[EXOFFI FACEBOOK] Just One Day – Oneshoot

26

Title : Just One Day

Author : ningrumkristia

Cast : Luhan, Go Jaehee, and other.

Genre : fluff

Leght : Oneshoot

PG-16

Disclaimer : Halo selamat membaca. Kalo gajelas atau gimana gitu aku minta maaf. Bikin ff ini niatnya cuma untuk persembahan bulan Desember dan itu cuma iseng doang. Ya aku putusin untuk share ff ini. Selamat membaca, suka gasuka, itu sih terserah haha.

————————

 

Desember.

 

Langit yang membentang pada bulan ini terdominasi dengan kelabu. Mendung, cuaca tidak menentu, udara dingin dan basah ketika menyentuh permukaan kulit, dan terjangan angin dimana-mana. Desember datang dengan awalan yang buruk—untukku—yang tentu saja hal itu membuat setiap pergerakkan langsung terbawa malas.

 

Ketika orang lain riang menyapa Desember, aku hanya berdiam tanpa ingin menyambut dengan cara apapun. Karena tentu saja, Desember membawa awal buruk untukku.

 

Pertama. Aku terbangun di waktu malam setengah pagi, tak ada yang istimewa tentunya. Ketika aku membuka mata, yang kulihat hanya kehampaan, kekosongan, dan rasa kehilangan. Kedua orang tuaku pergi ke Jepang untuk urusan bisnis. Itu sudah buruk untukku. Termenung sampai matahari terbit dari persembunyiannya dan tentu saja, aku masih diam terduduk di tempat tidur yang terasa dingin.

 

Kedua. Matahari memang terbit, menemani setiap langkahku yang enggan sampai menuju tempat dimana aku menuntut ilmu, di pertengahan jalan, mentari seperti telah muak untuk menemani, ia menutup diri dengan bersembunyi takut di balik awan hitam kelabu dan udara dingin menggigit tubuhku yang dengan tololnya tidak mengenakan jaket. Karena tentu saja, awalnya matahari terbit dan tidak menandakan akan adanya hujan turun. Jadi, ya, kalian bisa perkirakan bagaimana kejadiannya.  Hujan turun membasahi seluruh jalan dan tentu saja membasahi tubuhku juga yang hanya terbalut seragam sekolah. Basah, semuanya basah tanpa ada payung yang melindungi. Benar-benar sial.

 

Ketiga. Seseorang yang sangat tidak ingin aku lihat di dunia menampakkan diri—apa ia cari mati—dengan seragam yang sama denganku. Membuka payung birunya lalu memayungiku yang mana hal itu sangat percuma karena aku telah terlanjur basah. Jadi, dari pada apa yang ia lakukan padaku hanya sia-sia, tepisan kasar dari tanganku dan desisan kotor dalam hati yang hanya aku yang mengerti membuat payung orang itu terjatuh dari genggaman tangannya.

 

Keempat. Aku memilih untuk membolos dan mencari tempat untuk berteduh sampai hujan benar-benar akan berhenti. Tololnya, orang itu mengikuti apa yang aku lakukan. Dia ingin terjerumus ke dalam jurang bersamaku sepertinya. Rasa muak, rasa kesal, dan rasa benci melebur menjadi satu gumpalan yang membuat dadaku naik turun melihat apa yang ia lakukan padaku, dia memberikan jaketnya. Aku sudah terlanjur sangat membencinya meski bagaimanapun ia akan memperbaiki. Bertemu dengan orang itu sama saja dengan memberikan luka baru. Maka hari ini, awal Desember ini, bertemu dengannya lagi sangat memperburuk suasana.

 

Dan yang terakhir. Hari ini ada ujian akhir semester yang aku lewatkan karena hujan turun, bertemu dengan orang yang sangat tidak ingin kulihat, dan aku sudah bolos satu ujian mata pelajaran. Jadi, karena aku merasa marah maka aku benar-benar akan melewatkan ujian hari ini. Tapi orang itu mengikuti apa yang aku lakukan, dia benar-benar membuatku marah.

 

——————————-

 

Miracles in December. Aku percaya jika lagu ini membawa keajaiban jika aku menyanyikannya sebanyak tiga kali secara berulang. Orang bilang, lagu ini penghantar tidur yang baik. Tentu saja, alunan melodi yang di hasilkan dari piano membuat siapa saja yang mendengarnya langsung rileks.

 

Tahun lalu, aku sangat menyukai bulan Desember. Tapi tahun ini, aku benar-benar muak.

 

Lagu itu masih mengalun, otomatis pergerakkan bibirku mengikuti liriknya. Satu minggu, setiap pagi aku akan mendengar kembali lagu Miracles in December dan berharap benar-benar ada keajaiban yang baik setiap hari. Aku melakukannya selama satu minggu ketika ujian.

 

Dua minggu setelahnya, aku melihat papan pengumuman hasil belajar selama satu semester telah keluar. Terkejut karena aku bahkan tidak pernah memikirkan sama sekali tentang hal itu yang justru benar-benar nyata. Siapa yang menyangka jika ternyata aku mendapat peringkat tiga yang sangat tidak terpikir olehku sebelumnya, lalu ketika teman-teman memberikan selamat, barulah aku menyadari jika semua ini nyata.

 

———————————–

 

Sungguh. Bulan ini aku tidak memikirkan apa-apa dan tidak mengharapkan apapun. Biar kuberitahu sedikit, saat aku masih di sekolah menengah pertama, ada seorang lelaki yang aku suka. Namanya—tidak ini privasi—sebut saja R. Dia tampan, tinggi, kalian tahu jika pemain basket itu keren bukan? Yah, dia anggota basket. Tapi aku hanya mengaguminya. Itu saja, tidak lebih.

 

Berakhir sekolah menengah pertama, berakhir juga rasa suka dan rasa kagumku untuknya. Karena aku telah memiliki niat untuk menghapus dia dari memori.

 

Dua tahun kemudian. Di tahun ini tentunya, aku sama sekali tidak sengaja bisa bertemu dengannya lagi. Dia masih sama seperti tahun lalu, masih tampan dan juga menawan. Terkadang pertanyaan yang tak seharusnya aku pikirkan datang, dalam hati aku bertanya; Apa ia masih mengingatku? Apa ia hidup dengan baik? Apa ia telah memiliki kekasih? Atau pernahkah ia merindukanku?

 

Seharusnya, sejujurnya, dan sebaiknya aku hentikan saja omong kosong ini.

 

“Hai.” Dia menyapaku. Itu nyata. Senyumnya sangat hangat hingga mampu membuat cuaca dingin ini tersingkir. Sejujurnya, aku tidak mengharapkan lebih. Aku benar-benar tidak berharap sama sekali jika ia akan menyapaku seperti ini, tapi rasa yang seharusnya tak aku rasakan hadir begitu saja. Aku merasa senang.

 

Lalu setelahnya ia menanyakan kabar, dan pergi setelah melempar senyum. Dia benar-benar masih tampan. Tapi aku telah berjanji. Aku telah menghapus dia dari memori. Jadi, aku tidak muluk-muluk untuk mengharapkan lebih. Pertemuan singkat itu hanya akan menjadi kenangan yang berbekas.

 

—————————————

 

Orang itu. Orang yang sangat aku benci ketika aku hidup kembali datang dengan membawa sebuah surat yang berbeda warna tapi aku tahu jika isinya sama.

 

“Apalagi kali ini, Luhan?” aku bertanya dengan ketus, tanpa mengalihkan sedikitpun mata dari komik yang tengah aku baca. Menatapnya hanya buang-buang waktu. Hanya semakin menambah kebencian yang aku rasakan.

 

“Ini permintaan maafku. Sungguh, berbeda dari yang lalu.” Ia berkata. Menyerahkan surat berwarna hijau daun dengan tinta hitam kebiruan lalu membenarkan letak kaca mata tebalnya.

 

Memejamkan mata, aku menutup cepat komik dan mendengus kasar. Menaruh—lebih tepatnya membanting—komik ke atas meja hingga menimbulkan bunyi berisik. “Aku tidak perlu membacanya, karena itu hanya membuang waktu ku. Menjijikkan!”

 

Orang itu menunduk dalam. Masih menunduk ketika aku telah berdiri dan berjalan dengan sedikit menabrakkan bahu.

 

“Go Jaehee! Maaf.” orang itu berucap—lebih terdengar seperti berteriak—dengan tubuh gemetar. Langkahku terhenti begitu saja dan memandang kosong tanpa menolehkan kepala.

 

Tidak memedulikan atau lebih tepatnya tidak ingin peduli, dan tidak ingin lagi berurusan dengan orang seperti itu, aku kembali melanjutkan langkah dengan pandangan kosong.

