[EXOFFI FREELANCE] SECRET WIFE (Chapter 2)

poster-secret-wife

Tittle             : SECRET WIFE

Author         : Dwi Lestari

Genre           : Romance, Friendship, Marriage Life

Length          : Chaptered

Rating          : PG 17+

Main Cast :
Park Chan Yeol (Chanyeol), Kim Jung Hae (Junghae)

Support Cast :

Kim Jung Ra (Jungra), Kim Jong In (Kai), Kim Jong Dae (Chen), Cho Young Rin (Youngrin), and other cast. Cast dapat bertambah atau menghilang seiring berjalannya cerita.

 

Summary:

Junghae adalah putri terakhir dari pemilik Jeguk Group. Karena dijebak oleh seseorang, terpaksa dia harus menikah secara diam-diam dengan sesorang yang baru dikenalnya.

Disclaimer           : Cerita ini murni buatan saya, jika ada kesamaan nama, tokoh, dan lainnya itu adalah unsur ketidak sengajaan.

Author’s note        : Mian jika alurnya gj. No kopas, no plagiat. Jangan lupa komennya. Gomawoyo.

Warning                : Typo bertebaran

 

 

CHAPTER 2 (The First Lie)

 

 

Sebuah mobil Lexus putih berhenti tepat di depan rumah mewah bergaya Eropa, dengan air mancur di tengah-tengah halaman yang dihiasi dengan bunga-bunga yang disusun sedemikan rupa hingga tampak sejuk dan asri.

“Terima kasih sudah mengantarkanku pulang oppa. Kau mau mapir?”, kata Junghae setelah dia menuruni mobil.

“Tentu saja aku harus mampir. Apa kau ingin dimakan hidup-hidup eonnimu itu?”, kata Baekhyun.

Mereka berdua kemudian memasuki rumah Junghae. Setelah memasuki pintu mereka di sambut pelayan rumah tersebut. “Nona Junghae sudah datang, tuan Byun juga”, kata sang pelayan.

Ne, Song ahjumma”, kata Junghae.

“Wah, Song ahjumma tidak berubah. Masih tetap cantik seperti dulu”, kata Baekhyun.

Pelayan tersebut tersipu malu mendengar penuturan Baekhyun. “Benarkah! Kau bisa saja tuan Byun”, jawab sang pelayan.

Aish, kau mulai lagi oppa”, kata Junghae.

“Memangnya apa yang aku mulai?”, Baekhyun balik bertanya.

“Kebiasaan merayu wanita. Dan yang lebih parah kau tak perduli meski dia itu sudah tua”, jawab Junghae.

“Hei, itu bukan rayuan. Ini pujian”, bantah Baekhyun.

Aish, sama saja”, kata Junghae tak mau kalah.

“Tentu saja tidak sama”, kata Baekhyun.

“Terserah padamu”, Junghae akhirnya menyerah berdebat dengan Bekhyun.

Pelayan Song hanya tersenyum melihat tingkah mereka. “Anda dari mana saja nona? Kenapa semalam tidak pulang? Apa anda tahu, sejak tadi pagi nona Jungra bingung mencari anda”, kata sang pelayan.

“Dimana eonni sekarang?”, tanya Junghae.

“Tadi sepertinya dia di ruang keluarga”, kata sang pelayan.

“Baiklah aku akan menemuinya?”, Junghae segera menuju ruang keluarga yang disusul oleh Baekhyundan juga pelayan Song. Dia melihat ke sekeliling ruang keluarga namun orang yang di carinya tak ada. ‘Apa dia akan benar-benar marah padaku’, pikir Junghae.

Oppa duduklah”, kata Junghae yang kemudian dilakukan oleh Baekhyun. “Song ahjumma bisakah kau membuatkan minuman untuk Baekhyun oppa?”, lanjut Junghae.

“Dengan senang hati nona”, sang pelayan segera meninggalkan ruang keluarga menuju dapur untuk membuat minuman.

Junghae berniat meninggalkan ruang keluarga menuju kamarnya. Namun langkahnya terhenti saat seorang gadis yang menggunakan mini dress selutut bermotif bunga dengan rambut sepunggung yang dibiarkan tergerai berdiri di depan pintu dengan tatapan membunuhnya. Gadis itu berjalan ke arah Junghae, hingga Junghae harus berjalan mundur agar gadis tersebut tak menabraknya. Junghae tahu jika gadis itu sedang marah dengannya, karean itu Junghae menggunaakan jurus rahasianya untuk meredam amarah sang gadis.

