[EXOFFI FREELANCE] You Can’t Blame Me (Chapter 1)

cover-ff-fix

YOU CAN’T BLAME ME

Chapter 1

Author : ADiamond

Lenght : Chapter

Genre : Romance

Rating : PG-17

Cast : Jung Shian

                     Byun Baekhyun

Other Cast : Oh Sehun, Jeon Jungkook, Park Chanyeol,

  Do Kyungsoo, Kim Jongin etc.

Summary : Jung Shian seorang reporter TV ternama yang bisa dengan mudahnya mendapatkan pria yang diinginkan. Lalu pertemuannya dengan dokter bedah Oh Sehun sedikit mengubah perjalanan cintanya. Lalu siapa itu Baekhyun?

Desclimer : This story is mine and based on my imagination

Author’s note  : Hai readers… Aku author baru nih di exoffindo. Sebenarnya ini ff keduaku, tapi lebih memilih mempublish ff ini daripada ff yang pertama. Why? Alasanya simple, karena di ff pertama, aku memilih Jongin sebagai main castnya. Tapi akhir-akhir ini lagi lebih suka sama Baekhyun hehe. So enjoy, and hope you like it J

Annyeong..! Namaku Jung Shian. Aku seorang reporter stasiun Tv KBS, tapi kebanyakan orang menyayangkan jika aku hanya menjadi reporter. Mereka bilang aku lebih cocok menjadi seorang idol atau model, meski sebenarnya aku cukup populer sebagai seorang reporter. Singkatnya aku sempurna. Cantik, banyak yang bilang aku seksi ya baiklah menurutku juga begitu, aku cerdas dan memiliki karier yang cemerlang. Bisa dibilang ini hanya permulaan karierku karena mungkin aku akan mendapat banyak promosi tahun depan. Bahkan karena pekerjaanku sekarang, aku sudah bisa membeli sebuah apartemen mewah dari dompetku sendiri. Kehidupanku mem…

“Shiaaaannn….” Ah baiklah siapa yang mengganggu waktu soreku yang indah. Lantas kubuka pintu dan menemukan sahabatku dengan tampang sedihnya dan sesegukan tak henti-henti, menandakan dia telah cukup lama menangis.

Wae? Masuklah dan ceritakan padaku, tapi sebaiknya kau berhenti menangis dulu.”

Gomawo.” Katanya di sela sesegukan sambil melap air mata yang bercampur maskara.

Aku menggandeng tangannya dan menuntun untuk duduk di sofa. Kutunggu dia bercerita dengan penuh kesabaran karena akulah sahabatnya. Mungkin aku bukan sahabat terbaik, tapi aku cukup tahu kapasitas menjadi sahabat yang baik. Dia hanya menunduk sambil sesekali mengusap air matanya yang tak berhenti mengalir. Well, ini sudah sepuluh menit dan dia masih saja tak bergeming. Aku mulai bosan dan kehilangan kesabaranku, dan sepertinya aku tahu kenapa dia begini.

“Chanyeol lagi?” Aku bertanya, masih mempertahankan nada empatiku.

Dia mengangguk. “Aku sudah tidak tahan melihat kelakuannya akhir-akhir ini Shian-aa. Aku sudah bersabar dan membiarkannya mengencani wanita-wanita murahan di club, tapi dia sudah keterlaluan sekali. Dia mengacuhkan aku seperti aku bukan kekasihnya lagi. Bahkan kami sudah sangat lama tidak berkencan seperti dulu. Aku tidak tahu ada apa dengan dia sebenarnya. Lebih baik aku mati saja daripada menanggung ini lebih lama lagi.” Air matanya pecah dan dia benar-benar tidak peduli dengan bagaimana dia terlihat saat ini. Chanyeol, Chanyeol dan Chanyeol. Dia hanya peduli pada si pemilik cafe dengan tampang imut itu.

Ya micheoseo Seo Soenyoo!” Aku berteriak pada Soenyoo akhirnya. Awalnya aku kasihan melihat dia kacau. Tapi aku tidak tahan jika dia bersikap bodoh begini. “Apa pria di dunia ini hanya Park Chanyeol eoh?”

“Tapi aku hanya menginginkan Chanyeol. Aku tidak bisa kehilangan pria itu, aku benar-benar bisa gila. Bantu aku Shian… Jebal.”

“Aishhh…Apa kau benar-benar tidak tahu masalahnya?” Seonyoo memang datang pada orang yang tepat. Tentu saja aku paham betul bagaimana laki-laki, apalagi Chanyeol dia mudah ditebak.

“Entahlah. Sepertinya Chanyeol tidak menginginkanku lagi.”

“Tentu saja. Lihatlah dirimu! Kau terlihat kurus sekarang, kau bahkan selalu hanya memakai jeans, sneacker, kaos kemanapun. Kau sudah tidak terlihat seksi lagi Seonyoo.” Sengaja aku menekankannya pada beberapa kata sambil mengamati penampilannya dari atas ke bawah. Hanya untuk memberi kesan dia memang terlihat sepenuhnya menyedihkan.

Jinjja? Apakah Chanyeol mempermasalahkan hal itu menurutmu?”

“Kau benar-benar tidak tahu seperti apa kekasihmu yah. Menurutmu mengapa dia lebih memilih wanita-wanita itu dibanding kau? Karena mereka lebih seksi pastinya.”

“Lalu aku harus melakukan apa?”

“Berlakulah seperti gadis seksi lainnya Seonyoo. Pakailah minidress dan highheels, pergi ke salon dan yang terpenting makanlah dengan layak agar kau tidak terlihat seperti penggaris.”

“Itu akan berhasil?”

“Percayalah padaku.”

“Aku percaya padamu, kalau begitu aku akan pergi ke mall membeli pakaian seksi dan ke salon tentunya. Dan oh ya menambah sedikit berat badanku, kau benar aku juga merasa terlalu kurus. Terima kasih Shian, kau yang terbaik.” Angguknya mantap dengan wajah yang berubah cerah lantas memelukku.

Bel pintu berbunyi dan menghentikan aktivitas saling memeluk antara aku dan Seonyoo. “Aku saja.” Ucap Seonyoo kemudian beranjak membuka pintu.

“Yeonghan? Waegeurae?”

Dan rasanya seperti deja vu melihat apa yang terjadi pada Yeonghan. Tidak berbeda dengan Seonyoo beberapa waktu yang lalu, sama-sama kacau. Dan sangat kuyakini pasti dia sedang bermasalah dengan kekasihnya, Kyungsoo.

