[EXOFFI FREELANCE] Love Reaction (Oneshot)

LOVE REACTION POSTER.png

Love Reaction

Author: Yoo Mina

Length: One shoot

Genre: Romance, Comedy, College life

Rating: 15 +

Main Cast:

Kim Junmyeon

Kang Seulgi

Disclaimer:         Karya ini tulisan sendiri, buah dari angan-angan penulis. Hanya ingin mengeshare pada pembaca sekalian. Hope you’ll like it.

Author’s note:  Semua tokoh hanya fiksi belaka, tidak bermaksud menjelekkan atau membaikkan siapapun. Jangan merasa terganggu dengan emot-emot yang ada. Dibuat biar komedinya lebih terasa, hehe, Happy reading ^-^

 

 

Sudah hampir tiga hari ini aku nggak berada di rumah. Bukan di tempat yang nggak menyenangkan sebenarnya, hanya saja tempat ini membuatku nggak nyaman. Aku merasa minder di tempat ini. Kadang-kadang tempat ini membuatku merasa bahwa aku adalah orang terbodoh sedunia  -_-^

Aku berada di semacam asrama yang digunakan sebagai tempat pembinaan Olimpiade Sains Nasional tingkat SMA. Aku mengikuti bimbingan bidang studi kimia untuk maju ke nasional. Hari-hariku kuhabiskan di ruang kelas mendengarkan ceramah dosen pembimbing. Aku memenuhi buku catatanku dengan kode-kode abjad unsur, lengkap dengan tanda panah sana sini dan gambar jalinan struktur kimianya. Diskusi aktif di kelas berlangsung sepanjang waktu, namun seperti biasa, aku hanya menjadi pendengar yang budiman ^-^

Bayangkan, mana mungkin aku lebih pandai dari mereka. Aku berasal dari SMA pinggiran, di kabupaten kecil dan terpencil. Sedang mereka, mereka berasal dari SMA perkotaan yang pembelajarannya terjamin. Yang terpenting, aku baru kelas X. Mereka semua sudah kelas XI. T_T . Keberadaanku di adalah keajaiban. Mungkin saja yang mengetik pengumuman juaranya mengantuk malam itu dan nggak sengaja mengetik namaku -_-#

Suatu ketika aku salah melakukan langkah praktikum saat praktikum penentuan kadar unsur. Aku memanaskan larutanku yang berada di tabung erlenmeyer di atas penangas. Sudah hampir 10 menit, tapi warna larutanku tak berubah menjadi coklat. Padahal di petunjuk jelas tertulis hanya butuh waktu selama 5 menit untuk mengubah warnanya. Larutanku sudah mendidih dengan aneh sejak tadi, jadi aku was-was. Tiba-tiba saja seorang peserta terpintar di kelas mengambil penjepit dan membuang larutanku di westafel.

“Hei!” seruku kaget. Astaga -0-

“Kamu nggak salah manasin larutan?” tanya cowok itu sinis.

“Itu larutan besi kan? Iya aku tahu. Aku nggak bodoh kok :p”

“Terus kenapa larutanmu nggak berubah warnanya?”

“Ya, mungkin penangasku kurang panas, atau mungkin konsentrasi airku kelebihan satu mili.” Jawabku tak kalah ketus. “Nggak masalah kan?”

“Itu larutan magnesium, pintar.” Jawabnya sambil kembali ke meja praktikumnya.

Apa iya? Ya ampun, cowok itu benar. Kekesalanku bertambah selama mengulangi praktikum dari awal akibat kikikannya yang menembus kupingku. x___x

###

5 tahun kemudian…

Nggak tahu kenapa aku malah masuk fakultas kimia dan sekarang aku benar-benar mencintai pelajaran ini. Semester 6 baru saja berakhir, dan artinya liburan ini aku akan magang kerja. Aku kebagian tempat yang aneh. Temanku magang di tempat-tempat keren, seperti pabrik-pabrik besar dan lab rumah sakit terkenal. Sedangkan aku? Aku malah dilempar ke lab kecil di sebuah pegunungan -_-# asal tahu saja, hanya aku sendiri yang ke sana. Tanpa teman.

