[ONESHOT] 10 Rules ― ARRYLEA’s VERHAAL

ten

A fan fiction with,
Family‘s problem and the truth of Love
Staring by Park Chanyeol, Kim Jongin of EXO and Park Mijin as OC’s
Author’s Point of View.
PG-17 for rating
(Ada beberapa kalimat yang ‘sedikit’ kasar di dalamnya, mohon dipahami dengan bijak. Dan juga dialog non-baku sebagai penghantar bahasa.)
Has been published too at ARRYLEA’s NO KAOKU.

DISCLAIMER

Cerita fan fiksi ini murni milik saya yang kebetulan sedang lancar berimajinasi. Park Chanyeol dan Kim Jongin miliknya sendiri, disini saya hanya meminjam namanya. Ini hanyalah sebuah fan fiksi, bukan untuk laba fan work. Jika ada kesamaan nama, cerita, waktu dan tempat harap maklum karena faktor ketidak sengajaan. Segala upaya penjiplakan harap dipikir dua kali karena ide tidak muncul sembarang dan semudah copy-paste. Terimakasih.

2016© ARRYLEA’s Presents All Rights Reserved ―
Artwork credit to Pinterest

SUMMARY

Ayolah, Park Chanyeol, biarkan adikmu merasakan seperti apa jatuh cinta. Dia sudah besar sekarang.

⬛⬛⬛⬛⬛⬛⬛⬛⬛⬛⬛ Selamat Membaca! ⬛⬛⬛⬛⬛⬛⬛⬛⬛⬛⬛

o

10 RULES
ARRYLEA’S

o

Langkah tegap-tegap mendominasi kaki Mijin, melesak ia tekan karena kesal. Semuanya karena ulah Park Chanyeol! Kalau saja dia tidak mengganggu sedikitpun acaranya dengan Kim Jongin yang berstatus sebagai kekasihnya sekarang, Mijin jamin akan tetap bersikap bagaimana seorang adik pada kakaknya. Tapi Chanyeol sudah keterlaluan! Seenak jidatnya ia mengusir Jongin, seenaknya juga dia mengganggu ketenangan batin Mijin kala Jongin memeluknya dengan sayang.

Tapi Chanyeol tidak pantang menyerah, laki-laki bertubuh tinggi hampir dua meter itu mengejar adiknya dengan tergesa-gesa. Mencoba meraih apapun dari tubuh mungil adik perempuannya. Lagipula, kakak mana yang tidak kesal melihat adiknya dicium dan dipeluk laki-laki lain selain dirinya dan Ayah? Chanyeol masih waras memberikan seluruh tubuh adiknya pada orang yang bahkan ia tak mengenalnya dengan baik.

“Mijin! Dengerin gue dulu!” titah Chanyeol yang sedari tadi berusaha menghentikan langkah kaki mungil Mijin. Seharusnya, tanpa perlu Chanyeol menyuruh Mijin berhenti, ia bisa saja menyegat Mijin dan memaksanya untuk menghentikan langkah kaki yang ia hentakan berkali-kali itu.

Lelah karena dikejar terus menerus, Mijin menyerah. Ia berhenti, dengan syarat tetap jauh dan menjaga jarak satu meter dari Chanyeol. “Mau apa lagi? Ini semua gara-gara lo, Kak!”

Manik Mijin menatap Chanyeol dari atas sampai bawah. Chanyeol menarik kakinya satu langkah demi langkah mendekati Mijin. Tapi Mijin malah sebaliknya.

“Jangan deket-deket!” sergah Mijin.

Terenyuh, Chanyeol mematung diberi peringatan oleh adiknya. “Dek…,”

“Apa? Bisa ngga sih sekali aja gausah ganggu acara gue sama Jongin, Kak? Dia pacar gue!”

“T-tapi, sejak kapan?”

“Ngga penting ‘kan Kakak mesti tau?”

“Gue—”

“Udahlah…,” Mijin mengibaskan tangannya, enggan mendengar asumsi, argumen, opini, atau apapun dari kakaknya mengenai kekasihnya. “Gue capek Kak. Mau pulang, mau tidur, mau mandi, mau minta maaf sama Jongin karena ulah Kakak.”

Mijin berbalik meninggalkan Chanyeol yang entah kenapa kakinya mendadak tak ingin pergi mengikuti adiknya seperti yang ia lakukan beberapa menit sebelumnya. Matanya terpatri kaku menatap Mijin yang semakin lama semakin menjauh. Punggung kecil yang dulu biasanya ia usap-usap ketika akan tidur, kini sudah tak sama lagi. Chanyeol rindu adik kecil Mijin

 

 

“Kak, cepet pulang, please.” Pinta Chanyeol dibalik telepon. Suatu kebiasaan baginya menceritakan segala sesuatu pada Yoora, kakak perempuan beda tiga tahunnya yang sedang berada di San Paulo karena pekerjaan.