“Aku benar-benar tidak menyangka pria macam Kyungsoo bisa bermain di belakangku. Awalnya aku tidak berpikir apa-apa melihat fotonya dengan gadis itu. Tapi aku melihat sendiri dia berkencan dengan seorang gadis jelek. Lihatlah, dia bahkan tidak cantik atau seksi.” Yeonghan menunjukkan ponselnya dan terlihat foto Kyungsoo dengan seorang gadis. Yeonghan benar, gadis itu tidak cantik apalagi seksi. Jelas Yeonghan terlihat jauh lebih baik secara fisik. Namun bukan itu masalahnya jika kau memiliki kekasih seorang Do Kyungsoo.

Ya! Apa kau pikir Kyungsoo akan bahagia hanya dengan melihatmu mengenakan gaun ketat dan merengek minta perhatiannya sepanjang waktu?” Kuputar bola mataku jengah dengan betapa bodohnya kedua sahabatku ini.

Eotteokhae? Apakah salah jika dia  memiliki kekasih yang cantik?” Kini si wanita pertama yang tengah bermasalah dengan prianya ambil suara. Kasarkah jika aku mengatakan pertanyaan Seonyoo barusan adalah idiot?

“Aishhh aku tidak percaya bagaimana aku bisa berteman dengan kalian.” Ucapku kesal sehingga lebih memilih kata ‘berteman’ ketimbang ‘bersahabat’.

Mereka berdua saling bertatapan cukup lama. Mungkin berpikir apakah aku marah, meski ya aku memang kesal tapi aku tidak dalam tingkat marah kali ini. Aku menatap keduanya bergantian dan mereka malah membalas dengan senyuman canggung. Sungguh ini membuatku semakin kesal. Kuhembuskan nafasku panjang dan mendramatisir.

“Begini saja, apa yang disukai Kyungsoo? Benda mungkin atau hobi” Aku berkata-kata akhirnya, memecahkan keheningan yang kami ciptakan sendiri.

“Dia suka sepak bola. Setiap minggu dia dan teman-temannya menonton sepak bola di cafe milik Chanyeol. Di cafe Chanyeol dia bertemu dengan gadis jelek itu yang menjadi awal masalah kami.” Jawabnya secepat kilat dan wajahnya cemberut seketika.

“Apa kau sedang menyalahkan Chanyeol untuk masalahmu?” Seonyoo menimpali tidak terima.

“Apakah aku menyebutkan ini salah Chanyeol? Shian-aa, apa kau mendengar aku bicara begitu?”

Geumanhae ya! Lebih baik kalian pulang jika terus ribut seperti ini.” Bentakku tidak tahan dan mengarahkan tanganku ke arah pintu. Meski sebenarnya aku tidak serius mengusir mereka, hanya menggertak.

Mianhae.” Ucap keduanya hampir bersamaan.

“ Baiklah kita lanjutkan. Kapan dia akan menonton sepak bola lagi?” Aku kembali fokus pada masalah Yeonghan-Kyungsoo.

“Besok malam. Dia selalu mengajakku, padahal dia sendiri tahu aku tidak suka sepak bola.”

“Kalau begitu kau harus ikut Kyungsoo menonton bola besok malam.”

Mwo? Tapi aku sudah menolaknya. Jika tiba-tiba aku datang, Kyungsoo pasti berpikir aku adalah gadis yang tidak konsisten.”

“Itu terserah kau saja. Kalau gadis selingkuhannya datang sedangkan kau tidak, apa yang akan dipikirkannya?” Balasku acuh tak acuh.

“Pasti Kyungsoo akan berpikir kau tidak menghargainya dan dia akan merasa lebih nyaman dengan gadis itu karena lebih mengerti tentang dirinya.” Jawaban yang sepatutnya keluar dari gadis terlalu berperasaan, Seo Seonyoo.

“Kalau begitu kalian harus datang menemaniku.”

“Besok malam aku harus ke kantor  menyelesaikan pekerjaanku, aku tidak bisa ikut.”

“Bagaimana denganmu Shian?” Tanya Yeonghan penuh harap.

Belum sempat menjawab, lagi-lagi bel pintu apartemenku berbunyi. Maka segera aku membukannya. Pria dari balik pintu langsung memelukku ketika pintunya bahkan baru terbuka setengah. Dia Kim Taehyung, kekasihku.

Ya kalian berdua, bisa lakukan itu nanti saja.” Aku tersenyum, Taehyung pun demikian.

“Taehyungaa, bagaimana kalau kita menonton bola besok malam?” Aku bertanya pada kekasihku dengan masih mengalungkan tanganku di lehernya.

“Apa kau lupa? Besok kita akan menonton konser Coldplay chagiya.” Taehyung sedikit kebingungan.

“Ah benar. Apa kau dan Kyungsoo tidak menonton konser besok malam?”

Ani, kami telah menghabiskan banyak uang untuk menonton konser Adelle bulan depan di Hongkong.”

“Chanyeol pasti menutup cafenya besok malam. Bukankah dia juga akan menonton Seonyoo?”

“Chanyeol lebih menyukai Taylor Swift asal kau tahu saja.” Jawab Seonyoo tak senang, sadar akan bagaimana tipe idola Park Chanyeol.

“Shian bagaimana ini?” Tanya Yeonghan lemas seakan baru saja kehilangan harapannya.

Ya Choi Yeonghan! Kalau kau benar-benar ingin menonton bola, menontonlah sendiri. Kau dengarkan, aku dan kekasihku akan menonton konser.” Itu suara Taehyung. Yeonghan hanya tertunduk.

“Baiklah, aku sudah memutuskan. Aku lebih memilih menonton sepak bola besok malam.” Putusku final. Lagipula aku bisa menonton konser Coldplay dua bulan lagi di London.

Andwae andwae andwae. Kita tidak akan ke mana-mana besok malam selain Gocheok Sky Dome untuk menonton konser Coldplay.”

“Kalau begitu kau menonton saja sendiri. Kita putus.”

MWO?”

 

Malamnya ada sebuah siaran berita langsung. Aku tentunya harus berlaku profesional melupakan masalahku dengan Taehyung dan membawakan berita sesempurna aku biasanya. Lagipula tidak terlalu sulit, hanya harus membacakannya dengan benar dan ekspresi yang tepat sesuai berita yang dibawakan.

Cut… Oke cukup untuk malam ini. Kerja bagus reporter Jung.”

Ne gamsahamnida.

Aku merasa punggungku pegal harus duduk selama satu jam lebih membawakan berita. Maka setelah kurasa cukup berbasa-basi dengan para staf, aku langsung meninggalkan studio.

