[EXOFFI FREELANCE] 100 Reansons With You (Chapter 3)

tumblr_nxcyteWfu8f1uikqd0o1_500.jpg

Title: 100 Reasons With You

Author: Alfa

Length: Chapter

Genre: Romance

Rating: PG-17

Main Cast & Additional Cast: Kim Jongdae (EXO), Jang Yerin (OC), EXO.

Summary: Semestinya Yerin pun tidak perlu datang ke konser EXO yang diselenggarakan di Jakarta. Yerin tidak pernah membayangkan sedikitpun Chen bisa menemukannya diantara ribuan fans EXO yang hadir di konser itu. Bahkan Chen nekat menariknya kedalam backstage, memberikan nomor ponselnya yang sebenarnya tidak pernah terhapus oleh hujan.

Disclaimer: Published on Wattpad. All rights reserved.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

“Benar ‘kan, Hyung?”

Kai mencoba membuat mata Chen terbuka dengan kata-katanya. Tapi, Chen tidak menanggapi sama sekali. Ia terus memejamkan matanya yang memang terasa berat, karena mereka baru kembali ke dorm jam tiga pagi dan sekarang jam tujuh pagi sudah tiba di gedung SM lagi. Member harus banyak berlatih mempersiapkan album baru mereka.

“Kau akan menyesal, Hyung.” Kai menyerah dan keluar dari mobil, meninggalkan Chen yang sepertinya masih butuh waktu beberapa menit lagi untuk bisa membuka matanya.Mendengar suara pintu mobil ditutup, Chen membuka sedikit matanya. Memijat keningnya yang agak pusing karena kurang tidur dan mendengar celotehan Kai yang sama sekali ia tidak bisa tangkap maksudnya.

Chen menaikkan sedikit jok kursinya dan melihat mobil sudah terparkir disamping gedung SM. Untuk jadwal pagi ini ia dan Kai sengaja datang terlambat, member lain sudah berangkat dari jam enam pagi. Chen meminta Kai menemaninya yang butuh tidur satu jam lagi dan mengendarai mobil. Ia sudah siap apabila manajer hyung akan memarahinya karena terlambat.

Saat Chen siap memejamkan matanya kembali untuk lima menit kedepan, terlihat Kai berjalan terburu-buru kearah mobil dengan wajah kesal. Chen bisa menduga kalau Kai disuruh manajer hyung menarik dirinya masuk kedalam ruang latihan.

Hyung!” Kai membuka pintu mobil, “Aku tidak peduli kau akan dengar atau tidak, tapi aku akan mengatakan ini sekali lagi,” Kai menarik nafas panjang dengan ekspresi kesal, “Aku tidak tahu bagaimana wajah gadis yang kau temui diam-diam di belakang panggung konser di Indonesia, tapi aku cukup yakin gadis yang tadi berdiri di sudut mini market itu adalah dia!”

Mendengar perkataan Kai, Chen langsung terperanjat dari kursinya. Kantuknya hilang seketika.

Yerin?

Terakhir kali mereka bertemu di backstage ketika EXO menggelar konser di Indonesia. Chen berharap Yerin akan berkunjung kembali ke Korea, bahkan ia sempat menuliskan nomor ponselnya di tangan gadis itu dengan tujuan Yerin akan menghubunginya. Kenyataannya Yerin sama sekali tidak menghubunginya. Chen pun hampir menyerah bahwa gadis itu tidak akan kembali lagi ke Korea. Dan barusan Kai menyatakan melihat Yerin.

“Dimana?” Chen sudah siap keluar dari mobil.

“Jangan tanya dimana. Dia sudah pergi lima menit lalu sejak Hyung tidak mendengarkan kata-kataku sama sekali.”

“Kenapa kau tidak mengatakannya daritadi?” Chen panik membereskan barang-barangnya di mobil.

Mworaguyo, Hyung?!” Kai membelalakan matanya tidak percaya Chen sedang memarahinya, “Sejak mobil sampai didepan gedung aku sudah katakan kalau melihat gadis yang sepertinya kau temui di konser Jakarta. Tapi kau sama sekali tidak meresponku. Aku tahu Hyung seperti orang kehilangan arah ketika gadis itu tidak menghubungimu sama sekali”

Hyung menyukai gadis itu?”

Chen terdiam sebentar sebelum menjawab, “Tidak.”

Hyung jatuh cinta?”

Chen membeku ditempatnya. Cinta?