 

 

Kalian tahu Luhan? Pria dengan kaca mata tebalnya. Kancing kemeja seragam yang terkait penuh, rambut klimis di belah dua, dan buku-buku yang menjadi kawannya. Laki-laki yang membosankan dan penuh dengan cacian dari murid-murid lain.

 

Kalian tahu mengapa Jaehee sangat membenci pria itu? Siapa yang sangka jika ternyata lelaki culun dengan tempat minumnya itu telah menyandang status sebagai tunangan dari Go Jaehee. Betapa menyebalkan hidup.

 

Alasan mengapa ia membenci Desember karena Luhan.

 

————————————–

 

“Aku akan belajar untuk bermain basket.” Ucap Luhan tiba-tiba hingga mampu membuat Jaehee ingin menyemburkan minumnya kalau saja ia tidak ingat wajah Baekhyun yang sudah menatap tajam kearahnya.

 

Byun Baekhyun. Teman Jaehee yang idiot. Bagaimana bisa seorang lelaki memiliki koleksi eyeliner di rumahnya. Hanya Baekhyun. Pria sinting dengan jari-jarinya yang lentik.

 

“Kau bilang apa?” Jaehee berteriak. Tidak sepenuhnya. Ia menggeram, meredam suara marahnya yang tersangkut di tenggorokan.

 

Hari ini, ia ada kerja kelompok dengan Baekhyun. Sebenarnya hanya berdua. Tapi, tidak tahu siapa yang mengundang pria culun itu untuk datang, Luhan benar-benar memiliki nyali yang besar. Dan sebenarnya sangat tidak penting sekali jika Luhan datang ke rumah Jaehee hanya untuk mengatakan hal konyol seperti itu.

 

“Aku ingin bermain basket.” Ulang Luhan sekali lagi, memperjelas dengan penekanan di setiap ucapannya. Jaehee mengangkat satu alisnya dan menatap—meneliti—tubuh Luhan dari atas sampai bawah yang sangat tidak memungkinkan.

 

Baekhyun telah menahan tawanya dengan menutup mulut, tangan satu lagi memegang perutnya agar tidak meledak. Jaehee menatap remeh. “Kau…? Ingin bermain basket? Hey ayolah Luhan. Jangan bercanda.”

 

Luhan menggeram tertahan dari balik air mukanya yang datar. “Sama sekali bukan candaan. Aku serius.”

 

Lalu Baekhyun dan Jaehee dengan kompak bersorak “Whoaaa…” sambil bertepuk tangan disambung gelak tawa keduanya. Luhan hanya menatap kedua orang itu dengan diam. Ia sudah tahu jika akan seperti ini, ia telah menduganya, tapi ia akan membuktikan kepada Jaehee bahwa ia bisa bermain basket.

 

Baekhyun berteriak dengan keras, “Daebak!!”

 

Tidak di persilahkan duduk, tidak ditawari minum, tidak dianggap dan justru ia malah di ejek membuat Luhan tetap kuat. Ini bukan masalah. Bukan pertama kalinya ia di perlakukan seperti ini, karena ia sering diperlakukan seperti itu maka ia sudah terbiasa.

 

“Hey lelaki eyeliner. Lebih baik kau diam.” Luhan kembali bersuara. Yang dimaksud menatap Jaehee lewat ekor matanya dan kemudian tertawa lagi.

 

Baaekhyun berdehem pelan, “Apa urusanmu?”

 

“Aku tidak mengerti mengapa kau tertawa begitu heboh. Apa yang patut untuk ditertawakan. Pria gila.” Kalimat terakhir Luhan ucap dengan sangat pelan. Dan ia yakin tidak ada yang mendengar karena tentu saja, Luhan hanya membuka mulut tanpa ada suara yang keluar.

 

Baekhyun membalas dengan membenarkan letak rambutnya. “Tentu saja. Itu sangat lucu, konyol, dan menggelikan. Lelaki culun ingin bermain basket? Sudahlah, kau bersembunyi saja di balik perpustakaan dengan bertumpuk-tumpuk buku. Itu lebih baik dan lebih cocok dengan image-mu. Hahaha.”

 

“Kau boleh tertawa untuk saat ini. Tapi nanti, kau lihat. Aku akan membuatmu bungkam!”

 

Baekhyun kembali bersorak, “Whoaaaa…” menutup wajahnya kemudian berucap dengan tangan membuka dari wajah “Kkaebsong!”

 

Luhan hampir ingin memukul kepala Baekhyun dengan tongkat baseball yang entah sejak kapan telah berada di tangannya ketika tangan Jaehee mencegah. “Ya, ya, ya. Kau main basket sana! Sudah sana pergi. Latihan dengan baik, okay.” Jaehee menyeringai, merehmehkan lebih tepatnya.

 

“Dan kau Go Jaehee,” Luhan berkata, menatap Jaehee yang menyeringai licik. “Aku akan membuktikan padamu. Jika aku bisa mengalahkan Sehun, kau harus memaafkanku dan tidak boleh mengacuhkanku lagi.”

 

Setelah Luhan berucap, ia menyerahkan tongkat baseball  lalu berbalik untuk pergi meninggalkan dua orang itu. Ketika Luhan telah berada di ambang pintu Jaehee berteriak. “Whatever!” dan ketika Luhan benar-benar hilang tertelan bumi—dari pandangannya—Jaehee mendesis. “Pantat Baekhyun!”

 

Baekhyun yang mendengar bahwa butt nya di sebut-sebut menatap Jaehee tajam.

 

Jaehee menatap sinis wajah Baekhyun lewat ekor matanya. “Apalagi?” Jaehee menatang. Baekhyun menggeleng.

 

“Oi Baekhyun. Memangnya kau punya berapa koleksi eyeliner?” Jaehee bertanya, ia mengacuhkan tugas kelompoknya karena saat ini mood nya tidak baik setelah kedatangan tamu tak di undang.

 

“Sekitar seratus satu… mungkin. Aku tidak kembali mengeceknya sejak dua hari yang lalu.” Ucap Baekhyun santai sambil menyelipkan rambut ke belakang telinga. Ugh, benar-benar menjijikkan.

 

Jaehee mengaga, ia ingin segera menjatuhkan rahangnya saat itu juga. “Aish. Dia benar-benar gila!”

 

Baekhyun menoleh dengan sangat dramatis, memegang erat bolpoin sambil menipiskan bibirnya, benar-benar menjijikkan. “Kenapa kau tidak menjadi pacarku saja dari pada harus berpacaran dengan Luhan culun itu?”

 

Setelah Baekhyun mengucapkan kalimat itu, ia mendapat dua jitakan keras sekaligus di pucuk kepala nya yang mana hal itu cukup membuat Baekhyun meronta berlebihan. “Kau pikir itu kemauanku? Dan satu lagi, tidak ada dari kalian yang benar-benar waras.”

 

“Aish, orang ini!”

 

————————————

 

Seusai bel berdering sejak lima menit yang lalu, Luhan masih terduduk di tempatnya, menatap dengan pandangan kosong papan tulis berwarna hijau di depan sana, setelah mendengus ia menjatuhkan kepalanya pada meja dengan lengan sebagai bantal. Ketika ia memalingkan wajah, sesetes air matapun terjatuh.

 

“Ibu… aku merindukanmu.” Setelah Luhan mengucapkan kata itu, ia memejamkan matanya, tidak peduli bagaimana perutnya meronta meminta asupan rutin.

 

 

Saat ini, kelas benar-benar kosong setelah bel kembali berdering dengan panjang. Murid yang lain dengan terburu-buru berhamburan keluar dan menarik napas lega ketika ruangan kelas membuat mereka sesak dan tidak betah. Luhan masih di tempatnya, hanya seorang diri. Ditemani kipas angin yang berputar dan lampu yang menyala. Ia membereskan buku-bukunya untuk di masukkan ke dalam tas.

 

Ia ingat sesuatu. Ia harus latihan untuk bermain basket. Untuk mendapatkan balasan atas permintaan maafnya. Jaehee sangat menyukai bagaimana seorang lelaki bermain basket dan menjatuhkan keringatnya. Karena hal itu menyegarkan—katanya.

 

Dapat ia rasakan hembusan angin masuk lewat jendela kelas yang tebuka hingga membuat rambutnya bergoyang. Udara pada bulan Desember semakin dingin. Setelah memasuki hari pertama Desember turun hujan, lalu sekarang salju mulai berjatuhan dari langit sana. Hal itu membuat Luhan murung, di cuaca dingin seperti ini bagaimana ia harus latihan.

