[EXOFFI FREELANCE] Secret Wife (Chapter 3)

poster-secret-wife

Tittle : SECRET WIFE

Author : Dwi Lestari

Genre : Romance, Friendship, Marriage Life

Length : Chaptered

Rating : PG 17+

Main Cast : Park Chan Yeol (Chanyeol), Kim Jung Hae (Junghae)

Support Cast :

Kim Jung Ra (Jungra), Kim Jong In (Kai), Kim Jong Dae (Chen), Cho Young Rin (Youngrin), and other cast. Cast dapat bertambah atau menghilang seiring berjalannya cerita.

 

Summary:

Junghae adalah putri terakhir dari pemilik Jeguk Group. Karena dijebak oleh seseorang, terpaksa dia harus menikah secara diam-diam dengan sesorang yang baru dikenalnya.

 

Disclaimer : Cerita ini murni buatan saya, jika ada kesamaan nama, tokoh, dan lainnya itu adalah unsur ketidak sengajaan.

Author’s note : Mian jika alurnya gj. No kopas, no plagiat. Jangan lupa komennya. Gomawoyo. Sorry for Typo.

 

 

 

 

Chapter 3 (It’s Not Good Time)

 

 

 

‘Sebenarnya aku dan Junghae sudah menikah’.

Kata itulah yang ingin Chanyeol ucapkan, namun entah mengapa kata itu tertahan di tenggorokannya. Berkali-kali dia mencoba untuk mengatakannnya, namun nihil kata tersebut seperti sulit ia dikatakan.

“Kenapa sayang? Apa yang ingin kau bicarakan dengan eomma?”, kata nyonya Park karena Chanyeol tak kunjung bicara.

“Sebe…”, belum sempat Chanyeol melanjutkannya, terdengar bel rumahnya berbunyi.

“Eomma akan membukan pintu dulu”, kaya nyonya Park. Dia segera meninggalkan putranya untuk membuka pintu.

Chanyeol membuang nafas pasrah, sepertinya ini bukan waktu yang tepat untuk memberitahukan pernikahannya pada ibunya.

“Are you sure, oppa? Kau terlihat ragu”, tanya Junghae yang masih duduk di hadapannya.

“Entahlah! Aku sudah memikirkan semuanya, tapi saat aku ingin mengatakannnya rasanya sangat sulit”.

“Sepertinya ini bukan waktu yang tepat, oppa”.

“Emmh, kau benar”.

Dari arah lain datanglah ibunya beserta orang yang menekan bel rumahnya.

“Eomma”, kata Junghe setelah melihat siapa yang datang. Dia segera berdiri dan menghampiri ibunya yang ternyata datang bersama Jungra dan juga Jongin.

Chanyeol menoleh ke arah yang dituju Junghae. Dia ikut berdiri dan membungkuk hormat pada nyonya Kim. “Selamat datang ahjumma”, sapa Chanyeol.

“Ne”, kata nyonya Kim.

“Lama tak bertemu Park ahjumma. Eomma bilang jika anda baru keluar dari rumah sakit, bagaimana kabar anda?”, kata Jongin.

“Aku sudah baik-baik saja, seperti yang kau lihat. Hanya saja aku tak boleh terlalu banyak fikiran dan  juga tak boleh terlalu lelah”, kata nyonya Park. “Ayo silahkan duduk”, lanjut nyonya Park. Mereka semua akhirnya duduk.

“Lama juga tak bertemu Chanyeol hyung”, kata Jongin. Sebenarnya ia ingin memeluk teman dekat dari kakaknya tersebut namun ia urungkan, dia memilih mengulurkan tangannya.

Chanyeol membalas uluran tangan Jongin, “Ne, bagaimana kabarmu Jongin?”, jawab Chanyeol.

“Aku baik-baik saja, bagaimana denganmu hyung?”.

“Seperti yang kau lihat, aku juga baik-baik saja”.

Mereka saling menanyakan kabar masing-masing. Dan hal itu membuat Chanyeol lupa niat awalnya untuk memberitahukan ibunya tentang pernikahannya dengan Junghae. Mereka memilih bersenda gurau tentang persahabatan antara nyonya Park dan nyonya Kim yang masih langgeng hingaa usia mereka yang sudah memasuki kepala lima. Mereka saling menceritakan bagaimana awal persahabatan antara nyonya Park dan nyonya Kim. Bahkan mereka ingat dengan janji sewaktu muda, yakni akan menjodohkan putra atau putri mereka. Mereka semua tertawa mendengar penuturan tersebut.

