[EXOFFI FACEBOOK] Avowal : Unforgetable Time – Oneshoot

Tittle : Avowal : Unforgetable Time

Author : Trollbe Maker

Twitter : @ailicious99

Lenght : One Shoot

Genre : Romance, School Life

Rating : Aman di konsumsi ^^

Cast :

Kim Joon Myun

Min Sul Gi (OC)

Support Cast :

EXO Member and other cast

Note :

Anyeong~~ akhirnya saya kambek *apa dah*

Sebenernya, epep ini, terinspirasi dari dorama Jepang ‘Propose Brother’. Karena Joon Myun, Jong Dae, Jong In, plus Min Seok marganya Kim, jadi saya putuskan *cieee, bahasanya* buat bikin empat epep dengan mereka sebagai cast utamanya….

Tapi, nggak terlalu mirip sama purpose brother juga sih, di dorama itu kan ceritanya lamaran nikah keempat orang itu, di epep ini ceritanya…… baca sendiri deh ^^

Cerita ini hanya fanfiction belaka. Jika ada kesamaan nama OC, tempat dan kejadian… ya maap, namanya juga fanfiction kagak ada unsur buat di bikin realnya *apa dah*

Last, but not least… Happy New Year and Happy Holiday… ^^

Warning :

Membaca epep ini dapat menyebabkan tawa karena gaya bahasa yang gaje. Typo(s), alur kecepetan, gaje dan… ending epep ini merupakan ciri khas saya ^^

Happy Reading and RCL please ^^

~Author Pov~

Ini adalah empat cerita berdasarkan urutan lahir. Kim Joon Myun, si anak pertama. Kim Jong Dae, si anak tengah. Kim Jong In, si anak terakhir. Dan Kim Min Seok, si sepupu tunggal. Mereka tumbuh dengan sifat yang berbeda-beda. Termasuk kisah cinta keempatnya.

Kim Joon Myun. Anak pertama dari keluarga Kim. Sebagai anak pertama, Joon Myun selalu bersikap adil pada kedua adiknya, Kim Jong Dae dan Kim Jong In. Karena memiliki tanggung jawab yang besar, Joon Myun tak ingin merepotkan orang lain. Ia sangat keras kepala dan selalu sulit membuat keputusan. Karena sikapnya yang selalu mengalah, Joon Myun sulit mempertahankan gadis yang ia sukai. Kisah percintaannya, selalu gagal.

“Joon Myun-ssi, tolong bawa buku ini ke ruang guru.”

“ne.”

Joon Myun bergegas ke ruang guru. Seharusnya petugas piket yang harus mengumpulkan buku-buku itu dan membawa ke meja guru. Tapi, sebagai seorang ketua kelas. Mau-tak-mau, Joon Myun juga yang harus bertanggung jawab pada pekerjaan itu. Buku yang lumayan berat, tapi itu tak membuat Joon Myun kesal. Ia dengan senang hati melakukan pekerjaannya itu.

Bruukk

Saat berbelok di koridor, Joon Myun bertabrakan dengan seseorang, membuat buku-buku di tangannya tergeletak tak berdaya di lantai koridor.

“ma-maaf, maafkan aku.”

Gadis yang menabrak Joon Myun, berkali-kali membungkukkan tubuhnya. Joon Myun hanya tersenyum simpul sembari membereskan buku-buku yang berserakan. Mungkin, karena merasa bersalah –yah, walaupun ini memang kesalahannya- gadis itu membantu Joon Myun membereskan buku-buku yang jatuh.

“sekali lagi aku minta maaf.”

Gadis itu menunduk sembari memberikan beberapa buku pada Joon Myun.

“tidak apa-apa.”

“tunggu sebentar,” gadis itu menghentikan langkah Joon Myun, wajahnya terlihat ragu, “maaf, tapi… kau bisa memberitahuku di mana ruang guru?”

“oh, aku juga akan kesana. Kau bisa pergi bersamaku,” ucap Joon Myun.

