[EXOFFI FREELANCE] Brother(s); Same Room (Chapter 4)

cover-4

BROTHER(S); Introduce

Originally by Delza Algiwity

Love; incest, family, romance.

Cast: Park Daelja (OC); Kim Jongin (EXO), Park Chanyeol (EXO); Byun Baekhyun (EXO); Oh Sehun (EXO); Do Kyungsoo (EXO); Kim Myungsoo (INFINITE)

[Contain Harsh-Words; R-17; typo(s)]

“Dan adapun orang yang menganggap dosa itu indah. Salah satunya aku, yang melakukan berbagai hal yang tidak masuk akal dengan kakak kandung ku sendiri.”

Daelja POV

Makan malam telah selesai beberapa menit yang lalu. Aku yang pertama kali meninggalkan ruang makan. Rasanya tubuhku lelah sekali, mataku pun tidak bisa diajak kerja sama. Rasanya ingin cepat-cepat terpejam dan melayang ke dunia mimpi.

Sebelum kuwujudkan keinginan mata dan tubuhku, aku mengambil handphone ku yang berada di atas meja samping kasurku. Membuka aplikasi Instagram dan mengetik sebuah username.

@zyxzjs

Akun yang sedang rajin ku stalk beberapa minggu terakhir. Entah mengapa aku penasaran dengannya. Dia adalah teman kelasku, Zhang Yixing. Dia tinggi, tapi tidak setinggi Chanyeol, Sehun, dan Kai. Namun, tidak sependek Baekhyun dan Kyungsoo juga. Kulitnya sangat putih, dan dimples membuat wajahnya terlihat lebih…manis.

Ini tidak seperti yang kalian pikirkan, aku suka dengannya. Tidak sama sekali. Memang, aku sekelas, tapi berbicara saja tidak pernah. Aku selalu menjauhi lelaki, karena itu perintah dari kakak-kakakku.

Namun, aku selalu mendengar cerita dari teman-teman gadisku. Yixing itu pendiam di kelas, tapi ketenarannya di luar sekolah tidak bisa diragukan. Ia mempunyai band, yang dimana ia merupakan guitarist. Dan juga, ia sangat mahir dalam hal menari.

Sudah bukan rahasia lagi kalau aku sangat tertarik dalam kedua hal tersebut. Musik dan tarian. Aku suka bermain musik, aku juga suka tarian, walau aku tidak bisa menari. Berdasarkan alasan tersebut, aku selalu membuka akun instagram Yixing, karena kata salah satu teman kelasku, aku bisa melihat kemampuannya jika aku membuka akunnya.

Dan itu terbukti, aku sudah menonton berbagai videonya yang sedang memetik gitar. Sangat merdu, dan aku suka. Selain itu, aku sudah melihat videonya yang sedang menari dengan energik. Aku kagum padanya. Tariannya tidak kalah bagus dari tarian Jongin.

Jemariku terus menggeser layar handphone, dan sesuatu menarik perhatianku. Video Yixing yang sedang bermain piano. Aku tertegun, mengapa aku baru melihat video ini? Kenapa aku melewatkannya?

“Aku harus menontonnya sekarang.” Aku beranjak mengambil headphone di atas mejaku. Mengatur posisi senyaman mungkin dan menunggu video untuk terputar. Namun, tiba-tiba….

“Ekhem.”

Kepalaku mendongak mencari sumber suara. Dan aku tertegun saat melihat sosok Sehun sedang berdiri di daun pintu, lengkap dengan piyama. Tidak ada hal yang special, namun entah mengapa dirinya yang dibalut dengan piyama, membuatnya terlihat seratus ribu kali lebih tampan.

Apakah ini kakakku? Mengapa bisa setampan itu?

“Boleh masuk?” Sehun menyiratkan raut wajah heran akan sikapku yang tertegun menatapnya. Aku segera tersadar dan segera menganggukkan kepalaku.

Kutekan tombol kunci handphone ku. Aku bisa menontonnya lain waktu.

“Aku akan pindah disini mulai hari ini.” Ujarnya ketika ia duduk di tepi kasurku. Aku hanya mengangguk dan memperbaiki posisiku agar bisa memberinya ruang untuk berbaring. Namun, otakku yang sudah pada dasarnya akan sangat lama jika memproses sesuatu, baru menangkap dengan jelas apa maksud dari perkataan Sehun.