Eonni”, Junghae berkata dengan nada dan senyum yang dibuat semanis mungkin. Baekhyun yang mendengarnya, segera menoleh ke arah suara.

Gadis yang dipanggil eonni oleh Junghae hanya membuang nafas pasrah melihat tingkah Junghae. Ya, Junghae berhasil meredam amarahnya, meski tidak sepenuhnya namun mampu mengurangi luapan emosi yang sedang ditahannya.

“Darimana kau semalam tidak pulang?”, tanya sang gadis. Gadis itu akhirnya berhenti berjalan setelah Junghae menabrak sofa di belakangnya.

“Aku hanya merindukan Baekhyun oppa, karena itu aku mengunjunginya semalam dan aku menginap di tempatnya”, kata Junghae bohong.

“Tadi pagi aku menelfon Baekhyun, dan dia bilang jika dia tidak bersamamu. Lalu siapa yang harus aku percaya, kau atau dia?”, gadis itu lebih menekan suaranya saat berkata kau atau dia.

Junghae berfikir sejenak memikirkan alasan yang tepat untuk gadis yang ada di depannya, karena dia ketahuan telah berbohong. “Iya, baiklah. Semalam aku mabuk di bar hotel Baekhyun oppa dan karena aku tidak ingin dia menghubungimu, aku memilih menginap di hotelnya. Benarkan oppa?”, Junghae berkata pada Baekhyun berharap dia mau membantunya.

Gadis itu menoleh ke arah Baekhyun meminta penjelasan. Baekhyun hanya menggangguk. “Kau tidak sedang membantunya berbohongkan, Baekhyun?”, kata sang gadis.

“Tidak. Lagipula apa untungnya aku membantunya berbohong”, kata Baekhyun.

“Baiklah, untuk kali ini aku percaya. Tapi aku tetap tidak suka gadis pemabuk dan semalaman tak pulang karena mabuk. Ingat itu gadis tengik. Ow, satu lagi, apa itu yang kau pelajari selama di Amerika?”, tanya sang gadis.

Junghae mengangguk, “Yes, of course. Bahkan mereka tinggal bersama meski bukan pasangan suami istri”, Junghae berkata dengan entengnya.

Gadis itu membuang muka kesalnya mendengar perkataan Junghae, “Ingatlah, sekarang kau ada di Korea bukan Amerika. Jadi tinggalkan kebiasaan burukmu itu”, gadis itu kembali menatap Junghae.

“Setidaknya dia tidak mengikuti gaya berpakaian mereka, Jungra. Dan Junghae bukan lagi seorang anak kecil, tentu dia sudah tahu mana yang baik untuknya dan mana yang akan membahayakannya, jadi berhentilah memarahinya”, tiba-tiba terdengar suara dari arah pintu.

Semua orang menoleh ke arah asal suara. “Kai oppa”, kata Junghae setelah mengenali pemilik suara. Dia segera berlari ke arah orang yang dipanggil Kai oppa olehnya. Dia bahkan memeluk orang tersebut.

“Aku tidak memarahinya, aku hanya menasehatinya. Dan berhentilah memanjakannya, Jongin”, kata sang gadis.

“Aku tidak memanjakannya, aku hanya menyayanginya. Benarkan sayang?”, Jongin berkata sambil melepaskan pelukan Junghae.

“Emmh”, Junghae mengangguk setuju dengan Jongin.

“Iya, baiklah. Terserah padamu”, kata gadis itu pasrah.

“Jongin benar Jungra, Junghae bukan lagi seorang anak kecil. Dia sudah berusia 23 tahun, kau tidak lupa itukan?”, Baekhyun berkat sambil merangkul pundak Jungra. Entah sejak kapan Baekhyun sudah berada di sampingnya, Jungra tak menyadari hal itu.

“Iya, aku tahu Byun Baekhyun”, kata Jungra. Dia melepaskan tangan Baekhyun karena merasa risih dengan kelakuan Baekhyun, “Dan lepaskan tanganmu itu”.

Oppa, kenapa Jungra eonni memanggil Baekhyun oppa hanya dengan namanya, bukankah dia lebih muda 2 tahun dari Baekhyun oppa?”, Junghae berkata sambil melirik Jongin.

Mollayo! Dari dulu memang dia seperti itu”, kata Jongin.

“Kau tidak tahu?”, tanya Baekhyun. Junghae menggeleng. “Katanya dia hanya memiliki satu oppa yaitu Jongdae. Dan hanya dia yang akan dipanggil oppa olehnya”, lanjut Baekhyun.

