[EXOFFI FREELANCE] Promise – 약속 (Chapter 2)

poster-promise-%ec%95%bd%ec%86%8dTittle : PROMISE (약속)

Author : Dwi Lestari

Genre : Romance, Friendship

Length : Chaptered

Rating : PG 17+

Main Cast : Han Sae Ra (Elena), Park Chan Yeol (Chanyeol)

Support Cast : Byun Baek Hyun (Baekhyun), Oh Sehun (Sehun), Kim Jong Dae (Chen), Zhang Yi Xing (Lay), and other cast. Cast akan bertambah atau menghilang seiring berjalannya cerita.

Summary:

Park Chanyeol adalah pewaris tunggal S&C Group yang baru saja kembali ke Korea setelah sekian lama tinggal di Amerika untuk mengelola perusahaannya, dan juga dalam rangka mencari teman kecilnya Minnie karena janji yang telah dibuatnya sewaktu kecil. Akankah dia dapat menemukannya dan menepati janjinya?

 

Disclaimer : Alur dan ceritanya murni buatan saya. Sudah pernah saya kirim ke https://exofanfiction.wordpress.com/

Author’s note : Terima kasih sudah membaca. Jangan lupa komennya. No kopas, no plagiat. Sorry for typo.

 

 

CHAPTER 2 – (My Best Friend)

 

 

Elena membuka matanya setelah sekitar satu jam tak sadarkan diri. Ia mengedarkan pandangannya, di melihat dua orang tengah berbicara di luar tempat ia terbaring. Dia tidak bisa mendengar dengan jelas apa yang orang-orang tersebut bicarakan. Dia hanya diam dan berusaha mengumpulkan tenaga untuk bisa bangun dari tempatnya terbaring. Sekeras apapun dia berusaha dia tetap tidak bisa bangun. Diapun meyerah dan hanya berbaring di tempatnya.

Pintu kamar tesebut terbuka. Muncullah seorang namja dari balik pintu tersebut. Dia melihat Elena terbangun, di segera menyapanya.

“Kau sudah bangun Saera?”, tanya namja tersebut.

“Aku ada dimana Baekhyun?”.

“Kau ada di rumahku. Sehun yang mengantarnya kemari”.

“Kau masih merasa pusing”.

“Emh”.

Baekhyun berjalan mendekati ranjang Saera dan duduk di tepian ranjangnya. Dia lalu mengecek suhu tubuh Saera dengan memegang kening Saera.

“Suhu tubuhmu normal. Kau hanya terlalu banyak minum, benarkan?”, kata Baekhyun.

“Emh”.

“Saera, bukankah sudah ku bilang untuk tidak minum alkohol terlalu banyak. Kau punya alergi alkohol. Kenapa kau sulit sekali dibilang”.

“Mianhae, Baekhyun-ah. Aku tidak mungkin mengecewakan pelangganku”.

“Aku tahu. Tapi tidak bisakah kau bilang pada mereka tentang keadaanmu. Berhentilah menyakiti dirimu sendiri, Saera. Dan berhentilah membuatku khawatir”.

Entah mendapat kekuatan darimana, Saera bisa bangun. Dia segera memeluk Baekhyun. “Mianhae, Bekhyun-ah. Aku janji tidak akan menyakiti diriku sendiri dan aku janji tidak akan lagi membuatmu khawatir. Dan berhentilah menghawatirkanku”.

Baekhyun membalas pelukan Saera. Dia juga mengusap rambut panjang Saera. “Aku akan memegang janjimu, Saera. Dan untuk permintaanmu itu aku tidak bisa menurutinya. Aku tidak akan bisa tidak menghawatirkanmu”.

“Baekhyun”.

Baekhyun melepaskan pelukannya dan menatap Saera dengan lekat. “Aku akan berhenti menghawatirkanmu jika memang sudah ada yang melindungimu dan menjagamu, serta membahagiakanmu. Setidaknya biarkan aku menjagamu sampai ada orang yang benar-benar tulus mencintaimu, Saera”.

Saera merasa terharu dengan perkataan Baekhyun. Dia tak sengaja menjatuhkan air matanya. “Gomawo, Baekhyun. Kau memang sahabatku yang paling baik”.