“Hah?! Jinjja?!” tubuhku segera mendekat pada tubuhnya yang baru saja berbaring. Ia yang sedikit terkejut dengan seranganku yang tiba-tiba ini hanya bisa tersenyum maklum.

“Kau lama mencerna,” ia terkekeh. Ah, bahkan kekehannya pun terdengar sangat tampan. “Aku memutuskan untuk pindah disini. Rasanya sangat sepi tidur sendirian ketika semua saudaraku memiliki teman kamar.” Sehun tersenyum.

“Tapi, aku juga sendiri,”

“Maka dari itu, kurasa kau kesepian. Jadi aku ingin menemanimu.” Aku segera memeluk tubuhnya dengan erat. Ia  hanya mengelus kepalaku.

“Aku sangat senang!! Kenapa tidak dari dulu, oppa? Aku bahkan sudah berapa kali memintamu untuk tidur denganku.”

“Aku baru siap sekarang.. ya sudah, ayo tidur. Perbaiki posisimu.” Titahnya yang kubalas dengan gelengan kepala. Sudah pernah kukatakan, bukan? Aku suka berada dipelukannya.

“Apa kau mau tidur berpelukan seperti ini sampai pagi?” Sehun terkekeh, dan kemudian tangannya melingkar ke pinggangku; membalas pelukanku. Aku tersenyum senang dan kemudian memejamkan mataku. I’m ready to go to the Dreamland~!

 

—-

Author POV

Sinar mentari menyelinap masuk lewat celah gorden peach bercorak bunga-bunga di kamar itu. Waktu sudah menunjukkan pukul 06:30 dan tak ada satu pun dari kedua sejoli, yang sedang berpelukan satu sama lain itu, berniat untuk membuka matanya.

“Ya, perhatian-perhatian, sekarang waktunya bangun dan bersiap-siap ke sekolah~ bangun~ bangun~” Itu suara Baekhyun; masuk tanpa izin ke kamar Daelja sembari membawa pengeras suara.

Tidak ada yang bergeming. Baekhyun menghela napasnya gusar. Selain ia takut mereka akan terlambat ke sekolah, ia juga tidak rela melihat Sehun dan Daelja berpelukan lebih lama.

“Saya ulangi, sekarang bangun dan bersiap-siap ke sekolah~” ucapnya lagi, kali ini volume suaranya ia naikkan. Namun, hasilnya nihil. Ia maklum jika itu Daelja. Memang sudah habitat gadis itu, bukan? Sulit untuk bangun pagi. Namun bagaimana dengan Sehun? Apa pelukan Daelja sangat nyaman sehingga membuatnya ingin terus memejamkan mata?

Memikirkan hal itu membuat Baekhyun kesal, “YAAKK PARK SEHUN BAJINGAN BANGUN KAU!!”

Dan ini berhasil. Sehun segera membuka matanya dan memegang kedua telinganya. Rasanya perih, mendengar suara Baekhyun yang pada dasarnya memang mampu membangunkan satu kompleks; dan kali ini dia dibantu dengan pengeras suara. Tolong, jangan lupa untuk membawa Sehun ke dokter THT sepulang sekolah nanti.

“Tidak bisakah kau sedikit lembut padaku….” Sehun mendelik sebal ke arah Baekhyun, dan kemudian menoleh ke sampingnya; melihat Daelja yang ternyata sama sekali tidak terganggu oleh suara membahana Baekhyun. Ia masih memejamkan matanya dengan damai, sepertinya mimpinya sangat indah.

“Heol, apakah dia mati? Hebat sekali dia tidak terganggu oleh suara jelek mu.” Sehun bangkit dari kasur, segera bersiap untuk ke sekolah sebelum mereka benar-benar terlambat. Sedangkan Baekhyun, tersenyum miring di tempatnya berdiri. Ia tahu, kecupan darinya selalu berhasil membangunkan Daelja.

Honey~~ bangun, ya? Kita bisa terlambat..” First step, Baekhyun mengelus kepala Daelja. Hasilnya, tidak ada gerakan. Second step, mengguncang pelan bahu Daelja. Dan hasilnya pun sama.

