[EXOFFI FREELANCE] PAIN KILLER Part 4

pain-killer-cover-2

PAIN KILLER Part 4

Author : HyeraKim

Main Cast : OC, Kim Jongin (Kai)

Additional Cast : Find it by yourself!

Genre : Hurt/Comfort, Angst, Romance, School Life, AU

Ratting : PG

Length : Chaptered

Disclaimer : The PLOT own by HyeraKim. NO PLAGIARISM!!! Cast own by their parents and God. OC create by me and my friend.

A/N : Hello Angel! Wkwkwk😀 Maapkeun author baru bisa update FF, kemarin-kemarin banyak tugas kuliah L sumpek baet ndak bisa nulis /CURCOL/ Jadi intinya author minta maap banget atas keterlambatannya.. semoga reader masih ingat sama ceritanya ya.. Oh ya FF Hidden nya aku lanjut lain waktu yah, masih banyak pertimbangan buat endingnya yang bikin aku susah bikin jalan cerita, hhe.. Author tau kalau para reader sekalian pasti sabar kok😀 kalo ngga malah critanya uda dilupain, hiks.. ndapapalah gua maklum.. Sekian Cuap cuapnyah…

HAPPY READING!!

PLEASE LEAVE A COMMENT!!

You cut back my pain like a Pain Killer

@Pain_Killer@

Part 4 >>>

“Where will we go Kay??”

Yesslyn hanya mengikuti langkah Kaylee yang menariknya ketempat bermainnya. Sedikitnya Yesslyn tau kemana dia akan dibawa. Mungkin di club malam. Tapi setahu Yesslyn tidak ada club di Korea yang diperkenankan untuk murid SHS, apakah mungkin illegal?

“Hyera.. jangan membawaku ketempat illegal!!”

“YA.. Diamlah dan ikuti aku..”

Hyera membisikkan sesuatu ditelinga Yesslyn.

“Jeongmal?? Daebak!!”

“Makanya kau diam dan ikut saja..”

Yesslyn mengalah dan mengikuti Kaylee dalam diam.

====

Kai duduk disofa single yang berada di club malam yang biasa ia datangi. Berkali-kali dia mengusir wanita yang mendatanginya, kutuk saja Baekhyun yang menariknya untuk duduk disini. Pria itu dengan asiknya bermain dengan seorang gadis yang duduk dipangkuannya. Kai menatapnya dengan jengah, telinganya hampir sakit mendengar kecapan dari bibir wanita Baekhyun setiap mereka bercumbu, belum lagi tawa menggelikan dari keduanya. Kai mendecak kesal. Ia memutuskan beranjak dari tempatnya. Tepat saat ia membalikkan badannya tiba-tiba kerahnya ditarik oleh seseorang dan orang itu langsung memukul rahangnya dengan keras membuat Kai yang memang tidak siap dengan pukulan itu langsung tersungkur kelantai. Baekhyun yang melihatnya langsung berdiri dan menghampiri Kai yang terjatuh kelantai.

“Gwaenchana?” Tanyanya.

Kai tak menghiraukan Baekhyun, matanya langsung memicing tajam kearah pria berdagu lancip yang telah memukulnya tadi.

“SIAL..” Rutuknya sebelum berdiri mendorong pria berkulit porselen itu dengan keras. Membuat pria itu terjatuh menubruk meja dengan keras. Pekikan para gadis dan umpatan-umpatan para pria yang merasa terganggu kemudian mendominasi. Belum sempat Sehun bangkit, Kai sudah mendaratkan pukulan dirahang kiri Sehun. Dia hampir mengulang kegiatannya jika Baekhyun tak menahan tangannya dan Kyungsoo yang juga telah berada disampingnya menariknya mundur. Sehun sendiri hendak bangkit dan kembali melayangkan serangan namun Chanyeol menghadangnya. Pria Park itu menarik Sehun menjauh. Saat menarik Sehun keluar Chanyeol berpapasan dengan Yesslyn yang entah sejak kapan sudah berada disana bersama Hyera. Mereka melihat apa yang terjadi, mulai dari Sehun yang tiba-tiba menarik kerah baju Kai dan meninjunya. Chanyeol sempat beradu pandang beberapa detik dengan Yesslyn namun gadis itu segera mengalihkan pandangannya. Dia terlalu muak untuk berurusan lagi dengan Chanyeol.

Yesslyn menarik Hyera dan mengajaknya untuk tak ikut campur namun Hyera memilih untuk ikut campur. Yesslyn mencebik kesal dan sambil menggerutu mengikuti langkah temannya itu menghampiri Kai. Baekhyun mencegah Hyera untuk mendekat tapi Baekhyun merinding sendiri melihat tatapan mata Hyera. Hyera menatap Kai, tatapan mereka bertemu. Seharusnya sorot itu berisi amarah, tapi sorot mata Kai menyiratkan kekecewaan.

====

Baekhyun menikmati ramyun instannya dengan lahap. Sepertinya pria itu terlihat kelaparan, Yesslyn sampai tak mengedipkan mata melihatnya. Mungkin ini pertama kalinya dia melihat makhluk rakus seperti itu.