 

Lapangan indoor pun masih cukup dingin, ia tetap memutuskan untuk berlatih, jadiLuhan bermain dengan jaketnya. Bola yang berada di tangannya ia tatap sebentar lalu beralih dengan menatap ring tinggi yang berada di sana.

 

Sekali dua kali bola di pantulkan, ketika ia akan mendribble bola tersebut, bola lepas berlari entah kemana. Luhan terkejut sesaat, lalu ia mengejar bolanya.

 

Lima belas menit sudah ia berlatih, tapi tak ada satu point pun yang berhasil ia cetak. Luhan melepas kaca mata yang ia gunakan, menghapus keringat yang berjatuhan di pelipis dengan punggung tangannya dan menjatuhkan tubuhnya pada lapangan kosong yang dingin. Bermain basket tidak semudah yang ia perkirakan. Semua itu butuh latihan yang panjang. Dan bagaimana ia mengatasi itu.

 

 

“Yak Go Jaehee!” panggil Baekhyun cepat. Orang yang dipanggil menoleh. “Kenapa?”

 

“Mau bertaruh denganku?” tawar Baekhyun, lawan bicaranya hanya menatap Baekhyun dengan tampang kelewat datar. “Tidak.”

 

“Hei, hei, tunggu dulu.”

 

Jaehee memutar bola matanya malas. “Jika Luhan dapat bermain basket dan mengalahkan Sehun, kau harus jadi pacarku. Kalau Luhan kalah, maka kau juga harus jadi pacarku.”

 

Jaehee mendelik, ia ingin menyayat tubuh Baekhyun dengan apa saja.  Bagaimana bisa dan apa ada taruhan seperti itu. Oh, ya itu hanya Baekhyun. Byun Baekhyun dengan segala keidiotannya.

 

“Tidak mau. Kau pacari Taeyeon saja sana, jangan ganggu aku.” Jaehee meronta untuk melepaskan tangannya dari genggaman Baekhyun. Pria idiot itu benar-benar.

 

“Aku tidak suka Taeyeon lagi. Ayolah Go Jaehee, kita kencan.” Baekhyun merengek, menggoyang-goyangkan lengan Jaehee seperti anak kecil yang minta di belikan balon, tidak, Baekhyun merengek seperti meminta eyeliner baru dari Ibunya, menjijikkan.

 

“Kau dicampakkan, ya? Waktu itu kau bilang kau sangat menyukai Kim Taeyeon dari kelas 12, bukan?”

 

“Tidak. Tidak lagi, ayolah kita kencan Go Jaehee.”

 

“Byun Baekhyun. Aku kira kau suka Chanyeol.” Kata Jaehee dan Baekhyun langsung menghentikan rengekannya. Dia langsung diam.

 

“Kau pikir aku gay?” balas Baekhyun sewot. Jaehee mengangkat bahunya tidak peduli.

 

Ia tidak menganggap semua ucapan Baekhyun serius. Pria dengan jari-jari lentik itu selalu main-main dan menganggap semuanya adalah candaan. Jadi Jaehee sebenarnya tidak peduli bagaimana Baekhyun berkata untuk menjadi pacarnya. Orang itu tidak pernah serius dalam hidup.

 

“Baekhyun, kau mau makan ramen?” tawar Jaehee setelah ia membalikkan tubuhnya, mata Baekhyun langsung berbinar setelah sebelumnya ia terlihat murung.

 

Dengan semangat Baekhyun berucap, “Berarti kita jadi kencan hari ini, ‘kan?”

 

Sialan.

 

————————————–

 

Minggu.

 

Jaehee terbangun ketika mentari belum siap menerangi. Ia mengambil ponselnya dan ia tidak mendapat pesan singkat apapun selama beberapa hari ini. Biasanya, Luhan akan mengirimi pesan singkat dengan berucap seperti; Selamat tidur, selamat pagi, semangat^^. Atau apapun itu yang berkaitan dengan segala aktivitas yang akan ia lakukan. Tapi hari ini tidak ada, hari kemarin, kemarinnya lagi, dan lagi.

 

Alasan mengapa ia bangun sepagi ini disaat orang lain masih bernaung dengan mimpi-mimpinya, Jaehee justru terbangun dengan alasan karena tidak bisa tidur. Ia memikirkan sesuatu seperti sebuah soal yang tidak memiliki jawaban.

 

“Benarkah ia akan bermain basket?” lirihnya, menerawang ke atas dimana lampu padam dan suara cicak yang bersembunyi di balik celah triplek.

 

Sebenarnya tidak masalah sama sekali jika orang itu akan bermain basket atau tidak karena Jaehee pasti akan tetap membencinya bagaimapun orang itu berusaha memperbaiki. Sebenarnya juga, ia tidak peduli orang itu ingin melakukan apa saja, tapi Jaehee mengkhawatirkan sesuatu yang entah itu apa dan ia juga tidak tahu mengapa.

 

Jadi ia hanya terdiam.

 

Hari minggu adalah hari dimana orang bermalas-malasan untuk melepas penat setelah enam hari disibukkan dengan tugas, justru Jaehee terbangun ketika matahari belum muncul. Ia mengambil jaket tebalnya dan keluar kamar. Ingin mencari udara segar—katanya.

 

Setelah ia membuka pintu utama, udara pagi yang dingin langsung menyerangnya, ia memejamkan mata.

 

“Haash dingin sekali.” Rutuknya pagi itu, lalu menyembunyikan telapak tangannya ke dalam saku jaket. Pertama, ia ragu untuk melangkah keluar atau tidak, tapi setelah ia melihat sesuatu dari dalam pikirannya—seperti sebuah pencerahaan—akhirnya ia melangkah keluar.

 

Kepulan asap keluar dari hembusan napas halus, membesut dari gigi-giginya dan keluar dari mulut. Salju telah turun, tapi tidak terlalu lebat. Ia mendudukkan tubuhnya pada bangku besi taman yang tak jauh dari rumahnya sambil menatap sekitar yang sepi dan hening. Tidak ada yang istimewa sama sekali.

 

Jaehee masih diam, mengintari seluruh taman yang masih gelap. Lampu taman yang berwarna kuning menyinari, sangat indah sebenarnya. Tapi ia tidak tertarik dengan keindahan itu. Yang ia inginkan hanya menghirup udara dengan tenang. Hal itu berlangsung selama dua puluh menit.

 

Rasa kantuk pada jam setengah empat pagi mulai menyerang tubuhnya yang tak sanggup lagi untuk terus terjaga, ia ingin kembali ke rumah tapi ia terlalu malas untuk bangkit dari duduknya. Jadilah ia mensleting jaketnya sampai batas dagu dan melipat kedua tangannya di dada dan mulai memejamkan matanya yang terasa lelah. Angin musim dingin membuat tubuhnya rileks. Ia tertidur di bangku taman yang dingin, seorang diri.

 

 

Jaehee terbangun pukul enam pagi dimana langit yang gelap telah berubah menjadi abu-abu. Ketika ia membuka mata, ia menyadari bahwa ia masih berada di taman. Ia merasakan kakinya mati rasa karena dingin. Dan ia juga merasakan ada seseorang di sampingnya.

 

Jaehee mengangkat kepalanya dari bahu orang itu dan langsung terkejut begitu saja karena ada seorang pria yang terasa asing di ingatannya tetapi terasa begitu familiar dengan senyumnya. Orang asing itu tersenyum, menunjukkan gigi-giginya dan uap keluar dari hembusan napasnya. “Hai. Sudah bangun?” orang asing itu bertanya, wajahnya memang asing, tapi Jaehee sangat mengenal suara itu.

 

“Kau siapa?” pertanyaan itu langsung keluar dengan otomatis. Seolah tanpa disetting pun pertanyaan itu pasti keluar. Jaehee menggeser tubuhnya secara otomatis begitu ia merasa takut. Orang asing itu tertawa lalu berdehem. Mengambil sesuatu dari balik saku jaket tebal yang di kenakan dan memasangnya di antara hidung. “Aku Luhan.”

 

Mata Jaehee langsung terbelalak dan ia mengucek kembali matanya kali saja ia salah lihat. Atau mungkin ia tengah bermimpi. Kalian tahu, orang asing itu mengaku dirinya Luhan, tunangan dari Go Jaehee yang berpenampilan culun. Tapi orang itu benar-benar berbeda dengan Luhan-nya.

 

“Kau bercanda?”

 

Orang asing itu kembali tertawa, tawa yang terdengar menyeramkan di telinga. Ada beberapa orang—tidak banyak—bahkan dapat terhitung dengan jari-jarinya yang sedang jogging, dan Jaehee berniat berteriak jika saja orang asing itu akan melakukan sesuatu padanya. “Kau tidak percaya?” balas orang itu.