“Ara~~ kau begitu imut,” dan last step, Baekhyun mengecup hidung kecil Daelja. Seperti adegan Snow White yang terbangun setelah dicium oleh sang pangeran, mata beriris cokelat redup itu pun terbuka. Beberapa kali mengerjap untuk menyesuaikan penglihatannya. Tidur di pelukan Sehun memang yang paling terbaik.

“Ah, Baekhyun oppa. Mianhae, aku merepotkanmu lagi, ya?” Daelja mengubah posisinya menjadi duduk di atas kasur. Menatap Baekhyun yang juga menatapnya sambil tersenyum. Seakan tenggelam dalam pesona Baekhyun, gadis itu tidak bisa mengalihkan pandangannya sedetik pun. Melihat Baekhyun  yang sudah siap berangkat ke sekolah, dengan rambut yang ditata naik ke atas, dan aroma khas yang menguar dari tubuhnya. Itu semua membuat Daelja terpaku. Apalagi sekarang Baekhyun sedang tersenyum ke arahnya, bagaimana ia bisa berpaling?

Dering handphone Baekhyun membuat Daelja tersadar, “Ya ada apa, Jongin?”

Kenapa lama sekali? Kau jangan sengaja berlama-lama disana, bodoh. Kau tahu, Kyungsoo sudah merengek dari tadi. Takut dihukum.” Baekhyun terkekeh, kemudian menyerahkan handphone nya ke Daelja.

Hey, Park Baekhyun, aku tahu sekolah tutup pukul 07:30, tapi sadarlah bodoh! Jarak rumah kita cukup jauh. Jangan menggoda adik manisku, dan suruh dia cepat-cepat bersiap.” Itu Chanyeol. Berbicara tanpa henti, tanpa tahu bahwa ia sedang berbicara dengan Daelja.

Dan Daelja sendiri, entah mengapa mukanya menjadi memerah. Kata ‘Adik manisku’ membuatnya merasakan sesuatu yang aneh. Terlebih lagi, semalam ia merasakan sesuatu yang baru baginya, dan itu bersama Chanyeol.

“O-Oppa, ini aku. Maaf aku membuat kalian menunggu, aku akan segera bersiap.”

Tanpa memutuskan sambungan, Daelja segera bangkit dari kasurnya. Handphone Baekhyun ia letakkan begitu saja di atas kasur, sementara pemiliknya sudah hilang entah kemana.

Dengan tergesa-gesa, Daelja masuk ke kamar mandi. Berjalan ke wastafel untuk membasuh mukanya dan membersihkan giginya. Setelah itu, ia memakai pelindung kepala, karena ia tidak ingin keramas.

Daelja mulai melepaskan pakaiannya, tapi pada saat tangannya ingin membuka celana piyama yang ia gunakan, telinganya mendapatkan suara shower. Tentu saja itu membuatnya menghentikan aktivitasnya. Siapa yang menyalakan shower selain dia? Ah, atau mungkin itu Baekhyun? Makanya ia menghilang tadi?

Dengan pelan, Daelja berjalan mendekat kemudian mengintip dari balik tirai. Matanya membulat, sangat terkejut ketika ia mendapatkan kakak super tampannya sedang menikmati guyuran shower.

“AAAAAAKK!!” Daelja berlari keluar dengan tergesa-gesa. Ia sangat melupakan fakta bahwa Sehun dan dia sudah berbagi kamar. Itu berarti, merupakan hal wajar jika Sehun juga menggunakan kamar mandinya.

“Yak!! Sehun oppa gunakan kamar mandi yang lain!!!” Teriak Daelja lagi; tanpa mengetahui, semua ucapannya terdengar oleh kakak-kakaknya yang lain, yang telah menunggu di atas mobil.

—–

“Misiku telah selesai~!” Baekhyun membuka pintu mobil dan segera mendudukkan pantatnya. Disampingnya terlihat Chanyeol dengan handphone di telinganya.

“Halo? Ada orang? Hey, cepatlah! Baekhyun!? Kemana kau!?”

Baekhyun yang melihat itu terkikik geli. Ia menjitak kepala Chanyeol, “Aku disini bodoh!”

Chanyeol meringis dan segera menoleh ke arah Baekhyun, “Sejak kapan kau disini?!” Tanyanya dengan mata yang melotot. Melihat ini, Jongin tertawa.

“Dasar kalian bodoh.” Tanggapnya yang disetujui oleh anggukan Kyungsoo.

