kali ini tiba giliran Eunbi. Ia buru-buru menghembuskan nafas panjang sambil membenarkan posisi tubuhnya. Ia menarik ujung bibirnya tipis menutupi ketakutannya untuk mencoba mengingat sesuatu yang sebenarnya tak ingin ia ingat kembali. “Saat itu, semuanya terlihat normal. Tidak ada tanda-tanda yang mencurigakan, Direktur penyelenggara festival membuka kelas dengan beberapa kata sambutan. Aah, iya, benar, saat itu ia bilang kalau ia menggantikan posisi Yerin untuk memberikan kata sambutan itu. Bukankah Yerin itu nama dari gadis itu?” ucap Eunbi hati-hati. “Setelah itu, seperti yang diketahui semua orang, begitu tirai dibuka, ya, hal mengerikan terlihat.”

Polisi yang meminta keterangan pada Eunbi berdeham panjang. Ia menggaruk kepalanya yang tidak gatal dengan pulpen miliknya. Sedetik kemudian, ia melemparkan pandangannya pada rekan yang ada disampingnya persis. “Apa benar kalau korban yang seharusnya membuka kelas itu dengan beberapa kata sambutan?”

“Ya, sepertinya begitu. Korban menghilang tepat semalam sebelum pelatihan festival dimulai.”

“Kalau begitu sebaiknya kita juga mewawancarai Direktur penyelenggara itu.”

“Ya, dia sudah datang.”

Seorang pria mulai memasuki ruangan dengan langkah tegap. Wajahnya tetap tenang disituasi seperti ini. Langkahnya kini mulai mendekat menuju dua orang kepolisian yang ada dihadapan Eunbi. Sebuah senyuman tipis terlukis diwajahnya.

“Aku Min Yoongi,” ucap pria itu sambil menundukkan sedikit wajahnya. “Ku dengar kalian memintaku untuk memberikan keterangan. Aku bersedia membantu apapun untuk kelangsungan festival ini. Semuanya harus berjalan baik meskipun keadaan tiba-tiba berubah seperti ini.”

“Apa anda benar-benar menginginkan untuk tetap melanjutkan acara ini? Bukan maksudku untuk menolak rencanamu itu, hanya saja semua orang benar-benar panik karena situasi ini. Meskipun pelatihan ini dilanjutkan, kupikir itu juga tidak akan berjalan dengan baik,” ucap salah seorang polisi yang lebih muda sambil menatap lawan bicaranya itu dalam-dalam. “Tidak akan mudah menyelidiki masalah ini dalam diam karena situasi ditempat ini benar-benar kacau. Publik pasti akan mengetahui peristiwa ini dengan cepat meskipun kami berusaha untuk menyembunyikannya. Jadi, sebaiknya kita tunda saja acara ini.”

Mata Yoongi membulat. “Apa kau akan membayar semua pengeluaran yang kami tanggung mengenai acara ini?” ucapnya dengan nada yang sama sekali tidak ramah. “Aku sudah menghabiskan banyak waktu untuk menyiapkan acara ini. Meskipun ini hanya pelatihan, tapi aku mengorbankan banyak hal untuk ini. Aku tidak akan menyutujui kalau acara ini harus berhenti.”

“Aku tidak mengatakan acara ini harus dihentikan, Direktur. Hanya saja penundaan, kita harus menunda acara ini selama penyelesaian kasus ini. Lagipula bukankah ini cara yang terbaik untuk menghormati salah seorang rekan kerjamu itu? Jika kau peduli padanya seharusnya kau melakukan itu. Aku tau hubungan kalian memang tidak baik, tapi sebagai seorang Direktur bukankah kau seharusnya melakukan itu?”

Yoongi diam sejenak. Ia sedang memikirkan beberapa hal. Sedetik kemudian ia mendesah kesal. “Ku harap kalian tidak membuatku menjadi orang yang dirugikan karena kasus ini,” ucapnya yang setelah itu pergi dari tempat itu tanpa permisi.

Sepeninggalan Yoongi, seorang polisi lainnya yang lebih tua memandang tidak suka pada rekannya yang lain itu, rekan yang baru saja beradu mulut dengan Yoongi barusan. “Kenapa kau mengatakan itu, huh?” ucapnya sambil memukul kepala rekannya itu asal. “Bukankah kau memanggilnya untuk dimintai keterangan, kenapa kau malau berkata seperti itu?”