“Lalu Jongin oppa?”, tanya Junghae heran.

“Dia saudara kembarnya, bukan oppanya. Karena mereka lahir di jam, hari, bulan dan tahun yang sama”, jelas Bekhyun lagi. Junghae hanya mengangguk paham, mendengar penjelasan Bekhyun.

“Ekhm”, suara pelayan Song mengalihkan perhatian mereka hingga semuanya menoleh ke asal suara. “Berdebatnya nanti saja, minumlah dulu. Apa kalian tidak haus?”, lanjut pelayan Song.

“Tentu, aku sangat haus. Terima kasih Song ahjumma, taruh saja di meja”, kata Junghae.

Segera saja pelayan Song menaruh nampan yang berisi minman dan beberapa makanan kecil ke atas meja. Mereka semua segera duduk setelah kepergian pelayan Song. Jungra duduk di sofa yang khusus untuk satu orang. Sedang Jongin duduk di sebelah Junghae. Dan dihadapannya duduklah Baekhyun. Mereka menikmati makanan kecil dan minuman yang disediakan pelayan Song.

Oppa, kapan kau datang?”, kata Junghae setelah meletakkan gelasnya di atas meja.

“Semalam”, kata Jongin singkat, dia kembali meneguk minumannya.

“Ah, pantas saja aku tak tahu”, kata Junghae.

“Maaf karena tak bisa menjemput kedatanganmu, sayang”, kata Jongin sambil mengusap rambut Junghae.

No problems. Aku tahu kau sedang sibuk dengan proyek baru hotelmu”, Junghae memasukan potongan kue ke dalam mulutnya.

“Jadi, apa kau mendapatkan kontraknya?”, tanya Baekhyun.

“Menurutmu?”, Jongin malah balik bertanya.

“Melihat kemampuan merayumu, kurasa iya. Bukankah dia memiliki seorang putri yang menurut kabar dia begitu cantik”, kata Baekhyun. Dia kembali menikmati minumannya.

“Tepat seperti yang kau katakan, hyung. Aku memang mendapatkan kontraknya, dengan sedikit rayuan tentunya. Dan putrinya memang cantik”, jawab Jongin.

Yak, apa kalian tidak punya kosakata lain. Merayu, kau pikir itu biro jodoh”, sela Jungra.

“Terkadang itu juga dibutuhkan dalam bisnis, Jungra. Jika kau ingin mudah mendapatkannya, kau harus lebih dulu mengambil hati pemiliknya”, jelas Baekhyun.

Yes of course. Bakhyun oppa benar, kau harus pandai mengambil hati pemiliknya. Bahkan terkadang aku menggunakan wajah cantikku untuk mendapatkannya”, tutur Junghae.

Dan hal itu membuat semua orang menoleh pada Junghae karena kalimat terakhirnya. Bahkan Baekhyun yang akan meminum minumannyapun berhenti sebelum meneguknya, namun dia kembali melanjutkan aktifitasnya karena telah paham dengan maksud Junghae. “Jadi, ternyata adikku ini pandai merayu orang”, kata Jongin gemas, dia bahkan mengacak-acak rambut Junghae.

“Aku tidak pernah merayu mereka, justru mereka yang merayuku”, jawab Junghae dengan penuh percaya diri.

“Aish, kau sama saja dengan Baekhyun”, kata Jungra.

Mereka terdiam sesaat, menikmati minuman dan makana yang tadi disediakan pelayan Song.  “Aku heran, bagaimana bisa Jungra eonni menjadi CEO CJ Entertainment, mengingat sifatnya yang seperti itu”, Jungra memulai pembicaraan.

“Kau akan melihat sosok lain Jungra saat memimpin perusahaannya. Dia akan bersikap begitu manis dan anggun di depan karyawannya tentunya”, jelas Jongin. “Dan ku rasa, dia bersikap seperti itu hanya padamu dan Sehun”, lanjut Jongin.

Jungra sempat berhenti meminum minumannya mendengar nama itu lagi. Teman lama yang ia rindukan. Dia juga merasa sedikit bersalah padanya, karena sikapnyalah namja itu meninggalkan Korea. Berbenda dengan Baekhyun, justru dia sibuk mengamati Jungra setelah mendengar nama itu. Dia tahu jika sepupunya yang satu itu merasa sedikit bersalah dengan namja itu. Dia sedikit tersenyum melihat tingkah Jungra. Jungra kembali melanjutkan aktifitasnya meminum minumannya yang sempat tertunda.