“Shian ssi.” Baru beberapa langkah keluar dari studio, suara seseorang menghentikanku. Apakah aku harus berhadapan dengannya setelah melewati hari yang kacau? Tapi aku tidak ingin terlihat seperti gadis sombong yang akan begitu saja pergi saat tidak menginginkan perbincangan dengan orang yang tak ingin kutemui. Reputasiku sebagai reporter ternama bisa hancur.

Annyeong Jungkook sii. Waeyo?” Akhirnya kuloloskan sebuah senyuman pada rekan sekaligus mantan kekasihku. Jeon Jungkook adalah reporter pria paling populer di KBS, atau bahkan di Korea. Bukankah sudah jelas, dia tampan, sopan, cerdas dan memiliki suara super indah saat membawakan berita. Semua wanita pasti akan jatuh pada Jungkook, begitu pula aku dulu. Jadi kenapa aku memutuskannya? Hmmm…. itu cerita yang panjang dan melelahkan.

“Bagaimana kalau kita makan malam bersama?” Ia berbicara semenawan biasanya sambil menatap kedua mataku lembut. Apa dia pikir aku masih kekasihnya?

“Ya tentu saja kau boleh ikut kami makan malam.” Aku sengaja menyalah artikan ucapannya.

“Kami?”

Ne, bersama Seonyoo dan Yeonghan. Kami sudah janji akan makan malam bersama setelah siaran.” Kutunjukan senyum setulus mungkin agar tidak kentara kalau aku sedang berbohong. Bahkan jika dia tahu aku sedang berbohong pun tak akan berdampak banyak bagiku.

“Bukan, maksudku kita berdua. Kau dan aku tanpa Seonyoo atau Yeonghan. Aku… ingin kita bicara.”

“Ehmmm… Bagaimana yah? Aku sudah memilki janji dengan mereka terlebih dulu. Tidak mungkin aku membatalkannya kan?” Sengaja kubuat nada menyesal sebaik mungkin. Mana mungkin aku menolak ajakan seorang idol macam Jungkok dengan acuh. Aku pasti akan dibunuh fansnya kalau begitu. Well, apa peduliku? Bahkan aku merasa sangat puas sekarang menolak ajakan seorang reporter kebanggaan Korea.

“Kukira mereka tidak ke kantor malam ini?” Jungkook sedikit memiringkan kepalanya menyelidiki.

“Tidak, mereka di sini. Mereka ada di bawah, pasti sudah lama menungguku. Kau pasti ingin bertemu mereka kan? Ikutlah ke bawah.” Jelasku dengan percaya diri karena tanpa disadarinya aku telah mengirim pesan pada mereka berdua agar segera menjemputku. Bukankah sudah kukatakan aku seorang yang cerdas.

Saat tiba di lobi aku segera melambai pada Seonyoo dan Yeonghan. Dan mengerti keberadaanku, mereka keluar dari mobil dan membalas lambaianku. “Shian-aa… Ah annyeong reporter Jeon.” Lantas mereka sedikit membungkuk ke arah Jungkook.

“Pasti mereka sudah lapar karena aku begitu lama di atas kan? Kalau begitu aku harus pergi, selamat malam Jungkook sii.” Kulambaikan tangan dan mengedipkan sebelah mataku pada Jungkook sebelum akhirnya masuk ke dalam mobil Yeonghan. Aku benar-benar merasa menang dan lihatlah bagaimana wajah tampannya saat itu.

“Lain kali kau jangan melibatkan kami dalam urusan cinta masa lalumu arra?

“Kau harus mentraktir kami pizza.”

 

Tidak biasanya kami makan pizza malam-malam begini. Kau tahu kan makanan itu bisa membunuhmu perlahan dan membuat gendut seketika. Tapi malam ini kami bahkan tak mnghiraukan fakta tersebut. Aku membelikan pizza dan berboto-botol cola yang kami santap di apartemenku.

“Ehmm…Shian aku ingin meminta maaf soal kejadian tadi siang. Aku tidak menyangka kau akan memutuskan Taehyung hanya karena masalahku. Kau mungkin harus kembali dengannya dan menonton konser Coldplay bersama. Masalah nonton bola itu, kita bisa melakukannya minggu depan. Sekali lagi mianhae.” Yeonghan memulai percakapan setelah menghabiskan sepotong pizza.

Ani… Ini bukan salahmu. Bahkan jika sore tadi aku tidak memutuskannya, aku akan tetap memutuskannya selepas konser besok malam.” Jawabku santai sambil mengambil potongan pizza berikutnya.

Wae? Aku pikir kau menyukainya?” Seonyoo yang kebingungan mengajukan pertanyaan padaku.

“Aku merasa sedikit bosan dengannya. Apa kalian tidak melihat betapa kekanak-kanakannya dia. I’ve had enough.

“Tapi dia tampan.”

Ya Seo Seonyoo, Park Chanyeol dia tampan, Jongin, bahkan Jungkook mereka semua tampan. So what?”

“Apa kau barusan membahas Jongin? Kurasa dia sedang sendiri, kau bisa kembali padanya.” Eh menyebalkan. Yeonghan sudah meledeku? Padahal barusan dia seperti kesulitan bernapas karena merasa bersalah.

“Ya benar, Jongin dia hot. Aku juga menyukai Jimin dia sangat menyenangkan dan tidak kalah hot  dari Jongin. Kalau aku tidak bersama Chanyeol, pasti aku akan mengencaninya.”

“Ah member Infinite Myungsoo, dia super tampankan? Padahal kalian cocok, reporter terkenal dan member boyband terkenal. Atau pengusaha muda rekan ayahmu, dia juga tampan. Siapa namanya?”

“Choi Seunghyun. Atau pemain sepak bola nasional China, Luhan juga tak kalah tampan kan?”

“Apa ini balasan kalian setelah kubelikan pizza? Sudah kubilang mantan itu ibaratkan baju yang kekecilan. Kau tidak bisa mengenakannya lagi selain merasa sesak dan tidak nyaman. Jadi jangan harap aku akan kembali pada mereka atau mantanku yang lain.” Aku berteriak dengan satu tarikan napas, sebenarnya sudah biasa aku melakukannya.Saat siaran, tapi bedanya dengan suara indah dan tegas, bukan suara melengking yang memekakan telinga.

Mereka berdua hanya cekikikan melihat aku mati gaya jika harus membahas mantan. Kemudian dengan tampang puasnya mereka bersulang dan meminum cola masih dengan cekikikan tidak jelas. Aku berharap mereka tersedak.