“Chanyeol saja yang bodoh! Aku kan sudah menyerahkan handphone ku ke Daelja.” Baekhyun mengangkat kedua bahunya, “Ya dan aku juga sudah berbicara dengannya. Dia bilang dia akan segera bersiap-siap, tapi sambungannya tidak dimatikan. Ku pikir kau akan berbicara lagi. Hah, kau membuatku terlihat bodoh.”

Chanyeol menjitak kepala Baekhyun saat melihat pria itu tertawa mengejek padanya. Sekarang mereka impas. Chanyeol menurunkan handphone dari telinganya dan akan memutuskan sambungan. Namun, jarinya terhenti saat mendengar suara teriakan Daelja.

“AAAAAAKK!!”

Chanyeol dan Baekhyun saling menatap. Dahi mereka sama-sama mengerut. Jongin yang duduk di depan segera berbalik ke belakang, menatap Chanyeol dan Baekhyun yang juga saling tatap. Kemudian pandangannya beralih ke Kyungsoo yang sudah menutup bukunya akibat teriakan Daelja. Kyungsoo mengangkat kedua bahunya saat mendapat tatapan dari Jongin.

“Yak!! Sehun oppa gunakan kamar mandi yang lain!!!”

Mata Jongin membulat, “Ini tidak bisa dibiarkan.” Ia segera keluar dari mobil dan berlari menyusul Daelja dan Sehun. Chanyeol dan Baekhyun  pun melakukan hal yang sama. Kyungsoo mendesah pelan sembari melirik jam tangan yang melingkar di pergelangan tangannya itu.

“Halo, selamat pagi Paman Jongdae. Aku minta tolong datanglah ke sekolahku, dan beritahu guru piket, aku dan lainnya izin tidak masuk untuk satu hari.”

Setelah melakukan panggilan itu, Kyungsoo mengikuti jejak kakak-kakaknya. Tidak pelan, namun tidak terkesan terburu-buru juga.

Kini ia telah berada di depan kamar Daelja. Ia membuka pintu dan mendapatkan seluruh mata memandang dirinya. Disana terlihat Daelja yang duduk di kasur sembari menutup mukanya. Chanyeol, Baekhyun dan Jongin sedang menatap Sehun yang hanya memakai handuk untuk menutupi bagian utamanya.

Kyungsoo berjalan mendekati Daelja. Ia duduk disampingnya; kemudian melayangkan tatapan datarnya ke Sehun. “Hyung harusnya memakai kamar mandi di dalam kamarku saja.”

Sementara itu, Chanyeol dan Baekhyun terus terkikik geli. Chanyeol menepuk pundak Sehun, dan berkata “Sehun jjang~! kau terlalu terburu-buru.” Baekhyun tertawa menanggapi perkataan Chanyeol, kemudian mereka berjalan ke arah Daelja dan Kyungsoo.

“Yak! Kenapa disini seperti aku yang salah?” Sehun berujar tidak terima. Jongin yang mendengar itu hanya menggelengkan kepalanya, “Tentu saja the blame is on you, bro.

“Tidak, bukan salah Sehun oppa. Aku yang lupa bahwa aku sudah berbagi kamar dengannya. Hehehe, mianhae, oppadeul.” Daelja mengangkat jari telunjuk dan jari tengahnya; membentuk sebuah peace.

“Kyungsoo, beritahukan Paman Jongdae—“

“Sudah kulakukan.” Potong Kyungsoo, karena ia sudah tahu apa yang akan Jongin katakan.

“Kita tidak sekolah?! WAAAAHH SENANGNYAAAA~~” Baekhyun mengangkat kedua tangannya ke udara. Wajahnya benar-benar ceria.

Sama hal nya dengan Chanyeol. Senyuman tak pernah lepas dari wajahnya. Ia bertukar tinju dengan Baekhyun dan sama-sama mengatakan, “YES!”

Kedua pria riang itu segera bangkit dari duduknya dan berjalan meninggalkan kamar. Katanya, sih, mereka ingin bermain PES. Jongin yang melihat kedua saudaranya itu hanya menggeleng maklum. Kemudian pandangannya ia alihkan ke Daelja yang masih setia duduk di samping Kyungsoo. Sedangkan Sehun, sudah hilang. Ia pergi ke kamar tamu­—kamar dulunya— untuk mengambil pakaian yang memang belum ia pindahkan ke kamar Daelja.