“Apa kau tak pernah makan?”

Baekhyun menghentikan makannya dan menatap Yesslyn.

“Ini bukan karena aku lapar.. makan ramyun disaat seperti ini benar-benar menenangkan.. ini lebih ampuh dari alkohol..”

“Jeongmal??”

Baekhyun mengedipkan sebelah matanya sebagai jawaban. Dasar pria genit, cibir Yesslyn dalam hati.

“Aku dengar kau punya dendam dengan Park Dobby..”

“Park Dobby??”

“Maksudku Chanyeol..”

“Ahh itu.. aku selalu kesal melihatnya.. dia sangat tidak sopan dan menyebalkan..”

“Kau mau beraliansi denganku? Aku punya dendam dengannya!”

“Dendam?”

“Dia pernah menjebakku sampai membuatku dihukum membersihkan toilet selama seminggu..”

Yesslyn meledakkan tawanya membuat Baekhyun kembali menatapnya. Oh astaga! Baekhyun benci di tertawakan.

“YAK! Geumanhae..”

“Kalian terlihat cocok..” Sahut Kyungsoo yang meletakkan minuman kaleng didepan mereka berdua. Sontak Yesslyn sangat tidak terima. Sedangkan Baekhyun malah tersenyum tak jelas dan sesekali kembali mengedipkan matanya kearah Yesslyn.

Saat ini mereka berada di apartemen Kyungsoo. Kyungsoo yang membawa mereka keluar dari club sebelum keamanan membawa mereka ke kantor polisi. Mereka adalah tamu illegal, seorang siswa SHS belum diijinkan memasuki tempat seperti club malam. Kyungsoo tak ingin kejadian seperti sebelumnya terulang, saat Kai, Baekhyun, Sehun dan Chanyeol hampir terseret kekantor polisi karena terlibat perkelahian didalam club.

Disofa ruang tamu Hyera mengompres lebam disudut bibir Kai setelah sebelumnya memplester luka dipunggung jari-jari Kai. Entah dari mana dia mendapat luka di punggung jari-jarinya itu, Hyera juga tak paham. Dalam diam Kai menatap intens paras cantik Hyera yang berjarak sangat dekat dengannya. Guratan-guratan halus dikeningnya saat membubuhkan anti septik pada sudut bibir Kai membuat pria itu merasakan sesuatu yang tak dapat ia jelaskan.

“Selesai..” Ucap Hyera setelah menempelkan plaster disudut bibir Kai.

Hyera membereskan obat-obatan yang sempat dikeluarkannya dari dalam kotak obat. Ia hendak berdiri untuk mengembalikan kotak obat itu ketempatnya namun Kai menahan lengannya. Hyera hendak melontarkan protes namun setelah bertatapan dengan bola mata coklat gelap milik Kai ia justru kembali duduk disofa. Ada tatapan memohon yang membuat Hyera tak dapat menolak permintaannya. Detik berikutnya tubuhnya menegang saat Kai meletakkan kepalanya dibahunya. Bersandar dengan nyaman disela antara leher dan bahu kanan Hyera. Kai sendiri menutup matanya, tak menghiraukan jantungnya sendiri yang berdegup tak karuan.

“Apa yang kau lakukan?”

“Jangan bergerak.. biarkan aku tidur sebentar saja..”

Hyera menelan susah salivanya, dia terlalu canggung saat ini.

====

“Kau itu bodoh, ceroboh atau gila Hun?”

“Kau pikir menantang Kim Jongin akan membalaskan dendammu? Sudah jelas dia menang telak jika kau mengajaknya duel!!!”

Chanyeol meracau tidak jelas di apartemennya. Dia sudah bosan menasehati Sehun, temannya itu terlalu naïf. Sehun hanya memikirkan balas dendam dalam jangka pendek tanpa berpikir bahwa dibalik semua yang dilakukan Kai padanya juga merupakan kesalahannya sendiri. Chanyeol sudah berkali-kali menjadi penengah antara mereka walau pada akhirnya ia malah ikut terpancing emosi dan terlihat membantu Sehun tapi sebenarnya tidak seperti itu. Katakan saja Sehun itu punya gengsi yang setinggi langit, ya setahun lalu ia bahkan sudah bertekad akan minta maaf tapi apa? Yang dilakukan pria itu malah selalu memancing emosi Kai. Salahkan juga Kai yang terlalu mudah emosi, perubahan signifikan yang membuat Sehun semakin sulit untuk mengalah karena pada dasarnya mereka memiliki kepribadian yang mirip, sama-sama mudah terpancing, sama-sama naif dan sama-sama pengecut ulung.

