[EXOFFI FREELANCE] A way (Chapter 1)

a-way-to-forget-by-kaggee.jpg

“A WAY”

—TO FORGET—

Title : “A WAY” : TO FORGET (TRILOGY)

Author : Freelance/Zircon FD

Lenght : Oneshot +5200 words (including author chit chat)

Genre : angst, romance

Rating : PG 13, teen

Main Cast : Wu Yi Fan (Kris Wu)

Kim Hee Jin (OC)

Park Chan Yeol

Support Cast : Song Min Jung (OC)

Disclaimer       : Plot original dari pemikiran saya. Mungkin cerita ini terkesan gaje yah. Jadi  harap dimaklumin. Jika ada kesamaan cerita dan nama yang pernah kalian temuin, itu secara gak sengaja. Namanya juga manusia, pasti pemkirannya gak jauh-jauh banget bedanya.

Warning          : Penggunaan diksi dan istilah yang gak beraturan, typo juga bertebaran   dimana-mana.

Pertama-tama makasih buat admindeul yang mau ngepost FF aku. Jeongmal kamsadeurigoyo!

Ini FF trilogy pertama aku, so keep read it till the 3rd, Ok!

Oh ya FF ini udah pernah di post di personal blog aku.

Zircongalaxy.wordpress.com.

Leave your review, please.

ӁӁӁӁӁӁӁ

“A WAY”

—TO FORGET—

 

Stiletto 8cm berwarna mocca itu menghentikan lajunya, tepat di depan sebuah cafe dengan handle pintu berbentuk huruf D besar itu. Tentu saja bukan hanya sepasang sepatu saja yang berada di sana. Tapi turut hadir pula sang pemakai high heels tersebut. Seorang gadis dengan tampilan simple, skirt 5cm di atas lutut berwarna senada dengan stilettonya, dengan atasan berwarna putih tulang melekat pada badan gadis itu membentuk sebuah lekuk yang semestinya. Menampilkan gaya sederhana tapi tak mengurangi kecantikan alami dari gadis bernama Kim Hee Jin ini.

 

Mata beriris coklat milik gadis  itu memandang gamang ke arah pintu masuk caffe tersebut. Hati dan pikirannya mulai ragu untuk sekadar mendorong pintu kaca itu terbuka.

 

‘Hari ini semua harus berakhir’ batin gadis itu mengikis kegamangannya.

 

 

Triiing…..

 

 

Tepat setelah sang gadis mendorong pintu kaca itu, sebuah lonceng kecil yang tergantung di atas pintu berbunyi menyambut kedatangan sang gadis. Iris matanya mulai berkeliling ke seluruh sudut caffe, mencari sosok yang sekitar sejam lalu menginstruksinya untuk datang ke caffe ini melalui pesan singkat yang ia kirimkan. Bola matanya tak lagi sibuk mencari sosok seseorang itu tatkala mata lebar gadis ini menemukan seorang pria dengan kemeja kotak-kotak hitam mengangkat tangannya, menandakan lelaki bersurau coklat madu itu telah menunggunya.

 

Tak…tak…tak

 

Suara stiletto dan lantai yang beradu menjadi backsound saat gadis itu memperpendek jaraknya dengan meja yang di tempati lelaki berparas Chinese itu. Tepat di hadapan lelaki itu Hee Jin menempatkan diri. Menyamankan posisi duduknya dengan menyandarkan tubuhnya ke kursi. Menyilangkan kaki dengan tangan dilipat di depan dada adalah posisinya saat ini.

 

“Kau terlambat 10 menit Jin.” tutur lelaki yang akrab dipanggil Kris ini tanpa melepas pandangannya pada ice coffee yang terhidang di mejanya.

 

“Hanya 10 menit dan kau sudah menggerutu. Lalu bagaimana denganku yang menunggumu selama 2 jam? Bahkan menunggumu meski kau tak datang.” ucap sang gadis membalik keadaan. Kris hanya tersipu sembari memamerkan deretan gigi putih nan ratanya. Lalu bagaimana dengan Hee Jin? Hal sebaliknya terjadi pada Hee Jin, tak sedikitpun senyum terkembang di wajah cantiknya itu.

 

 

 Seoul, 23 2013

Ddrrttt… drrrrttt…ddrrrttt… dddrtttt….

 

Getaran di saku gadis berkuncir satu itu cukup mengganggu aktivitasnya yang kala itu tengah menyelesaikan tugas matematika yang harus ia kumpulkan esok hari, pagi-pagi sekali. Dengan perasaan sedikit kesal ia menatap layar ponselnya itu. Perubahan ekspresi kentara sekali terlihat di wajahgadis itu. Seulas senyum mewarnai parasnya.

 

Temui aku di taman seperti biasa. Jam 9pm. Okay!

Aku menunggumu.

 

Kira-kira seperti itulah pesan yang dikirim seseorang dengan nama kontak 우리 크리스  itu. Hee Jin—gadis itu— melirik jam dinding yang tertempel di kamarnya itu. 08.42 pm.

 

“Haaa… sebentar lagi jam 9. Bagaimana ini?” ujar Hee Jin kelabakan karena waktu tengah memburunya.

 

Dengan sepatu sneaker berwarna merah darah, dipadukan dengan jeans panjang menutupi seluruh kaki jenjangnya ditambah lagi hoodie putih yang menempel sebagai atasannya membuat gadis ini menampilkan kesan casual dari dalam dirinya. Gadis itu berjalan menyusuri jalanan di antara pepohonan yang bergoyang tertiup angin malam di taman itu. Sesekali Hee Jin harus menggosok-gosok pangkal lengannya sekedar mengusir rasa dingin di awal musim semi ini. Matanya tak hanya diam, tapi sibuk mencari sosok lelaki bernama Kris itu di sekeliling taman.

 

“Huufftt… kemana perginya tiang listrik itu. Dia bilang dia menungguku. Apa kau yakin dengan ucapanmu Kris Wu?” gerutu gadis itu dengan nafas yang mengepul dari celah-celah bibirnya.