“Ayo sarapan.” Kyungsoo bersuara, menggenggam tangan Daelja dan menariknya keluar kamar; meninggalkan Jongin seorang diri. Jongin yang tidak tahu ingin berbuat apa, malah menghempaskan tubuhnya ke atas kasur Daelja dan mulai memejamkan matanya; memasuki dunia mimpi.

—-

Saekki-ya, Chanyeol! Berikan aku kesempatan!” Baekhyun terus menyumbangkan suara berisiknya, ketika lagi-lagi Chanyeol mengalahkannya di game PES. Baekhyun memang tidak terlalu jago jika bermain PES. Namun, jika di game lain, Chanyeol akan bertekuk lutut padanya. Tapi ya mau bagaimana lagi, Chanyeol mengajak Baekhyun untuk bermain game ini. Sebagai lelaki sejati, ia tidak bisa menolak tantangan.

Waktu sudah menunjukkan pukul 03:00 sore. Dan ya, kedua lelaki itu sudah bermain game sejak pagi. Bahkan seragam sekolah masih melekat pada tubuh mereka. Sementara Daelja sendiri sedang berada di kamar Kyungsoo.

Setelah sarapan tadi, Kyungsoo mendapat telepon dari salah satu teman kelasnya. Memberitahukan bahwa besok akan ada ujian Matematika mendadak. Namun, jika mendadak, mengapa mereka sudah tau? Ini karena kelas lain yang memiliki guru Matematika yang sama dengan kelas Kyungsoo dan Daelja, sedang berduka karena harus menghadapi ujian Matematika mendadak itu. Maka dari itu, kelas Kyungsoo dan Daelja mengantisipasinya dengan belajar mulai dari sekarang.

“Untuk nomor ini, kau harus tulis terlebih dahulu, kemudian masukkan angka yang berada di soal itu..” Kyungsoo mengarahkan ujung pena nya tepat ke soal nomor 2 yang menurut Daelja dapat menghanguskan otaknya. Bukannya ia bodoh, hanya pelajarannya saja yang sulit. Tapi, Daelja juga bukan termasuk siswa-siswa umum yang membenci Matematika. Ia suka dan ia sedikit bisa, jika itu materi bangun ruang.

“Aku capek.”

“Sejak tadi kau belum keluar dari materi ini dan sekarang kau menyerah?  Mau jawab apa kau besok?” Kyungsoo menggeleng melihat kakak 10 menitnya itu. Sedangkan yang ditegur hanya menghela napas kasar. Ia membaringkan tubuhnya di kasur Kyungsoo dan akan memejamkan matanya jika saja Sehun tidak menginterupsinya.

“Daelja-ya, tidak usah dipaksakan. Ayo ikut bersamaku.” Sehun mengelus kepala Daelja dengan lembut.

“Kapan hyung masuk ke sini?”

“Mungkin 5 menit yang lalu, tapi kau terlalu fokus mengajari Daelja sehingga tidak menyadarinya. Sudah, aku akan membawanya dulu. Kau sudah membakar otaknya.” Sehun tersenyum kepada Kyungsoo yang dibalas dengan decakan sebal.

Pria berperawakan kurang tinggi itu bangkit dari duduknya. Membersihkan buku dan berbagai peralatan yang mereka gunakan untuk belajar tadi, “Datanglah ke kamarku setelah makan malam.”

Sedangkan yang sedang jadi pokok permasalahan, hanya tersenyum dan mengangguk dengan antusias, “Jadi aku boleh pergi? Wah, padahal baru belajar beberapa jam tapi rasanya sudah berhari-hari. Sehun oppa, ayo!” ia merangkul lengan Sehun dan mereka meninggalkan kamar.

—-

“Soal tadi pagi, aku minta maaf.” Ucap Sehun dengan datar. Kini mereka berada di Starbucks. Sambil menyesap Iced Coconut Milk Mocha Macchiato miliknya, Daelja tersenyum.

“Sudah kubilang bukan salahmu. Aku hanya lupa pada fakta sepenting itu, hehehe.” Dan ia mulai lagi. Tersenyum menampilkan deretan gigi rapihnya disertai dengan acungan peace. “Bagaimana pun, oppa. Rasanya semalam aku benar-benar tidur dengan nyenyak. Sudah pernah kukatakan, bukan? Pelukanmu memang paling terbaik!” Kini giliran ibu jarinya yang teracung.

