[EXOFFI FREELANCE] Missing You (Oneshot)

ATT_1472964003956_241522

Author →→ Hyull

Web →→ hyull.web.id

Cast →→ Yoona (SNSD), Sehun (Exo), Mino (Winner), Tzuyu (Twice).

 

 

Missing You

 

♡ Yoona Pov

Ketika kau mengatakan padaku, bahwa aku hanyalah masa lalumu. Aku puas. Setidaknya kini aku tak lagi merasa canggung disaat berada didekatmu. Tapi kini, kulihat kau bersama wanita lain. Aku berharap puas, dengan begitu akan lebih mudah untukku melupakanmu. Tapi kenapa? yang terjadi malah air mata ini mengalir dengan sendirinya.

 

Kulalui hari-hariku dengan penuh pertahanan. Bertahan agar tidak merindukanmu. Walau tetap saja, jantungku tetap berdebar walau kau berada jauh disana.

 

Kita yang terpisahkan beberapa meja kerja. Kita yang tak lagi saling tatap. Kita yang nyaris tak saling kenal. Luar biasa usahaku untuk melupakanmu. Termasuk dengan niatku untuk keluar dari pekerjaan ini. Bertemu denganmu setiap harinya, berada diruangan yang sama denganmu, kurasa hanya akan mempersulitku untuk melupakanmu. Ya benar sekali, aku harus segera keluar dari sini.

 

♡ Sehun Pov

5 tahun lamanya kulalui hidup ini tanpamu. Menahan diri untuk tidak menghubungimu, apalagi melihatmu. Hanya selembar foto ini yang kupunya, foto dirimu yang masih aku simpan di sela dompetku.

 

Merasa bahwa aku sudah siap kembali. Dan memilih meninggalkan kota ini. Ya, akhirnya aku kembali ke Seoul setelah 5 tahun lamanya menetap di Jepang.

 

Aku juga sudah siap bekerja di sebuah perusahaan ternama di Seoul. Mungkin nantinya aku akan bertemu dengannya, karena yang aku ketahui, dia masih berada di Seoul. Tapi kurasa aku dapat mengatasinya. Aku hanya perlu berpura-pura tidak mengenalnya. Huh. Pasti akan sangat menyakitinya. Tapi aku tidak ada pilihan lain. Lagi pula aku juga sudah melakukan hal yang sama 5 tahun yang lalu.

 

Sayangnya apa yang aku pikirkan tidak seperti kenyataannya. Keadaanku malah menjadi rumit. Dan aku sungguh tidak memiliki persiapan. Persiapan untuk bertemu dengannya, apalagi harus berada di perusahaan yang sama dengannya. Parahnya aku juga berada di ruangan yang sama.

 

Tidak hanya aku yang terlihat kaget, begitu juga dengan dirinya. Walau sebenarnya aku lebih ahli dalam menyimpan perasaanku. Dapatku rasakan tatapan penuh kerinduan dari wajahnya. Ingin sekali memeluk erat dirinya, tapi yang kulakukan hanya mengepalkan kedua tanganku dan sekuat mungkin menahannya. Memasang wajah asing terhadapnya. Aku berlaku normal terhadapnya bahkan terlalu asing. Juga aku sadari itu, raut kecewa di wajahnya, tapi segera aku tepis jauh-jauh.

 

Sebulan sudah aku bekerja disana. Sebulan juga aku dan dia berada diruangan yang sama. Dan sebulan juga kami sukses tak bersapa. Sayangnya hal itu tak juga membuatku bisa melupakannya. Malah semakin membuatku merindukannya. Merindukan perhatiannya padaku. Merindukan senyuman diwajahnya. Merindukan tawanya. Tidak bisa, aku tidak bisa terus seperti ini. Aku harus segera mencari cara. Cara agar aku dapat mengalihkan pikiranku darinya.

 

Kebetulan aku mendadak populer di kantorku. Mungkin dikarenakan wajah tampanku dan tubuh atletisku. Banyak gadis yang mendambakanku. Banyak juga yang menyatakan cinta padaku. Setiap harinya aku bisa membawa pulang banyak hadiah dengan beragam isi. Luar biasa sekali bukan? Kupikir aku harus memanfaatkan itu.

 

Karena itu, beberapa hari kemudian kuputuskan untuk menjalin hubungan dengan salah satu dari mereka. Gadis itu bernama Tzuyu. Ia gadis yang manis. Kulitnya tidak terlalu putih, rambutnya panjang terurai lurus. Ia juga sangat baik. Cara bicaranya terdengar manja, namun tidak berlebihan. Ia juga sangat perhatian padaku. Namun tetap saja, aku masih saja memikirkannya. Yoona. Sahabat masa laluku. Lalu, sebenarnya apa yang telah terjadi antaraku dan dirinya?

 

<<Flashback

 

5 tahun yang lalu disaat kami baru saja menyelesaikan kuliah di salah satu universitas yang ada di Seoul. Aku, Yoona, dan Mino—juga sahabat kami—merayakan kelulusan kami disebuah kafe favorit kami.

 

Kami duduk di sudut kafe yang memiliki view paling indah. Dari sana kami dapat melihat pemandangan yang cantik dari Sungai Han. Aku dan Yoona sama-sama memesan strawberry milkshake. Minuman favorit kami jika berada di kafe itu. Lalu Mino memilih memesan americano, yang juga minuman favoritnya.

 

Kami menikmati beberapa santapan lainnya yang kali ini lebih banyak dari biasanya. Dapat kulihat ekspresi kekenyangan dari wajah kedua sahabatku. Tapi tentu perhatianku berakhir pada wajahnya. Yoona. Ketika itu ia terlihat sangat imut. Dengan pipinya yang mulai terlihat gembung, rambutnya sedikit berantakkan, dan matanya yang berkali-kali mengatup karena mulai merasa mengantuk. Hal biasa jika Yoona sudah kekeyangan.

 

Disela itu kulihat Mino beranjak di kursinya lalu melangkah menuju toilet. Tinggallah aku disana bersama Yoona. Sedikit gugup, kuusahakan untuk bertanya padanya.

“ yak, setelah ini apa yang akan kau lakukan? “ tanyaku dengan gayaku yang seperti biasa. Kulihat Yoona yang tengah berusaha menyadarkan dirinya dari rasa kantuknya.

“ naega? Hem.. molla. Wae? “ jawabnya dengan mata bulatnya yang tengah menatapku langsung di hadapanku. Jantungku mulai berdebar, aku harus mengatakannya. Penuh percaya diri, ku paksa mulutku untuk melontarkannya.

“ ikutlah denganku. Aku akan ke Jepang. Kita bisa cari kerja di sana. Bersama kurasa akan lebih menyenangkan. “ Yoona terlihat tengah memikirkannya.

“ kenapa harus denganku? Kau bisa saja mengajak Mino.. “ jawab Yoona setelah itu.

“ aku hanya ingin dirimu. “ sahutku cepat. Siapapun yang mendengarnya pastilah dapat merasakan kesungguhan dari perkataanku. Yoona bahkan terdiam dalam tatapanku. Ia berdehem pelan. Suasana pun berubah canggung.

“ kau juga harus mengajak Mino.. dia pasti.. “

“ aku hanya ingin kau. “ selaku lembut seperti kilat. Dengan mataku yang menatapnya tajam penuh kehangatan.

“ Sehun-a, wae geurae? “ katanya yang mulai menyadari perubahan pada diriku.

“ pergilah denganku. Hanya dirimu yang ku inginkan. “ ulangku kesekian kalinya.

“ wae? “ tanya Yoona terlihat ragu.