“terima kasih,” lagi-lagi gadis itu membungkuk. Entah sudah berapa kali gadis itu melakukan hal yang sama, mungkin punggungnya bisa patah jika ia terus melakukannya.

***

“namaku, Min Sul Gi. Tapi kalian cukup memanggilku Sul. Mohon bantuannya,” gadis berambut pendek itu membungkukkan badannya dengan bersemangat. Sekolah baru, dengan teman-teman yang baru membuatnya bersemangat. Bersekolah di Seoul adalah impiannya.

“Sul-ssi, kau bisa duduk dengan Joon Myun,” perintah guru Seo. Sul melangkah ke arah yang di tunjuk oleh guru Seo. Matanya membulat saat mendapati Joon Myun yang tengah menatapnya.

Bruukk

Karena tidak memperhatikan jalan. Sul tersandung kakinya sendiri. Membuat teman-teman sekelas menertawakannya. Joon Myun yang berada di sampingnya, mengulurkan tangan dan membantu gadis itu untuk berdiri.

“terima kasih,” lirih Sul seraya duduk di samping Joon Myun.

‘orang ini, orang yang membantuku tadi. Dia sangat baik,’ batin Sul dengan semangat.

Ia tak menyangka, pemuda yang telah berbaik hati mengantarnya tadi, adalah teman sekelasnya, bahkan menjadi teman sebangkunya. Joon Myun memberikan senyum pada Sul yang duduk di sebelahnya.

‘benar-benar gadis ceroboh,’ batin Joon Myun.

“baiklah, karena lusa akan ada festival musim gugur. Kelas kita akan membuka coffee shop saat festival berlangsung.”

Penjelasan guru Seo mendapat banyak reaksi yang berbeda dari para murid. Tentu saja. Membuka sebuah coffee shop, berarti akan memakan banyak waktu dan tenaga. Belum lagi, masalah finansial dan lainnya. Apa bisa mereka melakukannya hanya dalam waktu dua hari?

“tapi, guru Seo, apa tema coffee shop kita?”

“bagaimana jika… alice in wonderland,” jelas guru Seo dengan bangga.

“apa memang selalu melakukan hal seperti ini?” bisik Sul pada Joon Myun.

“yah, karena ini sudah seperti acara tahunan bagi sekolah, setiap kelas melakukan pertunjukkan yang berbeda. Tahun lalu, kami melakukan drama, dan semua orang harus berpartisipasi,” jelas Joon Myun.

Sul mengagguk mendengar penjelasan Joon Myun. Sepertinya ia juga akan ikut ambil bagian agar projek coffee shop ini berhasil. Ya, ia bagian dari kelas juga kan?

***

“Sul, tolong ambilkan botol mineral.”

“baik.”

“Sul, tolong ambilkan table cloth yang di sana.”

“akan segera ku ambilkan.”

“Sul, cepat bawa cangkirnya ke belakang.”

“baik.”

“jangan lupa mengambil apron dan yang lainnya dari binatu.”

“akan segera ku kerjakan.”

Sul mondar-mandir membawa napkin, gelas dan beberapa barang yang di butuhkan untuk coffee shop yang akan di adakan lusa. Karena Sul selalu melakukan kesalahan, ia tak di perbolehkan melakukan sesuatu yang penting. Yah, pekerjaannya sekarang tak lebih dari seorang tukang antar.

“Joon Myun-ssi, aku tak mengerti tentang cara membuat caffe latte.”

“oh, kau bisa bertanya langsung pada Kyung Soo. Dia yang akan menjelaskannya padamu,” jelas Joon Myun pada murid yang bertugas membuat coffee untuk coffee shop.

Pranggg

Semua mata refleks menoleh ke arah suara. Sul, gadis itu berjongkok dan mulai membersihkan piring-piring ia jatuhkan. Sepertinya penyakit ceroboh gadis itu kambuh, hingga membuat piring yang ia bawa jatuh dan berserakan. Semua benda yang di pegang gadis itu pasti akan berakhir teragis. Sul menunduk berkali-kali, ia merasa wajahnya mulai memanas. Air matanya terasa mengenang di pelupuk matanya.