Karena memang nyonya Park hanya memiliki satu orang putra, maka secara otomatis dari pihak nyonya Kim adalah salah seorang putrinya antara Jungra dan Junghae. Namun mereka belum menentukannya secara pasti, karena memang nyonya Kim harus meminta persetujuan dari tuan Kim. Dan hal itu akan mereka bahas setelah pernikahan putra nyonya Kim yang pertama yakni Kim Jongdae.

Saat tengah asyik mengobrol, ponsel Junghae tiba-tiba saja berbunyi. Dia segera memeriksa ponselnya agar segera tahu siapa gerangan yang tengah mengganggu keasyikannya. Dia sempat kesal, namun setelah tahu siapa yang menghubunginya rasa kesalnya menjadi hilang. Junghae memilih menjauh dari tempat mengobrolnya untuk mengangkat panggilan tersebut.

“Hello. Oppa, ada apa?”, kata Junghae memulai percakapannya.

“Kau ada dimana?”, jawab orang yang dipanggil oppa oleh Junghae.

“Di rumah Park ahjumma”.

“Apa aku boleh minta tolong padamu?”, terdengar nada bicaranya sedikit ragu.

“Katakan saja, jika Junghae bisa bantu akan Junghae bantu”.

“Ada sedikit masalah dengan butik tempat oppa memesan gaun pengantin. Kau tahukan jika pernikahan kami tinggal dua minggu lagi”.

“Jadi oppa ingin aku membuatkannya?”.

“Iya, bisa dibilang begitu”.

“It’s okay. Tapi aku harus tahu ukurannya dulu”.

“Iya, kapan kau akan mengukurnya”.

“Kira-kira kapan oppa punya waktu”.

“Sekarang juga bisa, lebih cepat lebih baik”.

“Baiklah! Oppa tunggu saja di rumah, Junghae akan segera kesana”.

“Okay, terima kasih banyak Junghae. Kau memang bisa diandalkan”.

“You’re welcome”.

Junghae mengakhiri percapannya. Dia kembali bergabung, untuk berpamitan pada pemilik rumah. Namun tampaknya Junghae sedikit tak enak, karena lagi-lagi dia harus meninggalkan nyonya Park karena urusannya, sama seperti saat dia datang menjenguknya ke rumah sakit. Dia sempat bingung harus bagaimana memulai pembicaraan untuk berpamitan.

“Sayang, kau kenapa? Siapa yang menghubungimu?”, tanya nyonya Kim yang tahu jika putrinya terlihat ragu setelah menerima telfon.

“Aku baik-baik saja eomma. Hanya saja aku harus segera pergi, Jongdae oppa membutuhkanku”.

Semua orang yang ada di temapat itu merasa terkejut mendengar penuturan Junghae. Tak terkecuali nyonya Kim yang juga terlihat begitu kaget. Masalah apa yang tengah menimpa namja itu.  “Jongdae! Kenapa dengannya, apa ada masalah?”, tanya nyonya Kim. Dia takut jika terjadi sesuatu yang buruk menimpa putranya.

Junghae mengangguk, “Ada masalah dengan butik tempatnya memesan gaun pengantin”, kata Junghae. Semua orang bernafas lega mendengar penjelasan Junghae.

“Astaga. Aku sudah pernah bilang padanya untuk memesannya padamu, hanya saja dia begitu keras kepala tak ingin merepotkanmu. Ya sudah, pergilah!”, perintah nyonya Kim.

Merasa sudah diberi izin, Junghae segera berpamitan. Sebelumnya dia meminta maaf pada nyonya Park, karena tak dapat menemaninya. Selanjutnya dia membungkuk hormat berpamitan pada mereka semua.

 

***

 

Junghae terlihat buru-buru memasuki rumahnya. Dia disambut pelayan Song yang mengatakan jika kakaknya tengah menunggunya. Dengan langkah cepat namun hati-hati, Junghae menuju ruang dimana kakaknya menunggu. Terlihat kakaknya tengah duduk bersama seorang yeoja yang ia yakini sebagai calon kakak iparnya. “Oppa, sudah lama menunggu”.

