2 Hours

8-2-hours.jpg

Tittle : 2 Hours

Author : Butterflight20

Cast : Oh Sehun, Lee Hwamin

Genre : Romance, drama

Lenght : Oneshot

Rated : PG-16

Poster by : Pampin Honnor @ Poster Channel

Summary

“aku hanya meminta 2 jam dari waktu 24 jam mu. Apa itu permintaan yang sulit?.”

This story is mine, please don’t be plagiator

Butterflight20 Present

oOo

 

Hwamin mendengus berulang kali, dengan menumpukan dagu pada tangannya serta bibirnya yang dimajukan beberapa centi, menandakan ia benar-benar telah merasa bosan. Berulang kali ia mengecek arlojinya, seakan itu dapat mempengaruhi bergeraknya waktu. Cafe akan ditutup satu jam lagi dan orang yang ia tunggu tidak kunjung datang. Jangan katakan ia sibuk atau membatalkannya mendadak atau lebih parah lagi ia lupa bahwa mereka harus bertemu. Kekasihnya adalah pria super sibuk yang pernah ia temui. Bahkan waktu sedetik saja sangat berharga untuknya. Dan apa menurutnya kencan adalah hal yang membuang waktu? Bahkan ini baru pertama kalinya. Banyak hal yang terbesit dibenak gadis itu, pikiran negatif pun menguasai dirinya, seperti mungkin kekasihnya tidak mencintainya atau merasa bosan padanya atau bahkan ia sudah tidak penting lagi bagi—

“Maaf, aku terlambat.” Suara bass yang khas di dengar oleh telinga hwamin, gadis itu menoleh mendapati pria itu telah berdiri dihadapannya. “Oh Sehun.”

—Oh sehun.

Yeah, ia berfikir apa mungkin pria itu sudah melupakannya. Meneliti pakaian pria itu, pakaian kantor, berkas-berkas, tas kerja dan laptop. Apa dia sesibuk itu sehingga ia tidak sempat pulang ke rumah?. Satu hal yang pasti, pekerjaan adalah segalanya baginya. Hwamin sedikit merasa cemburu dan ia memberengut kesal. Lucu memang mencemburui sesuatu yang bukan makhluk hidup bahkan.

“Ada apa lagi? Aku sudah rela datang kesini dijadwalku yang sangat padat.” Sehun menarik kursi dan duduk dihadapan Hwamin. Sedangkan gadis itu hanya berdecak sebal mendengar keluhan tak masuk akal dari Sehun. “Jadi kau tidak rela membuang waktumu untuk kemari? Kau menyesal bertemu denganku begitu?.” Ujar Hwamin

Sehun mendengus, ia pun memutar bola matanya. Kepalanya sudah berdenyut saat ini dan Hwamin sangat berisik membuat kepalanya mengeluarkan sirine pertanda bahaya akan terjadi suatu ledakan. Ok, yang ini sedikit berlebihan. “Tidak begitu, ayolah apa kau memintaku kemari hanya untuk bertengkar?.”

Mata gadis itu sedikit berkaca-kaca dan Sehun sangat benci itu. Ia tidak suka melihat gadis itu menangis, wanita itu sangat merepotkan. “Hey, Hwamin-a jangan begini kau membuatku repot. Lihatlah sekarang kau membuang waktu 5 menit berhargaku.”

Hwamin tersenyum skeptis. “Jadi, 5 menit lebih penting dariku begitu?.” Gadis itu bersungut-sungut.

Sehun memijit pelipisnya, ia berusaha menahan emosi yang sudah mencapai ubun-ubun. “Baiklah, apa yang kau inginkan sekarang?.” Seraya mengecek berkas-berkas yang ia bawa tadi.

“Sehun.”

“Hmm.”

“Sehun!.”

“Kenapa?.”

“Apa kau mencintaiku?.”

Sehun berdecak seraya melanjutkan pekerjaanya, tidak berniat menjawab sepatah katapun. Menurutnya Hwamin sangatlah aneh hari ini, ia sedikit agak manja dan merepotkan. Biasanya ia sangat dewasa dan hari ini benar-benar berubah total. Ia melirik Hwamin dan menemukan raut wajah Hwamin yang hampir menangis seperti bayi. Sehun menghela napas, “Jangan berbicara yang aneh-aneh dan pertanyaanmu itu sangat tidak penting ku jawab.”

“Apa dalam hidupmu itu hanyalah hal penting saja yang kau kerjakan? Aku tahu itu sangatlah bagus untuk kedepan, tapi apa kau tidak memikirkan soal batin? Bukankah kita juga butuh hiburan? Jadi kau tidak stress dengan hanya memikirkan—“

Sehun segera menginterupsi ucapan Hwamin dengan mencium singkat gadis itu. Ya, memang singkat tapi terkesan manis baginya. Gadis itu menunduk, ia tidak bisa mengatakan apapun. Pria itu selalu tahu kapan harus membuatnya seakan terbang.