“Yak, aku tidak menyuruhmu untuk menangis”, Baekhyun menghapus air mata Saera. “Aku harus ke rumah sakit sekarang. Jangan lupa sarapan dan minum obatmu. Aku sudah terlambat. Satu lagi, jangan pergi bekerja untuk hari ini. Istirahatlah!”.

“Ne, pergilah. Terima kasih dokter Byun”.

“Aish kau ini. Aku berangkat dulu. Annyeong. Jangan lupa pesanku”. Baekhyun kemudian meninggalkan Saera sendirian. Saera hanya termangu menatap kepergian Baekhyun. “Kau selalu ada untukku Baekhyun. Terima kasih untuk semuanya”.

Saera merasa sudah mendapat kekuatan kembali. Dia lalu pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Setelah itu dia pergi sarapan dan minum obat. Dia melakukan apa yang diperintah Baekhyun. Dia hanya beristirahat seharian sambil menunggu Baekhyun pulang. Dia bahkan memasak makan malam untuk Baekhyun.

Dia sudah menata semua masakannya di meja makan. Dia mendengar suara mobil berhenti di depan rumah tersebut. Saera tersenyum, dia tahu kalau Baekhyun sudah datang. Dia segera menyusulnya dan menjemputnya di pintu depan. Sebelum dia membuka pintu, dia mengintip dari jendela. Tepat seperti dugaannya, Baekhyunlah yang datang. Dia segera membuka pintu rumah tersebut.

“Kau sudah datang dokter Byun”, sapa Saera.

“Kau sudah merasa baikan?”.

“Emh”.

“Mana tasmu. Sekarang mandilah. Aku sudah menyiapkan makan malam untukmu”.

Baekhyun kemudian menyerahkan tas yang dibawanya dan menuruti permintaan Saera. Setelah meletakkan tas Baekhyun, Saera menunggunya di meja makan. Tak lama setelah itu Baekhyun datang dengan busana santainya. Saera tersenyum melihat kehadiran Baekhyun.

“Wae? Apa ada yang lucu sampai kau tersenyum sendiri”.

“Aniyo. Aku hanya senang kau datang”.

“Wae? Apa karena aku terlihat tampan malam ini?”.

Dia tersenyum sinis. “Ih, PD sekali. Kau mau makan atau tidak”.

“Iya, iya”. Baekhyun kemudian duduk berhadapan dengan Saera. “Apa ini semua kau yang memasak?”, tanya Baekhyun.

“Tentu, kau pikir aku tidak bisa memasak”.

“Bukan begitu, terakhir kali aku makan masakanmu…..”, belum sempat Bekhyun melanjutkan Saera sudah menyelanya.

“Jangan diterusakan. Waktu itu aku memang belum pandai, tapi sekarang ku pastikan akan enak”.

“Jinjayo! Baiklah akan ku coba”. Baekhyun segera mengambil sumpit dan mencicipi satu persatu masakan yang dibuat Saera. Dia hanya menggangguk-anggukan kepalanya saat masakan yang dimakannya terasa enak. “Mashita. Ini benar-benar enak Saera. Dari mana kau belajar ini semua?”.

“Haruskah aku memberitahumu?”.

“Tentu saja harus”.

“Memangnya kau pikir kau siapa?”.

“Lalu kau sendiri menganggapku sebagai apa?”.

“Itu…”.

“Wae? Kenapa tidak diteruskan?”, kata Baekhyun sambil terus menikmati makanannya. “Apa? Ayo jawab”.

“Cinta pertama”.

Bukannya senang Baekhyun malah tertawa. Dia bahkan sampai tersedak karena tertawa terlalu keras.

“Yak, kenapa kau malah tertawa. Kau memang cinta pertamaku. Kau juga yang pertama merebut first kiss ku. Dan hari ini kau juga yang pertama mencicipi masakanku setelah aku berusaha keras untuk bisa memasak”.

“Jinjayo! Molla. Geundae, kenapa kau menyebutku cinta pertamamu? Padahal sejak kita masih berusia 8 tahun, aku sudah menyatakan cinta untukmu, tapi kau selalu mengabaikannya. Dan sekarang, kau tidak sedang bercandakan? Dan kapan aku merebut first kiss mu?”.

