[EXOFFI FREELANCE] Sunflower (Chapter 6)

it13mnnn1no9i

Judul                     : Sunflower Chapter 6

Author                  : Himawari

Length                  : Chapter

Genre                   : Sad Romance

Rating                   : PG-17

Main Cast            : Xi Luhan, Lee Dae Ah

Oh Sehun, Huang Zi Tao

Disclaimer           : Ini fanfiction murni dari pemikiran saya sendiri terinspirasi dari kehidupan sehari-hari.

Note: Maaf ya, kalau ada yang nunggu Luhan di Chapter ini karena nggak ada Luhan di Chapter ini. Disini akan lebih fokus sama Tao dan Dae Ah. Maaf banget kalau ada yang nunggu lama karena saya sendiri bingung memikirkan alur ceritanya, karena ada sedikit perubahan. Maaf kalau hasilnya mengecewakan. Tetap jangan jadi silent readers ya,, karena komentar kalianlah yang mendorongku untuk melanjutkan fanfiction ini

Gomawo J

Preview Chapter 5

Drrt Drrt

Pandangan namja tersebut teralihkan dengan suara getar dari ponsel milik Dae Ah. Ia pun segera membuka kunci layarnya

‘My Helios’

Nama pengirim pesan tersebut. Taopun segera membuka pesan tersebut dan membacanya.

Hai Dae Ah, Apa kabar, lama tidak bertemu ! Apa kau sedang sibuk sekarang? Meskipun kau sibuk datanglah ke pernikahanku bulan depan tanggal 21. Kau pasti rindu denganku kan? Atau Sehun? Oh ya, dia masih menunggumu loh. Jadi, jangan coba-coba untk absen ya J

Sampai jumpa

Chapter 6

‘My Helios? Apa dia orang yang selama ini di sukai Dae Ah?’ Pikiran namja itu mulai melayang-layang memikirkan kemungkinan-kemungkinan yang terjadi jika benar namja tersebut adalah orang yang selama ini mengisi hati gadis yang ia sukai itu. ‘Jika benar ini adalah pria itu Dae Ah pasti sangat sedih mendengarnya.’ Pikir Tao

‘CKLEK’ Suara yang berasal dari pintu di belakang namja itu sontak mengejutkannya, menghentikan sejenak hal-hal yang baru saja bergelayutan di pikirannya. Seorang gadis yang tadi ia cari menghampirinya. “Ada SMS ya? Dari siapa?” Tao terlihat menggaruk tengkuknya berpikir sejenak. “Oh i.ini..  dari operator.” “Ohh kukira SMS penting.” Jawab Dae Ah kecewa dan langsung menggiring kakinya ke meja makan. Sedangkan Tao segera menghapus pesan tersebut karena takut Dae Ah sedih jika mengetahuinya. Ia sangat yakin jika orang yang mengirim pesan tersebut adalah orang yang disukainya selama ini. Walaupun gadis itu tidak pernah memberitahunya namun Tao adalah orang yang sangat peka bahwa Dae Ah pasti sudah menaruh hati pada orang lain, dilihat dari sikapnya yang selalu menolak namja-namja yang mengajaknya berkencan, tidak peduli sesempurna apapun mereka. Ditambah lagi gadis itu pernah bercerita kepada Tao bahwa ia sangat menyukai Bunga Matahari, ia bilang ingin seperti bunga matahari namun juga tidak mau sepertinya. Awalnya Tao bingung dengan pernyataan gadis itu, namun setelah ia menelaah kembali cerita bunga matahari ia jadi tahu maksud dariperkataan gadis tersebut. Ia ingin menjadi bunga matahari yang selalu setia kepada orang yang dicintainya namun, ia tidak ingin berakhir seperti bunga matahari. Sudah tidak diragukan lagi bahwa ‘My helios’ adalah orang yang gadis itu suka.

“Aaa mashita.” Komentar gadis itu yang tengah mengunyah makanan di mulutnya. Ia benar-benar tidak pernah kecewa dengan masakan namja di depannya ini. “Kau harus memberi tahuku resep rahasianya Tuan muda Huang.” Tao menggeleng-gelengkan kepalanya melihat tingkah lucu gadis di depannya yang sedang melahap makananya dengan cepat. “ Kuberi tahu kau juga tidak akan bisa membuatnya.” Dae Ah mendengus kesal.” Shi de, aku tahu.” Tao hanya tersenyum. Pikirannya kembali tertuju pada pesan yang diterimanya tadi, ia tidak tega kalu sampai Dae Ah mengetahuninya nanti.