Ada kekehan pelan yang tercipta bersamaan dengan rintihan kesakitan pelan dari polisi muda itu. “Aku sudah mendapatkan keterangan dari orang itu, pak kepala,” ucapnya senang. “Ternyata yang dikatakan profiler Seoul itu benar. Ada sesuatu dengannya dan juga korban. Hubungan mereka benar-benar tidak baik.”

“Apa maksudmu?”

“Ku harap kau tidak memarahiku, pak. Tapi sebelum ini, aku sempat bertemu dengan Chanyeol, dan dia menyarankanku untuk mengatakan itu pada Min Yoongi untuk mendapatkan beberapa keterangan. Ternyata sarannya sangat membantu, bukankah ini bisa dijadikan petunjuk pak?”

Lagi-lagi polisi yang dianggap sebagai kepala itu memukul kepala rekannya itu asal. “Itu bukanlah sebuah petunjuk. Kau hanya melakukan pekerjaan yang sia-sia. Berhentilah mendengarkan saran profiler itu dan fokus saja pada pekerjaanmu. Jika aku mendengarmu berbuat seperti ini lagi, aku tidak segan-segan akan mengeluarkanmu dari kasus ini. Mengerti?”

***

“Aku tidak menyangka kalau Sehun mengenal orang seperti dirimu, Chanyeol hyung,” ucap Baekhyun sambil menyetarakan posisinya untuk berjalan berdampingan dengan Chanyeol. Ia mengambil langkah panjang beberapa kali. “Pantas saja kemampuannya dalam menyelesaikan kasus tidak usah diragukan lagi. Dia benar-benar hebat.”

Chanyeol terkekeh pelan. “Sepertinya Sehun belum menceritakan sesuatu mengenai ayahnya padamu ya?” tanyanya sambil menaikkan sebelah alisnya. “Kau akan mengetahui darimana ia mendapatkan bakatnya itu.”

Baekhyun mengerutkan keningnya. Dipandangnya temannya itu-Oh Sehun-, yang beberapa langkah lebih jauh darinya dengan pandangan menerawang.

“Bisakah kalian kemari?” ucap Sehun sambil menoleh ke belakang menyuruh ke dua temannya itu untuk mempercepat langkahnya. “Aku menemukan sesuatu.”

Baekhyun dan Chanyeol langsung berlari kecil mendekat ke arah Sehun. Saat ini mereka sedang berada dilantai dua kelas dimana mereka bisa mengamati situasi tempat kejadian perkara dengan jelas. Tempat itu biasanya digunakan untuk mengatur tali tirai dan pencahayaan panggung oleh para kru.

Awalnya mereka bertiga sempat pergi memeriksa ke TKP langsung, namun ada banyak polisi yang masih menjaganya dan tidak semua orang bisa keluar masuk dengan mudah melewati garis kuning milik kepolisian itu. Dengan berat hati, mereka mengganti metode penyelidikan dengan mengamati dari jarak jauh dan berharap semoga mereka menemukan sesuatu meskipun mereka tidak mencari secara langsung dengan jarak dekat.

Nampaknya, harapan itu kini menjadi nyata.

Sehun selalu bisa memenuhi harapan itu. Dipandangnya sesuatu yang menurutnya janggal itu dari kejauhan tempat ia berada saat ini. “Lihat itu,” ucapnya sambil menunjuk ke arah papan kayu yang menjadi penahan tali yang digunakan untuk menggantung tubuh korban. “Jelas ini bukan kasus bunuh diri. Tidak ada bekas gesekan apapun pada kayu itu. Itu menandakan kalau korban digantung setelah ia meninggal. Jika ia meninggal karena bunuh diri, bukankah seharusnya papan itu memiliki bekas karena pergerakan korban ketika ia tercekik? Aku tau betul jenis kayu itu, sudah dipastikan akan meninggalkan bekas jika ada pergesekan sekecil apapun.”

“Waah, kau hebat,” ucap Baekhyun sambil menepuk pundak temannya itu berulang-ulang secara berlebihan. Begitu melihat tatapan tidak suka yang diperlihatkan Sehun, Baekhyun buru-buru menghentikan tindakannya. Ia kemudian terkekeh pelan. “Ya, inilah Sehun yang ku kenal.”