“Bukannya aku mengabaikannya, aku hanya belum menyadari perasaanku, dan dulu aku selalu memandangmu sebagai seorang teman. Aku tidak pernah memandangmu sebagai seorang namja. Karena itulah aku tidak menganggap serius pernyataan cintamu. Dan aku menyebutmu sebagai cinta pertamaku karena kau sudah mengajariku banyak hal, termasuk apa itu cinta? Kau selalu ada untukku. Kau bahkan tidak ikut pindah orang tuamu ke Belanda hanya karena kau tidak ingin meninggalkanku sendirian. Semua kebaikanmu membuatku sadar sebenarnya aku menyukaimu. Kau benar-benar tidak ingat kalau kau pernah menciumku”.

“Jadi sekarang kau mengatakan cinta padaku. Ah, sudah terlambat Saera. Kau tahukan kalau aku sudah punya yeojachingu. Dan untuk menciummu, aku tidak ingat. Memangnya kapan”.

“Saat aku tenggelam ketika wisata sekolah. Kau menyelamatkanku, dan kau juga yang memberiku nafas buatan. Saat itulah kau menciumku”.

“Yak, itu bukan ciuman namanya. Bagaimana bisa kau menyebutnya ciuman, padahal saat itu aku hanya memberimu nafas buatan untuk menyelamatkanku”.

“Bagiku itu sama saja. Bukankah berciuman itu saling menempelkan bibir?”.

“Eoh”.

“Lalu bagaimana kau memberiku nafas buatan”.

“Tentu saja dengan…”, Baekhyun tidak melanjutkan kata-katanya. Dia berfikir sejenak. Memang benar yang dikatakan Saera. Tapi baginya itu tetap tidak sama. “Tentu dengan menempelkan bibir, tapi tetap saja itu tidak sama, Saera”.

“Aku hanya bercanda? Tentu itu tidak bisa dikatakan berciuman”.

“Aish, kau ini”.

“Tapi memang kaulah yang mencuri first kiss ku. Kau ingat malam saat ulang tahunmu yang ke 18, saat pertama kali kau meminum alkohol. Karena saat itu kau mabuk, jadi kau pasti tidak ingat”.

“Ow, jinja. Seharusnya aku mengingatnya”. Raut wajah Baekhyun nampak kecewa.

“Yak, kenapa mukamu jadi masam begitu. Cepat habiskan makananmu”.

“Eoh. Ow ya, besok aku akan ke Love House di Tongyeong. Kau mau ikut?”.

“Love House? Bukankah itu semacam panti asuhan. Untuk apa kau kesana?”.

“Kau bisa menyebutnya bakti sosial. Memberi penyuluhan pada anak-anak disana untuk selalu menjaga kesehatannya. Kau tahukan sekarang anak-anak mudah sekali sakit. Dan sebenanya aku memerlukan bantuanmu. Kau adalah seorang Psikiater, kau pasti tahu bagaimana merayu anak-anak itu supaya mau diperiksa. Jebal, kau mau kan?”.

“Arraseo. Aku akan ikut”.

“Gomawo. Aku sudah selesai. Terima kasih juga untuk makanannya”.

“Biarkan saja, nanti aku yang akan membereskannya”.

“Ne”. Baekhyun kemudian meninggalkan Saera. Dia memilih menonton TV untuk mengundang rasa kantuknya. Dia menganti chanel beberapa kali, mungkin karena tidak menemukan acara yang bagus atau karena mungkin dia sedang memikirkan sesuatu. Entah apa itu, hanya dialah yang tahu.

Sementara itu Saera sibuk membereskan meja makan. Setelah mencuci piring dan meletakkan kembali ke tempat semula, dia membuatkan susu untuk Baekhyun. Setelah selesai dia menemuinya di depan TV. Di alalu memberikan susu buatannya tersebut.

“Kenapa kau membuatkanku susu, seharusnya kopi atau teh”, tanya Baekhyun.

“Kau terlihat sangat lelah dokter Byun. Minum saja, jangan banyak protes. Dan itu sudah ku campur dengan vitamin. Ingat, kau juga harus memikirkan kesehatanmu. Kau selalu menyarankan pasienmu untuk menjaga kesehatannya, tapi kau bahkan tidak peduli dengan kesehatanmu. Dokter macam apa itu”.

“Arraseo”, kata Baekhyun sambil mencubit kedua pipi Saera.

“Yak, lepaskan. Sakit tau”, Saera berusaha melepaskan tangan baekhyun dari pipinya.

Baekhyun lalu melepaskan tangannya dan meminum susunya. Saera mengganti chanel TV yang ditontonnya.