“Dae Ah-ya,,”panggil Tao yang tiba-tiba serius.

“Waeyo?”

“Emm,, tidak bisakah kau melupakan namja itu?”

“Ss..siapa yang kau maksud? Aku tidak mengerti.”

“Aku tahu kau menyukai seseorang tapi dia tidak pernah menyukaimu. Aku benarkan?”

“Kau bicara apa sih Tao aku benar-benar tidak mengerti.”

Tao menghela nafas mengetahui Dae Ah tidak mau berterus terang kepadanya. Ia memilih untuk mengalah dan mengakhiri topik pembicaraan mereka daripada akan bertengkar nantinya.

“Sudahlah, lupakan saja.” Dae Ah yang mendengarnya merasa lega. Ia tidak tau kenapa harus menyembunyikannya toh ia yakin pria itu tidak akan melakukan hal buruk terhadap Luhan.

“Oh ya, akhir pekan kau ada acara?” Ucap Tao kembali menghidupkan suasana yang sempat hening beberapa saat di antara mereka.

“aku akan pergi ke Guangzhou, ada syuting di rumah sakit hewan di sana.”

“Baguslah, kita pergi bersama sekalian liburan.”

“Hanya berdua?” tanya Dae Ah

“Tentu saja, dengan siapa lagi?”

“Sebenarnya, aku mau merekomendasikan seseorang untuk pergi bersama kita.” Tao tampak mengerutkan kening mendengar kata seseorang.

“Siapa? Temanmu? Pria atau wanita?”

“Laki-laki, dia anak angkatku. Namanya Shao.” Tao kembali terkejut mendengar perkataan gadis di depannya ini. ‘anak angkat ?’

“Kau mempunyai anak angkat?”

“Iya, aku mengadopsinya dua bulan yang lalu. Aku menemukannya di panti asuhan. Dia anak yang manis dan lucu. Tapi dia tidak mau ikut denganku karena dirumah dia akan sendirian. Jadi, aku hanya mengirimi uang untuk biaya hidup dan sekolahnya. Kadang aku juga mengunjunginya ke sana.” Terang Dae Ah membuat Tao mengaggukkan kepalanya.

“Kau pasti tidak sabar untuk menikah dan punya anak ya?”

“Ngomong apa sih kamu, tidak kok. Aku hanya menyukainya anak itu makanya aku adopsi.”

“Tapi kau kelihatan tidak seperti itu.”

“Kelihatan apanya? Aku tidak ingin segera menikah kok, aku masih muda usiaku masih 24 tahun.”

Tao yang mendengar elakan Dae Ah hanya tertawa melihat sangkalan lucu dari gadis di depannya tersebut. Menurutnya Dae Ah sangat lucu saat di ajak berdebat.

Akhirnya acara makan malam kecil merekapun selesai, Dae Ah kembali mengecek keadaan Kandy yang terlihat sudah mulai membaik. Iapun segera membereskan barang-barangnya bersiap untuk kembali rumahnya.

“Aku pulang dulu ya, jaga Kandy ,awas saja kalu dia sampai keracunan coklat lagi aku berjanji tidak akan mengampunimu.” Ancam gadis itu malah membuat lawan bicaranya tertawa renyah.

“Iya-iya Vety. Tolong ampuni kesalahank kali ini ya.” Ucap Tao yang sok imut membuatnya mual. Apalagi namja itu memanggilnya Vety. ‘Cih sungguh kekanak-kanakan’ pikir gadis itu.

Akhir pekan

                “Mama..”teriak seorang anak kecil 4 tahunan sambil berlari menuju sang bunda yang sedang merentangkan tangannya menunggu pelukan dari sepasang tangan mungil tersebut. ‘GREP’ Pelukan tersebut seolah telah menjadi obat tersendiri bagi dua insan tersebut untus melepas segala kerinduannya selama ini. Sudah hampir tiga minggu sang ibunda tidak mengunjungi buah hati yang baru saja ia dapatkan dua bulan yang lalu lantaran kesibukannya.

“Mama, Shao sangat merrindukan mama” ucap anak laki-laki itu terdengar sangat manja oleh Dae Ah.

“Mama juga,” tangan lembut gadis itu dengan sengaja mengusap-usap surai hitam anak tersebut menyalurkan rasa kasih sayangnya.

“Mama, Shao tidak sabar untuk jalan-jalan. Ayo cepat pergi.”rengek anak tersebut membuat Dae Ah gemas.