 

Sebelumnya, orang itu memang terlihat asing. Tapi setelah orang itu memakai kacamata yang sangat Jaehee kenal—ia ingin sekali menyangkalnya—barulah ia sadar bahwa orang asing itu benar-benar Luhan.

 

“Kau sangat berbeda.” Ucap Jaehee tiba-tiba, terucap pelan namun dapat terdengar jelas.

 

Ia memiliki alasan untuk mengatakan bahwa Luhan berbeda. Karena tentu saja, orang itu mengangkat rambut hitamnya ke atas dan pagi ini tidak menggunakan kacamata yang sering di gunakan saat sekolah. Luhan-nya adalah pria culun yang membelah dua rambutnya dengan klimis dan kacamata tebal selalu mengikuti setiap wajahnya. Tapi Luhan yang ini sangat berbanding terbalik dengan Luhan yang ia kenal. Tunggu, sejak kapan ia menyebut Luhan dengan Luhan-nya?

 

“Memang.” Orang itu berkata, melepas lagi kacamatanya dan meyembunyikan tangannya ke dalam jaket.

 

“Sejak kapan kau disitu?” Jaehee menunjuk dengan dagunya, maksud nya adalah sejak kapan berada di sampingnya.

 

“Sejak… aku melihatmu tertidur.”

 

Ia terkejut sebentar. “Kau mengikutiku?”

 

“Tidak.”

 

Jaehee semakin menggeser tubuhnya menjauh, ketika Luhan semakin mendekatkan tubuhnya. “La-lalu?”

 

Setelah membersihkan salju yang berjatuhan dari rambut Jaehee, Luhan menjauhkan tubuhnya dengan hembusan napas ketika itu juga uap-uap berhamburan keluar. “Aku tidak tahu.” balas Luhan santai dan jawaban itu membuat Jaehee mendengus.

 

Lalu setelahnya hening.

 

“Luhan…?” panggil Jaehee dengan suara kelewat pelan, tentu saja pria itu tidak mendengarnya karena mungkin saja ia memanggil dari dalam hatinya. Ia mendekatkan tubunya, dan saat ia sedang mendekatkan tubuhnya, ketika itu juga Luhan menoleh. Dan kini, wajah mereka sangat berdekatan.

 

“Jauhkan wajahmu.” Ucap Jaehee dingin. Sedingin cuaca pagi ini yang menggigit pipi Jaehee hingga membuat warna merah disana.

 

Setelah Luhan menjauhkan wajahnya, Jaehee membuka resleting jaket sampai leher. Menyelipkan rambutnya yang berjatuhan ke belakang telinga lalu berdehem. “Kau… yakin ingin bermain basket?” tanya Jaehee setelah keduanya terdiam cukup lama.

 

“Tentu saja, kau belum memaafkanku.”

 

Sudah berkali-kali sebenarnya—itupun tak terhitung—Luhan mengucapkan kata maaf dengan segala apapun yang ia lakukan salah dimata Jaehee, dan Luhan belum mendapat balasan apapun dari permintaan maafnya. Ia hanya ingin mendengar Jaehee berkata; Ya, aku memaafkanmu. Lalu setelah itu Luhan berjanji tidak akan mengganggu Jaehee lagi.

 

Awal bulan Desember dimana ia ingin menjemput Jaehee untuk berangkat bersama, sebenarnya ia telah berada di belakang Jaehee saat itu. Karena hujan turun tiba-tiba, Luhan panik lalu berlari sehingga menjadi berhadapan dengan Jaehee dan memberikan payungnya tapi segera di tepis. Ketika ia akan memberikan jaketnya karena melihat gadis itu telah menggigil, Jaehee justru marah. Dan ketika ia meminta maaf, tak ada balasan apapun. Semua yang ia lakukan serba salah, tentunya di mata Jaehee.

 

“Luhan.” Panggil Jaehee, kini Luhan menoleh dan terdiam. Ia baru mendengar orang itu bersuara untuk memanggil namanya, dan Luhan rasa ia menyukai bagaimana Jaehee menyebut namanya.

 

“Ini kali pertama kau memanggil namaku.” Luhan tersenyum.

 

Entah mengapa Jaehee merasa damai dengan senyum yang Luhan lontarkan. Benar-benar damai sampai ia ingin untuk merasakan kedamaian itu berlanjut lebih lama. “Kau tidak perlu bermain basket.” Kata Jaehee tiba-tiba. Tentu saja ucapan itu membuat Luhan bingung dengan alisnya yang bertaut.

 

Lalu hening. Luhan menatap wajah Jaehee yang memerah karena menahan dingin, dan gadis itu menatap Luhan dengan tatapan yang sulit diartikan oleh kata-kata. Jaehee melipat bibirnya ke dalam dan memutus kontak mata mereka. Bangkit dari duduknya, lalu meregangkan otot-ototnya yang kaku, kemudian tanpa berkata apa-apa lagi, ia pergi meninggalkan Luhan yang masih tidak mengerti dengan apa yang gadis itu ucapkan.

 

 

Masih jam sebelas pagi. Sebenarnya, Jaehee bingung ingin melakukan apa di hari libur dan disaat kedua orang tuanya tidak berada di rumah. Berdiam diri seperti orang tolol terlalu membosankan. Ia telah menyelesaikan komik dan film-film terbarunya. Memasak pun ia tidak pandai betul. Sarapan pagi ini saja ia hanya memakan roti tawar dengan selai cokelat atau strawberry karena tidak ada yang memasak untuk hari kedepan karena ibunya tak ada. Lalu apa yang harus ia lakukan selanjutnya? Sejujurnya lebih baik ia bersekolah saja, dan lebih baik mendengar guru Cho menjelaskan rentetan angka yang tak ia mengerti atau mendengar cerita sejarah dari guru Kang dari pada harus berdiam diri di rumah, karena ketika guru-guru itu menjelaskan, Baekhyun pasti akan menyela dengan ucapan-ucapannya yang membuat semua murid berteriak heboh dan menertawakan Baekhyun. Sejujurnya, lebih baik ia mendengar omong kosong dari Byun Baekhyun dari pada harus mendengar penyiar tv yang mengatakan bahwa cuaca semakin dingin. Ia bosan.

 

Jaehee mengambil ponselnya lalu menghubungi seseorang.

 

Ketika sambungannya telah terhubung, ia berkata. “Bisakah kau kerumahku?”

 

Orang diseberang sana pasti menjawab hal berbanding terbalik dengan harapan Jaehee karena gadis itu menampakkan raut kecewa, ia melengos pasrah, “Yasudah, nikmati hari liburmu, Baek. Sampai nanti.”

 

Setelah mematikan sambungannya, ia berteriak.

 

“APA HANYA AKU YANG MENDERITA KARENA BOSAN???”

 

Tak lama setelah Jaehee berteriak, bel rumahnya berbunyi. Ia menoleh, melirik ke samping kanan dan kiri mencari jawaban. Siapakah itu. Tidak mungkin orang tuanya karena mereka masih berada di Jepang selama sebulan. Sebaiknya, ia pergi saja membuka pintu untuk mencari tahu siapa yang datang dari pada menebak-nebak seperti orang tolol.

 

“Sia—Luhan?” ucapannya terhenti dan berubah menjadi kaget ketika orang itu tersenyum.

 

“Hai.”

 

Jaehee buru-buru keluar dan menutup pintunya cepat. “A-apa yang kau laku…”

 

Luhan menyerahkan buket bunga yang disembunyikan dari balik punggungnya memotong ucapan Jaehee yang belum sepenuhnya selesai. “Ambilah.” Luhan masih menggantungkan buket bunga itu di udara saat Jaehee justru hanya terdiam menatapnya dengan datar.

 

Luhan semakin melebarkan senyumnya ketika buket bunganya telah di terima. “Untuk apa kau dat—” orang itu kembali memotong ucapan Jaehee dengan mengeluarkan sekotak pizza dari balik punggungnya. Setelahnya, Jaehee tidak bisa berkata apa-apa lagi, Luhan berhasil membuatnya bungkam.

 

“Ibumu menelponku pagi tadi. Ia menyuruhku untuk datang dan menemanimu satu hari. Jadi, jika kau ingin marah-marah lagi, silahkan marah dan ajukan protes kepada ibumu.” Ucap Luhan dengan senyuman. Satu deret kalimat yang memperjelas semuanya.

 

“Kau kembali seperti semula,” kata Jaehee mendengus setelah membuka pintu dan memimpin jalan di depan setelah menerima pizza pemberian Luhan. “Kembali menjadi Luhan yang culun.” Lanjutnya lagi dan meletakkan sekotak pizza di atas meja. Hari ini Luhan kembali menggunakan kacamata tebalnya dan juga rambutnya yang di belah dua. Penampilan itu sebenarnya membuat mata Jaehee sakit ketika melihatnya.

