[EXOFFI FREELANCE] OVERDOSE (Ficlet)

overdose-posteer

OVERDOSE

Author : Aeeshy

Lenght : Ficlet

Genre : Phsychology

Rating : +15

Main Cast : Kai I Lay I Cazzy (OC)

======

“aku menemukan jati diriku pada mu. Tergambar sebuah lentera jiwa kedua, yang mana mustahil oleh beberapa manusia. Tapi aku nyata, aku hidup, aku bernafas. Mennggambarkan apa yang di sebut dengan L.O.V.E. Aku terbunuh, mati tanpa sentuhan luka yang kau berikan. Mati secara ajaib dalam kegelapan hidup di bawah naungan mu. Cinta yang telah meracunisetiap detail organ dalam tubuh ini. Bahkan ia berjalan tanpa kau menuntunnya. Aku adalah bayangan mu, Tidak, aku terbunuh oleh khayalan elok dari mu, ini berlebihan, ya aku sadar akan hal itu, aku mencintaimu”

Begitu kiranya gambaran batin yang di katakan oleh Kai Brown. Sembari menyayat lengan bagian atasnya dengan bilah pisau bedah yang ia pegang. Menuliskan sebuah nama, Cazzy. Wanita yang membuat dirinya ‘terbunuh’ secara perlahan. Bertetes tetes darah mengalir perlahan hingga membasahi seluruh tangannya. Kai, seorang yang tergila gila akan khayalan semunya, tersenyum menatap kaca. Melihat sedikit demi sedikit darah yang turun dan nama Cazzy mulai tersusun.

Mungkin ini sudah ke 90 kali nya, Kai menyayat seluruh bagian tubuh nya dengan menuliskan nama Cazzy. Kekasih sang kakak yang sangat ia puja. Dan mungkin sekarang bukan luka yang lagi Kai rasakan. Namun perasaan puas saatselurut tubuhnya tersayat dengan membentuk nama seorang perempuan yang diam diam membuatnya gila. Ia tega membunuh dirinya sendiri untuk seorang wanita yang ta pernah menoleh sedikitpun padanya.

“aku mencintaimu, Cazzy”

= = = =

Kai keluar dari kamarnya dengan mengenakan kaos pendek, celana dan hoodie serba hitam. Ia menelangkupkan bagaian kepala hoodi hingga menutupi setengah wajahnya. Bahkan ia lebih mirip dengan seorang mavia bayaran dari pada seorang mahasiswa.

Ia menyambar segelas air putih yang tersedia di meja. Namun, niatnya untuk meneguk air tersebut terurung saat mendengar dentingan bel rumahnya berbunyi. Ia kembali berjalan ke arah daun pintu setelah mengabet tas ransel nya berwarna hitam.

Ia sedikit tersentak melihat siapa yang datang. Sontak Kai menggambarkan senyum terbaiknya untuk tamu yang datang kerumahnya di pagi buta.

“Lay Hyung,?”

“mau sarapan bersama,?” tawar seorang namja dengan kaca mata Harry Potter yang ia kenakan. Tidak lain dan tidak bukan. Ia adalah Lay –kakak laki laki Kai.

“tentu,” .Belum sampai mereka melangkah satu tapak pun. Tiba tiba ponsel Lay berbunyi tanda pesan masuk.

“ada apa,?” tanya Kai.

“maaf, Cazzy menungguku, ban mobilnya bocor di tengah jalan,”. Sudah Kai duga. Itu adalah Cazzy

“ya sudah, pergilah,kita bisa sarapan bersama lain kali,”

“gomawo,”. Lay berlalu dengan sedikit berlari menuju mobilnya. Sontak pandangan Kai berubah menyeramkan. Menatap punggung sang kakak hingga tertelah mobil, dan bahkan Kai tetap menatap tajam mobil sang kakak yang mulai berlalu.

===

Kai mengiris sebuah stick di hadapannya. Ia memutuskan untuk sarapan seorang diri di sebuah restoran cepat saji. Jam sepagi ini restoran masih sepi oleh pengunjung. Bahkan mungkin Kai adalah pengunjung pertama mereka.

Sudah dari 15 menit lalu tak satupun daging yang ia telan. Ia hanya mencincang daging tersebut menjadi potongan potongan kecil. Naas, daging empuk nan mahal itu hanya menjadi korban ketidak warasan Kai. Sesekali Kai tersenyum sinis melihat daging daging tersebut dengan tatapan tajam nya.

