[EXOFFI FREELANCE] Hi, The One (Chapter 5b)

hi-the-one.png

a fanfic by drixya

HI, THE ONE

with Allena Wu (OC), Oh Sehun and find by yourself.

Genre(s) : Romance, Friendship, Hurt || Rating : PG-15 || Length : Chaptered || Warning! Work in progress.

I own nothing, but storyline and OC. Beautiful poster credits to Xyoblue.

Prev : [1] Do You Miss Me? || [2] Something Has Changed || [3] Too Confusing || [4] Caused of Me || [5a] Can’t Leave

Piece 5b : Though it’s hurt. Though it sounds silly.

E—X—O

Satu hal yang Allena sadari begitu menatap langsung manik Sehun yang memancarkan kesenduan, ia tidak bisa meninggalkan Sehun. Manik itu masih sama seperti dua tahun lalu. Meski Seungwan bilang Sehun tak lagi sama seperti saat itu. Tidak apa. Allena sudah memilih untuk bertahan, itu artinya apapun resiko yang akan ia dapati, Allena siap. Lagi pula ini salahnya. Salahnya yang pergi meninggalkan seseorang yang selalu bergantung padanya tanpa jejak, tanpa kabar. Hingga membuatnya berubah menjadi lelaki tanpa hati.

Oh Sehun selalu terlihat sempurna di mata orang lain. Tampan, pintar, terlahir di keluarga sangat kaya. Andai sekali saja mereka melihat Sehun dari sudut pandang lain, mereka akan tahu jika Sehun tak sesempurna itu. Hidupnya tampak menyenangkan, memang. ‘Tampak’-nya jika perlu di tekankan.

Well, yang terlihat mata tak selalu sesuai yang nyata. Dulu Allena merasa hidupnya masih lebih beruntung dari Sehun. Kendati Allena sendiri adalah anak korban broken home. Dibanding Sehun yang orang tuanya lengkap tapi tak pernah benar-benar melengkapi hidup Sehun.

Ia hanya hidup berdua bersama sang kakak, Luhan, ditemani seorang pelayan dan penjaga yang bekerja di rumah. Ayah dan Ibu Sehun dahulu nyaris tak pernah terlihat di kediaman mereka sendiri. Keduanya sibuk berpindah dari satu kota ke kota lainnya, dari satu negara ke negara lainnya. Demi membiyai kehidupan Sehun dan Luhan, katanya. Atau demi menumpuk persediaan uang di saku mereka, kata Sehun.

Sebelum bertemu Allena, Sehun bilang hanya Luhan satu-satunya orang yang ia percaya di dunia ini. Karena baginya, Luhan lebih dari sekedar kakak. Luhan adalah sahabat, musuh, ayah, ibu, dan koki untuknya. Begitu arti Luhan bagi Sehun.

Dan Allena…juga sama berartinya dengan Luhan. Allena bukan hanya cinta pertama Sehun. Menurut Sehun, Allena adalah gadis yang ditakdirkan Tuhan untuk menemaninya dalam kesunyian, menghidupkan lagi hidupnya yang sempat terasa tak berarti. Jika Allena adalah obat, maka Sehun adalah pecandu yang ketergantungan padanya.

Bahkan Sehun pernah berseloroh pada Allena, ‘Sekalipun kau menikah dengan lelaki lain, aku akan tetap bersamamu.’. Allena bilang Sehun sudah gila dan Sehun mengamininya. Bukankah sudah jelas mengapa Sehun sebegitu frustasinya ketika ditinggal Allena?

Jelas pula mengapa Allena harus menanggung resikonya. Sekalipun berarti ia harus kembali menahan perihnya goresan luka di hati. Tak masalah. Pikir Allena, sakitnya tak seberapa dibanding yang Sehun alami.

“Jangan melamun.” Allena tersentak merasakan tangannya digenggam oleh seseorang. Sudut bibirnya secara otomatis membentuk kurva indah ketika mendapati si pelaku adalah Oh Sehun. “Kenapa tiba-tiba di sini? Tidak ada kelas?” Tanya Allena. Heran akan kehadiran Sehun di lorong area fakultas ekonomi. Sehun, kan, mahasiswa arsitektur.

“Bagaimana jika aku bilang ingin menyadarkan seorang gadis yang berjalan sambil melamun? Memang kau sedang melamunkan apa, sih? Aku, ya?”

