[EXOFFI FREELANCE] Two Rings (Chapter 4)

CYMERA_20160720_205741.jpg

Title | Two Rings

Author | RahayK

Main Cast |

Kim Jong In as Ha Seung Wo

Kang Seul Gi as Kang Sung Ah

Additional Cast |

Ji Yeon as Ahn Ri Ahn

Suho Kim as Choi Joon

Genre |

AU x Angst x Friendship x Family x Romance x Sad

Rate |

PG -15

Length |

Chapter

Disclaimer |  Fanfic Ini milik penulis. Inspirasi dari  berbagai sumber. Apabila ada kesamaan cerita itu hanyalah ketidak sengajaan dan bukan tindak Plagiat.

Para tokoh yang ada hanya untuk visualisasi sebagai kebutuhan cerita dan tidak ada maksud untuk mengeship mereka didunia nyata!

A/N |

DILARANG MENG COPY -PASTE KARYA INI!

DILARANG PLAGIATISME KARYA INI!

DILARANG MEREBLOG CERITA INI KECUALI DARI PIHAK PENULIS FF!

Comment be allowed!!

“Ri Ahn -ssi, selamat atas pernikahanmu.Kau terlihat sangat cantik sekali hari ini.” Sung Ah membungkukkan badannya, begitu juga dengan Ri Ahn, gadis itu tersenyum.

“Eoh, Sung Ah-ssi matjyeo?Oraemaniyeo..Maafkan aku lupa mengundangmu. Oh ya, dimana Seung Wo?”

Sung Ah menoleh kearah luar sebentar, ia tersenyum simpul kepada Ri Ahn. “Tidak apa-apa Ri Ahn -ssi. Oh ya, soal Seung Wo..’

Sung Ah terdiam sejenak ia melirik ponselnya yang terdapat panggilan masuk dari Seung Wo namun Sung Ah tak menghiraukannnya lalu melanjutkan “… dia tidak bisa hadir hari ini untuk itu aku yang mewakilkannya, maafkan sekali  Seung Wo sekali lagi, Ri Ahn -ssi..’

Raut wajah Ri Ahn tampak kecewa, namun ia masih mengulas senyum simpul. “Tidak apa-apa, justru aku berterimakasih padamu, Sung Ah -ssi. Karena ia sudah datamg..tapi, jika aku boleh tahu, apa alasan Seung Wo tak bisa hadir?apa karena hari itu?Yah, Sung Ah -ssi pasti tahu maksudku mengingat kau adalah sahabatnya Seung Wo.” Ri Ahn menatap Sung Ah memohon, “Aku mengerti. Tapi, sungguh kejadian hari itu tak ada kaitannya dengan halangannya dia untuk hadir hari ini.Seung Wo bilang padaku, bahwa ia harus ikut tes wawancara disebuah perusahaan, ia sudah berniat datang namun ia menghubungiku karena ia berhasil lolos jadi, ia harus masuk ketahap selanjutnya, dan ia bilang agar aku mewakilkannya untuk bilang padamu.”

Ri ahn menggangguk mengerti setelah mendengar klarifikasi dari Sung Ah, ia tersenyum seakan -akan Sung Ah berkata jujur dan kondisinya seperti itu, padahal tidak sama sekali.

“Oh ya,kau harus siap-siap. Aku akan keruang resepsi.Jika saja Seung Wo melihatmu dari dekat ia pasti bilang padaku bahwa kau sangat cantik hari ini.Aku permisi dulu, Ri Ahn -ssi.”

|Two Rings|

C H A P T E R 4

“Halo, Ibu apa Seung Wo sudah berada dirumah?”

“Tidak, dia belum tiba. Ada apa?”

“Aniya, sudah dulu ya bu.Nanti aku hubungi lagi.”

“Baiklah.”

***Two Rings***

Sung Ah berjalan kesana kemari, ia sudah berbagai tempat namun sosok Seung Wo tak juga ditemukan.Langit mulai gelap, Sung Ah memutuskan untuk berjalan menyusuri taman sungai Han barang kali ia bertemu Seung Wo disana.

Sebenarnya, sebelum berangkat tadi Sung Ah sudah meminta sesuatu dari Seung Wo yaitu mereka akan melihat air mancur menari setelah acara pesta pernikahan Ri ahn usai. Namun, Seung Wo sudah menghilang entah kemana.

Sung Ah membeli minuman kaleng dingin dan menenggaknya dalam sekali teguk.Langkahnya tiba-tiba terhenti, ia menghela nafasnya berat, netranya melihat kesebuah arah dimana seseorang sedang duduk sendirian menghadap kesungai Han dengan minuman alkohol ditangannya.

“Sudah puas?” Sung Ah bersuara seraya menuruni anak tangga. Ia menoleh kearah Sung Ah dan tersenyum getir.

“Tidak.” ia bersuara, terdengar parau dan setengah sadar. Sung Ah terduduk disampingnya, pandangan Sung Ah tak teralihkan dari mata Seung Wo yang sedang terpejam, ia meneguk minumannya sekali lagi.

Entah mengapa, ia merasa miris melihat sahabatnya seprti itu.Dan,seorang Sung Ah tak bisa melihat sahabatnya seperti itu diatas hal yang membuatnya semakin merasa miris pada Seung Wo, benar.. Sung Ah menyukai Seung Wo, terlalu klise memang, tapi jika dipikir-pikir bahkan sebelum Seung Wo jatuh cinta untuk pertama kalinya pada seorang Ahn Ri Ahn seorang Sung Ah sudah menyembunyikan perasaan itu jauh sebelum itu.

Kini, Seung Wo setengah sadar akibat pengaruh alkohol,memang Seung Wo bukan lelaki yang hebat dalam hal minum.