 

“Hey, ayolah. Apa dia tidak tahu kalau ini dingin.” gerutunya lagi bertambah sebal. Pasalnya sudah hampir 1 jam ia menunggu, tapi bahkan ujung rambutnyapun tak nampak di sini. Entah sudah keberapa kalinya Hee Jin melirik jam tangan bermotif menara eiffel di pergelangan tangan kirinya.

 

Waktu menunjukkan pukul 11.08 pm, dan baru saat inilah Kris muncul. Rambutnya berantakan, nafasnya tersengal. Kemungkinan terbesar saat ini adalah Kris baru saja berlari untuk mencapai tempat ini. Mata Hee Jin terlalu lelah untuk membuka lebar, rasa kantuk yang menyerangnya beberapa waktu lalu membuat matanya sembab.

 

“Oh, Hee Jin mianhae. Aku membuatmu menunggu terlalu lama. Apa kau baik-baik saja?” tanya Kris khawatir. Bukannya marah, Hee Jin malah menanggapinya dengan senyum tulus dari bibir tipisnya.

 

“Gwaenchanha… di sini menyenangkan.” timpal Hee Jin berdusta. Kris memegang tangan Hee Jin, ia begitu terkejut ketika mendapati tangan Hee Jin sudah sedingin es.

 

“Apanya yang kau bilang tidak apa-apa? Sebentar lagi bahkan kau akan menjadi balok es.” kata Kris sembari menggosok-gosokkan kedua telapak tangannya pada tangan Hee Jin.

 

.

 

.

 

Saat ini Hee Jin tengah berada di punggung Kris. Menikmati kehangatan dan kenyamanan yang dibuat oleh punggung Kris. Setidaknya Kris masih merupakan lelaki yang bertanggung jawab, ia tidak membiarkan seorang gadis yang menunggunya lebih dari dua jam berjalan dengan kaki mungilnya itu.

 

“Apa kau tidak ingin tahu kenapa aku terlambat?” tanya Kris membuka pembicaraan setelah beberapa saat tadi tercipta keheningan di antara keduanya.

 

“Aniyo.”

 

“Aku menemani Min Jung  berbelanja.” ujar Kris tanpa diminta Hee Jin.

 

Hati Hee Jin terasa mencelos mendengarnya. Min Jung, alasan utama Kris terlambat menemuinya. Padahal Kris sendiri yang berjanji. Dan ini juga sebabnnya Hee Jin tidak Ingin mendengar alasan Kris terlambat. Tapi ia tak berhak marah, ia menyadari betul posisinya. “Aku kan  sudah bilang tidak mau tahu alasanmu.” tutur Hee Jin masih mengalungkan tangannya di leher Kris.

 

 

Seoul, 04 2013

 

Jin… temui aku di taman. Jam 09.00 pm. Aku menunggumu! ^.^

 

 Lagi, pesan seperti ini lagi-lagi muncul di layar smartphone Hee Jin. Pengirimnya? Siapa lagi kalau bukan lelaki bernama lengkap Wu Yi Fan itu. Dan lagi-lagi Hee Jin menampilkan senyum menawannya saat membaca pesan yang terkirim sekitar 3 menit yang lalu itu. Seperti biasa tanpa harus diperintah dua kali lagi Hee Jin akan dengan senang hati menuruti instruksi lelaki jangkung itu.

 

09.00 pm

 

Dan seperti biasa pula tak nampak batang hidung Kris , bahkan tak nampak sedikitpun tanda-tanda ada orang yang mendatangi taman ini malam-malam —kecuali Hee Jin tentunya. Dengan sabar Hee Jin menunggu, tak mempedulikan sudah berapa lama waktu yang ia lewati hanya untuk menunggu seseorang bernama Kris.

 

 

BRESSS…

 

 

Tiba-tiba saja hujan turun tanpa di duga, tapi hal itu tak membuat Hee Jin beralih dari posisi duduknya, bahkan sekedar untuk berteduh di bawah pohonpun tidak.

 

 

Keesokan harinya, Kris mendatangi kelas Hee Jin. Tapi ia tak melihat sosok Hee Jin di antara teman-teman kuliahnya. “Young Ran-ah! Apa kau melihat Hee Jin?” panggil Kris sekaligus langsung menanyai teman sejurusan Hee Jin.

 

“Ani. Sejak kelas dimulai Hee Jin memang tidak ada. Mungkin dia tidak masuk. Kenapa kau tidak hubungi saja dia.”

 

“Emmh.. baiklah kalau begitu. Gomawo.”

 

 

Kris mengotak atik smartphonenya mencari kontak Hee Jin di dalam sana.

 

“Jin-ah, neo eodiseo?” tanya Kris to the point setelah sambungan telepon yang dibuatnya mendapat jawaban.

 

“Keokjeongma… aku sedang tidur di rumah.”  jawab Hee Jin dari balik line telepon. Suaranya serak, parau. Khas suara orang sakit.

 

“Kenapa dengan suaramu? Apa kau sakit?” tanya Kris lagi intensive.

 

“Sudah jangan khawatirkan aku. Aku baik-baik saja.” tuturnya masih dengan suara parau.

 

Setelah sambungan telepon terputus Kris langsung melesat menuju rumah Hee Jin. Rumah yang terletak tepat di sebelah kanan rumah Kris. Dan, yaah, hal yang didapati Kris adalah Hee Jin yang tengah tergolek tak berdaya di tempat tidurnya. Wajahnya seperti bulan kesiangan, keringat mengalir dari pelipisnya.

 

 

“Jin-ah…..” panggil Kris lirih takut mengganggu Hee Jin. Sedikit terkejut dengan kedatangan Kris, Hee Jin langsung bangun dari tidurnya.

 

“Oh, Kris. Sejak kapan kau di situ?” tanya Hee Jin dengan suara paraunya.