Sesuatu yang sebelumnya tidak pernah ia pikirkan terlalu serius selama ia masih ingin terus berkarir bersama member EXO yang lain. Hal yang sama sekali tidak pernah mengganggu pikirannya meskipun umurnya sudah menginjak usia 28 tahun. Karirnya bersama EXO sudah berjalan selama 8 tahun dan itu semua dilalui bukan tanpa permasalahan yang membuat ia dan grupnya berada di keadaan sulit. Mereka bersama pernah mengalami keadaan yang paling ditakuti oleh semua idol group yaitu perpecahan dan skandal-skandal yang menyerang mereka. Meskipun semua permasalahan itu bisa terselesaikan dengan baik seiring berjalannya waktu. Bahkan member yang sempat pergi, melalui kesepakatan bersama kembali lagi dan itulah yang makin membuat EXO semakin kuat.

“Astaga, Hyung, kau benar-benar jatuh cinta.” Kai pura-pura terkejut, namun dari nada dan ekspresi wajahnya sama sekali tidak menunjukkan hal tersebut.

Chen tidak menghiraukan Kai, ia malah memakai maskernya dan siap keluar dari mobil.

Hyung!! Odiga?!!!” Kai menarik Chen kembali kedalam mobil.

“Aku harus pergi!”

Kai tidak melepaskan lengan Chen, “Jangan gila, Hyung! Han Kyung hyung sudah mencarimu daritadi. Aku sudah bisa lihat dia akan meledakkan amarahnya bila Hyung kabur.”

“Aku tidak kabur. Lima menit. Aku akan kembali dalam waktu lima menit.” Chen langsung keluar dari mobil meninggalkan Kai yang tidak berani menghadapi salah satu manajernya yang sudah siap marah karena gagal membawa Chen kedalam ruang latihan.

Sementara Chen terus berjalan cepat hampir berlari menuju suatu tempat yang ia yakini bahwa Yerin akan berada disana, bila memang yang Kai lihat adalah Yerin. Dan dibawah alam sadarnya Chen sudah berharap banyak kalau Kai tidak salah lihat.

Chen membuka ragu pintu kaca dihadapannya. Kafe itu masih tampak sepi di pagi hari. Hanya ada segelintir orang yang duduk sambil menikmati pagi mereka dengan secangkir kopi panas. Kecuali seseorang yang duduk sendiri dengan gelas plastik berembunnya yang menandakan ia sedang meminum minuman dingin di pagi hari.

Yerin. Sibuk dengan ponsel di tangannya, kali ini Yerin tidak memakai maskernya.Chen bisa melihat wajah Yerin yang tetap tanpa senyum. Saat Chen hendak menghampiri Yerin, ia tersadar bahwa beberapa orang mulai menyadari keberadaannya. Chen pun melangkahkan kakinya kearah lain.

“Ice Americano satu.” ujar Chen yang sesekali terus mencuri pandang kearah Yerin yang masih belum menyadari kehadirannya.

“Boleh pinjam pena dan kertas?” permintaan Chen membuat barista didepannya bingung, namun tak urung diberikan juga pena dan selembar kertas pada Chen.

Tanpa berpikir lagi Chen dengan cepat menulis diatas kertas dan melipatnya. Setelah mengucapkan terima kasih dan membayar pesanannya, Chen berjalan kearah Yerin. Menahan dirinya agar tidak terlihat mengenal Yerin dan berjalan melewati meja gadis itu sambil meninggalkan selembar kertas diatas meja itu. Lalu bergegas keluar dari kafe tanpa menoleh lagi walaupun ingin sekali melihat reaksi Yerin.

 

*

 

Maaf tidak menyapamu.

            Kumohon tunggu aku dalam dua jam.

            Aku akan langsung datang begitu latihan usai.

                                                                        -KJD-

 

Yerin melipat kembali kertas itu. Menatap kosong pintu kaca yang berada beberapa langkah dari tempatnya duduk. Ponselnya bergetar, tanpa harus melihat ponselnya Yerin sudah tahu siapa yang berisik sekali mengganggu paginya. Yerin mematikan ponselnya dan berjalan ke luar kafe.

 

*

 

YAA!! KIM JONGDAE!” seru Han Kyung, salah satu manajer EXO, yang karena teriakannya barusan hampir saja membuat Chen menabrak pintu didepannya karena harus berhenti tiba-tiba.