“ karena aku akan sulit melewati hari-hatiku tanpamu. “ ujarku penuh keseriusan. Tidak menghiraukan debaran jantungku yang pecah semarak. Yoona kembali terdiam dalam tatapanku. “ aku tahu, aku sudah mengingkari janji kita. Mian. “ kataku setelah itu. “ tapi inilah kenyataanya.. “

“ ani, kupikir kau telah salah mengira. Cobalah untuk.. “

“ aku menyukaimu. “ ungkapku menyelanya cepat. Kulihat wajahnya yang menegang.

“ mwo? “ dan Mino tiba lebih cepat dari dugaanku. Dan sepertinya ia telah mendengar perkataanku. “ yak, apa yang baru saja kau katakan? Menyukainya? “ tanya Mino dengan giginya yang bertaut rapat.

“ Mino-a, aku tau aku salah, tapi.. “ Mino mencengkram kerah bajuku hingga membuatku berdiri menghadapnya.

“ kau lupa dengan janji kita? Tidak ada perasaan apapun diantara kita! “ bentak Mino yang membuat beberapa pengunjung kafe menoleh ke arah kami.

“ aku hanya ingin jujur. “ jawabku tak bisa berbuat apa-apa. Melihat keseriusan wajahku, cengkramannya terlepas dari bajuku.

“ lalu bagaimana denganmu? Kau, kau juga menyukainya? “ tanya Mino ke Yoona. Ia terlihat sangat kecewa padaku.

“ … “ Yoona tak menjawab apapun. Tidak tahu mengapa, dia hanya diam menundukkan wajahnya.

“ hoh. Kalian membuatku tampak bodoh. Jadi, selama ini kalian sudah saling suka? Dibelakangku? Tanpa sepengetahuanku? “ ujarnya dengan suaranya yang tertahan. Menatapku dan Yoona bergantian, dengan matanya yang sudah memerah menahan emosi.

“ Mino-a.. “ sela Yoona yang merasa kasihan melihat kondisi Mino.

“ hari ini cukup sampai disini. Aku pergi dulu. “ Meraih ranselnya dan langsung melangkah cepat keluar dari kafe. Suasana berubah hening. Tak ada satupun yang mengeluarkan suara. Kulirik Yoona, tak kusangka, ia tengah menangis. Membuat hatiku perih melihatnya.

“ Yoona-a.. “ tegurku pelan.

“ aku pergi dulu. “ dan dia juga memilih pergi meninggalkanku disana seorang diri. Berusaha bersikap tenang. Perlahan aku melahap sisa makananku hingga perutku benar-benar tak menerima apapun lagi. Hal hasil aku merasa mual dan memuntahkan semuanya di toilet kafe. Setelah itu terduduk lemah di atas jamban. Meratapi nasibku. Trrrt! Trrrt! Trrrt! Kulihat layar ponselku yang menampilkan foto Yoona. Ia meneleponku. Aku mulai gugup, tapi berhasil tenang dan mulai menerima panggilanku.

“ Sehun-a, Mino.. Mino.. “ kata Yoona diiringi tangisnya. Sedetik kemudian aku langsung berlari keluar dari toilet. Langkahku tak terhenti hingga aku melangkah keluar dari kafe tersebut.

 

Berlari seperti orang gila. Menuju tempat yang baru saja disebutkan Yoona. Kakiku mendadak terhenti. Malah melemas. Kulihat diseberang jalan, beberapa meter dihadapanku. Sekumpulan orang tengah mengerumuni seorang pria. Seorang pria yang terlihat tengah sekarat dengan tubuhnya yang sudah dilumuri banyak darah. Dapatku lihat juga, Yoona yang tengah memeluk pria tersebut. Dengan tangisnya yang pecah. Perlahan, dengan langkah gontaiku, melangkah mendekat.

 

Seakan ragaku terlepas dari tubuhku. Merinding hingga merasa mual. Kulihat Mino yang tengah berusaha bernafas dengan sisa tenaganya. Menatap Yoona yang tengah memeluknya. Kuusahakan untuk menghampiri mereka. Meringkuk disamping Yoona. Menggenggam tangan Mino yang sudah berlumuran darah. Dapat kurasakan tangannya yang terasa dingin, dan bergetar seakan tengah menahan sakit.

“ Mino-a.. “ panggilku dengan airmataku yang mulai mengalir. Kulihat Mino yang berusaha berkata, namun yang terdengar hanya suara nafasnya yang tersengal. Tiba-tiba saja Mino terbatuk hingga mengeluarkan gumpalan darah. Yoona menjerit tak kuasa menahan kesedihan itu. “ Mino-a, bertahanlah.. “ seruku berusaha meyakinkan diri. Bahwa Mino akan baik-baik saja. Tapi ia kembali memuntahkan banyak darah. Tangannya yang ku genggam menegang, dan semakin terasa dingin. Pada detik itu, ia menatapku dengan sisa kekuatannya. Tepat disaat air mata mengalir di wajahnya, wajahnya yang nyaris tertutupi darah, tangan yang kugenggang itu melemas. Begitu juga dengan matanya yang sudah tertutup rapat. Yoona semakin histeris, ia mengguncang tubuh Mino, tapi tak ada reaksi apapun. Kusadari itu, Mino sudah meninggalkan kami.

 

>>Flashback End

 

♡ Yoona Pov

Saat ini jam makan siang. Kantor terlihat sepi. Bahkan terlalu sepi. Yang tersisa hanya aku. Dengan bekal yang kubawa dari rumah, memaksa mulutku mengunyah walau sesungguhnya aku sama sekali tidak berselera.

 

Menyeruput minumanku hingga tak tersisa. Kulihat jam istirahat masih sangat lama. Dengan begitu aku masih memiliki banyak waktu untuk bersantai. Aku memilih keluar dari ruanganku. Menunggu pintu lift terbuka. Suara dentingan terdengar pertanda pintu lift akan terbuka. Aku bersiap untuk melangkah masuk. Mendadak jantungku melemah. Kulihat Sehun dan Tzuyu di sana. Dengan bergandengan tangan. Tidak mungkin untukku melangkah mundur, dengan begitu kupaksakan untuk melangkah masuk. Cepat-cepat ku tekan tombol lantai teratas.

 

Kulihat tombol lantai dasar yang lampunya menyala. Karena hanya ada kami bertiga disana, itu berarti merekalah yang hendak ke lantai dasar. Menelan kepahitan itu dalam-dalam. Berusaha tenang. Berdiri didepan mereka seperti patung. Aku terlalu gugup. Bahkan tak berani melirik mereka dari pantulan tembok lift yang ada dihadapanku.

 

Lift bergerak keatas hendak mengantarku terlebih dahulu. Padahal aku berharap mereka dulu yang keluar. Aku sudah terlalu merasa sesak berada di lift bersama mereka. Beberapa kali kudengar suara Tzuyu yang berlaku manja kepada Sehun. Rasanya mau muntah mendengarnya. Aku bahkan tidak pernah sekalipun bertingkah seperti itu. Syukur tidak lama dari itu pintu lift terbuka. Segera aku keluar dari sana. Melangkah menjauh tanpa sekalipun melihat kebelakang.

 

Menaiki anak tangga menuju atap gedung. Sesampai disana, berdiri di tepi gedung. Meletakkan lenganku di dinding pembatas. Menikmati angin segar. Musim gugur membuat udara terasa lebih dingin. Aku yang lupa menggunakan jaket tentunya merasa dingin. Tapi tidak terlalu melemahkanku. Aku malah semakin menikmati waktu sendiriku.

 

Mengamati keindahan disekitar gedung kantorku. Berada diatap sudah menjadi hal rutinku.  Hanya disana aku bisa merasakan ketenangan. Aku bisa merasakan hempasan angin musim gugur yang dingin tapi menyejukkan. Mendengarkan musik kesukaanku.