Aku sempat protes pada Dosenku tentang lokasinya yang aneh, namun beliau hanya menjawabku santai “Kamu beruntung dapat tempat ini. Kamu nggak perlu sewa kos atau cari makan. Kamu tinggal dan makan gratis di sana.” Ya ampun pak…

Inilah aku sekarang, mengetuk lab sekaligus rumah Profesor Kim, tempatku magang. Kostumku sudah mirip beruang kutub, dengan jaket tebal dan topi boble yang bersarang di kepalaku.

“Kang Seulgi? Mahasiswi magang?”

Aku mengangguk sekilas

“Oke, silakan masuk.” Profesor Kim menyalamiku dan mempersilakanku masuk. Jas putih lab masih membalut tubuhnya. “Disini hanya ada aku dan Junmyeon. Jangan khawatir, Junmyeon akan membantumu menyelesaikan tugas-tugasmu.” Profesor Kim tersenyum. “Sekarang, masuk ke kamarmu,” katanya sambil memunjuk salah satu kamar di ujung.

Aku menarik koperku melewati kamar baruku. Rumah ini lumayan bagus, tapi agak seram. Rumah ini berjarak paling dekat setengah kilo dari rumah lain. Aku betah nggak ya disini? Aku paling nggak suka keramaian, tapi kalau sepi kayak kuburan gini aku juga takut. T_T Siapa pula itu Junmyeon? Namanya aneh.

###

Keesokan harinya aku sudah standby di lab Profesor Kim. Walaupu terpencil, lab ini memiliki fasilitas yang lengkap. Beberapa peneliti sudah datang dan mengerjakan tugasnya. Aku menunggu pembimbingku, si Pak Junmyeon atau siapalah itu. Yang jelas dia belum profesor. Aku sedang berkeliling mengamati lab ketika sebuah suara menyapaku. “Kang Seulgi?”

Otomatis aku menoleh. Ya ampun, ada seorang anak laki-laki memamerkan senyum konyolnya🙂 Itu dia! Itu dia “Kim Junmyeon?” tanyaku memverifikasi.

“Hahaha.” Dia terbahak-bahak menertawaiku😀

Aku merasa konyol dan pengen cabut dari tempat ini. Si cowok rese ini -_-

“Kamu inget aku?” tanyanya setelah tawanya reda. “Seulgi si larutan magnesium rebus?”

“Heiiii!” teriakku kencang. Astaganaga, cowok ini -___- Nggak sadar suaraku menggema di ruangan sampai-sampai beberapa peneliti memandangiku dengan tatapan aneh. Aku buru mengucapkan salam pada mereka dan minta maaf sementara si Junmyeon rese melanjutkan tawanya.

“Bagaimana ya Seulgi, sayangnya aku menjadi pembimbingmu kali ini.” Katanya dengan nada sedih yang dibuat-buat, “Pertama-tama akan kukenalkan padamu tentang lab ini…”

Jadi, aku berjalan-jalan mengelilingi lab sambil dengan malas mendengarkan ocehannya. Aku juga harus mencatat dengan detail tugas-tugasku agar tidak kena omelannya. Ada juga fatwa tambahannya: “Sebagai penghuni baru, kamu nggak bisa tinggal dengan gratis. Sebelum kerja di lab pagi-pagi, kamu harus: nyapu lantai, ngepel, cuci piring dan buang sampah. Jangan pernah masak karena aku yakin kamu akan meracuni papa dan aku dengan resep konyolmu. Mengerti?”

“Ya,” jawabku malas *__*hal ini semakin memotivasiku untuk meracuni makanannya.

###

Hari-hariku kujalani dengan agak riang, walaupun awalnya aku nggak percaya ini akan berhasil. Tinggal seatap dengan monster pembimbingku itu membentangakan kemungkinan aku akan mengalami trauma berkepanjangan. Setiap hari aku berperan sebagai bibi-bibi rumah, mengusir setiap ujung kotoran di rumah ini, sedangkan Junmyeon melaksanakan kiprahnya sebagai chef handal di di dapur. Ya,  masakannya enak banget! ^o^ dan juga sehat. Dia selalu mempresentasikan hasil masakannya sebelum kami makan, lengkap dengan penjelasan kadar gizi dalam makanan tersebut. Berapa persentase karbohidrat, protein, lemak, vitamin dan mineral. Ya ampun…

“Kalian kayak kakak adik ya,” komentar Profesor Kim saat kami sedang santap malam. “Kalian nggak selalu akur, tapi saling membantu.”

