[EXOFFI FREELANCE] U R (Prolog)

14203517_543564355850024_317131617_o.jpg

[EXOFFI FREELANCE] U R (Prolog)

Title : U R

Author : REDLIGHT

Length : Chaptered

Genre : Slice of life, Romance, Comedy, Marriage life, Crime

Rating : PG-13

Cast : Oh Sehun EXO /-/ Bae Irene RV

Main cast : Song Joong Ki /-/ Park Chanyeol EXO /-/ Jung Eunji APINK /-/ Byun Baekhyun EXO /-/ Jisoo BLACKPINK /-/ HyunA *bisa bertambah kapanpun*

Disclaimer : Hanya seorang author biasa, yang bisa saja melakukan kesalahan. Jadi mian kalo author ada banyak kesalahan di ff ini.🙂

 

PROLOG 

Tak apa jika kamu gagal, kegagalanmu harus dijadikan sebagai motivasi untuk kedepannya. Jangan menyerah di tengah usahamu, karena usaha untuk berhasil itu tidak akan sia-sia.

Jika kamu merasa sakit, putus asa, hilang harapan, kamu harus menghilangkan semua pikiran negatif itu. Jangan terlalu memikirkan hal negatif yang membuatmu tidak bisa bangkit dalam kegagalanmu.

Bagaikan berjalan, jika kamu berhenti, maka semua akan terlihat sama, jalan kedepan hanya kau bisa ratapi. Dan jika kamu berjalan, makan jalan yang kamu ratapi itu akan terlewati dengan mudah. Jika sesuatu menghalangi atau menghambat jalanmu, sesuatu yang amat sangat kamu takuti atau yang amat sangat kamu ingin hindari, maka kamu harus menghadapinya dengan berpikir positif dan bertindak dengan benar.

-|||-

Eo, tolong siapkan ruang operasi, sekitar 5 menit lagi seorang korban kecelakaan mobil akan segera tiba” Ucap seorang dokter berkaca mata dengan terburu-buru. Ia setengah berlari menuju pintu masuk rumah sakit.

Suara sirine mobil ambulan sudah terdengar, sekitar 3 meter lagi mobil ambulan yang mengangkut korban kecelakaan mobil akan berparkir di tempat pemberhentian mobil tepat di  depan pintu masuk rumah sakit.

Seorang pasien perempuan terbaring lemah diatas ranjang lipat yang baru saja di turunkan dari mobil ambulan, siap dilarikan ke ruang operasi. Tak tunggu lama, dokter berkaca mata itu mendorong ranjang lipat menuju ruang operasi, dibantu beberapa orang suster.

Operasi berjalan dengan lancar, pasien kecelakaan mobil tadi sudah dipindahkan ke ruang rawat, dan kondisinya sudah membaik. Operasinya hanya memakan waktu satu jam, tidak banyak yang harus di obati, hanya mengeluarkan beberapa pecahan kaca mobil yang masuk kedalam kepala dan lengannya.

“Ahh aku benar-benar lelah” keluh Irene sambil memijat pelan bahunya, lalu ia menyenderkan badannya di kursi kerjanya sambil memejamkan mata.

“Kau sudah bekerja dengan baik Irene-ah” seorang laki-laki memukul Irene dengan sebuah buku yang digulung.

“Ya!” Irene berteriak kesal.

“Siapa yang baru saja kau operasi? Apa operasinya berjalan dengan lancar?” Tanya laki-laki itu.

“Chanyeol-ah, aku ingin beristirahat untuk sebentar saja, jadi jangan ganggu aku, Arraseo?” Irene menempatkan sebuah buku terbuka di wajahnya untuk menutupi wajahnya.

“Eii, setidaknya kau beri tau aku dulu, akukan rekanmu, jadi aku harus tau” Chanyeol terus meminta Irene untuk memberi tahu siapa pasien yang baru saja Irene operasi.

Cihh, kau. Sifatmu tidak pernah berubah”

“Cepat beri tau” Chanyeol mengetuk-ngetuk meja kerja Irene.

Aishhh!! Kau membuatku kesal” Irene menyingkirkan buku dari wajahnya, menatap Chanyeol intens.