“Jadi sekarang apa kau sudah tenang?.” Sehun bertanya sangat lembut dengan menatap intens Hwamin. Respon gadis itu tidak lebih hanyalah sebuah anggukan kecil. Sehun tersenyum singkat lalu mengacak rambut gadis itu dan kembali menjadi Sehun yang dingin dan gila kerja. Bahkan saat mereka bertemu pun, ia masih membawa serta pekerjaannya.

“Sehun, aku ingin terus berdua denganmu saja.” Hwamin merajuk pada Sehun, dengan segala aegyo yang ia miliki itu tidak mempan untuk merayu Sehun. Sungguh, sebenarnya pria itu berasal dari planet mana?.

Demi dewi fortuna, ia ingin mencekik pria itu dan membuangnya kemanapun lalu ia akan meng-antukkan kepalanya ke dinding dan saat ia terbangun ia akan melupakan semua. Ok, itu hanyalah pemikiran konyol yang tidak mungkin ia lakukan pada kekasihnya. Mengingat betapa Hwamin sangat mencintai Sehun dan bagaimana mungkin ia membiarkan Sehun terluka atau jauh darinya. Gadis itu hanya menatap Sehun meminta sedikit perhatiannya. Pria itu merasa jengah dan akhirnya ia bertemu pandang dengan Hwamin. “Kau tahu aku sangatlah sibuk.”

Hwamin mengangguk membenarkan, siapa yang tidak tahu. Setiap hari ia selalu diabaikan dan membuat mereka seakan terpisah pulau. “Aku tahu lebih dari siapapun.”

“Kalau begitu mengertilah aku.”

Hwamin bangkit dari duduknya, ia merasa sangat kesal dan marah pada pria itu. Menurutnya Sehun sangatlah egois. “Dan kapan kau mengerti diriku Hun-ah? Setidaknya apa tidak bisa kau tidak mengabaikanku saat kita bertemu seperti ini?.” Setetes air mata yang sejak tadi ia tahan meluncur begitu saja dari pipi Hwamin. “Aku hanyalah manusia biasa Sehun, aku mempunyai hati.” Gadis itu pergi begitu saja tanpa menghiraukan pekikan Sehun.

oOo

Sejak pertengkarannya dengan Hwamin hari itu, mereka benar-benar tidak saling berkomunikasi. Bagaimanapun, pria itu merindukan gadisnya. Sehun mendengus, meraih ponselnya dan mengetikkan sebuah pesan pada Hwamin.

“Hey, apa kau…”

Sehun menghapus ketikannya, ia sedikit berfikir kata yang bagus untuk memulai percakapan.

“Aku minta maaf.”

Sehun menggelengkan kepalanya dan menghapusnya lagi, ini bukan tipenya sama sekali.

“Maaf, apa kau mau berkencan denganku lagi?.”

Sehun menghembuskan napas kasar lalu membanting ponselnya ke meja. Hanya mengetikkan sebuah pesan saja membuatnya sangat pusing. Ternyata menangani gadis yang sedang marah lebih sulit dari menangani masalah perusahaannya yang bergerak dibidang perhotelan dan pariwisata. Sehun menghela napas kasa, Ia mengalungkan kedua tangan ke lehernya seraya menempelkan dahi ke meja. Ia bergumam tidak jelas seakan setelah itu ia akan mendapatkan jawaban atas masalah yang ia hadapi.

“Maaf, presdir Oh.” Bahkan suara karyawan yang cukup bass itu tidak mengusik aksi Sehun sedikitpun.

“Maaf.” Ulangnya sekali lagi.

Sehun mendongak menatap karyawannya Park Chanyeol, ia berdiri dihadapan Sehun dengan wajah bingung. Sehun duduk bersandar dikursi kebesarannya dengan memejamkan mata.

“Ada masalah apa?.” Tanpa basa-basi Chanyeol segera bertanya.

Sehun mendengus. “Bagaimana cara membuat gadis itu luluh dan tidak marah lagi padaku?.”

Chanyeol mengernyit. “Maksudmu Lee Hwamin?.”

“Menurutmu aku mempunyai simpanan?.” Sehun menatap tajam Chanyeol. Pria itu hanya terkekeh dengan menunjukkan cengiran khasnya. “Tidak begitu, jadi inilah masalah yang membuat CEO dari Hun’s Company sangat bimbang. Ku fikir ada masalah pada investor atau penurunan jumlah pengunjung atau—“

“—Sudah sudah jangan banyak bicara. Lebih baik kau pergi daripada membuatku ingin melemparkan sepatu ke wajahmu.”

Chanyeol tertawa menanggapi ancaman bosnya, ia sedikit berfikir. “tidak kau berikan bunga atau mungkin dinner romantis?.”

“Bukan tipeku, itu menjijikkan.”

Chanyeol menghela napas, “Tapi, itu yang dibutuhkan oleh seorang gadis.” Dan Sehun teringat bahwa gadis itu membutuhkan perhatiannya. “Baiklah, atur saja sedemikian rupa.”