Selanjutnya malam ini kami habiskan dengan menggosip isu terkini di kantor. Mereka berdua menyimak dengan wajah serius saat kuceritakan tentang bos kami, Kim Sajangnim yang untuk pertama kali mengenalkan wanita simpanannya padaku. Hingga tiba-tiba…

“Shiaaannn… Jung Shiiiaann mianhae… mianhae… saranghae.

Mwo? Kim Taehyung pasti sedang cari mati berteriak-teriak di depan apartemenku. Ah ini bisa menjadi headline di mana-mana kalau aku tidak menghentikannya.

Mwoya igeo?” Seonyoo segera berlari ke arah jendela.

“Sepertinya itu suara Taehyung kan?” Yeonghan pun ikut melihat dari jendela siapa yang bertriak-teriak seperti orang kerasukan malam-malam begini.

Aku yang tau persis apa yang terjadi di bawah, segera berlari dan menaiki elevator sampai lantai dasar. Benar saja si bodoh nan kekanak-kanakan Kim Taehyung. Kenapa aku menerimanya dari awal?

“Biar aku yang urus ahjussi.Dia temanku, maaf merepotkan.” Aku membungkuk berkali-kali pada dua orang satpam yang tadi hendak menyeret Taehyung ke kantor polisi.

Dia malah tersenyum bodoh dan itu membuatku benar-benar marah. Kupukul kepalanya berkali-kali dan dia hanya meringis tanpa mencoba menepisnya.

“Shian-aa aku me-.”

“Jangan di sini, ayo masuk kau bodoh bisa membuatku terlibat masalah. Kau ingin karierku hancur kalau sampai ada yang melihat seorang pria berteriak-teriak di depan apartemenku. Dan lebih parahnya, pria itu adalah mantan kekasihku?” Aku memukulinya semakin keras.

Mianhae. Aku hanya ingin minta maaf, kau tahu kan?”

“Cepat masuk, ppalli.

Ani. Kita bicara di luar saja. Kajja.

Akhirnya aku mengiyakan, semata-mata ingin segera menyelesaikan masalahku dengannya. Dan setelah sekitar setengah jam, Taehyung menepikan mobilnya di tepi jalan yang menghadap langsung ke arah Sungai Han. Terdapat beberapa air mancur yang akan berganti-ganti warna setiap sepuluh detik. Apalagi bintang-bintang yang tak terhitung jumlahnya membentang di langit. Sungguh suasana yang romantis bagi pasangan lain, tapi tidak bagi aku dan Taehyung.

“Bicaralah.” Kataku menatap ke arah sungai.

“Sejak kapan kau jadi ketus begini? Aku hanya ingin minta maaf Shian.”

“Permintaan maaf diterima. Sekarang antar aku pulang.”

“Shian kau tahu bukan hanya itu. Maksudku tentang hubungan kita. Aku tidak ingin kita putus. Kita akan menonton bola bersama besok malam, ya benar menonton bola bukan ke konser.”

“Aku tidak bisa. Maksudku hubungan ini dari awal bukankah tidak pernah, ah bagaimana yah?” Aku melirik sekilas ke arahnya, sedikit tidak tega jika mengatakan yang sebenarnya. Bukankah dia terlihat sangat manis? Tidak, tidak aku harus mengakhirinya sekarang juga. Bukankah ini yang kesekian kalinya aku mengatakan kata putus atau berakhir, selesai, over dan semacamnya. Ya, aku harus yakin.

“Apa kau benar-benar mencintaiku?”

“Ya. Sangat, aku sangat mencintaimu.” Taehyung mengangguk berkali-kali.

“Tapi aku tidak. Maksudku memang aku menyukaimu, tapi hanya sebatas suka bukan cinta. Ingat itu suka. Betapa pun kejutan-kejutan manis dan perilakumu padaku tak bisa merubahnya menjadi cinta. Dan masalah sebenarnya adalah…Sebenarnya dari awal aku menerimamu hanya untuk membuat Jimin cemburu. Membuatnya berpikir betapa hebatnya aku bisa berpacaran dengan sahabatnya setelah baru beberapa hari putus. Aku memang gadis jahat, ya setidaknya kau boleh berpikir begitu. Jadi kumohon kau tidak mengharapkan apapun lagi dariku.” Jelasku panjang lebar.

Ya benar, itu yang terjadi. Jimin sahabat Taehyung. Aku memutuskannya karena ia  tak memenuhi permintaanku agar berhenti menjadi seorang bartender. Aku tidak suka melihatnya melayani gadi-gadis seksi yang sesekali mencoba mengajaknya berkencan. Aku tahu sahabatnya, Kim Taehyung menyukaiku. Jadi kuterima saja dia agar Jimin menyesal karena tak menggubris permintaanku. Kukira dari awal Taehyung hanya memiliki ketertarikan fisik padaku, tidak lebih.

“Benarkah seperti itu? Kau…memanfaatkanku?”  Taehyung mencekram kedua lenganku dan memaksaku menatapnya. Dia sepertinya menangis, matanya berair. Tangannya hendak memelukku tapi membatalkannya. Aku mulai merasa bersalah membuat pria polos seperti Taehyung yang harus tersakiti demi menghukum Jimin. Aku memang seharusnya tidak melibatkan Taehyung dari awal.

“Ya kukira kita hanya akan bertahan beberapa hari. Aku kira kau adalah pria yang suka mengencani gadis cantik lalu beralih pada gadis cantik lainya. Aku tidak menyangka kau mencintaiku.”

“Aku tidak habis pikir, kau menganggap hubungan kita seremeh itu. Apa aku tidak cukup baik bagimu? Kau tahu seberapa bahagianya aku bisa menjadi kekasih Jung Shian?” Sebutir air mata menuruni pipinya yang mulus.

Mianhae.” Kupalingkan wajahku, tak sanggup melihat pria yang telah menjadi kekasihku selama dua minggu ini menangis.