Sang kakak menoleh mendengar ucapan Junghae. “Belum, kami juga baru sampai”, jawab sang kakak. Yeoja yang ada di samping kakaknya tersenyum. ‘Senyumnya manis’ pikir Junghae. “Kau sudah tahukan siapa dia?”, tanya kakaknya.

“Calon istrimu, tapi aku belum mengenalnya”, jawab Junghae. Segera saja Junghae duduk berhadapan dengan mereka.

Yeoja itu memperhatikan Junghae, karena dia merasa tak asing dengan wajah Junghae. Ya, memang benar. Junghae merupakan salah satu desainer favoritnya. Ini merupakan suatu keberuntungan untuk yeoja itu, karena memang selama ini dia ingin sekali bertemu dengan Junghae. “Kau Alissa Kim”, tanya yeoja yang Junghae tahu jika dia adalah calon kakak iparnya.

“Yes, of course”, jawab Junghae singkat. Junghae merasa sedikit heran, mengapa yeoja yang kini ada di depannya mengetahui namanya yang hanya dia gunakan saat dia tinggal di Amerika.

“Jadi Alissa Kim, adikmu oppa?”, tanya yeoja itu lagi, namun kali ini pertanyaannya ia tujukan pada calon suaminya, Jongdae.

“Kau mengenalnya?”, tanya kakak Junghae. Dia heran mengapa calon istrinya mengenal adiknya yang notabenya dia belum pernah memperkenalkannya.

“Tentu dia adalah desainer favoritku”. Jongdae mengangguk paham mendengar penuturan calon istrinya. “Lee Ahna imnida”, kata yeoja itu dengan mengulurkan tangannya pada Junghae.

Junghae membalas uluran tangan calon kakak iparnya, “Tak perlu seformal itu eonni”, Junghae sedikit ragu memanggilnya dengan sebutan eonni.

Ada sedikit keraguan pada nada bicara Junghae, itulah yang Ahna rasakan, “Tak perlu ragu memanggilku eonni, bukankah sebentar lagi aku akan menjadi kakakmu. Dan senang bertemu denganmu”, kata Ahna. Dia segera melepas uluran tangannya.

“Aku juga”, Junghae tersenyum tulus.

“Bagaimana, bisa kita mulai sekarang?”, kata Jongdae langsung pada intinya.

“Tentu. Tapi tunggu sebentar, aku akan mengambil alatku”, jawab Junghae. Dia segera menuju kamarnya untuk mengambil alat yang dia perlukan. Tak sampai sepuluh menit Junghae telah kembali dengan tablet, notebook kecil serta pena di tangannya. Dia kembali duduk dihadapan kakaknya. Dia mengamati dari atas hingga ujung kaki calon kakak iparnya untuk mengetahui ukuran tubuhnya. Setelah mengetahuinya, dia mencatatnya di notebook kecilnya.

“Kenapa kau menatapnya seperti itu”, tanya Jongdae heran melihat Junghae tengah mengamati calon istrinya kemudian menulis sesuatu di notebook kecil.

“Aku hanya melihat ukuran tubuhnya oppa”, jawab Junghae singkat.

“Hanya dengan melihat”, tanya Jongdae lagi.

“Aku terlalu sering mengukur tubuh seseorang, jadi hanya dengan melihatnya aku sudah tahu ukurannya”, lanjut Junghae.

“Itu memang salah satu kelebihan Alissa Kim, oppa”, kata Ahna.

“Kau tahu banyak tentangnya”, kata Jongdae.

“Ya, tentu saja. Aku selalu mengikuti berita tentangnya. Bahkan aku sering membeli hasil desainnya. Dan hal yang tak pernah kubayangkan adalah menjadi kakak iparnya”, kata Ahna yang terlihat begitu senang.

Junghae tersenyum melihat tingkah Ahna. “Benarkah! Aku juga tidak pernah menyangka jika kakak iparku menyukai desainku”.

Mereka sama-sama tertawa mendengar penuturan Junghae. Sungguh suatu kebetulan yang tak terbayangkan sebelumnya.

“Sebenarnya aku memiliki gaun yang belum selesai, jika memang eonni suka. Karena jika membuat dari awal kurasa hasilnya kurang maksimal, mengingat pernikahan kalian yang tinggal dua minggu lagi”, kata Junghae.

“Bagaimana bentuknya?”, tanya Ahna yang sedikit penasaran.

Junghae memberikan tabletnya, “Ini bagian depan dan ini bagian belakang”, Junghae menunjukkan foto gaun tersebut.