“Seorang perempuan cantik, seperti model, bermarga Jung. Aku tidak tau pasti namanya, Eumm, Jung Eun Gi? Ahh ani, Jung Eun Bi? Kurasa bukan, Jung Eun Ji, ahhh!! Benar itu, Jung Eun Ji” Irene berpikir keras untuk mengingat kembali nama pasiennya.

Dap… Dap… Dap…

Chanyeol berlari dari tempatnya, kencang sekali, tidak peduli menabrak pintu sekalipun.

Heol, kenapa dia terburu-buru sekali?” Irene membulatkan matanya, masih kaget. “Ahh, molla” Irene kembali memejamkan matanya.  -|||-

Kuharap itu bukan dirimu. Chanyeol berteriak-teriak di dalam hatinya. Ia berlari menyusuri koridor rumah sakit, mencari sebuah ruangan seorang pasien yang baru dotangani oleh Dr.Bae atau bisa disebut Irene.

Chanyeol berhenti didepan pintu sebuah kamar yang di sebelah pintu tertempel nama penghuni ruangan tersebut. Ny.Jung Eun Ji, Chanyeol merasa benar-benar terkejut ketika membaca nama itu.

Chanyeol membuka perlahan kenop pintu kamar itu, dan mulai masuk secara perlahan. Pasien yang bermama Jung Eun Ji itu belum terlihat, ranjang yang ditempatinya tertutupi tirai berwarna putih.

“Eu .. Eun Ji-ya, benar itu kau?” Chanyeol berkata lirih.

“k-kenapa ini bisa terjadi?”

//–//

“Dr.Bae, apa kau sudah menemui ketua?” Tanya Baekhyun, seorang dokter magang di RS. Hae Won, tempat Irene bekerja.

Ani, aku belum menemuinya” Irene menggelengkan kepalanya.

Waeyo? Ketua sudah menunggumu sedari tadi. Kenapa kau tidak langsung menemuinya?” Ucap Baekhyun sedikit kesal.

“Kenapa jadi kau yang kesal? Memangnya ada urusannya denganmu?” Ucap Irene ketus.

Aishhh jinjja.” Ucap Baekhyun lirih.

Ddrrrtttt…. Drrrtttt…. Ponsel milik Baekhyun bergetar. Dengan cepat ia mengeluarkan ponsel dari saku jas dokternya lalu mengangkat panggilan masuk.

“Ne, ketua, akan saya beritahu kembali”

“….”

“Ne, ne arraseo” 

“Dr.Bae. Kutegaskan kembali, anda di perintahkan untuk menemui ketua sekarang juga” Baekhyun memegang erat ponselnya, kesal.

Arraeso, kerjakan ini, aku belum selesai mengerjakannya, dan tolong periksa pasien di kamar no 26, 58 dan 100” Irene memberikan setumpuk berkas-berkas kepada Bawkhyun dan segera menuju ruangan ketua RS. Hae Won.

“Kenapa ketua tidak meneleponnya langsung saja? Benar-benar merepotkan!” Gerutu Baekhyun.

 

-|||-

Kenapa dia selalu memanggilku? Dan kenapa disaat sibuk seperti ini? Menyebalkan!! Akan ku enyahkan kau jika aku bisa!. Gerutu Irene dalam hatinya.

Irene menaiki lift menuju lantai 5, setelah pintu terbuka di lantai 5, Irene keluar dari lift lalu berjalan menyusuri koridor, menuju runangan paling ujung.

Ketua Song

Tertera sebuah papan putih berukuran sedang di depan pintu bertuliskan Ketua Song. Membuat Irene menghela nafas kesal. Membaca namanya saja ia sudah kesal, apalagi jika sudah melihat wajahnya.

Tok…tok…tok…

Irene mengetuk pintu pelan. “Masuk” terdengar suara seorang laki-laki dari dalam ruangan, jelas itu adalah ketua Song.

Irene memutar kenop pintu lalu membuka pintunya lebar-lebar. Irene mulai melangkahkan kakinya, masuk kedalam ruangan yang amat sangat ia benci. Irene menutup kembali pintunya, ia mulai mendekati meja kerja ketua Song, lalu berhenti di jarak 1 meter dari meja kerja ketua Song.

“kenapa kau mengabaikan panggilanku? Aku sudah meneleponmu beberapa kali, dan kau tidak menjawabnya sama sekali” Ketua Song berkata dengan serius, menatap Irene tajam.