“Baiklah, tapi Shao berpamitan dulu sama Bibi Zhou.” Dengan sigap bocah tersebutpun segera menghampiri wanita paruh baya yang tadi ada di belakangnya. Bocah tersebut dengan sopan membungkukkan badan dan berpamitan kepada bibi panti asuhan tersebut.

“Bibi, aku bawa Shao dulu ya.” Pamit Dae Ah

“Baiklah, kau harus berhati-hati.”

Mereka berdua akhirnya sampai di mobil, yang disambut dengan namja jangkung yang sudah duduk manis di dalam mobil tersebut. “Mama, paman itu siapa?” bisik bocah tersebut pada mamanya melihat ada orang asing yang akan ikut liburan bersamanya. “Dia teman Mama namanya Tao.” Shao hanya mengangguk-anggukkan kepalanya tanda mengerti. Sedangkan Dae Ah memasangkan sabuk pengaman pada Shao yang duduk di belakang. “Ini perjalanan yang jauh kau harus pakai sabuk pengaman okey!” “Okey!” ucap Shao sambil mengacungkan jempolnya. Tao yang melihatnya dari kaca spionpun ikut tersenyum melihat kedua insan tersebut, ia membayangkan jika ia yang jadi ayahnya kelak. Dae Ah pun segera menutup kembali pintu mobil dan segera menuju jog depan di samping Tao. Ia melirik Shao yang sedang memainkan iPadnya sambil bernyanyi melihat video di dalamnya. “Shao sangat lucu ya, aku harap aku bisa menjadi ayahnya.” Ujar Tao setengah bercanda sambil menyalakan mesin. “Kau ini, jangan harap.” Tao menghela nafas. “Aku tau kau pasti akan menolakku lagi.” Dae Ah yang mendengarnya tertawa kecil. “Maaf Tao-ya,”

Akhirnya setelah menempuh perjalanan yang panjang merekapun sampai juga di Guangzhou. Merekapun segera ke hotel untuk memesan kamar. Dae Ah menggendong Shao yang sedang terlelap. “Biar aku saja yang gendong.” Tawar Tao tidak tega melihat gadis yang disukainya terlihat kewalahan menggendong anaknya. Mereka berjalan memasuki hotel layaknya sebuah keluarga kecil. Dae Ah dan Tao terlihat memakai topi dan syal untuk menyamarkan wajahnya, mengingat Dae ah adalah orang yang sering muncul di TV dan tentu saja mereka tidak ingin bermunculan lagi gosip tentang mereka. Apalagi sekarang mereka membawa anak kecil. Setelah selesai check in mereka pun segera memasuki kamar masing-masing untuk istirahat mengingat ini sudah jam 2 pagi dan Dae Ah harus syuting pagi-pagi.

Mentari pagi dengan gagahnya mulai menampakkan diri menyinari kota yang dipenuhi oleh gedung-gedung pencakar lagit ini. Seorang gadis cantik terlihat sedang berkutat dengan pakaian-pakaiannya memilih baju yang tepat untuknya syuting hari ini. Sebisa mungkin ia minimalkan suara berisik dari kegiatannya itu mencegah malaikat kecilnya bangun dari tidur panjangnya. Ia tau bocah itu pasti lelah. Sedangkan di kamar sebelah terlihat seorang namja yang masih bergelut dengan selimut tebalnya dan enggan untuk membuka mata walau hanya untuk mematikan alarmnya.

“Mama, sudah pagi ya?” gumam seorang namja kecil sambil mengucek-ngucek matanya. Sang ibu yang sudah siap dengan setelan kemeja dengan rompi Tailored Collar vest di tambah dengan jeans hitam dan heels yang menghiasi kakinya. Yeoja itu berjalan mendekati bocah tersebut lalu mengacak pelan surainya.

“Kau sudah bangun rupanya.”

“Iya, Mama, kita mau pergi sekarang?” tanya Shao dengan polos.

“Emm, begini Mama mau bekerja dulu kamu bisa bermain sebentar dengan Tao Xiansheng. Setelah itu kita pergi jalan-jalan. Ming bai ma?” Bocah kecil tersebut pun langsung menganggukkan kepalanya tanda mengerti.