 

Saat ini aku mendengarkan lagu terbarunya Lee Hi yang berjudul Missing You. Sesuai dengan isi hatiku saat ini. Sebenarnya aku tidak benar-benar ingin mendengarnya, tapi entah mengapa tanganku bergerak dengan sendirinya dan terputarlah lagu itu. Dan pada saat itu juga, aku baru menyadarinya. Airmata mengalir di wajahhku. Segera kutepis dengan cepat. Uhuk! Uhuk! Mendadak terbatuk. Sepertinya tubuhku mulai kedinginan. Sialnya aku lupa membawa jaket hari ini. Hanya kemeja tipis ini yang kugunakan, perkara takut telat karena telah telat bangun pagi ini. Tidak ingin kedinginan lebih lama, cepat-cepat aku melangkah pergi dari sana.

 

Menuruni anak tangga dengan hati-hati. Lalu menunggu pintu lift terbuka. Tak lama dari itu pintu lift terbuka dan aku segera masuk kedalamnya. Padahal lift kantorku memiliki penghangat, tapi mengapa aku masih merasa dingin? Hah, mungkin perasaanku saja. Aku tiba di lantai 5 dimana ruang kantorku berada. Sedikit berlari menuju ruanganku. Sesampaiku di meja kerja, segeraku periksa laci meja kerjaku. Oh tidak! Baru ku ingat, beberapa hari yang lalu aku telah membawa pulang selimutku untuk kucuci dirumah. Lalu bagaimana aku sekarang? Karena penghangat ruanganku tidak berhasil menghilangkan hawa dingin yang telah bersarang di tubuhku. Kupilih cara lain untuk menghangatkan tubuhku.

 

Kembali berlari dan kini lebih kencang. Masuk kedalam dapur kantor. Disana sepi tidak ada seorangpun. Kuambil cangkir kosong. Kubuka bungkusan coklat bubuk. Kutuangkan kedalam cangkir dan langsung kuiisi dengan air panas. Sembari mengaduknya, aku melangkah ke sudut dapur. Duduk disebuah kursi yang terdapat meja kecil didepannya. Disampingku terdapat dinding kaca yang dapat membuatku bisa melihat keluar gedung. Dengan coklat panas itu, aku menikmati sisa waktu istirahatku.

 

♡ Sehun Pov

Makan siang bersama Tzuyu selalu aku lakukan. Bukan keinginanku, tapi keinginan Tzuyu.  Siang ini kami memilih restoran jepang, sesuai yang Tzuyu pinta padaku. Kulihat ia menikmati makanannya, tapi tidak denganku. Itu karena aku alergi daging mentah dan Tzuyu tidak mengetahui itu.

“ kau tidak makan? “ tegurnya.

“ aku belum lapar. Makanlah, aku akan menunggumu. “ jawabku berusaha lembut. Tzuyu selalu tersenyum ketika aku berbicara lembut kepadanya. Tapi malah membuatku semakin menyesalinya. Menyesal telah berpacaran dengannya.

 

Tidak ingin berlama-lama disana. Aku meminta untuk segera kembali ke kantor. Disaat melangkah menuju mobil yang berada di halaman restoran, angin dingin berhembus kencang. Lantas mendadak wajah Yoona langsung memenuhi pikiranku. Aku ingat itu. Pada saat di lift, aku melihat bahwa Yoona hanya menggunakan kemeja tipis tanpa balutan jaket ataupun sweater. Kebiasaan buruknya dari dulu yang ternyata tak berubah sedikitpun. Berkat itu, menyetir pun jadi tidak fokus. Bahkan aku tidak mendengarkan perkataan Tzuyu. Hanya fokus pada jalanan dengan wajah Yoona yang melayang di pikiranku.

 

Kami tiba di kantor. Aku mengantar Tzuyu yang kebetulan bertempatan di ruangan berbeda dan setelah itu barulah aku masuk kedalam ruanganku. Kosong. Mejanya kosong. Apa dia masih diatap? Dengan baju setipis itu? Kakiku mendadak gatal, memaksaku untuk berlari menuju lift. Tapi aku berhasil menahannya. Berusaha tenang. Aku melangkah melewati meja kerjanya, lalu duduk di meja kerjaku yang hanya berjarak 2 meter saja dari mejanya.

 

Jarum jam terus berputar begitu juga dengan karyawan diruanganku yang mulai berdatangan. Hingga akhirnya yang tersisa hanya Yoona seorang. Ia tidak kunjung datang. Tanpa sadar aku terus melihat kearah meja kerjanya. Kakiku menghentak-hentak lantai tak bisa tenang. Aku mendengus saking gelisahnya. Kurasa aku tidak bisa mengulurnya lagi. Segera aku melangkah cepat keluar dari sana. Berdiri di depan lift menunggu pintunya terbuka.

“ sudah kau bangunkan? “ kata seorang karyawan yang sedang berdiri dibelakangku.

“ biarkan saja, Yoona memang sering tidur di dapur. “ jawab temannya disampingnya yang juga tengah menunggu lift. Dalam diam aku mendengarkan semuanya.

“ tapi kulihat wajahnya pucat sekali.. “

“ benarkah? Aku tidak melihat itu. “ dan pintu lift pun terbuka. Mereka langsung masuk kedalam lift. Tapi tidak denganku. Ragu-ragu aku mulai melangkahkan kakiku. Menuju dapur dimana Yoona tengah berada.

 

Benar seperti yang mereka katakan. Yoona memang terlihat tengah tertidur disana. Disudut dapur, bersandar pada dinding kaca. Aku dapat melihat wajah itu, wajah yang sangat aku rindukan. Tanpa perintah kakiku melangkah mendekat. Wajahnya memang terlihat pucat. Tentu aku mendadak mencemasinya. Tanpa ragu, ku sentuh keningnya. Panas. Sangat panas. Tidak bisa diam begitu saja. Langsung ku gendong tubuhnya ke dalam pelukkanku. Berlari kecil keluar dari dapur menuju lift. Tidak menghiraukan Tzuyu yang tengah memperhatikanku dari ruangannya. Juga tidak menghiraukan panggilan Tzuyu yang ku tebak tengah cemburu dengan aksiku.

 

Berdiri gelisah didalam lift yang kebetulan hanya ada aku dan Yoona. Dapat kulihat keringat dingin yang membasahi keningnya. Aku sangat tahu itu, Yoona sangat menyukai musim gugur apalagi musim dingin. Tapi tubuhnya tidak pernah bisa bersahabat dengan kedua musim itu. Tubuhnya tidak tahan dengan udara dingin. Dan akibatnya seperti ini, ia akan terserang flu dan demam. Nakalnya, Yoona tidak pernah memedulikan tubuhnya. Ia terlalu meremehkan kondisi kesehatannya. Karena itu dari tadi aku tidak bisa tenang.

 

Saat ini kami sudah berada di dalam mobil. Aku menyetir dengan kencang dengan tanganku yang sesekali menggenggam tangannya. Kurasakan tangannya yang dingin, berbeda dengan lengannya yang kelewat panas. Mencari rumah sakit terdekat agar gadis ini segera di obati. Syukur ada rumah sakit yang jaraknya tidak terlalu jauh dari kantorku. Mobilku langsung meluncur memasuki halaman rumah sakit. Seorang perawat membuka pintuku. Kuperintahkan untuk langsung mengangkat Yoona. Seraya mengikuti mereka yang sudah membawa Yoona, aku menjelaskan kepada mereka apa yang telah terjadi.

 

Satu jam berlalu. Aku sedang menunggu dokter di sebuah ruangan. Ditemani seorang perawat, akhirnya dokter itu datang. Ia langsung menjelaskan kepadaku mengenai kesehatan Yoona. Syukurnya tidak terlalu berbahaya. Dokter itu hanya memintaku untuk mengawasi Yoona agar tetap istirahat dalam 3 hari kedepan.