Chanyeol ikut terkekeh melihat itu. “Benar, bahkan polisi belum menyadari akan hal itu. Ada gunanya juga kita mengamati dari tempat ini,” ucap Chanyeol yang juga mengikuti menepuk pundak Sehun berulang kali. “Apa kau menemukan sesuatu yang aneh lainnya?”

Sehun membenarkan posisinya, ia berjalan menjauh beberapa langkah dari kedua temannya untuk mendapatkan ketenangan. Sesekali ia meregangkan pundaknya akibat bekas pukulan temannya itu. Kini matanya mulai menyebar memenuhi segala penjuru ruangan yang ada dibawahnya dengan teliti.

Tiba-tiba mata Sehun membulat. “Chanyeol hyung, apa kau tau siapa yang menyiapkan semua dekorasi panggung ini?” tanya Sehun buru-buru sambil menatap Chanyeol dalam-dalam.

Chanyeol memiringkan kepalanya. “Tentu saja staf yang mengatur semua itu. Tentang bunga-bunga itu, lantai yang berwarna warni, itu semua staf yang mengaturnya. Apa ada yang aneh?”

Sehun menghembuskan nafas panjang. “Sepertinya aku tau bagaimana pelaku menggantung tubuh korban ditempat ini,” ucapnya berusaha untuk tetap tenang. “Chanyeol hyung, bisakah kau mendapatkan rekaman CCTV dengan kemampuanmu itu? Aku ingin memastikan beberapa hal. Aah, jangan lupakan tentang hasil otopsi korban, aku juga ingin mengetahuinya.”

“Ehm, Sehun, bisa aku bertanya satu hal?” tanya Baekhyun sambil memandang ke arah yang menjadi perhatiannya saat ini. Awalnya ia tidak menganggap hal itu penting, namun semakin lama ia terganggu juga dengan hal itu. “Menurutmu benda apa itu? Kenapa berkilau seperti itu? Maaf karena telah mengganggu obrolan penting kalian, tapi daritadi itu benar-benar menggangguku. Sebenarnya apa itu?”

Baekhyun menunjuk sebuah benda berwarna merah muda yang hanya bisa dilihat kilauannya dari jarak pandang mereka bertiga. Benda itu berada ditumpukan bunga yang menjadi dekorasi panggung, mata Baekhyun benar-benar jeli bisa melihat itu. Padahal, Sehun pikir awalnya benda itu merupakan bagian dari dekorasi panggung.

Sehun kini menatap ke arah Chanyeol. Ia sama sekali tidak bisa menebak benda apa itu.

Dehaman berat keluar dari mulut Chanyeol. Ia kemudian melipat tangannya didada. “Aku tidak begitu yakin mengenai benda itu, tapi dari bentuknya bukankah itu tampak seperti kuku? Kecil dan mirip seperti kelopak bunga. Aku bahkan sama sekali tidak menyadari itu hal yang berbeda.”

***

“Aku mendengar kalau Yerin eonni bunuh diri karena masalah percintaannya. Aku sama sekali tidak yakin, tapi ku pikir, dia kahir-akhir ini tampak sangat frustasi.”

Nana memperhatikan orang yang baru saja berbicara itu dengan tatapan antusias. Dalam hati, sebenarnya ia muak dengan pembicaraan ini, mana bisa ia juga ikut mendengarkan pembicaraan murahan seperti ini tentang orang yang baru saja meninggal beberapa saat sebelumnya. Tapi, ia tidak punya pilihan lain. Setidaknya, jika ia ingin membantu, ia harus melakukan ini. Mencari informasi dengan caranya sendiri.

“Memang apa yang terjadi dengan gadis itu? Maksudku, Yerin eonni, memangnya apa yang membuat kalian berpikir kalau ia sangat frustasi?” ucap Nana sambil merapikan tatanan rambutnya. Mencoba membuat suasana senyaman mungkin untuk pembicaraan yang sengaja dibuatnya. “Apa mungkin dia mengalami putus cinta? Atau gagal menikah?”