“tidak apa-apa. Kau istirahat saja,” ujar Joon Myun seraya berjongkok di hadapan Sul dan membantu gadis itu membereskan piring yang pecah.

“tidak, biar aku saja. Aku haru… aawww”

Sul berhenti membereskan pecahan piring dan menatap tangannya yang mulai mengeluarkan darah. Joon Myun membulatkan matanya menatap Sul yang terluka. Celaka. Bahkan gadis itu mulai melukai dirinya sendiri.

“tolong ambilkan P3K!” seru Joon Myun setengah berteriak.

Semua orang yang awalnya hanya melihat Sul membersihkan piring yang pecah, langsung berlari mencari perban dan plester.

“ini,” ujar guru Seo seraya menyerahkan kotak P3K pada Joon Myun.

“ayo, aku akan mengobatimu,” Joon Myun menarik tangan Sul yang tak terluka untuk membawa gadis itu pergi.

“ah, ini tidak apa-apa. Aku sudah terbiasa,” tolak Sul.

“SUDAHLAH. IKUT AKU SAJA,” bentak Joon Myun. Sul yang merasa bersalah, hanya pasrah saat Joon Myun membawanya –lebih tepatnya MENYERET gadis itu- keluar.

***

Joon Myun memplester luka di tangan Sul. Untung saja hanya jari gadis itu saja yang tergores dan tidak terlalu parah. Entah apa yang akan terjadi jika luka di tangannya cukup dalam. Joon Myun tak ingin membayangkannya. Bisa saja gadis itu tergeletak di kelas dan kehabisan darah. Entahlah.

Sedangkan Sul, gadis itu hanya menunduk menatap jarinya yang sedang di obati oleh Joon Myun. Gadis itu tak membuka suaranya. Ia bahkan tak menangis ataupun mengeluh

saat jarinya mengeluarkan banyak darah. Sul terlihat tenang-tenang saja. Gadis itu terus membisu.

“selesai,” ujar Joon Myun dengan bangga. Namja itu tersenyum puas pada jari Sul yang selesai ia perban.

“kau pasti membenciku,” lirih Sul.

“kau bicara apa?” tanya Joon Myun, “oh, kau pasti menghawatirkan acara coffee shop itu ya? Tak perlu di pikirkan, acara itu akan tetap berjalan dengan lancar.”

“tidak perlu menghiburku seperti itu. Aku tau, kau pasti sangat kesal padaku,” nada suara Sul sedikit bergetar. Gadis itu bahkan tak berani mendongakkan kepalanya untuk menatap Joon Myun. Ia marah. Marah kepada dirinya sendiri yang terus saja bersikap ceroboh. Bahkan ia memecahkan piring untuk coffee shop. Entah masalah apa yang akan ia lakukan lagi jika ia kembali ke kelas. Mungkin Sul akan membakar seluruh perabotan dan membuat sekolah rata dengan tanah.

“kenapa kau bicara seperti itu?” tanya Joon Myun heran. Kanapa gadis di hadapannya itu tiba-tiba marah. Memang apa yang ia lakukan?

“sejak awal, aku memang tak pernah bisa melakukannya dengan benar.”
Sul bangkit dari kursi dan berlalu. Meninggalkan Joon Myun yang membeku di tempatnya. Memang apa yang barusan ia katakan? Heran Joon Myun.

***

~Joon Myun Pov~

Tsk, ini sedikit aneh. Gadis bernama Sul itu. Apa yang terjadi padanya? Bukan karena kecelakaan waktu itu kan? Maksudku… hah, memang hanya karena jarinya terluka dia bisa seenaknya tak masuk sekolah dan membolos seperti ini? Belum lagi, sekarang coffee shop sudah di buka dan banyak pengunjung yang berdatangan. Tapi, Sul belum juga terlihat batang hidungnya. Apa gadis itu tak akan datang?

“Joon Myun-ssi, apa yang kau lamunkan?” ujar Yi Xing seraya menepuk pundakku pelan.

“tidak ada,” elakku.