 

“Dan menyebalkan, bukan?” timpal Luhan. Ia terdiam. Berpura-pura tidak mendengar dengan mengambil air minum dari lemari es, menyibukkan diri dengan mondar-mandir entah mencari apa.

 

Pria itu mengintari ruang tengah, ruang tv, lalu ruang makan dimana Jaehee tengah menuangkan segelas air. “Terakhir kali aku ke rumah ini sekitar tiga bulan yang lalu saat aku menggendongmu karena kakimu terluka, bukan? Apa sekarang sudah tidak apa-apa?” tanya Luhan, dibalas anggukan kecil dari Jaehee.

 

“Tidak. Terakhir kali sepertinya beberapa waktu lalu saat aku berkata akan bermain basket,”

 

“Tunggu sebentar.” Luhan berkata dan menghilang entah kemana, ia tidak peduli sebenarnya. Orang itu tahu saja jika Jaehee sangat membutuhkan makanan untuk siang ini. Luhan tidak terlalu menyebalkan. Hei, tetap saja. Orang itu bilang, ibu yang menyuruhnya untuk datang, sudah pasti ibunya berkata untuk membelikan Jaehee sesuatu. Luhan masih semenyebalkan dulu. Jangan lupakan itu.

 

Sambil menonton tv, Jaehee memakan pizza pemberian Luhan. Ia mengamati drama membosankan itu dengan tampang datar. Lalu tak lama setelah ia mengganti-ganti channel tv, Luhan datang.

 

“Hai.”

 

Suaranya itu membuat pandangan Jaehee sepenuhnya kini terfokus hanya kepada Luhan. Pria itu kembali berubah. Rambutnya kembali diangkat dan tidak ada kacamata yang menghias wajahnya. Jika dilihat dengan seksama, ternyata Luhan memiliki wajah yang cukup tampan.

 

Sadar jika ternyata Jaehee terlalu lama memandangi Luhan, gadis itu mengalihkan kembali pandangannya pada televisi. Tiba-tiba saja ia terbatuk dan mengambil cepat minumnya yang tak jauh dari tempat ia duduk.

 

“Tak perlu terpesona seperti itu, Go Jaehee.” Kekehan Luhan mendapat delikan tajam dan tidak suka dari mata Jaehee. Ia menghentikan kekehannya dan duduk disamping Jaehee dengan memakan pizza nya.

 

“Kau punya film apa?” tangan Luhan mengacak koleksi film di tempat cd lalu Jaehee memekik keras. “Yak! Jangan sentuh itu.”

 

Tampang polos nan babo itu mendapat jitakan keras dari gumpalan tangan Jaehee yang kecil-kecil tapi memiliki tenaga yang besar. Setelah Luhan selesai meringis ia berucap, “Itu film porno ya?” tanyanya tanpa dosa yang mana dengan begitu ia kembali mendapat jitakan dan pukulan di punggungnya.

 

“Jaga ucapanmu!  Sudah sana kau pulang saja.” Jaehee merengut, menarik paksa koleksi filmnya dari tangan Luhan. Yang ia khawatirkan sebenarnya adalah bagaimana nanti jika cd itu menjadi rusak karena tangan-tangan Luhan yang asal memegangnya.

 

“Tadi pagi kau bilang aku tak perlu bermain basket, kenapa?” pertanyaan itu diajukan ketika Jaehee ingin pergi dari samping Luhan. Membalikkan tubuhnya dengan dramatis, Jaehee terdiam beberapa saat. “Karena sebenarnya, aku tidak ingin kau di permalukan lagi.” Balas Jaehee dan berlalu.

 

Luhan bangkit dengan gerakkan kelewat cepat, “Lalu bagaimana dengan permintaan maafku?” menangkap cepat lengan Jaehee hingga membuat tubuhnya berbalik.

 

Terkejut begitu saja saat wajah Luhan kini benar-benar dekat dengannya membuat Jaehee tanpa sadar menahan napas. “Lu-lupakan saja.” Dan melepaskan diri ketika kalimat itu telah meluncur.

 

Pertengkaran-pertengkaran kecil kembali terjadi di dalam rumah itu. Entah bagaimana cara Luhan meminta maaf lagi ketika tanpa sengaja menjatuhkan gelas atau bagaimana Jaehee akan meneriakinya dan menyuruh Luhan membersihkan apapun yang telah di lakukan—dihancurkan—hingga mengacaukan dapur, atau ketika tak tahu bagaimana bisa Jaehee terpeleset saat membuka lemari es dan Luhan akan panik setengah mati, lalu Jaehee akan kembali meneriakinya karena berani-benarinya Luhan menyentuhnya. Semua pertengkaran itu tidak ada habisnya.

 

Kembali ketika Jaehee menyuruh Luhan untuk pulang saja, pria itu selalu menggunakan alasan bahwa ia akan menelpon ibu Jaehee yang mana hal itu dapat membuatnya bungkam.

 

Lama kelamaan mereka lelah untuk terus bertengkar, dan hal terakhir yang mereka lakukan adalah menonton film bersama. Tapi satu dari keduanya tidak ada yang menikmati film tersebut. Masing-masing berimajinasi dengan pikiran mereka. Duduk berjauhan hingga membuat jarak tapi hal itu justru semakin canggung.

 

Mencoba untuk menatap Jaehee lewat ekor matanya, yang Luhan dapati adalah pandangan gadis itu lurus ke depan dengan tampang datar. Kembali Luhan mencoba untuk fokus menonton film tersebut. Lalu ketika Jaehee mencoba untuk menatap Luhan lewat ekor matanya, pria itu terasa begitu menghayati film yang di tonton. Masing-masing dari mereka mencoba untuk mencuri pandang satu sama lain, suasana seperti ini benar-benar tidak nyaman hingga akhirnya, “Haaassh, ini benar-benar canggung,” Ucap Jaehee pada akhirnya dan mengambil remote lalu sedetik kemudian layar tersebut menjadi hitam.

 

“Tidakkah seharusnya kau mencari topik?” tanya Jaehee setelah bangkit dari duduknya, meletakkan kedua tangan di pinggang.

 

“Lalu aku akan dimarahi kembali, begitu maksudmu?” balas Luhan juga yang ikut bangkit.

 

“Terserah.” Desis Jaehee dengan sengit.

 

“Kalau begitu, ayo kita keluar.”

 

Menatap Luhan, Jaehee berkata, “Dingin.”

 

“Yasudah. Kalau begitu aku saja yang pergi.” alis Luhan naik turun berusaha untuk menggoda Jaehee dan ia dapat melihat bagaimana Jaehee menggiti bibirnya seperti orang bingung.

 

Pria itu telah berada di ambang pintu dengan jaket tebalnya, “Ya, ya aku ikut.” Ucap Jaehee lalu berbalik karena malu. Saat mendengar kekehan dari Luhan, Jaehee langsung berlari ke kamarnya.

 

————————————-

 

Berjalan-jalan di taman yang hari ini sangat ramai membuat Jaehee beberapa kali tertabrak para pejalan kaki. Ia tetap memilih menjaga jaraknya dengan Luhan yang terlihat menikmati bagaimana musim salju begitu indah berjatuhan. Jaehee masih sibuk membungkuk meminta maaf karena tidak sengaja menabrak bahu pejalan kaki, melihat itu Luhan menghentikan langkahnya dan menunggu Jaehee untuk menyusul.

 

“Yak Go Jaehee, cepat sedikit.” Teriak Luhan, yang di panggil menoleh lalu mendesiskan sesuatu di dalam hati yang hanya dimengerti olehnya sendiri. Apa-apaan orang itu, hanya karena Jaehee melunak hari ini padanya, dia menjadi seenak jidat menyuruh ini itu.

 

Setelah Jaehee berada di samping Luhan, mereka kembali melanjutkan langkah. Ia masih menjaga jaraknya, lalu ketika ada beberapa wanita yang saling tertawa tanpa melihat ada Jaehee di depannya, gadis itu secara otomatis langsung meraih jaket Luhan dan bersembunyi di belakangnya. Ia mengucapkan sesuatu, seperti sebuah bisikan. “Tolong jangan terlalu cepat.”

 

Seluruh pergerakkan Luhan langsung terhenti, ia melirik pelan-pelan dan langsung menggenggam tangan Jaehee yang menarik jaketnya dengan kuat. “Jangan lepas tanganku.” Luhan berkata sambil mengait jari-jari mereka.

 

Beberapa saat keduanya hanya terdiam di tengah-tengah orang yang berlalu lalang, Luhan menyadari sesuatu.