Kali ini gadis lain mulai mendekat ke arah Nana. Ia memajukan wajahnya. “Kalian tau, ku dengar, Yerin eonni frustasi karena ia diselingkuhi kekasihnya,” ucapnya setengah berbisik. “Malang sekali dirinya. Wajahnya memang cantik, tapi nasibnya benar-benar buruk.”

“Tapi untuk apa wajah cantik kalau dirinya itu malah menggantung dirinya itu seperti ini. Benar-benar membuat suasana menjadi kacau.”

Nana mengedipkan matanya berulang-ulang. Terkadang, dunia wanita terlihat sangat  menyeramkan. “Apa kata-kata itu bisa dipercaya? Darimana kalian tau kalau Yerin eonni memiliki kekasih dan sedang diselingkuhi oleh kekasihnya itu?” tanyanya untuk memastikan kalau apa yang didengarnya itu bukan hanya gossip murahan. “Apa dia mengatakan itu sendiri?”

“Dia tidak mengatakan itu secara langsung. Tapi, dari tindakannya, semuanya tergambar jelas. Lihat saja kalung yang dipakainya, dia akan selalu tersenyum sendiri jika ia sedang bercermin dan memandang kalungnya itu. Ia juga suka mengatakan, ‘Oppa, saranghae’, ketika ia melihat kalungnya. Menurutmu, apa itu maksudnya? Sudah jelas itu kalung pemberian kekasihnya, mungkin saja itu kalung pasangan atau sejenisnya.”

“Dia melakukan hal-hal seperti itu?” tanya Nana.

“Iya, aku beberapa kali juga suka melihatnya tersenyum sendiri. Tapi belakangan ini, wajah Yerin eonni tampak murung. Ia selalu membuat Direktur kita marah dengan sikapnya, terkadang ia suka melakukan kesalahan saat bekerja, tidak seperti biasanya, ia tampak sangat kacau. Lalu ketika kita sedang membahas tentang wanita simpanan dihadapannya, dia malah marah-marah. Bukankah itu aneh?”

Nana menganggukkan kepalanya. Ia kemudian menatap gadis-gadis dihadapannya secara bergantian. “Apa dari kalian ada yang mengetahui siapa kekasih Yerin eonni?” tanyanya hati-hati.

“Tidak, kami sama sekali tidak bisa menebaknya. Dia sangat dekat dengan banyak pria, mungkin itu salah satu dari mereka. Tapi, ngomong-ngomong, kenapa kau sangat penasaran tentang hal-hal mengenai Yerin eonni?”

Nana membulatkan matanya, tapi ia berusaha untuk terlihat setenang mungkin. Sedetik kemudian ia tertawa kecil. “Bukankah ini pembicaraan yang menarik? Siapa gadis yang tidak suka membahas ini, aku memang tipe orang yang selalu ingin tahu tentang banyak hal,” ucapnya sambil tetap memasang senyumannya. “Kalian juga sama kan?”

***

EUNBI POV

Aku mengatur nafas sambil memainkan botol minuman soda yang saat ini ku pegang. Setelah melakukan wawancara singkat dengan polisi, rasanya benar-benar aneh. Aku memang mendapatkan sedikit informasi tentang kasus ini, tapi rasanya ini benar-benar sangat melelahkan.

“Apa yang membuat seorang gadis muda sepertimu itu murung? Bukankah kau seharusnya penuh semangat diusiamu saat ini.”

Aku menghembuskan nafas panjang. “Siapa yang bisa semangat disituasi seperti ini?” ucapku sambil menoleh ke arah sumber suara barusan. Mataku membulat begitu melihat pria yang ada dihadapanku saat ini, aku sama sekali tidak mengenalnya. “Kau siapa?”

Pria ini kini tersenyum ramah. “Aku Lee Sunji, staf untuk festival ini. Ah, satu lagi, aku juga merupakan juri dalam festival ini,” ucapnya sambil menjulurkan tangannya. Dengan canggung aku menerima juluran itu sambil tersenyum kecil.

“Jadi kau yang bernama Sunji oppa, orang yang dibicarakan gadis itu,” ucapku sambil menganggukkan kepala perlahan. Ya, jelas aku mengingatnya, bagaimana seorang gadis menghinaku karena membahas tentang laki-laki yang ada dihadapanku saat ini. “Ternyata kau juga orang yang tampan ya. Pantas saja banyak gadis yang menyukaimu.”