Ahna mengamatinya dengan seksama. Dan harus dia akui, gaun tersebut sangat bagus meski belum selesai. Dia tersenyum puas, “Ini sangatlah bagus. Kau harus lihat ini oppa”, Ahna memperlihatkannya pada Jongdae. Jongdae mengangguk setuju setelah melihatnya.

“Jadi kalian setuju?”, tanya Junghae memastikan.

“Tentu. Tapi apa ini benar-benar belum selesai?”, Ahna kembali bertanya karena merasa jika gaun tersebut sudah sangat bagus.

“Iya, masih harus ditambah beberapa payet dan juga hiasan lain untuk bagian depannya. Akan ku tunjukkan desainnya”, Junghae mengambil kembali tabletnya. Dia mencari gambar desain yang dia buat untuk gaun tersebut. Setelah menemukannya, dia menunjukkan kembali pada Ahna.

Mata Ahna membulat sempurna, melihat betapa indahnya desain yang digambar oleh adik iparnya. “Waw, it’s beautiful”, tanpa fikir panjang Ahna segera menyetujuinya.

 

***

 

“Kau mau kemana? Kenapa mengemasi pakaianmu?”, tanya Jungra yang kini tengah berdiri di samping Junghae. Dia begitu penasaran pada adiknya yang tengah sibuk mengemasi pakaiannya ke dalam tas.

“Aku akan kembali ke Amerika”, jawab Junghae singkat. Dia bahkan tak melirik ke arah Jungra.

“Secepat itu! Bukankah sekretaris Jongdae oppa belum kembali?”.

Junghae berdiri setelah menutup tasnya, “Kau tahukan jika Jongdae oppa memesan gaun pengantinnya padaku, karena itu aku harus kembali untuk menyelesaikan pesanannya. Tidak lama, mungkin hanya seminggu”, jelas Junghae.

“Jadi kau akan kembali lagi ke sini?”.

“Tentu”.

“Baguslah!”, kata Jungra. Dia segera berlalu meninggalkan kamar Junghae.

‘Aish, yeoja ini benar-benar’, kata Junghae dalam hati. Dia tak habis fikir mengapa dia punya kakak perempuan yang super menyebalkan, yang justru berbanding terbalik dengan kakak laki-lakinya yang notabenya adalah saudara kembar Jungra. ‘Apa mereka benar-benar saudara kembar?’, sempat terbesit kalimat tersebut dalam benak Junghae. Namun segera dia tepis.  “Kau tak ingin titip salam untuk Sehun oppa, eonni?”, Junghae berkata demikian untuk mencuri perhatian sang kakak.

Deg, Jungra berhenti melangkah saat mendengar nama itu. ‘Kenapa dia harus menyebut nama itu lagi’, Jungra hanya berkata dalam hatinya. Dia hanya diam seribu bahasa tak membalas pertanyaan Junghae.

“Kenapa diam! Ini bahkan sudah lebih dari tiga tahun. Kau masih marah padanya eonni?”, tanya Junghae kembali karena kakaknya tak kunjung bersuara.

Jungra membuang nafas kesalnya. Dia ingin memarahi adiknya karena telah mengingatkan namja itu lagi. Namja yang selalu ia fikirkan selama tiga tahun terakhir karena perasaan bersalah padanya. Ya, namja itu sudah menjadi temannya sejak kecil. Namun ia urungkan, kemudian berbalik menghadap Junghae. Dia menatap Junghae dengan tatapan minta penjelasan, bagaimana Junghae tahu hubungannya dengan namja itu.

“Sehun oppa sudah menceritakann semuanya padaku”, kata Jungahe yang seolah tahu arti dari tatapan kakaknya. “Dia pergi ke Amerika karena kau tak kunjung memaafkannya. Owh, ayolah eonni. Kau harus memaafkannya. Kau tahu betapa dia menyesalinya selama tiga tahun ini”, lanjut Junghae.

“Jeongmalyo?”, hanya itu yang dapat Jungra katakan pada Junghae. Dia juga menyesali perbuatannya selama tiga tahun ini. Dia tahu jika namja itu sebenarnya berniat baik padanya, hanya saja Jungra salah mengartikannya.

“Ne”, Junghae mengangguk membenarkan penuturannya.

Raut wajah Jungra terlihat begitu menyesal. “Aku juga menyesalinya”, Jungra berkata sangat lirih, namun masih bisa didengar oleh Junghae.