“Apa kau sudah tahu kabar eommaku?”, tanya Saera.

“Emh. Aku hampir saja lupa, jika kau tidak bertanya. Dia ada di Tongyeong. Ku dengar dia menjual teobokki disana. Besok sekalian kita menemuinya, bagaimana?”.

“Baiklah! Aku mau tidur dulu, aku sudah mengantuk”.

“Kau sudah meminum obatmu?”.

“Eoh”.

“Baguslah, jaljayo”.

“Ne”, Saera kemudian meninggalkan Baekhyun dan menuju kamarnya. Yang kemudian diikuti oleh Baekhyun.

Namun saat sampai di kamarnya, Saera tidak langsung tidur. Dia membuka gorden jendelanya sedikit untuk melihat bulan. Malam itu bulan purnama, langit juga tampak cerah sehingga memperlihatkan bintang-bintang yang bersinar bersama sang bulan. “Bulannya sangat indah”, kata Saera. Cukup lama dia memandang rembulan dalam diam. Entah apa yang difikirkannya. Karena merasa mengantuk, Saera kemudian menutup kembali gorden jendelanya dan tidur.

 

***

 

“Minnie, aku harus pergi ke Amerika”, kata seorang anak laki-laki kepada seorang gadis kecil yang tengah duduk di bangku taman. Dia berkata sambil mebelakangi sang gadis. Anak laki-laki tersebut tidak sanggup menatap langsung ke sang gadis. Dia tidak sanggup jika harus berpisah dengan gadisnya.

“Tapi kenapa Mikky? Bukankah kau sudah berjanji akan selalu bersamaku. Tapi kenapa sekarang kau akan pergi? Hikz…hikz”, kata sang gadis sambil menangis. Anak laki-laki itu segera menoleh dan memeluk gadisnya.

“Uljima, aku janji saat dewasa nanti aku pasti akan datang kembali kesini dan aku tidak akan pernah meninggalkanmu lagi”, kata anak laki-laki tersebut. Gadis kecil itu segera melepaskan pelukannya.

“Apa kau janji?”, kata sang gadis.

“Ne, aku janji. Tunggulah saat dewasa nanti, aku pasti akan menjadi namja yang mengagumkan untukmu”, kata sang namja. Dia menghapus air mata gadisnya.

“Baiklah. Akan aku pegang janjimu”, gadis itu berkata sambil tersenyum.

Namja kecil itu mengeluarkan sebuah kotak berlapis beludru berwarna hitam. Dia segera membuka kotak tersebut. Dia mengambil benda yang ada dalam kotak tersebut dan memakaikannya ke leher sang gadis. “Kau harus selalu memakai kalung ini. Jika nanti aku kesini, aku pasti akan langsung mengenalimu karena kalung ini. Kau juga harus tumbuh menjadi yeoja yang manis dan baik. Kau ingat itu, jangan pernah melepaskannya apalagi menghilangkannya”, kata sang namja kecil.

“Em. Kalungnya indah sekali”, kata sang gadis.

“Kalung ini hanya ada satu di dunia ini. Dan akulah yang mendesainnya”.

“Benarkah! Tapi kenapa bulannya yang di dalam bintang?”.

“Itu karena kau menyukai bulan dan aku menyukai bintang. Bintang itu akan melindungi sang rembulan seperti aku melindungimu”.

“Ow”.

“Aku harus pergi sekarang. Selamat tinggal Minnie. Tunggulah, aku pasti akan datang”.

“Em, hati-hati Mikky. Aku pasti akan merindukanmu”.

Namja kecil itu mencium kening sang gadis sebelum dia berlalu meninggalkannya. Gadis kecil itu hanya termangu menatap kepergian namja kecilnya.

 

——–

 

Saera terbangun dengan nafas terengah-engah setelah bermimpi sama seperti kemarin malam. “Kenapa mimpi itu datang lagi. Siapa sebenarnya Mikky?”. Saera bernafas pasrah, karena dia tidak bisa mengingat siapa Mikky. Dia melirik jam di sebelah ranjangnya. Jam tersebut masih menunjukkan pukul 5. Ini masih terlalu pagi, pikirnya.

Saera kemudian menuju kamar mandi. Dia membasuh wajahnya untuk menyegarkan fikirannya. Namun tetap saja dia tidak merasa tenang. Dia kemudian memutuskan untuk mandi. Dia merasa sedikit lebih tenang setelah mandi.

