[EXOFFI FREELANCE] EXODUS : She’s So Dangerous (Chanyeol Ver)

exodus-chanyeol

Title :

EXODUS : She’s So Dangerous (Chanyeol Ver)

Author :

Kusumaningpark99

Leght :

Ficlet

Genre :

Dark, AU, Angst, Psyco and ETC

Rating :

PG+17

Cast :

  • Park Chanyeol (EXO)
  • Han Jihye (OC)

Recomended song :

  • EXO – Exodus
  • EXO – Monster
  • EXO – Playboy
  • Infinite – Bad

Disclaimer :

Kembali lagi dengan Fanfict buatan sendiri, karya saya yang murni hasil pemikiran saya sendiri tanpa ada unsur plagiat.

Don’t Be A Plagiator~~

Don’t Be A silent Readers~~

 

Happy Reading~~

 

–EXODUS—

–Author POV—

 

“pergi! Pergi dari sini!” seorang gadis berteriak kencang, suaranya menggema di seluruh ruangan bernuansa gelap itu. Lebih tepatnya tak sedikitpun terdapat penerangan yang setidaknya memberikan secerca sinar.

Gadis itu menutup telinganya kuat, giginya bergemeletuk saling bertubrukan. Nafasnya memburu seolah baru saja lari maraton 5000 meter. Penampilannya sungguh mengenaskan, gaun putih selututnya tampak kotor dan sobek disana-sini. Tubuhnya yang putih kini menjadi gelap karena saking kotornya dan debu yang menempel nampak terlihat banyak. Kakinya menendang-nendang keberbagai arah, entah apa yang sebenarnya ia maksudkan untuk ditendang.

Matanya menatap tajam kearah cerimin besar yang di beberapa bagian telah retak. Disana terdapat pantulan, pantulan sesosok gadis yang mirip dengannya atau lebih tepatnya memang dirinya. Ia menatap sosok itu bengis menyalurkan segala kemurkaannya kala pantulan itu sangat menyerupai dirinya.

“pergi kau iblis! Kau Monster terkutuk! Menjauhlah dariku!” terus menerus kata-kata seperti itulah yang keluar dari mulutnya. Hanya dirinya di tempat segelap ini, hanyalah sinar bulan purnama yang menjadi penerang malam sunyinya hari ini.

Ia duduk tegap menghadap cermin yang terdapat beberapa bercak darah disana. Sorot matanya menatap tajam cermin itu, berharap bisa menghancurkan cermin itu dengan sorot tajam matanya detik itu juga.

“kau yang telah membunuhnya, bukan AKU!”teriakannya semakin menggema di seluruh ruangan, tak ada kata lelah yang terselip malah nada murkanya yang semakin menjadi-jadi.

Dengan sedikit sempoyongan ia berdiri, nampak beberapa luka gores di sekujur tubuhnya yang kurus kering itu. Senyum sinis, atau biasa disebut seringaian licik tergambar jelas pada cermin, bukan, itu bukan pantulan gadis itu, itu pantulan dari sisi jahatnya.

“haha, kau gadis yang telah membunuh suami mu sendiri. Dan kau menuduh orang lain, kau manusia BIADAB!!!!!!”  pantulan lain itu tersenyum mengejek kearahnya, meneriakkan kata-kata yang bagaikan racun yang tepat mengenai ulu hatinya.

“BUKAAAN, BUKAN AKU YANG MEMBUNUHNYA. TAPI KAU, IBLIIIIIIIIIIIS!!!!” ia menutup telinganya rapat, tak mau lagi mendengar kecohan dari kata-kata sisi lain dari dirinya itu.

Tangannya menarik sebuah kursi kayu lalu mengangkatnya tinggi-tinggi, Dan….

‘BRAAAAAAAAAKKKKKKK’  tak pelak kursi itu ia lemparkan kearah cermin yang menampilkan sosok menyerupai dirinya yang sedang tertawa lebar. Cermin itu hancur berkeping-keping, tak tersisa sedikitpun kaca di rangka cermin yang terbuat dari kayu itu.

‘HAHAHAHAHAHAHHAAAAA…….’

Gadis itu melangkahkan kakinya menuju sebuah pintu, pintu yang memiliki corak gelap dengan beberapa lumut berwarna hijau tua. Kakinya melangkah dengan pasti, lalu ketika sampai di depan pintu itu tangannya meraih pengaitnya dan mendorongnya. Tubuhnya memasuki bagian dalam dari pintu itu, yang ternyata menghubungkan dengan ruang bernuansa gelap gulita tanpa pencahayaan berarti.

Suara ketukan yang berasal dari sepatunya yang ber-hak itu menimbulkan bunyi yang cukup keras di ambang kesunyian yang tercipta. Menambah kesan mistis ketika ia mengikuti beberapa belokan yang masih sangat gelap. Bahkan tanpa rasa takut, ia masih merajut langkah menuju ke sebuah ruangan rahasia.