“Jadi kau memafkannya?”, tanya Junghae.

“Entahlah!”, Jungra kembali melangkah meninggalkan kamar adiknya.

Junghae tersenyum melihatnya. Karena dari sikap kakaknya tadi, dia tahu  jika dia sudah memafkan namja tersebut.

 

***

 

Junghae melangkah gembira memasuki sebuah hotel yang cukup ternama di kota tersebut. Mengenakan minidress selutut bermotif bunga dengan perpaduan warna putih dan biru laut yang sangat pas dibadannya. Ditambah dengan rambut pirang sepunggungnya yang dibiarkan terurai yang juga menambah kecantikannya. Dia juga membawa kotak makanan di tangan kanannya dan juga tas keluaran terbaru di tangan kirinya. Dia melangkah dengan anggun menuju ruang presdir.

Junghae mengetuk pintu terlebih dulu sebelum masuk. Setelah mendapat izin dia segera melangkah memasuki ruang tersebut. Dia melihat sang presdir yang tengah sibuk dengan berkas-berkas yang ada dihadapannya. Bahkan presdir tersebut tak menoleh saat dia berjalan mendekatinya, sungguh super sibuk pikirnya.

“Ini sudah jam makan siang sajangnim. Dan kau masih sibuk dengan berkas-berkasmu”, tanya Junghae.

Presdir tersebut merasa tak asing mendengar suara orang yang tengah berbicara padanya. Dia reflek menoleh, untuk mengenali siapa pemilik suara tersebut. Betapa kagetnya dia melihat siapa yang datang.

“Why? Apa aku mengejutkanmu?”, tanya Junghae.

“Aniyo. Duduklah!”. Junghae segera duduk seperti yang presdir itu katakan. “Aku hanya tak menyangka kau akan mengunjungiku”, lanjut presdir tersebut.

Junghae tersenyum mendengarnya. “Aku membawakan makan siang untukmu”, Junghae memberikan kotak makanan pada presdir tersebut.

“Kenapa repot-repot”.

“Tidak repot”, kata Junghae. Presdir tersebut masih menatap tak percaya pada Junghae, “Sungguh!”, lanjut Junghae. Akhirnya tatapan itu berubah dari tatapan tak percaya menjadi tatapan paham.

“Apa yang membawamu datang kemari, bahkan dengan membawa makan siang?”, tanya sang presdir.

“Aku akan kembali ke Amerika”, kata Junghae.

“Secepat itu?”.

“Hanya seminggu. Untuk menyelesaikan pesanan Jongdae oppa”, lanjut Junghae.

“Ah, gaun pengantin maksudmu?”.

Junghae mengangguk membenarkan penuturan sang presdir. Dia melirik sekilas jam tangannya. Pesawatnya akan segera berangkat, dia segera berpamitan pada sang presdir. “Pesawatku akan segera berangkat. Aku pergi dulu, oppa. Jangan lupa habiskan makanannya”, kata Junghae.

“Mau ku antar”, tawar sang presdir.

“Tidak perlu. Aku tahu kau sangat sibuk”, Junghae segera berdiri. “Goodbye”, Junghae berlalu meninggalkan sang presdir.

“Hati-hati”, kata sang presdir.

“Ne”.

Blam, pintu ruangan presdir tersebut tertutup. Sang presdir hanya membuang nafas melihat kepergian Junghae. Dia menatap tak percaya kotak makanan yang ada di mejanya. ‘Kau bahkan sempat membuatkan makan siang untukku’, kata sang presdir dalam hati.

Sementara Junghae telah sampai di halaman hotel. Dia berjalan dengan sedikit terburu-buru. Dia menghentikan taksi saat melihatnya. Dia bahkan tak sadar jika dia berpapasan dengan sepupunya kalau saja sepupunya itu tak menyapanya.

“Kim Junghae”.

Junghae menghentikan niatnya untuk memasuki taksi yang pintunya telah dia buka. Dia segera menoleh ke arah suara. “Owh, Baekhyun oppa”, kata Junghae saat tahu siapa yang memanggilnya.

“Sedang apa kau disini?”.

“Menurutmu?”, bukannya menjawab Junghae justru memberi pertanyaan lain secara tak langsung. “Aku akan ketinggalan pesawat, aku pergi dulu. Goodbye oppa”, Junghae segera memasuki taksi dan menyuruh sang supir untuk melajukannya, tanpa memperdulikan sepupunya yang masih termangu menatap kepergiannya.

