[EXOFFI FREELANCE] Black Heart (Long Version)-(Chapter 2)

black-heart-poster-copy

 

Black Heart (Long Version) Chapter 2©

Author : Rinata N.
Main Cast : EXO’s Baekhyun and OC’s ??
Genre : Slice of life, fantasy, mystery, and (maybe) slight romance.
Lenght : Chaptered
Rated : PG-13
DISCLAIMER : This is just a fiction. I don’t own the cast including the OC. The real characters belong to their real life, and for the OC, I just made them inside my brain, it means ‘they’re not real’, just belong to their appearance in this fiction. I just own the storyline. Please DON’T be a PLAGIATOR or repost it without my permission and also, please don’t take the plot (or basically the whole ideas).
Author’s Note : Watch out! Special cast appears! ^O^ Can you guess it who is that cast?
_____________________________________________________
Wae? Kau terkejut?
__________________________________


Author PoV
“Dimana ini?”
Baekhyun membuka matanya. Sekarang ia dalam keadaan berbaring. Bau khas rumah sakit menyeruak di penciumannya. Ia mengerjap beberapa kali, lalu memalingkan muka. Tampak hantu itu tengah menatapnya khawatir.
“Kau baik-baik saja, Baekhyun-ah?” Hantu itu bertanya cemas.
Pemuda itu mengangguk. Pandangan matanya berbenturan dengan manik mata hantu itu. Hantu itu tersenyum. Untuk pertama kalinya, Baekhyun membalas senyum itu.
“BYUN BAEKHYUN! BAEKHYUN-AH!”
Srett
Perempuan tinggi tampak menyibak tirai. Begitu ia membukanya, ia berteriak.
“Omo! Baekhyun-ah!”
Seketika ia langsung duduk di sisi tempat tidur. Tangannya yang dingin meraih tangan Baekhyun yang dipasang selang infus. Hantu itu meliriknya sebal. Tempat yang perempuan itu duduki adalah tempat ia duduk sedari tadi. Kalau dia bukan hantu, mungkin saja hantu itu sudah melayangkan pukulan terbaiknya.
“Gwenchana?” tanya perempuan itu singkat. Dari wajahnya, dapat disimpulkan kalau ia bernama Jina, teman sekantor Baekhyun. Di belakang perempuan itu berdiri seorang ajussi berjas hitam. Wajahnya memancarkan ekspresi yang sama dengan hantu tadi. Ekspresi kekhawatiran.
“Kau tidak bisa melihat?” Baekhyun menyahut ketus. Ia menggerakkan bola mata ke arah lain, pura-pura tidak melihat. Dari ekspresinya terlihat sekali kalau ia kesal. Suara teriakan tadi membuatnya jadi sedikit pusing. Di sisi lain, Jina mengerucutkan bibirnya.
“Syukurlah kau tidak apa-apa, Baekhyun-ah.” Kali ini bukan Jina yang berbicara, melainkan si ajussi. Laki-laki yang berumur sekitar 40 tahun itu tersenyum tipis. Matanya memancarkan kelelahan.
“Aku tidak apa-apa, samchon.” Baekhyun mengulum senyum. Ia tak ingin membuat pamannya itu khawatir. Paman sangat baik padanya. Baekhyun yakin, pamannya yang menjabat sebagai CEO perusahaan besar itu telah mengorbankan pekerjaannya demi menjenguknya.
Beralih ke si hantu. Hantu yeoja itu tampak tidak memerhatikan mereka. Ia menghadap ke sisi lain, sibuk dengan pikirannya sendiri. Terlihat ia mengelus-elus dagunya, pertanda kalau ia tengah kebingungan.
-Flashback-
BRUUKKKK …. DAAKK
Serbuk putih bertebaran dimana-mana. Kardus berisi deterjen itu jatuh menimpa lantai dengan keras. Untung saja, benda itu tidak mengenai Baekhyun. Pemuda itu berbaring di lantai tak sadarkan diri. Kepalanya tadi membentur ubin karena terkejut. Hantu itu terlihat berdiri di sisinya. Tangannya mengeluarkan cahaya ungu, yang perlahan-lahan menghilang.
Sekerumun orang tampak melirik pemuda itu, yang tak sadarkan diri terbaring di lantai dengan sedikit luka di tulang bajinya. Sebagian berteriak dan menolong pemuda itu, sebagian berbisik, dan sebagian lagi tampak bingung dan tak peduli.
Sesosok pemuda tinggi berjubah hitam melihat kejadian itu sekilas, lalu pergi tanpa mengalihkan pandangannya. Hantu yeoja itu mengejarnya. Wajahnya memancarkan kemarahan.
“YA! Kau!”
Sosok itu menoleh. Wajahnya tenggelam oleh tudung jubah hitamnya.
“KAU! Kau pikir apa yang telah kau lakukan?!” Ia berteriak sambil menahan tangan sosok yang diliputi aura gelap itu.
Sosok tinggi itu membuka tudung kepalanya, yang disambut dengan pekikan terkejut dari hantu yeoja bermuka pucat ini.
“KAU?!”
“Wae? Terkejut?” katanya sambil menyeringai. Rambut hitamnya seolah tertiup ke belakang, menambah aura dingin menakutkan di sekitarnya.
“L-leo ..?” Hantu itu tergagap. Leo adalah malaikat maut yang ia temui ketika ia menemui ajalnya bertahun-tahun lalu.
“Apa yang kau katakan barusan? ‘Apa yang baru saja kulakukan?’ Cham. Yang benar saja … Tentu saja aku melaksanakan tugasku.” ucapnya tak percaya.
“K-kau …. akan mengajaknya pergi?” Hantu itu bertanya tergagap. Tangannya tampak bergetar dan mata membelalak tak percaya.
“Tentu saja. Hari ini merupakan akhir dari Catatan Hidupnya. Dan kau ……… mengacaukannya” Leo menjawab sambil melipat kedua tangannya dan memandang hantu itu tajam. Tiba-tiba ia tertegun, lalu bersuit pelan. Sebuah buku muncul tepat di hadapannya. Ia membalik-balik lembar-lembar kertas yang mirip perkamen buku itu.
“Ini aneh.”
Hantu yeoja itu mengernyit, “Mwo?”
“Kau …. memang ditakdirkan untuk menyelamatkannya.” Leo mengeluarkan suaranya pelan, nyaris berbisik. “Disini, tertulis ia tidak mati ….. Sepertinya jadwalnya akan diperpanjang.”
Hantu yeoja itu melirik buku itu, Buku Takdir. Tertulis disana, “Byun Baekhyun, kelahiran 6 Mei 1992, mati tanggal 21 Agustus; Dibatalkan, penyebab; kecelakaan tidak sempurna dan keterlibatan kekuatan magis”. Disamping tulisan itu, tampak gambar Baekhyun berubah warna, dari hitam putih menjadi berwarna, seakan ia berhasil untuk hidup lagi di dunia itu.
“Kau menggunakan ‘kekuatan khususmu’?” Tiba-tiba Leo menoleh pada sosok transparan di depannya.
“Nde? Waktu itu? Ya, aku menggunakannya. Apa itu melanggar ‘aturan’?”
“Sepertinya ….” jawabnya lambat-lambat sambil menerawang. “Itulah yang membuat manusia bernama Byun Baekhyun itu selamat.”
*Flashback End*