“Langsung masuk ke mobil! Tadi pagi kau bilang lelah makanya datang terlambat, sekarang kita akan langsung menuju dorm. Tidak ada jalan malam untuk hari ini.” Han Kyung bisa melihat Chen yang terburu-buru akan pergi ke suatu tempat.

“Aku butuh kopi. Beri aku waktu sepuluh menit, Hyung.” Chen berdiri ditempatnya tidak sabar. Melihat jam tangannya yang sudah menunjukkan pukul sebelas malam. Tadi pagi ia meminta Yerin menunggu selama dua jam, nyatanya latihan hari ini memakan waktu sehari penuh. Meskipun kecil kemungkinan Yerin masih menunggu, Chen masih memiliki sedikit harapan gadis itu masih disana.

“Aku akan minta Dong Hun yang beli kopi untuk kalian semua,” Han Kyung menyebut nama salah satu staf SM, “Sekarang kau cepat masuk ke mobil.”

Chen siap menolak usulan itu ketika Kai merangkul bahunya, “Hyung, aku akan menemani Jongdae hyung. Kupastikan kami akan kembali dalam waktu kurang dari sepuluh menit.”

Han Kyung tidak setuju dengan usul yang diajukan Kai, tapi melihat senyum memohon Kai dan wajah Chen yang sepertinya memang butuh udara segar, manajer EXO itupun berlalu, “Terserah kalian. Ingat, sepuluh menit. Kalau tidak aku akan menghubungi polisi untuk menyeretmu kembali.”

Ne, Hyung!” jawab Kai dan Chen kompak.

Tanpa menunggu lagi, Chen berlari menuju kafe dimana tadi pagi ia meninggalkan pesan pada Yerin. Dari belakang Kai mengikutinya sambil menggerutu karena Chen berlari begitu saja tanpa memberi aba-aba.

Tiba didepan kafe, Chen langsung masuk kedalamnya. Menyapu pandangan keseluruh penjuru kafe, tapi yang ia lihat hanya ada satu pengunjung pria duduk sendiri di pojok ruangan. Tidak ada Yerin. Chen menghela nafas berat. Ia dari awal sudah yakin kalau tidak mungkin Yerin akan menunggunya sampai malam. Chen ingin sekali bisa menghubungi Yerin tapi ia tidak punya kontak gadis itu.

Hyung, kau mau kemana?” tanya Kai dengan terengah-engah. Ia baru saja sampai didepan kafe, tapi Chen malah keluar dengan wajah kecewa.

“Ayo pulang.”

Mwo? Pulang begitu saja?” Kai menghentikan Chen yang terus berjalan, “Kita harus beli sesuatu, atau Han Kyung hyung akan curiga.”

Kai benar, tadi mereka bilang akan beli kopi. Setidaknya mereka harus membawa satu cup kopi untuk menghindari kecurigaan Han Kyung.

“Biar aku saja yang beli. Hyung tunggu disini.” Kai mengerti mengapa Chen tidak bersemangat seperti itu. Sepanjang meeting dan latihan album baru EXO, Chen terus-menerus melihat jam tangannya. Kai hanya diberitahu kalau ternyata yang dilihatnya memang benar gadis yang ditemui Chen di backstage konser di Jakarta dan Chen memintanya menunggu. Kai bisa menebak kalau gadis itu sudah tidak ada didalam kafe.

Hyung, jangan pergi duluan!” teriak Kai dari pintu masuk kafe melihat Chen yang terus berjalan meskipun pelan.

Chen memberi tanda “oke” dengan tangannya tanda bahwa ia mendengar dan tidak akan meninggalkan Kai. Pikirannya kini penuh dengan bayangan Yerin tadi pagi yang duduk sendiri di kafe tempat pertemuan kedua dirinya dengan gadis itu. Yerin yang berpura-pura menjadi salah satu koordinator EXO dan menarik Chen dari kerumunan fans dimana saat itu kondisi badan Chen sedang demam tinggi. Yerin yang memberikannya plester penurun demam dan obat, mengantarkannya sampai dorm memastikan kalau dirinya tidak pingsan ditengah jalan yang penuh salju sehabis badai. Dan, itu pertama kalinya Chen memberanikan diri menggengam tangan Yerin karena gadis itu lupa membawa sarung tangannya. Chen masih ingat bagaimana dinginnya tangan Yerin perlahan menjadi hangat karena suhu tubuhnya cukup tinggi saat itu. Mereka berjalan dalam diam hingga dorm dan sejak saat itu entah mengapa Chen tidak bisa melupakan Yerin. Berharap mereka bisa kenal lebih dekat. Berharap Yerin datang kembali ke negaranya.