Chanyeol duduk di atas kursi putar di dalam kamarnya, berkali-kali kakinya ia gerakan mendorong si kursi agar berputar. Bermain di atas kursi putar itu sendiri sambil mengeluhkan keluh kesah soal Mijin.

“Kak, emang gue salah protective ke dia? Emang gue berlebihan ya? Kak, perasaan dulu lo juga sama tapi kenapa bocah satu itu ngeyelnya minta ampun sih, Kak?”

Badannya masih ikut berputar seiring kursinya melakukan hal serupa. Tapi terhenti ketika tubuh Chanyeol memantul di seberang cermin raksasa yang menyatu dengan lemari pakaiannya. Tangannya masih menggenggam ponsel yang ia letakkan di sisi kanan daun telinga. Masih setia mendengar wejangan sepuh selisih tiga tahunnya.

Mijin itu cewek Yeol, yah meskipun sebenernya gender ngga ngaruh juga sih. Tapi, di masa kayak gini, lu harus bisa ngomong baik-baik sama Mijin. Minimal bikin dia ngerti kek, kenapa lu harus begini, harus begitu, larang ini larang itu ke dia. Lama-lama juga dia ngerti kok pasti.” Balas Yoora dibalik sinyal ponsel.

Laki-laki itu hanya menganggukkan kepalanya, mencoba setuju dengan usulan sang kakak. Tidak ada salahnya mencoba lebih lembut pada Mijin, daripada terus menerus bertengkar layaknya Tom and Jerry, serial kartun kesukaan Chanyeol saat masih duduk di bangku Sekolah Dasar dulu.

“Kenapa sih cewek itu aneh, Kak?” celetuk Chanyeol. Pikirannya kalang kabut seolah sudah terlalu banyak memakan asam garam dunia.

Berarti gue aneh? Mama juga aneh gitu?

Salah tingkah, Chanyeol menggaruk kulit kepalanya. “Ya ngga gitu juga sih, ah tau lah. Lo yang ngomong deh kak sama si Mijin.”

Iya yaudah ntar gue yang ngomong.

Ponsel yang barusan bertengger di telinganya kini tergeletak di atas meja. Chanyeol berdiri dari kursi putarnya dan beralih ke ranjang. Berbaring menghadap langit-langit kamar sambil mengusap wajahnya berkali-kali.

“Kurang apa coba gue, Dek?” gumam Chanyeol.

 

 

Tetesan air meluncur pelan dari surai panjang Mijin. Setelah pertengkarannya dengan Chanyeol, gadis duapuluh dua tahun itu langsung mengurung diri di kamar mandi. Menenggelamkan tubuhnya di dalam bathub, mencampur air dengan sabun aroma mawar. Melampiaskan segala amarahnya lewat genangan air.

Drrrrt… Drrrrrrt…

Getaran ponsel Mijin di atas ranjang langsung membuatnya menghentikan aktivitas mengeringkan rambut dengan handuk.

Mijin mengernyit, ia kira Jongin akan meneleponnya kembali setelah beberapa menit sebelum ia memasuki kamar mandi sempat meminta maaf soal Chanyeol di taman. Tapi nyatanya malah Yoora yang menelepon.

Alih-alih tak ingin menjadi adik durhaka, Mijin mengangkat telepon kakaknya.

“Halo, Kak? Ada apa nelpon?”

Gapapa, kamu sehat?”

Mijin tidak mengerti arah pembicaraan Yoora yang mendadak begini. Pasalnya memang Mijin kurang dekat dengan kakak selisih lima tahunnya itu kalau via ponsel. Rasanya canggung saja baginya, seperti bukan kakak kandung.

“Sehat Kak, Kakak gimana?”

Bagus deh. Yah gitulah. Disini panas banget, bawaannya pengen pake bikini terus jadinya.”

Mijin terkekeh di dalam hati. Kakaknya ini memang jagonya membuat suasana sekalipun dirinya bisa jauh dikata kurang peduli dengan Yoora.

“Ih Kakak, apaan sih! Jangan-jangan Kakak disana pake bikini terus lagi?!”

Yoora tertawa di sebrang sana. Suara tawa khas darinya mendadak membuat Mijin rindu. “Kak, kapan pulang?” Tanya Mijin memotong erangan nafas Yoora disana. Pertanyaan yang sama dari Chanyeol untuknya.

Sampe bos nyuruh pulanglah. Sabar ya.