Selagi berjalan beriringan, Allena mengangkat setengah lengan mereka yang saling bergenggaman. Lengan kirinya yang bebas ia gunakan menunjuk telapak yang berukuran lebih besar. “Aku sedang memikirkan pemilik tangan ini,” katanya kemudian.

Satu alis Sehun terangkat. “Berarti kau memikirkanku, kan?” Sehun memastikan. Yang direspon dengan kedikkan bahu oleh Allena.

“Susah sekali sih mengakuinya? Aku tahu, kok, setiap hari kau selalu memikirkan Oh Sehun yang tampan ini.” Allena berdecak sebal atas kepercayaan diri Sehun. “Karena aku juga selalu memikirkanmu.” Sehun menyambung kalimatnya sendiri, sambil lalu mengecup lengan Allena yang berada dalam genggamannya tanpa melepas tatapannya dari si gadis.

Gadis Wu tenggelam beberapa saat dalam manik kelam Sehun sebelum mengalihkan pandangannya ke depan dan berdehem sebagai bentuk pengusir rasa gugup. “Chessy sekali.” Ledek Allena setelah berhasil menetralisir degup jantungnya.

“Setidaknya aku sok cheesy hanya padamu, kan?”

“Yakin tidak pada yang lain?” Kekehan terselip dalam kalimat Allena. Ia bermaksud bergurau. Tapi Sehun cukup tersindir oleh kalimat tersebut. Bagaimana jika Allena tahu? Sehun terus bertanya dalam hati.

“Aku tiba-tiba ingin makan es krim rasa Mint. Mau meneraktirku, tidak?” Permintaan Allena serta merta menepis pertanyaan dalam benak Sehun.

“Apa yang tidak untuk Allena-ku?”

****

“Sudah ku peringatkan untuk mundur saja. Kenapa kau tak mau dengar?” Suara seorang pemuda menggema di sudut gedung tak terpakai.

Lawan bicara yang berbeda gender dengannya bergeming dengan tangan terlipat di depan dada. Sorot matanya tampak acuh tak acuh, seolah keberadaannya di sana adalah suatu keterpaksaan. “Dia pantas untuk itu.” Ujarnya.

“Siapa yang kau maksud dengan ‘dia’?”

“Keduanya, I mean.” Si gadis kini memperhatikan serta memainkan kukunya yang dipoles merah. Seakan kutikulanya jauh lebih menarik daripada sang pemuda.

“Yang kau lakukan tidak ada gunanya! Seharusnya dari awal aku turuti saja permintaan orang tuamu untuk membawa kau kembali ke Kanada.” Desis si pemuda.

Si gadis berparas rupawan kembali menatap lelaki dihadapannya. Bibirnya tersenyum meremehkan. “Kau pun tahu kau tak bisa melakukannya. Aku hanya akan mundur jika aku sendiri yang menginginkan itu. Bukan karenamu, karena orang tuaku, atau…Oh Sehun sekalipun.”

“Ah, dan satu lagi. Aku tidak berniat untuk berhenti dalam waktu dekat.” Sambungnya sebelum benar-benar beranjak dari tempat itu.

***

Ada kebahagiaan tersendiri ketika Sehun kembali menjalani momen sederhana bersama Allena. Seperti mengulang waktu sepanjang SMA. Meski beberapa hal telah berubah, salah satunya ialah Allena yang tak lagi boyish, bahagia mereka masih sama.

Menikmati eskrim bersama di Han-gang Park, satu dari sekian banyak adegan yang terulang. Klise, memang. Tapi, toh, keduanya menikmati itu.

“Dulu kau sering mengajakku bolos sekolah hanya demi es krim itu, kan?” Tanya Sehun begitu mereka duduk di salah satu kursi di sana. Allena mengiyakan dengan anggukan. “Ingatanmu bagus juga.” Puji Allena disela keasikannya menjilati es krim Mint dengan taburan choco cips di atasnya.

“Aku tidak bisa melupakan segala hal yang berhubungan denganmu.”

Si gadis mendengus geli selagi menahan tawanya pecah. Diliriknya Sehun yang tengah meminum Bubble Tea melalui sedotan. “Sejak kapan, sih, kau jadi se-cheesy ini? Aku jadi rindu Sehun yang pemalu.”

