[EXOFFI FREELANCE] Moonlight (Oneshot)

picsart_09-07-06-37-47

MOONLIGHT

Title : Moonlight

Author : Librrraaa

Length : Oneshoot

Genre : Friendship, angst

Rating : Teen

Cast : Do Kyung Soo of EXO , Shin Min Hee of OC

Summary : Di bawah sinar rembulan yang indah, Kyungsoo harus menyaksikan sesuatu yang sangat ia benci. Di bawah sinar rembulan yang indah, Kyungsoo harus rela hatinya hancur berkeping-keping. Dan di bawah sinar rembulan yang indah, Kyungsoo lagi-lagi harus berdusta akan perasaannya, hanya untuk membuat gadis itu bahagia.

Disclaimer : Ide cerita murni milik librrraaa, segala kesamaan entah itu nama, kejadian, ataupun tempat tidak librrraaa sengaja. Harap tidak mengcopy atau memplagiat isi cerita.

Recomended song : EXO – MOONLIGHT

•~• Moonlight •~•

 

Apa kau pernah jatuh cinta?

Bagaimana dengan jatuh cinta pada sahabat?

Lalu apa yang akan kau lakukan jika sahabat yang kau cintai itu

Mencintai orang lain yang juga adalah sahabat dekatmu?

 

Mungkin kau akan melakukan seperti yang Kyungsoo lakukan

Melepaskannya dan membiarkan ia bahagia

Meski nyatanya

Kebahagiaan yang ia harapkan harus diwarnai dengan air mata

 

Seperti malam itu

Saat pertama kalinya Kyungsoo membenci sinar rembulan

Yang menampilkan wajah kesedihan gadis yang ia cintai

Yang membuat hatinya hancur berkeping-keping

 

Namun ia tak bisa apa-apa

Ia tak bisa menghilangkan kesedihan gadis itu begitu saja

Karena ia bukan siapa-siapa

Ia hanyalah sandaran di bawah sinar rembulan

 

Yang akan menghilang ketika sang matahari terbit

 

•~• Moonlight •~•

 

Pukul 11 tepat.

 

Angka yang tertera pada jam digital di atas nakas telah menunjukkan pukul 11 tepat. Kyungsoo yang baru saja merebahkan tubuhnya dan bersiap memejamkan kedua matanya mendadak harus menunda rencana tidurnya kala deringan ponsel yang ia letakkan di atas nakas tertangkap indera. Sedikit kesal disertai decakan lidah, Kyungsoo bangkit dari tidur dan menyambar ponselnya dengan tidak sabar.

 

“Ya, Halo?.”  Dengan mata yang mulai berat, Kyungsoo menempelkan benda persegi panjang itu ke telinga dan mulai bersuara dengan nada malas. Namun setelah beberapa saat tak kunjung mendapat sahutan, segera ia tarik ponsel itu dan memaksakan matanya terbuka untuk membaca nama yang tertera di layar.

 

신민희 ~Shin Min Hee~

 

Kedua mata bulat Kyungsoo langsung membola seakan kantuk yang menyerangnya beberapa saat yang lalu telah sirna. Dengan cepat ia menempelkan ponselnya ke telinga dan kembali berujar, dengan raut yang kini tampak khawatir, “Halo? Min Hee-ya, ada apa? Apa ada masalah? Ada yang ingin kau katakan padaku? Jangan diam saja, katakan padaku!”.

 

Kyungsoo belum mendapat balasan dari Min Hee, hanya helaan napas berat yang bisa ia tangkap dari gadis itu. Cemas semakin melandanya kala kemudian yang terdengar olehnya sekarang adalah sebuah isakan kecil tertahan dari seberang sana, membuat napasnya tercekat dan sesak mendadak di dada, “M-Min Hee-ya, kau… Kenapa?”

 

“Kyungsoo-ya, aku – aku ingin putus”

 

Kyungsoo terpaku mendengar penuturan Min Hee, untuk sesaat ia seakan lupa cara bernafas dan sekedar mengedipkan kelopak mata. Isakan yang ia dengar kini berubah menjadi tangis yang semakin menyayat hatinya, “Ke-kenapa tiba-tiba sekali? Apa yang sebenarnya terjadi? Kau harus menjelaskan semuanya padaku sebelum memutuskan hal ini!”

 

“Maafkan aku, Kyungsoo. Aku sedang tidak bisa berfikir jernih untuk saat ini” Suara Min Hee terdengar sangat lirih di telinga Kyungsoo, membuat pria bermata bola itu semakin tak tenang di tempatnya saat ini.