“Ayo kau harus mandi dulu sayang,setelah itu kita makan”

“Okey mama,”

Setelah memandikan Shao dan membeli makanan, Dae Ah menggandeng tangan mungil Shao untuk bertemu dengan Tao. Berkali-kali gadis itu mengetuk pintu kamar Tao tapi tidak ada jawaban dari sang penghuni. Dae Ah pun mengeluarkan ponselnya untuk menelfon sang pemilik kamar. Selang beberapa saat terdengarlah suara parau dari ponsel tersebut. Menyuarakan suara seseorang yang sedang bangkit dari tidurnya. Dan tak lama kemudian pintu itupun terbuka menampakkan seorang namja dengan kaos putih polos dan celana training abu-abu serta rambut hitam yang acak-acakan khas orang yang baru bangun tidur.

“Lelah sekali ya?” tanya gadis itu sambil memasuki ruangan bercat putih tersebut dengan tangan yang setia menggandeng jemari si bocah. Tao hanya menganggukkan kepalanya menjawab pertanyaan Dae Ah. Terlihat sekali namja tersebut masih ingin kembali ke alam bawah sadarnya untuk melampiaskan rasa kantuk yang menyerangnya. “Ini sarapanmu aku taruh di meja, kau harus segera makan. Tadi malam kau belum sempat makankan?” Tao menatap gadis tersebut, memperlihatkan tampilannya yang terlihat rapi seperti orang yang sudah siap untuk pergi. “Kau mau berangkat sekarang?” Yeoja itu hanya mengangguk dengan tangan yang mencoba membuka kotak makanannya yang akan ia suapkan ke Shao. “Kau mau aku antar?” ucap Tao yang sedang berjalan ke kamar mandi untuk mencuci muka. “Tidak usah, aku naik taksi saja. Bisa-bisa beredar gosip lagi.” Tao tersenyum mendengar alasan gadis tersebut. “Tapi aku senang mendengar gosip tersebut.” Dae Ah mendengus mendengar ucapan Tao. “Bagimu memang tidak apa-apa, tapi mereka menganggapku sebagai wanita mata duitan yang mengincar hartamu. Apalagi kau anak dari  pemilik stasiun Tv tempatku bekerja, pasti mereka berpikir aku bisa masuk ke acara tersebut karena koneksi darimu. Tapi yang itu memang benar sih,” ucap gadis tersebut sambil menyuapi makanan ke bocah yang berada di depannya.

“Kurasa sudah waktunya, Tao aku titip Shao dulu ya? Shao kau tidak boleh nakal sama Tao Xian Sheng. Okey!” Ucap gadis itu melihat jam menunjukkan pukul 8 kurang 10 menit.

“Mama, hati-hati.” Dae Ah mengangguk menjawab kalimat yang baru saja dilontarkan oleh Shao. Tak lupa ia mencium kedua pipi bocah tersebut, persis yang dilakukan seorang ibu pada umumnya. “Kau tidak mau menciumku juga?” Timpal Tao merasa iri atas perlakuan gadis tersebut pada bocah itu. “Teruslah bermimpi panda. Oh ya, jaga Shao baik-baik.”

“Aku tidak akan menjaganya dengan baik jika kau tidak mau menciumku terlebih dahulu.” Ancam namja tersebut.

“Kau mencoba mengancamku? Akan aku adukan ke polisi jika kau memperlakukan Shao seenaknya. Tentu saja kamu tidak mau namamu tercorengkan Tuan Panda.” Timpal gadis tersebut membuat  Tao mengalah. Sedangkan sang bocah yang sedang dibicarakan hanya cuek sambil berusaha memasukkan sendok makanan tersebut ke dalam mulutnya yang tampak belepotan.

“Iya-iya, aku hanya bercanda.”

Jam sudah menunjukkan pukul setengah dua siang. Para kru dengan sibuknya menata alat-alat untuk dimasukkan lagi kedalam sebuah box. Terlihat Dae Ah yang sedang duduk sambil memainkan ponselnya untuk mengirim pesan pada Tao bahwa ia sudah selesai dan menyuruh mereka untuk menunggunya di Ocean World. Sedangkan, dari kejauhan terlihat seorang namja berpakaian santai sambil menggendong kucing persia berbulu putih sedang memperhatikan Dae Ah. Dengan pasti namja tersebut melangkahkan kakinya mendekat ke gadis tersebut.

“Halo Dae Ah, Lama tidak bertemu.” Gadis yang disapanya tersebut terkejut melihat teman sekelasnya semasa High School berada di hadapannya.

“ Chanyeol-ah, Kenapa kau bisa ada di sini?”

“Aku sedang melakukan research di GuangZhou untuk program masterku, karena terlalu sibuk dan jarang memperhatikan kucingku ia jatuh sakit makanya aku membawanya ke rumah sakit.”