“kau memikirkan Sul?” tebak Yi Xing.

“ke-kenapa aku harus memikirkan gadis itu?”

Lagi-lagi, aku mengelak. Yah, aku memang memikirkan gadis itu. Toh, dia juga teman sekelasku. Jika Yi Xing atau yang lainnya tidak masuk, aku pasti juga menghawatirkan mereka.

“mungkin karena kau terlalu keras padanya,” ujar Kyung Soo yang baru saja lewat sembari membawa dua cangkir caffe latte kepada pengunjung.

“a-aku, terlalu keras padanya?” ucapku tak percaya.

“hem, kau bahkan berteriak pada gadis itu. Aku sedikit kasihan padanya,” tambah Yi Xing.

Ya Tuhan. Memang apa yang sudah ku katakan pada gadis itu. Apa yang harus kulakukan sekarang? Meminta maaf pada Sul? Apa gadis itu akan memaafkanku? Aisshhhh….. benar-benar merepotkan. Tunggu dulu. Aku tak bisa melakukannya. Tidak di saat seperti ini. Coffee Shop ini bahkan baru saja berlangsung. Jika aku pergi, siapa yang akan menggantikanku mengurus cake untuk para pengunjung.

Tidak, aku tidak bisa melakukannya.

“dua cheese cake,” ujar Kyung Soo, membuyarkan lamunanku.

“baik. Tunggu sebentar,” balasku.

Ya, tak ada waktu untuk melamun. Sekarang aku harus fokus pada coffee shop ini. Joon Myun hwaiting!

***

~Author Pov~

Coffee shop yang di adakan kelas 3-2 terlihat ramai. Beberapa stand di samping mereka bahkan sepi pengunjung. Mungkin karena suasana coffee shop itu yang terlihat seperti dunia dongeng di Alice in Wonderland. Membuat orang-orang penasaran dan mencoba untuk mencicipi coffee dan cake yang mereka jual.

Joon Myun bahkan terlihat sibuk dari yang lainnya. Karena ia memiliki tugas ganda sebagai penanggung jawab bagian cake serta penanggung jawab persediaan. Hai itu membuat Joon Myun tak boleh memikirkan hal lain. Tapi pikirannya terus teringat tentang Sul.

Apa gadis itu baik-baik saja? Apa kata-katanya terlalu pedas? Bagaimana keadaan gadis itu? Apa Sul akan berangkat sekolah besok? Mungkinkah gadis itu masih akan tersenyum padanya? Bagaimana jika Sul marah padanya? Apa Sul akan membencinya?

Prangggg

Karena pikirannya yang kacau. Joon Myun malah menjatuhkan piring berisi cupcake yang ia bawa.

“maaf. Aku benar-benar minta maaf,” ujar Joon Myun. Ia berkali-kali membungkukkan tubuhnya. Persis seperti Sul, saat gadis itu memecahkan piring yang ia bawa.

“Joon Myun-ssi, tidak apa-apa,” Kyung Soo menepuk bahu Joon Myun pelan. Memberi isyarat pada Joon Myun untuk menyerahkan piring yang berserakan padanya. Awalnya Joon Myun menolak. Tapi, karena tak ingin menjadi tontonan gratis para pengunjung. Joon Myun memilih mundur dan membiarkan Kyung Soo membereskan kekacauan yang ia lakukan.

***

“ah, dingin.”

Joon Myun mengusap pipinya saat Yi Xing menempelkan sekaleng soda dingin ke wajahnya. Yi Xing hanya tersenyum, memamerkan dimple miliknya dan menghempaskan tubuh di samping Joon Myun. Angin musim gugur yang berhembus, menerbangkan beberapa daun. Menutupi jalan setapak di area taman belakang sekolah.

“minumlah,” ujar Yi Xing seraya menyerahkan soda dingin itu pada Joon Myun. Ia lalu membuka soda miliknya sendiri dan meminumnya perlahan.

“kau terlalu banyak pikiran. Istirahatlah dulu,” ujar Yi Xing.

“tapi, acara ini ba…”

“tenang saja. Lagi pula guru Seo ikut membantu kita.”