Mianhaeyo, aku sibuk” Irene membalas tatapan ketua Song dengan tatapan dingin.

“Tidak ada alasan, sebagai gantinya, kau harus temani aku makan malam ini” Ketua Song menyunggingkan senyuman yang benar-benar membuat Irene jijik.

Mwo? Tidak bisa, tidak bisa begitu” Irene menolaknya.

“Apa kau baru saja menentangku huh?” Ketua Song banglit dari duduknya, medekati Irene.

“Ahh, ani, mianhaeyo”  Irene sedikit membungkukkan badannya.

“Baiklah, malam ini pukul 9 di restoran Siap saji di dekat RS” ketua Song mengelus-elus bahu Irene.

Gila!! Dia benar-benar gilaa!!! Aku membencinyaaa!!!! Lihat saja kau! Ketua cabul!. 

//–//

“Eomma, aku ingin pulang, aku tidak ingin menginap disini lagi” Sehun turun dari ranjang rumah sakit.

“Sehun-ah, kau tidak boleh seperti itu, kau masih harus di rawat disini” seorang perempuan berusia sekitar 40-an itu menahan lengan anaknya, mencegah untuk tidak keluar dari ruangan.

“Aku ingin pulang”

“Baiklah, aku akan meminta izin terlebih dahulu kepada dokter” Ibu Sehun menyerah, anaknya benar-benar keras kapala.

 

-|||-

“Eommeonim, sepertinya anak anda tidak perlu di rawat lagi, demamnya sudah turun, ia hanya perlu beristirahat di rumah” Irene tersnyum kepada seorang perempuan berusia sekitar 40-an itu, Ibu Sehun.

“Sudah ku katakan, aku tidak perlu di rawat lagi” Sehun tersenyum penuh kemenangan setelah Irene memberi tau bahwa dirinya sudah boleh pulang.

“Baiklah kalau begitu, terimakasih dok” Ibu Sehun membungkuk sopan kepada Irene, dengan cepat ia membalas bungkukkannya.

Setelah itu, Irene meninggalakan kamar inap tersebut lalu segera menuju kamar pasien selanjutnya yang harus ia periksa. Tetapi tiba-tiba seseorang menarik lengannya hingga Irene berhenti berjalan.

Wae?” Ucap Irene dingin

“Kembalikan ponselku” Sehun melepas pegangan tangannya lalu mengulurkan tangannya, meminta ponselnya di kembalikan.

“Ponsel apa?” Irene tidak mengerti

“Ponselku! Tadi kau mengambilnya” Sehun mengerutkan dahinya.

 

-FLASHBACK- 

“Annyeong haseyo” Irene memasuki kamar pasien bernama Oh Sehun. Irene siap untuk memeriksa Sehun.

Terlihar seorang laki-laki berperawakan tinggi dan lumayan kekar itu sedang memainkan ponselnya diatas ranjang rumah sakit.

“Sehun-ssi, bolehkah kau menyimpan ponselmu sebentar? Aku akan memeriksamu dulu” Irene mendekati ranjang rumah sakit yang ditempati Sehun.

“Langsung periksa saja, tidak usah melarangku” Ucap Sehun cuek.

“Sehun-ssi, apa kau tidak bisa mendengarku? Simpan ponselmu” Irene sedikit menaikkan nada bicaranya.

“Tidak” sehun menolak dan terus memainkan ponselnya.

!!!

Ya!! Apa yang kau lakukan? Kembalikan ponselku!!” Sehun berteriak kesal ketika ponsel yang asalnya berada di tangannya, kini telah jatuh ke tangan dokter yang menurutnya sangat menyebalkan.

-FLASHBACK OFF- 

“Ponsel? Eum.. P-ponsel. Ahhh ponsel ini? Hampir saja aku membuangnya barusan. Rasanya aku kesal sekali ketika menggenggam ponsel milikmu itu, menjijikkan” Irene mengeluarkan ponsel yang dimaksud dari saku jas dokternya.

“Menjijikkan? Apa katamu? Ya! Kau!” Sehun mengangkat tangannya, ingin sekali rasanya Sehun memukul dokter menyebalkan di hadapannya itu. Tapi sehun mengurungkan niatnya.

Mwo? Kau ingin memukulku? Silahkan” Irene mengengkat kepalanya.