“Apa mereka benar-benar menikmatinya? Astaga! Tapi baguslah, setidaknya aku tak melihat mereka terluka”, Baekhyun kemudian berlalu menuju tujuan utamanya datang ke tempat itu.

 

***

 

Terlihat seorang gadis tengah duduk manis menghadap kaca besar yang ada di depannya. Gadis yang mengenakan gaun pengantin yang sangat elegan dan pas ditubuhnya menatap tak percaya pantulan dirinya. Dia begitu termangu mengagumi gaun indah yang tengah ia pakai. Adik iparnya benar-benar pandai membuat gaun itu yang terlihat begitu elegan. Sangat berbeda dengan apa yang terakhir dia lihat di foto yang adik iparnya tujukan sebelumnya, saat gaun itu masih setengah jadi. Gaun itu terlihat mewah dengan hiasan payet di area perut dengan berwarna putih keperakan. Dia tak henti-hentinya tersenyum mengaguminya. Bahkan ia tak sadar jika adik iparnya memperhatikannya sedari tadi.

“Alissa”, kata sang gadis.

“Jangan panggil aku dengan nama itu di sini. Aku lebih suka eonni memanggilku dengan nama Junghae”, Junghae berjalan mendekati sang gadis dengan membawa sebuket bunga yang akan digunakan untuk upacara pernikahan sang gadis. Dia memberikannya pada gadis tersebut.

“Waeyo?”, tanya sang gadis.

“Nothing, hanya saja aku lebih suka dipanggil Junghae di sini”.

Gadis itu mengangguk paham. “Bolehkah aku bertanya sesuatu?”, tanya gadis itu lagi.

“Apa yang ingin eonni tanyakan?”.

“Apa kau benar-benar berkencan dengan Mikcle Oh, CEO dari salah satu perusahan mobil yang cukup terkenal di Amerika?”.

“Mikcle”, nada bicara Junghae sedikit tinggi karena memang dia sedikit terkejut. Junghae tertawa setelah menyadarinya.

“Kenapa kau malah tertawa, apa ada yang lucu?”, gadis itu sedikit tersinggung dengan tingkah Junghae.

“No. Hanya saja, bagaimana bisa eonni mengatakan hal itu?”.

“Berita itu lagi hangat-hangatnya di internet”.

“Aish, sudah kuduga”.

“Jadi itu benar?”.

“Yes, of course. You’re right Miss”, tiba-tiba saja terdengar suara menyetujui pendapat sang gadis. Reflek Junghae dan gadis itu menoleh ke arah suara.

“Mic”, kata Junghae saat tahu siapa yang berbicara.

“Hello. I’m Mikcle Oh. Tapi aku lebih suka dipanggil Sehun, karena nama asliku Oh Sehun”, namja itu mengulurkan tangannya pada sang gadis.

Gadis itu membalas uluran tangan namja yang berdiri di hadapannya. “Lee Ahna imnida. Senang bertemu dengan anda, Mr Oh”, jawab sang gadis.

“Nice too meet you, Miss Lee. And congratulation for your married”, kata sang namja itu lagi. Dia melepas uluran tangannya. “And she’s real my darling”.

“Owh, thank you. Kalian terlihat cocok”, jawab sang gadis.

“What are you say, Mic? It’s not true, eonni”, bantah Junghae. Dia tak habis fikir dengan perkataan namja yang dipanggil Mic olehnya.

Namja itu mendekati Junghae dan memeluknya dari belakang. Dia bahkan mencium pipi kanan Junghae. “It’s true darling. You’re my girlfriend”, kata sang namja dengan senyum menawannya.

“Loose your hands, Mic”, Junghae berusaha melepaskan pelukan namja itu. “Dan aku bukanlah kekasihmu, okay”, lanjut Junghae. Akhirnya namja itu melepaskan pelukannya, karena merasa kasihan pada Junghae.

Sedang gadis yang memakai gaun pengantin itu hanya tersenyum melihat tingkah dua manusia yang ada dihadapannya. Bagaimana tidak, Junghae mengaku jika dia bukanlah kekasih Mikcle, namun Mikcle bersikeras mengaku jika Junghae adalah kekasihnya. Mereka terlihat sangat lucu, namun itu membuat sang gadis bingung harus percaya dengan siapa. “Sudahlah! Kalian terlihat sangat lucu saat berdebat”, kata gadis tersebut.

