[EXOFFI FREELANCE] 07.30 (Oneshot)

07-3007.30

Title : 07.30

Author : Angestita

Main cast : Oh Sehun (EXO) – Baek Su Min (OC)

Genre : Romance

Rating : PG – 13

Disclaimer : Karya ini adalah karya yang sederhana tetapi murni dari pikiranku. Aku tidak mencontoh karya milik orang lain. Aku berharap kalian dapat melakukannya juga. Jika ada kesamaan alur dan tokoh mutlak unsure ketidak sengajaan. Aku berharap kalian bersedia meninggalkan jejak. Terimakasih atas waktu yang kalian luangkan untuk membaca karyaku. Semoga anda dapat menikmatinya.

Sumarry : Sehun menyukai pagi hari karena di pagi hari dia dapat bertemu dengan pujaan hatinya walau sekedar menatapnya dalam kebisuan yang dia buat sendiri.

“Your bright smile makes me breathe.”

Heaven – EXO

07.15 Samsungdong, Gangnam, Seoul.

Sehun menatap jam  tangan yang melingkar di pergelangan tangannya dengan  pandangan resah. Jantungnya mulai berdetak lebih kencang dari sebelumnya. Perasaan antusias itu kembali lagi. Senyum pria itu sudah selebar  kepakan sayap bangau, lebar nan menawan. Sehun menatap penampilannya pagi itu dari pantulan dinding kaca sekali lagi. Dia ingin memperlihatkan penampilan yang rapi dan fresh.

Pintu yang berada di hadapan pria itu terbuka. Seorang pelayan berpakian rapi berwarna hitam putih mendorong sebuah meja mendekati Sehun. Di belakangnya dua orang pelayan dengan seragam yang sama mengekori.  Bibir tipis yang berwarna merah muda itu  tertarik dengan pelan membentuk senyum lebar yang indah. Wanita yang Sehun kenal dengan nama Baek Su Min membungkuk hormat ketika berhadapan dengannya. Sehun sudah menunggu waktu ketika dapat melihat wajah cantik dan senyum yang terukir untuknya itu.

“Tuan muda sarapan anda sudah datang.” Sebuah suara nan merdu keluar dari bibir tipis itu.

Sehun mengamati setiap gerakan dari pelayan yang sudah di tunggunya sedari tadi dalam diam. Dalam diam itu dia menahan sebuah senyum. Senyum tipis yang tak sanggup dia tahan. Keinginan untuk bertindak lebih sebenarnya sudah berada di ujung kepala tetapi logikanya tiba-tiba mencegahnya untuk lebih bersahabat kepada salah satu pelayan rumahnya. Namun, matanya yang berlensa hitam tetap enggan melepaskan pandangannya dari objek indah di depannya. Kadang logika dan hasrat sering tak sejalan kan?

Selama dia bekerja menata sarapan Sehun, Su Min tidak mempedulikan pria itu sama sekali. Pandangannya hanya tertuju di antara piring-piring yang dia bawa. Menata benda rapuh itu dengan hati-hati di hadapan Sehun. Sebenarnya perasaan canggung setengah mati itu yang membuat dirinya enggan untuk sekedar menoleh atau mencuri pandang ke arah bosnya seperti yang pelayan lain lakukan. Perasaan canggung yang keluar ketika dia sedang berada di sekitar orang yang mampu menarik perhatiannya.

Ditegaskan di dalam otak wanita itu bahwa  Sehun tidak lebih dari  seorang yang pria yang harus dia layani. Walau dia tak mengungkiri bahwa pria itu sangat tampan dan dia diam-diam menganggumi itu.  Senyum tanggungnya yang menawan apalagi suara seraknya yang seksi mempertegas karakternya sebagai seorang pria. Logikanya harus dia pakai dengan baik untuk tidak menaruh perhatian yang lebih dari seharusnya dia berikan, kepada bosnya itu. Yah, walau itu sangat sulit setidaknya dirinya harus bertahan bukan? Su Min selalu mengingat aturan yang di gunakan di rumah itu ketika keinginannya mulai berada di ujung kepala.