Sunji tertawa kecil menanggapi pernyataanku. “Apa kau sudah menemukan pesonaku? Cepat sekali,” ucapnya sambil mengedipkan sebelah matanya. Aku menaikan sebelah alis memandangnya, dia benar-benar pria dengan kepercayaan diri yang tinggi. Seharunya aku tidak mengatakan hal itu sebelumnya.

Kini aku sengaja menundukkan kepalaku, malas memandangi pria yang ada dihadapanku saat ini lama-lama. “Ah, kau memiliki jam yang indah,” ucapku sambil melirik jam yang dipakai Sunji dengan pandangan antusias. Jelas saja, jam itu benar-benar manis, jam bewarna perak dengan hiasan ornamen kuno yang menyerupai matahari mengelilinginya. “Apa itu hadiah dari kekasihmu? Tidak banyak pria yang memilih jam seperti ini, itu terlihat sangat manis.”

Sunji buru-buru menarik tangannya dan menyembunyikannya dibalik punggungnya. Mimik wajanya berubah, ia memperlihatkan senyuman canggungnya padaku. “Benar, ini hadiah dari seseorang. Tapi dia bukan kekasihku, tidak, sekarang dia bukan lagi kekasihku,” ucapnya yang kemudian mengalihkan pandangannya ke depan.

Melihat ekspresinya aku kini malah memandangi tangannya yang lain. Ada balutan perban ditangannya. Aku rasa itu balutan perban baru, mengingat bagaimana warna dan bentuk perban itu yang masih terlihat rapih. “Apa kau terluka?” tanyaku tiba-tiba.

Aku terkejut ketika Sunji tiba-tiba bangun dari posisinya. Ia memandangku dengan keningnya yang berkerut. “Apa maksudnya kau menanyakan hal itu? Aku terluka, tidak aku tidak terluka. Aku baik-baik saja dengan semua ini,” ucapnya yang terdengar untuk meyakinkan dirinya sendiri.

“Tidak, maksudmu tanganmu,” ucapku berusaha setenang mungkin menanggapi reaksi Sunji yang berlebihan. “Aku hanya ingin menanyakan kenapa tanganmu itu diperban. Tapi, sepertinya aku salah. Tidak seharusnya aku menanyakan hal seperti itu pada orang yang baru saja ku kenal. Benar kan?”

Aku melihat Sunji menarik ujung bibirnya tipis. “Aah, aku tidak sengaja memecahkan vas bunga dikamarku. Lalu saat aku mencoba membersihkannya, lenganku tergores,” ucapnya sambil memegangi lukanya itu dengan pandangan prihatin.

Aku menganggukkan kepalaku perlahan menanggapinya. Kurasa, pria ini menyembunyikan sesuatu.

***

AUTHOR POV

Sehun menghembuskan nafas panjang. Begitu ia melihat rekaman CCTV seharian penuh, ia kemudian mendengarkan semua informasi yang didapatkan oleh teman-temannya dengan teliti. Ia sama sekali tidak menduga, kalau mereka semua benar-benar bisa sangat membantu dengan cerita mereka. Semuanya mulai terlihat, Sehun mulai bisa melihat benang merah yang mengikat semua pertanyaan dalam kasus ini. Ia hanya memerlukan sentuhan akhir untuk bisa menarik benang merah tersebut dan menemukan jawabannya.

“Aku sudah menghubungi inspektur kepala kepolisian Busan mengenai hal ini. Kepala tim polisi itu tidak mau bekerja sama dengan kita, terpaksa aku menghubungi inspektur untuk menangani masalah ini,” ucap Chanyeol sambil menaruh ponselnya itu disaku jasnya. “Kita bisa melakukan rencana ini tanpa gangguan. Kau bisa menyerahkan ini padaku.”

Sehun tersenyum menanggapi ucapan Chanyeol. Sedetik kemudian ia menepuk pundak Chanyeol bangga, setidaknya ia punya banyak orang yang bisa ia andalkan. “Ayo, kita selesaikan ini,” ucap Sehun penuh percaya diri.