“Maafkan aku eonni. Mikcle memang seperti itu”, kata Junghae. Dia merasa sedikit tak enak dengan kakak iparnya tersebut.

“Jadi siapa yang harus aku percayai”, gadis itu minta penjelasan.

“Aku, kau harus percaya padaku eonni”, Junghae menjawab dengan cepat sebelum didahului Mikcle.

“Kau memang tak berubah Alice”, kata namja itu mengacak-acak rambut Junghae.

“Kau merusak tatanan rambutku, oppa”, Junghae menutup mulutnya saat sadar dengan apa yang baru dia ucapkan.

“Oppa!”, gadis itu sedikit terkejut. “Jadi benar, kenapa kau harus malu mengakuinya Junghae”, lanjut sang gadis.

“Tapi aku benar-benar tak berkencan dengannya eonni. Itu hanya akal-akalannya saja. Dan lagi aku memanggilnya oppa karena dia memang dua tahun lebih tua dariku”, bantah Junghae.

“Akui saja sayang”, kata namja itu lagi.

“Ah, up to you. Aku harus menemui seseorang, aku pergi dulu”, Junghae segera berlalu dari hadapan mereka.

“Yak, wait me Alice”, kata namja itu, namun tak dipedulikan oleh Junghae dia tetap melanjutkan langkahnya meninggalkan mereka berdua. “Aku harus menyusulnya nona, selamat tinggal”, namja itu juga berlalu meninggalkan sang gadis. Namun langkahnya harus terhenti saat dia bertemu dengan mempelai pria.

“Sehun”, tanya sang mempelai pria.

“Jongdae hyung”, kata namja itu.

“Kapan kau sampai? Aku bahkan tak menyangka kau akan datang dia pesta pernikahanku”, kata Jongdae lagi. Dia sudah terlihat gagah dengan tuxedo warna putih yang sangat pas di badannya.

“Sekitar sejam yang lalu. Aku bahkan tak mampir ke rumah omonim, aku langsung menuju kemari. Dan selamat atas pernikahannya hyung. Calon istrimu benar-benar cantik”, jawab namja itu lagi.

“Terima kasih”, kata Jongdae. “Kau sudah menemuinya?”, lanjutnya.

Namja itu menganggguk, “Sebenarnya aku tak berniat menemuinya, hanya saja aku melihat Alissa disana. Dan jadilah aku bertemu dengannya”, tutur namja itu.

“Owh, pantas saja. Tapi dia baru saja pergi”.

“Ya, aku memang berniat mengejarnya. Aku pergi dulu hyung”, pamit namja itu. dia segera berlalu meninggalkan Jongdae.

Sementara Junghae kini tengah bersenda gurau dengan ibu dan juga kakaknya, Jungra. Sehun yang melihatnya segera menemui mereka. Junghae menyadari kehadiran Sehun, namun tidak dengan Jungra karena dia berdiri membelakanginya.

“Lihatlah siapa yang datang eonni”, kata Junghae.

Jungra segera menoleh ke arah yang ditunjuk oleh Junghae. Dia begitu kaget melihat namja yang tengah berdiri di sampingnya. Dia begitu termangu melihatnya. Ada perasaan bersalah, malu, rindu dan entah perasaan apalagi yang menimpa hatinya. Dia bahkan tak mampu mengucap sepatah katapun untuk namja itu.

“Long time no see, Jungra”.

 

 

 

— TBC —

 

 

 

 

Hai, saya kembali lagi dengan Chapter 3. Gimana menurut kalian? Semoga masih suka dengan ff ini. Terima kasih untuk komentarnya.

Salam hangat: Dwi Lestari

14 thoughts on “[EXOFFI FREELANCE] Secret Wife (Chapter 3)

  1. kirain chanyeol beneran berani ngomong k ny.park kalau mereka beneran sudah nikah.. ehh trnyata cuma khayalan chan..
    junghae dan chanyeol kenapa nggk ada momennya.. seperti mereka blum mekiha aja..
    jan sampek sehun dan jungra yg jadi PHO antara chan&junghae

    • Ada sebenarnya, yang diberi bekal oleh Junghae itu Chanyeol, hihi….
      untuk Mickle itu nama lain dari Sehun…
      Thanks ya……🙂

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s