****-****

“Jina-ssi.”
Suara itu memecah keheningan. Sekarang mereka semua (termasuk hantu itu) berada di dalam mobil. Baekhyun sudah diperbolehkan pulang. Ia hanya terluka sedikit di bagian atas telinganya. Tidak ada gejala gegar otak atau luka serius. Dokter disana pun hanya memberikan perban kecil pada lukanya itu.
Mobil yang dikemudikan oleh ajussi itu berjalan pelan. Jalan yang mereka lewati cukup ramai. Kendaraan dan orang-orang berlalu lalang memadatinya. Walau begitu, tidak terjadi kemacetan. Volume kendaraan tidak sebanding dengan kumpulan orang-orang yang sibuk berjalan dengan teratur ke tempat tujuan mereka.
“Ye, ajussi?” Jina menjawab. Ia duduk di belakang Baekhyun yang tertidur pulas. Di samping perempuan itu terdapat hantu pucat yang terus mengarahkan mata elangnya. Dari semua orang yang ada di mobil itu, tidak ada satu pun yang menyadari keberadaannya.
“Terimakasih karena mau menjaganya, Jina-ssi. Aku harus ke rumah sakit juga setelah ini. Sepupunya sedang sakit.” Ajussi menjawab sedih. Meskipun begitu ia tersenyum lewat kaca spion, yang dapat dilihat dari belakang. Jina ikut tersenyum.
“Gwenchanayo, ajussi.” balasnya. Jina memerhatikan Baekhyun yang tertidur dan tersenyum. Tanpa ia ketahui, hantu itu sedari tadi terus menatapnya dengan tajam.