 

Aku keluar dari ruangan itu dan mulai melangkah menuju kamar Yoona. Dari kaca pintu kamar itu, dapatku lihat Yoona yang sedang mengobrol dengan seorang perawat. Ternyata dia telah sadar. Dan keberanianku untuk bertemu dengannya pun runtuh. Aku malah melangkah pergi dari sana. Tidak,bukan mengenai keberanian. Tapi mengenai rasa bersalahku terhadap Mino sahabatku.

 

Masih diparkiran rumah sakit. Duduk diam didalam mobilku. Dengan tanganku yang memegang ponsel. Layar ponsel memperlihatkan sebuah kontak bertuliskan Omonim—ibu yoona—kupikir aku harus menghubungi ibunya. Karena yang kutahu ia pasti tidak akan mengatakan kepada ibunya itu. Kuberanikan diri untuk menghubungi nomor itu.

“ yeoboseyo? “ sapa ibunya. Mendengar suara itu seakan membentur batinku. Aku sangat merindukan Omonim. Yang dulunya sangat menyayangiku. Bahkan telah kuanggap seperti ibuku sendiri.

“ a-annyeong haseyo.. “ sahutku ragu-ragu. “ saya teman kantor Yoona. Saya ingin mengabarkan. Saat ini Yoona sedang dirumah sakit.. “ tidak ada respon apapun dari ibunya. Dengan begitu aku kembali melanjutkan perkataanku. “ kata dokter itu hanya demam biasa. Ia hanya perlu istirahat selama 3 hari. Saya mengabarkan anda agar anda bisa menemaninya dirumah sakit. Jadi.. “

“ Sehun-a? “ katanya. Aku terdiam kaget. Ia mengenalku? Jelas sekali bahwa aku menggunakan nomor yang berbeda. “ Sehun-a.. benar ini kau nak? “ katanya lagi. Tenggorokkanku tercengat. Bagaimana bisa dia mengenaliku? “ Sehun-a.. aku yakin ini kau. Aku sangat mengenal suaramu. “ sungguh, aku tidak tahu hendak berkata apa. Juga tak bisa mengelak lagi. Ingin langsung memutuskan panggilan itu, tapi itu benar-benar tidap sopan, apalagi dia wanita yang sangat aku hormati. Dengan terpaksa aku menanggapinya.

“ ne omonim, ini aku.. “ kataku setelah itu.

“ omona.. Sehun-a.. dimana kau sekarang? Bagaimana keadaanmu? Apa kau sehat? Kau baik-baik saja? Aku sangat mencemaskanmu.. dengan siapa kau tinggal? Kau pasti sendirian.. kenapa kau tidak mengabariku sekalipun? 5 tahun sudah aku mencarimu.. “ ujarnya panjang lebar. Membuat airmata bergenang di mataku.

“ mianhaeyo omonim. Aku tidak bisa menceritakannya sekarang. Omonim.. mian aku harus segera memutuskan panggilan ini. Aku akan menghubungimu lagi. Atau mungkin aku akan menghampirimu. Sampai jumpa nanti omonim.. annyeong.. “

“ aku akan menunggumu Sehun-a.. “ dan aku langsung memutuskan panggilan itu. Hening. Yang terdengar hanya deru nafas pasrahku.

 

♡ Yoona Pov

“ eomma? “ sapaku yang heran melihat kedatangan ibuku di kamar inap itu.

“ kau! “ bukannya mengkhawatirkan anak satu-satunya ini, ibuku malah memukul lenganku.

“ eomma! Kenapa kau memukulku?! “

“ kenapa kau tidak pernah mengatakan padaku kalau kau sudah bertemu dengan Sehun?! “ tanya ibuku penuh amarah.

“ ee? Eomma, apa maksudmu? “ tentu aku tidak paham maksudnya.

“ tadi Sehun menghubungiku. Dia yang mengabariku mengenai keberadaanmu disini. Kalian satu kantor? Hoh! Bagaimana bisa kau menyembunyikan hal ini dariku?!! “ kembali memukul lenganku. Memang tidak kuat, tapi cukup terlihat marah.

“ m-mwo? Sehun menghubungimu? Eomma, kau serius? “

“ buat apa aku berbohong padamu! Jadi benar? Benar kalian satu kantor? “

“ eomma, duduklah.. “ kataku berusaha membuatnya tenang. Aku dapat memaklumi itu. Ibuku sangat menyayangi kedua sahabatku.

“ cepat ceritakan ke eomma.. “ meringis penuh kerinduan. Kulihat ibuku yang sudah duduk di sebuah kursi, disamping tempat tidurku. Perlahan aku mulai menceritakannya.

“ ne, majjayo, kami berada di kantor yang sama. Ani, di ruangan yang sama dan pada tim yang sama. “ sebelum ibuku memotong pembicaraanku, cepat-cepat aku menambahakan. “ aku tidak bisa memberitahumu, itulah yang ia inginkan. “ kulihat raut kecewa di wajah ibuku. “ eomma juga tahu, Sehun masih menganggap dirinya penyebab dari kematian Mino.. kurasa karena itu, hingga saat ini ia masih menjauh dari kita. “ jelasku yang sudah menggenggam tangan ibuku. Berusaha menguatkan ibuku yang sudah menangis pelan. “ eomma, kuatlah.. “

“ eomma sangat mengkhawatirkannya.. ia tidak memiliki siapapun, sejak dulu eomma yang sering mengawasinya, bagaimana ia sekarang? Eomma selalu memikirkannya. Eomma tahu bahwa ia memiliki warisan orangtuanya yang berlimpah, tapi tetap saja hidup seorang diri itu pasti sangat menyedihkan, dia pasti sangat kesepian.. “

“ eomma, aku juga tidak bisa berbuat apapun. Dialah yang memintaku untuk tidak saling kenal. Dia, dia sudah menganggapku masa lalunya. “ kutelan tangis yang nyaris pecah.

“ bukankah kalian saling suka? “ aku terdiam. Ya, ibuku mengetahui itu. Tak ada yang tak ibuku ketahui mengenai kami.

“ aku masa lalunya eomma.. “ kataku mengingatkan.

“ ani. Eomma yakin, bahkan sangat yakin. Dia masih menyayangimu. “ bantah ibuku.

“ eomma sudahlah.. “

“ dia yang membawamu kesini. “ kata ibuku. Tentu sulit untukku mempercayainya. “ dia juga yang mengabariku. “ hanya bisa diam. “ dari suaranya saja eomma bisa merasakan itu, bahwa ia sangat mengkhawatirkanmu. “ ibuku membalas genggaman tangan. “ Yoona-a, cobalah mendekatkan diri padanya. Tidak perlu berharap lebih. Satu hal yang harus kau pastikan. Buat dia melupakan kejadian 5 tahun yang lalu itu. Yakinkan padanya bahwa itu bukan kesalahannya. Kepergian Mino bukan dikarenakannya. Bisa kau lakukan itu? “ aku menghela nafas dengan berat. “ ayolah Yoona-a.. kau pasti bisa.. “ bujuk ibuku sedikit memelas. Membuatku serba salah. Pada akhirnya aku hanya bisa mengangguk mengiyakan.

 

♡ Sehun Pov

3 hari sudah berlalu. Kulihat meja kerjanya, masing kosong. Pagi ini aku datang lebih awal. Sejujurnya karena ingin memastikan apakah ia datang atau tidak. Tidak kusangka ternyata ia juga tak terlihat hari ini. Tentu kembali gelisah. Kulihat kontak nomor di ponselku. Nomornya masih tersimpan di ponselku. Tidak pernah terhapus walau aku telah mengganti nomor dan ponselku. Bahkan aku menghafal nomornya dengan baik. Begitu juga dengan nomor ibunya, yang kini semakin aku rindukan setelah mendengar suaranya 3 hari yang lalu. Klek! Suara pintu terbuka. Tepat ketika aku menoleh, terlihatlah dia disana. Melangkah menuju mejanya. Jujur, aku sangat lega melihatnya yang terlihat sudah baikan.