Heol. Mijin mengeluh, selalu saja begitu. “Sampe gue botak aja deh Kak jangan balik ke rumah.”

Lagi, Yoora tertawa. “Denger-denger, kalian berdua berantem lagi? Gara-gara cowo?” kali ini Yoora to the point.

“Berdua? Siapa? Maksud Kakak, gue sama si Chanyeol?”

Siapa lagi? Sopan dikit bisa kali, Dek.

“Malesin ah elah. Kakak tau darimana? Si Caplang itu pasti ngadu ya? Dasar bocah ih.”

Yoora tertawa lagi. Mijin bergidig ngeri, takut-takut kalau kakaknya menjadi gila disana. Sedikit-sedikit tertawa, padahal sudah jelas itu tidak lucu ‘kan?

Kalau ngga ngadu, bukan Chanyeol namanya.

“Tuhkan! Dasar bocah!”

Kenapa sih?” kali ini suara Yoora terdengar lebih serius. Mijin menelan salivanya mendadak merinding.

“Tau tuh, Kak. Masa dia ganggu kencan gue sama Jongin sih?! Gatau diri banget! Padahal gue udah gede juga, Kak!”

Terus Jongin gimana?

“Barusan gue udah minta maaf sama dia. Dia malah ngebelain si Caplang terus bilang; kalau Chanyeol pengen yang terbaik buat adeknya. Gitu…, rese ih ‘kan.”

Lah iya emang bener kali Chanyeol cuman pengen yang terbaik buat adeknya?

“Ya tapi ngga pake acara ganggu date gue sama doi bisa kali, Kak. Dia mah udah parah banget pokoknya!”

Kakak bukannya mau belain Chanyeol. Tapi kalian berdua itu sekarang jauh dari Mama sama Papa, akur sekali-kali dong jangan berantem mulu. Nanti kalau butuh ke siapa lagi coba kalau bukan ke saudara sendiri?

Manik cokelat tua Mijin menggelinding ke seluruh penjuru arah kamarnya. Mengeluh keras soal ceramah kakak tetuanya. “Iya Kak, iya. Dia berlebihan sih ah salahin si Caplang dong.”

Kamu tuh ya, jangan mentang-mentang bungsu jadi segalanya kudu diturutin. Bukannya kamu sendiri yang bilang udah gede? Mikirnya juga harus secara pandangan orang dewasa.

“Iya Kak, Mijin ngerti. Udah ya, Mijin mau tidur. Dah Kakak, sehat-sehat ya disana!”

Tangan Mijin langsung menyentuh icon merah tanpa menunggu jawaban dari Yoora untuk memutuskan hubungan. Masih dengan rambut yang setengah basah, Mijin menjatuhkan dirinya di atas ranjang. Bukan maksud ia menghindari pepatah dari sang kakak dan merubah statusnya jadi adik durhaka, hanya saja kantuk memang betul-betul menyerangnya. Kebiasaan Mijin kalau sehabis keramas, pasti saja selalu mendadak mengantuk.

 

 

Esok paginya, Mijin sudah membuat keributan di dalam kamar. Setelah sesi curhat yang lebih tepatnya diceramahi itu, Mijin langsung tertidur lelap sampai fajar menjelang lagi. Tugas kuliah umum yang seharusnya ia kerjakan semalam itu masih kosong melompong, bagaimana Mijin tidak panik? Mana pula dosen galak nan botaknya itu pasti akan memberinya hukuman yang tidak masuk diakal seperti yang pernah dilakukannya pada Seungwan, teman satu kelasnya.

“Dek?! Lu ngapain sih elah pagi-pagi berisik banget!” teriak Chanyeol dari luar kamar. Niatnya berjalan menuju garasi untuk mengganti oli motor Hyosung GT250R kepunyaannya mendadak terhenti dan ingin tahu apa yang sedang adiknya lakukan di pagi buta ini.

Chanyeol mendekatkan daun telinganya di balik pintu kamar Mijin, mencoba menguping. Tapi ia kalah cepat dengan Mijin yang tahu-tahu sudah membuka pintunya.

“Kak! Lo ngapain?!”

Sial. Chanyeol kalah cepat.

“E-engga, mau ke garasi. Ganti oli motor.” Chanyeol beralibi.

Mijin bergidig, menghela nafas kemudian menarik-narik helai rambutnya sambil berjalan keluar kamar. Rupanya kali ini Mijin memilih menyerah untuk berdebat lebih lama dengan Chanyeol daripada biasanya.

Kaki jenjang yang tertutupi celana jeans merk Levi’s itu berjalan menuju pintu rumah. Setelah sebelumnya mengambil sneakers di rak sepatu kemudian membetulkan tas yang sedikit miring. Mijin keluar rumah tanpa ba-bi-bu apa-apa pada kakaknya.