“apa aku harus sehancur ini untuk mendapatkanmu,”. Kai mendecih seorang diri. “anya, bahkan aku lebih hancur dari ini,”

TING TING TING TING

Kai memukul kecil gelas yang berada di hadapannya. Hingga memperdengarkan bunyi khas kaca yang terpukul secara perlahan.

Pukulannya terhenti pada dentingan ke 15. Pandangannya teralih pada bilah pisau stick yang ia gunakan untuk memukul gelas. Kai tersenyum sinis. Ia kembali menyayat diirinya dengan pisau. Kini telapak tangannya yang menjadi korban. Satu sayatan melingtang berhasil tertoreh hingga mengeluarkan darah. Entah apa yang ada di fikiran Kai, Ia meneteskan darahnya di atas stick yang beberapa waktu lalu ia potong. Seolah darah segar nya menggantikan sauce tomat yang belum ia tuangkan.

Kai tersenyum puas, sangat terlihat dari sosot matanya yang tajam. Ia mengehntikan tetesan darah tersebut dan mengelap nya dengan tissue. Ia kembali meraih pisau stick tersebut beserta garbu di sebelah kirinya.

“selamat makan, Cazzy,”. Kai melahap satu persatu daging cincangan dengan darah dari tangannya sendiri sebagai sauce segarnya. Tanpa rasa jijik sedikitpun Kai menelan habis satu porsi stcik yang ia pesan. Dan membiarkan darah yang ia keluarkan dengan paksa kembali masuk kedalam kerongkongannya. Seolah tak terjadi apa apa.

====

15 tahun lama nya. Kai harus rela memendam perasaan terdalam nya pada Cazzy –sahabat Lay. Sekaligus ia harus memendam kebencian terbesarnya tatkala mendengar nama sang kakak lah yang suatu saat akan menjadi calon suami Cazzy. Sejak saat itu, Kai berubah drastis. Apalagi sepeninggal ayah dan ibunya. Kai tak lagi tinggal serumah dengan Lay, karna kakaknya itu harus bekerja di Seoul. Kai yang sekarang lebih dingin, tertutup bahkan terkesan mengurung diri, dan menjadi orang yang misterius.

Pernah suatu hari ia berfikir lebih gila dari biasanya. Ia berniat membunuh kakaknya sendiri. Namun, tangannya gemetar saat rekaman masa kecil nya bersama sang kakak terputar kembali. Dan mengingat Lay lah yang membiayayi hidupnya setelah orang tua mereka meninggal dunia.

Kai semakin terkurung dalam kebenciannya. Ia tak bisa melepaskan kebencian kepada seorang yang tak bisa ia benci. Ia tak bisa keluar dari keterpurukan karna mencintai seseorang yang telah membunuhnya secara perlahan.

=============

BRAKKK !!!!!!!

Genangan darah tumpah ke jalanan kota saat pemilik kepala tergeletak tak sadarkan diri tengah kerumunan banyak orang. Sirine ambulans terdengar santer mendekati arah kerumunan. Kai Brown di larikan ke Rumah Sakit akibat kecelakaan truk yang menimpanya.

——–

2 Hari berlalu.

Kai berusaha membuka matanya yang terasa sangat berat pasca tidur panjangnya selama 2 hari. Pandangannya mendapati ruangan serba putih dimana ia sedang tertidur sekarang. Kepala nya terasa pening untuk menoleh,sekujur tubuh terasa tertusuk jarum saat ia mencoba menggerakkannya. Namun meski begitu, ia tetap berusaha untuk bangkit dan mendudukkan dirinya.

Pupil Kai membesar sempurna saat mendapati tak ada sehela benangpun yang menempel di bagian dada nya yang bidang. Hingga membuat seluruh sayatan yang ia buat terlihat oleh mata telanjang. Fikirannya melayang pada Cazzy dan Lay. Apa mereka sudah menjenguk nya,? Mengingat Lay sekarang berada di Pulau Nami untuk berlibur dengan Cazzy.

Matanya yang sayu berubah tajam. Tanpa merasakan sakit ia melepas infus yang tertanam pada tangan kirinya. Dengan sekuat tenaga Kai berjalan menuju arah belakang Rumah Sakit. Kai mencoba untuk kabur. Sontak seluruh perawat sekaligus dokter heboh di buatnya. Beberapa security juga mencoba untuk mengamankan Kai yang mulai mengamuk.