“Baiklah.” Chanyeol membungkukkan badan dan segera pergi meninggalkan ruangan. Tidak berselan lama Chanyeol pergi ia mendengar suara knop pintu.

CKLEK

Sehun memicingkan mata menatap knop pintu yang berputar kebawah, tanpa adanya ketukan pintu terlebih dahulu sangatlah tidak sopan. Sehun akan memaki siapapun yang berlaku tidak sopan di perusahannya, sebelum siluet gadis yang dicintainya muncul dari balik pintu.

“Aku ingin berbicara denganmu.” Hwamin tanpa berbasa-basi langsung mengungkapkan tujuannya.

Sehun memutar kursinya membelakangi Hwamin. “Aku sibuk.” Sungguh, ucapan yang keluar dari mulutnya tidak sesuai dengan hatinya. Padahal ia merindukan gadis itu dan bahkan ia sangat tersiksa jika berjauhan dengan gadis itu.

Hwamin berdecak sebal, sudah berulang kali ia seperti ini. Dan kesibukan apa yang ia maksud? Ia bahkan hanya duduk santai diruangannya. “Aku hanya meminta 2 jam dari waktu 24 jam mu. Apa itu permintaan yang sulit?.”

Sehun memutar kursinya menghadap Hwamin. “Kau tahu bahwa aku sangat sibuk.”

“Kau fikir hidup ini cukup jika hanya bermodalkan uang? Batinku tersiksa, asal kau tahu.”

Sehun berdecak mendengar penuturan gadis itu.  “Jangan berbicara hal yang tidak penting.”

“Aku ingin hubungan kita berakhir dan aku akan pergi dengan pria lain.” Hwamin menatap tajam Sehun dan mereka saling menatap tajam, seolah mereka bertarung hanya dengan menggunakan tatapan mata. “Kau tidak bisa pergi dengan pria manapun, kecuali ayah mu dan aku.” Sehun memberikan tatapan mengintimidasi.

Hwamin tidak gentar dan ia tetap mempertahankan ucapannya. “Tentu saja bisa, aku pergi.”

“Memangnya siapa yang betah dengan gadis super cerewet seperti mu?.” Sehun memberikan tatapan meremehkan.

Hwamin berdecak dan ia pun memutar mata malas, ia tidak peduli dengan Sehun dan memilih untuk berbalik meninggalkan pria itu. Ia sudah muak dengan perlakuannya.

“Tunggu.” Sehun menginterupsi langkah Hwamin, mencegahnya untuk pergi. Tetapi gadis itu malah tetap melangkah dan tidak menghiraukan Sehun.

“Jika kau melangkah lagi, ku pastikan kau akan menyesal.” Sehun tidak hanya menggertak kali ini, tetapi Hwamin tetap tidak peduli. Ia meraih knop pintu dan hendak membukanya, namun Sehun segera berlari dan mengenggam tangan Hwamin. Gadis itu segera menghempaskan tangan Sehun, namun percuma karena tenaganya lebih besar darinya. Sehun menarik Hwamin menjauh dari pintu.

Hwamin memberengut sedangkan Sehun menatapnya seakan Hwamin adalah mangsa buruannya. “Ku katakan untuk tidak pergi, tetapi ku fikir kau memang sengaja melakukannya untuk membuat dirimu sendiri menyesal.”

Hwamin belum sempat mencerna ucapan Sehun, pria itu sudah merengkuh tengkuk gadis itu dan mempertemukan bibir mereka. Sehun melumat lembut bibir ranum Hwamin dan menggingit bibir bawahnya, memberikan sensasi aneh pada diri gadis itu. Hwamin seakan candu bagi Sehun, ia akan menginginkannya lagi, lagi dan lagi. Hwamin adalah miliknya dan tidak ada yang boleh memilikinya. Ia memang sangat possesive. Ia memberikan kecupan lembut dan tidak terkesan bernafsu yang dapat menyakiti gadis itu. Hwamin melepaskan tautan mereka dengan paksa yang membuat Sehun memberengut kesal. “Jika ini adalah hal yang membuatku menyesal, maka aku ingin menyesal setiap hari.”

Sehun terkekeh pelan dan melanjutkan aksinya yang tertunda tanpa berniat melepaskan tautan mereka sedikitpun. Bahkan AC diruangan mereka seakan tidak berfungsi, yang membuat ruangan mereka seperti sauna. Chanyeol tiba-tiba masuk dan terkejut dengan kelakuan mereka. Sehun tetap tidak peduli ataupun terusik dengan kedatangan Chanyeol, ia tetap mencium Hwamin.

“Dasar gila, apa yang mereka lakukan?.” Chanyeol mengerjap berulang kali dan menutup pintu ruangan Sehun lalu ia menulis peringatan dipintu ruangan bahwa Presdir mereka sedang rapat dan tidak boleh diganggu gugat.

End

6 thoughts on “2 Hours

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s