“Jadi, kau lebih menyukaiku yang dulu? Kau mau aku memakai kaca mata lagi?” Sehun menghentikan aktivitasnya menyedot bola-bola kecil di dalam cup dan menatap penuh tanya pada si gadis.

Allena mengedikkan bahu, seolah meminta Sehun menemukan jawabannya sendiri. Tapi kemudian ia berujar, “ya, aku lebih menyukaimu yang dulu.” Seulas senyum tipis ia tunjukkan bersamaan dengan kalimat tadi.

Selama sepersekian detik, Sehun terpana akan senyum itu. Degup Sehun bertalu sepersis saat mereka pertama bertemu. Aku lebih menyukaimu yang dulu. Allena lebih menyukainya yang dulu. Sehun mengulang perkata-nya dalam hati.

Bisakah aku kembali ke saat itu?

Entahlah. Sehun sendiri sejujurnya tak mengerti bagaimana ia bisa terjebak dalam situasi seperti ini. Dimana seorang gadis yang teramat ia cintai telah disisinya namun ia sendiri tak dapat berhenti melukai gadis itu—walau bukan begitu yang Sehun inginkan. Rumit. Dan Sehun sadar ia sendiri yang membuatnya menjadi rumit.

***

Drrt. Drrt.

“Alle, aku angkat telpon dulu, ya?”

Allena mengangguk. Lantas Sehun beranjak ke sudut lain café. Ya, mereka sedang di salah satu café di area Sungai Han guna menyantap makan siang bersama. Allena kembali menyuap potongan daging selagi sesekali melirik ke arah Sehun yang tengah menghubungi seseorang.

Bukan ingin berprasangka buruk, tapi dilihat dari bagaimana Sehun menghindari Allena ketika menelpon cukup untuk menarik kesimpulan bahwa si penelpon adalah seseorang yang tak diinginkan Sehun ketika sedang bersamanya. Tebak siapa? Tentu saja, gadis lain atau katakan teman kencan Sehun.

Sebab sepanjang sepengetahuan Allena, biasanya Sehun menelpon di depannya pun tak masalah. Tak pernah ditutupi.

“Aku ada urusan mendadak. Apa tidak masalah kalau aku tidak mengantarmu pulang?” Tanya Sehun begitu ia kembali menghampiri Allena.

It’s ok. Aku bisa naik taksi.” Jawab Allena.

“Lain kali aku akan mengajakmu jalan lagi, ok? Hubungi aku jika terjadi sesuatu. See you.” Sehun mengecup kilat kening Allena lalu melangkah cepat meninggalkan café tersebut.

Lihat? Dugaan Allena benar, bukan? Terbukti dari kalimat ‘ada urusan mendadak’ yang tadi Sehun ucapkan. Itu sebuah dalih klise yang sering Allena dengar dari mereka yang berusaha menutupi kebenaran.

Mungkin Allena sudah harus membiasakan diri ditinggal sendiri saat sedang berduaan dengan Sehun. Atau mungkin juga harus siap menerima kebohongan Sehun mentah-mentah. Tiba-tiba selera makan Allena menguap begitu saja.

***

[From Won] Sibuk?

[To Won] Nothing to do..

[From Won] Kerjakan tugas Dosen Park? Mind to?

[To Won] Boleh. Mau dimana?

[From Won] Kau dimana? Biar aku jemput.

Senyum mengembang di wajah Allena. Spontan ia mengetik alamat café keberadaannya sekarang. Sepertinya Allena harus berterima kasih pada Jaewon yang selalu muncul di momen yang pas. Niat awal untuk segera pulang pun Allena batalkan. Well, mengerjakan tugas bersama kawan barunya yang menyenangkan tentu menjadi opsi yang lebih baik. Dibanding diam sendiri di rumah tanpa Seungwan yang sedang ke luar kota demi mengikuti sebuah festival film pendek.

Tak sampai lima belas minat hingga Jaewon muncul dari balik pintu café lalu keduanya membelah jalanan Seoul dengan mobil yang Jaewon kendarai.

Seriously??” Allena bertanya heboh ketika mereka telah tiba di tempat tujuan. Jaewon terkekeh melihat Allena yang tampak seperti anak kecil yang diberi hadiah permen.

Yup.” Jawabnya singkat.