“Ya~, jangan menatapku penuh kasihan begitu..Sung Ah-ya, kau tahu?pada akhirnya aku tak mampu untuk melepaskan Ri Ahn..

Kau tahu, pikiran apa yang melintas dibenakku ketika melihatnya duduk manis diruangan tadi?-‘

Seung Wo menoleh kearah Sung Ah yang sedang memandang kearah sungai Han.

“…membawanya pergi jauh.Sung Ah-ya, kau mendengarkanku tidak?-‘

Seung Wo mengguncang tubuh Sung Ah dan berteriak. “Aku dengar,  aku mendengarmu!terserah kau melakukan apapun, berkata apapun, aku tak perduli..-‘

Sung Ah kembali beranjak, berjalan beberapa langkah kedepan dan menikmati pemandangan air mancur menari yang baru saja dimulai. Seung Wo mengekori  Sung Ah dan berdiri disampingnya.

“..tak ada yang lebih membuatku seaneh ini,Ri Ahn bahagia, seharusnya aku begitu, tapi…mengapa aku merasakan sakitnya disini?-‘

Air mata mulai mengalir dari netra Seung Wo, ia terisak. Sung Ah masih fokus pada pertunjukkan, ia ingin menghiraukan Seung Wo lebih dari apapun, ia hanya menoleh nafasnya berat, dan segera berjalan mendekat, memeluk Seung Wo dan mengelus pelan punggung lelaki itu.Berharap semua kesedihannya terbayar bahkan bisa berkurang walau hanya sedikit.Seung Wo masih terisak, lalu melepaskan pelukan yang Sung Ah berikan.Seung Wo memegang pipi Sung Ah wajahnya mendekat dan mencium bibir Sung Ah beberapa saat, Sung Ah melangkah mundur

Plak!

Sung Ah menampar pipi Seung Wo dengan mata yang berkaca-kaca. “Aku sahabatmu, tapi kau tak menghargaiku sebagai seorang wanita, Ha Seung Wo!”

Sung Ah pergi dari sana, tak perduli lagi pada Seung Wo yang masih memanggil-manggil namanya untuk mendengar penjelasannya.

**Two Rings**

6 bulan kemudian..

“Seung Wo -ah, ayo waktunya makan siang.” ajak seorang rekan Seung Wo, sedangkan Seung Wo masih berada didepan layar pc nya

“Ooh, kalian duluan saja. Ada beberapa hal yang harus kukerjakan sebentar, Jong Dae -ya” kata Seung Wo seraya mengulas senyum simpul. “Baiklah, nanti jika tak sempat keluar kau bisa menghubungiku untuk kubelikan makanan.”

Jong Dae segera keluar dari ruangan bersama beberapa orang lain yang berada disatu ruang kerja yang sama dengannya.

Seung Wo POV

Musim panas berlalu, dan musim gugur tiba.Waktu berlalu begitu cepat, tak terasa enam bulan berlalu.Aku mendapat kabar bahwa Ri Ahn pergi ke Jepang untuk beberapa waktu setelah ia menikah beberapa waktu lalu.

Aku men-scroll akun sns ku, mengecek beranda dan aku jemari ku berhenti pada suatu postingan milik Sung Ah.Hanya sebuah foto daun musim gugur dan secangkir coffe-latte, tak ada pesan apapun dibawahnya.

Aku yakin, aku sedang menaikkan sudut bibirku sekarang.Aku menge-klik akun milik Sung Ah. Postingan sebelum foto terbaru itu bertanggal dihari itu,  Hari H nya Ri Ahn, dan.. hari dimana hubungan kami merenggang.Hanya sebuah potret kabur dari pertunjukkan air mancur disungai Han hari itu. Dan, selama itu juga kami tak bertemu.

Kami, berada dibangunan yang sama, rumah yang sama,ruang tv yang sama, ruang makan yang sama, bus yang sama.Tapi,, kami tak pernah membicarakan hal yang sama, bergurau yang sama, bercanda bersama, tertawa bersama.Sama sekali tak pernah lagi, sejak hari itu.

Tak pernah ada waktu untuk aku bisa bersama Sung Ah atau Sung Ah bisa bersama denganku.

Seung Wo menunggu diteras depan rumah Sung Ah dan ibunya.Ia hanya memandang bintang dilangit gelap malam itu.Terdengar suara pintu besi yang tergeser. Dan itu Sung Ah, Seung Wo tersenyum dan segera bangun ia menghampiri Sung Ah

“Sung Ah -ya, aku membeli dua tiket konser. Ayo, kita pergi besok.”

“Aku sibuk.”

**

“Sung Ah-ya, ayo makan malam. Hari ini Seung Wo yang memasaknya, cobalah dulu rasanya enak.”

Sung Ah hanya membuka kulkas dan membawa air mineral dan segelas cangkir besar.

“Tidak bu. Aku sudah makan tadi bersama Ye Ri. Aku mau langsung mandi dan tidur saja.Nikmati saja makan malam kalian.”

“Sung Ah -ya? hari  ini ulang tahunmu bukan? Seung Wo sudah memasakannya untukmu.. cobalah sedikit.”

Sung Ah tak menjawab dan hanya masuk kedalam kamarnya.

**

Tak lagi ada saat-saat seperti itu.Dan aku merindukan waktu dan saat -saat itu.

Aku merindukannya.

Merindukan persahabatan kami.

Apa, ini akhir dari kami?

Drrtt drtrttt

Aku melirik ponselku yang terus bergetar, terdapat panggilan masuk,

–Incoming call–

**Uri Kkang-sseul**

Atau, kami dapat memulainya lagi?

dari awal?

TBC

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s