Sehun masih diam saja menerima setiap racauan yang keluar dari mulut Park Chanyeol sampai pria itu bosan sendiri dan akhirnya lebih memilih meninggalkan Sehun sendirian diruang tamu. Chanyeol tak hanya harus mengurus Sehun, ia juga perlu mengurus banyak hal dirumahnya. Untung siang tadi noonanya sudah berangkat kembali ke Paris jadi dia sendiri tak perlu kena omelan karena ketahuan menginjak lantai club. Dia mengintip Sehun yang masih terlihat tak bernyawa dari pintu kamarnya. Terkadang Chanyeol bingung sendiri tatkala Sehun terlihat diam seperti itu. Sehun merusak Kai, itu benar. Kerusakan Kai sudah tak perlu ditanyakan lagi tapi tak pernah ada yang tahu bahwa Sehun mungkin lebih rusak, lebih usang untuk diperbaiki. Kai mungkin masih bisa disentuh oleh orang lain tapi tidak dengan Sehun. Chanyeol yang memang orang baru dalam kehidupan Sehun, hampir genap dua tahun mengenal pria albino itu. Tapi bagi Chanyeol rasanya seperti mereka baru kenal sebulan ini, Chanyeol tak dapat mengerti Sehun. Sehun hanya bercerita padanya sekali tentang hubungan rusaknya, tapi entah Chanyeol yang bodoh atau memang Sehun yang tak tersentuh, sekalipun Chanyeol tak pernah bisa memperbaiki Sehun.

Chanyeol menutup kembali pintu kamarnya. Beragam hal dihari ini membuat kepalanya sakit. Siang tadi dia sudah mendapat omelan Park Yura karena kakak perempuannya itu menemukan obat pereda sakit dilacinya. Ia mengeluarkan sesuatu dari kantong celananya. Obat yang sama seperti yang dibuang Yura siang tadi. Tidak ada yang bisa menghalangi Chanyeol jika dia menginginkan sesuatu, Chanyeol terlalu keras kepala untuk mendengar nasehat orang lain. Dia tidak suka diatur,

“Jika kau sakit pergi kerumah sakit bukannya membeli obat yang tidak-tidak..”

“Makanan instan, alkohol, obat-obatan tanpa resep, kau mau mati karena mengkonsumsi hal-hal seperti ini?”

“Jika tidak bisa hidup sendiri dengan baik, aku akan membawamu secara paksa pulang ke Jerman!!”

Chanyeol memijit kepalanya, suara Park Yura seperti sudah melekat ditelinganya. Lagipula yang dialami Chanyeol cuma sakit kepala bukan sakit yang berlebihan, menurut Chanyeol kakaknya itu saja yang berpikiran tidak-tidak. Chanyeol meremas kepalanya saat tiba-tiba rasa sakitnya bertambah parah. Biasanya tidak sesakit ini ngomong-ngomong, mungkin karena dia kelelahan hari ini. Dengan cepat ia menelan satu pil kecil lalu melempar botolnya asal. Semoga saja malam ini ia bisa tidur nyenyak meski dengan suara-suara Park Yura yang masih mengisi kepalanya.

====

Kejadian tempo hari membuat Hyera tak mampu memejamkan mata semalaman. Jantungnya berdetak terlalu kencang sampai dia sendiri mendengarnya seperti genderang dan kacaunya ia tak bisa tidur karen ulah jantungnya sendiri. Kim Jongin terlalu mempengaruhi jiwa dan raganya, masih dia ingat hembusan nafas teratur yang menggelitik lehernya saat Kai terlelap dibahunya semalam. Oh itu membuat Hyera semakin insomnia. Efeknya pagi ini Hyera terlihat sangat lesu, dia bahkan sedang terkantuk-kantuk didalam bus saat ini. Ia benar-benar terlelap dan tanpa sengaja menjatuhkan kepalanya kekiri, tepat dibahu pria yang memang mengikutinya sejak tadi dan Hyera terlalu lelah untuk sadar bahwa dia tidak berangkat sendirian.

Jungkook tak mampu bernapas normal saat Hyera semakin terlelap dibahunya. Napas Hyera yang teratur ditambah wajah tidurnya yang terlihat polos membuat kerja jantungnya menjadi berlebihan. Ia tak menyia-nyiakan kesempatan ini, disibaknya surai kecoklatan Hyera yang menutupi sebagian sisi wajahnya. Tak butuh waktu lama baginya untuk menarik sebuah senyuman. Cantik, gumamnya dalam hati. Dia tidak menyangka Hyera memiliki paras yang lebih cantik saat tidur. Biasanya dia selalu marah-marah dengan wajah kesal, meski sebenarnya begitu juga cantik.

BEEEPP…

Shit. Apa-apaan? Membuat kaget saja. Sopir bus tiba-tiba mengklakson dengan sangat keras membuat seluruh isi bus termasuk Jungkook cukup terkejut dengan bunyi klakson bus yang ditumpanginya sendiri. Ia merasa bahunya tidak berat lagi. SIAL. Gara-gara klakson itu Hyera terbangun. Hyera masih mengerjapkan matanya berkali-kali saat Jungkook dengan wajah cemberut menatapnya datar.

“Sejak kapan kau disini?”

Pertanyaan pertama yang dilontarkan Hyera hampir membuat Jungkook menjatuhkan rahangnya, tapi dia hanya membulatkan matanya saja.

“Jadi sejak tadi itu aku hantu begitu? Hey Noona.. aku sudah berada disebelahmu sejak keluar dari gerbang rumah ngomong-ngomong..”