Aku menunggu reaksinya. Mendapatinya tak bersuara sedikitpun, aku menoleh ke arahnya memastikan. Sepersekian detiknya, Taehyung menarikku dan mencium bibirku kasar. Rasanya sesak dan asin karena bercampur air matanya. Ia menangkupkan kedua tangannya di pipiku yang membuatku tak bisa lepas dari ciuman paling tidak menyenangkan yang pernah ia berikan. Aku berontak memukuli dadanya menggunakan kedua tanganku. Tapi lantas ia memindahkan tangannya dari pipiku guna mencekal tanganku. Aku benar-benar merasa semakin sesak dan tidak bisa bernapas. Dengan seluruh kekuatanku, sekali lagi aku menarik tanganku dari cengkramannya. Beruntung tangan kananku berhasil lolos dan dengan cepat aku menyikut perutnya. Reflek cekalannya pada tanganku yang lain mengendur. Tanpa membuang kesempatan, aku membuka pintu mobilnya. Beruntung dia masih tetap ceroboh sehingga tidak mengunci pintunya. Aku lantas melangkahkan kakiku keluar. Sial, dia menahan tangan kiriku. Aku yang sudah sangat marah menariknya sekeras mungkin dan betapa sakitnya saat tanganku terluka tergores kuku Taehyung.

Tanpa mempedulikan rasa sakit dan darah yang mulai menetes, aku berlari ke tengah jalan dan menghentikan sebuah mobil yang kebetulan sedang melintas.

“Buka pintunya kumohon. Mantan kekasihku sudah gila, kumohon tolonglah.” Kuketuk kaca mobil tersebut berkali-kali. Beruntung si pengemudi membukakan pintu dan mempersilahkan aku masuk.

“Ayo cepat pergi dari sini.” Kulihat Taehyung keluar dari mobilnya dan berusaha mengejar mobil yang kutumpangi.

Gwaenchana?” Tanya si pengemudi mobil. Aku hanya mengangguk dan mencoba menyembunyikan wajahku, khawatir dia bisa mengenaliku.

“Apa kau Jung Shian? Reporter Jung Shian?” Damn it. Tentu saja dia bisa mengenaliku.

Ne, annyeong hasaeyo.” Aku berusaha tersenyum meski harus menahan rasa sakit di tanganku.

“Jadi pria tadi kekasihmu?” Sekilas ia melirikku sebelum akhirnya memfokuskan matanya ke jalan.

“Mantan kekasihku.”

“Aku kira kau masih berhubungan dengan reporter Jeon, maksudku Jungkook.” What? Beraninya dia. Aku mulai merasa diinterogasi. Jika saja aku tidak menumpang mobilnya, pasti sudah kusuruh dia menutup mulutnya dan jangan mencampuri urusan orang lain.

“Apa kau seorang wartawan?” Tudingku merasa curiga.

“Bukan. Aku seorang dokter.” Dia terkekeh menanggapi pertanyaanku. Apa itu terdengar lucu?

“Jadi seorang dokter suka bergosip?”

“Tentu saja tidak. Bukankah semua orang tahu akan hubunganmu dengannya? Beritanya sangat booming saat itu.”

“Kau bisa menurunkan aku di halte bus terdekat.” Aku sudah cukup kesal menanggapinya yang mulai mengulik urusan pribadiku.

“Apa kau marah? Tapi aku tidak bisa, sepertinya kau terluka. Aku akan mengobati lukamu terlebih dulu, jadi sebaiknya kita ke rumahku. Hanya beberapa menit dari sini.”

“Tidak perlu. Aku bahkan tidak tahu siapa kau.”

“Sudah kubilang aku seorang dokter, Oh Sehun ibnida. Aku tidak bisa melihat seseorang terluka tanpa menolongnya.”

“Jadi kau juga seorang superman?”

“Itu cita-cita masa kecilku. Tapi kurasa dokter lebih baik dari superman kan?” Untuk beberapa alasan dia kembali terkekeh, kali ini lebih keras dari sebelumnya.

 

Benar saja rumahnya tidak terlalu jauh, hanya lima menit perjalanan. Sudah kuduga seperti kebanyakan pria muda sukses lainya, ia memiliki rumah yang modern tapi tetap terlihat elegant. Bahkan dia memiliki sebuah klinik kecil di depannya. Sangat sempurna mengusung konsep hommie yang membuat pasien pastinya merasa semakin nyaman.

“Kau bekerja di sini?” Tanyaku merujuk pada klinik tersebut.

“Ya kadang-kadang. Tapi aku lebih sering menangani pasien di Wooridul Spine, tidak ada hari tanpa operasi di sana.” Ia tersenyum sambil masih mengobati lukaku dengan telaten.

Daebak. Kau dokter di Wooridul Spine? Aku pernah mengadakan liputan di sana. Kau beruntung bisa bekerja di rumah sakit itu. Tidak semua dokter mendapat fasilitas semewah dan selengkap itu.” Mungkin dia tidak seburuk bagaimana aku pertama kali menilainya.

“Itu impianku sejak pertama masuk sekolah kedokteran. Bekerja di Wooridul Spine Hospital pasti akan sangat keren. Dan kau benar, fasilitas di sana memang yang terbaik.” Ia mengacungkan kedua ibu jarinya dan sekali lagi tersenyum padaku. Bukankah senyumnya sangat manis?

Apa yang kupikirkan? Oh baiklah, Sehun terlihat sangat tampan saat tengah berkonsentrasi penuh seperti sekarang. Mengapa baru sekarang aku sadar bahwa dokter ini benar-benar sempurna. Ia juga memiliki bahu lebar yang terlihat nyaman. Aku berani bertaruh bahwa Sehun bahkan lebih seksi dari Jongin. Aku harus mengakuinya, setidaknya di dalam hati.

“Aku melihatmu waktu itu.”

“Ah ya?” Tanyaku kebingungan karena baru tersadar dari lamunan.

“Liputan itu, aku melihatnya. Kau baik-baik saja?”

“Oh ya aku baik.”

“Sudah selesai.”

“Terima kasih.” Aku tersenyum benar-benar tulus karena Sehun telah membantuku.

“Sama-sama.” Ia balas tersenyum yang membetuk eyesmile di wajahnya.

 

Annyeong haesaeyo… Selamat sore pemirsa, kembali lagi bersama saya Jung Shian dan rekan saya.”

“Jeon Jungkook ibnida. Dan pemirsa, sekarang sudah ada di tengah-tengah kita salah satu idol anak muda masa kini. Siapa mereka? Langsung saja kita sambut.”

Annyeong haesaeyo Infinite ibnida.

“Wah… Kami beruntung sekali karena di sela kesibukan mereka yang pastinya sangat padat, mereka masih bisa memenuhi undangan kami untuk bergabung di studio pada sore hari ini. Bukan begitu Jungkook ssi?”

Ne majayo Shian sii. Dan pertama-tama kami ingin mengucapkan selamat atas perilisan album baru kalian.”

Gamsahamnida.”