“Lah si Mijin mau ngampus pagi? Ini masih jam setengah enam anjir. Rajin banget.” Gumam Chanyeol setelah ia perhatikan adiknya kalang kabut ribut sendiri. Bahkan sampai-sampai rak sepatu yang semula rapi menjadi berantakan karena ulahnya.

 

 

“Jong, lo dimana?”

Di rumah. Kenapa, by?

“Jemput gue!”

Heh! Lo mau kemana pagi-pagi begini?”

“Gue belum ngerjain tugas kulum yaelah, urgent nih! Cepetan yak!”

Iya iya bawel.”

Mijin sempat menghela nafas lega setelah ia menelepon kekasihnya yang sudah sadar dari alam mimpi. Maklum, Jongin itu orangnya kebo kelas kakap. Kalau bukan kuliah pagi yang membuatnya bangun di pagi hari begini, pasti karena alarm yang tidak sengaja ia stel jam enam pagi dan terpaksa membuatnya harus bangun.

Berkali-kali kaki terbungkus sneakers itu menghentak-hentakkan tanah tak sabaran. Berkali-kali juga tangan kirinya ia angkat untuk memastikan jam terbangnya belum terlambat. Bisa ketiban sial kalau si dosen botak itu menghukumnya menyanyikan lagu kebangsaan Korea ke setiap kelas Fakultas Teknik yang rata-rata berkelamin jantan semua. Mati sudah harga diri Mijin sebagai seorang perempuan baik-baik dari Fakultas Ilmu Budaya ini.

“Najis lama banget si Jongin.” Umpat Mijin tak sabaran.

“Dek, lo mau ngampus pagi?”

Mijin menekuk diam, keknya gue kenal nih suara, si Caplang bukan sih?

“Kalau kakak lo nanya tuh jawab, Dek!”

Mampus! Beneran si Caplang deh! Jongin sih ah elah lama! Gue harus bilang apa coba kalau si Jongin nyampe kesini terus papasan sama kakak gue? Mati hari ini lo Mijin, mati!

Gadis itu melirik asal suara dengan takut-takut. Memperhatikan sang kakak dari atas sampai bawah. Stelan kemeja tak berkancing serta berlengan panjang itu digulung sampai sikut, dipadu dengan kaos hitam polos di dalamnya plus ripped jeans yang mampu membuat setiap pasang mata wanita terpatri kaku menatap Chanyeol yang tinggi menjulang. Mijin aku-akui, Chanyeol memang terkenal di kampusnya, dan itulah alasan kenapa Mijin memilih jadi mahasiswi biasa-biasa saja karena…, ah! Sungguh merepotkan jadi anak famous sekampus. Untung hanya segelintir orang yang tahu kalau Mijin adalah adik kandung Chanyeol. Iya, mereka satu kampus beda fakultas. Bukan Mijin yang mau satu kampus dengan Chanyeol, tapi dari silsilah keluarga Park, semuanya lulusan Universitas MID dan Mijin merasa gengsi saja kalau dia melenceng dari jalur seharusnya.

“Gue udah nanya berapa kali sih ini? Ngga dijawab mulu. Malah ngeliatin gue kek sensor segala lagi. Iya tau gue ganteng kok. Bersyukur ngga lo punya kakak seganteng gue?”

Dih, Mijin malah mau muntah mendengar kenarsisan kakaknya ini sudah kelewatan. Sambil mendumal, Mijin merubah posisi kembali ke semula—menatap jalan, menunggu Jongin.

Astaga!

Jongin!

Mengingat kekasihnya yang akan segera menjemput, Mijin buru-buru menarik ponsel dari saku jeans-nya. Mengirimi Jongin pesan singkat.

“Yaelah gue dikacangin.” Lagi-lagi Chanyeol berceloteh yang entah sudah keberapa kali membuat Mijin ingin menyumpal mulutnya dengan knalpot motor bising milik kakaknya itu.

Tapi terlambat, Jongin sudah memarkirkan mobil di depan pagar rumah Mijin, tepat di depan Mijin, tepat di depan Chanyeol, tepat disaat Mijin memijit icon send di ponselnya.

Mati sudah hari ini kau, Park Mijin.

Gadis itu berharap Jongin membaca pesannya dan sesegera mungkin berpindah tempat agak jauh dari rumahnya untuk membawanya pergi. Gadis itu berharap Jongin peka dan tiba-tiba memajukan mobil seolah-olah salah rumah. Gadis itu berharap Chanyeol tidak curiga dan langsung pergi saja kemanapun ia suka. Dan yang paling tidak mungkin terkabul adalah gadis itu berharap ia bisa menghilang dari hadapan Chanyeol, kemudian diam-diam berada di dalam mobil Jongin dan kabur sesegera mungkin. Tapi berapa kali Mijin berharap, semuanya percuma. Karena Jongin malah keluar dari tempat persembunyian teramannya dan mendekati Chanyeol. Apa-apaan dia? Bunuh diri?