“ semuanya, kumpul di ruang rapat. “ teriak salah satu rekanku. Menyempatkan untuk meliriknya sejenak, dan segera bergegas untuk memasuki ruang rapat.

 

Rapat selesai setelah satu jam lebih lamanya berdiskusi. Hasil dari rapat, besok timku akan berangkat ke Pulau Jeju untuk melakukan beberapa pemotretan untuk edisi majalah terbaru kami. Ya, timku. Yang berarti Yoona juga ikut bersama kami.

 

Perasaan senang dan cemas bercampur aduk. Senang bisa berada didekatnya apalagi kali ini kami bersama-sama mengunjungi Jeju, dimana dulunya kami pernah berlibur ke Jeju ketika masih ada Mino. Aku cemas bagaimana nantinya? Terlalu banyak kenangan kami disana. Aku takut bahwa aku akan mengingkari janjiku, janjiku pada diriku. Janji seperti apa?

 

Tepat setelah kepergian Mino. Tentu aku menganggap bahwa kematiannya dikarenakanku. Aku sudah melanggar perjanjian kami. Dan Mino tertabrak mobil setelah mengetahui kesalahanku. Andai saja pada saat itu aku tidak menyatakan perasaanku ke Yoona, Mino pasti tidak akan meninggalkan kami. Dengan itu aku berjanji, untuk tidak mengganggu kehidupan Yoona. Aku sudah membuat sahabat kami pergi. Aku tidak ingin Yoona terluka karenaku. Begitulah yang kupikirkan.

 

Selesai rapat kami kembali ke ruangan masing-masing. Oh tidak, kulihat Tzuyu di ambang pintu, tengah melambaikan tangannya kearahku. Segera aku menghampirinya sebelum ada yang melihat aksinya itu. Kantor kami memang tidak melarang hubungan antar karyawan, tapi aku hanya tidak ingin hubunganku diketahui orang.

“ kudengar kau akan ke Jeju? “ tanya Tzuyu dengan mimik imutnya.

“ hem.. “ sahutku seraya mengangguk.

“ aku mau ikut! “ serunya memaksa.

“ kami bukan berlibur.. “ jawabku malas.

“ tetap saja aku ingin ikut! “ entah mengapa aku merasa bosan total. Benar-benar menyesal.

“ sebaiknya kau kembali keruanganmu. Aku harus lanjut kerja.. “ aku sudah berdiri hendak melangkah.

“ mmm.. aku mau ikut.. “ mulailah ia mengeluarkan aegyonya yang paling tidak kusuka. Syukur kami berada di lorong sempit sehingga tidak ada yang melihat. Mencoba tidak menghiraukannya, aku mencoba melangkah. Tapi Tzuyu memeluk tubuhku dari belakang. Aku semakin suntuk. Mendengus kesal. Kurasa ini batas kesabaranku. Kulepas tangannya dari tubuhku. Perlahan aku berbalik menatapnya. Tanpa berpikir aku langsung mengatakannya.

“ sepertinya hubungan kita sampai disini saja. “ kataku tanpa ekspresi. Tzuyu diam tan paham.

“ hehe.. kau bercanda? Jangan begitu.. kau. “

“ apa aku terlihat sedang bercanda? “ penuh keseriusan.

“ yak.. wae irae.. “ mendadak manyum memancing simpatiku. Sayangnya aku sedang bad mood.

“ ah, lagi pula kita tak benar-benar berpacaran. Kau sendiri yang mengatakan itu dulu. Baiklah jika begitu, urusan kita sampai disini saja. Aku pergi dulu. “

“ yak Oh Sehun! Kau jahat sekali! “ teriaknya kuat. Syukur tidak ada yang berada disekitar kami. Menahan amarah dan kembali menatapnya.

“ kau tahu aku jahat. Kenapa masih menyukaiku? “ kataku ketus. “ dari awal sudahku katakan, jika kau berpacaran denganku, kau harus siap tersakiti. Dan kau mengiyakan itu. Sekarang terimalah. Huh, hari ini aku lelah sekali, jadi kumohon jangan menggangguku lagi. “ tak ingin berlamaan disana, segera aku melangkah cepat meninggalkannya. Kenapa? Aku keterlaluan? Tidak juga. Aku bisa melakukan itu karena aku mengetahui, bahwa Tzuyu memiliki kekasih lain selainku. Aku tidak mempermasalahkan itu. Paling tidak sekarang aku sudah lega.

 

♡ Yoona Pov

“ Yoona-a, apa kau sudah sehat? Aku kaget sekali ketika melihat Sehun menggendongmu. Pada saat itu wajahmu pucat sekali. “ kata Seung Hoon yang juga berada di tim yang sama denganku. Tepat disaat dia berbicara denganku, Sehun melewati kami lalu duduk dimejanya.

“ aa.. aku baik-baik saja. Sudah biasa untukku.. hehe.. “ jawabku yang memang sudah akrab dengan Seung Hoon. Jauh sebelum Sehun kerja disini, aku sudah berteman dengan Seung Hoon. Satu-satunya teman priaku saat ini. Ia sudah seperti oppa bagiku.

“ kau tidak tahan dingin, bagaimana nanti di Jeju? Suhu disana pasti lebih dingin. “

“ gwenchanayo.. aku hanya perlu menggunakan pakaian tebal jika perlu berlapis-lapis. Hehe.. “ kucoba untuk melirik Sehun, ternyata dia sedang serius dengan layar monitor komputernya.

“ aish kau ini. Baiklah. Besok aku akan menjemputmu. “ sambung Seung Hoon yang sudah menggeser kursinya ke hadapan meja kerjanya yang berada di sebelahku.

“ ne.. gomawo.. “ ujarku berusaha imut padanya. Ia tertawa geli melihatku. Dan kami pun mulai bekerja.

 

♡ Sehun Pov

Saat ini kami sedang memasukkan tas ke dalam mobil. Kami yang hanya terdiri dari 8 orang memilih menggunakan 2 mobil untuk menuju airport. Dan kini mobilku sudah penuhi dengan 5 orang rekanku. Sisanya berada di mobil seniorku. Seung Hoon sunbae. Dan sisanya hanya Yoona seorang. Ya, mereka berduaan di mobil itu. Cemburu? Entahlah.

 

Aku menyetir santai menuju airport. Tak terasa kami sudah sampai. Karena aku junior diantara semua rekanku, maka aku yang mengurus semuanya. Tidak, anak itu mencoba membantuku. Sepertinya dia mengingat perkataanku dan berusaha bersikap normal di hadapanku. Dengan begitu aku juga bisa tenang dan menerima bantuannya. Bersama Yoona aku mengurus semuanya. Hingga kami memasuki pesawat. Tak kusangka dan sangat diluar harapan, aku dan Yoona berada di seat yang berdampingan. Dan hanya kami berdua.

 

Tidak ada alasanku untuk meminta bertukar tempat, dan pastinya akan menimbulkan tanda tanya jika aku melakukannya. Dengan berat hati aku menerima kondisi itu. Kulihat Yoona yang baru saja meletakkan ranselnya di kabin pesawat. Lalu mendahuluiku duduk di bagian seat disamping jendela. Sedikit gugup aku mulai duduk disampingnya. Ow! Jantungku berdegup kencang hanya karena lengan kami yang saling bersentuhan. Kulihat Yoona yang segera menarik jauh lengannya. Sebenarnya aku tidak terlalu mempermasalahkan itu, tapi sepertinya ia masih sangat menjaga kata-kataku.