“Sehun oppa. Ah pantas saja, kurasa aku juga akan bersikap seperti itu, jika menjadi dia”, kata Junghae.

“Kau mengenalnya?”, tanya Jungra penasaran.

Yes, samcheon yang mengenalkannya padaku”, jawab Junghae.

“Jadi dia pergi ke Amerika selama ini”, kata Jungra lagi.

Junghae mengangguk, “Dia mengikuti ayahnya. Dia bahkan telah menggantikan posisi ayahnya sebagai seorang CEO”.

Jungra merasa sedikit lega mendengarnya. Temannya telah menjadi apa yang diippikannya sejak dulu, hidup bersama ayah kandungnya.

Jongin melirik jam tangannya. “Sayang, kau harus bersiap-siap. Kau tak lupakan kita harus ke Jeju hari ini”.

“Iya, kau benar oppa. Baiklah aku akan bersiap-siap dulu”, kata Junghae. Dia segera pergi ke kamarnya untuk mempersiapkan diri.

“Kau mau ikut berangkat bersama kami, hyung?”, tanya Jongin pada Baekhun.

“Memangnya untuk apa kalian kesana?”, tanya Baekhyun penasaran.

“Kau lupa, hari ini ulangtahun pernikahan appa dan eomma yang ke 30. Mereka berencana merayakannya di Jeju”, jelas Jongin.

“Ah, kenapa aku bisa lupa. Iya baiklah, aku akan berangkat berangkat bersama kalian”, kata Baekhyun.

 

***

 

Terlihat seorang namja berjalan lemas memasuki rumah ibunya. Ya, semenjak ibunya keluar dari rumah sakit, dia memilih tinggal di kediaman ibunya. Dia masih sedikit tak percaya dengan apa yang baru saja dia lakukan tadi. Dia bahkan tak menyangka sama sekali jika sekarang statusnya sudah bukan lagi seorang perjaka. Namun telah memiliki seorang istri, yang bahkan baru dikenalnya beberapa hari ini. ‘Bagaimana aku akan mengatakannya pada eomma. Bagaimana jika penyakit eomma kambuh lagi. Aish’, batin namja tersebut. Dia mengacak-acak rambutnya sebagai ungkapan frustasinya.

“Sayang, kau baru pulang”, tanya sang ibu saat melihat namja itu berjalan menuju kamarnya.

Langkah namja tersebut terhenti mendengar suara yang sudah tak lagi asing di telinganya, ya itu adalah suara ibunya. Ibu yang sudah melahirkan dan membesarkannya. Namja itu segera menoleh ke arah sang ibu. Dia tidak menjawab maupun menghampiri sang ibu, dia masih sibuk menyusun alasan yang tepat mengapa dia baru pulang ketika hari sudah pagi. Ah, itu bahkan tak lagi di bilang pagi, karena jam sudah menunjuk ke angka 10.

“Kau menginap dimana semalam”, suara sang ibu menyadarkan lamunannya.

Namja itu berjalan mendekati ibunya sambil tersenyum untuk mengurangi kecurigaan sang ibu. Dia mencium pipi kanan ibunya sebelum menjawab pertanyaannya, “Aku menginap di tempat Baekhyun eomma”.

“Ah, bagaimana kabarnya. Sudah lama dia tak kemari?”, tanya sang ibu. Ibunya tahu jika Baekhyun adalah sahabat karib anaknya sejak meraka masih sama-sama di bangku sekolah dasar.

“Dia baik-baik saja, eomma. Seperti biasa selalu cerewet dan suka sekali merayu perempuan. Mungkin jika dia datang kesini dia akan merayumu, eomma”, kata namja tersebut. Ya, dia sangat hafal bagaimana watak sahabatnya itu. Tak peduli itu tua atau muda, mulut manisnya selalu meluncurkan kata-kata rayuan. Jika kau tak hafal wataknya mungkin kau akan termakan kata-katanya. Ya, itulah Byun Baekhyun.

“Kau ini, dia memang begitu bukan”, kata sang ibu.

“Ya, begitulah. Akan terasa aneh jika dia tak melakukannya”, namja itu beralih memeluk ibunya dari belakang.

“Sayang, kau bau alkohol. Kau mabuk semalam?”, tanya sang ibu.

Namja itu melepaskan pelukannya dan menutup mulutnya. Dia tersenyum saat menyadarinya. “Iya, dan aku juga mengajak Baekhyun minum”.

“Pantas saja kau baru pulang. Mandilah dulu, aku yakin kau belum mandi. Owh, apa kau sudah sarapan?”, tanya sang ibu.