“Tapi dari mana kau tahu? Aku tidak pernah cerita padamu, kan?”

Jaewon mengedikkan bahu. “Tebakkan beruntung, mungkin. Aku pernah melihatmu serius sekali sewaktu membaca brosur lomba Skateboarding di kampus. Jadi, ku pikir kau tertarik?”

“Ah.” Allena mengangguk paham, ia memang pernah membaca sebuah selembaran tentang perlombaan itu di majalah dinding kampus. “Waktu SMA, aku pernah beberapa kali ikut lombanya. Itu dulu. Sekarang, aku sudah berhenti.” Tutur Allena, lengkap dengan senyum sedih.

Perubahan ekspresi Allena tertangkap jelas oleh Jaewon. Menimbulkan keheranan dalam benaknya. Jika benar Allena dulunya sering mengikuti kejuaraan, pastilah Allena bukan sekedar hobi bermain skateboard. Jaewon saja yang sejak remaja menyukai dunia skateboard, tak pernah benar-benar serius sampai ikut lomba.

“Apa yang membuatmu berhenti?” Kini giliran Jaewon yang mengutarakan sebuah tanya. Allena tak serta merta menjawab. Ia duduk di salah satu kursi penonton, memandang kosong lapangan outdoor yang di desain sedemikian rupa untuk berselancar dengan papan beroda. Jaewon mengikutinya.

“Itu karena permintaan kakakku…”

***

“Apa?”

Sehun menghela napas kasar. Ia banting pintu dibelakangnya hingga menutup rapat. Kekesalan seakan tak bisa ia tutupi. Ekspresi Sehun tidak dapat berbohong. “Seharusnya aku yang bertanya, apa lagi maumu?” Tanyanya kemudian.

Tangan terlipat di depan dada dilengkapi senyum penuh kemenangan. Gestur ‘gadis sombong’ tengah dilakoni dengan baik oleh si lawan bicara. Walau sudah terbiasa, Sehun masih saja merasa kesal melihat keangkuhan gadis yang duduk anggun di sofa hitam.

“Apa aku mengganggu kencanmu dengan gadis itu?” Gadis tersebut balik bertanya. “Oh, ya. kau baru saja baikkan dengannya, ya? Maaf, ya, aku malah merusak momen kalian berdua.” Sambungnya dengan ekspresi bersalah yang tampak jelas dibuat-buat. Dia memang tidak merasa bersalah, omong-omong. Justru kelihatannya senang melihat amarah Sehun.

Namun kalimatnya tadi ternyata membuat Sehun menyadari sesuatu. Sesuatu yang semestinya ia sadari sejak awal. “Tunggu. Kau mengatakan apa saja padanya? Dia sudah tahu?” Sehun seketika panik bukan main.

Si gadis berderai tawa sembari menggelengkan kepala. Menganggap kepanikan Sehun adalah hal lucu yang terlalu berlebihan. “Aku tidak mengatakan apapun pada Allena. Tapi…dia sendiri yang melihatnya.”

“Kau…” Kedua tangan Sehun terkepal. Tak habis pikir akan perilaku gadis dihadapannya.

“Ck. Kau lambat sekali dalam hal mengenalku. Memangnya apa yang tidak bisa dilakukan seorang Yoon Cha untuk Oh Sehun tercintanya?”

Ya, seharusnya Sehun tahu tak ada yang tidak bisa Yoon Cha lakukan selama kegilaannya masih berlangsung. Yang kurang beruntungnya, kegilaan tersebut melibatkan dirinya dan otomatis…

Allena.

To be continued…

 

Maap sebelumnya buat update yg ngareeeeet bgt ini. Doain aja moga ideku ga mentok lagi dan bisa update cepet. Dan makasih buat kalian yg masih mau baca ff-ku ^^ See u~

4 thoughts on “[EXOFFI FREELANCE] Hi, The One (Chapter 5b)

  1. Haii. Aku reader baru. Udah baca dari chap 1. Maaf yaa baru komen disini hehehe
    Duhh aku nyesek banget jadi allena , tapi kasian juga sehunnya. Itu siapa lagi yoon cha. Sehhn berubah dong. Dia mah ga peka ihh sana allena nya. Ihh sumpah baper aku bacaa ini. Next ditunggu sangat yaakk. Makasih🙂

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s