Mijin membeku, melotot, ingin mengumpat pada Jongin yang dengan santainya keluar dari kursi pengemudi. Apa laki-laki itu mendadak amnesia? Apa dia lupa kalau Chanyeol menentang keras hubungannya? Ya Tuhan, demi kulitnya yang kurang putih! Sadarkan Kim Jongin!

“Oi, Bang! Mau ngampus?” Jongin basa-basi. Chanyeol membuang muka, jijik dengan acara sok akrab Jongin.

“Ngapain lo kesini?” Tanya Chanyeol, datar, dingin, tanpa nada. What the heck! Kemana perginya si Happy Virus, Park Chanyeol?!

“Jemput adek lo. Belum ngerjain tugas kulum katanya, makanya nyuruh gue jemput.”

Mampus! Jongin malah membongkar rahasianya. Sialan! Menyesal sudah Mijin mempercayainya selama ini.

Iris Chanyeol kini memutar ke arah Mijin. Memberikan death glare paling ampuh membuat Mijin bertekuk.

“Kenapa lo ngga minta gue aja yang anter lo?” suara husky Chanyeol benar-benar menusuk Mijin hingga membuatnya terpojok.

Jam terbangnya sudah lewat, terlambat sudah ia mengerjakan tugas kulum. Mati sudah ia akan dihukum bernyanyi lagu kebangsaan ke seluruh penjuru kelas FT.

Jongin berdeham, mencoba mencairkan suasana. “Gini Bang, gue tau lo emang ngelarang Mijin pacaran. Gue emang nekat, Bang. Jangan salahin Mijin, salahin aja gue. Gue yang minta dia jadi pacar gue kok, gue yang maksa dia. Kalau lo mau benci, benci gue aja, Bang.”

“Dari dulu juga gue bencinya sama lo, Nyet!”

“Kak, udah dong.” Kali ini Mijin yang mencoba membantu membela. Demi masa depan hubungan Mijin dan Jongin nantinya. Tentu saja ia tidak ingin melepas begitu saja hubungan satu bulan lebih dua minggu ini.

“Lo mau belain dia, Dek? Lo tau ngga cowok ini dari Fakultas mana?”

“FT, Kak. Gue tau!”

“Nah, tau ‘kan cowok FT gimana?”

“T-tapi Ka—“

“Bang, gue tau anak FT punya imej buruk soal percintaan. Tapi Bang, gue mana tegalah nyakitin adek lo. Gue udah jalan sebulan lebih sama dia, Bang.”

“Bodo, terserah, putusin Mijin ngga?!”

“Kak!!”

Jongin hanya diam diberi perintah macam itu. Mana mungkin ia memutuskan Mijin sementara ia benar-benar menyayangi kekasihnya itu.

“Gue ngga bisa, Bang. Gue sayang sama Mijin.” Tolak Jongin.

“Basi lo!”

“Kak! Udahlah! Jangan ganggu hubungan gue sama Jongin lagi, please!”

“Belain aja terus dia sampe mampus! Ntar kalau lo udah sakit hati larinya juga ke gua lagi.”

“Gue ngga akan nyakitin dia, Bang.”

Geram, Chanyeol hampir saja memukul Jongin. Tapi Mijin menahannya, menarik kemeja Chanyeol sekuat tenaga sambil menekuk wajah. Mijin hampir menangis, senjata ampuh terakhir untuk membuat kakaknya luluh.

“Udah, Kak. Jongin cowok baik-baik kok. Kakak, percaya ngga sama Mijin?”

Mendengar seruan lembut dari Mijin, Chanyeol kalap. Kelemahannya sudah Mijin sentuh, dan mau tak mau ia harus mengalah.

Chanyeol menghela nafas kasar. Menghempaskan tangan Mijin dari kemejanya dengan pelan. “Oke, gue izinin kalian berdua jalan.”

Wajah Mijin yang barusan ditekuk langsung mendongkak. Menatap paras tampan kakaknya yang tinggi. Menelisik setiap inci ketulusan dari wajahnya. Chanyeol serius memberikan izin!

“Tapi…,”

Sekali lagi, Mijin ingin memaki Park Chanyeol dan menyesal menyebutnya tampan.

“Lo harus nandatanganin ini!”