“Jadi bisa kalian ceritakan bagaimana pembuatan album maupun music video kalian kali ini?”

Dan begitulah saat dalam waktu satu setengah jam yang panjang aku harus terjebak di antara dua mantan sekaligus. Dan selama itu pula, aku harus terus memaksa diriku tersenyum pada sesuatu yang sebenarnya menyebalkan. Apalagi ketika baik kusadari atau tidak, Myungsoo beberapa kali melirik ke arahku dan Jungkook dengan ekspresi seperti ‘apa mereka berdua masih bersama?’ atau ‘kudengar mereka sudah putus, apakah itu benar?’. Ini bisa membuatku gila jika lebih lama lagi di sini.

Setelah sesi interview dan kepura-puraan ini berakhir, aku segera beranjak dari studio. Ah aku akan berendam air hangat saat pulang nanti. Orang-orang bilang itu bisa melepaskan stress karena pekerjaan. Aku pasti sangat membutuhkannya.

“Sejak kapan kita berubah menjadi host acara temu idol?”

Jungkook?

Aku menghentikan langkahku dan menoleh ke sumber suara. Benar saja, itu Jungkook. Apakah dia seorang penguntit?

“Aku menyukainya.” Aku kembali berjalan menghindarinya, sedikit.

“Benarkah?” Jungkook menyamai langkahku. Ia juga menuju tempat parkir.

“Apa itu seharusnya menjadi masalah bagiku?”

“Mungkin saja. Bukankah Myungsoo?”

“Mantan kekasihku? Lalu kenapa? Asal kau tahu saja, salah satu yang membuatku menjadi seperti sekarang adalah karena aku selalu berlaku profesional. Jadi baik ada atau tidaknya Myungsoo barusan, tidak akan memberikan efek apapun padaku Jungkook sii.”

“Ya benar. Kau memang pantas mendapatkan sem-.”

Shit!” Teriakku frustasi. Tidakkah cukup bertemu mantan kekasih yang suka mencampuri urusanku sudah membuat hariku buruk? Sekarang ban depan mobilku pecah. Apa yang lebih buruk dari ini?

“Biar ku antar kau pulang.”

No no. Aku bisa pulang sendiri.”

Wae? Tidak cukup profesional untuk diantar oleh mantan kekasihmu?”

Mwo?”

Pandai sekali dia menggunakan kata-kataku untuk membuatku terlihat seperti seseorang yang baru kalah berperang. Dan karenanya, aku harus mengorbankan sedikit harga diriku menumpang mobil masserati miliknya.

Sepanjang perjalanan dia mencoba mengajakku mengobrol dengan topik-topik yang tidak penting sama sekali. Seperti saat dengan riang ia menceritakan tentang Polo, anjing yang pernah kami asuh berdua yang kemarin genap berusia tiga tahun. Bukankah itu benar-benar tidak penting? Atau tentang adik perempuannya Jeon Minhyun, yang sedang mengikuti seleksi masuk Oxford karena memiliki nilai yang mengesankan. Aku benar-benar tidak peduli. Kenapa ia memilih topik pembicaraan seolah-olah aku adalah kekasihnya? Tidak bisakah kita hanya membicarakan pekerjaan?

“Hachhiiiihh.” Jungkook benar-benar tidak berubah, selalu menyeting AC mobilnya sedingin ini. Baru beberapa menit di mobilnya, aku bisa kena flu kalau begini.

“Kau sakit?” Tanya Jungkook terlihat begitu khawatir. Aku benar-benar tidak butuh perhatiannya.

“Sepertinya. Jika saja kau tidak mengatur AC mobilmu seperti kita tengah berkendara lewat Gurun Sahara.” Aku menyentuh hidungku yang sedikit berair menggunakan ibu jari.

“Ini. Pakailah!” Ia menyodorkan sebuah sapu tangan berwarna merah maroon yang mau tak mau aku harus menerimanya. Jungkook bahkan menepikan mobilnya sejenak dan melepaskan jas yang dipakainya untuk menyelimuti tubuhku.

“Aku lupa kalau kau tidak tahan dingin. Sebenarnya aku masih ingat, hanya tidak menyangka kau akan naik mobilku.” Sambungnya lantas menambah temperatur pada AC mobilnya.

“Jalanlah! Semakin lama aku di sini, aku bisa menjadi boneka salju.”

Akhirnya kami tiba juga di depan apartemenku. Baru saja hendak turun, aku melihat mobil  Taehyung terpakir. Ya aku yakin itu mobil Taehyung. Apa yang harus aku lakukan? Aku sama sekali tidak takut padanya. Bahkan aku bisa saja melempar TV ke kepalanya sampai pingsan. Atau kutelpon polisi sebaiknya? Ah baiklah, aku benar-benar ketakutan. Apalagi memori semalam berkelebat dalam pikiranku.

“Apa ada sesuatu?” Tanya Jungkook sadar akan kegelisahanku. Benar, Jungkook. Aku bisa saja memintanya untuk mengusir Taehyung. Tapi itu tidak mungkin. Ini menyangkut gengsi dan pertaruhan namaku sebagai Jung Shian.

“Ikutlah ke dalam Jungkook sii. Setidaknya sampai di depan pintu apartemenku.” Baiklah aku menyerah. Sekalipun aku meminta tolong padanya, namaku tetap Jung Shian.

“Ya tentu saja.”

Tidak salah lagi. Si brengsek Taehyung dengan sebuket mawar merah di tangannya. Ia berjalan mondar-mandir di depan pintu apartemenku. Kulihat Jungkook cukup kaget melihat keberadaan Taehyung yang belum menyadari akan kehadiran kami.

“Kookie… kau mau membantuku?” Ujarku beraegyo dan memanggilnya dengan panggilan sayangku dulu.

“Te-Tentu saja.” Jungkook mungkin terkejut melihatku memasang muka imut dan polos di depannya.

“Cium aku!”

M..Mwo?

“Cepat cium saja!” Berikutnya Jungkook meraih tengkukku dengan tangan kananya. Mencium bibirku lembut dan memejamkan matanya. Tangan kirinya mulai bergerak di pinggangku menuju punggungku dan mengelusnya. Aku mengikuti pergerakannya meremas kerah kemejanya dengan tangan kiriku. Sementara tanganku yang lain menopang di dadanya.

Binggo! Taehyung melihat kami berdua yang tengah dengan mesranya berciuman di depan matanya. Ia membelalakan mata tak percaya pada sesuatu yang dilihatnya. Bagus, memang begitu skenarionya.

“Shian…?”