 

“Karena itulah kita harus bicara, kau ada dimana sekarang? Biar aku kesana menemuimu.”

 

Ada sedikit jeda setelah Kyungsoo berucap demikian. Helaan napas panjang berkali-kalilah yang bisa terdengar oleh Kyungsoo yang justru membuatnya semakin khawatir. Sebuah kata hampir terlontar dari mulut Kyungsoo sebelum akhirnya Min Hee bersuara , menjawab, “Baiklah, sepertinya aku memang memerlukan bantuanmu lagi untuk masalahku ini. Keluarlah, aku ada di luar kamarmu sekarang.”

 

Tanpa perlu aba-aba Kyungsoo bergegas berdiri dan melangkah menuju jendela kamarnya. Dengan satu tangan yang masih memegang ponsel di telinga, ia menyibakkan gordyn biru yang menutupi jendelanya dan langsung terpaku kala netranya menangkap sosok gadis itu di luar sana. Berdiri di bawah naungan sinar rembulan yang memancarkan sinar indahnya menuju Min Hee, membuat sosok itu tampak bercahaya meski keadaannya justru membuat hati Kyungsoo hancur berkeping-keping.

 

‘Malam ini, untuk pertama kalinya aku membenci sinar rembulan’

 

***

 

Kyungsoo berjalan mendekati Min Hee yang tengah duduk memeluk lutut di halaman rumah sambil membawa secangkir cokelat panas buatannya. Segera saja ia menempatkan diri di samping Min Hee tak lupa memberikan cokelat panas itu untuknya dengan senyum hangat andalannya yang langsung diterima oleh gadis itu dengan senyum mengembang. Meski di mata Kyungsoo senyum itu tampak dipaksakan oleh pemiliknya.

 

“Terima kasih, Kyungie-ya” ucapnya lembut sebelum ia menyeruput minuman favoritnya itu. Kyungsoo tampak mengamati Min Hee dalam diam, memperhatikan gadis di sampingnya itu dengan pandangan yang sulit diartikan juga raut sendu yang berusaha ia sembunyikan.

 

“Malam ini, ceritakan semuanya padaku tanpa terlewat satu kata pun. Aku harus tahu yang sebenarnya terjadi baru aku akan memutuskan bagaimana jalan yang harus kau pilih”

 

Berusaha menyembunyikan lagi perasaannya, berusaha mengabaikan sakit di hatinya, berusaha mengesampingkan perasaannya, Kyungsoo mulai bicara serius pada Min Hee, membuat gadis itu sontak menatapnya kaget. Namun tak urung, ia pun meletakkan gelasnya ke tanah dan berdehem pelan bersiap-siap untuk menceritakan semuanya pada Kyungsoo.

 

“Aku …. Perasaanku berubah. Aku sudah tidak mencintainya. Aku mulai bosan dengannya” ucapan Min Hee terdengar semakin pelan seiring kepalanya yang semakin menunduk. Kyungsoo hanya diam melihatnya, menarik nafasnya dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan, “Kau bohong!” ucapnya kemudian.

 

“Aku – bertemu seseorang kemarin saat di toko buku – dan aku tertarik padanya ” Min Hee kembali berujar tanpa berani menatap Kyungsoo. Kepalanya tertunduk dalam.

 

“Kau bohong!” Tanggapan yang sama dari Kyungsoo, tanpa perubahan suara dan masih dengan raut sendu miliknya. Membuat Min Hee menatapnya tepat di kedua matanya dengan mata merah dan berair.

 

“Aku menyukaimu! Aku menyukaimu, aku sangat menyukaimu, Kyungsoo-ya!” tumpah sudah. Air mata itu sudah tak bisa lagi dibendung oleh Min Hee. Gadis itu terisak di depan Kyungsoo, menangis penuh kepiluan di hadapan Kyungsoo yang tampak terpukul melihatnya.

 

Perlahan Kyungsoo merengkuh gadis itu. Membawanya ke dalam dekapan hangatnya dan membiarkan gadis itu bersandar di dadanya, menumpahkan seluruh air matanya tanpa harus ia saksikan. Kembali ia berpura-pura tegar, mengelus surai hitam Min Hee dengan penuh perasaan lalu menepuk-nepuk punggung gadis itu, berusaha menyalurkan kekuatannya. Ia hanya bisa diam untuk saat ini, mendengarkan isak tangis Min Hee dengan hati hancur tanpa tahu harus berbuat apa.