Chanyeol menyerahkan tiga lembar kertas putih pada Jongin, dengan senang hati Jongin menerimanya. Tidak sebelum matanya memindai dengan detil isi kertas itu.

 

t1

T2

t3

 

Jongin menatap sekali lagi manik Chanyeol, memastikan apakah laki-laki itu serius memberinya peraturan macam ini?

“Kenapa? Lo ragu? Takut? Kalau iya, pergi aja sana!” usir Chanyeol, bahkan sebelum Jongin menjawab.

Laki-laki berkulit tan itu tersenyum masam. Mengejek perkataan Chanyeol soal keberanian dan nyalinya untuk mengencani Mijin.

“Gue terima, Bang. Ada pulpen?” jawab Jongin datar, mencoba untuk kelihatan tenang-tenang saja.

Tanpa menjawab, Chanyeol memberikan pulpen yang langsung disanggah oleh Jongin. Laki-laki itu berbalik, mengisi formulir gila milik Chanyeol di atas kap mobil. Sambil mengisi, Jongin hanya berpikir berulang kali, tak habis pikir dengan ulah kakak tingkatnya.

Jongin meraih dompet di dalam saku belakang celananya, mengambil kartu SIM dan Kependudukan. Mengisi sesuai dengan apa yang Chanyeol pinta; tanpa ada kebohongan.

Sementara itu sang kekasih, Mijin, hanya mampu menggigit bibirnya berulang kali. Penasaran sekaligus takut, apa yang sedang Jongin tulis dan apa yang Chanyeol berikan. Gadis itu sudah tidak peduli dengan tugas kulum yang belum dikerjakannya, apalagi soal dosen botak yang mengajar pelajarannya itu. Yang ia khawatirkan kini adalah Kim Jongin dan kertas.

“Udah?” Tanya Chanyeol memastikan ketika Jongin memberikan lembaran kertas itu kembali.

Jongin mengangguk.

“Yaudah, lo mau berangkat ke kampus bareng ‘kan? Sono cepet, keburu telat!”

Jika saja Chanyeol bukan kakak kandungnya, ia ingin sekali memaki dan berkata kotor di depan wajahnya yang sok tampan itu. Sudah jelas ia telat sejak Chanyeol berdebat hebat dengan Jongin, tapi malah membuat perjanjian khatulistiwa segala dengannya! Dasar orang sinting!

“Yuk!” ajak Jongin, wajahnya mematri senyum. Sementara Mijin menatapnya dongkol.

Sambil merutuk, Mijin berjalan mendekati kursi penumpang yang pintunya sudah Jongin buka-kan. Melewati Chanyeol sambil menubruk tubuhnya sedikit, yang membuat Chanyeol terkekeh melihat tingkah adiknya yang kesal.

Mijin masuk ke dalam mobil dan duduk di sana. Jongin menutup pintunya dan berjalan memutar. Sebelum mereka pergi, Jongin berkata; “Gue cabut dulu, Bang!”

Chanyeol mengangguk. “Jagain ade gue! Awas kalau doi balik-balik lecet. Liat aja tar!” ancamnya.

Jongin terkekeh sambil membuka pintu. “Iye, Bang. Ah elah takut amat…. Yaudah, gue cabut ya, Bang!”

Mijin hanya memperhatikan keduanya dari dalam, sedikit aneh melihat tingkah Chanyeol yang lumayan ramah pada Jongin. Ingat itu, LUMAYAN! Karena asal kau tahu, Chanyeol akan berkata sinis, kasar, dan segala umpatan kotornya pada setiap laki-laki yang datang ke rumahnya. Entah itu dengan alasan menjemput, menengok atau kerja kelompok sekalipun, Chanyeol enggan peduli.

“Si Caplang ngasih apaan sama lo, by?” Tanya Mijin setelah keduanya mulai meninggalkan pekarangan rumah.

“Surat perjanjian gitu, ngakak sih gue. Tapi gue ngertilah perasaan dia, doi sayang banget sama lo, by.”

“Perjanjian apaan? Si Caplang emang aneh banget ya Tuhan. Dia mah lebay tau ngga sih?!”

Jongin tersenyum. “Yah…, gitulah. Intinya gue harus jagain lo terus. Lagian kalau gue jadi dia, gue juga bakal lakuin hal yang sama kok, by.”

“Maksud lo?”

“Eh? Gue belum cerita ya?”

“Apaan sih? Jangan bikin penasaran deh!”

Mobil Jongin berhenti seketika, lampu merah menghentikan aktivitas lalu lintas dari arah selatan yang mereka lewati. Jongin menghela nafas sebelum memulai ceritanya. “Dulu, gue juga punya adek cewek. Tapi dia udah ngga ada. Dia meninggal dibunuh seudah diperkosa sama cowoknya.”