 

“Babo! Seharusnya kau pulang saja. Atau setidaknya cari tempat untuk berteduh. Kenapa menungguku? Kau tahu, aku tidak jadi datang semalam karena Min Jung sakit.” tuturnya. Tanpa Kris sadari alasan yang dilontarkan Kris barusan semakin menambah rasa sakit yang di derita Hee Jin saat ini. Min Jung, Min Jung, dan Min Jung. Selalu saja Min Jung. Sebegitu pentingnyakah Min Jung bagi Kris?

 

 

‘Selalu saja Min Jung. Apa kau tak pernah sekali saja hanya memandangku? Aku berharap kau tidak pernah mengucapkan itu, Kris.’

 

Tapi sekali lagi, Hee Jin tahu betul posisinya.

 

 

 

Keduanya belum mau memecah keheningan yang menyelubungi mereka. Kris, masih sibuk dengan ice coffee miliknya. Lelaki itu masih menggigit-gigit sedotan hijau yang menjadi penghubung bibir pink miliknya dengan cairan dingin berasa pahit manis itu, sesekali ia menyesapnya.

 

 

“Hey, ayolah. Kau memintaku kemari hanya untuk menyaksikanmu meminum minumanmu itu?” akhirnya Hee Jin berucap dengan nada sedikit kesal.

 

“Selama tiga hari ini kau tidak menemuiku, apa kau tidak merindukanku? Setidaknya berpura-puralah kau merindukanku. Aku merindukanmu Kris , benar-benar merindukanmu. Apa kau tak bisa mengucapkan hal seperti itu?” ujar Kris seraya menirukan gadis-gadis yang merengek merindukan kekasihnya.

 

“Jangan konyol.” ketus Hee Jin.

 

Tak ada lagi percakapan setelah itu, kembali hening. Hanya suara yang berasal dari pengunjung lain yang memenuhi ruangan ini. Lamat-lamat Hee Jin mengamati setiap senti—lebih tepatnya tiap mili—komposisi penyusun kesempurnaan wajah Kris yang kurang dari dua jam lagi akan ia tinggalkan. Entah dalam kurun waktu yang lama atau sebentar. Yang jelas ia tidak akan melihat wajah tampan Kris ini untuk sementara waktu, atau bahkan Hee Jin ingin meninggalkannya selamanya. Meningggalkan pula rasa sakit yang Kris beri untuknya beserta seluruh kenangan yang pernah mereka buat bersama.

 

 

Bibir berwarna merah jambu, hidung mancung, mata beriris hitam dengan sedikit warna coklatnya, garis wajahnya yang tegas, alis tebal dengan kesan tegas menambah kesempurnaan parasnya. Oh jangan lupakan tentang kulitnya yang seputih susu, tanpa cela. Membuat setiap orang yang melihatnya akan berpikir ‘betapa beruntungnya lelaki itu’. Kerap kali Hee Jin berpikir saat melihat body piercing di telinga kanan dan kiri Kris ‘Apakah ia tidak merasa sakit saat sebuah alat menusuk dan melubangi telinganya?’  setidaknya pemikiran-pemikiran sederhana seperti itulah yang sering hinggap di otak Hee Jin. Pikiran sederhana yang cukup untuk mengingat keberadaan Kris. Hey—ayolah, Kris bahkan tak memikirkan Hee Jin, lalu kenapa ia harus memikirkan Kris setiap waktu?

 

 

Untuk saat ini dengan mati-matian Hee Jin harus menahan agar air matanya tak meluncur melewati pipi mulusnya. Ia tak mau itu terjadi. Yaah meski terlalu sakit untuk ia tahan. Selama ini tiap harinya ia habiskan dengan Kris. Tak seharipun ia lewatkan tanpa bertemu Kris. Baginya Kris sudah seperti oksigen yang memenuhi paru-parunya. Jadi bagaimana bisa ia akan meninggalkan Kris?

 

“Kau kemana selama tiga hari ini? Kau tidak masuk kuliah, tidak menjawab telepon, bahkan tidak membalas pesanku.” kali ini giliran Kris yang memecah keheningan.

 

“Aku sibuk.” balas Hee Jin singkat, tersirat nada ketus di dalamnya.

 

“Kau berbeda hari ini Jin. Kau… terlihat lebih dingin. Ahh.. entahlah itu hanya perasaanku saja.” ujar Kris kembali menyesap ice coffe yang tersisa. Hee Jin sedikit terkejut dengan penuturan Kris. Ini berarti Kris telah menangkap perubahan sikap yang ditunjukkan Hee Jin.

 

“Tidak. Aku tidak berubah. Aku Hee Jin. Hanya kau saja yang tidak menyadarinya.” balas Hee Jin masih dengan nada ketusnya.

 

“Tidak. Kau berubah Jin. Kau mengacuhkanku, kata-katamu terdengar ketus. Is there something bothering you?” tanya Kris menatap lekat Hee Jin.

 

“Tidak.”

 

‘Iya. Sesuatu menggangguku Kris. Kau, yang menggangguku.’

 

“Apa ada yang salah denganmu Jin?”

 

“Tidak.”

 

‘Iya. Banyak hal yang salah Kris. Dari awal hubungan kita sudah salah. Ditambah lagi perasaan ini. Perasaan ini…terlalu salah. Ya, ini salahku, karena aku mencintaimu.’

 

“Apa kau sakit?”

 

“Tidak.”

 

‘Iya, aku sakit. Bukan hanya fisikku yang sakit. Tapi hatiku, hatiku sudah terlalu sakit hingga aku hampir tak sanggup menahannya. Tubuhku, hatiku, otakku semuanya sakit.’

 

“Kau berubah, jelas sekali terlihat. Hee Jin yang ku kenal tidak seperti ini. Tak pernah ada nada ketus dalam ucapannya. Ia tak pernah membiarkan wajahnya terlihat tanpa senyum, kau bukan Hee Jin yang ku kenal.” ungkap Kris masih menatap lekat Hee Jin.