“Junmyeon oppa yang selalu membantuku, aku nggak pernah, hehe :D” iya, Junmyeon selalu membantuku menyelesaikan tugas-tugasku, walaupun aku harus kena omelan dulu.

“Iya tuh, Kamu banyak berhutang sama aku!” celetuk Junmyeon.

“Aku udah bersihin rumah setiap hari kan >_<”

“Haha…” Profesor Kim tertawa mendengar perdebatan kami. “Junmyeon, kamu sudah ceria sekarang. Kamu udah nggak introvert lagi. Kamu nggak akan pergi kan?”

Junmyeon diam, nggak menjawab.

“Emang pergi kemana prof?” tanyaku penasaran.

Nggak ada yang menjawab pertanyaanku dan mereka malah meneruskan makan. Dasar keluarga aneh. -__-#

###

Seperti biasa, hari itu aku sedang menguji kadar logam air sungai dari daerah mana gitu. Aku lupa -_- aku jadi teringat waktu aku mengukur kadar besi, dan ternyata malah merebus larutan magnesium -_- aku menoleh ke arah Junmyeon yang sedang berjibaku dengan penelitiannya. Dan eh, ternyata dia merasa kukuntiti dan memamerkan senyum konyolnya ke arahku.

“Aku nggak harus membuang larutanmu ke westafel lagi kan? ;)”

Aku memanyunkan bibir dan berpaling darinya. Membuat moodku buruk saja.

Sejam kemudian, aku sudah menyelesaikan analisisku pada air sungai itu dan mencatat ulang data-data yang kudapatkan. Aku menunggu dengan setia pembimbingku, Bapak Kim Junmyeon yang terhormat enyah dari meja penelitiannya, tapi itu nggak terjadi. Jadi, aku menghampirinya karena penasaran dengan apa yang ia kerjakan.

“Kamu lagi ngerjain apa sih oppa? Aku udah dari tadi…”

“Hei! Bikin kaget aja. Ya ampun. Pergi! -0-” dia mengusirku begitu aja, oww @____@

Aku memanjangkan leherku untuk mengintip apa yang sedang ia kerjakan. Ia sedang meneliti ekstrak tumbuhan aneh yang ia kultur sendiri. Tumbuhan apa sih itu? Aku nggak pernah lihat. Daripada pusing-pusing, aku kembali saja ke kamarku, karena sepertinya Junmyeon nggak akan memberiku tugas lagi.

###

“Eh, jalan-jalan yuk! ^o^” ajak Junmyeon pagi-pagi itu.

“Kemana? Jangan-jangan kamu mau buang aku di pinggir jalan >-<”

“Ke hutan! Bagus lho. Barangkali disana ada tanaman yang bisa diteliti.”

“Setuju! ^o^”

Kami berganti baju olahraga dan memakai sepatu. Butuh waktu lama untuk mencapai hutan. Kami meninggalkan jalan raya dan mulai menaiki bukit landai untuk lebih masuk lagi ke dalam hutan.

Udara di dalamnya lumayan lebih dingin karena beberapa meter lebih tinggi dari rumah profesor, juga karena matahari hampir terhalang sempurna oleh rimbunan daun. Benar saja, disini indah sekali. Pohon-pohon pinus menjulang tinggi dan beberapa tanaman bunga tampak menyembul di sudut-sudutnya.

“Wah indah banget! ^-^” kataku takjub.

“Wah, ada yang kurang piknik :D” sindirnya.

-_-# dasar perusak momen. Aku sudah mulai biasa dengan sikap nyebelinnya itu. Aku  nggak peduli dan mulai motret-motret, sekalian cowok nyebelin itu juga aku ajak selfie. Aku mulai mengumpulkan bunga-bunga dan berbagai tanaman.

“Hei jangan dicabuti semua!” teriak Junmyeon >-<

“Ini sebagian buat diteliti, sebagian lagi buat ditanam! Indah kan?”