Setelah mengganti pakaiannya, Saera menuju dapur untuk membuat sarapan. Dia membuat roti panggang, salad, omelet, dan susu. Setelah semuanya matang, dia menatanya di meja makan. Tepat setelah semua tertata rapi, Baekhyun datang.

“Wah, sarapannya sudah siap. Apa kau sengaja mempersiapkan ini semua?”, tanya Baekhyun.

“Aku hanya terbangun lebih awal, Baekhyun. Aku tidak bisa tidur lagi. Karena itu aku memutuskan untuk membuat sarapan. Kemarilah, kita sarapan dulu”, kata Saera.

“Kelihatannya enak”, Baekhyun lalu duduk yang diikuti oleh Saera. Mereka berdua menikmati sarapan dengan tenang. Setelah sarapan mereka memutuskan untuk berangkat ke Tongyeong seperti rencana mereka semalam. Mereka menggunakan mobil.

Saera hanya diam sepanjang perjalanan. Dia masih teringat dengan mimpinya semalam. Dia berusaha mengingat siapa itu Mikky. Namja yang sudah memberinya kalung. Semakin dia berusaha untuk mengingat semakin sakit kepalanya. Dan itu membuat mukanya terlihat pucat.

“Kau kenapa, mukamu pucat sekali? Apa kau sakit”, tanya Baekhyun memulai pembicaraan.

“Ani. Aku baik-baik saja”, kata Saera.

“Kau yakin?”.

“Emh”.

“Apa ada yang mengganggu pikiranmu?”.

“Entahlah, aku tidak yakin”.

“Kau bisa menceritakannya padaku”.

“Sebenarnya, akhir-akhir ini aku sering bermimpi aneh. Mimpi itu selalu sama”.

“Mimpi seperti apa?”.

“Kau tahukan jika aku sering memakai kalung ini. Aku bahkan tidak ingat siapa yang memberi kalung ini. Apa kau tahu siapa yang memberinya padaku?”, kata Saera sambil menunjukkan kalungnya.

“Aku tidak tahu siapa yang memberimu kalung itu. Saat pertama kali kita bertemu kau sudah memakai kalung itu. Lalu apa hubungannya dengan mimpimu”.

“Aku bermimpi jika anak kecil bernama Mikky lah yang memberiku kalung ini. Dia berpamitan akan pergi ke Amerika. Aku bahkan menangis saat dia berkata seperti itu, sepertinya aku telah dekat dengannya. Dia berjanji akan datang setelah dewasa. Dia memberiku kalung ini agar dia mengenaliku saat dia bertemu denganku nanti. Dia bahkan menyuruhku untuk selalu memakainya dan aku tidak boleh menghilangkannya. Tapi anehnya dia memanggilku dengan nama Minnie. Aku berusaha untuk mengingat siapa itu Mikky. Tapi semakin aku ingin mengingatnya kepalaku semakin sakit. Bagaimana menurutmu, apa itu peristiwa yang pernah ku alami atau itu hanya mimpi?”.

“Entahlah, aku juga tidak tahu. Mungkin saja itu peristiwa yang pernah kau alami. Kata Han ahjumma, sebelum keluargamu pindah ke Seoul, kau pernah mengalami kecelakaan yang membuat ingatanmu hilang”.

“Benarkah! Bahkan eomma tidak pernah menceritakannya padaku. Terlalu banyak yang mereka tutupi dariku. Dan satu hal lagi, apa kau percaya kalau aku saudara kembarnya Sora?”.

“Wae? Tentu saja aku percaya, kalian memiliki tanggal lahir yang sama, orang tua sama hanya wajah kalian yang tidak terlalu mirip. Tapi itu wajar karena kalian bukan kembar identik”.

“Tapi aku merasa sebaliknya, aku bahkan merasa sangat jauh dengan Sora. Bukankah saudara kembar biasanya memiliki semacan telephati, tapi aku tidak pernah merasakan itu dengan Sora”.

“Kenapa kau jadi membahas itu sekarang. Sudahlah, jangan terlalu difikirkan. Mungkin itu hanya perasaanmu saja”.

“Tapi itu benar Baekhyun. Bahkan appa lebih menyayangi Sora daripada aku. Kau ingatkan saat Sora bunuh diri, appa terlihat sangat frustasi. Dia menjadi seseorang yang berubah 180 derajat. Dia menjadi kasar, pemarah, pemabuk, bahkan menjadi seorang penjudi. Hingga bahkan dia rela menj…”.