 

Yah, memang benar yang diutarakan Kris. Hee Jin tak kan pernah melepas senyuman saat bersama dengannya. Apapun yang Kris lakukan Hee Jin hanya akan menguntai seberkas senyum tulus. Tapi kini entah hilang kemana.

 

“Oh, ayolah. Jangan membahas tentang ini. Kau menyuruhku datang ke sini, menyita waktuku, dan semua hanya untuk ini. Oh, come on Kris, kau tahu? Aku sedang sibuk.”  tukas Hee Jin masih dengan nada yang sama. Tak terdengar keramahan yang mengoar dari ucapan Hee Jin.

 

“Sibuk? Sibuk dengan Park Chanyeol maksudmu?” Kris menerka dengan menyisipkan nada sinis pada perkataannya.

 

“Ini tidak ada hubungannya dengan Park Chanyeol.”

 

“Tidak. Ini pasti ada hubungannya dengan Park Chanyeol. Semenjak kau dekat dengannya kau―”

 

“Sudah ku bilang ini bukan karena Park Chanyeol.”

 

“Ini karena Park Chanyeol.” Kris masih keukeuh dengan pendapatnya itu.

 

“Wu Yi Fan! Sudah kubilang ini bukan karena Park Chanyeol!” kata Hee Jin sedikit berteriak. Cukup untuk membuat pengunjung caffe menoleh ke arah mereka.

 

“Ch, Wu Yi Fan?? Bahkan kau tidak memanggilku Kris. Dan kau membentakku, di depan banyak orang?” Kris memicing, tidak percaya dengan apa yang barusan terjadi.

 

Ini pertama kalinya Hee Jin membentak Kris, selama hampir empat tahun bersama ini pertama kalinya. Biasanya Hee Jin tidak akan pernah marah dengan segala perbuatan Kris. Misalnya, saat kelas 3 SMA Kris pernah mematahkan tugas kerajinan seni yang Hee Jin buat dengan mengorbankan waktu tidurnya selama seminggu, tapi Hee Jin tidak marah. Ia hanya menganggap itu hanya sebuah kecelakaan. Pernah ia merelakan tugas matematika yang semalaman Hee Jin buat hanya untuk menyelamatkan Kris dari hukuman Park ssaem, meski pada akhirnya Hee Jin sendirilah yang harus dihukum. Tapi ia tak juga marah. Kris pernah menyobekkan tiket konser Big Bang yang ia beli dengan mengumpulkan uang sakunya selama satu setengah bulan. Lagi-lagi Hee Jin tidak marah. Dan Kris juga pernah menghilangkan formulir pendaftaran beasiswanya ke Jerman yang mati-matian ia dapat, dan sekali lagi Hee Jin tak pernah marah. Perlu di tegaskan sekali lagi, selama ini Hee Jin tak pernah marah pada Kris. Bukankah ia termasuk gadis yang sabar?

 

Oh, bukan.

Ia bahkan gadis yang terlalu sabar.

 

Tapi saat ini berbeda, Hee Jin menganggap Kris keterlaluan. Ia bahkan menyalahkan Chanyeol. Hey, jika kalian tahu Park Chanyeol itu orang yang terlampau baik. Mana mungkin ia yang menyebabkan Hee Jin berubah. Jika memang iya, Hee Jin pasti akan berubah menjadi sosok yang lebih baik. Ini semua kehendak Hee Jin. Tak ada yang mempengaruhinya. Ini semua murni keinginan Hee Jin agar bisa meninggalkan Kris tanpa penyesalan yang berarti. Dan ini juga cara Hee Jin agar Kris bisa membencinya, dengan begitu Hee Jin tidak akan mengharap apapun dari Kris karena Kris membencinya.

 

“Astaga Kris, dari mana pikiran bodohmu itu bisa muncul. Kita bertiga sudah bersama sejak SMA dan tak terjadi apa-apa kan? Lalu kenapa kau sekarang  malah melempar kesalahan pada Chanyeol?” Hee Jin mencoba kembali tenang.

 

“Ya kita memang bersama sejak SMA tapi baru-baru ini kau menjalin hubungan yang lebih dekat dengannya, dan kau mulai berubah.”

 

Oh My God, Kris. Harus berapa kali kubilang ini tidak ada hubungannya dengan Chanyeol. Ini semua karena aku….”

 

‘…mencintaimu…’

 

Sungguh, sesulit itukah mengatakan hal ini pada Kris? Atau memang sulit untuk mengungkapkan cinta pada orang lain. Ah, persetan dengan semua perasaan ini.

 

See. Kau tidak bisa memberikan alasan lain, kan? Itu berarti memang Chanyeollah penyebabnya.” Kris sampai saat ini masih kokoh dengan pendiriannya bahwa Chanyeol adalah penyebab semua ini.

 

“Hhhhhhh….” Hee Jin menghela nafasnya berat. Menutup matanya sekilas, lalu membukanya kembali.

 

“Hentikan Kris, aku tidak ingin berdebat denganmu.” tutur Hee Jin sembari membuang muka ke arah jalanan yang tampak dari kaca caffe.

 

“Aku juga tidak menginginkannya, tapi kau… yang memulainya.” Kris masih terus ngotot. Ikut membuang pandang ke view di luar cafe.

 

“Kris aku lelah. Mari hentikan semuanya di sini, saat ini.” pinta Hee Jin seraya menyugar rambut berwarna wine red miliknya.

 

Kris menautkan kedua alisnya, tanda tak mengerti dengan maksud ucapan Hee Jin. Tatapannya seakan berkata —apa-maksudmu?—

 

“Mari kita tidak saling berkegantungan, mari kita jalani hidup kita masing-masing. Jangan memintaku untuk menemanimu membeli hadiah yang bukan untukku. Jangan mengajakku bertemu di taman lagi. Aku sudah tak lagi merasa nyaman dengan itu. Mari kita akhiri semuanya.” jelas Hee Jin yang hanya disambut oleh tatapan tak percaya dari Kris. Sejurus kemudian pandangan mengejek menggantikan ekspresi yang dikeluarkan kris.