Perut namja itu berbunyi, dan itu otomatis menjadi jawaban atas pertanyaan sang ibu. Ibunya tersenyum mendengarnya, “Akan eomma siapkan makanan untukmu, pergilah mandi”.

Namja itu mengangguk, dan segera meninggalkan sang ibu menuju kamarnya. Untuk kali ini dia selamat, karena ibunya tak bertanya macam-macam padanya. Dia harus berterima kasih pada sahabatnya karena telah menolong situasinya kali ini, meski sebenarnya sahabatnya tak membantunya dalam bentuk perbuatan. Namun hanya dengan namanya, setidaknya itu sudah sangat membantu namja tersebut.

Setelah membersihkan dirinya, namja itu menuju ruang makan. Di sana ibunya sudah menunggu kedatangnnya. Namja itu segera mengambil tempat duduk yang berhadapan dengan ibunya. Sang ibu tersenyum melihat kedatangan putranya. Namja itu segera melahap makanan yang di siapkan ibunya.

“Kau tidak ke Jeju hari ini?”, tanya sang ibu.

Namja itu mengentikan aktivitasnya yang ingin menyuapkan sesendok nasi ke mulutnya yang dilanjutkan dengan gelengan kepalanya. “Tidak mungkin aku meninggalkan eomma sendirian. Dan aku sudah memberitahu Jongdae jika aku tak bisa hadir di perayaan ulang tahun pernikahan orang tuanya yang ke 30”, namja itu melanjutkan aktivitasnya yang tertunda, yakni menyuapkan sesendok nasi ke mulutnya.

“Pergilah! Eomma merasa tak enak pada mereka. Dan eomma sudah tidak apa-apa, sayang. Lagipula ada pelayan Lee yang akan menemani eomma, jadi kau tak perlu khawatir”, bujuk sang ibu.

“Tidak eomma. Chanyeol akan tetap di rumah menemani eomma. Jika aku kesana tentu harus bersama eomma, dan itu tidak mungkin melihat kondisi eomma yang belum pulih sepenuhnya. Dan juga mereka merayakannya setipa tahun, eomma. Jadi tak perlu merasa tak enak pada mereka. Kim ahjumma pasti mengerti kondisi eomma”, tutur namja itu yang paham dengan kekhawatiran ibunya.

“Jika kau sudah bersikeras seperti itu, eomma tak akan dapat menghalangi”, Ibunya paham dengan sifat keras kepala putranya.

 

***

 

Eomma”, panggil Junghae pada ibunya.

Ibunya yang tengah sibuk mempersipakan pesta menoleh, dan tersenyum saat mengetahui siapa yang memanggilnya. “Sayang kau sudah sampai?”.

Junghae mengangguk, dan segera saja dia memeluk ibunya. Dari arah lain datanglah kedua anaknya dan juga keponakannya. Sang ibu melepaskan pelukan Junghae. “Kalian sudah sampai”, kata sang ibu.

Mereka semua mengangguk. “Eomma sibuk sekali, kenapa tak menyuruh pelayan saja eomma?”, kata Jungra.

“Sebenarnya sedah berapa lama kau hidup dengan eommamu, Jungra. Kim ahjumma, tidak akan puas selama dia belum mengecek sendiri persiapan pestanya”, sela Baekhyun. Dia sangat gemas dengan sepupunya yang satu itu, bagaimana mungkin dia tidak tahu kebiasaan ibunya sendiri.

“Aku tahu Baekhyun. Tapi ini sudah hampir tiba waktu pestanya, seharusnya eomma sudah mempersipakan diri. Bukannya malah sibuk dengan persiapan pesta yang seharusnya sudah diselesaikan para pelayan itu”, jawab Jungra.

Nyonya Kim tersenyum mendengar, kelakuan putrinya dan juga keponakannya. Mereka selalu berdebat meski itu hal yang tak penting sekalipun.

“Kita masuk saja Junghae, jangan perdulikan mereka”, Jongin mengajak Junghae masuk ke rumah. Ya, pesta itu diadakan di kediaman keluarga Kim yang berada di Jeju. Tepatnya di taman belakang rumah mereka.

 

—————-

 

This song for my mother and my father. Happy anniversary”, kata Junghae yang kini duduk bersebelahan dengan Baekhyun. Mereka akan mempersembahkan sebuah lagu untuk pesta ulangtahun pernikahan orangtua Junghae yang ke 30. Musik yang mengiringi lagu yang akan mereka nyanyikan telan mengalun dengan indah. Baekhyunlah yang bernyanyi yang dilanjutkan oleh Junghae.