Chen menghentikan langkahnya. Mengusap wajahnya yang terkena udara malam yang cukup dingin. Berusaha menjernihkan pikirannya. Ia tidak mungkin jatuh cinta seperti yang dikatakan Kai pagi tadi. Bagaimana bisa ia jatuh cinta semudah itu dengan seseorang yang bahkan tidak dikenalnya dengan baik. Hal itu tidak mungkin terjadi.

“Jangan berdiri ditengah jalan. Kau menghalangi jalanku.”

Seketika tubuh Chen membeku mendengar suara yang ia kenali itu. Ia tidak berani membalikkan badannya untuk memastikan asal suara tersebut. Chen hanya berani melihat bayangan yang dipantulkan lampu di sepanjang jalan tempat ia berdiri. Bayangan itu sangat dekat dengan tempatnya berdiri. Membuat Chen memutar tubuhnya perlahan dan sosok yang ia minta menunggu selama seharian itu ternyata ada dihadapannya sekarang. Sepasang mata yang teduh dan tenang itu menatap Chen dan senyum samar yang terukir di bibir gadis itu membuat jantung Chen berdebar tanpa bisa dikendalikan.

 

*

 

“Kau menungguku selama 16 jam?” kata pertama yang berhasil Chen ucapkan setelah menenangkan degup jantungnya yang tidak biasa.

Yerin merapatkan mantelnya, “Memangnya kau siapa membuatku menunggu begitu lama?”

Chen hanya bisa tersenyum. Wajah masam Yerin terlihat menggemaskan baginya. Melihat Yerin duduk berjarak kurang dari satu meter disebelahnya membuat rasa lelahnya seakan terbayarkan dan hilang.

“Maaf aku tidak kembali dalam waktu dua jam seperti yang kutulis di kertas tadi pagi.”

Seakan tidak mendengar permintaan maaf Chen, pandangan Yerin tidak lepas dari jalanan kosong didepannya. Membuat Chen teringat sesuatu.

“Kau!” seru Chen tiba-tiba, “Kenapa tidak menghubungiku? Aku sudah menuliskan nomor ponselku di tanganmu waktu itu?”

“Kau pikir tanganku ini buku tulis?” Yerin protes sambil kembali merapatkan mantelnya, “Nomormu terhapus karena waktu itu aku kehujanan sepulang konser.”

“Apa kau kedinginan, Yerin?” Chen nampak khawatir melihat Yerin sudah beberapa kali merapatkan mantelnya, padahal udara malam ini tidak begitu dingin karena musim dingin sudah lewat beberapa bulan lalu dan mantel yang dipakai Yerin cukup tebal.

Tidak menjawab pertanyaan Chen, Yerin malah memakai hoodie mantelnya. Bangun dari duduknya, kemudian mengulurkan tangan kanannya pada Chen.

“Mana topiku? Kau janji akan mengembalikannya kalau aku kembali kesini menemuimu.”

“Ah, itu….” Chen tidak menyangka Yerin akan menanyakan topi baseball biru itu yang ia simpan di dorm, “Boleh pinjam ponselmu? Ponselku baterainya habis. Aku perlu menghubungi Kai, anak itu sudah tidak terlihat lagi didalam kafe.” Chen coba mengalihkan pembicaraan.

Yerin yang tidak menyadari Chen sedang berusaha mengalihkan topik pembicaraan, menoleh ke kanan dan kirinya. Sebelumnya ia memang melihat Kai, menunggu ia dan Chen berbicara didekat pintu masuk kafe, tapi Kai tidak terlihat sekarang. Yerin pun meminjamkan ponselnya pada Chen. Dengan cepat Chen mengetik sederet nomor dan beberapa detik kemudian Yerin bisa melihat Chen mengeluarkan sebuah ponsel dari saku celananya.

“Aku sudah menyimpan nomormu, begitu juga nomorku di ponselmu.” Chen mengembalikan ponsel Yerin, “Kita bertemu lagi besok selesai aku latihan. Aku akan kembalikan topimu.”

Chen menaikkan resleting mantel Yerin hingga tubuh gadis itu terbalut rapi mantel tebalnya. “Aku harus pergi sekarang. Sampai jumpa besok!” Chen bergegas meninggalkan Yerin yang sudah terlihat siap marah karena berhasil dikerjai olehnya.