****-****

Paman Baekhyun sudah pergi. Setelah memapah Baekhyun ke kamarnya, ia dengan terburu-buru menyalakan mobilnya dan langsung tancap gas meninggalkan rumah itu. Jina bahkan tidak sempat melambaikan tangannya. Hal terakhir yang ia lihat adalah raut kekhawatiran yang nampak sangat jelas di wajah ajussi itu.
Setelah memastikan keadaan sekitar rumah, ia menutup pintu pagar. Hantu itu menyilangkan tangan dan menyipitkan matanya.
‘Apa yang ia lakukan, bersikap seperti itu?’ pikirnya. Ia melayang menembus pagar dan pintu yang telah tertutup. Salah satu kemampuan spesial hantu. Dapat menembus benda padat. Dengan kemampuan itu, kau bisa menjelajah seluruh ruang tanpa harus khawatir menabrak atau membentur apa yang berada di depanmu.
“Oh?”
Tiba-tiba hantu itu tertegun. Sesosok ‘manusia’ tinggi berjubah hitam telah berdiri di depannya begitu ia menyentuh lantai kamar Baekhyun. Sosok itu terlihat sangat familiar.
“Kau sudah datang.” ucapnya tanpa menoleh. Nada suara yang sering ia dengar. Hantu itu tahu sosok itu bicara padanya. Dan secara reflex ia berjalan mendekati tempat sosok itu berdiri. Begitu mengeali wajahnya, ia langsung mengubah ekspresinya menjadi ekspresi ‘bosan’.
“Kau tidak punya kerjaan ya?” Hantu itu berseru sakartis. Sosok itu menoleh. Seketika aura di sekitarnya berubah menjadi hitam gelap. Wajahnya yang tersembunyi itu terlihat dari bawah tudung jubah hitamnya.
Leo.
“Kau mau menjemputnya lagi?” Kali ini mereka berbicara bersamaan. Leo tersenyum remeh. Wajah hantu itu seketika berubah menjadi bertambah pucat.
“Jinjja?!’ Hantu itu berteriak histeris. Leo memutar bola matanya malas.
“Hah. Tentu saja tidak. Buat apa aku kemari hanya demi manusia lemah satu ini? Yang benar saja.” Leo mengendikkan bahu tak percaya. Aura gelap di sekitarnya seketika berkurang banyak.
“Tapi sekarang kau sedang melakukannya.” Hantu itu menimpali. Ekspresi bosan kembali ia pasang di wajah pucatnya. Leo mendengus.
“Atau kau sudah rindu padaku?” ucap hantu itu datar. Ia sekarang menatap Baekhyun yang tertidur. Leo membuang muka, merasa jijik. Apa yang barusan dikatakan oleh hantu itu sama sekali tidak masuk akal baginya.
“Absolutely … not.” balasnya singkat. Ia tiba-tiba bersuit. Seperti kejadian sebelumnya, sebuah buku bersampul kulit seketika muncul di tangannya.
“Kau memeriksa buku itu lagi?”
Leo membalik halaman demi halaman. Hantu itu tiba-tiba penasaran. Perlahan ia mendekat dan melirik buku itu. Leo tiba-tiba terhenti pada satu halaman. Terdapat foto Baekhyun di sana.
“Dia adalah .. takdirnya.” Leo yang dari tadi diam bersuara. Sorot matanya yang tajam terus menatap buku. Hantu itu berpaling ke arahnya tidak mengerti.
“Orang itu … adalah takdir orang lemah itu.” ucap Leo sekali lagi. Kali ini ia menunjuk Jina. Hantu itu tidak bereaksi. Leo yang mengharapkan sesuatu terjadi itu balik menatap si hantu heran.
“Kau tidak terkejut?”
Hantu itu menggeleng-gelengkan kepalanya. “Ha .. apa?”
‘Sepertinya anak ini dari tadi tidak memerhatikan’ Leo bergumam pelan dan kembali memutar bola matanya. Ia tahu, kalau hantu yang berada di sampingnya ini suka sekali tidak memerhatikan sekitarnya.
“Mworago?”
“Tidak ada.” Leo menjawab. Keduanya kini fokus menatap dua orang di depan mereka. Baekhyun (yang sedang berbaring) dengan Jina yang duduk di sisi tempat tidur. Mata Jina yang jernih itu menatap lurus Baekhyun.
“Kau tahu, Baekhyun-ah.” Jina tiba-tiba membuka mulut. Matanya sekarang menatap ke bawah, menyorotkan ketidakyakinan. Kedua mahkluk tak terlihat itu menatap mereka dengan penuh minat.
“Walaupun kau itu lugu, sedikit gila, ataupun lemah, kau orang yang baik, Baekhyun-ah.” Jina tetap menatap ke bawah. Pandangannya itu memandang apa yang ia pegang. Sebuah saputangan. Ia kemudian menarik nafas dalam-dalam.
“Entah mengapa …… Aku tidak bisa membencimu.” Suara soprannya itu semakin lama semakin sulit terdengar. Leo yang mempunyai kemampuan khusus sebagai malaikat maut itu menajamkan penglihatannya. Malaikat dengan iris biru indigo itu kemudian memasukkan tangan kirinya ke dalam jubbah hitam yang ia kenakan. Seperti sihir, suara-suara di dalam ruangan itu seketika terdengar sangat jelas.
Hantu itu dapat mendengar detak jantung gadis itu. Cepat, dengan irama yang teratur. Ia tertegun sesaat, lalu kembali mengembalikan ekspresi semulanya.
“Kau dengar itu?” Leo memiringkan badannya. Matanya tetap menatap dua manusia itu. Jina tampak menarik selimut. Ia lalu menyelimuti tubuh Baekhyun dengan hati-hati.
Hantu itu tidak bergerak. Sorot matanya tampak sendu. Leo yang berada di sampingnya tersenyum iseng. Ia kembali memasukkan tangan ke jubahnya. Kali ini suasana kembali seperti semula.
“Aku ingin melindungimu.”