Namun, tak ada satu pun yang berani melawan atau bahkan mendekat pada Kai saat ia menudingkan pisau yang ia dapat dari meja sarapan paginya.

“siapapun yang berani melangkah kedepan, kalian akan berakhir di kamar mayat. Mundur kalian semua !!!!!”  Bentak Kai.

Ia terus berjalan pincang menuju jalanan yang ramai. Mau tak mau ia menjadi sorotan masyarakatdan membuat kota lebih gaduh saat ia berhasil menyayat lengan security yang berhasil menyentuhnya.

BRAKKK !!!

Kai membanting pintu rumahnya sendiri. Ia menyeret tubuhnya karna tak sanggup lagi untuk berjalan dengan seluruh luka yang ada pada tubuhnya.

“ARGH,”. Kai mengerang beberapa kali saat ia merasakan sakit luar biasa pada kepalanya yang masih terbalut perban. Ia mencengkeram keras kepalanya hingga perban tersebut terlepas.

Matanya menangkap satu bilah pisau dapur di meja dekat tubuhnya tergeletak.

BRAKKKKK !!!!!!

“AAAARGHHH,” Kai mengerang sangat keras saat ia berhasil menggulingkan meja besar yang menampung pisau yang tadi ia incar. Meja tersebut menindih kaki kanan Kai. Darah mulai mengucur saat gesekan tajam antara kaki dan sudut meja. Itu terjadi karna Kai menyeret tubuhnya untuk meraih pisau yang ia inginkan.

“dapat kau,” Berkat usaha keras nya yang menyakitkan, Kai berhasil meraih pisau tersebut yang mungkin akan mengakhiri nyawanya detik ini juga.

“Cazzy, aku mungkin akan meninggalkanmu, tapi tunggu, aku akan membawamu sebagai ratu ku di kehidupan mendatang,” Di sela sela kegentingan yang ia buat Kai masih sempat menyebut nama gadis itu.

JLEP

“KAI, !!!!!!!!” Teriak Lay saraya berlari menghampiri adiknya yang terkapar tak berdaya dengan pisau yang menancap di perutnya. Sementara Cazzy hanya terpatung di ambang pintu menikmati adegan menyeramkan yang terekam di hadapannya. Di tambah dengan seluruh sayatan yang ia lihat. Cazzy tak menyangka. Nama nya tertulis begitu menyeramkan di seluruh tubuh seorang laki laki yang sudah ia anggap sebagai adiknya sendiri.

“Kai, tolong bertahanlah, buka mata mu, kau tidak boleh mati dengan keadaan seperti ini, Kai !!!” Lay terus mengguncang wajah Lay. Memukul mukul kecil pada pipinya.

“Kai kumohon bangunlah,” Suara serak Lay mulai terdengan. Gerombolan butir air di sudut matanya telah gugur. Jatuh mulus pada pipi halusnya. Kesedihan Kai tak terbendung. Melihat ujung penderitaan Kai yang mengenaskan. Di tambah ia tak pernah tau apa yang Kai rasakan selama ini. Kepedihan macam apa yang Kai pendam hingga menyayat seluruh tubuhnya dengan nama Cazzy. Sejak kapan ia melakukan ini. Lay merasa gagal menjadi seorang kakak. Ia gagal menjaga adiknya sendiri. Harta satu satu nya yang ia punya setelah orang tuanya meninggal.

“KAII !!!!” Tangis Lay semakin pecah. Kai yang selama ini ia rawat, tak pernah terfikir satu kalipun di benaknya bahwa ia dan Kai mencintai orang yang sama. Lay merasa gagal membahagiakan adik satu satunya. Membuat Kai meninggal secara perlahan, adalah dosa terbesar dalam tubuhnya.

“Lay,,” sebuah suara lembut terdengar dari arah belakang. Lay menoleh perlahan.

“ayo kita makamkan Kai dengan layak,” aja Cazzy saraya membantu Lay untuk berdiri. Tiba tiba Lay memeluknya sangat erat.

“Cazzy, apa kau mencintaiku,?” tanyanya seraya mempererat pelukannya.

“tentu, mengapa kau bertanya demikian,?”

“apa kau mau melakukan apapun untuk membuktikan rasa cinta mu,?”

“tentu, apa yang harus aku lakukan,?”