Tanpa menoleh kebelakang lagi, Chen berbelok ke persimpangan terdekat tempat Kai menunggunya. Melihat Chen muncul Kai langsung menarik Chen dengan cepat.

Hyung, kau harus bisa berakting. Aku bilang pada Han Kyung hyung kalau kau kena diare tiba-tiba jadi kita tidak bisa kembali dalam waktu sepuluh menit sesuai janji.”

 

*

 

“Jongin-a, kau harus temani aku lagi hari ini.”

Kai yang baru selesai berlatih koreografi baru menyisir rambutnya yang basah karena keringat dengan jari menggeleng, “Tidak bisa, Hyung. Aku akan bersepeda  sebentar lagi dengan Sehun.”

“Kau bisa bersepeda kapan saja dengan Sehun. Temani aku bertemu….” Chen melihat kanan dan kirinya, “Yerin.”

Hyung, kau tahu kemarin member lain sebenarnya sudah curiga. Aktingmu payah sekali.” Kai teringat semalam dia berbohong pada manajer hyung kalau Chen diare mendadak dan ketika tiba di dorm sudah ada dokter pribadi yang dibawa ke dorm untuk memeriksa keadaan Chen. Chen hanya bisa menggeleng dan mengangguk tiap menjawab pertanyaan dokter. Beruntung dokter itu sepertinya percaya dengan akting Chen yang membuat Kai sakit kepala seketika itu. Chen diberi obat agar diarenya berhenti yang tentu saja tidak akan Chen minum sama sekali obat itu.

“Kau bertemu gadis itu sendiri saja,” Kai sudah siap memakai sepatunya, “Ah Hyung, berhati-hati lah. Hyung sudah siap apabila media dan fans tahu kalau kau sedang dekat dengan seorang perempuan?”

Tidak pernah terpikir sebelumnya mengenai kekhawatiran yang baru saja diungkapkan oleh Kai sejak Chen bertemu Yerin. Ia bertemu gadis itu layaknya bertemu dengan teman sesama pria. Bahkan kemarin malam mereka mengobrol di pinggir jalan dan Chen sama sekali tidak berusaha menutupi wajahnya dengan masker atau kacamata apapun. Memang waktu itu sudah hampir tengah malam, tapi selalu saja ada kemungkinan dirinya dikenali selama ia berada di negaranya sendiri.

“Kalian berpacaran ‘kan?”

“Tidak. Bagaimana aku bisa berpacaran dengannya kalau aku baru mendapatkan nomor ponselnya kemarin. Aku tidak tahu sebenarnya dia itu warga negara Korea atau Indonesia. Aku tidak tahu jarak umur kami berapa. Aku tidak tahu apa kesukaannya. Aku tidak tahu apa-apa tentangnya. Dan, aku tidak tahu mengapa selalu mengharapkan bertemu dengannya setiap waktu.” Chen tersenyum putus asa mengingat ia memang tidak tahu apa-apa tentang Yerin, tapi tanpa ia sadari gadis itu sudah mencuri waktunya untuk memikirkan segala sesuatunya mengenai sosok Yerin.

Hyung, jangan-jangan kau malah berniat menikahi gadis itu?” Kai mencengkram bahu Chen begitu dramatis dengan kedua mata membelalak.

Chen menyipitkan matanya, mendorong kepala Kai dengan ujung jari telunjuk, “Iya, aku akan menikah besok dan kau yang menjadi supir mobil pengantinku!”

“Supir? Hyung, Hyung! Kenapa harus supir?!” Chen tidak memedulikan Kai lagi dan berjalan menuju keluar gedung SM. Namun baru beberapa langkah Chen mundur kembali.

“Aku akan lewat pintu belakang. Didepan banyak orang.” Chen memakai masker hitamnya dan berjalan menuju pintu keluar di belakang.

“Jongin-a, Jongdae mau kemana?” Chanyeol tiba-tiba muncul dari belakang Kai bersama Xiumin.

“Aku tidak tahu.” jawab Kai tanpa melihat mata Chanyeol atau Xiumin, takut ketahuan berbohong. “Hyung, lihat Sehun dimana? Tidak? Ah, kemana anak itu?”Kai cepat berlalu dari hadapan Chanyeol dan Xiumin sebelum ditanya lebih lanjut mengenai Chen. Perilaku Kai malah membuat dua member itu curiga.

 

*

 

Hatchi!!

“Kau flu?” Chen memberikan tisu pada Yerin.