****-****

That ghost PoV
Aku sekarang sendirian. Leo telah pergi beberapa saat lalu. Malaikat maut konyol itu pasti memiliki banyak tugas yang harus dikerjakannya.
Malaikat maut seperti dia memang sangat sibuk. Leo termasuk malaikat maut tingkat tinggi. Malakait maut yang setara dengannya memiliki kekuatan yang kuat. Walaupun begitu, tugasnya tidak sedikit. Malaikat maut sepertinya mempunyai banyak tugas.
Leo adalah malaikat maut yang menjemputku dulu. Dialah yang mengantarkan aku pada Penjaga Dunia. Saat itu, wajahnya terlihat sangat seram. Kau akan pingsan jika melihatnya.
Penjaga Dunia itu lalu mengantarkanku ke dunia ini. Dunia yang disebut olehnya sebagai Dunia Alam Baka tingkat bawah. Dunia ini penuh dengan mahkluk sepertiku, jiwa tersesat yang tidak tahu apa-apa ketika tiba disini. Selain itu juga terdapat mahkluk lain yang hanya dapat dilihat oleh manusia yang memiliki sixth sense. Dan sisa makhluk yang berada di dunia ini adalah makhluk menyeramkan dan berbahaya yang tidak pernah terpikirkan oleh manusia.
Hidup disini sangatlah membosankan. Kau hanya bisa berkeliling, tanpa tahu apa tujuanmu ‘hidup’ di dunia ini. Karena bosan, aku memutuskan untuk kembali ke rumahku yang dulu. Di sinilah aku bertemu dengannya, Baekhyun.
Hanya ia yang dapat melihatku. Mengetahui hal itu, aku merasa senang. Kuputuskan untuk mengikutinya kemana-mana, walaupun kutahu ia selalu kesal ketika melihatku.
“Ehmm ….” Terdengar gumaman. Aku membalikkan badan. Baekhyun sudah bangun. Setelah berhasil sadar sepenuhnya, ia mengusap-usap matanya.
“Oh kau.” ucapnya ketika melihatku. Baekhyun beranjak dari tempat tidur lalu meregangkan tubuhnya. Manik matanya tiba-tiba terbentur pada meja kecil tempat lampu tidur di samping ranjangnya. Terdapat selembar sticky note berwarna kuning terang disana. Ia mengambilnya.
“Aku pasti sudah pulang ketika kau membaca ini. Aku sudah memasak sup ayam hangat di dapur. Makanlah, semoga kau menyukainya ^^”
Begitulah bunyi pesan yang tertulis. Aku mendecih. Kulirik ekspresi Baekhyun. Ia tengah tersenyum memandang kertas kecil itu.
“Kau sudah merasa baikan?” Aku bertanya. Ia meresponnya dengan memegang kepalanya, memeriksa apakah ada yang retak disana. Setelah itu ia mengangguk.
“Apa Jina noona sudah pergi?” Ia balik bertanya. Aku seketika cemberut. Ternyata orang itu yang diingatnya!
‘Dasar penyihir jangkung menyebalkan!’ umpatku dengan suara sekecil mungkin. Baekhyun tampak tidak mendengarkan. Tanpa menunggu jawaban dariku ia keluar dari kamarnya.
“Ternyata ia sudah pulang.” gumam Baekhyun begitu ia sampai di dapur. Di atas meja terdapat nampan makanan, yang berisi semangkuk sup ayam, semangkuk nasi, sumpit, lengkap dengan kimchi kubis dan segelas susu cokelat.
“Noona yang memasak semua ini?” Baekhyun mengeluarkan suara khas-nya. Aku menunduk. Agak enggan dan malas menjawab pertanyaannya. Entah mengapa aku merasa tidak enak. Tampaknya ia selalu memikirkan orang itu. Tanpa menoleh, akhirnya aku memutuskan untuk pergi.
“Mungkin dia tidak akan mengingatmu lagi, Yooah.”