Sejenak keadaan menjadi hening. Tiba tiba,,,

“AAKHH”

BRUK. Tubuh Cazzy terbanting ke tanah saat sayatan pisau yang Lay torehkan pada nya mengenai tepat pada urat nadinya. Cazzy tak lagi punya kesempatan merasakan sakit. Nyawanya sontak melayang saat itu juga. Tak ada yang di lakukan Lay saat menatap kekasihnya mati akibat ulah tangannya sendiri. Hanya expresi datar yang Lay gambarkan.

“maafkan aku Cazzy, bukan aku tidak mencintaimu, tapi lebih baik kau pergi dari kehidupan ku dan Kai, kehadiranmu menghancurkan semuanya”

Lay berbalik ke arah Kai lalu membopong adiknya tersebut. Bukan tanpa alasan ia membunuh Cazzy. Itu terjadi saat ia masih merasakan detak jantung Kai yang masih berdegup meskipun lemah. Lay melarikan Kai ke rumah sakit. Namun, selepas itu ia malah pergi meninggalkan Kai dan pergi menuju kantor polisi.

Dengan langkah pasti, ia melangkah menuju kantor kepala polisi secara langsung. Bisa di pastikan karir yang ia titi selama 6 tahun sebagai kepala detektiv pusat akan berakhir hari ini juga.

“Tenang Cazzy, Kai, aku akan menebus kesalahanku untuk kalian,”

SQUEL

Lay berjalan cepat ke arah mobil nya yang terparkir di Basement. Sesekali melirik jam tangan mereka ternama di tangannya. Sial. Entah sudah keberapa kali ia mengumpat karna kesiangan lagi hari ini. Itu gara gara tugas yang menumpuk tadi malam hingga membuat nya bangun di sambut teriknya matahari yang seolah sedang membentaknya untuk segera sadar.

TIT TIT.

Bunyi kunci sebuah mobil ferari keluaran baru berbunyi saat si pemilik mulai memasuki tempat duduk supir. Ia segera mengegas gegabah menuju Hotel dimana ia bekerja sebagai Manager di bidang tata boga disana.

Kehandalannya soal memasak membuatnya tak perlu repot repot untuk mencari kerja begitu dirinya terbebas dari jeruji besi selama 10 tahun lamanya. Kini adalah tahun ke 5 ia bekerja sebagai manager. Meski bukan ketua dari manager, gajinya yang bisa dibilang di atas rata rata lebih dari cukup untuk membiayai hidupnya seorang diri. Ya, seorang diri, tanpa ada satu orang pun yang menemani.

Lay beberapa kali menundukkan kepalanya. Membalas sapaan dari para pekerja hotel yang berada di bawah tingkatnya. Lay sangat di segani, karna sifatnya yang ramah dan easy going. Ia selalu bersikap lembut pada siapapun rekannya. Entah itu atasan atau pun bawahannya. Lay bukan tipe orang yang suka menyuruh nyuruh. Ia adalah pekerja keras kelas kakap. Ia selalu mengerjakan apa yang menjadi tugas nya dengan sangat baik.

Drrt Drrt Drrt

Ponselnya tak berhenti bergetar pertanda panggilan masuk.

TUT. Lay menempelkan layar ponsel di telinganya.

“Yeobseo, Sajangnim,”

“Waktunya makan siang,”

TUT. Tanpa memberi kesempatan Lay untuk menjawab ‘iya’. Penelfon yang ia panggil dengan sebutan Sajangnim itu segera memutus sambungan secara sepihak.

Tak mau membuat Direktur ketuanya menunggu. Lay segera membawa meja berisi banyak makanan kemudian berjalan menuju kantor ketuanya.

TOK TOK TOK. Lay memberi isyarat bahwa ia sudah datang.

“masuk,”. Saat mendengar perintah singkat itu Lay segera membuka pintu. Ia mendorong meja ber roda tersebut ke arah meja yang tersedia di depan sofa ruangan Direktur nya. Ia dengan telaten menata makanan tersebut agar tertata rapi dan tidak mengcewakan Direkturnya.

Tapak suara sepatu silento terdengar mendekati sofa. Lalu seseorang pemilik tubuh yang lebih tinggi dari Lay itu menghempaskan dirinya ke sofa. Lay menyadari kedatangan Direktur nya mendekat menuju sofa pertanda siap untuk makan. Ia segera menarik nampan yang ia bawa dan berniat untuk pergi.Namun…

“jika kau berani melangkah, aku akan memecatmu,” pekikan dingin terdengar dari mulut Direkturnya. Seketika Lay berhenti dan berbalik menatap Direktur nya yang sedang menatapnya lekat.