 

Pesawat sudah lepas landas. Pemandangan kini terpampang indah dari balik jendela. Kulihat Yoona yang antusias hingga memotret pemandangan itu dengan ponselnya. Sekilas aku dapat melihat itu, wallpaper yang ia gunakan adalah wajah dari kami bertiga. Wallpaper yang sama seperti yang aku gunakan di ponselku. Tanpa sadar aku tersenyum akan itu. Beberapa saat setelah itu. Seorang pramugari memberikan kami sebuah hidangan. Sayangnya aku tidak menyukai itu. Dan aku juga tahu, Yoona juga tidak menyukai itu. Udang goreng yang diberi saus mayo diatasnya. Kulirik dia yang ada disampingku, benar dugaanku, ia menutup kembali kotak makanan itu.

“ yogiyo.. “ panggilnya ke pramugari yang berada dekat dengan kami. “ anda bisa mengambil kembali makanan kami. Maaf sekali bukannya tidak menghargai, tapi kami memang tidak suka udang. “ katanya kepada pramugari itu. ia mengangkat kotak makanannya juga milikku lalu diletakkan ke nampan yang dipegang si pramugari. “ sebagai gantinya, kami memesan strawberry milkshake saja. “ sambungnya.

“ baiklah jika begitu. 2 strawberry milkshake? “ sahut si pramugari.

“ ne.. “ dan dia kembali diam menatap keluar jendela. Lalu aku? Masih bingung dengan perlakuannya. Berusaha terlihat santai, aku memilih memainkan game dari ponselku. Lama menunggu akhirnya pesanannya datang. “ khamsahamnida.. “ ujarnya ramah. Ia membuka meja kursiku. Lalu meletakkan Milkshake itu disana. Tentu aku segera menoleh padanya, penuh tanya. “ nikmati saja. “ katanya tanpa melihat kearahku. Malah terlihat tersenyum seraya menyeruput minumannya. Kebetulan aku sedang lapar, akhirnya aku menyumpel mulutku dengan sedotan.

 

♡ Yoona Pov

“ wah.. benar-benar segar..! “ seruku setelah tiba di Jeju. Kulihat Sehun sedang mendorong troli yang sudah dipenuhi koper. Disampingnya Seung Hoon juga mendorong troli. Sebenarnya dalam tim ini hanya aku yang wanita. Yang lainnya pria, hehe.. hal biasa untukku karena dulunya aku juga bersahabat dengan dua pria. Apalagi ada Sehun bersamaku. Hem.. ya, ada Sehun didekatku. Fakta yang membuatku hingga saat ini masih sulit mempercayainya.

 

Kali ini kami menggunakan mini bus dikarenakan barang bawaan kami yang kelewat banyak. Dan kali ini Seung Hoon lah yang menyetir. Dan kembali terjadi, aku dan Sehun dapat jatah tempat duduk barisan paling belakang. Sebenarnya aku tidak masalah, hanya saja aku masih mengingat perkataannya 5 tahun yang lalu. Kau hanya masa laluku. Dan sekarang kupikir aku hanya perlu menikmati pekerjaanku ini.

 

Entah sengaja atau apa, Seung Hoon menyetir dengan brutal hingga membuatku berkali-kali terhempas ke Sehun. sepertinya Sehun tidak akan memarahiku. Terlihat dari gelagatnya yang hanya diam dan tetap duduk manis. Omo, aku kembali terguncang dan terhempas lebih kencang ke tubuhnya, sekilas seperti memeluknya. Oh tidak, jantungku berdebar hebat. Cepat-cepat aku menjauh darinya. Aku berdehem pelan berharap jantungku tak lagi kelewatan. Ternyata tetap saja begitu.

 

Kulihat plastik kresek yang ada di tengah-tengah antara aku dan Sehun. Ada beberapa kaleng cola disana. Karena merasa gugup, kupikir aku harus meneguk minuman. Lantas kuraih sebotol cola itu dan langsung kubuka. Sroott! Kini wajahku dipenuhi soda.

“ haachim! “ dan aku pun bersin hebat. Bukannya mengasihiku, mereka malah menertawaiku. Tidak, kini kurasakan tangan Sehun yang tengah menyeka sisa soda di wajahku. Dengan sapu tangan miliknya, bergerak lembut menyetuh wajahku, diiringan mimik wajah cemasnya. Kurasa ia sedang tidak menyadari perbuatannya. Haha. Benar sekali. Kini ia melempar sapu tangan itu kewajahku.

“ bersihkan sendiri! “ ujarnya ketus. Aku hanya bisa menahan tawa.

 

Kami tiba dihotel yang kebetulan lokasinya tepat di hadapan pantai. Bukannya mengurusi koper, aku malah asik berfoto ria di sana. Setelah puas berfoto, baru kusadari. Aku ditinggal sendirian di halaman hotel itu. Mengerang kesal seraya menarik koper besarku memasuki hotel. Mereka masi berada di lobi hotel, menunggu Sehun mengurus kamar. Kuputuskan untuk menyusul Sehun. Melihat gerak geriknya membuatku mengingat masa lalu kami. Dulunya ketika kami ke Jeju bersama Mino, Sehunlah yang selalu mengurus kami. Melihatnya kini yang berlaku sama, aku kembali tersenyum.

“ kau sedang apa? “ dan senyumku tertangkap olehnya. Segera kubuang jauh-jauh senyuman itu.

“ mau minta kunci kamar. “ jawabku santai seraya menjulurkan tangan kananku.

“ ini ambillah. “ memberikan kunci kamarku langsung ke tanganku. Lalu melangkah meninggalku. Ia kembali ke rekan kami lainnya. Aku selalu kesal dibuatnya. Dengan sisa rasa jengkel berkatnya, aku melangkah menuju lift dengan tanganku yang terus menarik koper besarku.

 

Tak kusangka kamarku besar sekali. Bukan hal aneh karena kebetulan kami memiliki seorang pimpinan yang royal. Aku menghempaskan tubuhku di kasur empuk itu. Ini nyaris seperti liburan. Dan yang lebih membuatku senang, ada Sehun bersamaku. Ya, benar kata ibuku. Aku harus mendekatkan diri padanya, lagi. Apapun penolakkan yang Sehun lakukan, aku harus bisa meluluhkannya. Dan menyadarkannya dari kesalahpahamannya. Baru saja hendak menutup mata, aku mendapat pesan dari Seung Hoon bahwa aku harus segera bersiap-siap karena perjalanan kami akan dimulai hari ini juga. Sepertinya ini akan melelahkan.

 

♡ Sehun Pov

Kali ini aku dapat jatah menyetir. Dan tetap saja, ada dia disampingku. Entah apa maksudnya, ia terlihat seperti tengah berusaha untuk mendekatiku. Kupikir ia akan memilih duduk disamping Seung Hoon sunbae. Tapi malah menyusut ke kursi paling depan, tepatnya disampingku.

 

♡ Yoona Pov

Saat ini kami menuju sebuah desa buatan yang sudah sangat terkenal. Beberapa adegan dalam drama fenomenal Jewel In The Palace atau Dae Janggeum juga diambil di sini. Tentu tempat ini tidak akan kami lewatkan. Membutuhkan waktu lama untuk kesana. Karena itu aku memilih duduk disampingnya. Maka itu aku bisa mengawasinya lebih dekat. Aku takut jika ia kelelahan dikarenakan lama menyetir.

“ minumlah. “ kataku yang sudah menyodorkan sebotol air mineral lengkap dengan sedotannya. Tepat di depan mulutnya.

“ singkirkan itu.. kau mengganggu konsentrasiku dalam.. “ mulutnya sudah kusumpel dengan sedotan. Ia melirikku sejenak dan terlihat jengkel. “ cepat minum.. “ perintahku yang akhirnya didengarkannya. Sebelum ia menepis tanganku, aku sudah lebih dulu menarik kembali sedotan itu dari mulutnya.