Satu hal yang tak seharusnya dia lupakan adalah… tidak boleh jatuh cinta dengan Tuan muda. Apapun alasannya tidak boleh! Aturan itu tak dapat dibantah. Jika itu terjadi maka hidupnya akan berakhir. Dia pasti akan diusir dari tempat itu dan hidup terlunta-lunta lagi. Cukup menghabiskan masa remajanya di panti asuhan  saja Su Min tak ingin mengulangi hal yang sama. Dia ingin mempunyai kehidupan yang lebih baik dan di rumah ini adalah harapan satu-satunya untuk mewujudkan impian itu setidaknya sampai kuliahnya selesai.

Wanita itu meletakkan piring terakhir yang dia bawa di atas meja dengan pelan. Tugasnya sudah selesai. Dia menghela nafas lega. Dengan gerakan sopan dan pelan wanita itu mulai mengurai langkahnya menjauh dari Sehun. Tetapi pandangan Sehun langsung menghunus jantungnya ketika dia mendongak untuk meminta izin, membuat dia tak mampu bergerak, dengan bodohnya dia terpaku oleh tatapan yang Sehun berikan.

“Aku ingin kalian tetap di sini. Temani aku sarapan. Aku kesepian. Berdirilah di samping meja sampai aku selesai makan.” kalimat itu keluar dari bibir Sehun dengan dingin dan tegas pertanda bahwa tak ada bantahan untuk komando yang dia ucapkan. Nafas semua orang di ruang makan itu kecuali Sehun terhenti. Su Min memandang atasannya dengan takut berharap pria itu memberikan sedikit penjelasan untuk perintahnya. Tidak ada penjelasan. Sehun sudah memulai sarapannya, memutuskan kontak mata itu secara sepihak. Su Min menghela nafas pelan, dia dan pelayan yang lainnya bergerak dengan kaku menunggu Sehun selesai sarapan di samping meja makan.

Ruang makan itu sepi hanya ada suara yang timbul dari aktivitas yang Sehun lakukan. Terlalu sepi hingga membuat semua pelayan yang menunggu Sehun berdiri kaku karena dicekam oleh rasa takut. Takut menimbulkan suara berisik yang akan mengakhiri masa kerja mereka di tempat itu.

Dalam suasana sepi itu, diam-diam Sehun tersenyum tipis saat mengingat wajah terkejut yang pujaan hatinya berikan padanya ketika mendengar perintah yang dirinya ucapkan. Ada rasa takut yang tersirat dalam mata Su Min ketika netranya menerawang mata itu. Rasa takut yang membuat hati Sehun terkadang merasa tertohok dan dongkol. Semua orang masih menganggapnya sama dengan papanya. Diktaktor. Demi hidup keluarga Oh yang makmur, dia tak punya niat untuk menindas orang lain hanya saja memang gaya bicaranya seperti itu. Walau rasa jengkel itu masih menggelayuti hatinya, perasaan bahagia tak mampu dia tolak. Setidaknya rasa takut itu membuat Su Min tak lekas pergi dari pandangan matanya.

Sebentar saja Sehun ingin melihat wajah itu sedikit lebih lama. Berada di sekitar wanita itu tanpa harus mencuri-curi alasan. Ini lah yang membuat Sehun menyukai jam sarapannya, karena waktu itu lah waktu yang Sehun miliki untuk memandang pujaan hatinya. Karena jam makan siang dan makan malam pria itu berada di luar rumah. Sehun bisa saja meminta wanita itu mengantarkan makan siang atau makan malamnya tetapi tindakan kekanak-kanakan itu pasti akan menempatkan Su Min dalam kondisi yang berbahaya.  Berbahaya dalam kasus yang sebenar-benarnya.

Sehun tidak ingin wanitanya menjadi korban penculikan atau pembunuhan dari musuh-musuh gelapnya di luar sana. Cara aman melindunginya adalah tetap membiarkan dia dalam lingkup hidupnya tanpa harus memiliki. Sehun sudah merasa cukup dengan melihat wanita itu di pagi hari atau jika beruntung berjumpa di jalan. Ini lah waktu kesukaannya yang tak ada satu orang pun yang tahu. Ini lah cara Sehun menjaga pujaan hatinya setidaknya hingga dia bisa menemukan waktu yang tepat untuk menikahi wanita itu suatu hari nanti…

Ya suatu hari nanti Sehun pasti akan menemukan waktu yang tepat…

 

5 thoughts on “[EXOFFI FREELANCE] 07.30 (Oneshot)

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s