“Oh, aku tidak menyangka kalau kau senang memelihara hewan lucu sepertinya, kukira kau pria yang manly.”

“Ini hadiah dari kekasihku makanya aku harus menjaganya. Oh ya, Aku pernah melihatmu di TV. Kau benar-benar keren sekarang, bahkan kau terlihat lebih cantik.” Puji Chanyeol membuat Dae Ah sedikit malu.

“Kau berlebihan sekali, Chanyeol-ah.”

“Oh ya, kau harus datang ke acara pernikahan Luhan nanti. Kau harus menyapa teman-teman, mereka pasti kagum melihatmu yang sekarang.”

‘JDDERR’ Seolah ada petir yang menyambar hati Dae Ah dan membuatnya tertegun seketika. ‘Pernikahan Luhan’ dua kata yang membuatnya seolah-olah jatuh dari angkasa dan mendarat tepat di atas batu karang tajam yang tepat menghunus dadanya. Apa yang pria itu barusan katakan benar-benar membuat gadis itu sulit untuk berkata-kata. ‘Beginikah akhir kisahku dengan Luhan? Apa benar ini sudah berakhir? Kenapa akhir yang seperti ini yang aku dapatkan?’ batinnya yang sedang menahan tangis.

“Me-menikah? Luhan?” tanya Dae Ah kepada Chanyeol memastikan bahwa gadis itu salah dengar. ‘Iya aku pasti salah dengar.’ Batinnya

“Iya, Luhan. Kau belum tahu ya. Bulan depan dia akan menikah.” Jawab Chanyeol dengan pasti yang tentu saja membuat Dae Ah sakit mendengarnya.

“Oh jadi begitu. Chanyeol-ah aku harus segera pergi sekarang, ada orang yang sedang menungguku. Kau bisa hubungi aku lain kali. Maafkan aku, aku pamit dulu ya,” Karena tidak ingin mendengar apa-apa lagi dari pria itu Dae Ah segera pamit meninggalkan pria bernama Chanyeol tersebut.

Gadis itu merajut langkah dengan cepat meninggalkan tempat tersebut memberhentikan taksi untuk membawanya ke tempat janjian. Pertahanannya sudah runtuh ia tidak kuat lagi menahan air mata yang sedari tadi mendesak ingin terjun bebas melewati pipinya. Sesenggukan yang ia tahanpun seketika keluar begitu saja membuat pengemudi taksi tersebut khawatir tentang keadaan penumpangnya.

“Hiks Hiks hiks” suara sesenggukan Dae Ah yang belum berhenti membuat sang pengemudi tersebut angkat suara sambil menyodorkan selembar tisu ke arah Dae Ah “Nona, apa kau sangat kesakitan? Tolong berhentilah menangis.” Sedangkan orang yang ia ajak bicara hanya diam tak tau harus bagaimana ia sungguh tidak bisa berhenti menangis.

Dae Ah memandang gusar kedua pria yang duduk di sebuah bangku yang membelakanginya, tidak ingin terlihat sembab, gadis itupun segera memoleskan kembali riasan ke wajah cantiknya. Tak lupa ia kenakan kaca mata untuk menyamarkan wajahnya. Ia dengan pasti melangkah mendekati kedua namja tersebut. Ia mengagetkan mereka dari belakang berpura-pura ceria seperti biasanya.

“DOR” kedua namja tersebut kaget oleh kedatangan Dae Ah yang mengejutkan mereka. Sang bocah memeluk ibunya setelah tahu siapa yang datang. Dae Ah pun dengan sigap membalas pelukan bocah tersebut dan mengelus kepalanya. “Mama..Kenapa lama sekali” ucap bocah tersebut manja. “Maaf sayang, mama tadi bertemu dengan teman mama dan ngobrol sebentar. Maaf ya…” Mendengar perubahan suara pada Dae Ah, Tao menyadari bahwa gadis tersebut pasti habis menangis. ‘Apa dia sudah tau soal pernikahan namja itu? Tebak Tao dalam hati. Dan benar sekali tebakan pria tersebut memang selalu benar. Tapi Tao memutuskan untuk menanyakan hal itu nanti saja, ia tidak mungkin membicarakan pembicaraan orang dewasa dihadapan anak kecil.