 

Beberapa jam kemudian kami tiba disana. Rekan-rekanku terlihat antusias dan sudah pada menghilang asik mengambil gambar. Begitu juga denganku. Tapi tidak dengannya. Kulihat Sehun yang tengah berbaring didalam mobil. Benar dugaanku, dia pasti kelelahan. Kubiarkan saja dia disana, ia butuh istirahat. Aku memilih mengikuti Seung Hoon oppa dan membantunya menentukan lokasi yang tepat untuk memotret. Kami sangat antusias hingga lupa bahwa hari sudah malam. Semuanya sudah mulai lapar. Merasa harus mengakhiri hari itu, Seung Hoon pun memutuskan untuk pergi dari sana. Ia menggantikan Sehun menyetir. Dan kali ini aku memilih duduk disamping Seung Hoon oppa.

 

Kami memasuki sebuah restoran yang letaknya sangat dekat dari hotel dimana kami menginap. Pesisir pantai dapat terlihat dari tempat duduk kami. Meja kami sudah dihidangkan banyak makanan. Tapi tak ada satupun yang Sehun suka. Ya, aku masih mengingatnya dengan jelas. Kebetulan pada saat itu aku duduk disampingnya. Kulirik dia yang sedang menyeruput jus strawberrynya.

“ pesanlah yang lain.. “ bisikku padanya.

“ tidak usah pedulikan aku. Urus saja.. “

“ yogiyo!! “ selaku yang sudah lebih dulu memanggil pelayan restoran. Sehun melirikku tajam, tapi tak ku hiraukan. “ aku pesan ayam goreng, tolong dagingnya langsung dipotong dadu. Ah, jangan pedas. Itu saja. “ jelasku ke si pelayan. Usai mencatat pesananku, si pelayang langsung melesat pergi. Ya, begitulah Sehun. Ia memang tidak memiliki nafsu makan. Hanya ayam goreng cincang yang ia sukai. Yang lembut dan mudah ditelan.

 

Selang beberapa menit setelah itu pesananku tiba. Langsungku sajikan ke hadapan Sehun yang berada disampingku. Terlihat malas, tapi akhirnya ia mulai menyantap pesananku itu. Ops! Baruku sadari. Kini semua rekanku termasuk Seung Hoon tengah melirikku dan Sehun bergantian.

“ aha.. kebetulan sekali aku mengetahui seleranya.. “ tentu mereka tidak akan mempercayai perkataanku. Berusaha tidak menghiraukan itu, kumasukkan banyak makanan kedalam mulutku. Barulah mereka berhenti melirik kearah kami.

 

Saat ini aku memilih berjalan kaki menuju hotel. Menikmati sejuknya udara pada malam itu. Sehun juga memilih berjalan kaki, sama sepertiku. Ah, tidak. Sebenarnya akulah yang mengikutinya. Melangkah dengan sedikit jarak dibelakangnya. Walau keadaan sedikit berbeda, tapi aku cukup bahagia. Mendadak aku teringat pada Mino. Ya, aku merindukannya. Brukk! Aku menubruk dada bidang Sehun. Ternyata aku telah termenung dan tidak menyadari Sehun yang tengah berdiri menghadapku. Dekatnya jarak kami membuatku lekas mundur selangkah.

“ kau mengikutiku? “ tanya Sehun padaku.

“ ne. “ jawabku keceplos. “ a-ani. “ jawabku setelah itu. Tapi nasi sudah menjadi bubur. Kulihat Sehun menatapku lama dalam diam. Seakan tengah berpikir keras. “ w-waeyo? “ tanyaku takut-takut.

“ kuharap kau belum melupakan perkataanku 5 tahun yang lalu. “ sedikit perih mendengar itu. Sehun segera berbalik dan melangkah menjauh. Entah mengapa, rasanya ingin menangis mendengar itu. Tapi segera kukuatkan diri.

 

♡ Sehun Pov

Kami sedang berkumpul di kamar Seung Hoon sunbae. Masing-masing sibuk dengan pekerjaan mereka. Begitu juga denganku yang tengah serius menulis laporan mengenai lokasi yang kami singgahi tadinya. Saking fokusnya tanpa sadar malam sudah semakin larut. Ketika aku alihkan pandanganku dari laptopku. Ternyata semua rekan-rekanku sudah tertidur lelap. Termasuk gadis itu. Aku mendengus melihat itu. Tentu aku tak mungkin meninggalkannya begitu saja disana. Setelah memikirkannya hingga berkali-kali, kuputuskan untuk menggendongnya.

 

Membawanya kekamar hotelnya. Sebelumnya aku sudah lebih dulu mendapatkan kunci kamarnya dari saku celananya. Kubuka pintu itu dengan susah payah. Lalu kututup dengan sebelah kakiku. Melangkah menuju kasur. Perlahan ku baringkan tubuhnya di kasur empuk itu. Sejenak aku terhanyut pada wajah imut itu. Reflek jemariku menyentuh wajahnya. Menepikan poninya dari keningnya. Desir hangat tersalur dari setiap sentuhan itu. Membuat jantungku kembali berdebar hebat. Segera kusudahi itu. Menyelimutinya dengan selimut dan langsung keluar dari kamar itu.

 

 

Ada apa denganku dan dirinya pagi ini? Kenapa kami menggunakan pakaian yang serupa? Apa dia sengaja atau ini memang hanya sebuah kebetulan. Semua rekanku sudah mulai menggoda kami dengan cibiran canda mereka. Kulihat Yoona yang malu-malu kucing seakan tergoda oleh perkataan mereka. Ingin menukar pakaian ini, tapi sudah tidak memiliki waktu. Itu karena perjalanan kami sudah kembali dimulai. Dan kali ini rekanku lainnya yang menyetir. Sedangkan aku duduk berdampingan dengan Seung Hoon sunbae di deretan paling belakang. Sedangkan Yoona tetap di kursi paling depan.

“ yak, ada apa sebenarnya diantara kalian? “ bisik Seung Hoon sunbae langsung ditelingaku.

“ hyung, apa maksudmu? “ ujarku pura-pura tidak paham.

“ sebulan sudah kau bekerja bersama kami. Dan sebulan sudah aku mengamatimu. Tepatnya mengamati kalian. Do nuguya?! “ bisiknya lagi. “ setahuku kau berpacaran dengan Tzuyu. Lalu siapa Yoona? Apa kau mempacari 2 orang gadis sekaligus? “ perkataannya sudah melantur entah kemana. Tapi aku tak menyangka bahwa sunbae mengetahui mengenai hubunganku dengan Tzuyu.

“ kau salah paham hyung. “ jawabku berusaha terlihat santai.

“ ah.. jadi kau akan tetap merahasiakannya? Baiklah. Aku akan mencari tahu langsung padanya. Kau sendiri tahu, aku sangat dekat dengannya. Awas saja kau! Ah, jangan menyakitinya! Dia gadis baik-baik. Aku tahu bahwa kau playboy kelas lobster. “ dan kembali fokus pada jalanan. Aku hanya bisa menghela nafas panjangku.

 

Kami tiba di Museum Teddy Bear. Belum juga aku turun dari mobil, Kulihat Yoona sudah lebih dulu berlari masuk kedalam gedung. Ya, aku tahu itu. Ia sangat menyukai boneka teddy. Sedikit tak bersemangat aku ikut masuk bersama yang lainnya. Kami kembali sibuk dengan tugas masing-masing. Dan aku hanya perlu mengamati setiap kinerja mereka lalu akan kubuat kedalam laporan.

“ jesong hamnida.. jesong hamnida.. “ seru Yoona diujung sana. Kulihat ia sedang menunduk meminta maaf kepada sepasang kekasih yang ada dihadapannya.

“ apa kau tidak lihat? Kau telah membuatku menumpahkan minumanku ke baju kekasihku! “ kata wanita itu lumayan kasar. Aku masih berdiri disini mencoba tidak menghiraukan itu.

“ apa yang harus aku lakukan agar anda bisa memaafkanku? “ kata Yoona setelah itu.