“Ne, Sajangnim,”.

Direktur tersebut mendengus kesal. Mengeluarkan perasaan muak setiap kali mendengar Lay memanggilnya dengan embel embel SAJANGNIM. Ia melonggarkan dasi nya lalu melepas jas nya. Merasakan hawa panas yang menggebu gebu dari dalam tubuhnya.

Kemudian ia kembali menatap Lay lekat. Sangat lekat.

“sudah berapa kali kubilang jangan memanggilku seperti itu Hyung,” ujar sang Di rektur kecewa. “KAI, !! Panggil aku Kai saat hanya adakita berdua, aku ini adikmu, kau melupakannya,?”. DI rektur yang tak lain adalah Kai, adik kandung dari Lay tersebut kembali mendengus saat melihat tak ada respon dari Lay. Ia hanya memasang wajah datar.

“Hyung, !!”

“jangan keras keras, nanti bisa terdengar dari luar,” Lay angkat bicara tanpa mengalihkan pandangan kosongnya menatap lantai.

Kai berdiri. Ia semakin muak dengan kelakuan kakak kandungnya ini. Sudah 15 tahun lamanya. Kai membangun Hotel yang ia bina seorang diri. Mengembangkan nama KL Group dari titik terbawah. Banting tulang ia kerjakan hanya untuk satu tujuan. Kelak ia akan bisa bekerja sama dengan kakak nya saat Lay sudah keluar dari penjara. Namun kini apa,? Lay menolak mentah mentah ajakan Kai untuk bekerja bersama sama. Dengan alasan tak ingin membuat Kai terluka saat melihat wajahnya. Apa itu gila,? Melihat perjuangan Kai seorang diri hanya untuk hidup layak dengan kakak semata wayangnya. Dan dengan alasan konyol bagi Kai itu seolah membuat runtuh bangunan kokoh yang sudah Kai kerjakan. Dengan paksaan berlebih, akhirnya Lay mau bekerja di Hotel milik Kai. Namun harus dengan satu syarat. Kai harus berperilaku seolah Lay bukan siapa siapa. Ia hanya pekerja nya yang ikut membangun nama Hotel. Itu membuat Kai semakin gila. Mau tak mau ia harus menuruti permintaan Lay yang mustahil itu. Hanya karna satu alasan. Ia tak mau melihat sang kakak memakan ramyun setiap harinya.

“sudah kubilang berhentilah memperlakukan ku seperti ini, aku muak Hyung, !!!” Lay hanya terdiam mendengar bentakan Kai.

“kumohon hiduplah bersama ku, aku adikmu, aku membangun Hotel besar ini dan menamakan nya dengan inisial kita berdua. Bahkan separuh dari Hotel ini adalah atas namamu, !! Kau berhak berkuasa disini Hyung,!!!” .Lay tetap tak merespon Kai yang mulai frustasi. Dan tak menyangka, bulir bening yang berada di ujung mata nya menetes. Sudah sangat lama ia ingin mengeluarkan air mata ini. Dadanya begitu sesak saat 5 tahun lama nya melihat sang kakak yang seolah tak menganggap dirinya ada. Memanggilnya ketua dan berperilaku seolah hubungan darah mereka sudah terputus. Hanya karna satu orang perempuan di masa lalu. Dia yang sudah meninggal dan memiliki duania yang berbeda. Apa itu masuk akal jika mereka tak kunjung memperbaiki hungan keluarga mereka,?

BRUKK. Kai runtuh dari pertahanannya. Ia menjatuhkan lututnya ke lantai seraya menunduk lesu. Mengeluarkan semua isak tangisnya di depan Lay yang masih saja terpatung. Keadaan semakin genting saat tangis Kai mulai mengeluarkan erangan berat. Yang seolah sudah mengendap begitu lama di dalam dadanya.

Tak bisa dipungkiri. Dalam diam Lay, hatinya terasa teriris mendengar erangan sang adik. Ia terus menangis di bawah sana. Mengeluarkan semuanya yang mungkin tidak Lay sadari jika Kai sehancur ini. Perlahan air mata Lay turun. Mewakili kehancuran hatinya karna lagi lagi ia melihat adiknya menangis karna perlakuannya. Tak berbeda dengan kehancuran hati Lay 15 tahun lalu.