“Kau benar-benar dokter yang menyebalkan!” Gertak Sehun sambil meraih pinggang Irene, membuat Irene sedikit terjinjit. Jarak Wajah Sehun dan Irene sangatlah dekat, sekitar 20 cm.

Bahkan mereka dapat merasakan hembusan nafas satu sama lain yang menerpa kulit wajah mereka.

Pipi Irene mulai menunjukkan rona merahnya, degup jantungnya semakin kencang. Sebelumnya Irene belum pernah sedekat ini dengan seorang laki-laki.

Ketika Irene lengah, Sehun mencari kesempatan untuk memgambil ponselnya. Dan akhirnya…. DAPAT!.

Sehun mendorong pelan Irene agar menjauh lalu tertawa penuh kemenangan.

“Kau terlalu lengah Dr.Bae” Sehun tersenyum licik lalu berlari meninggalakan Irene yang masih diam di tempatnya.

“Dia! Benar-benar! MENYEBALKAN OH SEHUN” teriak Irene dalam hatinya.

///–///

Eomma, kau mau pergi kemana?” Tanya Irene terburu-buru ketika melihat ibunya yang sudah hampir membuka pintu rumah.

“Pergi” Jawab ibu Irene singkat.

“Kemana?” Tanya Irene lagi.

“Kau tidak perlu tau” ibu Irene membuka pintu dan keluar dari rumah,mlalu menutup pintunya dengan sedikit keras, membuat Irene terkejut.

“Bahkan kau tidak menyambutku datang” Gumam Irene.

Irene kembali menuju ruang tv, duduk di sofa tepat dihadapan televisi yang menyala, menayangkan sebuah acara variety show terpopuler di Korea Selatan.

 

5 menit … 10 menit … 15 menit … 

“Hoamm.. Kenapa aku mengantuk? Aish, aku tidak boleh tidur! Aku harus menunggu Appa pulang” Irene menepuk pelan pipinya, lalu segera bangkit dari duduknya, mulai berkeliling rumah.

Sudah hampir 3 tahun Irene tidak tinggal di rumah milik orang tuanya, karena kesibukan dunia pekerjaanya, Irene harus rela pindah ke tempat yang dekat dengan tempat ia bekerja, RS. Hae Won.

 

Omo omo omo, apa eomma tidak membereskan kamarnya? Yaampun, berantakan sekali” Irene menggelengkan kepala sambil memungut baju-baju yang berhamburan di lantai.

Irene memunguti baju milik ibunya yang berhamburan di lantai, satu persatu, lalu melipatnya asal. Tidak hanya di lantai saja, baju-baju itu juga berhamburan diatas ranjang dan lemari-pun terbuka, isinya benar-benar berantakan.

Ketika sedang membereskan baju di dalam lemari, Irene tidak sengaja menyentuh sesuatu, seperti kardus kecil, Irene mengambil benda itu lalu melihatnya.

“Apa ini?” Ucap Irene pelan sambil membolak-balik sebuah benda berbentuk segi empat gepeng yang cover luarnya di tutupi oleh selotip berwarna hitam. Irene membuka penutupnya dan mengeluarkan isi dari benda itu.

Betapa kagetnya Irene ketika melihat isi dari benda itu, tak bisa dipercaya. Irene menjatuhkannya, Irene benar-benar terkejut. Irene kembali meraih benda itu lalu segera mengembalikannya ke tempat semula, dengan cepat Irene berlari keluar kamar orang tuanya dan …

 

Brukk!! 

 

Irene menabrak sebuah tempat sampah, isi tempat sampah itu tumpah, berserakan. Irene berdiri lalu ia mendekati tempat sampah itu dan apa ini? Apa benda yang sama?, batin Irene dalam hatinya.

Tertulis sebuah tulisan di sampah yang berserakan itu k***om. Dan beberapa buah tissu yang warnanya tidak putih lagi.

Ada apa ini? Kenapa benda itu ada di rumah ini? Bukankah Appa jarang pulang? Kenapa Eomma membeli begitu banyak benda itu?. Apa Eomma belum membuangnya? Ahh tapi tidak mungkin. Tunggu! Tadi Eomma akan pergi kemana? Dan… Pakaiannya?. 

 

To Be Continue 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

4 thoughts on “[EXOFFI FREELANCE] U R (Prolog)

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s