 

“Tanganmu dingin, eh?”

 

“Aku baik-baik saja.” Kata Jaehee sambil melanjutkan langkahnya, dan sejujurnya ia menjadi kaku karena Luhan mengaitkan jari-jarinya.

 

“Kau kedinginan?” dibalas gelengan kepala dari Jaehee. Tangan mereka yang saling mengait satu sama lain Luhan sembunyikan ke dalam saku jaket tebalnya dengan alasan supaya lebih hangat.

 

Jaehee di buat terkejut oleh perlakuan itu. ia ingin melepaskan diri tapi Luhan menahannya. Karena sejujurnya, Jaehee juga membutuhkan ini.

 

“A-aku baik-baik saja, Luhan.”

 

“Sstt diamlah. Nanti kau di tabrak mereka lagi.” Secepat kilat tangan Luhan langsung memegang bahu Jaehee dari arah depan hingga terdorong ke bahunya dan bahu mereka kini benar-benar bersentuhan ketika orang-orang itu kembali berjalan tanpa melihat ada orang yang di depannya.

 

“Kan? Aku baru saja bilang,” Kata Luhan dengan senyum tipis. “Jadi tetap di sampingku dan jangan lepaskan tanganku.”

 

Jaehee tak pernah tahu jika Luhan bisa semanis ini karena yang ia tahu Luhan selalu membuatnya jengkel hingga ingin mengenyahkan pria itu dengan cara apa saja. Tentu saja ia tidak tahu karena segala apapun yang menyangkut tentang Luhan memang ia tidak ingin tahu. Yang ia tahu Luhan selalu membuatnya malu di depan murid lain, yang ia tahu Luhan selalu membututinya seperti anak itik yang kehilangan arah, dan yang ia tahu Luhan adalah pria bodoh yang rela melindunginya meski pada akhirnya ia sendiri yang ditindas oleh yang lain.

 

Jaehee benar-benar menyadari satu hal bahwa Luhan bukan semua yang ia tahu. Luhan di hari libur benar-benar berbeda dengan Luhan yang ia tahu. Orang di sampingnya ini seperti sosok lain. Sosok yang membuat dirinya benar-benar terlindungi.

 

“Mengapa kau harus berpenampilan seperti anak idiot ketika sekolah?” tanya Jaehee waktu musim dingin. Waktu dimana langit menjatuhkan butiran-butiran seperti gumpalan pasir dingin berwarna putih. Mentari menyinari namun tidak membantu menghangat. Mentari seperti memiliki tugas di musim ini hanya untuk menerangi ketika pagi sampai sore, bukan untuk menghangatkan.

 

“Karena, lucu saja.” Jaehee langsung mengernyitkan dahinya. Apa yang bisa di sebut lucu ketika penampilann itu justru membuat dirinya ditindas?

 

“Tapi kau lebih baik seperti ini.” Tukas Jaehee lagi. Luhan tersenyum bersamaan dengan kepala turun kebawah.

 

Berhenti di dekat air mancur yang tak mancur—apasih—Luhan memutar bahu Jaehee hingga mereka saling berhadapan. “Sebenarnya, wajah tampanku ini menganggu. Jadi aku merubahnya setidak menarik mungkin. Yang kuinginkan hanya sekolah dengan tenang, tapi juga aku ingin melindungimu. Jika aku memperlihatkan wajah ku yang sebenarnya, para gadis-gadis itu pasti akan mengganggu hidupku. Jadi, ya begitu. Aku nyaman dengan Luhan yang culun.”

 

“Dan sebenarnya, aku membenci mereka. Karena mereka selalu membicarakan hal buruk tentangmu.”

 

Melepaskan tangan Luhan di bahunya, Jaehee berucap dengan wajah terkejut “Benarkah?” lalu setelahnya membuang napas kasar. “Mereka membicarakanku karena aku bertunangan dengan pria sepertimu, Luhan.” Kata Jaehee pelan.

 

“Maka dari itu,” ucap Luhan. Hal itu membuat tanda tanya besar di kepala Jaehee saat ini. “Jika aku merubah penampilanku di depan mereka-mereka untuk menyatakan yang sebenarnya, aku yakin mereka pasti akan mendekatiku, lalu mereka akan menyerangmu, Jaehee. Dan alasanku yang lain adalah karena aku ingin melindungimu meski hal itu harus berimbas padaku.”

 

Meninju pelan dada Luhan, Jaehee berdecak “Aku terharu.”

 

“Hei aku serius.”

 

“Oke, oke. Sejak pertama kita bertemu, kau masih berpenampilan seperti orang idiot. Dan kupikir kau benar-benar menjijikkan.”

 

“Lalu kau ingin berkata bahwa kau malu punya tunangan sepertiku?” pertanyaan Luhan dibenarkan dengan anggukan antusias yang mana membuat Luhan mengucapkan, “Oh ya Tuhan!”

 

“Jadi kau menilaiku dari penampilan?” Jaehee menggangguk, Luhan menlanjutkan, “Jadi kau membenciku karena itu?” Jaehee kembali mengangguk membenarkan, “Jadi kau hanya malu dengan tunangan sepertiku maka kau membenciku meski aku ini pintar.”

 

“Betul!”

 

“Jadi…” Luhan menggantungakan perkataannya, menatap Jaehee dengan wajah tidak percaya dan tidak habis pikir.

 

“Lebih baik kau diam! Ya, semua itu memang benar.” Timpal Jaehee dengan menarik sebelah bibirnya.

 

“Kupikir, kau membenciku karena tidak mau aku melakukan hal yang overprotective. Jadi hanya karena itu?”

 

“Kurasa, aku membencimu karena kau overprotective dan juga menganggu.”

 

“Yak! Aku ini ingin melindungimu, kau tahu tidak?”

 

Jaehee menggelengkan kepalanya tanpa dosa. “Bisakah kita mencari tempat yang ada atapnya? Disini semakin dingin Luhan.” Ucap Jaehee datar.

 

Tidak ingin berdebat terlalu lama dan tak ingin memperpanjang semua, akhirnya Luhan berkata kepada Jaehee bahwa di dekat taman itu ada tempat ramen. Ia menyetejuinya dari pada mereka hanya terus berdebat sedangkan salju semakin turun tanpa ingin berhenti. Lebih baik memakan ramen.

 

————————————–

 

Orang bilang, sesuatu yang sangat kamu benci dengan terlalu berlebihan bisa menjadi boomerang pada dirimu sendiri. Mereka bilang, membenci sesuatu terlalu dalam dapat menjadi sebuah rasa yang bahkan kau tak pernah memikirkannya. Seperti sekarang. Apalah arti sebuah rasa benci jika pada akhirnya kini Jaehee merasa sesuatu menggelitik perutnya dan ia dapat merasakan debaran konyol pada hatinya yang bahkan tak ia perintahkan untuk berdetak cepat. Senyumnya mengembang begitu saja seperti kue pie yang dioven, menatap bagaimana Luhan menyanyikan sebuah lagu dengan tarian menggoda.

 

Dua hal lagi yang Jaehee baru ketahui dari Luhan. Selain pintar, Luhan memiliki suara yang indah ketika menyanyi dan memiliki gerakan lentur ketika menari. Apalah arti sebenarnya dari rasa muak itu ketika pada akhirnya Jaehee ingin Luhan mengulangi bagian saat pria itu menarikan gerakan seksi hingga membuatnya berteriak heboh.

 

Karena sepertinya, ia tidak bisa lagi untuk membenci Luhan.

 

Mereka saat ini berada di tempat karoke. Luhan bilang, ia ingin menunjukkan sesuatu kepada Jaehee. Dan disinilah mereka. Tertawa bersama seperti teman lama yang sangat akrab. Padahal sebelumnya Jaehee sangat tidak ingin ada Luhan dihidupnya. Tapi sekarang, ia ingin lebih lama merasakan hal seperti ini. Karena mungkin saja, ia tidak akan bisa mendapatkan hal seperti sekarang ini.

 

“Bagaimana kau melakukannya?” tanya Jaehee terlihat antusias. Sedari tadi ia hanya duduk dan membiarkan Luhan menguasai lagu. Memperhatikan gerakan-gerakan kaki, tangan, pinggul, mata, serta menyusut pada bagian penting, yaitu bagaimana Luhan memainkan bibirnya. “Aku?” tanya Luhan balik, menunjuk dirinya dengan telunjuk terarah di depan wajahnya sendiri. Jaehee mengangkat satu alis sambil mengangguk.

 

“Aku… aku belajar dari sepupuku. Dia dari China, sama denganku. Namanya Zhang Yixing. Aku biasa memanggil dia Lay.”