Aku menghentikan ciuman kami saat suara Taehyung memanggilku. Sial! Pipiku benar-benar terasa panas karena ciuman kami yang padahal hanyalah acting belaka.

“Kalian berdua?” Tanya Taehyung yang tanpa kusadari sudah berada beberapa senti dariku.

Aku memasang wajah seseksi mungkin dan menatap Taehyung dengan tajam. “Get out here you son of a bitch!

Sempurna. Sesuai rencana, Taehyung langsung meninggalkan apartemenku. Kurasa sekarang dia tak akan berani lagi menggangguku.

Hening. Tinggalah aku dan Jungkook di sini. Benar-benar canggung suasana di sekitar kami. Apa karena ciuman kami barusan? Apakah karena itu pertahananku bisa saja runtuh? Tidak, tidak, aku harus besikap normal seperti biasanya.

“Waow… tadi itu… sangat keren.” Syukurlah Jungkook memecah keheningan yang terasa aneh ini.

Gomawo.” Aku tersenyum padanya dan segera masuk ke dalam apartemen. Sepertinya pipiku memerah sekarang ini. Benar-benar memalukan.

N-ne ti…tidak masalah.”

 

Kukeringkan rambutku menggunakan hair dryer di depan cermin. Mandi dan berendam dengan air hangat adalah yang terbaik usai hari yang melelahkan. Bagaimana tidak? Aku dihadapkan pada tiga orang pria yang adalah mantan kekasihku. Apalagi aku meminta salah satunya untuk menciumku. Itu benar-benar ide terburuk yang pernah terfikirkan. Mengapa aku tidak memilih opsi pertama melempar Taehyung dengan TV? Atau memanggil polisi pasti akan jauh lebih mudah bukan? Ahhh… Aku sungguh menyesal.

Aku beranjak ke ruang kerja guna menghapalkan beberapa skrip besok, namun tiba-tiba ponselku berdering. Choi Yeonghan, begitulah yang tertulis di layar dan aku pun mengangkatnya.

“Yeobosaeyo…Shian?”

“Yeonghan? Ada apa?”

“Shian-aa… Jung Shian, apa kau di rumah sekarang?”

“Aku di rumah. Wae?”

“Eoh baiklah, aku dan Kyungsoo akan segera menjemputmu arra?” Ah benar. Aku sudah berjanji akan menemani Yeonghan menonton bola bersama Kyungsoo dan teman-temannya. Bagaimana aku bisa lupa? Tidak biasanya aku begini. Kulirik jam dinding, pukul 10 malam. Satu jam lagi akan dimulai.

“Shian? Kau masih di sana?”

Ne, ne… Baiklah aku akan bersiap-siap. Sampai jumpa.” Kumatikan telponnya dan segera berlari ke kamar mengganti baju dan berias seperlunya.

Bel pintu berbunyi saat aku tengah menyemprotkan parfum pada tubuhku. Tepat waktu, Yeonghan dan Kyungsoo tersenyum bahagia saat melihatku. Lihatlah, mereka bahkan sudah berbaikan hanya karena acara nonton bola bersama.

Kajja. Aku sudah tidak sabar.” Ujar Yeonghan riang kemudian mengapit lenganku dengan tangan kanannya, sedangkan tangan kirinya bergandengan dengan milik Kyungsoo.

Tidak butuh waktu lama untuk sampai di ‘Scarlett Cafe’ karena jaraknya hanya tiga blok dari apartemenku. Seonyoo pernah bilang bahwa nama cafe itu diambil dari nama aktris Hollywood favorit Chanyeol, yaitu Scarlett Johansson. Untuk yang satu ini aku setuju, karena aku juga adalah penggemar Scarlett Johansson.

“Hai teman-teman.” Sapa sang tuan rumah dan memeluk kami satu persatu.

“Jung Shian… The real boy’s idol, Love from the universe, pinky shining diamond.” Aku tertawa mendengar julukan Chanyeol untukku.

“Itu terlalu berlebihan Chanyeol. Tapi aku suka salah satunya. Love from the universe.” Chanyeol tertawa, mungkin senang aku memilih salah satu di antara julukannya itu.

“Kemarilah. Kau tamu spesial kami, tidak biasanya kau punya waktu berkumpul dengan teman-temanmu. Kau kan super sibuk.” Chanyeol memandu kami duduk di kursi super besar berbentuk setengah lingkaran. Terdapat meja di tengahnya yang sudah penuh oleh berbotol-botol bir dan keripik kentang. Dan pastinya layar LCD besar yang akan menayangkan siaran langsung sepak bola.

“Yah benar. Aku harus meluangkan waktuku agar bisa lebih sering berkumpul seperti dulu.” Ternyata sudah ada beberapa orang yang semuanya adalah teman-teman baikku. Melihatku di sini, mereka langsung menyapa dan memelukku.

Dari bagian kursi paling ujung, ada si penyanyi yang tengah naik daun sekaligus teman kuliahku dulu dari fakultas seni, Kim Jongdae. Suaranya yang khas dan melengking membuatnya dicintai fans melupakan fakta dia seorang yang memiliki senyuman manis. Jongdae lah yang mengajariku mengolah vokal sehingga bisa membawakan berita dengan baik. Minggu lalu bahkan aku dan Taehyung menonton konsernya. Seperti biasa, ia selalu bersikap ramah dan perhatian.

Di sebelahnya adalah Kim Joonmyeon, aku mengenalnya dengan sangat baik karena dia tinggal di sebelah apartemenku. Dia seorang konglomerat, bahkan tak segan menghamburkan uang-uangnya. Ayahnya bahkan memiliki perusahaan otomotif dan elektronik terbesar ketiga di Korea. Dan minggu lalu sempat menjadi berita dalam siaranku saat ayahnya secara resmi memberikan seluruh aset perusahaan pada Joonmyeon. Tipe pria penggila pesta, kalau boleh kukatakan. Tapi dialah yang paling dewasa di antara kami, dan paling kaya tentunya.

Berikutnya yang paling tua di sini. Kim Minseok, kakak Kim Jongin mantan kekasihku. Di usianya yang menginjak 30 tahun, ia dikatakan sukses sebagai pengusaha karena menjadi CEO di sebuah perusahaan jasa pengiriman barang. Ia juga memiliki sebuah toko kue dan permen di seberang jalan. Tapi dia akan merasa jengkel jika disebut paling tua, ia lebih memilih kata senior untuk mewakilinya. Bahkan sebenarnya dia lebih cocok menjadi adik Jongin karena tampangnya yang imut dan kebiasaannya beraegyo pada junior-juniornya.