Sehun yang sedang meminum Caffè Americano pun tersedak saat mendengar perkataan Daelja, “Ah rasanya aku juga tidur nyenyak semalam.” Ucapnya dengan pelan; diiringi dengan senyuman lebar di bibirnya.

Sekitar 30 menit sudah terlewatkan. Mereka hanya membahas beberapa hal-hal yang lucu dan menarik untuk dibahas. Hingga saatnya sesuatu terlintas di pikiran Sehun.

“Daelja-ya, saat aku pindah ke kamarmu, kau tidak menyadari keberadaanku selama kurang lebih 3 menit. Dan aku melihatmu sangat fokus pada handphone mu. Bukan hanya itu, bahkan headphone sudah terpasang di telingamu. Apa yang kau lakukan?”

“Ah, yang waktu itu.” Tiba-tiba saja, Daelja merasa gugup. Apa yang akan terjadi padanya jika ketahuan ia sedang memperhatikan seorang pria? Jangan sampai ia dianggap mengabaikan perintah kakak-kakaknya, “Em….”

Melihat kegugupan yang terpancar jelas di wajah Daelja, Sehun mengernyitkan dahinya. “Apa itu ada kaitannya dengan seorang pria? Kau terlihat gugup.”

“Oppa! Aku tidak menyukainya, sungguh! Aku hanya penasaran! Kami bahkan tidak pernah saling bicara, bertatapan saja pun tidak. Aku tidak mengabaikan perintah oppa. Sungguh…..” Daelja menggenggam tangan Sehun dengan erat. Menatap pria itu dengan cemas.

Sedangkan Sehun sendiri tidak menyangka reaksi adiknya akan begini. Padahal ia hanya bertanya mengenai kaitan dengan seorang pria, tapi jawaban yang ia dapatkan justru mengarah ke perasaan. Dan hal itu membuat rahangnya mengeras. Siapa pria itu? Yang berhasil membuat adiknya penasaran.

“Sebaiknya kita pulang.” Ujar Sehun datar; menatap Daelja yang sedang menggigit bibirnya. Pria itu melepas genggaman adiknya dan kemudian berbalik menggenggamnya; menariknya keluar dari café untuk kembali ke rumah. Masalah ini sebaiknya diselesaikan di rumah.

 

To Be Continued

7 thoughts on “[EXOFFI FREELANCE] Brother(s); Same Room (Chapter 4)

  1. Sumpah aku iri banget sama daelja yang dikelilingi kakak kakak super ganteng dan over protective kaya mereka wkwk
    Yaelah sehun tidur nya nyenyak amat, sampe baekhyun harus teriak teriak banguninya
    Oh ya sebenernya rencana kakak kakaknya daelja itu apa sih? Mereka adik kakak yang membingungkan
    Masa iya sehun gak ngunci kamar mandinya? Atau emang sengaja biar daelja masuk ? Lah kan pas di kamar mandi daelja udah buka baju, berarti sehub liat dong?

  2. Ahhh., akhirnya di Up juga

    Aigoo., enaknya jadi daelja tapi masih hal yg wajar jgn berlebih(?)..wkwkwk
    Uhmm., kayaknya yang waras alias gx ngikut” Kyungsoo oppa doang deh#Plaakk, coz smuanya kan kek begitu smua yahh..kkkkk

    Next kak ditunggu klanjutanya^^

  3. Aahh akhirnya yang ditunggu keluar juga waaa makin seruuu aku sukaa aku sangat suka karakter sehun disini dibanding yang lain soalnya cool pendiam gimana gituu wkwkwk daelja polos bgt yak hftt ditunggu next chapternya kak ^^ fightingg!!

  4. Aku udah lama nungguin ffmu loh. Wah sehun menang banyak dong ya dari saudara-saudaranya yg lain 😑 daelja kapan bisa berpikir lebih dewasa ya. Polos bangeeett 😑😣 kalo daelja kenal yixing juga nggak masalah. Tapi yg masalah lainnya mungkin saudara-saudaranya nggak mau relain daelja sama orang lain. Tuh aja rahang sehun udah mengeras dengernya 😑😑

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s