 

“Munafik! Akhirnya dirimu yang sebenarnya keluar, Kim Hee Jin. Ch, seharusnya sejak dulu aku percaya bahwa kau menjalin hubungan yang kita sebut sebagai ‘persahabatan’ ini hanya untuk bisa lebih dekat dengan Chanyeol. Karena kau tahu Chanyeol dekat denganku, karena kau tahu bahwa dengan dekat denganku kau akan lebih bisa mengorek informasi lebih dalam tentang Chanyeol. Ah, bodohnya aku selama ini telah tertipu oleh dirimu, Kim Hee Jin.” cela Kris.

 

Mworago? Siapa yang memberitahumu hal itu?” tanya Hee Jin tak percaya dengan tuduhan yang di alamatkan padanya.

 

“Min Jung. Kenapa? Kau kaget karena kedokmu terbongkar Jin?” tanya Kris mengeluarkan sebuah smirk di wajahnya.

 

‘Oh, lagi-lagi wanita itu’

 

Whatever she say, whatever you say. I don’t care it’s all up to you Kris. Seberapa keraspun aku menyangkal kau tidak akan percaya.”

 

“Memang tidak ada yang perlu disangkal.” gadis berbulu mata lentik ini menggigit bibir bawahnya, menahan rasa sakit yang tak kunjung berkurang meskipun ia telah mati-matian menahannya.

 

‘Tidak, aku tidak boleh menangis. Kim Hee Jin, bukankah ini yang kau mau? Bukankah kau berharap Kris  membencimu? Setidaknya kau berhasil karena wanita bernama Min Jung itu. Oh, shit. Aku benci kebenaran ini.’ batin Hee Jin terus bergaung.

 

Okay, what do you want now, Kris?” tanya Hee Jin mencoba menetralisir suasana.

 

Just leave me alone.

 

Oh,

Gosh

 

Satu kalimat pendek yang mampu menohok ulu hati Hee Jin, mengiris urat-urat syaraf yang terbentang di sekujur tubuh gadis ini.

 

Hee Jin bangkit dari duduknya, pandangannnya mulai tak terfokus. Ia berjalan, berbalik meninggalkan Kris yang masih mempertahankan posisi duduknya. Hee Jin bahkan tak lagi menoleh ke arah Kris, sekalipun tidak.

 

Tepat setelah Hee Jin keluar dari caffe pertahanannya runtuh. Oh bagus, air matanya mulai tak bisa diajak kompromi. Dengan tidak tahu malunya air matanya menyeruak keluar dengan derasnya, dengan bebas meluncur melewati pipi mulusnya.

 

‘Bukankah ini yang kau harapkan Hee Jin? Kenapa harus menangis saat tujuanku berhasil. Mulai saat ini aku akan mencoba melupakanmu, Kris. Melupakan segala hal yang pernah kita lakukan bersama, melupakan segala rasa sakit yang tanpa sadar kau membuatnya. Maaf jika kali ini aku harus membuatmu kecewa. Maaf aku telah merusak persahabatan kita. Dan terima kasih atas seluruh pelajaran yang kau berikan.’

 

Hee Jin, gadis ini meneruskan langkah gontainya. Menghapus sisa-sisa lelehan air matanya. Terlalu sulit untuk merelakan Kris. Tapi ia telah mencoba. Mungkin awalnya ia merasa merelakan orang yang ia cintai sama halnya dengan merelakan tiket konser Big Bang yang kita miliki hilang, tapi nyatanya ia sadar bahwa merelakan orang yang kita cintai ratusan bahkan ribuan kali lebih sakit dari pada kehilangan puluhan tiket konser Big Bang.

 

Seharusnya ia telah menyadarinya, sejak awal persahabatannya salah. Sejak awal seharusnya ia tahu bahwa pria dan wanita tak akan mungkin bisa bersama dalam hubungan konyol yang disebut persahabatan. Salah satu atau bahkan keduanya pasti akan menyembunyikan perasaan mereka dibalik hubungan yang mengatas namakan sahabat ini. Seharusnya Hee Jin tahu semua hal ini, sejak awal.

 

Hari ini terasa begitu melelahkan bagi Hee Jin. Tapi memang inilah yang Hee Jin mau. Membuat kesan buruk sebelum berpisah. Cara klasik untuk melupakan seseorang. Persis seperti yang ada dalam serial drama yang sering Ibu Hee Jin tonton tiap akhir pekan di TV.

 

Hee Jin menghapus sisa lelehan air matanya(lagi). Kaki jenjangnya melangkah begitu saja tanpa tujuan. Hanya mengikuti arah trotoar jalan. Ia berhenti, merasakan sakit pada tumitnya yang mulai menjalar ke betisnya akibat terlalu lama memakai stiletto berhak tinggi itu. Ia melepasnya, menjinjingnya menggunakan tangan kirinya. Kini ia tak peduli lagi akan tatapan orang di sekitarnya. Toh, tanpa stiletto pun ia tampak percaya diri karena tinggi badannya yang di atas 170cm itu.

 

Kakinya berhenti melangkah ketika dirinya mulai memasuki area taman yang sering Kris dan dirinya kunjungi. Ia bahkan duduk di tempat yang sama seperti yang biasa ia duduki bersama Kris. Terlalu banyak kenangan yang ia buat di sini.

 

Oh, bukan.

Tapi mereka.

 

Ia memejamkan matanya, menikmati hembusan angin yang membawa aroma khas musim gugur. Dedaunan kering yang baru saja gugur dari tangkainya mulai berserakan menimpa helaian rambut halus Hee Jin. Tidak jarang pula terjatuh di atas roknya atau di kanan kiri tempat ia duduk. Tapi Hee Jin membiarkannya. Ia terlalu lelah untuk sekedar mengibaskan dedaunan kering itu.