Yerin menerima tisu itu sambil mengeluarkan kantong berbahan kain warna hitam. Gadis itu mengeluarkan beberapa jenis vitamin yang Chen ketahui sebagai penguat daya tahan tubuh persis seperti yang dimiliki Suho. Leader EXO itu dikenal sebagai “apotik berjalan”.

“Kau minum obat apa?” tanya Chen begitu melihat Yerin menelan sebuah pil berukuran cukup besar.

“Menurutmu?” Yerin bertanya balik.

“Kau benar terkena flu?” Chen bingung Yerin bisa kena flu di musim semi, “Semalam kau langsung pulang, ‘kan? Pulang dengan siapa? Pulang kemana dan dengan apa?”

Chen merasa bersalah karena baru mengkhawatirkan hal itu sekarang. Ia benar-benar tidak berpikir kemana dan bagaimana Yerin pulang tengah malam kemarin. Padahal gadis itu sudah menunggunya sangat lama. Bahkan sebelum mereka duduk sekarang ini di lantai dua kafe tempat mereka bertemu, Chen tidak tahu sudah berapa lama Yerin menunggu. Tahu-tahu gadis itu muncul dari belakang Chen.

“Mana topiku? Kau sudah janji.” Yerin tidak menjawab sama sekali pertanyaan Chen.

Gurat kekecewaan terlihat dari wajah Chen akan sikap Yerin yang menghindari pertanyaannya. Tapi itu tidak berlangsung lama, Chen berusaha tersenyum dan mengeluarkan sesuatu dari paper bag yang ia bawa. Sebuah album foto yang masih kosong, post-it berbagai macam warna dan pena berwarna hitam.

“Kau ingat aku pernah bilang bahwa kau punya 100 alasan untuk kembali ke Korea?” Chen mencoba mengingatkan Yerin mengenai ucapannya di backstage beberapa minggu lalu saat konser EXO di Jakarta.

Melihat ekspresi bingung Yerin, Chen mengambil selembar post-it berwarna kuning dan biru, lalu mulai menulis sesuatu.Selesai menulis, Chen menempelkan post-it itu di halaman pertama album yang masih kosong. Chen pun menunjukkan apa yang ditulisanya barusan.

 

Reason 1:

            Mengembalikan topi baseball biru milik Yerin.

 

Chen mengeluarkan topi biru milik Yerin dan memakaikannya langsung di kepala Yerin.Tanpa menunggu respon dari Yerin, jari telunjuk Chen menunjuk bahwa masih ada yang belum dibaca Yerin. Sebuah post-it lainnya berwarna biru.

 

Reason 2:

            Mengenal Yerin lebih dekat.

            Agar bisa mengisi album ini bersama

            hingga alasan ke-100.

 

Yerin benar-benar tidak bergeming ataupun mengangkat kepalanya untuk menatap Chen yang menunggu responnya. Membuat Chen memberanikan diri membuka suara terlebih dahulu.

“Jadi… apa boleh aku mengenalmu lebih dekat?”

 

*

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Teaser Chapter 4:

 

Chen melihat foto-fotonya bersama Yerin sudah ditayangkan secara online di dunia maya. Berbagai macam judul berita tertera yang intinya adalah bahwa EXO member Chen memiliki seorang kekasih. Fotonya ketika merangkul Yerin agar gadis itu tidak terkena hujan dan cara Chen menggandeng Yerin masuk ke mobil beberapa menit lalu memang membuat yakin para wartawan untuk membuat headline seperti itu.

 

………………………

 

“Ayo.” Chen meraih tangan Yerin berjalan melalui pintu keluar dan langsung disambut kilatan cahaya kamera. Chen mengeratkan genggaman tangannya pada Yerin mencoba memberi tanda kalau semua akan baik-baik saja.

 

………………………

 

CHEN EXO MEMILIKI KEKASIH!

 

CHEN EXO SUDAH MERENCANAKAN PERNIKAHAN DENGAN KEKASIHNYA?

 

***

2 thoughts on “[EXOFFI FREELANCE] 100 Reansons With You (Chapter 3)

  1. 👍👍👍..

    Apotik berjalan 😮..kkkkkk
    Waww., keliatannya di chap 4 nanti bakalan menarik nih + tambah seruuuu tentunya.,
    Uhmm., yerinkan punya kakak tapi sebenernya yg jadi kakk yerin itu siapa ya?. Aku penasaran banget kak.

    Next kak ditunggu klanjutanya^^

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s