Penjelasan Yi Xing membuat Joon Myun bernafas lega. Hanya sedikit. Ia tak terlalu yakin, apa wanita berusia akhir dua puluhan itu akan banyak membantu? Bukan bermaksud meremehkan, tapi Jon Myun tidak terlalu yakin.

“bukankah kau harus menemui gadis itu?” ucap Yi Xing, memecah keheningan di antara ia dan Joon Myun.

“siapa maksudmu?” tanya Joon Myun.

“tidak perlu begitu. Tidak ada salahnya jika kau yang meminta maaf duluan. Kau terlalu keras pada dirimu sendiri. Dan kau terlalu keras pada Sul,” Yi Xing kembali meminum sodanya setelah berkata panjang lebar seperti itu.

“sejak kapan kau jadi sebijak ini?” goda Joon Myun. Ia tak bisa menahan tawanya saat Yi Xing mengatakan hal-hal yang terdengar bijak baginya.

“entahlah, sepupuku itu mulai meracuniku banyak hal,” Yi Xing menghabiskan sodanya dalam sekali teguk dan menatap Joon Myun dalam, “jadi, kau mau tetap disini, atau menemui gadis itu?”

“bagaimana dengan coffee shop ini?” Joon Myun khawatir. Tentu saja. Ia tak bisa menyerahkan coffee shop ini begitu saja pada orang sembarangan. Acara ini, semuanya karena usaha teman-teman sekelas.

Yi Xing memegang kedua pundak Joon Myun dan menatapnya dalam, “tenang saja, ada kami. Kau tak perlu khawatir.”

Joon Myun mengangguk pelan sebelum berlalu meninggalkan Yi Xing.

“HWAITING!” teriak Yi Xing saat sosok Joon Myun mulai menjauh.

“huh, drama queen sekali,” ujar sesosok gadis yang sedari tadi memperhatikan Yi Xing dan Joon Myun dari balik pohon.

“oh, apa yang kau lakukan di sana?” ujar Yi Xing terkejut.

“aku baru saja bertemu Jong Dae oppa. Sepertinya kelas gege membuka coffee shop,” sosok gadis yang muncul dari balik pohon itu menghampiri Yi Xing dan merangkulkan tangannya ke lengan Yi Xing, “kajja!”

“kemana?” tanya Yi Xing polos.

“ke kamar mayat. Tentu saja ke coffe shop yang gege buat,” ujar gadis itu setengah berteriak, “aisshhh, jinjja! Kenapa aku bisa memiliki sepupu seperti gege. Lebih baik, aku pergi menemui Kyung Soo oppa saja,” Gadis itu berlalu dengan langkah kesal meninggalkan Yi Xing di belakangnya.

“Ya, Raenie. Tunggu aku.”

***

Joon Myun melihat alamat di ponselnya. Matanya beralih pada rumah di hadapannya. Alamatnya sama. Tapi Joon Myun tak terlalu yakin. Apa benar Sul tinggal di rumah ini? Rumah di hadapan Joon Myun benar-benar sudah ketinggalan jaman. Jangan bayangkan jika rumah ini adalah sebuah apartemen. Sama sekali bukan. Rumah di hadapannya malah jauh dari kesan modern. Bentuknya sama seperti rumah-rumah yang ada di drama-drama Saeguk. Bahkan gerbang depannya saja masih menggunakan pintu kayu yang besar.

‘tsk, benar-benar gaids aneh’ batin Joon Myun.

“kau siapa?”

Reflek Joon Myun berbalik ke arah suara lirih yang bertanya padanya. Seorang nenek berdiri di hadapannya. Sepertinya nenek ini tadi yang mengeluarkan suara lirih itu. Padahal Joon Myun pikir suara itu berasal dari sesuatu yang mistis. Ternyata suara itu malah berasal dari nenek yang misterius. Eh, memang siapa nenek itu?

“apa Sul tinggal di rumah ini?” tanya Joon Myun hati-hati.