Di ujung yang lain, dialah satu-satunya orang China di sini. Namanya Zhang Yixing. Seorang pelatih dance yang sangat berbakat. Aku pernah mengunjungi studio dancenya dan melihatnya melatih murid-muridnya saat siaran. Studionya benar-benar besar dan muridnya pun dari berbagai negara. Walaupun berstatus sebagai orang asing, tapi kariernya sebagai dancer dan pelatih  sangat gemilang. Ia juga pernah menerima penghargaan dari negaranya sebagai salah satu pelaku seni paling berbakat.

Dan ada Do Kyungsoo yang tak lain dan tak bukan adalah kekasih Choi Yeonghan, sahabat sekaligus rekan kerjaku di kantor. Dia bekerja di sebuah bank swasta terbesar di Asia. Meskipun tidak banyak bicara, tapi sebenarnya dia seorang jenius sungguhan. Ia sudah berkali-kali ke luar negeri sebagai perwakilan dari banknya untuk melakukan presentasi.

Di sebelahku, dia Park Chanyeol. Seperti yang kita ketahui, dialah si pemilik cafe ini. Kekasih sahabat dan rekan kerjaku yang lain yaitu Seo Seonyoo. Selain memiliki cafe, dia juga seorang Dj yang akan dibayar cukup mahal untuk sekali pertunjukan di club-club elit di Seoul. Kebalikan dari Kyungsoo, dialah yang paling berisik di antara kami.

“Shian-aa… tadi pagi Seonyoo menemuiku. Aku benar-benar kaget saat melihat penampilannya waktu itu. Dia terlihat… berbeda.” Chanyeol mengajakku mengobrol dan menghentikanku mengabsen orang-orang yang ada di sini.

“Seksi maksudmu?”

“Ya seksi dan… ehm menakjubkan. Dia bilang padaku bahwa kau yang menyuruhnya berbuat demikian. Aku senang sekali dan ingin berterima kasih padamu.”

Gwaenchana. Tidak masalah sama sekali.”

“Shian? Kau kah itu?” Suara seorang namja yang sangat aku kenali memanggilku dari belakang.

“Jongin?” Ya dia Jongin. Pria yang mendapat predikat mantan terseksi. Rambutnya kini berwarna hitam legam setelah terakhir kali aku melihatnya, dia mewarnai rambutnya putih. Tapi yang ini jauh lebih cocok untuknya. Dia terlihat lebih tampan kalau boleh jujur.

“Kau menonton bola juga?” Tanyanya kemudian memelukku. Aku membalas pelukannya yang selalu terasa nyaman. Aroma collognenya pun tidak berubah, lemon mint sangat memabukkan.

“Hanya menemani Yeonghan sebenarnya. Aku tidak tahu kalau acaranya akan seramai ini.” Kulepaskan pelukkannya setelah Chanyeol mengatakan bahwa pertandingannya akan segera dimulai.

Kami pun duduk dan menyaksikan pertandingan sepak bola antara FC Barcelona melawan Real Madrid. Sambil memakan snack dan meneguk bir yang telah disediakan. Tidak ada lagi yang mengobrol, mereka terlalu asik berteriak guna mendukung tim yang dibelanya. Dan sesekali kupergoki Jongin yang tengah memperhatikanku.

“Ah kalian….” Tiba-tiba semua perhatian kami tertuju pada Chanyeol yang mendadak berteriak dan melambaikan tangan ke arah pintu masuk. Fokus kami yang semula menonton sepak bola, kini teralihkan pada dua orang pria yang baru saja masuk ke dalam cafe sembari melambaikan tangannya ke arah kami.

Aku membatu seketika melihat salah satu sosok pria tersebut yang aku kenali. Rasanya benar-benar terpesona melihatnya menggunakan celana jeans selutut dan atasan jersey sepak bola bertuliskan FC Barcelona. Sangat berbeda saat ia harus mengenakan setelan jas lengkap. Tapi anehnya penampilannya yang kasual ini tak kalah tampan dari yang terakhir kali ku ingat.

“Reporter Jung?” Sapanya terlebih dulu.

“Dokter Oh?”

“Sehun saja, kalau tidak keberatan.”

“Kau juga. Panggil aku Shian.”

Chankaman…Kalian sudah saling kenal?” Tanya Jongin yang sepertinya sangat penasaran akan hubungan kami.

“Ya bisa dibilang begitu.” Jawabku tak begitu serius menanggapi pertanyaannya.

Kulirik sekilas pria yang tadi datang bersama Sehun. Satu-satunya orang yang tidak aku kenal di sini. Ia terlihat mengobrol dengan Kyungsoo. Matanya bertemu dengan miliku sesaat aku tengah melirik ke arahnya. Dia pria yang sangat imut dengan mata indah yang terbingkai eyeliner tebal. Mungkin usianya masih muda, lebih muda dariku terlihat dari perawakannya. Sesekali ia mencari mataku lagi dan tersenyum sekilas.

“Dia Byun Baekhyun, adik tiriku.”

TBC

12 thoughts on “[EXOFFI FREELANCE] You Can’t Blame Me (Chapter 1)

    • Duh author langsung ngefly nih punya fans haha
      btw thank u udah baca n coment yah^^ thank u jg udah jd fans author hehe
      okay chapter 2 pasti sebisa mungkin dipublush secepatnya deh;)

  1. Wah min ff nya daebak 👍👍tpi kok baekhyun munculnya kelamaan 😄 di tunggu next chapternya min jngan klamaan yah nanti lumutan nunggunya 😁😃 hwaiting 💪💪

    • Thank u udah nyempetin baca n coment:)
      Chapter 1 masih pengenalan dulu jd baek disimpen dan dijelasin lebih lanjut chapter 2 hehe
      Okay deh chapter 2 akan menyusul sebelum kamu lumutan ko hehe^^

    • Thank u udah baca n coment🙂 syukur deh kalo suka hehe
      iya nih author juga pecinta cogans oppa jadi boleh kali diselipin dikit:D
      Wah wah itu cabe eh maksudnya oppa kan sekarang udah ada papan cucian alias udah manly haha

    • Thank you udah nyempetin baca n coment ya^^
      Tp btw author jg suka fc barcelona juga jd ekhmm mungkin sehun jodohnya sama aku kalii ya wkwk

  2. Huuu author ffnya keren penggambaran karakternya keren dan gaya penulisannya juga bagus^^
    Next chapter 2 jgn kelamaan yah penasaran sama baekhyun hihi

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s