****-****

Author PoV
Baekhyun menatap hantu itu pergi. Tiba-tiba saja ia merasa hatinya mencelos, seolah hatinya itu kehilangan penopangnya.
Ia lalu duduk di meja makan. Menatap semua makanan yang ada di meja. Ia mengambil sumpitnya dan mulai makan, walaupun ia secara ajaib telah kehilangan selera makannya.
Setelah selesai, Baekhyun membereskan semua piring kotor dan kemudian mencucinya. Sudah seminggu ini ia tidak membereskan dapur. Dapurnya itu terlihat kotor. Ia bahkan tak sempat untuk hanya memilah sampah daur ulangnya. Baekhyun bekerja dengan cekatan. Akibat dari itu, dapurnya telah bersih dalam waktu kurang dari satu jam.
Baekhyun melirik jam dinding. Jam itu menunjukkan pukul 9 malam. Belum terlalu larut. Walaupun begitu ia memutuskan untuk masuk kamar. Pekerjaan kantornya yang tidak beres sudah ia selesaikan beberapa hari lalu. Sudah lama sekali ia tidak tidur dengan waktu yang cukup. Saat ia mengerjakan tugasnya itu, ia hanya tidur 2 jam per hari. Itulah yang membuatnya merasa pusing dan mual sekali. Untung saja atasannya itu terkesan, sehingga ia tidak terkena teguran atasannya yang galak itu.
“Dimana hantu itu?”
Ia memerhatikan sekeliling kamarnya bingung. Sebelumnya, hantu yeoja itu pasti akan menunggunya tidur di sudut kamarnya, atau berbicara pelan di dekatnya saat ia sudah tidur. Terkadang Baekhyun masih bisa mendengarnya, karena ia belum sepenuhnya masuk ke dunia mimpi.
“Foto itu …. Kuharap kau masih menyimpannya, Baekhyun-ah.”
Kata-kata itu tiba-tiba terngiang di pikirannya. Pemuda berjari lentik itu tertegun, lalu dengan cepat beranjak dari tempat tidurnya. Ia berjalan menuju lemari kecil yang berada di samping meja kerjanya. Ketika ia membuka laci itu, terdapat banyak foto dan album foto yang berserakan, memenuhi tempat kecil yang sudah penuh dengan debu itu. Pemuda pemilik bola mata cokelat hazel itu menumpahkan semua isinya ke karpet yang melapisi lantai kamarnya tersebut.
“Foto itu … Aku ingat sekali, kau tersenyum sangat lebar dengan mahkota bunga di kepalamu. Kau sangat manis waktu itu.”
Baekhyun mengacak foto-foto itu. Membalik lembar demi lembar foto di abum fotonya. Foto-foto itu berantakan bukan tanpa alasan. Rumah yang ia tempati sekarang adalah rumah baru, yang ia beli dengan uang peninggalan ayahnya dan uang dari hasil kerjanya selama 6 tahun terakhir. Rumah yang ia tempati sewaktu kecil sudah lama terbakar, dan nyaris tidak ada barang yang bisa diselamatkan.
Setelah beberapa saat, ia akhirnya menemukannya. Baekhyun memandangnya heran. Foto itu sudah setengah hitam. Hanya menampilkan dirinya yang tersenyum ke arah kamera, serta ada seorang lagi, namun hanya terlihat bagian rambut dan dahinya. Orang dalam foto itu juga mengenakan mahkota bunga, dengan perban kecil di antaranya.
Tiba-tiba Baekhyun tertegun. Mengapa hantu itu tahu tentang foto ini? Apa ia pernah melihatnya di laci ini sebelumnya? Tunggu. Debu di album foto tadi menandakan album foto itu belum disentuh. Tapi, hantu kan dapat menembus apapun? Ia tentu tak bisa memegangnya? Baekhyun menggelengkan kepalanya cepat, berusaha melupakan banyak pertanyaan yang nyangkut di pikirannya.
“Aku tidur saja.” Ia melirik jam yang terletak di atas meja kerjanya. Pukul 11 malam. Dari beberapa hari yang lalu ia hanya dapat tidur sebentar. Ia tidak boleh terlambat besok, kalau tidak ingin dibebankan oleh ‘si Kepala Mengkilap” yang merupakan julukan atasannya yang bertampang tidak menyenangkan itu.
Setelah memasukkan semua foto itu ke tempat semula, Baekhyun naik ke tempat tidurnya. Ia memandang sekeliling sekali lagi, berharap sesuatu. Hantu itu tetap tidak ada. Hari-hari sebelumnya ia pasti akan cepat-cepat tidur, berharap kalau ia memang tidak pernah bertemu dengan hantu tersebut. Entah mengapa, sorotan mata pemuda itu tampak kosong, sebelum akhirnya ia benar-benar terlelap.