“kau sudah membunuh perempuan itu untukku Hyung, tapi kenapa sekarang kau berbalik membunuh ku secara perlahan, semenjijikkan kah aku hidup di hadapanmu, ?!! Eoh,??!!!” Kai berucap dalam tangis keras nya. Lay memejamkan matanya, ia tak kuat melihat Kai yang sudah sangat hancur dengan wajah nya yang basah karna air mata.

“tatap aku Hyung, kumohon berikan perlindungan pada adikmu yang sekarat ini, kumohonn”  Kai memegang kedua lutut Lay seraya tetap menangis keras.

“seharusnya aku tidak selamat saat itu, aku bisa melihat mu dr atas, seharusnya aku tidak lagi muncul dihadapanmu, !!”. Hati Lay semakin tersayat mendengar sang adik mengutuk dirinya sendiri.

“bunuh aku Hyung, !!! aku lebih baik mati dan tidak lagi memendam rasa rindu padamu, bunuh aku, !!!!”. Lay mengangkat pundak Kai paksa dan

BUG BUG BUG BUG

4 kepalan tangan dari Lay mendarat mulus di pipi dan perut Kai tanpa ada perlawanan. Terlihat darah kecil mengalir dari hidung Kai akibat pukulan keras dari Lay. Kai tersungkur lemah, semakin lemah mengingat ia terus menangis. Seolah pukulan Lay tak menyisakan ngilu di ujung bibirnya.

“aku benar benar ingin membunuh mu,!!!!!” Kai mengalihkan pandangannya pada Lay yang baru saja membentaknya keras. Ia mendapati pipi Lay basah dengan air mata yang terus mengalir.

“aku benar benar ingin membunuhmu Kai, aku ingin membunuhmu,”

BRUK. Kini Kai dan Lay tak jauh berbeda. Kedua kakak beradik itu sama sama merasakan hancur.

“aku ingin lepas dari rasa bersalah ini, aku gila, aku gila saat melihat mu pertama kalinya,” ujar Lay saraya mengingat Kai lah yang menjemputnya dikantor polisi dengan wajah menampakkan kebahagiaannya. Tak sabar kembali merasakan rasa kekeluargaan dengan Lay.

“bertahun tahun aku mengucapkan maaf pada mu Kai, aku bermimpi tentang keadaanmu, aku gagal, AKU GAGAL MENJADI KAKAK YANG BAIK UNTUKMU, !!!!!!”

BUG. Satu pukulan keras mendarat mulus di pipi Lay hingga ujung bibir nya berdarah.

“CUKUP, !!! Berhenti mengutuk dirimu sendiri Hyung, !!!!! Kau bukan hanya pecundang, apa kau tidak sadar telah gagal untuk kedua kalinya,!!!! KAU GAGAL MEMBAHAGIAKAN KU, !!! KAU GAGAL MEMBAHAGIAKAN ADIK KANDUNG MU, !!!!”

BUG

Lay pasrah tubuhnya terpontang panting menerima pukulan dari adik kandung nya. Membiarkan amarah Kai terlampiaskan pada nya. Meski itu sangat sakit, namun tak segelintir niat pun untuk Lay melawan.

Kai kembali terduduk lemas. Tenaganya sontak habis karna menangis terlalu keras dan memukul Lay beberapa kali.

Lay memandang adiknya sendu. Kai sedang tertunduk lesu meratapi kesedihannya yang sudah berada di puncaknya. Perlahan Lay berdiri, langkahnya terseot seot karna terasa berat menopang tubuhnya yang lemah. Ia menjauthkan lutut nya ke samping Kai. Perlahan tangannya menepuk bahu Kai dengan alunan lambat.

“jangan menangis,” ujar Lay di sela sela aktifitasnya. Ia terus menepuk bahu Kai layaknya sang kakak yang menenagkan adiknya saat di ambang kehancuran. Punggung Kai semakin terguncang hebat, mendengar dan merasakan tepukan yang sudah sangat lama ia rindukan. Ia rindu saat dulu Lay sering melakukan ini tatkala ia menangis. Tanpa bertele tele melontar nasehat, Lay hanya mengatakan satu kalimat yang secara ajaib berhasil menyedot kembali kesedihan Kai. Kai merindukan itu, dulu, dan kini, ia merasakan haru luar biasa saat ia bisa kembali merasakan tepukan kecil dari sang kakak.