“Ya ampun…” gerutunya.

Kami masih belum mencapai puncak gunung yang berhutan, tapi cukup di bukit ini saja. Butuh waktu lagi jika harus kesana, dan pasti akan lebih lama lagi. Kami saja sudah cukup lelah berputar-putar di sini. Kami melepas lelah dengan bersandar di sebatang pohon pinus.

“Seulgi, kamu senang kan di sini?” tanya Junmyeon tiba-tiba.

“Iya, semuanya bikin senang ^-^”

“Baguslah. Kamu juga harus jaga rumah sama papa ya,”

“Emang kenapa?” tanyaku. Aneh sekali dia -_-

“Ya karena itu tugasmu sebagai pembantu! :D”

“Hei!” teriakku sewot. Sudah kuduga orang ini pasti Cuma ngejek aku. “Aku belum selesai ngomong. Semua bikin aku seneng, kecuali kamu :p”

“Hei dasar!” dia menjitak kepalaku.

“Aduuuh!!! -___-####”

Junmyeon bukannya malah menutup telinganya karena teriakanku, dia malah mendekatkan wajahnya ke wajahku beberapa senti “Hei, kamu nggak ngerasain reaksi redoks gender sama aku?” tanyanya

Sejenak aku nggak bisa napas 0_0, aku juga nggak bisa mikir jernih. “Apa sih anion, kation itu?” jawabku sekenanya.

Dia menjitak lagi kepalaku dan menjauhkan wajahnya. “Udah kuduga kamu nggak bakal ngerti.”

Ketika dia menjauh untuk pulang, aku berjalan di belakangnya. Otakku cukup jernih sekarang untuk berpikir. Junmyeon, aku tahu maksudmu. Reaksi cinta.

###

Pagi-pagi buta aku sudah terbangun oleh suara berisik 0___0

Ternyata itu suara raungan Profesor Kim yang mencari-cari Junmyeon “Junmyeon! Junmyeon! Junmyeoooooon T-T”

Aku berlari menghampirinya dan mendapati profesor sudah lemas. Dia berlinang air mata. Nggak terasa aku ikut nangis T_T “Junmyeon pergi, Seulgi,” kata profesor terisak sambil pergi.

Aku mengejar profesor yang sekarang duduk di ruang tamu. Aku ke dapur sebentar dan membuatkan teh hangat untuk profesor. “Apa yang terjadi, prof?” tanyaku berhati-hati.

“Dia ikut orang-orang asing itu. Dia ikut organisasi rahasia itu. Dia menyusul ibunya.”

Astaga, apa ini? Aku nggak paham. Kenapa seperti cerita detektif begini.

“Dia ingin melaksanakan proyek rahasia,” lanjut profesor. “Ibunya sudah pergi lima tahun lalu untuk melakukan pekerjaan itu. Aku sudah menyangka dia akan menghubungi Junmyeon segera, dan Junmyeon tertarik dengan hal ini. Junmyeon dan ibunya memiliki kemampuan yang luarbiasa, dan kamu nggak akan pernah nyangka benda apa yang bisa mereka buat untuk mendukung proyek orang-orang itu, Seulgi. Kamu nggak akan nyangka Seulgi…” profesor semakin terisak.

“Sudah profesor,” kataku sampil menepuk-nepuk punggungnya. “Masih ada Seulgi. Junmyeon oppa sayang sama profesor. Dia minta Seulgi jaga profesor, walaupun dengan makna tersirat aku tahu maksudnya,”

Ya ampun cowok itu. Apa yang ia lakukan? Dia pergi. Baru aja dia bilang soal reaksi redoks itu. Itu maksudnya reaksi cinta kan? Perasaan naik turun yang nggak stabil, tapi mencari kestabilan, itu yang namanya cinta kan? Itu sebagai ungkapan sebelum perpisahan ya? Jahat sekali orang itu. Aku jadi curiga tumbuhan aneh penelitiannya beberapa hari lalu adalah proyek rahasianya juga. Apa sih yang ada dipikiran orang itu?

Aku semakin pusing dengan hal ini. Nggak tahu airmataku mengalir terus. Junmyeon, kamu jahaaaat T_T

 

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s