“Cukup Saera”, Baekhyun kemudian menghetikan mobilnya dengan mendadak, hingga membuat kepala Saera tebentur. Baekhyun lalu melanjutkan kata-katanya, “Dia juga menyayangimu. Apa kau tahu apa yang diakatakannya sebelum dia meninggal. Dia sangat menyesal telah menjualmu. Kalau saja dia bisa membalikkan waktu, dia tidak akan pernah melakukannya. Dia menjadi lebih frustasi setelah itu. Karena sudah tak sanggup menanggung semuanya, dia memutuskan untuk bunuh diri. Jadi bagaimana mungkin dia tidak menyayangimu, Saera”.

Saera terisak mendengar penuturan Baekhyun. Dia merasa bersalah dengan kematian ayahnya. “Apa aku seegois itu, hikz…hikz….”, kata Saera.

Baekhyun segera menenangkannya dengan memeluknya. “Hssst, ini semua bukan salahmu. Uljima. Mungkin ini yang sudah Tuhan gariskan untukmu. Uljima”. Baekhyun berusaha menenangkannya dengan mengusap rambut Saera.

“Gomawo, Baekhyun-ah”. Saera berhenti menangis. Baekhyun kemudian melepaskan pelukannya. Dia juga mengusap bekas air mata Saera. “Kita akan terlambat. Kau bisa melanjutkan perjalanan”, kata Saera.

Baekhyun kemudian mengemudikan kembali mobilnya. Setelah kejadian tadi, Saera hanya diam sepanjang perjalannya. Dia hanya memandang ke luar jendela. Baekhyun paham dengan perasaan Saera, karena itulah dia sengaja tak mengajaknya bicara. Bahkan sampai dia Tongyeong mereka tetap diam seribu bahasa.

Setelah memarkirkan mobilnya Baekhyun dan Saera turun. Baekhyun kemudian mengambil barang-barangnya yang ada di bangku belakang. Saera juga membantu menbawakan sebagian barang Baekhyun. Mereka disambut oleh pemilik Love House.

“Selamat datang dokter Byun”, kata pemilik tempat tersebut.

“Annyeong haseyo direktur Kim”, kata Baekhyun.

“Siapa yeoja itu? Apa dia istri anda?”, kata direktur Kim sambil menunjuk Saera yang masih tertinggal di belakang Baekhyun. Baekhyun hanya tersenyum.

“Jadi benar dia istri anda?”.

“Apa kami terlihat seperti itu?”.

“Ne”.

“Tapi dia bukan istriku. Dia temanku”.

“Ah, sayang sekali. Padahal dia telihat sangat cocok dengan anda”.

“Terima kasih. Saera-ya, kenalkan dia direktur Kim pemilik tempat ini”, kata Baekhyun pada Saera. Saera kemudian berjalan mendekati Baekhyun. Dia juga membungkukkan badannya.

“Annyeong haseyo. Han Saera imnida. Senang bertemu anda direktur Kim”.

“Ow, ne. Kim Minseok imnida. Senang bertemu dengan anda nona. Mari silahkan masuk”.

Mereka bertiga masuk ke tempat tersebut. Dalam ruangan itu, mereka disambut oleh anak-anak yang tinggal di tempat itu. Mereka kemudian meletakkan barang bawan mereka di meja.

“Dokter Byun datang”, kata salah seorang anak.

“Iya, dokter Byun sudah datang”, kata anak-anak yang lain.

“Annyeong semuanya. Bagaimana kabar kalian?”, tanya Bekhyun.

“Kami baik-baik saja dokter Byun. Bagaimana dengan anda dokter?”, kata anak-anak serempak.

“Aku juga baik-baik saja”, kata Baekhyun.

“Dokter, siapa noona yang manis itu. Apa dia pacar anda?”, kata seorang anak laki-laki.

“Bukan. Dia temanku. Namanya Han Saera. Kau bisa menyapa mereka Saera”, kata Baekhyun.

“Annyeong haseyo. Han Saera imnida. Senang bertemu dengan kalian”, kata Saera.

“Wah, eonnie cantik sekali”, kata salah seorang gadis kecil yang berusia sekitar 5 tahun. Saera kemudian berjongkok untuk mengimbangi tinggi gadis tersebut.