 

Yeppeune oneuldo eojemankeum
Ani oneureun deo yeppeojyeotne
Ireon mareul hal ttaemada neoneun
Mot deureun cheok neul ttan yaegireul hae

Eojen neomu joheun kkumeul kkwosseo
Jigeum malhaejugin ganjireowoseo
Malhagi silheo
Geurigo ireon geon malhamyeon an doendae

Dream dasin kkuji mothaneun
Neomu gibun joheun kkum
Naneun niga kkok geureon geo gateunde

Dream jongil areungeorineun
Neomu gibun joheun kkum
Geuge baro neo

Lararara hmm
Lararara hmm

Uri dul neomu jal eoullindae
I know she knows
Sasil naega bwado geurae
Geunde gakkeum buranhan gibuni deul ttaen
Honjaseo uljeokhae Hmm

Hmm geojitmal geureoke jasin itneun
Eolgureul hago isseumyeonseo
Hajiman deutgien cham johda geureokin hane

Dream dasin kkuji moshaneun
Neomu gibun joheun kkum
Naneun niga kkok geureon geo gateunde

Dream jongil areungeorineun
Neomu gibun joheun kkum
Geuge baro neo

Well I don’t care
Even if you’re a sweet liar
Well I don’t care
Cause I will make you believe

Dream jigeum geureon nuneuro
Nareul barabol ttaemyeon
Naneun niga kkok nae geot gateunde
Dream dasi jamdeulgo sipeun
Neomu gibun joheun kkum
Geuge baro neo

 

 

Lagu bertempo melo itu, mampu menyihir para pendengarnya. Apalagi didukung oleh suara emas Baekhyun dan juga suara indah Junghae. Hingga suara tepuk tangan terdengar meriah saat mereka selesai membawakan lagu tersebut. Mereka membungkuk hormat pada peserta acara sebelum meninggalkan para pemain alat musik yang disewa untuk mengisi acar tersebut.

Junghae dan Baekhyun segera bergabung dengan para undangan yang hadir dalam pesta tersebut. Tak lama setelah itu, acara inti dimulai. Mulai dari peniupan lilin, pemotongan kue, hingga pesta dansa yang di mulai oleh pemilik acara yakni kedua orang tua Junghae.

 

***

 

Sekitar 3 hari kemudian, Junghae baru kembali ke Seoul. Bukan karena pestanya yang berlangsung selama 3 hari melainkan dia harus membantu kakaknya menyelesaikan proyek baru perusahaannya di sana. Junghae kini tengah duduk manis menonton TV, setelah kedatangan sekitar 2 jam yang lalu. Dia menonton sambil memakan snack yang tadi di bawanya. Sesekali dia tertawa, saat ada adegan lucu dari apa yang ditontonnya.

“Hai sayang, kapan kau sampai?”, tanya Jongin yang tiba-tiba duduk disebelahnya.

“Baru saja”, jawab Junghae singkat. Dia bahkan tak menoleh ke arah kakaknya.

Jongin yang merasa dicuekkan segera merebut snack dari tangan Junghae lalu memakannya. Dan hal itu berhasil membuat Jungae sedikit kesal.

Yak, kembalikan. It’s mine. Jika oppa mau, ambil saja sendiri di kulkas”, Junghae kembali merebut snack dari tangan kakaknya.

“Itu karena kau tak melirikku. Apa yang sedang kau tonton sampai sampai kau tak bergeming melihatnya”, tanya Jongin.

“Lihatlah?”, Junghae menunjuk ke arah TV.

Aigoo. Kau masih saja suka kartun”, kata Jongin sambil mengacak-acak rambut Junghae.

Junghae tak memperdulikan perlakuan kakaknya padanya, dia kembali tertawa melihat adegan lucu dari kartun yang ditontonnya. Dia bahkan tak sadar jika ponselnya berbunyi. Jika Jongin tak memberitahunya dia tak akan mengangkat panggilan tersebut.

“Ponselmu berbunyi, Junghae. Kau tak mau menganggkatnya”, kata Jongin.

Junghae segera mengambil ponselnya dari atas meja, dia mengangkat pangilan tersebut tanpa melihat siapa yang menelfonnya. Pandangannya masih fokus pada layar TVnya. “Yeobseyo”, kata Junghae mengawali pembicaraan.

“Apa kau sedang sibuk?”, tanya sang penelfon.