Hyera mengingat-ingat. Tapi dia tidak menangkap wajah Jungkook sama-sekali sejak tadi. Earphone ditelinganya membuatnya terlena dengan lagu hip hop yang meracau dengan keras dan dia memang terkantuk-kantuk saat berjalan ke halte, jadi mungkin dia memang tidak terlalu peka kalau memang Jungkook disampingnya.

“Ooh..”

Jungkook lagi-lagi hampir pingsan mendengar jawaban Hyera yang kelewat datar. ‘Ooh?’ Jawaban macam apa itu? Kenapa Hyera tidak bertanya seperti gadis lain yang mungkin akan cerewet saat menyadari dirinya tidak peka. Gadis macam apa sih yang sedang disukainya ini? Bus telah berhenti dihalte dekat OHSE High School, saat Jungkook masih menatap heran kepada Hyera.

“Kau tidak turun?”

“Apa?”

“Kita sudah sampai bodoh..”

Hyera mengetukkan genggaman tangannya ringan dikening Jungkook, membuat pria itu mengaduh dan akhirnya berdiri memberi jalan Hyera untuk keluar dari tempatnya duduk karena dia yang duduk dekat jendela tadi. Jungkook masih mengelus keningnya saat Hyera sudah berjalan jauh meninggalkannya membuatnya menggerutu sendirian dihalte.

“YAA!! Noona menyebalkan..”

Jungkook segera mempercepat langkahnya hingga sejajar dengan Hyera. Ia menarik earphone yang menyumpal telinga Hyera.

“Kau menyebalkan ya? Bagaimana bisa kau meninggalkan orang yang berangkat bersamamu!”

“Aku tidak meninggalkan siapapun, aku tidak berangkat bersama siapapun..”

Balas Hyera sinis dengan wajah datar. Jungkook tak mengerti kenapa tidak ada ekspresi indah diwajah cantik itu, kalau bukan datar ya kesal atau bahkan marah.

“Noona kau tidak bisa …YA!! Kau tersenyum!!” Ucapnya heboh.

Merasa terkejut dengan dirinya sendiri yang katanya Jungkook ia tersenyum, Hyera berusaha kembali menetralkan wajahnya. Senetral apapun tak dapat dipungkiri, matanya bahkan terlihat bercahaya, tak sekelam tadi.

“Aku sudah menunggumu lama, kenapa baru datang?”

Jungkook langsung menggerakkan kepalanya kekiri. Kai? Pria itu menatap tajam Jungkook sekilas lalu menarik tangan Hyera dan meninggalkan Jungkook. Jungkook merasa mati rasa, Hyera terlihat bahagia saat Kai datang menghampirinya. Dia kalah lagi dengan pria menyebalkan itu! Pria yang menusuknya dan juga ibunya dengan kata-katanya yang tajam. Dia kalah waktu itu karena ibunya menahan tangannya untuk tetap diam. Tapi sekarang haruskah dia kalah lagi?

====

Guru berbahasa asing itu bernama Kris Wu. Dia masih sangat muda, dan dia lulusan Standford di jurusan bahasa inggris. Entah apa yang membuat pria berdarah China itu memilih menjadi seorang pengajar di Senior High School. Menurut apa yang Hyeri dengar, pria berdarah China itu sangat berbakat. Dia bisa saja jadi dosen kalau dia mau, tapi dia malah memilih menjadi guru. Terkadang jalan pikiran orang itu tidak dapat diterima orang lain, termasuk seperti kenapa pria 28 tahun bernama Kris Wu itu memilih menjadi guru. Prestasinya bisa dibilang gila, mungkin IQ nya lebih dari 150. Dia lulus dari Standford diusia 20 tahun, usia dimana seharusnya seseorang masih harus menunggu dua tahun lagi menuju jenjang kelulusan, itupun kalau dia lulus SHS dengan cepat. Namun pria itu sudah lulus dengan prestasi memuaskan. Setelah itu dia mengelilingi dunia dengan menjadi backpacker. Kalau yang itu mungkin sebuah ambisi yang keren namun setelah berkeliling dunia pria itu malah mendaftar untuk menjadi pengajar bahasa inggris. Padahal dia anak orang kaya raya di China. Ngomong-ngomong bagaimana Hyeri tahu tentang Kris Wu? Yah mudah saja Kris Wu itu salah satu kenalan Minhyuk. Dan Minhyuk yang telah bercerita panjang lebar tentang Kris Wu saat Hyeri hanya menyebut namanya. Terkadang Minhyuk memiliki tingkat kecerewetan yang tinggi namun kadang juga diamnya seperti patung. Ah sudahlah, melamun saat dikelas bukan hal baik Hyeri.

“Adakah seseorang yang ingin membacakan puisi berjudul Bridal Song karya William Shakesphare ini?”

Membaca puisi? Oh Astaga! Bukan karena Hyeri tidak lancar berbahasa inggris dan hey jika kau lupa dia tinggal di Boston sebelumnya. Tapi itu bukan gayanya sama sekali. Semoga saja Wu Saem tidak menunjukknya. Oh tidak-tidak.. tapi kenapa Wu Saem berjalan kearahnya? Tidak –tidak, Hyeri tidak siap. Membaca puisi? Kata-kata lembut saja dia tidak tahu apalagi dengan bahasa British. Oh Kris Wu Saem please..