***

Sama seperti sebelumnya, ketika berhasil menemukan siapa pelaku sebenarnya, Sehun mengumpulkan semua orang yang bersangkutan ke dalam satu ruangan. Tapi kali ini ada yang berbeda, bukan hanya Sehun yang menyelesaikan kasus ini. Skyreach, klub misteri yang baru dibuat beberapa hari itu kini berfungsi sesuai dengan alasan dibentuknya. Mereka semua bisa menyelesaikan ini secara bersama-sama.

“Kenapa kalian memanggil kami semua ke tempat ini? Apa kalian sudah menemukan siapa tersangka dalam kasus ini?” ucap polisi muda yang bahkan tampak sangat antusias berbeda dengan atasannya yang justru memasang wajah suram yang menjengkelkan. “Aku sudah menebak akan seperti ini, menarik sekali.”

Chanyeol menunjukkan senyumannya membalas ucapan polisi muda itu.

“Sepertinya ada yang terlewat dari pencarian barang bukti. Aku hanya ingin membantu dan mengembalikan ini,” ucap Sehun sambil menujukkan sebuah kalung perak berbentuk matahari ditangannya. Sebuah senyuman tergores dari wajahnya. “Apa ada yang bisa menebak aku menemukan benda ini dimana?”

Sehun mulai menyebarkan pandangannya, mengamati semua ekspresi orang-orang yang ada dihadapannya dengan teliti. Lagi-lagi ia tersenyum begitu melihat ada ekspresi kepanikan yang tercipta karena ucapannya. Meskipun samar, Sehun masih bisa melihat ekspresi itu.

“Apa itu kalung milik Yerin?”

Kali ini yang berucap adalah Min Yoongi, ia menatap kalung itu dengan pandangan menerawang.

“Ya, itu benar. Ini kalung milik korban. Bagaimana bisa kau mengetahuinya? Bukankah hubungan kalian sangat tidak baik, hebat sekali kau bisa menyadarinya,” ucap Sehun sambil memiringkan kepalanya. “Aku awalnya curiga pada sikapmu itu.”

Yoongi membulatkan matanya. Ia kemudian membuang nafas kesal. “Apa kau mau menuduhku yang bukan-bukan seperti membunuh Yerin? Ya, yang benar saja. Mana mungkin aku membunuh gadis itu hanya karena dia rival-ku, aku tidak seburuk itu. Sudah cukup kerugian yang aku dapatkan karena meninggalnya gadis itu, apa aku masih harus merasakan yang lainnya?” ucapnya sambil meninggikan suaranya. “Semua pasti tau kalau itu kalung Yerin. Dia selalu memakainya kemanapun dia pergi, selalu menggenggamnya ketika ia sedih ataupun senang. Jelas semua orang tau betapa beharganya kalung itu baginya.”

“Aku tidak menuduhmu yang membunuh Yerin, aku hanya mencurigai sikapmu saja,” ucap Sehun sambil menarik ujung bibirnya tipis. “Apa menurutmu kalung ini pemberian dari kekasihnya?”

“Apa maksudmu?”

“Yerin bukanlah sembarang gadis. Dia juga memiliki pesona tersendiri. Seperti tingginya yang sekitar 172 cm, berat tubuhnya yang hanya mencapai 60kg, jelas itu bentuk tubuh ideal yang dimiliki seorang gadis diusianya. Meskipun aku tidak pernah melihatnya, tapi bukankah itu tipe ideal kebanyakan pria?” kali ini yang berucap Eunbi. Ia melangkah mendekat, tapi bukan ke arah Yoongi. Ia menatap dalam-dalam orang yang kini sudah ada dihadapannya lama. “Bukankah begitu, Sunji oppa?”

Sunji membulatkan mata dipandang seperti itu oleh Eunbi. Ia kemudian berdeham pelan untuk menghilangkan rasa aneh dalam hatinya. “Ya, Yerin memang gadis yang baik. Dia memang memiliki pesona tersendiri,” ucapnya sambil menaikkan sebelah alisnya. “Dia gadis yang menarik.”

“Lalu kenapa kau membunuhnya?” ucap Eunbi tajam.