Junghae merasa tak asing dengan suara tersebut, dia kemudian melihat ponselnya sebentar untuk melihat siapa yang menghubunginya. “Ah, Park ahjumma. Animnida. Aku sedang menonton TV bersama Jongin oppa”, jawab Junghae lagi.

“Kau tidak mau ke rumah ahjumma. Rasanya disini sepi”.

“Dimana Chanyeol oppa?”.

“Dia belum pulang”.

“Ah, benar. Ini masih jam kantor. Baiklah Junghae akan kesana”.

“Terima kasih sayang”.

“Iya, sama-sama ahjumma”.

Junghae mengakhiri pembicaraannya. Dia segera berdiri dan melempar sembarang snacknya pada Jongin. Dengan cukup sigap Jongin menangkapnya.

Yak, kau mau kemana?”, tanya Jongin saat Junghae berjalan meninggalkannya.

“Ke rumah Park ahjumma”, teriak Junghae yang sudah sampai di lantai dua rumahnya. Dia berlari menuju kamarnya untuk  berganti pakaian. Setelah siap dia segera berangkat menuju kediaman nyonya Park.

Dia berjalan melewati Jongin kembali. Jongin yang melihat Junghae segera bertanya padanya, sejak kapan mereka dekat. “Sejak kapan kau dekat dengan Park ahjumma?”, tanya Jongin.

“Sejak eomma mengenalkannya padaku”, jawab Junghae singkat. “Aku pergi dulu oppa. Annyeong”, lanjut Junghae.

Eoh, hati-hati. Kau belum hafal Seoul, mau ku antar?”, tawar Jongin.

“Tidak perlu, aku sudah tahu rumah Park ahjumma”, teriak Junghae. Dia bahkan sudah sampai pintu depan.

 

***

 

“Sayang, kau sudah sampai!”, tanya nyonya Park pada putranya yang baru memasuki rumah. Putranya hanya mengangguk. Nyonya Park kembali sibuk menghias kue-kue yang dibuatnya bersama Junghae.

Eomma sedang apa?”, tanya putranya.

“Kau tak lihat, eomma sedang menghias kue. Kau mau coba?”.

Eomma, bukankah dokter bilang jika eomma tidak boleh terlalu lelah. Lalu mengapa eomma masih melakukannya?”, putranya berkata dengan nada yang begitu khawatir. Ya, dia memang tak ingin membuat ibunya kambuh lagi.

“Sayang, semua ini bukan eomma yang membuat, eomma hanya membantu menghias saja. Tenanglah, eomma akan akan berhenti jika lelah”, kata ibunya menenangkan.

“Jika bukan eomma, lalu siapa yang membuatnya? Setahuku Lee ahjumma tak pandai membuat kue”, tanya putranya penasaran.

“Junghae”, jawab ibunya singkat.

“Kim Junghae?”, tanya putranya memastikan.

“Ya, dia masih di dapur”.

Putranya memandang ibunya dengan tatapan minta penjelasan. Seolah tahu jika putranya penasaran mengapa bisa Junghae membuat kue bersamanya, nyonya Park segera menjelaskannya, “Karena eomma merasa kesepian, jadi eomma menyuruh Junghae untuk datang kemari. Dia juga merasa sedikit bosan karena tak ada aktivitas yang menarik, hingga dia menawarkan diri untuk membuatkan eomma kue. Segera saja eomma menyetujuinya”, jelas sang ibu.

“Ini tidak membahayakan jantung eomma kan?”, putranya menunjuk ke arah kue yang tengah nyonya Park hias. Dia kemudian duduk di kursi yang berhadapan dengan ibunya.

“Tentu tidak. Dia paham, bahan apa saja yang dapat mengganggu jatung eomma”, jawan sang ibu. Dan itu mampu mengurangi rasa khawatir putranya.

Dari arah dapur datanglah Junghae yang membawa senampan kue yang masih mengeluarkan asap. Bau kue tersebut langsung merasuk hidung sang putra.

“Owh, Chanyeol oppa sudah datang”, kata Junghae. Dia menaruh nampan itu di atas meja, dan segera duduk di sebelah nyonya Park. “Ini yang terakhir ahjumma”, kata Junghae. Kata terakhir itu dimaksudkan untuk kue yang dibuatnya.

“Wah, sebanyak ini”, tanya nyonya Park.

Junghae mengangguk. “Ini hanya satu resep ahjumma. Karena aku membuatnya dengan ukuran kecil, maka hasilnya menjadi sebanyak ini”, kata Junghae menjelaskan. “Kau tak mau mencobanya oppa”, tanya Junghae pada Chanyeol yang tengah sibuk memperhatikannya. Dia menyerahkan sepotong kue yang sudah dingin.