 

Bibir Jaehee langsung membentuk bulat begitu mendengar Luhan menjelaskan. “Kau memiliki suara yang indah Luhan, suara mu sangat lembut. Aku tak tahu kau begitu pandai bernyanyi dan menari. Kau benar-benar tak tertuga, serius. Apalagi yang kau sembunyikan?”

 

Dahi Luhan mengernyit. “Maksudmu?”

 

“Kau selalu tak tertuga. Maksudku, selain hal-hal seperti ini, apa lagi yang dapat kau lakukan?”

 

“Oh. Kau akan mengetahuinya nanti. Aku jamin, kali ini kau tak akan bisa tak memandangku lagi. Karena itulah yang dilakukan waktu.”

 

Apa-apaan dengan wajah Luhan yang tersenyum seperti orang idiot itu. Apalah ini semua menjadi teka-teki.

 

“Terserah.” Jawab Jaehee malas, memutar bola matanya dan mengambil minum berwarna biru yang entah itu apa. Tapi ia langsung meminumnya karena ia merasa tubuhnya menjadi panas.

 

“Ayo kita bernyanyi bersama, Go Jaehee. Kita menyanyi  A Thousand Years.”

 

Please Luhan, aku tak suka lagu mellow seperti itu, dan satu lagi. Aku tak suka lagu sedih.”

 

—————————-

 

Entah bagaimana bisa ada seorang idiot yang datang tiba-tiba tanpa diundang dengan membawa satu kardus cukup besar berisi buah strawberry. Dimusim dingin seperti ini apa ada buah seperti itu tumbuh dengan baik dan terlihat begitu segar. Dan orang itu masih berdiri dengan senyum idiotnya, berlari-lari kecil ditempat dengan kedua tangan disembunyikan kedalam saku jaket, ia menahan dingin sepertinya—pikir Jaehee.

 

“Kau bilang tidak bisa datang. Lalu mengapa kau datang? Sudah malam juga, Baek.”

 

“Karena tadi pagi kau menyuruhku untuk datang, bukan?”

 

Ya, orang idiot itu adalah Byun Baekhyun. Dia bilang, yang jelas buah itu bukan dari Korea. Dan ketika Jaehee bertanya memangnya darimana, Baekhyun bilang itu rahasia. Lihat, bukankah pria itu benar-benar idiot?

 

“Kau menyuruhnya datang?” Luhan—yang keberadaannya hampir terlupakan—mulai angkat bicara, memandang kardus itu dengan pandangan aneh. Baekhyun—yang menatap orang itu tak biasa—menjauhkan tangan orang itu yang akan menyentuh buah-buahannya.

 

“Tadi pagi sih iya. Tapi sekarang aku tidak memintanya untuk datang.” Jawab Jaehee.

 

Baekhyun masih menatap orang itu dengan pandangan tak suka. “Memangnya dia siapa, Jaehee?” Baekhyun bertanya dengan nada ketus.

 

“Dia Luhan.” Kata Jaehee santai. Baekhyun—yang tadinya menatap orang itu—langsung terkejut dan menatap tak percaya kearah Jaehee kali saja gadis itu sedang bercanda.

 

“Ciah, bercandamu…” Baekhyun geleng-geleng.

 

“Aku serius. Dia Luhan, Baek.”

 

Baekhyun yang tahu jika wajah Jaehee datar, tanpa ekspresi, tanpa kerutan di dahi maupun bawah dagu memang benar mengatakan bahwa apa yang barusan dikatakannya itu adalah sebuah kebenaran. “Jadi kau serius? Di-dia… dia Luhan culun itu?”

 

“Hai lelaki eyeliner. Aku Luhan.” Luhan mengedipkan sebelah matanya dengan sebelah tangan yang melambai kearah Baekhyun.

 

Pria dengan jari-jari lentik itu menggenggam kuat kardus strawberry yang tadi ia bawa dan berlalu pergi setelah mengucapkan kata ‘Sialan’ kepada Luhan. Baekhyun mengambil kembali buah-buahannya. Baekhyun benar-benar aneh dan juga idiot. Sudah datang tak diundang, datang-datang membawa satu kardus strawberry, lalu setelah mengetahui bahwa pria disamping Jaehee adalah Luhan, orang itu membawa pulang kardusnya. Byun Baekhyun idiot.

 

Beberapa saat setelah Baekhyun pergi. Jaehee mengajak Luhan untuk masuk kedalam rumah karena salju turun semakin lebat. Dan kebetulan juga sudah waktunya untuk libur akhir tahun, Jaehee bisa tidur dini hari untuk menonton film dan bangun kesiangan lalu ketika ia akan bercermin, ia akan berteriak menemukan dirinya seperti zombie dengan kantung mata semakin hitam. Bagus sekali pekerjaan dini harimu Go Jaehee. Lama-lama ia bisa menjadi Tao versi wanita sepertinya.

 

Tapi Luhan bilang, itu tidak baik untuk kesehatannya. Yah, Jaehee sempat menceritakan apa yang ia lakukan kalau liburan. Dan reaksi dari itu, ia justru mendapat rentetan ceramah dari mulut seorang Luhan.

 

“Yah whatever.”

 

“Go Jaehee. Kau harus menghentikan kebiasaanmu itu, ya. Aku tak ingin kau jatuh sakit.”

 

Deg.

Deg.

Deg.

Deggg.

 

What the hell it’s so fucking deg deg deg. “Eum… y-ya.”

 

Apalah ini hanya satu hari dan Luhan dapat merubah Jaehee menjadi luluh.

 

Disinilah mereka. Dibalkon yang memperlihatkan betapa terang bintang bersinar indah di atas sana. Dengan selimut tebal dipunggung yang membalut tubuh keduanya sambil meluruskan kaki dan berbicara tentang hal-hal yang sama sekali tidak penting.

 

“Kau tadi bertanya bukan?” Luhan memecah keheningan setelah tiga menit saling terdiam. Jaehee menatapnya dengan pandangan kelewat dalam, Luhan menjadi risih ditatap seolah ia merasa  ditelanjangkan hanya dengan tatapan itu.

 

“Apa lagi yang dapat aku lakukan?” Jaehee mengiyakan. Selimut dengan gambar pororo super besar nya itu ia gengggam kuat. “Aku akan melakukannya sekarang,  sebentar, ya.”

 

 

Sejujurnya Jaehee merasa kecewa Luhan pergi dari sampingnya, tapi kekecewaannya tak berlangsung lama karena ia dibuat terkejut karena darimana Luhan mendapatkan gitar akustik itu? “Ini,” tangan Luhan menggoyangkan gitar itu di udara. “Aku akan menunjukkan ini.”

 

Dua gelas cokelat panas dengan biskuit cokelat masih berada di atas meja kecil bergambar pororo juga. Bukan berarti ia menyukai kartun itu. Selimut tebal super besar bergambar pororo itu hadiah ulang tahunnya dari Kim Jongin, dan meja kecil bergambar pororo itu dari Park Yeona. Sedangkan ia menyukai kartun Doraemon. Tapi Sehun justru menghadiahkan boneka Dora. Apalah arti kekerenan dan ketampanan seorang Oh Sehun saat bermain basket jika pada kenyataannya dia tak lebih dari seorang Baekhyun—yang sama-sama idiot juga ternyata. Ngomong-ngomong tentang Baekhyun, ia menghadiahkan dua eyeliner dengan merk terkenal dan satu bantal besar berbentuk strawberry. Sampai sekarang, eyeliner itu masih Jaehee simpan dengan baik tanpa perlu menggunakannya. Hadiah dari Luhan, tak pernah Jaehee terima. Ugh betapa menyebalkan hidup.

 

Menempatkan duduknya senyaman mungkin, Luhan mulai memetik gitarnya. Tapi ia langsung menggelengkan kepala begitu kunci nya terdengar aneh. “Sebentar, aku mengatur kuncinya dulu.” Tanpa perlu berucap pun Jaehee pasti tahu, hal apa yang harus dilakukan saat suara yang dihasilkan terdengar aneh.

 

“Ini sudah bisa dimainkan. Kau ingin aku menyanyikan lagu apa?”

 

“Sejak kapan kau bermain gitar, eh?”

 

“Tell me what is love, bagaimana?”

 

“Aku tanya sejak kapan kau bermain gitar?”

 

“Atau Love song?”

 

“Luhan!” Jaehee menggertaknya. Bukannya takut, Luhan justru tersenyum. “Kau mendengarku tidak?” tukas Jaehee lagi, mengambil cokelat panas yang ternyata telah menghangat dan meminumnya sedikit.