Sunji terdiam beberapa saat. Ia menatap Eunbi dengan kening berkerut. Sedetik kemudian ia terkekeh pelan. “Kau benar-benar cocok memerankan pemeran utama. Aku baru ingat, kau ini pemeran utama milik Jinki bukan? Aku akan memberikanmu nilai lebih atas aktingmu ini,” ucapnya sambil tersenyum kecil. “Bukankah ini menguntungkanmu?”

“Aku tidak berakting, jelas aku mengatakan kebenaranya. Jam tanganmu itu, sudah ku katakan kalau itu diberikan oleh seorang gadis bukan. Kau juga menyetujui ucapanku saat itu. Lalu lihat kalung itu, kalung milik Yerin,” ucap Eunbi sambil menunjuk kalung yang masih dikaitkan ditangan Sehun. “Kenapa jam tangan milikmu dan kalung milik Yerin bisa terlihat begitu serasi? Bukankah itu benda pasangan?”

Sunji memperhatikan jam tangan miliknya itu. “Ah, jadi karena jam ini kau berpikir kalau aku ini seorang pembunuh?” ucapnya sambil melepaskan jam milikinya itu. Begitu ia berhasil melepasnya, dibantingnya jam itu asal ke lantai. “Kalau aku membuangnya, ini tidak jadi masalah lagi bukan?”

Eunbi memandang Sunji dengan ekspresi yang sulit untuk dijelaskan. Jelas ia kesal, kesal karena bisa melihat sikap asli orang itu tanpa topengnya. Pertama kali Eunbi bertemu dengannya, Eunbi pikir dia orang baik, ternyata ia salah besar. Dia hanya memakai topeng yang sangat memuakkan.

“Dia benar-benar pria yang menyebalkan bukan,” ucap Baekhyun sambil menarik lengan Eunbi untuk tidak terlalu dekat dengan Sunji. “Lalu kalau begitu, bisakah kau juga membuang perban lukamu itu? Kau bilang pada Eunbi kalau itu luka bekas pecahan vas bunga bukan, tapi kurasa aku punya pendapat lain.”

Kali ini giliran Nana yang ikut mendekat sambil menyerahkan selembaran kertas ke arah Sunji. “Tidak ada laporan vas bunga yang pecah di vila ini. Kenapa kau harus berbohong tentang lukamu itu?” tanya Nana hati-hati. “Bisa kau buka saja perbanmu itu untuk membuktikan semuanya?”

“Apa aku hanya bisa terkena luka sayatan bekas pecahan vas di vila ini?” ucap Sunji berusaha mengelak. “Aku mendapatkan lukaku ini ketika mengamasi barang-barang festival. Apa ada masalah?”

Baekhyun mendecakkan lidahnya. “Aku benar-benar muak dengan ocehanmu itu,” ucapnya yang kemudian menarik lengan Sunji dan memukul punggungnya dengan sekali gerakan. Ia membuat Sunji harus tertunduk paksa dengan tangannya yang dipegang Baekhyun ke belakang. Sedetik kemudian, Baekhyun melepas perban milik Sunji itu paksa. “Aah, benar. Ini bukan luka bekas goresan pecahan vas bunga. Tapi ini luka bekas cakaran. Dugaan kita benar.”

“Kerja bagus, Baekhyun,” ucap Sehun sambil menepuk pundak temannya itu. “Sepertinya Yerin hendak berusaha melawanmu dan meninggalkan bekas luka itu padamu. Aku sudah menemukan bukti kalau luka milikmu itu karena Yerin, kuku palsu miliknya terjatuh, sepertinya kau tidak menyadarinya. Aku yakin, jika kita melakukan pemeriksaan lebih lanjut, DNA mu mungkin tertinggal dalam kukunya. Lukamu cukup dalam ku rasa, aku yakin itu pasti ada.”

Sunji menggertakan giginya. Ia berusaha melepas pegangannya dari Baekhyun, tapi itu nihil. Baekhyun benar-benar telah mengunci tubuh Sunji agar tidak bisa bergerak sedikitpun.

“Kalau begitu bagaimana jika kau mulai menjelaskan bagaimana caramu membunuh Yerin,” ucap Sehun sambil melipat tangannya didada. “Apa Yerin menuduhmu selingkuh hingga kau marah dan membunuhnya? Atau kau tidak sengaja membunuhnya? Sebaiknya kau mengaku saja.”