Chanyeol menerimanya dengan senang hati. Segera saja dia memakannya dengan sekali lahap, karena memang ukuran kuenya yang kecil. Dia menguyah dengan hati-hati, merasakan kenikmatan setiap kunyahannya.

“Bagaimana rasanya?”, tanya Junghae ragu-ragu. Dan juga karena Chanyeol tak kunjung memberikan suara.

Mashita”, jawab Chanyeol.

“Sungguh! Syukurlah, ku kira hasilnya akan buruk, karena ini adalah resep baru yang sedang ku coba”, jelas Junghae.

“Darimana kau belajar semua ini?”, tanya nyonya Park.

“Saat aku masih di Amerika, aku ikut kelas memasak setiap hari sabtu. Karena memang aku selalu free di hari itu”, jawab Junghae.

“Kau ikut kelas memasak? Pantas saja masakanmu selalu enak”, kata nyonya Park. “Aku mau ke kamar mandi dulu”. Nyonya Park meninggalkan mereka berdua.

Mereka terdiam untuk beberapa saat. Junghae masih sibuk menghias kue buatannya. Sedang Chanyeol sibuk memandangi setiap gerak-gerik Junghae. Merasa diawasi Junghae segera menghentikan aktivitasanya.

“Kenapa oppa memandangku seperti itu?”, tanya Junghae.

“Tidak”, elak Chanyeol. “Kapan kau pulang dari Jeju?”, Chanyeol mengalihkan pembicaraan.

“Beberapa jam yang lalu”, Junghae masih sibuk menghias kuenya. “Kau mau lagi”, Junghae menyodorkan sepotong kue ke arah Chanyeol. Chanyeol menerimanya dengan mulutnya, dan itu terlihat seperti Junghae menyuapi Chanyeol meski niat awalnya tak seperti itu.

“Aku akan memberitahukannya pada eomma”, kata Chanyeol setelah menelah kue yang dimakannya.

Mendengar hal itu, Junghae menghentikan aktivitasnya lalu memandang Chanyeol lekat. “Apa kau yakin?”, kata Junghae memastikan. Chanyeol mengangguk. “Bagaimana jika Park ahjumma tak menyetujuinya. Aku takut penyakitnya akan kambuh lagi, oppa”, kata Junghae dengan nada sedikit khawatir.

“Tananglah! Aku sudah memikirkannya matang-matang. Dan lagi, eomma kelihatannya sangat menyukaimu. Melihat sikapnya yang begitu hangat padamu”, kata Chanyeol meyakinkan.

Junghae berfikir sejenak, antara setuju dan tidak. Dia membuang nafasnya sebelum menyetujui keputusan Chanyeol. “Baiklah, terserah padamu oppa”, kata Junghae pasrah. Dia kembali melanjutkan aktivitasnya menghias kue.

Tak lama setelahnya, nyonya Park datang dan bergabung dengan mereka. Nyonya Park juga kembali membantu Junghae menghias kue.

Chanyeol meyakinkan dirinya sebelum berbicara dengan ibunya. Dia berharap semoga ibunya tak menolak keputusannya kali ini. “Eomma, ada yang ingin Chanyeol bicarakan dengan eomma”, kata Chanyeol memulai pembicaraan.

“Apa sayang, katakanlah”, pinta nyonya Park.

Junghae menghentikan aktivitasnya kembali. Dia merasa sedikit gugup dengan apa yang akan Chanyeol katakan. Dia menatap Chanyeol lekat, untuk mendengarkannya.

Sebenarnya aku dan Junghae sudah menikah’.

 

 

TBC

 

 

Jangan lupa komentarnya. Terima kasih untuk yang sudak memberi komentar. Semoga tak bosan dengan FF ini.

 

 

24 thoughts on “[EXOFFI FREELANCE] SECRET WIFE (Chapter 2)

  1. Jeng jeng jeng…..dan penyakit jantung ny.park kambuh lagi…g deh becanda 😂😂😂
    Sepertinya ny.park bakalan seneng tuh karna junghae jadi menantunya. Tp pasti dia juga penasaran gimana mereka bisa menikah. Aaaahhh udah g sabar nunggu next chap….

  2. what??? married??? lalu aku bagaimana chanyeol??? /abaikan yg ini/

    ahhh semoga gk bikin geger…barkhyun jg ygvpunya ide kok santai” aja

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s