 

“Iya, aku dengar. Sejujurnya a-aku malu untuk mengakui bahwa aku baru belajar bermain gitar sejak dua minggu lalu. Jadi, kalau permainanku sedikit aneh, maklum ya,” Luhan terkikik—pelan—lalu ia tertawa terbahak-bahak membuat Jaehee bingung dimana letak kelucuannya.

 

“Hei. Hentikan Luhan, kau tak perlu untuk tertawa begitu keras.”

 

“A-aku hanya takut aku tak akan bisa melakukannya lagi, Jaehee.”

 

“Kau bisa. Sekarang kau mainkan saja. Aku akan menghargai bagaimanapun permainanmu. Oke, tell me what is love, ya.”

 

Seperti hal nya seorang penyanyi, Luhan berdehem-dehem sok asik. Mengambil cokelat panasnya yang telah hangat dan meneguknya. Saat cairan itu berhasil membasahi kerongkongannya yang terasa kering ia mendesah lega, “Aahhh.”

 

What the fuck with ‘ahhh’ shit damn you should die right now!  Jaehe berteriak heboh didalam hati.

 

Hanya dengan mendengar desahan tipis itu kenapa bisa membuat dada Jaehee berdebar tak karuan, lihat bagaimana sinar lampu menerangi wajahnya, lihat juga bagaimana tampannya dia ketika tersenyum—tipis—tapi memiliki makna lain, lihat bagaimana tatapan mata rendahnya yang sangat menggoda. Jaehee ingin menenggelamkan diri di sungai han sekarang kalau saja ia tak ingat sekarang musim dingin. Apa ada bunuh diri mikir dulu kalau airnya dingin. Babo chorom.

 

“Oh, you never love me and your heart was never mine. All I ever wanted were to love you and hold your hand. Tell my self ‘to open your eyes’ and see who you really are. No way.”

 

Luhan mulai masuk bait pertama dengan akustiknya. Menenangkan. Tapi mengapa arti dari lagu tersebut membuat tubuh Jaehee langsung diam kaku seperti habis disiram formalin lima ember.

 

“I’m still blind, avoiding me, push me away when I come close. I’m still come crawling to you. Even when my mind screams ‘NO’. My heart’s too strong, binds me to thought of you. Oh, tell me is this how it feels to fall in love…”

 

“Luhan…” mata Jaehee mulai berkaca-kaca.

 

“Don’t tell me it is the end and stop! Wait a minute—wait a minute for me, baby—I could wait forever and my love has no limit—has no limit—Won’t pick up my call, echoes of your voice is still running through my mind—enchoes of your voice—Whoaaaa…”

 

“Please just let me go. I can’t breathe, your claws are digging deep in me. I’m bleeding out and soon I will fade away. Oh, tell me what is love. Tell me what is love.”

 

Setelah suara Luhan menggema indah dimalam hari bertabur bintang, berjatuhan salju kecil, bertiupnya angin dimusim dingin, ia menatap mata Jaehee yang dalam sekali kedip, air matanya akan langsung berjatuhan. “Apa yang membuatmu menangis?” Luhan terkikik, menangkup pipi Jaehee dan mengelusnya lembut. Jaehee bertepuk tangan dengan terburu-buru.

 

“Tidak ada.” Jaehee tertawa. “Sungguh tidak ada.”  Lebih keras lagi. “Benar-benar tidak ada.” Dan berhenti.

 

“Tak perlu terburu-buru, Jaehee. Kita akan melakukannya secara perlahan, okay? Uljima~”

 

“Maafkan aku Luhan. Sungguh. Maafkan aku. Apa yang telah aku lakukan padamu selama ini, tolong maafkan. Aku memaafkanmu, semua permintaan maafmu akan aku terima. Sebaliknya, aku ingin meminta maaf padamu Luhan. Tolong maafkan aku, aku salah. Maafkan aku…”

 

“Hei, hei, hei. Aku sudah memaafkanmu jauh sebelum kau meminta maaf Jaehee,” Luhan memegang kedua bahu Jaehee hingga mereka saling berhadapan dan saling menatap. “Aku sama sekali tidak mempermasalahkan hal itu, sungguh. Percayalah, aku tidak mempermasalahkannya.” Lanjut Luhan lagi disertai anggukan pembenaran bahwa apa yang ia katakan bukan sekedar untuk menghibur hati Jaehee. Tapi memang benar adanya.

 

“Terima kasih. Terima kasih.”

 

Luhan tersenyum bahagia. Benar-benar bahagia sampai ia lupa bagaimana caranya untuk mengembalikan bibirnya agar kembali seperti semula. Karena yang Luhan tahu ia hanya bisa tersenyum seperti tak memiliki beban lagi.

 

“Oh ya,” ucap Luhan lagi. Ia menyandarkan gitarnya pada dinding. “Kau tahu, Lay yang mengajariku bermain gitar. Dia juga yang mengajariku bermain basket. Kau tahu, bahkan aku sekarang sudah mahir, Jaehee. Apa kau juga tahu, meski disekolah aku hanya berdiam di perpustakaan, sebenarnya aku jago juga dalam sepak bola.”

 

“Eh, benarkah?” Jaehee terlihat antusias mendengar itu. “Wah kau belajar dengan cepat ternyata. Kau benar-benar jenius, Luhan.”

 

“Dari kecil, aku sangat menyukai sepak bola dan bercita-cita ingin menjadi pemain bola. Hahaha, tapi bermain basket juga seru. Tapi lebih seru lagi kalau aku bisa membuat lagu seperti Lay.”

 

Jaehee merasakan sesuatu dari dalam dirinya begejolak. Ia menatap Luhan dengan tatapan tersirat arti lain. Mengapa ia bisa menyia-nyiakan orang sebaik, sepintar, sejenius seperti ini hanya karena penampilan? Orang bilang apa yang orang tua pilihkan itu adalah yang terbaik, mereka lebih tahu dari kita mana yang baik dan yang tidak. Jadi, Jaehee menyadari bahwa apa yang telah orang tuanya pilihkan untuknya itu benar-benar yang terbaik. Ia tidak ingin lagi untuk menilai seseorang hanya dari cover, lihat bagaimana Baekhyun. Pria itu memang memiliki wajah tampan, tapi tidak dengan kelakuannya yang kekanakkan dan kadang menyebalkan.

 

Lihat juga Sehun, memiliki wajah super tampan tapi tak se-wah yang pernah ia bayangkan. Tapi Luhan? Dia merubah penampilan setidak menarik mungkin dan terlihat tolol dimata orang-orang tapi sebenarnya dia jenius. Tak peduli seburuk apa penampilan orang itu kalau dia memiliki sifat yang baik, maka orang pasti perlahan-lahan akan menerimanya. Penampilan bisa kapan saja dirubah jika dia mau, tapi sifat, itu harus dari diri sendiri yang menentukan kamu ingin merubahnya atau tidak.

 

“Luhan.” Panggil Jaehee lembut, sangat lembut hingga mampu membuat hatinya berdetak cepat.

 

“Ya?”

 

“Maukah kau temani aku sampai aku terlelap? Bermalam disini, ya. Nanti aku yang akan mengatakan kepada ayahmu.”

 

“Baiklah.”

 

Luhan kembali mengambil gitarnya. Menepuk pelan bahu kanan agar Jaehee bersandar pada bahunya dengan selimut yang cukup membantu menghangat.

 

“Bernyanyilah untukku sampai aku terlelap.” Jaehee memerintah seenaknya. Tapi jauh dari itu, ia hanya ingin mendengar sekali lagi suara lembut Luhan ketika menyanyi hingga ia dapat merekamnya ketika ia terlelap.

 

“I do believe all the love you give. All of the things you do. Love you, love you. I’ll keep you safe don’t you worry…”

 

I wouldn’t leave, wanna keep you near . Cause i feel the same way too. Love you, Love you. Want you to know that I’m with you… I will love you and love you and love you. Gonna hold you and hold you and squeeze you. I will please you for all time. I don’t wanna lose you and lose you and lose you. Cause I need you and need you and need you. So I want you to be my lady. You’ve got to understand my love…”

 

“You are beautiful, beautiful, beautiful. Beautiful, beautiful, beautiful girl… You are beautiful, beautiful, beautiful. Beautiful, beautiful, beauti…ful….girl…”

 

Luhan menatap sebentar Jaehee yang benar-benar telah terlelap.

 

I love you, Go Jaehee.”

 

Jaehee terlalu jauh untuk mendengar kata itu karena lelap telah membawa ia pergi. Yang ia tahu, seseorang membenarkan letak selimut hingga membuatnya benar-benar hangat, dan nyaman, dan ia ingin seperti ini berlangsung setiap hari.

 

End.

 

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s