Nenek itu manatap Joon Myun dari ujung kepala sampai ujung kaki, membuat Joon Myun menelan salivanya susah payah. Seharusnya Joon Myun yang melakukan hal itu. Meyakinkan dirinya bahwa nenek di hadapannya ini bukan hantu. Tapi Joon Myun yakin, nenek itu bukan gumiho kan? Tentu saja bukan, gumiho kan berw…

“kau teman Sul?” tebakkan nenek itu, membuyarkan pikiran aneh Joon Myun.

“ne, aku teman sekelasnya,” balas Joon Myun dengan bersemangat. Mungkin pikirannya salah. Mungkin nenek ini tau di mana rumah Sul. Atau, nenek ini adalah nenek Sul.

“ayo, masuklah.”

Nenek itu membuka pintu kayu dan menyuruh Joon Myun mengikutinya masuk ke rumah. Hal pertama yang Joon Myun lihat dari rumah itu adalah halaman yang luas dengan banyak pohon bonsai menghias di sepanjang jalan setapak. Terlihat hijau dan udaranya terasa segar.

“Sul pasti ada di dapur. Kau tinggal berjalan di sepanjang koridor menuju dapur,” jelas nenek itu seraya menunjuk koridor yang menghubungkan ruang keluarga dengan beberapa ruang lainnya.

Rumah itu bernuansa tradisional. Terasa sedikit gaya Jepang saat memasukki rumah itu. Sepertinya Sul memiliki darah campuran. Pantas neneknya sedikit aneh.

Saat berjalan di koridor, hidung Joon Myun menangkap bau yang aneh. Sepertinya Sul sedang memasak sesuatu, atau gadis itu sedang membakar sesuatu. Entahlah. Baunya seperti sesuatu yang hangus. Tapi, Sul tidak akan membakar rumah ini kan?

Di dapur, Joon Myun dapat melihat sosok Sul yang membelakanginya. Sepertinya gadis itu sedang memasak sesuatu. Pandangan mata Joon Myun beralih pada papan berukuran sedang di sisi kanannya. Di papan itu, banyak foto makanan. Sepertinya foto ini terlihat familiar bagi Joon Myun. Di setiap samping foto, terdapan catatan kecil berisi penjelasan tentang foto makanan di sampingnya.

“astaga!” pekik Sul, saat berbalik dan mendapati Joon Myun di hadapannya.

“hai, senang bertemu denganmu,” ujar Joon Myun kaku.

“a-apa yang kau lakukan di sini?” tanya Sul penuh selidik, “tunggu dulu, bagaimana kau bisa masuk ke rumahku?”

“oh, itu… nenekmu yang menyuruhku masuk. Aku ke sini untuk menemuimu,” jelas Joon Myun.

Mata Sul membulat saat Joon Myun tiba-tiba membungkuk di hadapannya, “aku minta maaf,” ujar Joon Myun membuat Sul semakin bingung dengan tingkah Joon Myun yang aneh.

“memang kau salah apa?” tanya Sul polos.

Joon Myun menegakkan tubuhnya dan berkata lirih, “karena aku berteriak padamu waktu itu. aku benar-benar minta maaf,”

“oh, itu… tidak apa-apa. Aku yang salah. Dari dulu aku memang selalu ceroboh. Sepertinya keahlianku memang menghancurkan sesuatu. Aku minta maaf karena memecahkan piring waktu itu,” lirih Sul.
“tidak.. tidak.. aku yang seharusnya minta maaf karena terlalu keras padamu,” Joon Myun bersikeras membuat Sul tidak merasa bahwa ini semua salahnya. Toh, manusia memang sering membuat kesalahan kan?

“kenapa kalian malah saling meminta maaf seperti ini?” nenek Sul yang tiba-tiba muncul membuat Joon Myun terlonjak kaget. Sepertinya nenek Sul memang sedikit mistis.

“Sul, buatkan teh untuk kekasihmu ini. Dia pasti haus,” perintah nenek Sul.

“tidak nek. Dia bukan kekasihku. Kami hanya teman sekelas,” jelas Sul.