****-****
“Baekhyun-ah. Kau tidak apa-apa?”
Namja itu membuyarkan lamunannya. Tepat di depannya duduk seorang perempuan dengan wajah bulat, yang sedang menatapnya dengan heran.
“Aniyo, Jina Noona.”
“Makananmu itu bahkan sama sekali tidak kau sentuh.” Jina menggelengkan kepalanya sambil mengunyah makanan. Baekhyun cepat-cepat menyuapkan sesendok makan siangnya ke dalam mulutnya.
“Kau masih merasa sakit?” tanyanya lagi. Baekhyun menggeleng, sambil mengarahkan tatapannya ke mangkuk supnya. Suasana kantin di kantornya ini selalu ramai pada jam makan siang, sehingga pembicaraan mereka tidak akan didengar karena ditelan oleh kebisingan orang yang berbicara. Tak akan ada yang memedulikan satu sama lain, karena tuntutan kerja yang banyak juga mempersempit waktu untuk sekedar berbicara antar sesama.
“Wajahmu masih pucat. Kau masih sering melihat’nya’?” tanya Jina. Baekhyun termenung. Ia tahu apa maksud Jina tadi. Hantu itu. Dalam hati, ia ingin mengangguk. Tetapi ia merasa terlalu murung hanya untuk menggerakkan ototnya itu.
Pagi tadi, ia melihat sosok itu. Ia ingat sekali perasaannya saat itu. Perasaan senang luar biasa, seolah melihat oasis di tengah gurun pasir. Baekhyun sama sekali tidak tahu mengapa ia senang, padahal hari sebelumnya ia merasa kesal sekali dibuntuti olehnya kemana-mana.
Tapi, hantu malah menatapnya murung. Hal itulah yang membuatnya sangat bingung. ‘Apa aku berbuat salah padanya?’ Pikiran itu selalu hinggap hingga saat ini. Baekhyun merasa tak enak, entah kenapa perasaan sedikit bersalah muncul di hatinya. Sampai sekarang ia terus memikirkan apa yang telah ia lakukan pada hantu itu.
“Baekhyun! BYUN BAEKHYUN!”
Suara teriakan langsung membuat pemuda ini menoleh ke asal suara. Jeon Jina. Ia menatap sekeliling, semua orang sekarang menatap ke arah mereka berdua. Baekhyun berusaha menyembunyikan wajahnya dalam-dalam.
“Noona … Kau tidak bisa mengecilkan suaramu ya?” Baekhyun menatap Jina dengan raut wajah mengerut, tanda sedikit kesal dan malu.
“Kau dari tadi tidak mendengarku!” seru Jina, lagi-lagi dengan suara keras. Baekhyun dengan segera bangkit, dan membekap mulutnya. Mereka terus dalam posisi itu selama beberap saat. Keduanya membeku, tak berkutik, dengan mata saling bertemu. Selama beberapa detik setelahnya, tidak ada yang berani bergerak sedikit pun. Suasana canggung dan salah tingkah terasa sekali di meja mereka.
“Wew … sepertinya aku merusak momen kalian.”
Suara agak berat memecah kecanggungan mereka. Perempuan dengan wajah ceria dan berambut pendek muncul di hadapan mereka. Jina dengan cepat melepaskan dekapan tangan Baekhyun di separuh wajahnya.
“Ada apa kau kemari, Hayeon?” Jina menatap Hayeon segera, sementara di sisi satunya Baekhyun membuang muka ke arah lain.
Perempuan muda yang bernama Hayeon itu berusaha menyembunyikan senyumnya. Ia berdeham, “Ehem. Oh, bukan kau, tapi dia.” Hayeon menunjuk Baekhyun. Baekhyun yang merasa ditunjuk itu pun menoleh.
‘Aku?’
Begitulah isyarat matanya, dengan menunjuk hidungnya sebagai pendukung. Perempuan bernama Hayeon itu mengangguk.
“Ne. Aku, sehubung asisten manager diminta untuk memanggilmu. Si Kepala Mengkilap mau kau datang ke kantornya setelah makan siang.” ucapnya singkat dan jelas. Ia memandang Baekhyun dengan tatapan aneh, seperti tatapan sedikit cemburu.
Baekhyun mengernyit sesaat, namun dengan cepat kembali memasang wajah datarnya.
“Baiklah. Nanti aku akan kesana. Terimakasih infonya.”
“Kalau begitu, aku pergi dulu.” Hayeon menganggukkan kepalanya lalu melenggang pergi, meninggalkan mereka berdua dalam keheningan.