 

“Aku tahu kau menyukaiku. Jika kau tidak menyukaiku, kita tidak mungkin menjadi sahabat seperti ini. Iya, kan?”

Kyungsoo dapat merasakan pergerakan kecil Min Hee dalam dekapannya, sebuah anggukan singkat, yang kemudian sanggup menghilangkan isakan Min Hee, “Ya. Kau memang sahabat terbaikku, Kyungsoo. Satu-satunya sahabat yang kumiliki.”

 

Kyungsoo tersenyum, tersenyum miris mendengar jawaban Min Hee yang persis seperti dugaannya. Ya, mereka hanya bersahabat. Sahabat dekat. Tak lebih dari itu. Meskipun, Kyungsoo berharap lebih dengan memberikan hatinya pada Min Hee, yang ia sendiri tahu hal itu tak akan pernah terbalas karena Min Hee hanya menyukainya, sekedar rasa suka kepada sahabat.

 

Sedangkan hati Min Hee seutuhnya diberikan pada lelaki itu, lelaki lain, yang juga adalah sahabat baik Kyungsoo. Bukan dirinya.

 

Kyungsoo menghela nafasnya panjang, ia lepas dekapannya dan memegang kedua bahu Min Hee, menatap lekat gadis itu dengan senyum terukir di bibirnya.

 

” Kau tidak punya alasan untuk berhenti, kau tidak bisa membiarkan perjuanganmu berakhir sia-sia.” tuturnya lembut, selembut jemarinya yang bergerak menyeka air mata yang membasahi pipi Min Hee.

 

Min Hee terdiam menerima perlakuan Kyungsoo, tatapannya lekat terarah pada iris kecoklatan milik sahabatnya itu, ” Tapi Kyungie, aku sudah tidak tahan dengan omongan orang-orang, mereka terus menyudutkanku, aku tidak tahu bagaimana menghentikan mereka.” sungutnya kesal.

 

” Kalau begitu … Jangan hiraukan mereka. Berpura-puralah seakan tidak terjadi apapun, bersikaplah seperti biasa, seolah-olah kau tidak menganggap ucapan mereka sebagai beban, dengan begitu mereka akan berhenti dengan sendirinya.” Ujar Kyungsoo sungguh-sungguh, ia masih tetap menampilkan senyumannya, tatapannya menyiratkan sebuah keyakinan yang membuat Min Hee tampak berpikir.

 

Kyungsoo mengulurkan tangannya, menyentuh tangan Min Hee lalu menggenggamnya erat, menyalurkan kehangatan yang ia miliki untuk sahabatnya itu, ” Aku percaya sahabatku adalah seseorang yang sangat baik, begitupula dengan dia. Bukankah kau mencintainya? Seharusnya kau bisa lebih mempercayainya. Dan juga, jika ada masalah seperti ini lagi, orang pertama yang harus kau beritahu adalah dia, bukan aku. Setidaknya itu kan masalah kalian, jadi seharusnya kalian lah yang berusaha menyelesaikannya terlebih dahulu, baru jika kalin benarbenar tidak bisa menyelesaikannya kalian bisa meminta bantuanku.”

 

” Tsk. Bilang saja kau keberatan karena selalu kuganggu malam-malam.” Ekspresi sebal kini terlukis di wajah Min Hee, ia menarik tangannya dari genggaman Kyungsoo dan beralih menyedekapkannya di dada.

 

Hal itu membuat Kyungsoo tersenyum lega, ia memandang Min Hee sesaat sebelum akhirnya tangannya jahil mengacak-acak rambut Min Hee, ” Kau ini! Bukan seperti itu maksudku, aku hanya-”

 

” Aish! Sudahlah, aku tidak mau mendengar penjelasan apapun! Aku mau pulang saja.” Min Hee beranjak berdiri, masih dengan raut kesal. Ia tampak merapikan rambutnya yang berantakan dan hanya melirik sesaat pada Kyungsoo yang masih duduk memandanginya sambil menahan tawa gelinya.

 

” Aku pulang dulu. Terima kasih untuk cokelat panasnya.” ucapan itu terdengar sangat cepat di telinga Kyungsoo. Min Hee juga cepat-cepat pergi setelah mengucapkannya, tidak memberi Kyungsoo kesempatan untuk sekedar menjawabnya.