 

BUUGH

 

Konsentrasinya terpecah saat sebuah bola terlempar teppat mengenai bahu kiri Hee Jin. Sontak ia membuka mata. Memungut benda bulat berwarna putih hitam itu.

 

‘Bola’

 

 

Gadis berkuncir kuda dengan kacamata berbingkai warna hitam itu tengah asik menikmati kesendiriannya. Matanya terfokus pada buku bacaan yang ia pegang di tangan kirinya. Sedang tangan kanannya sesekali ia masukkan ke dalam toples berisi keripik kentang kesukaannya. Menyomotnya lalu memasukkannya ke dalam mulutnya.

 

Krrkkss..kkkrrkkks….

 

Dengan tempo yang sama ia mengulang kegiatannya. Tidak. Sampai sebuah bola dengan sukses mendarat tepat di kepalanya.

 

 

BUUGH

 

 

“Ahkk..!!” pekiknya ketika wajahnya terantuk pada buku yang kemarin baru saja ia beli.

 

“Oh, God! How could it happen?” gerutunya memandang sebal ke arah bola itu. Setahunya di komplek rumahnya tidak ada anak laki-laki yang seumuran dengannya suka dengan bola. Tidak mungkin kan kakek-kakek yang sudah bau tanah bisa bermain bola? Oh, ayolah, berdiripun mereka harus meminta pertolongan tongkat. Atau tidak mungkin juga seorang ibu hamil dengan balita yang baru belajar berjalan bisa menendang bola melewati tembok rumahnya yang terbilang tinggi ini. Sekalipun ada anak-anak yang suka bermain bola, mereka lebih memilih untuk main di lapangan yang jaraknya sekitar 1 blok dari rumah Hee Jin. Jadi, dari mana munculnya bola ini?

 

 

Samar-samar Hee Jin mendengar percakapan ibunya dengan seorang lelaki yang suaranya terdengar asing di telinga Hee Jin. Sampai akhirnya sosok sang ibu muncul dari balik pintu penghubung ruangan dalam rumah dengan taman belakang. Disusul oleh sesosok pemuda jangkung dengan rambut berwarna mahogany dengan wajah yang….eeerrr tampan.

 

Hee Jin bahkan sempat berpikir jika ia adalah sosok angel yang sering ia baca di buku-buku fantasy yang menumpuk di kamarnya. Tapi ia menepis khayalan itu. Bagaimana mungkin ibunya bisa membawa sesosok malaikat?

 

“Hee Jin-ah!” panggil wanita paruh baya yang memiliki wajah Hee Jin versi tua.

 

“Ne.” sahut Hee Jin seraya meletakkan buku dan kacamatanya di atas meja.

 

“Kenalkan dia Yi Fan, tetangga baru kita. Keluarganya baru pindah dari Kanada dan menempati rumah paman Ahn.” jelas sang ibu.

 

Hanya ada bentuk bulatan huruf ‘O’ yang tercetak di bibir tipis milik Hee Jin.

 

“Baiklah, berbincang-bincanglah. Ibu masuk dulu.” pamitnya yang ditanggapi oleh sebuah anggukan dari putrinya.

 

“Annyeonghaseyo. Wu Yi Fan imnida. But You can call me Kris. Nice to meet you.” ujar lelaki itu membuka percakapan. Logat inggrisnya masih kentara sekali ketika ia berucap.

 

“Hee Jin. Kim Hee Jin.” balas Hee Jin memberi salam.

 

“Jaeseonghamnida. I didn’t mean to bothering or hurt you. I just playing football but…” ucapan lelaki itu terhenti ketika mendapati Hee Jin yang tengah terkikik geli.

 

“Hey, what’s wrong?” tegur Kris penasaran.

 

“Can you speak Korean well?”

 

“Just a little bit.”

 

“I tell you. Your pronunciation was wrong, not jaeseonghamnida but joeseonghamnida.” ujar Hee Jin mengoreksi pengucapan Kris.

 

“Oh,I’m sorry. Joe…seonghamnida? Right?” Hee Jin mengangguk membenarkan.

 

Dari situ semua berawal. Insiden ‘bola’.

 

 

 

 

 

 

Noona!” panggil sebuah suara kecil membuyarkan lamunan Hee Jin.

 

Noona, bisakah aku mendapatkan bolaku kembali.” ujar bocah lelaki berumur sekitar 5 tahunan itu.

 

“Ini bolamu?” tanya Hee Jin seraya menunjuk bola di tangannya.

 

Bocah itu mengangguk menggemaskan.

 

“Ambillah. Lain kali kau harus menjaga bolamu baik-baik, jangan sampai kau kehilangan bolamu lagi, arachi?”

 

Ne, noona. Kamsahamnida.” ujar bocah itu seraya membungkuk sebelum akhirnya berlalu menuju orang tuanya.

 

Gadis ini mulai berkutat dengan pikirannya kembali. Sebenarnya ia ingin menggugurkan segala memori tentang Kris, sama seperti dedaunan yang jatuh meninggalkan tangkainya. Tapi saat ini Tuhan belum mengijinkannya,mungkin. Angin musim gugur hari ini kembali membawa serpihan-serpihan cerita cinta yang sedikit demi sedikit pernah Hee Jin lupakan. Tapi saat ini semua kembali utuh, terangkai menjadi kisah cinta tragis milik Hee Jin.

 

 

 

 

Kris dan Hee Jin, dua insan ini berjalan beriringan menyusuri pertokoan di kawasan Dongdaemun. Keduanya memegang permen kapas berwarna pink yang mereka beli tadi.

 

“Jin…” panggil Kris.

 

“Eungh…” Jin hanya menjawab ringan, masih sibuk dengan aktivitas awalnya. Memakan permen kapas.