****-****

*After Lunch Time
Setelah makan siang, Baekhyun langsung pergi menuju kantor atasannya. Begitu sampai, ia dihadapkan dengan pintu. Di papan besi tipis itu terdapat tulisan, “Kang Gilseok, Kepala Manager A.” dengan tinta emas. Baekhyun menarik nafasnya.
Ketika keberaniannya sudah terkumpul, Baekhyun mengetukkan punggung tangannya ke logam besi itu. Terdengar suara dari dalam, membuat pemuda ini langsung tegang seketika. Suara berat dari dalam itu menyuruhnya masuk.
“Sajangnim.”
Baekhyun membungkuk, sedangkan atasannya itu menyeruput tehnya dengan tenang.
“Silahkan duduk.” ucap orang dengan kepala setengah botak itu berwibawa. Kepalanya itulah yang merupakan alasan ia disebut dengan sebutan “Si Kepala Mengkilap” oleh bawahannya secara diam-diam. Kepalanya yang tidak ditumbuhi rambut itu selalu tampak mengkilap, apalagi jika terpantul oleh sinar matahari. Ibaratkan saja ketika mengendarai sepeda motor di siang hari dan sinar matahari terpantul lewat spion orang lain dan menghalangi pandangan. Sangat mengganggu.
“Err… Bapak memanggil saya?” Baekhyun berkata gugup di temapt duduknya. Ia takut sekali dengan apa yang akan dikatakan oleh bos-nya itu. Ia menatap ke depan, walau dengan pandangan tidak menatap bola mata atasannya tersebut.
“Kau dipecat!”
Baekhyun diam, seketika kaku. Tubuhnya tampak bergetar. Ia menunduk, lalu perlahan bangkit dari tempat duduknya.
“Hei …. Baekhyun-ssi. Anda melamun? Apa yang Anda lakukan? Saya bahkan belum sempat bicara.”
Nada berat itu seketika menyadarkan pemuda ini. Sekarang ia dalam keadaan setengah berdiri. Baekhyun salah tingkah. Akhirnya ia kembali duduk dengan canggung.
‘Apa yang kupikirkan, bodoh?’ rutuknya pada diri sendiri. Ia memukul dahinya pelan.
“Jwesonghamnida.”
“Baiklah, mari bahas ini.” Atasan Baekhyun yang bernama Gilseok ini mengambil sebuah dokumen dan menyerahkannya ke hadapan Baekhyun. Pemuda Byun itu menatap benda itu ngeri. Dokumen itu adalah hasil kerjanya, yang beberapa hari lalu ia kumpulkan.
Baekhyun menatap atasannya dengan tatapan ingin tahu. Gilseok tersenyum. Hal itu jarang sekali terlihat oleh karyawannya.
“Pekerjaan Anda ini sangat bagus, Baekhyun-ssi. Jujur saja, aku terkesan.” ucapnya, walau terdengar seperti terselip niatan untuk hanya untuk sekedar berbasa-basi.
“Kita ke intinya saja. Karena pekerjaan yang bagus ini, kau akan ditugaskan ke Australia. Dua hari lagi akan berangkat, jadi bersiaplah.”
“Ne?”
“Byun Baekhyun-ssi, hasil tulisan dan presentasi Anda sudah cukup membuktikan bahwa Anda layak mewakili perusahaan ini. Jadi, kuharap kau juga bisa melakukan yang terbaik selama disana nanti.”
Baekhyun mengerjap-erjapkan matanya, tak percaya.
“Persiapkan dokumen ini dan serahkan pada saya nanti malam melalu e-mail. Saya akan melihat perkembanganya.” Kepala Mengkilap berkata. Tangannya yang keriput itu menyodorkan dokumen dalam map kuning besar tadi pada Baekhyun.
“Kau boleh pergi.”
Pemuda itu beranjak, setelah itu membungkuk memberi hormat. Ia mengambil map itu dan keluar dari ruangan Kepala Mengkilap.
“Wah wah … Lagi memerhatikan sang pujaan hati?”
Leo tiba-tiba muncul. Ia terkikik kecil. Hantu yeoja itu rupanya tengah memerhatikan dan mengawasi Baekhyun dari kejauhan sedari tadi.
“Kau tidak bertugas?” tanya hantu itu tanpa menoleh. Sekedar basa-basi.
“Hari ini aku free. Ken yang menggantikanku.”
“Ken? Siapa itu? Ah, dia pasti malakait maut juga kan, sepertimu?” Hantu itu mengernyit mendengar nama aneh itu. Ia menoleh seketika. Leo menyeringai.
“Akhirnya kau menoleh juga.” Leo mendengus kasar. “Ya, itu benar. Kau tidak akan pernah bisa melihatnya. Malaikat maut yang menjemputmu dulu adalah aku. Jadi, kau hanya bisa melihatku.”
“Dan wajahmu itu sangat membosankan.” timpal hantu itu cepat, memandang ke arah lain. Koridor tempat ia berdiri itu sepi, tidak ada orang sama sekali.
Leo langsung cemberut. Tapi dengan cepat mengembalikkan ekspresi gelinya.
“Tapi … Kau mau tahu satu hal?”
Hantu itu tampak tak tertarik. Ia terus menatap ke arah lain, seolah ada yang mengganjal di pikirannya. Leo memerhatikan hal tersebut.
“Mungkin kau tak tertarik. Tapi ….” Malaikat maut dengan wajah yang putih pucat itu tiba-tiba tersenyum misterius. Seketika hawa sekitarnya berubah, menyebabkan hantu itu menoleh padanya.
Leo berbisik, jaraknya dekat sekali dengan wajah hantu itu. Hantu itu tidak bergerak, menunggu apa yang akan diucapkan Leo. Malaikat hitam itu mendekatkan wajahnya dan mulai berbisik
“Aku berhasil memasuki dunia mimpinya.”
To Be Continued