“Kau juga sangat manis”, kata Saera sambil mencubit hidung gadis tersebut. “Siapa namamu”, tanya Saera.

“Lee Seul Bi”, kata gadis tersebut.

“Baiklah Lee Seul Bi, mau mendengar ceritaku”, kata Saera.

“Emh”, kata Seulbi. Saera kemudian menggendong Seulbi sambi berjalan.

“Siapa yang mau mendengar kakak bercerita?”, tanya Saera pada anak-anak.

“Aku mau, aku mau”, kata anak-anak serempak.

“Baiklah. Kalian duduklah dengan tenang”, kata Saera. Saera kemudian mulai berdongeng tentang cerita anak yang bahkan belum pernah di dengar sebelumnya. Baekhyun tersenyum melihat Saera dengan mudahnya menarik perhatian anak-anak tersebut.

“Bisakah dokter Byun ikut saya sebentar?”, kata direktur Kim.

“Ow, tentu”, kata Baekhyun.

Baekhyun diajak ke ruang sebelah. Ruang kerja dari direktur Kim.

“Bagaimana kesehatan mereka direktur Kim?”, tanya Baekhyun.

“Mereka semua baik”, kata direktur Kim.

“Syukurlah?”.

“Temanmu itu pandai sekali mencuri perhatian mereka. Padahal baru sebentar bertemu, mereka langsung menyukainya”.

“Anda benar. Mungkin karena dia seorang Psikiater”.

“Jadi dia seorang seorang Psikiater”.

“Emh. Kami sudah berteman sejak kami berusia 8 tahun. Tapi sebenarnya, dia memang sudah menarik sejak dulu”.

“Apa anda menyukainya”.

“Tentu saja”.

“Kenapa kalian tidak menjalin hubungan yang lebih, kenapa hanya  berteman?”.

“Untuk itu aku tidak menjelaskannya. Lagipula aku juga sudah punya kekasih”.

“Ah, iya iya”.

“Bagaimana dengan keuangannya direktur Kim, apa masih ada masalah?”.

“Eopseumnida. Ini semua berkat dokter Byun. Karena anda sudah menyumbangkan dana untuk kami. Semua permasalah kami teratasi”.

“Baiklah sepertinya aku harus mulai memeriksa keadaan mereka. Aku akan memberi mereka pencegah cacar air. Ku rasa penyakit itu cukup populer sekarang. Aku juga akan memberi mereka vitamin untuk menjaga kesehatan mereka”.

“Baiklah dokter Byun. Terima kasih karena sudah perduli dengan mereka”.

“Ne, sama-sama”.

Baekhyun dan direktur Kim kembali ke tempat dimana Saera berada. Disana Saera masih bercerita. Anak-anak terlihat menikmati cerita yang disampaikan Saera. “Nah, dokter Byun sudah datang. Kalian bisa memintanya untuk memeriksa kesehatan kalian. Ingat, jangan takut dengannnya. Dia itu…”

“Dokter yang baik”, kata anak-anak dengan serempak.

“Pintar”, kata Saera.

Anak-anak tersebut kemudian mengelilingi Baekhyun. Mereka berebut untuk diperiksa. “Jangan berebut anak-anak, kalian bisa bergantian”, kata direktur Kim. Mereka kemudian berbaris dengan rapi, seperti yang diperintahkan direktur Kim.

Sementara di luar Love House, sebuah mobil Lexus hitam berhenti tepat di sebelah mobil Baekhyun. Setelah suara mesin berhenti, seorang namja keluar dari mobil tersebut. Namja dengan tinggi 185 cm itu, berjalan menuju Love House. Dia memakai jas hitam dengan dalaman kaos berwarna putih.

Melihat Baekhyun sibuk dengan anak-anak kecil tersebut, Saera merasa bosan. Dia memutuskan untuk berjalan–jalan disekitar tempat itu. Dia berjalan menuju taman depan rumah. Saat membuka pintu dia dikagetkan oleh seorang namja yang pernah dilihat sebelumnya.

“Kau….”, kata Saera.

 

 

— TBC —

 

 

 

Gimana? Makin hancur atau makin seru? Tetep komen ya…. Gomawoyo.

4 thoughts on “[EXOFFI FREELANCE] Promise – 약속 (Chapter 2)

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s