 

“Aku…ingin bicara…” ragu, begitulah ucapan Kris untuk Hee Jin barusan.

 

“Bicaralah. Aku mendengarkan.” Hee Jin masih belum menanggapi dengan serius.

 

“Ini penting, Jin.”

 

“Hhhh..” Hee Jin mendengus pelan. Mnghentikan pergerakan tangannya yang hendak memnjimpit serat-serat permen kapas di tangan kirinya. Menatap Kris setengah malas hingga akhirnya Hee Jin merelakan kegiatannya terhenti untuk mendengarkan ucapan lelaki yang selama lebih dari tiga tahun ini mewarnai hidupnya. “Memangnya masalah apa?” kali ini Hee Jin mulai menanggapi Kris.

 

“Ini… berkaitan dengan hati dan perasaanku. Sebenarnya aku sudah lama ingin mengatakannya, tapi aku takut kau marah.” tutur Kris membuat gadis ini sedikit terkejut.

 

‘Hati? Perasaan? Takut aku marah? Jangan-jangan….pengakuan cinta?’ terka Hee Jin di dalam hati.

 

“Baiklah aku janji tidak akan marah, memangnya apa?” Hee Jin memancing respon Kris.

 

“Kurang nyaman mengatakannya di sini, bagaimana kalau ke caffe biasa saja?” tawar Kris yang mendapat persetujuan dari Hee Jin.

 

“Ah, wait. Aku harus menjawab panggilan sebentar, tunggu di sini dulu.” pamit Kris sembari menggoyang-goyangkan handphonenya di hadapan Hee jin, kemudian melenggang pergi.

 

.

 

.

 

.

 

“Noona!” perhatian Hee Jin teralihkan ketika mendapati seorang anak kecil menari-narik ujung kemejanya yang berbahan sifon itu.

 

“Eemmh? Ada apa? Kau kehilangan orang tuamu?” Hee Jin menyamakan posisinya dengan bocah tersebut dengan berjongkok. Melontarkan pertanyaan yang acap kali keluar ketika mendapati seorang anak kecil berkeliaran sendirian tanpa pengawasan orang tua.

 

“Ani. Ini untuk noona.” ujar bocah itu menggeleng kemudian menyerahkan sebuket bunga pada Hee Jin.

 

“Noona wihae?” gadis itu menautkan kedua alis heran.

 

“Eungh, noona wihae. Hyung yang di sana itu yang memberinya. Dia tinggi dan tampan.” jawab sang bocah mengangguk mantap saat menceritakan siapa pengirim bunga itu.

 

Hee Jin melirik ke arah yang ditunjuk bocah kecil itu. Dan, yang ia temukan adalah sosok Kris yang berjalan dari kejauhan ke arahnya. Senyum tak henti-hentinya terpasang di rupa cantik Hee Jin. Wajahnya terlihat berseri senang.

 

 

 

 

“Kris, terima kasih bunganya.” ucap Hee Jin terus menerus menciumi wangi bunga di tangannya itu.

 

“Bunga? Bunga apa?” Kris terlihat bingung dan menunjukkan wajah innocentnya.

 

‘Kau bahkan masih mengelak memberiku bunga Kris. Tak ku sangka kau bisa bertingkah romantis juga.’ pikir Hee Jin.

 

ΩΩΩΩΩ

 

Hee Jin menyesap Ristretto Bianco di hadapannya, membasahi kerongkongannya dengan varian minuman kopi ini. Sedangkan Kris masih tak menyentuh Caramel Macchiato yang sejak 5 menit lalu sudah terhidang di hadapannya. Wajahnya terlihat gusar menanti momen yang tepat untuk mengutarakan maksudnya.

 

“Aku…ingin mengatakan hal yang tadi…” ujar Kris ragu. Membuat Hee Jin menghentikan aktivitasnya dan beralih menatap Kris.

 

“Sebenarnya aku ingin mengatakannya sejak lama. Tapi… aku takut kau marah, aku takut kau berpikir bahwa aku akan merusak hubungan persahabatan kita ini.” tak ada respon dari Hee Jin. Gadis itu membiarkan Kris melanjutkan kalimatnya.

 

“Aku… menyukai seorang gadis. Dia selalu berada di sisiku. Setiap hari.” lanjut Kris lagi.

 

‘Menyukai seorang gadis? Selalu bersamanya? Setiap hari? Ia bilang ia takut aku menganggapnya merusak persahabatan?’ gadis itu berkutat dalam pikirannya, menerka apa kira-kira yang akan di utarakan lelaki di depannya ini.

 

Hingga suatu pemikiran gila menghinggapi gadis bermarga Kim ini.

 

‘Bukankah ini cukup untuk mendeskripsikanku?’ pikirnya.

 

Setahunya gadis yang selalu di sisinya setiap hari hanya dirinya, bahkan Kris berpikir jika ia mengucapkannya maka Hee Jin akan marah dan menganggap Kris merusak persahabatan mereka. Jadi….

 

‘Apa dia akan menyatakan perasaannya padaku? Apa cintaku tak bertepuk sebelah tangan?’ pikir gadis itu semakin tidak karuan. Senyum dengan sendirinya menghias di raut sang gadis.

 

“Aku… menyukai….” Kris menggantungkan kalimatnya.

 

‘Katakan Kris, jebal. Katakan jika itu aku.’

 

“Aku menyukai….”

 

‘…Ku??’

 

Hee Jin semakin antusias mendengar kelanjutan ucapan Kris, ia tak sabar namanya akan tersebut dalam ucapan Kris selanjutnya. Ia sudah merasa seperti terbang ke awan ketika menyimpulkan fakta-fakta yang ia susun dari ucapan Kris.