“sudah kubilang jangan menangis,” ujar Lay untuk yang kedua kalinya karna merasakan punggung Kai semakin terguncang. Tak di pungkiri Lay sendiri juga tak bisa menahan air matanya.

“apa kau tuli,? Kubilang jangan menangis Kai-a, air mata mu akan habis sebelum kau meninggal,” Suasana haru menyelimuti ruang Direktur utama Hotel KL Group. Tangis pelan antar saudara ini beradu pelan. Berbeda dengan keadaan beberapa waktu lalu yang genting.

“kau pasti lelah, aku akan mengambilkan makanan untukmu,”. Lay kembali berjalan gontai menuju meja. Ia mengambil satu piring berisi kimbab. Makanan yang dulu sering Lay buatkan untuk adik nya.

Lay kembali duduk di hadapan Kai. Ia menggambarkan senyum tipis di wajahnya dan tidak lupa menyeka air matanya.

“kkaja, kita makan bersama,” ajak Lay. Perlahan Kai mengangkat wajahnya. Mendapati wajha Lay yang tersenyum lebar dengan sisa air mata di ujung kantung matanya.

“bukankah kau merindukanku,? Waahh, sudah lima belas tahun lamanya kita tidak makan bersama seperti ini, kau ingat,? Dulu kau selalu memintaku membuatkan kimbab, kau bahkan menolak kimbab buatan ibu, kau mengingatnya,?”. Kai hanya mengangguk pelan seraya terus menatap Hyung nya berceloteh ria, seolah melupakan kesedihan nya yang meledak beberapa menit yang lalu.

“dan sekarang aku membuatkannya untukmu, ini makanlah,” Lay menawarkan satu kimbab untuk menyuapkannya pada Kai. Dengan senyum manis nya Lay berharap Kai mau membuka mulutnya.

“Kau yang lebih tua Hyung, seharusnya aku yang melakukan ini,” respon Kai yang akhirnya angkat bicara. Lay menggeleng cepat.

“kau adalah adikkku, jadi aku harus menjagamu agar tidak pernah kelaparan,”

Adikku,? Mendengar kata itu sontak air mata Kai kembali menetes. Benarkah lay mengatakkan itu. ? Katakan ini bukan mimpi,? Satu kata yang sukses membuat hati Kai luluh. Dan kini ia mendengarnya langsung dari mulut Lay-kakak kandungnya.

Melihat Kai kembali menangis, air mata Lay ikut turun. Lay tau apa yang membuat Kai terharu. Adikku. Ya, baru saja ia mengatakan itu. Satu kata yang mungkin sangat dirindukan oleh Kai.

“aku tidak menyuruh mu menangis, aku menyuruhmu makan, ayo cepat,” ujar nya seraya terus meneteskan air mata. Perlahan Kai membuka mulutnya dan satu kimbab buatan sang kakak masuk ke dalam mulut Kai.

“enak,?”. Kai tersenyum seraya menyeka air matanya. Matanya yang sedari tadi sendu berubah menjadi berbinar binar.

“kita harus makan banyak hari ini Hyung, lalu pergi ke ruang kesehatan untuk mengobati luka, setelah itu, emmm, mau kah kau pergi bersama ku nanti malam,? We The Fast, !!! Kau menyukai suara degupan DJ kan,?!! Atau kita melakukan dance Street seperti dulu, itu mengasyikkan, lalu uangnya kita belikan Dokkbokki buatan Kwon Ahjumma, kalau tidak, kita ke restoran ayam, sudahlama aku tidak menikmatinya bersamamu, kita akan melakukan banyak hal hari ini,” Ujar Kai menggebu gebu.

TOK

“AWW,” Kai mengelus kepalanya yang terkena pukulan dari piring yang di layangkan oleh Lay.

“aku semakin lapar mendengar mu biacara, cepat ambil makanan di meja,”. Seketika senyum Kai merekah lebar setelah mengaduk kesakitan.

“ku anggap itu jawaban Hyung,” Kai berlari kearah meja dan mengambil semua makanan di sana. Ia menata piring tersebut di depan Lay yang masih duduk di lantai bersama satu piring kimbab.