“sudahlah, nenek tau anak muda jaman sekarang tidak masalah jika sudah memiliki kekasih,” nenek Sul beralih menatap Joon Myun, “kau harus menjaga cucuku ini dengan baik. Mengerti. Tidak baik saat sepasang kekasih saling bertengkar. Kalian harus saling menjaga satu sama lain.”

Joon Myun membuka mulutnya, tapi ia tak mengatakan apapun. Joon Myun hanya mengangguk pelan saat nenek Sul memberinya nasehat. Padahal mereka bukan sepasang kekasih. Tapi Joon Myun juga tidak terlalu berpikir serius tentang ucapan nenek Sul.

“nenek, ini tidak seperti yang nenek pikirkan,” pekik Sul. Tapi nenek Sul malah berlalu meninggalkan Joon Myun dan Sul di dapur.

“jadi, apa ini?” tanya Joon Myun seraya menunjuk papan dengan banyak tempelan foto tadi.

“oh, itu…” Sul mengaruk tengkuknya yang tak gatal, “sebenarnya saat mempersiapkan coffee shop aku selalu memfoto makanan yang sudah di buat Kyung Soo. Aku juga menambahkan resep dan beberapa catatan di samping foto yang ku ambil. Ini hanya sekadar iseng, tapi lama kelamaan aku mulai menyukainya,” jelas Sul dengan kepala menunduk.

“kau, banyak belajar?” Joon Myun memperhatikan foto-foto di papan itu. Cheese cake, fruit pie, red velvet, dan layer crepes. Semua itu makanan yang Kyung Soo buat untuk coffee shop hari ini. Joon Myun tak menyangka Sul akan melakukan hal seperti ini.

“maaf aku memarahimu waktu itu,” Sul mengerutkan keningnya. Bukankah mereka sudah saling memaafkan tadi? “aku bukannya marah. Aku… aku hanya khawatir padamu,” lirih Joon Myun.

***

“wah, akhirnya kalian datang juga,” Kyung Soo menyambut Sul dan Joon Myun yang datang bersama, “karena kalian sudah datang, aku akan memberikan layanan spesial,” tambah Kyung Soo.

“tapi, coffee shopnya?” tanya Joon Myun bingung. Ia kembali ke sekolah kan untuk membantu yang lainnya menyelesaikan coffee shop. Tapi Kyung Soo malah menyeret Sul dan Joon Myun ke salah satu meja yang kosong.

“tenang, serahkan saja padaku,” Kyung Soo memberikan daftar menu pada Sul dan Joon Myun yang duduk saling berhadapan, “jadi, sudah siap untuk memesan?”

“hei, apa maksudmu?” ujar Joon Myun. Ia bingung kenapa Kyung Soo tiba-tiba menyuruhnya duduk. Padahal Joon Myun harus segera membantu yang lain, ini bukan saat yang tepat untuk bersantai.

“aku ingin chesse cake,” ucapan Sul membuat Joon Myun mengangga tak percaya. Bagaimana bisa gadis di hadapannya itu melakukan hal seperti ini?

“Joon Myun, kau ingin apa?” Kyung Soo beralih pada Joon Myun yang masih menatap Sul tak percaya.

“bagaimana jika layer crepes? Aku juga ingin mencobanya,” usul Sul seraya menatap Joon Myun penuh harap.

“hei, tunggu dulu ap….”

“baiklah, tolong tunggu beberapa menit lagi,” potong Kyung Soo. Joon Myun hanya menatap Kyung Soo yang mulai menjauh dengan kesal. Apa-apaan mereka? Kenapa Kyung Soo malah menyuruhnya duduk? Belum lagi, kenapa juga Sul malah memesan cake? Joon Myun membawa gadis itu karena ia tahu perjuangan seluruh kelas. Tapi, kenapa malah terlihat seperti permainan?

“kenapa melihatku seperti itu?” ujar Sul saat mendapati Joon Myun yang menatapnya tajam.

“kenapa kau malah memesan cake? Kita kan akan membantu yang lainnya,” ujar Joon Myun.