“Mr. Park..”

Oh my god. Hyeri sudah hampir meledak. Untung bukan dia.

“..are you sleeping well?”

Kris Wu menepuk pelan bahu Chanyeol membuat pria itu mengangkat wajahnya dengan wajah sayu. Jadi The Perfect School Prince bisa ketiduran dikelas juga ya? Dan apalagi pelajaran Kris Wu cukup menyenangkan asal kau tau. Chanyeol cukup linglung karena semua orang menjadikan dirinya pusat perhatian sekarang.

“Ohh.. I’m very sorry, sir..” Ucapnya.

“..are you okay? You look bad.. are you sick?”

“No.. umm just little dizzy..”

“Need a break?”

“Thank you..”

Chanyeol beranjak dari tempatnya dan berjalan meninggalkan ruang kelas. Hyeri masih memandang punggung yang menjauh itu. Sick? Uh..

“Miss Yesslyn.. I heard you good at English..”

Oh my god. Damn You Park Chanyeol!!!

====

Berbeda dengan ruang kelas 2-1 yang pelajaran berlangsung dengan khidmat suasana belajar mengajar di ruang kelas 2-2 sangat sepi. Bukan karena murid memperhatikan pelajaran dengan baik tapi karena hampir separuh murid dikelas sedang tertidur pulas. Pantas saja kelas ini tak pernah diajar guru berkelas seperti Kris Wu. Tapi belum tentu mereka akan tidak antusias seperti ini kalau Kris Wu yang mengajar dikelas mereka, mengingat guru itu merupakan guru yang menjadi idola para siswa perempuan. Hyera sendiri tak tahu kenapa harus masuk diruang kelas yang tak bermutu seperti ini. Seingatnya nilainya tak terlalu buruk untuk dimasukkan dikelas se-elit 2-1. Memang ruang kelas yang sekarang ditempati sahabatnya –Hyeri itu merupakan kelas yang di isi dua puluh lima siswa dengan urutan kepandaian teratas setiap semesternya. Dan alasan kenapa Hyeri berada disana karena gadis Yoon itu memang memiliki otak yang sangat cerdas. Hyera mengakuinya, walau ia sendiri juga tidak seburuk itu untuk dikirim dikelas tidak nyaman ini. Tapi jika dibanding sekolah lain murid di OHSE selalu punya nilai rata-rata tertinggi dari semua kelas, kecuali mereka yang masuk memang karena orang tua mereka adalah orang kaya raya dan menjadikan OHSE sebuah status sosial yang terpandang semata. Dan Hyera tidak tahu kenapa selalu guru bertubuh tambun dan beruban itu yang sering masuk ke kelasnya. Benar-benar menyebalkan. Pantas saja Kai sudah melarikan diri sejak jam pertama dimulai, dia pasti ada di rooftop.

Baekhyun? Dia tidak terlalu memperhatikannya sejak tadi. Apa yang dilakukan anak itu? Membaca? Dia tidak tahu Baekhyun suka membaca, dia terlihat cukup serius. Jangan-jangan dia membaca komik. Hyera tertawa dalam hati jika benar anak itu ternyata membaca komik. Menit berikutnya bel istirahat sudah terdengar. Hyera mengemasi barang-barangnya. Ia heran, Baekhyun bahkan belum beranjak dari tempatnya sekarang.

“Berinvestasi bidang property.. mwo?”

Baekhyun berjingkat ketika mendengar suara itu. Detik berikutnya ia melihat Hyera dengan tampang datarnya menatap aneh kearahnya.

“Aiishh kau ingin aku mati serangan jantung ya?”

“Kau benar-benar membaca buku macam itu?”

Ucap Hyera sambil menunjuk-nunjuk buku yang berada ditangan Baekhyun, ia bahkan menatap ngeri kearah buku itu.

“Kenapa? Salah jika aku membacanya?”

“You shock me Baek.. I don’t know that you able to open that kind of book..”

“Kau sama saja dengan Kai.. selalu mengejek apa yang ingin kulakukan..”

“Kau serius? Pengusaha Property?”

Baekhyun mengangguk antusias.

“Then buy me an Apartement..”

Baekhyun mengela napas. Lalu berbalik meninggalkan Hyera dengan tampang menyebalkannya.

“Okay Okay I know.. Then fighting!!”

====

“Aku tidak tahu tempat ini cukup nyaman..”

“Aku menyuruhmu diam sejak kau tiba!”

Chanyeol mendecih membuang muka. Berbicara dengan anak itu tidak asik sama sekali, ngomong-ngomong dia sedang di rooftop. Tempat yang jarang dia datangi, langkah kakinya membawanya begitu saja ke tempat ini saat membolos. Tidak membolos juga sebenarnya, dia keluar atas izin Mr. Wu. Tadi pagi memang dia merasa seperti hampir mati karena kepalanya sangat sakit, sampai dia mengabaikan pelajaran dan tidur. Entah siapa yang menggantikan tugas ketua kelasnya saat apel pagi tadi, mungkin Sehun selaku wakil. Ia sempat menginjakkan kaki ke toilet sebelum kemari, perutnya mual. Dan setibanya di rooftop dia yang tanpa sengaja membanting pintu membuat seseorang terbangun dari tidurnya. Sialnya pria itu adalah Kai. Untung saja pria itu tidak berniat memulai perkelahian karena mungkin moodnya sedang baik, Chanyeol sendiri sedang tidak ada banyak tenaga untuk berkelahi.