Hening beberapa saat, Jongin seolah berat menceritakan kisah kelam masa lalunya itu.

“Argh bangsat!” Jongin memukul stir mobil. Terlihat jelas raut wajah yang kekesalan dan dendam di dalam dirinya.

Mijin terkejut, tangannya mengelus surai hitam Jongin lembut. “By, kalau itu berat buat lo ceritain, lo gausah cerita.”

Jongin melirik Mijin, kemudian tersenyum miris. “Gapapa kok, gue rasa harus cerita sama lo, biar lo paham gimana sayangnya abang lo sama lo, by.”

Mijin menekukkan wajahnya lagi sambil melepaskan tangannya dari surai Jongin, diam menunggu cerita. Ia mengalah dan siap mendengarkan.

“Intinya gue nyesel dulu ngga bisa jaga dia bener-bener. Gue sempet gila gara-gara kehilangan dia. Gue kaya orang kesetanan nyari cowoknya itu, tapi orangtua gue ngelarang dan bilang; ikhlasin dia, ini udah jalan takdirnya. Tapi…, kenapa? Kenapa harus kayak gini? Kadang gue ngerasa Tuhan ngga adil banget, by! Sumpah argh—“

Tinn..!! Tinn..!!

Klakson mobil di belakang Jongin mulai berisik saling menyahut. Lampu merah sudah berubah menjadi hijau. Jongin mengumpat sambil menarik persneling. “Ngga sabaran banget si bangsat!”

“By…, tenang dong.”

Jongin menghela nafas dalam-dalam. Berkali-kali ia lakukan itu selama ketenangannya belum kembali pulih. Dan Mijin hanya menyentuh tangan kekar Jongin diatas persneling, menenangkan sang kekasih.

Sorry by, gue malah marah-marah gini.” Sahut Jongin setelah merasa lebih baik.

“Gapapa. Seengganya itu jadi pelajaran buat lo sama gue sendiri kalau keluarga emang orang yang paling berharga sengeselin apapun mereka. Dan gue salut sama lo, by. Gue harap dia tenang disana.”

“Ssst.” Jongin menyuruh Mijin diam. “Dia udah jadi masa lalu. Gue sayang sama lo, gue janji ngga bakal bikin kejadian yang nimpa adek gue keulang.”

Mijin tersenyum mendengar kalimat yang meluncur dari mulut Jongin. Rasanya ia ingin memeluk kekasihnya itu sekarang, sayangnya kondisi tidak membiarkan mengingat Jongin sedang menyetir laju mobil.

“Eh by!” teriak Mijin tiba-tiba. “Bolos yuk?”

What the heck, Park Mijin?! Are you kidding me?! Bolos?!

 

—FIN

Arr’s Note:
Apasih ih geje banget ya:((( gayus banget yaa:((( maafkan kegabutan:’v wkwkw. Mind to review? :’v

25 thoughts on “[ONESHOT] 10 Rules ― ARRYLEA’s VERHAAL

  1. OMEGAT, INI ASLI NGAKAK. KESEL JUGA PUNYA ABANG CEM CEYE, TAPI MAU DENG PUNYA ABANH CEM TUH ORANG. SAYANG BANGET SAMA ADEKNYA, MAKIN CINTA DEH /PLAKK/😂
    WHAT THE, ITU FORMULIRNYA ASLI BKIN NGAKAK AMPE ANE TERPINGKAL-PINGKAL TERUS TEMEN NANYAIN, “SAMPEYAN MASIH WARAS?”
    WKWK, CHANYEOL, SESUATU BANGET DAH /PLAK/😂
    KEEP WRITING KAK, HWAITING!
    MAAFKAN KEPSLOCKKU YG TETIBA JEBOL INI,😂

    • ENAK YA PUNYA ABANG CEM CEYE WKWK. LIMITED EDITION :v

      BUAHAHAHA. SAMPE TEMENNYA BILANG GITU ANJIR😂😂😂😂😂😂

      KALAU NGGA SESUATU BUKAN CHANYEOL DONG😏

      MAKASIH REVIEW-NYAA DUHH CINTA DEH😁😁😗😗😗😗😗

  2. Ping-balik: [ONESHOT] Accidentally ― ARRYLEA’s VERHAAL | EXO FanFiction Indonesia

  3. Ini chanyeol sm adeknya kaya gue sama abang gue bgt dah sumpah, sampe rasanya takut bawa doi maen krmh kalo si abang lg drmh tp itu sih dulu jaman sma eh jd curhat wkwkwk, keren suka sm ceritanya efek pengalaman pribadi bgt hhahahha 😂😂😂

  4. Hahaaa swerrr inimah chanyeol,konyol bin salut ,,tp keren,,apalagi punya kakak super tampan kaya chanyeol,, mau lah jd adeknya..
    – btw,ko bisa ada ide bikin fik kaya gini,/ pengalaman pribadikah?