 

“….Song Min Jung”

 

 

 

 

Dan detik berikutnya Hee Jin merasakan hatinya teriris oleh puluhan sembilu tajam. Ngilu. Itu hal yang pertama Hee Jin rasakan. Setelah ia diterbangkan, atau lebih tepatnya menerbangkan dirinya sendiri jauh tinggi ke atas sana, lelaki bersurai light blonde itu menghempaskannya begitu saja. Hingga membuatnya hancur menjadi kepingan-kepingan halus yang berserak tak karuan. Ribuan sembilu seakan menyayat hati Hee Jin yang telah hancur sejak awal, hingga kini hati itu tak lagi berbentuk. Berulang kali Hee Jin harus bersusah payah menelan salivanya. Entah mengapa ludahnya menjadi terasa sangat pahit saat ini.

 

“Kau tahu kan Min Jung? Dia seangkatan kita dan satu jurusan denganku…………….” dan bla bla bla entah apalagi yang Kris bicarakan.

 

Hee Jin tak lagi bisa mendengar dengan baik, ia tak bisa mencerna perkataan Kris dengan benar. saat ini semua kata-kata yang tengah dilontarkan Kris hanya terdengar seperti dengungan memilukan tanpa akhir. Semua kata-katanya berubah menjadi racun yang lama kelamaan akan membunuh Hee Jin secara perlahan.

 

“Jin, kau tidak apa-apa? Hahh, aku sudah mengira kau akan marah.” ujar Kris dengan raut sedih di wajahnya.

 

Hee Jin harus tetap bertahan. Egonya tak mengizinkan air matanya keluar barang setitik air hujan sekalipun. Dan bersikap wajar, layaknya tak pernah terjadi hal besar yang mampu menggetarkan hati dan lututnya. Seperti tak pernah ada peristiwa yang mengoyak kisah cintanya. Diam-diam Hee Jin menghela nafas. Mencoba menetralkan hatinya yang mulai tak terkendali. Hee Jin menaikkan segelas Ristretto Bianco yang tersisa menuju mulutnya. Mencoba bersikap senormal yang dia bisa. Perlahan ia menarik kedua sudut bibirnya, memberikan senyum termanis yang bisa ia tunjukkan pada Kris.

 

“Ya! Kau pikir aku teman macam apa, hah?” bentak Hee Jin sembari memukul kepala Kris dengan kepalan tangannya.

 

“Teman macam apa aku yang tidak membiarkan temannya memiliki seorang kekasih. Apa kau pikir aku sejahat itu? Hah, dasar.”

 

Gadis itu benar-benar meredam semua gejolak dalam dirinya. Ia memilih mengatakan hal lain yang benar-benar bertolak belakang dengan kata hatinya, kata-kata yang sama sekali tidak pernah dia inginkan.

 

“Kau tidak marah?”

 

Hee Jin menggeleng.

 

“Kau serius?”

 

Kali ini hanya disambut oleh sebuah senyuman. A bitter smile.

 

 

 

 

Hee Jin kembali memejamkan matanya, air matanya hampir menyeruak untuk ke sekian kalinya. Bahkan saat ia telah bertekad untuk melupakan lelaki itu, ia tak bisa. Terlalu dalam kah cinta Hee Jin untuk Kris?

 

“Haahh… benar kan kau di sini. Aku tahu itu.” ujar sebuah suara berat yang telah mengisi tempat kosong di samping Hee Jin.

 

Gadis itu menoleh, sebuah senyum ia lontarkan pada lelaki dengan rambut berwarna tanah itu.

 

“Kau selalu tahu tentangku, Yeol.” balas gadis itu. Dengan senang hati ia menunjukkan rentetan gigi putihnya pada Hee Jin, membentuk sebuah bulan sabit kecil di bibir tipisnya. Lelaki itu menarik tangan Hee Jin, memeriksa benda bulat putih di pergelangan tangannya.

 

“Masih ada waktu sekitar satu jam lagi sebelum penerbangan kita ke Jerman.” ujar sang lelaki bernama Park Chan Yeol itu mengingatkan.

 

Ya, sekitar satu jam lagi Hee Jin dan pria di sampingnya ini akan melanjutkan studinya ke Jerman. Surat pengajuan beasiswa mereka telah disetujui sejak sebulan yang lalu. Seharusnya mereka telah berangkat sejak seminggu yang lalu, tapi keadaan Hee Jin memburuk. Dan akhirnya mereka memutuskan untuk menunda penerbangan mereka pada hari ini.

 

“Eoh…” jawab Hee Jin singkat.

 

“Kau yakin tidak akan menyesali keputusanmu?” Chan Yeol menuntut jawaban.

 

“Aku sudah memutuskan. Life must go on.

 

Ya, Hee Jin telah memutuskan. Ia tak boleh terjebak kembali dalam cerita cintanya yang terlalu rumit. Hatinya yang penuh berisi oleh hal-hal tentang Kris ingin ia reset. Mencoba merefreshnya menjadi hati yang baru, memasukkan nama-nama baru yang dapat membuatnya terus bertahan hidup. Chan Yeol misalnya. Sedikit banyak ia telah menyusun nama Chan Yeol di hatinya. Jauh di bagian ruang terkecil hatinya ia menyelipkan nama Chan Yeol di sana. Bukan tidak mungkin nama yang terukir kecil itu lama kelamaan akan membesar dan merajai hati Hee Jin seiring berjalannya waktu.

 

 

END

 

Wha ha ha…. endingnya gantung gitu yaaa…

Maap maap…..

Kan masih ada second&third story jadi jangan terlalu khawatir tentang gantungisasinya ya.

Hehehe

Give your review please!

 

Find me on

Twt        : @dini_febri00

 

See you on the next story!! Bubbay!!! 안녕….!!!

One thought on “[EXOFFI FREELANCE] A way (Chapter 1)

  1. jahat amat sih kris sama hee jin,? ahh kau nih kris, coba aja biar tuh kris ditinggal sama hee jin >__< biar mungkin tahu rasanya ditinggalin dan tahu pada akhirnya perasaannya, dan ahh iya aku masih ngk ngrtu sama yang Seoul, 04 2013 = Seoul 13 2013????

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s