“Kita damai saja yaa?”

Cletukan Chanyeol membuat Kai kembali membuka matanya.

“Kau dan Sehun, kalian berbaikan saja.. aku lelah menjadi penengah untuk kalian, Baekhyun pasti juga..”

Kai masih sibuk dengan diamnya. Ia tak berniat menjawab karena memang tak tahu jawaban seperti apa yang harus dia berikan. Sebenarnya masalah Sehun, dia sendiri bingung. Dia marah setiap bertemu Sehun, sangat berniat untuk membunuhnya detik itu juga. Itu pantas didapatkan orang yang telah menghancurkan dirinya bukan? Tapi tidak. Setelah memukul Sehun dia selalu kecewa. Kecewa kepada dirinya sendiri yang tak dapat menahan diri.

“Jongin.. berhentilah bersandiwara menjadi Jongin yang bodoh. Kau lebih sempurna dari yang semua orang pikirkan. Jangan bersikap seolah dirimu adalah sampah jika faktanya kau adalah berlian. Jangan menyakiti dirimu sendiri, aku tahu kau tidak senang dengan hidup yang kau jalani.. dan asal kau tahu, Sehun lebih sakit darimu saat ini. Dia terlalu tenggelam dalam rasa bersalah sampai hancur berkeping-keping..”

Kai merasa seharusnya saat ini ia memukuli Chanyeol karena beraninya mencampuri urusannya terlalu jauh. Sedang Chanyeol sendiri tiba-tiba merasa siap jika harus dipukul. Namun keduanya sama-sama diam setelah kalimat panjang Chanyeol. Kai merasa tangannya kebas untuk melayangkan tinju. Benarkah yang diucapkan pria yang berbaring disampingnya itu? Sehun juga hancur berkeping-keping? Kenapa? Kenapa dia harus hancur setelah berhasil merampas semuanya dari Jongin tanpa memberi penjelasan yang pasti. Dia berusaha percaya bahwa apa yang dikatakan Chanyeol adalah bulshit tapi kenyataannya dia tenggelam memikirkan perkataan Chanyeol itu. Benarkah, benarkah dan benarkah. Itu berputar-putar dikepalanya.

====

Hyera kembali menuruni tangga dari rooftop bersama Baekhyun yang satu langkah didepannya. Mereka mendengar bahwa Kai tidak sendiri, ada seseorang yang lain disana. Tapi yang membuat mereka mengurungkan diri dan kembali adalah pembicaraan serius kedua pria itu. Mereka tak berniat menguping tapi apa boleh buat, pintu rooftop yang tak tertutup dengan benar membuat suara berat Chanyeol terdengar dengan keras. Bukan Baekhyun yang mengajak Hyera turun tapi Hyera yang mengajak Baekhyun turun. Baekhyun tadinya bersikeras karena takut Kai berbuat yang tidak-tidak, memukul Chanyeol mungkin. Namun setelah mendengar lebih lanjut dan tak ada teriakan atau suara-suara pukulan Hyera menarik Baekhyun turun.

“Baek.. .. ..kau mau berbagi cerita denganku?”

“Aku yakin Kai tidak senang..”

“Memang siapa yang ingin memberitahunya?”

Baekhyun kalah lagi. Entah kenapa dia selalu kalah jika beradu mulut dengan Hyera. Wanita itu punya sihir yang membuat pikiran Baekhyun beku untuk melanjutkan pembelaan, mungkin.

“Tidak disini..”

“Aku tahu..”

====

Hyeri berdiri menyentuh knop pintu ruang kesehatan saat dua orang murid pria melintasi arah berlawanan dengannya. Setelah mereka menghilang ditikungan koridor, dia mendekatkan kepalanya pada kaca yang berada dipintu ruang kesehatan. Dia mencoba melirik kekanan-kiri mencari siapapun yang mungkin sedang berbaring disalah satu ranjang. Tapi yang dilihatnya dari ranjang terdekat. Kosong. Dia tak bisa melihat sisi lain karena terhalang banyak benda. Dia menghembuskan napas kasar lalu berputar hendak meninggalkan tempat itu.

“WUUAA..”

Untung saja pria itu menarik tangannya jadi Hyeri tak jadi terjungkal kebelakang.

“Astaga kau! Kau ini sama menyebalkannya dengan Chanyeol ya!”

“Apa yang kau lakukan disini..” Tanya Sehun.

Hyeri membulatkan matanya lalu bergerak-gerak tidak tenang.

“Umm itu.. ak-aku ingin mencari dokter.. hehe..”

“Kenapa tidak masuk?”

“Kurasa sedang tidak ada.. umm lain kali saja.. ”

Hyeri segera berbalik dan meninggalkan ruang kesehatan. Sedangkan Sehun masih menatap punggung gadis Yoon itu.