Mereka bersenang-senang bersama melihat-lihat biota laut yang diperlihatkan dalam aquarium raksasa tersebut. Shao terlihat antusias sekali melihat ikan-ikan besar yang sebelumnya pernah ia lihat di TV atau buku gambar. Dan iapun mulai akrab dengan Tao. Sedangkan Dae Ah masih terlihat kurang bersemangat setelah yang ia alami tadi. Terkadang ia salah menanggapi pertanyaan yang dilontarkan oleh Shao karena sibuk dengan pikirannya. Tao yang melihat perubahan sikap gadis tersebut hanya menghela nafas panjang memikirkan cara untuk menghibur gadis tersebut. Tapi usahanya sia-sia setiap candaan yang dilontarkan namja itu hanya mendapat respon senyuman kecil yang terlihat dipaksakan oleh Dae Ah.

Setelah Shao puas menjelajahi Ocean World mereka akhirnya memutuskan untuk pulang. Awalnya mereka berencana untuk makan malam di restourant sebelum kembali. Namun melihat kondisi Dae Ah yang tidak biasa Tao memutuskan untuk pulang saja, ditambah dengan Shao yang sudah terlelap karena lelah. Di dalam mobil hanya keheningan yang tercipta, Dae Ah maupun Tao terlihat enggan dalam mengucapkan sepatah kata. Tao sengaja membiarkan Dae Ah untuk menenangkan pikirannya, ia tahu gadis itu pasti sangat sulit untuk menerima kenyataan yang telah menohok hatinya.

Tao menggendong Shao meletakkan tubuh mungil bocah tersebut di atas kasur. Sedangkan Dae Ah terlihat masih murung sambil duduk merenung di sofa. Setelah itu Tao mendekat dan ikut duduk di sampingnya. Ia memajukan badannya memeluk tubuh gadis tersebut. Membiarkan dadanya menjadi sandaran gadis tersebut. “Menangislah kalau itu membuatmu lega.”Tanpa banyak berpikir Dae Ahpun segera menumpahkan air matanya yang sudah ia tahan sedari tadi. Isakan tangis mulai menyeruak di dalam ruangan tersebut. Tangan kekar Tao dengan lembut mengusap-usap punggung gadis itu untuk memberikan ketenangan. Tidak peduli kini kemejanya telah basah akan air mata Dae Ah, yang terpenting gadis itu bisa sedikit lebih tenangdan menumpahkan rasa sakit yang membebani hatinya.

Beberapa saat kemudian Dae Ah melonggorkan pelukannya pada Tao, ia sudah merasa agak baikan sekarang. Tao kembali mentap gadis tersebut terlihat pipinya yang basah bekas aliran air matanya, hidungnya yang kemerahan dan juga mata yang sembab, ia sungguh iba melihat Dae Ah yang begitu kacau sekarang. Dae Ah melepas pelukan namja tersebut, ia menundukkan kepalanya, jemarinya terlihat sedang megusap-usap pipinya mengahapus sisa air mata yang masih membekas. Seulas senyum terlihat menghiasi wajah cantiknya. Ia mendongakkan kepalanya menatap kedua manik tajam namja yang tadi dipeluknya. “Terima kasih, Tao-ya,”Seorang yang ia ajak bicara hanya diam tak berkutik dengan netra yang masih tertuju pada manik gadis tersebut. “Kau selalu membantuku, menghiburku, menjadi sandaranku. Kau orang yang sangat baik padaku. Tapi aku malah menyukai orang lain.. Bukankah aku ini wanita jahat?” Tao kembali terdiam. “Aku tidak tau kenapa,ada banyak pria yang baik padaku mereka banyak yang menyukaiku. Tapi aku mengabaikannya, dan sekarang seseorang yang aku cintai, yang aku tunggu selama ini, dia telah menghancurkan hatiku. Apa ini karma Tao-ya? Apa ini hukuman dari Tuhan? Lalu, apa yang harus aku lakukan?” Lelaki itu hanya diam menunggu lontaran kalimat dari bibir gadis itu. “Sekarang, apa yang aku takutkan dari dulu akhirnya terjadi. Apa yang harus aku lakukan Tao-ya? Aku tidak boleh mempunyai perasaan kepada orang yang akan menikah!” Gadis itu kembali terisak Tao kembali memeluknya mengelus punggungnya dengan lembut dan membisikkan sesuatu di telinganya. “Cobalah buka hatimu untuk namja lain dan ingatlah aku akan selalu berada di sisimu Dae Ah-ya.”

To Be Continue

 

 

Shao (Chris Ulzzang)

2 thoughts on “[EXOFFI FREELANCE] Sunflower (Chapter 6)

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s