    • :v bahagia ya pokonya kalau punya kaka cem chanyeol wkkwkw.

      Yang pengalaman pribadi sih cuman pas chanyeol bilang, “Kurang apa sih gue, dek?” wkwk. Sisanya delusi:((((( hehe.

      Makasih ya udah sempet baca dan review><

  5. Pft….. demi kerang ajaib, ini fanfic ngocok perut ane!!!! Heyaaaaaaaa….. comedy nya dapet bingo#alaymodeon
    Caplang oh caplang, vintar sekaleh dirimu nak!!!!
    Walaupun awalnya sempet aneh sama bahasa percakapannya, tapi bagus kok.
    Keep writing and fighting !!!
    Ditunggu sekuelnya?#dibacok author

    • Wkwkw. Sengocok perut itukah? Haha.
      Caplang kesayangan itu, jangan salah wkwkw.

      Biar jadi ciri khas gitu dialognya wkkw.
      Makasih ya udah sempet baca dan review><

      Sekuel? Hm…, leh ugha wkwk :v

      • Emang ada eskocok? Kubaru tau:( wkwkwk.
        Ga janji, tapi diusahakan dibuat hehehehe.

        Itu kudu banget nari exo lotto?:( awkowooaw.Kukira mo nari goyang dribble atau apa gitu yang lebih hawt:( /eh wkw

      • Ada, tapi gak di jual#bhaks
        Iya, aku juga gak maksa kok. Tapi kalo boleh sequelnya cerita si cunyul ama pacarnya, kalo si minji ama kai selipin dikit aja ceritanya #banyak minta dan kemudian di tabok
        Hihi.. iya, abisnya greget banget ngeliat chan di ntu mv, dan kemudian terbayangkan chanyeol yang sedikit bangsat di ff ini

      • Wkwkw. Ngakak, ngga dijual:(((( meni gitu ih haha.

        Boleh, boleh :v aku emang sempet bikin sekuel begitu kok. Lah bisa sehati /? cie wkkw.

        Wkwk. Bayangkan ceye jadi abangmu kemudian ngelarang pacaran wakooawoawoa :v

      • Jangan ngakak kak, nanti sakit perut?

        Yes, ternyata ada sequel! Hm, mungkin karena aku adalah seorang mind reader? *abaikan
        Cie yang samaan… jangan-jangan…. jangan jangan aku istri chanyeol?*ditabok

      • Aku udah biasa sakit perut gara-gara ngakak:((( aku mah apa atuh:( /lah

        Kadang aku suka ngerasa readers yang minta sequel tuh cuman cuap aja:( /seketika nethink awkowoaw. Ngga deng canda :3

        Iya kamu istri Chanyeol. Aku iyain aja:(

        Jangan manggil kaka atuh ih:( masih muda aku mah:(

  6. gila ngakakin anjay. walaupun bahasanya agak kasar tapi ringan ko, cause itu emng bahasa sehari-hari banget yang bilang ke temen anj*** trus bilang ke kaka sia, maneeh, atau si kampreet. walaupun pake gue lo tetep enak dibacaa. kereeen deh ka. trus itu rulenya usurnya kekerasan banget ya gilak dah canyeol. etapi klo punya kaka kek chanyeol mantep kek nyaaa.

    • Kalau punya kakak kaya Chanyeol, bahagialah jadi adeknya wkwkw.

      Iya abis kalau mau dibikin bahasa baku dialognya agak gimana gitu. Kan biar tambah ngakak dikit hahaha.

      Maneh, Sia? Orang sunda yaa? Hahaha.
      Iya sih itu bahasa sehari-hari, biar mudah aja bacanya wkwk.

      Thanks for read and review Rizkaaa:)

  7. Hai., kakk^^

    “Kurang apa coba gue, Dek?” KURANG PEKA BANG..^^v

    Duhh aku bcanya senyum” + ngakak pula..kkk apa lagi yg pas bca peraturannya..kkkkkk

    Duhh., jongin oppa kasian juga, yg sabar bang & ikhlasin aja.

    Eehhhh., ini apaan??? Kok endingnya bikin aku melongo#plaakk

    • Wkwkw. Itu kata-kata yang pernah abangku bilang waktu itu. Jadi terinspirasi hahahhaha.

      Iya itu endingnya gabut banget maaf ya hahahahaha. Aku bingung lanjutinnya gimana :’v wkwk.

      Makasih udah baca><

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s