“Bilang saja sedang mencari Chanyeol.. dasar wanita..” Gumamnya.

Sehun hampir memutar knop pintu ruang kesehatan namun segera menoleh kesamping saat merasa namanya terpanggil.

“Eo? Kukira kau didalam..”

“Aku lapar, ayo ke kantin..”

“Apa? Tapi kau sudah baikan?”

“Kau pikir aku sesakit apa hah? Sebenarnya aku hanya tidak bisa tidur semalam makanya kepalaku sakit..”

Sehun sedikit mengerutkan keningnya sambil menatap raut wajah Chanyeol. Yeah.. he look better.. setidaknya tidak sepucat pagi tadi saat mereka berangkat bersama, ia bahkan harus menggandeng lengannya pagi tadi. Detik berikutnya dia sudah berbalik dan berjalan mendahului Chanyeol.

“Aku yang traktir, semalam kan aku sudah merepotkanmu..”

Chanyeol tersenyum sumringah. Makanan gratis, dia harus memesan sebanyak-banyaknya kalau begitu.

====

“Aku antar ya?”

“Tidak.. rumah kita beda arah.. oppa itu sudah menunggu, cepatlah naik..”

Hyeri mengerucutkan bibirnya. Hyera tersenyum gemas melihatnya.

“Sampai besok, bye?”

Hyerapun berjalan menuju halte, sedangkan Hyeri berjalan menuju Jaguar biru metallic yang sudah menunggunya.

“Kenapa wajahmu tak pernah baik sih saat pulang sekolah?”

Ucap Minhyuk sesaat setelah Jaguar itu melaju.

“Kan kau sudah tahu jawabannya..”

“Yesslyn Yoon tidak cocok bersekolah di Korea, itu?”

Hyeri mengangguk bodoh. Mengundang sebuah tawa dari Minhyuk.

“Besok malam ikut aku ya?”

“Kemana?”

“Sudah ikut saja.. dan kau harus cantik, arasseo?”

Hyeri memberengut kesal. Hari ini menyebalkan.

====

Sehun menenggak gelas kesekian yang diberikan bartender club. Club yang biasa dia kunjungi memang tapi ini masih cukup sore dan masih sangat sepi. Bukan Kyungsoo pastinya yang akan memberikan minuman sebanyak itu kepada bocah SHS seperti Sehun. Bartender lain di Club ini akan memberi berapapun jika Sehun memberinya banyak tip. Sehun sibuk berpikir, seperti yang Chanyeol selalu katakan padanya ia egois, terlalu gengsi, terlalu berpikir negative karena belum tentu apa yang selalu dipikirnya itu akan terjadi. Chanyeol selalu benar. Sehun sendiri tersiksa karena terlalu merasa bersalah. Dia rusak karena sudah merusak orang lain. Tentang Jongin, Sehun tak mengira dia akan berubah separah itu sekarang. Ia pikir Jongin hanya akan marah padanya setelah yang terjadi tanpa menutup diri dan parahnya menjadi brutal. Bertolak belakang dari diri Kim Jongin dulu.

Sehun merasa lebih sakit melihat Jongin yang berubah. Penderitaan batinnya bertambah parah sejak dia akhirnya bertemu lagi dengan Jongin di OHSE High School. Sehun sudah mengantisipasi pertemuannya dengan Jongin sebenarnya, dia bahkan berniat memperbaiki hubungan mereka. Namun sayang yang membuat Sehun menjadi pengecut adalah saat dimana dia bertemu dengan Jongin, dia melihat pancaran mata kebencian yang begitu dalam. Belum lagi sikap pria itu berubah drastis. Jongin menjadi liar, tidak peduli dengan sekitar dan bahkan menjadi sampah. Dia tak menunjukkan sisi sempurnanya sama sekali, menebak soal yang salah dan menjadikan dirinya yang terburuk disekolah. Menjadikan dirinya murid yang sering masuk ke ruang kedisiplinan karena perkelahian yang dia mulai dengan sengaja. Membolos seluruh pelajaran, tidur dan pergi keatap sekolah.

Citra yang sangat buruk kini dipegangnya dan Sehun mengerti bahwa dirinya adalah biang dari citra buruk yang Jongin sandang sekarang. Sehun merasa lebih bersalah dari siapapun. Dia merasa bertanggung jawab atas semuanya tapi dia pengecut. Dia masih merasa takut akan menjadi yang kedua lagi. Dia masih takut kehilangan kepercayaan ibunya yang kini setiap hari selalu memujinya. Dia takut dan bodohnya rasa takutnya justru memperkeruh keadaan. Jongin yang selalu marah saat bertemu dengannya membuatnya terpancing dan justru terlibat pertengkaran dengan Jongin. Sehun memang bodoh. Picik. Pengecut. Ribuan sebutan kasar patut dia terima karena memang itulah Sehun yang sekarang maupun Sehun yang dulu. Bukan Jongin yang sampah namun Sehunlah sampah. Bajingan brengsek yang merusak masa depan sahabatnya sendiri.

“Oh Sehun..”