Cuap-cuap Author:
Akhirnya kita sampai di chapter 2! Adakah yang menunggunya? Mungkin tidak, hahahaha *ketawamiris.
Yah, tak apalah. Aku disini pun tidak mengharap terlalu besar pada FF ini. Kenapa? Karena ini baru FF pertama yang kubuat. FF yang penuh dengan kekurangan dan ide yang membosankan ini. Aku sebenarnya juga tidak yakin untuk mempublish-nya. Ini karena ada efek dari beberapa bulan lalu juga sih (waktu aku ikut event BBP tapi nggak menang). Tapi entah darimana dateng pikiran seperti ini, ‘Rin, kamu itu baru nulis pertama kali. Dan tidak semua usaha pertama itu akan selalu berhasil. Kamu harus berani mencoba lagi’ Pikiran seperti itulah yang membuatku jadi terpacu agar berani untuk mengirimnya lagi untuk dipublish (mungkin waktu itu aku lagi nonton acara motivasi kali ya? Soalnya tiba-tiba aku yang biasanya gampang puas dan sering tergoda untuk nyerah ini bisa punya pikiran seperti tadi .. Aneh kan?)
Begitulah. Setelah menuangkan alur baru itu menjadi beberapa chapter awal, aku jadi tertarik mencoba lagi. Chapter 1 yang minggu lalu aku publish belum sempat aku edit 100% karena kendala waktu yang sempit. Mungkin jadinya agak membosankan ya. Tapi aku janji, aku akan berusaha membuatnya menjadi lebih menarik lagi 
Berhubung aku ini author yang baru saja terjun ke dunia ‘per-fanfiksi-an’, aku tentu masih memiliki banyak kekurangan. Jika kalian menemukan kesalahan dan kekurangan dalam ff ini, silahkan mengkritik dan memberi saran^^. Feedback dari kalian berharga sekali bagiku. Semua itu bagai vitamin untuk membuatku tambah semangat dalam menulis. Jadi, jangan malu-malu …. Kritik dengan kalimat pedes atau nusuk juga boleh, wkwkwkw. Aku terima itu semua. Dan sebagai pembaca yang baik, tentu kalian mau menghargai penulisnya juga bukan?
See you in the next chapter! \^0^/

Regards, Rinata N.

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s