Sunji tersenyum tipis. Ia kemudian menceritakan dengan singkat bagaimana ia tiba-tiba saja menyekik kekasihnya itu karena emosi. Ia sama sekali tidak berniat untuk membunuhnya, ia hanya kesal dan berusaha untuk membuat Yerin diam. Tapi, tindakannya terlalu berlebihan. Ia juga menceritakan bagaimana ia menggantung jasad Yerin di balik tirai panggung.

Awalnya ia menaruh jasad Yerin di lemari pembawa barang bersama dengan barang lainnya ketika ia mendekorasi panggung. Begitu semua telah rapih dan keluar dari panggung, malam harinya, ia menyamar menjadi Yerin dan memasuki ruangan dan menghilang dibalik tirai seperti yang ditampilakan pada rekaman CCTV. Tinggi mereka hampir sama, Sunji hanya perlu memakai baju yang terakhir kali dipakai Yerin dan masker serta rambut palsu dan mulai melakukan aksinya.

“Waah, dugaan Sehun benar-benar tepat hingga ke intinya,” ucap Baekhyun tak percaya ketika Sunji menyelesaikan penjelasannya. “Kau benar-benar hebat, Oh Sehun.”

Sehun menaikkan ujung bibirnya tipis menangapi ucapan temannya itu. Sedetik kemudian, ekspresi wajah Sehun berubah, ia kembali memasang wajah serius. Dipandangnya Sunji dengan tatapan tajam. “Siapa yang membantumu?” ucapnya berusaha sedingin mungkin. “Kau belum menceritakan semuanya. Ada orang yang membantumu kan? Kalau bukan karena bantuan teman-temanku, mungkin aku sama sekali tidak akan menganggapmu sebagai pelaku. Kasus ini akan selesai dengan bunuh diri, atau paling tidak aku malah akan mencurigai Yoongi. Kau bukanlah orang yang bisa merencanakan ini semua. Rekaman CCTV itu, ada seseorang yang mematikannya disaat kau keluar dari ruangan ini. Kau benar-benar berencana untuk membuat kasus ini seperti bunuh diri. Siapa yang membantumu?”

Sunji tertawa kecil mendengar pertanyaan dari Sehun. Dipandangnya Sehun dalam-dalam. “Sebaiknya kau tidak mengetahui hal ini, bocah kecil,” ucapnya masih tetap memandang Sehun. “Tapi, tidak ada gunanya juga bila aku merahasiakan ini darimu. Kau benar, ada seseorang yang membantuku. Ada seseorang yang membuatkanku rencana hebat ini. Kalau saja dirimu ini tidak mengacau, aku pasti tidak akan berada disituasi seperti ini.”

“Dia siapa?”

Lagi-lagi Sunji tertawa kecil. “Apa benar kau ingin mengetahuinya?”

“Dia siapa?” ucap Sehun untuk yang kedua kalinya dengan nada suara yang sengaja ia naikkan beberapa oktaf.

Sunji membuang nafas panjang. Sedetik kemudian ia meremas tangannya sambil membuang ludah asal ke lantai. “Kau tau Kim Hades? Dia benar-benar orang hebat, dia sangat hebat hingga kau tidak mungkin bisa menemukannya. Aku mengatakan ini karena aku percaya padanya, kalau dia tidak mungkin bisa dikalahkan dengan mudah,” ucapnya penuh percaya diri.

“Kim Hades, siapa itu?”

**TBC**

Aku merasa untuk Chapter ini lumayan panjang. Bahkan ada beberapa bagian yang sengaja aku skip. Hehehee..

Sengaja aku bikin panjang soalnya mau bener-bener nyelesain kasus dichapter ini, takutnya kayak kemaren-kemaren dimana satu kasus bisa banyak chapter gituh. Hehehe.. Semoga ngga ngebosenin yaa bacanya. Jangan lupa komentarnya untuk penyelesaian kasus ini, kasih masukan juga boleh, biar kedepannya aku bisa lebih baik lagi buatnyaa.🙂

Nah, ada yang penasaran siapa itu kim hades? Yang pasti dia bukan orang baik yaa, namanya ajah hades. Wkwk..

See you in next chapter….

One thought on “[EXOFFI FREELANCE] Skyreach (Chapter 6C – The End of Love and Live)

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s