Kyungsoo terkejut saat mendapati Sehun yang kepalanya sudah terkulai di meja bar. Dilihatnya tangan Sehun yang masih memegang gelas kosong dan sebotol vodka yang hampir tandas disamping kepalanya.

“Siapa memberinya minuman berkadar alkohol tinggi seperti ini?”

Dua orang bartender yang bertugas itu saling menyikut lengan temannya satu sama lain. Mereka menunduk takut, Kyungsoo adalah penguasa di Club ini setelah Presdir Jeon. Pekerjaannya sebagai bartender hanya sekedar hobi saja karena jabatannya di Club ini sebenarnya adalah pengelola atau Manager Club. Kyungsoo mengeluarkan ponselnya dari saku celana dan menghubungi seseorang. Ia keluar sebentar untuk menghindari kebisingan.

“Halo, Baek.. bisakah kau panggil siapapun untuk membawa Sehun dari club?”

“Kenapa harus aku? Minta saja Chanyeol!”

“Kalau aku tahu cara menghubungi pria itu aku tak akan menelponmu bodoh..”

“Aku tidak tahu, aku kan tidak dekat dengannya..”

“Kalau begitu kau saja yang kemari!”

“Apa? Tidak-tidak..”

“Atau kukatakan saja pada Shin_”

“Arasseo.. aku akan sampai dalam lima belas menit!!”

====

Di apartemennya Chanyeol terlihat sibuk dengan laptop dan berkas-berkas berserakan dimeja ruang tamunya. Usianya memang belum genap 20 tahun tapi Tuan Park memintanya untuk membuat beberapa copy proposal kerjasama dengan beberapa client. Proposal itu nantinya akan diproses oleh kaki tangan Tuan Park yang ada di Korea. Jika proposal diterima, Chanyeol tinggal menemui client dengan surat kerjasama. Ya, berbeda dengan Sehun yang menjadi anak kedua namun dapat hidup bebas, Chanyeol is a heir. Dia harus belajar bisnis sejak dini untuk bisa menjadi pemimpin rumah sakit milik ayahnya dimasa mendatang.

Chanyeol melepas kacamatanya sejenak lalu memijit pangkal hidungnya. Matanya sudah lelah karena berjam-jam berhadapan dengan rentetan kalimat tentang bisnis dan juga laptopnya. Ia menyandarkan diri pada sandaran sofa lalu memejamkan mata. Ia mengerutkan keningnya saat sakit kepalanya datang lagi. Apa-apaan sih ini? Kenapa akhir-akhir ini sakit kepala selalu membuatnya kewalahan untuk menahannya. Mungkin dia harus check up kerumah sakit secepatnya. Ia meraih botol kecil yang ada diantara berlembar-lembar kertas, mengeluarkan satu pil dari dalamnya lalu menelannya tanpa air. Dia terlalu terbiasa menelan pil pereda sakit kepala.

Sebuah dentingan bell apartemennya membuat alisnya terpaut. Siapa yang datang? Kalau Sehun pasti langsung masuk. Jangan-jangan penggemarnya? Yah, Chanyeol pernah mendapat tamu beberapa penggemarnya saat dia berulang tahun. Tapi dia sedang tidak berulang tahun. Bell itu ditekan lagi, kali ini tak hanya sekali tapi berkali-kali membuat Chanyeol geram. Akhirnya ia berjalan menuju intercom. Sontak ia langsung membulatkan matanya saat melihat pria yang berdiri didepan pintu apartemennya. Byun Baekhyun, mau apa dia? Bagaimana dia tahu alamat rumahnya? Oh baiklah mungkin dia tahu dari penggemar. Tapi kenapa dia kemari? Tak menghiraukan pertanyaan yang berkumpul dikepalanya, Chanyeol membuka pintu, dia dua kali terkejut saat melihat Baekhyun ternyata tak sendiri. Ada pria yang terduduk dilantai tepat dibelakang Baekhyun.

>>> Part 4 Cut

Next Part Preview

“Hei.. itu Jongin..”

“Dia tidak dikeluarkan? Daebak! Pengaruh Myunghwa memang hebat..”

“Itu Jongin kan? Astaga ketampanan dan kepandaiannya benar-benar tercium busuk sekarang..”

“Jongin benar-benar pria brengsek, iyakan?”

“Astaga itu Jongin, aku bersumpah tak akan menjadi fans nya lagi..”

Jongin menghentikan langkahnya detik itu, semua orang menatapnya dengan tatapan jijik. Belum lagi mereka menggumamkan kalimat-kalimat yang membuat Jongin merasa seakan tengah ditekan benda berat. Ia tak menyangka mendapat hal seperti ini. Seorang murid pria melintasinya. Jongin tersenyum dan memanggilnya. Sehun, pria itu Sehun. Dia berhenti lalu dengan wajah datar dan terkesan dingin dia berbalik dan menatap Jongin.

“Sehun..”

Jongin hendak menghampirinya namun Sehun kembali berbalik dan berjalan menjauh. Sehun? Bagaimana mungkin dia ikut membenciku? Batin Jongin.

@Pain_Killer@

2 thoughts on “[EXOFFI FREELANCE] PAIN KILLER Part 4

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s