“yah, mau bagaimana lagi? Kyung Soo bilang tidak apa-apa kan? Lagipula, aku ingin tahu bagaimana rasa cheese cake yang Kyung Soo buat. Tidak apa-apa kan?” tambah Sul cepat-cepat. Ia jadi merasa bersalah. Jangan-jangan Joon Myun akan marah seperti waktu itu padanya lagi.

Joon Myun menghela nafas panjang. Yah, sepertinya ia harus sedikit egois untuk kali ini. mungkin karena Joon Myun keras kepala, ia jadi berusaha terlalu keras. Bahkan sampai mengelak pada perasaannya sendiri.

“jadi, saat aku ke rumahmu tadi, kau sedang membuat apa?” tanya Joon Myun.

“oh, itu…” Sul menggaruk tengkuknya yang tak gatal, “aku membuat cheese cake, tapi sepertinya cheese cake yang aku buat gosong,” jelas Sul. Gadis itu menunduk saat menceritakan cheese cake yang gagal ia buat.

“aku rasa, kau harus banyak belajar lagi. Memang sulit membuat cheese cake, kau harus lebih semangat. Hwaiting,” ujar Joon Myun seraya mengepalkan kedua tangannya.

“ini pesanan kalian. Selamat menikmati,” ujar Kyung Soo seraya meletakkan cheese cake, layer crepes dan dua cappucino di meja Joon Myun dan Sul.

“selamat makan,” Sul menyendok cheese cake di hadapannya dan memakannya dengan lahap, “wah, ini enak. Kau harus mencobanya.”

Sul menyendok cheese cakenya dan menyuruh Joon Myun membuka mulut. Joon Myun membelalakkan matanya mendapat perlakuan seperti itu dari Sul. Dari sudut mata Joon Myun, ia bisa melihat Kyung Soo, Yi Xing dan yang lainnya sedang menatap mereka. Karena Joon Myun tak ingin menjadi pusat perhatian terlalu lama, ia membuka mulutnya dan membiarkan Sul menyuapinya.

“ini, enak,” tanpa Joon Myun sadari, kedua sudut bibirnya tertarik membentuk sebuah senyuman. Sul kembali menyendok cheese cake dan memakannya.

“mereka membuatku iri,” Yi Xing menatap sepupunya dengan kening berkerut.

“apa maksudmu?” ujar Yi Xing.

“sudah, lupakan saja. Aku rasa gege tak akan paham maksudku,” gadis berlesung pipi itu kembali menatap Sul dan Joon Myun dari jauh, “gege tau, cinta hanya bisa di rasakan oleh orang yang pernah mengalaminya.”

“lalu?” tanya Yi Xing polos.

“itulah maksudku tadi. Gege pasti tak paham maksudku, lupakan saja.” Yi Xing terdiam di tempatnya, ketika sepupunya itu berlalu menghampiri Kyung Soo di belakang counter. Saat mata Yi Xing memandang Sul dan Joon Myun lagi, sebuah senyuman menghias wajahnya, menampakkan lesung pipi Yi Xing.

“mereka serasi,” lirih Yi Xing.

Waktu akan terasa sangat panjang untuk orang yang menunggu

Terasa sangat pendek untuk orang yang ketakutan

Terasa lama bagi orang yang berduka

Terasa cepat untuk orang yang sedang berbahagia

Dan akan sangat berharga bagi orang yang sedang jatuh cinta

Time is Unforgetable…

FIN

Huwaaa….. ending gantung plus gaje ya? Huft, abis bikin Joon Myun itu agak susah dikit. Sebenernya agak maksa juga kalo Joon Myun yang kekanakan itu jadi agak romantis. Tapi, nggak tau kenapa malah suka sama jalan cerita yang ini. Mian kalo kalian nggak dapet feel di epep ini #bow

Oke deh, puja, puji, celaan, plus cacian saya terima… kritikan itu lebih membangun dari sebuah pujian. Tapi, saya juga nggak ngelarang kalo ada yang muji epep ini, hehehe… Gomawo udah mau baca #bowlagi ^^

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s