 

Bayangan Min Hee sudah menghilang ditelan gelapnya malam, membuat Kyungsoo menyunggingkan senyum tipisnya kala ia kembali mengingat kebersamaannya dengan Min Hee tadi, meski terjadi dengan begitu cepatnya. Tangannya terulur untuk mengambil cangkir cokelat yang saat ini telah dingin, mengamati cangkir itu lamat-lamat sebelum kemudian kembali tersenyum ….. Sedih.

 

~ Ya… Kau memang sahabat terbaikku, Kyungsoo. Satu-satunya sahabat yang kumiliki ~

 

Ucapan Min Hee masih terngiang di kepalanya, terputar secara otomatis seperti sebuah lagu sendu yang berhasil menggores hatinya, ” Selamanya, apakah aku hanya akan menjadi sahabat?”

 

~ Aku menyukaimu! Aku menyukaimu, aku sangat menyukaimu, Kyungsoo-ya! ~

 

” Mungkinkah jika rasa itu bisa sedikit berkembang? Aku bisa mengubahnya menjadi rasa cinta dengan begitu mudahnnya, tapi apa dia bisa melakukannya?”

 

Angin dingin menerpa tubuhnya, menembus kulit menusukkan kedinginan hingga ke tulang, membuatnya tersadar dari lamunannya. Ia segera berdiri, mendekap erat cangkir dalam genggamannya seolah tak ingin membiarkan cangkir itu ikut tersentuh hawa dingin.

 

Ia sudah berjalan beberapa langkah dan sudah memasuki teras rumahnya saat tiba-tiba sebuah lengan melingkar di perutnya. Seseorang memeluknya dari belakang dan menyandarkan kepalanya di punggung Kyungsoo. Kyungsoo diam membeku di tempat, ia tak dapat menampik akan rasa terkejut yang kini melandanya.

 

Kyungsoo kesulitan menelan salivanya, jantungnya berdetak sangat cepat menimbulkan suara yang cukup gaduh di dalam sana, darahnya berdesir dengan cepat pula, menimbulkan hawa panas yang tak pernah ia alami sebelumnya, mengalahkan angin dingin yang kian gencar menerpa.

 

” Terima kasih, Kyungie-ya. Aku tidak tahu apa jadinya aku tanpamu. Kau benar-benar seperti matahari untukku, jadi kumohon, jangan tinggalkan aku.”

 

Suara Min Hee.

 

Orang yang memeluknya saat ini adalah Shin Min Hee. Sahabat terbaiknya. Seseorang yang amat ia sayangi. Min Hee adalah segala-galanya bagi Kyungsoo. Rasa sakit yang Min Hee rasakan akan menjadi kesakitannya, dan kebahagiaan Min Hee juga adalah kebahagiaannya.

 

Namun ucapan Min Hee membuatnya tercenung selama beberapa saat.

 

Ia mungkin adalah matahari untuk Min Hee, yang sinarnya jauh lebih terang dari sinar bulan. Namun meskipun ia sehebat matahari, Min Hee lebih memilih untuk mencintai bulan, yang mendapatkan sinarnya dari matahari, yang jauh lebih indah dari matahari, yang mampu membuat Min Hee bahagia daripada bersama matahari.

 

Dan hal itu membuatnya tertunduk. Menatap lekat tangan Min Hee yang masih melingkar di perutnya.

 

“Jangan khawatir, aku tidak akan meninggalkanmu, karena aku adalah matahari. Jika aku hilang, bulanmu juga akan kehilangan sinarnya, bukan? Dan jika hal itu terjadi kau akan sedih lagi, kau tahu sendiri aku tidak suka melihatmu sedih. Jadi aku tidak akan pernah pergi darimu, aku tidak akan membiarkanmu sedih.” ucapnya lirih, namun setelah itu ia dongakkan kepalanya, menghirup napas dalam-dalam seraya memejamkan kedua matanya, membiarkan setitik kristal menetes dari pelupuk matanya.

 

” Gomawo Kyungsoo-ya…. Nan jeongmal johahaeyo….”

 

‘Cheonma Min Hee-ya, saranghae… hangsang….’

 

”Saat matahari terbit, ikutilah dimana bulan menghilang dan terbanglah kesana” ~ Moonlight -EXO

.

.

.

.

.

.

Kkeut…

One thought on “[EXOFFI FREELANCE] Moonlight (Oneshot)

  1. Ping-balik: [EXOFFI FREELANCE] Moonlight (Oneshot) | librrraaa's Blog

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s