Ya, ruangan rahasia yang menjadi tujuan utamanya kali ini. Dan di sana, beberapa meter dari posisinya sekarang ini, walaupun terlihat masih gelap tapi dapat dilihat sebuah pintu yang sedikit mengkilap terkena sinar maram dari lampu redup. Ia berjalan, masih berjalan menuju ruang rahasia yang sudah pasti terdapat dibalik pintu berbahan besi itu.

Langkah kakinya terhenti, tepat di depan pintu besi itu. Ia menekan beberapa digit kode lalu terbukalah gembok yang menjadi kunci pintu tersebut. Ia menggeser daun pintu itu dan sedikit menimbulkan bunyi nyaring yang menggema di sekitar ruangan.

Tak lupa ia menutup kembali kunci tersebut sebelum melangkahkan kakinya menuju sebuah kursi di ruangan. Ia menghidupkan sakelar lampu yang tergantung di dinding bagian utara. Dan terlihat jelas sekarang ini, bayangan nyata beberapa benda di ruangan tersebut.

Salah satunya, sesosok laki-laki yang terikat kuat dengan tambang dengan posisi terduduk di kursi, Ia melangkah mendekati sosok itu. Sosok berjenis kelamin laki-laki itu mendongak ketika merasakan kehadiran seseorang di ruangan yang mengurungnya. Ia lantas memalingkan mukanya saat melihat siapa orang yang mendatanginya, ia tersenyum kecut.

“bagaimana kabarmu suamiku, Park Chanyeol?” pertanyaan itu keluar dengan penuh penekanan disetiap kata. Raut wajahnya terbaca dengan tidak mudahnya, karena wanita itu mampu memanipulasi ekspresinya dengan cerdik.

“hah, kau wanita iblis, Han Jihye! Aku benar-benar telah terperangkap dalam tipu dayamu.” Suara serak laki-laki bernama Chanyeol itu terdengar begitu menderita namun tertutupi dengan nada dingin dan terselip emosi di dalamnya.

Wanita itu mendekat kearah Chanyeol yang masih menatap tajam kearahnya, lalu berjongkok di depan Chanyeol yang merupakan suaminya itu. Tangannya terangkat, menarik dagu Chanyeol untuk menatapnya. Ia lantas memberikan Chanyeol sebuah ungkapan perasaannya lewat tatapan itu. Ekspresi Sedih, kecewa, kasihan, emosi dan kemurkaan bercampur aduk dalam wajah itu.

Tangannya yang semula mencengkeram dagu lancip itu dengan keras, kini beralih menelusuri setiap titik bagian dari wajah Chanyeol. Chanyeol membuang muka, tak sudi melihat sosok wanita yang sekarang begitu dibencinya. Tangannya yang terikat kebelakang kini mengepal hingga menimbulkan warna putih pucat di permukaannya.

Mengelusnya dengan sayang, mulai dari mata, hidung, bibir dan yang terakhir dagu. Tangannya berhenti, lalu kembali mengelus daerah berteksture lembut yang dulunya menjadi candu untuknya. Ia menyeringai, dan tangannya yang menganggur ia gunakan untuk menarik tengkuk laki-laki itu. Hanya menepis jarak, namun hanya tersisa beberapa centi wajah mereka akan saling menempel.

“kau tahu, aku sangat mencintaimu Park Chanyeol?” entah kalimat itu berupa kalimat tanya atau justru malah kalimat pernyataan. Sepersekian detik, bibir kedua insan itu telah menempel. Saling melumat, atau lebih tepanya hanya wanita bernama Jihye itu yang memberikan lumatan-lumatan lembut pada bibir tebal Chanyeol. Menghasilkan decapan yang begitu terdengar nyaring di ruangan sepi itu.

Masih berpagutan setelah beberapa menit, lalu terlepas dengan perlahan. Belum menjauhkan wajahnya dari wajah Chanyeol yang menatapnya datar namun tajam itu. Jihye tersenyum, dalam arti lain tersenyum kecut.

‘AKKKHHH…’ suara melengking keluar dari mulut Chanyeol, sesaat setelah sebuah pisau menembus perutnya dengan sadis lalu mengoyaknya. Darah mengucur dengan deras, dan suara Chanyeol tercekat.

“aku membencimu Han Jihye!”

“ya, aku tahu kau sangat mencintaiku Park Chanyeol.”

–END–

 

Hai aku kembali lagi dengan ficlet, kali ini ficlet abalku bergnti genre loh. Nggak tahu juga kenapa ada ide buat ficlet dengan genre dark seperti ini. Mungkin nggak nge-feel kali ya? Soalnya aku nggak terlalu bisa bikin genre gkaya gini. Begitulah curcol dari saya, ada kurangnya mohon maaf. Please Comen!

–SEKIAN—

_–TERIMA KASIH—

–SEE YOU LATER–

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s