“Jal Mokesimnidaa~” pekik mereka berdua seraya meraih supit di ujung piring. Mereka berdua terlihat sangat lahapn memakan makanan buatan Chef handal Lay. Apalagi Kai, ia terus mengisi mulutnya yang bahkan masih penuh oleh daging dan sayuran.

“heiii, makan hati hati, aku tidak mau kau mati konyol karna tersedak,”

“bokonkoh kou mengongongkanku untukmati,?” tanya Kai dalam keadaan mulut nya sangat penuh hingga berbicara tak jelas.

“tidak jadi, Ya,!! Lagi pula jika kau mati lalu siapa yang membantuku untuk mengurus Hotel besar mu ini, aku bisa gila memikirkannya seorang diri,”. Mata Kai berbinar mendengar ucapan Lay barusan. Lay bersedia menjadi pemimpin di Hotel ini,? Bersamanya,?. Senyum manis Kai melebar sempurna. Akhirnya dengan pukulan demi pukulan bisa menghasilkan keputusan yang ia tunggu tunggu dari Lay selama 5 tahun lamanya.

“kenapa kau tersenyum, cepat makan, atau aku akan berubah fikiran,!” Kai sontak meraih kembali supitnya lalu meraih seluruh makanan dan di masukkan kemulutnya. Menghasil kan pipinya yang mengembung dan bibirnya yang mengerucut, sontak membuat Lay tertawa terbahak bahak.

“Hey, apa yang kau tertawakan,???”. Kai menatap heran Hyungnya ini yang tiba tiba seperti orang kesurupan. Tanpa ia sadari dirinya lah yang menjadi bahan tertawaan oleh Lay. Selama satu jam penuh kai dan Lay menikmati makan siang bersama. Kembali berdebat tentang hal kecil, tertawa terpingkal pingkal bersama. Memukul kepala. Tersenyum. Seolah mengulang kembali rekaman di masa lalu. Di lanjutkan dengan melewati hari hari bersama.

Mulai saat itu. Kai mengumumkan hal penting bahwa di Hotelnya tidak ada Wakil Direktur. Melainkan ada dua Direktur utama yang menjabat di Hotel nomor 2 terbesar di Seoul. Para karyawan tentunya tercengang dengan keputusan Kai. Di tambah dengan pengakuan Kai bahwa Lay adalah kakak kandungnya selama ini. Semua bawahannya semakin tercengang mengingat sifat Kai yang tidak seramah Lay. Mungkin itu jawaban mengapa mereka bukan anak kembar, bahkan anak kembar memiliki sifat yang berbeda.

Dan seterusnya. KL Group semakin di gandrungi oleh beberapa penghargaan karna namanya semakin melambung. Buah dari kerja keras kakak beradik yang membangun KL Hotel bersama sama. Tanpa lagi mengingat masa lalu kelam yang membuat mereka sedikit renggang. Namun kakak adik tetaplah saudara. Tidak akan ada lagi yang memisahkan persaudaraan mereka. Apapun yang terjadi, Kai dan Lay tak ada niat satupun untuk lagi mengecewakan satu sama lain.

 

END

 

 

2 thoughts on “[EXOFFI FREELANCE] OVERDOSE (Ficlet)

  1. Awalnya aku baca agak serem apalgi bagian kai yang makan stick bercampur dg darahnya sendiri uhh gak kebayang deh tapi endingnya aku suka bgt mereka uda akur yaa jd bahagia ditunggu kak cerita lainnya ^^
    Fightingg!!

  2. Huft akhirnya bcanya selesai juga, tadi sempet ditinggal tinggal..

    Aigoo aigoo., aku terharu bacanya 😢😢😢😢
    Ceritanya bagus kak, feellnya dapet banget menurutku 👍👍👍👍👍
    Kakk hebat yahh pertama buat aku geli gimana gitu liat kai apa lagi waktu yang di restoran itu lohh.,
    “Kai melahap satu persatu daging cincangan dengan darah dari tangannya sendiri sebagai sauce segarnya”. Ugh., aku langsung mual kak..

    Kedua nyesekk liat kai dan lay., sebegitu sakitnya dia (kai) memendam perasaan kek gitu 😢😢😢😢

    Ketiga kakk buat aku Nangisss..hikss
    Lagi” nangis 😢..

    Aku bner” suka sama ceritanya, walau awal” bikin merinding tengah” tegang, sedih gx karuan, huh tapi untungnya Happy Ending 😍

    Ditunggu cerita yg lainnya kak^^

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s