“ berlututlah dan meminta maaf dengan sungguh-sungguh! “ kupikir itu sudah kelewatan. Tidak bisa membiarkan Yoona melakukan itu. Cepat-cepat aku melangkah menghampiri mereka. Tepat sebelum Yoona hendak berlutut, aku menarik tangannya hingga membuatnya bergeser ke kebelakang tubuhku. “ apa yang kau lakukan! Siapa kau! “ bentak wanita itu melotot padaku.

“ anda membawa minuman? Bukankah pengunjung dilarang membawa masuk minuman? Haruskah aku laporkan ke.. “

“ aa.. lupakan perkataannya. Kami pergi dulu. “ sela si pria yang buru-buru menarik wanita cerewet itu dari hadapanku. Tinggallah aku disana dengannya. Menatapnya tajam tak suka.

“ bisakah untuk tidak membuat masalah? “ kataku ketus.

“ tidak janji. “ jawabnya tak kalah ketus dan meninggalkanku begitu saja. Hah, aku bahkan tak bisa berkata apapun melihat sikapnya itu.

 

Saat ini aku dan diri kebetulan berada di lokasi yang sama. Yoona sedang mengambil gambar teddy bear yang berkonsepkan pernikahan. Dan aku mencatat hal-hal penting dari setiap kalimat yang si pemandu lontarkan.

 

Entah apa maksud anak itu. Mengambil gambar kenapa semakin mendekatiku. Ia terus berjalan mundur hingga akhirnya menubruk tubuhku yang tak bersalah. Bukannya meminta maaf. Ia malah berkata..

“ jangan menghalangi jalanku. “ ucapnya dan langsung mengambil langkah lain. Membuatku lupa dengan apa yang baru saja si pemandu katakan.

 

Saat ini aku berada di bagian tumpukkan teddy yang bertemakan sebuah drama korea yang berjudul Gong atau yang lebih kita kenal dengan Princess Hours. Dan juga ada dia disana. Kurasa ia sengaja mengikutiku. Mencoba tidak menghiraukannya, aku pun memilih fokus pada penjelasan yang si pemandu katakan.

“ jogiyo, bisakah kau memotretku? “ pintanya ke pemanduku. Aku kesal bukan main.

“ yak! Kenapa kau terus menggangguku! “ bentakku geram.

“ hoh, siapa yang mengganggumu. Aku minta bantuannya bukan dirimu. “ sahutnya seakan tak merasa bersalah. Si pemandu hanya tersenyum dan mulai membantunya. Lalu aku? Hanya bisa menunggu seraya mengamati mereka yang asik mondar-mandir disana. Sejenak aku terhanyut pada wajahnya, yang tengah tersenyum dan terkadang terlihat imut. Kurasakan jantungku yang kembali berdebar dua kali lebih kencang.

“ kau tidak mau berfoto? Sinilah.. “ panggilnya memintaku untuk bergabung dengannya. Tentu aku tidak mau. Tidak, terpaksa mau karena kini tanganku ditarik olehnya. Ia merapatkan tubuhnya ke tubuhku. Lalu berseru kimchi.. luar biasa perbuatannya hari ini, dan menurutku sudah keterlaluan. Sudah kelewat geram, aku mengambil beberapa langkah menjauh darinya. Menatapnya penuh keseriusan. Melihat gelagatku terhadapnya membuat si pemandu sadar dan memilih pergi sejenak.

“ w-waeyo? “ tanyanya yang menyadari perubahan mimik wajahku.

“ keumanhaeyo. “ ujarku menahan kesal.

“ mwo? Apa yang salah? “ ia terlihat melawan.

“ ingatlah, kita sudah berbeda. “ kataku masih berusaha bertahan.

“ memangnya apa yang berbeda? Kau tetaplah dirimu. Dan aku tetap diriku. “ jawabnya menantang. Aku mendengus masih berusaha menahannya.

“ kuharap kau masih mengingat itu.. “ menatapnya lemah.

“ … “ kulihat dia tak menjawab apapun. Aku memilih memanfaatkan itu dan segera melangkah pergi. “ aku merindukanmu! “ serunya dengan kuat. Dugg! Seakan ada sesuatu yang membentur hatiku. Desir hangat menggelitik tubuhku. Kutahan diriku untuk tak menatapnya yang masih berdiri dibelakangku. “ tak bisakah kau kembali padaku? “ suaranya terdengar parau, kurasa ia sudah menangis. Aku mendadak gelisah. Ya, aku tidak bisa tenang jika mengetahui bahwa ia tengah menangis. Kupaksakan tubuhku untuk kembali menatapnya yang berada 5 langkah dihadapanku. Benar dugaanku, airmata sudah membasahi pipinya.

“ seka airmatamu sebelum yang lain melihatnya. “ hanya itu yang aku katakan dan Pada akhirnya benar-benar meninggalkannya disana.

 

♡ Yoona Pov

Dimana aku saat ini? Ditoilet. Menghabiskan tangisku yang tak juga berhenti. Melihat dirinya yang melangkah pergi seperti itu mengingatkanku pada kejadian 5 tahun yang lalu. Trauma itulah yang membuatku merasa takut. Takut jika ditinggal lagi olehnya. Tapi bagaimana ini? Sepertinya Sehun sangat bersungguh-sungguh dengan perkataannya. Tadinya aku sudah berusaha untuk terus mendekatinya, tapi nyatanya tak menghasilkan apapun. Menyeruput habis minuman botolku. Menenangkan diriku. Merasa sudah tenang, barulah aku melangkah keluar.

“ yak! Kemana saja kau?! Aku mencarimu hingga kelelahan seperti ini. “ bentak Seung Hoon oppa yang baru saja menghampiriku. Raut panik terpampang jelas di wajahnya.

“ aku disana.. “ kataku seraya menunjuk ke arah toilet.

“ mwoya, kenapa dengan matamu? Kau menangis? “ astaga! Aku melupakan itu.

“ oo.. ini.. aku.. “

“ pakai ini. “ Seung Hoon oppa sudah lebih dulu memakaikanku kaca mata hitam miliknya. “ wae? Apa dia yang membuatmu menangis seperti ini? “ tebakkan yang tepat. Ya, sebenarnya aku sudah menceritakan semuanya pada oppa. Itu karena aku mempercayainya. Aku mengangguk padanya. “ heol.. apa dia masih bersikeras pada kata-katanya? “

“ kurasa ia butuh waktu.. “ ujarku. Kami sudah mulai melangkah pelan.

“ Yoona-a, bersabarlah, aku akan berbuat sesuatu untuk kalian. So.. jika nanti saatnya tiba, gunakan waktu itu sebaik mungkin. Menempellah padanya. Arraso? “

“ oppa, memangnya apa yang akan kau lakukan? “

 

Terjawab sudah. Aku yang baru saja kembali ke parkiran tak dapat melihat mobil kami lagi. Jelas sekali bahwa tadinya mereka memintaku untuk membeli minuman. Tidak lama dari itu kulihat Sehun yang tengah melangkah kearahku, juga dengan dua botol minuman ditangannya. Jadi inikah ulah oppa? OMG! Jadi apa yang harus aku lakukan?

“ kita ditinggal? “ tanya Sehun. Aku hanya mengangguk, sibuk memikirkan rencana selanjutnya. Melepas kaca mataku dan memasukkan ke saku celanaku.

“ yak eodiga? Tunggu aku! “ berlari kecil mengejarnya yang sudah lebih dulu melangkah menuju halte bis. Sebenarnya aku sedikit takut berada didekatnya. Mengingat dirinya yang sekarang sangat ketus terhadapku.

 

Kami tidak mendapatkan jatah duduk di dalam bis dikarenakan terlalu banyak penumpang pada saat itu. Aku dan dirinya berdiri berpegangan pada tiang besi. Bersama penumpang pria lainnya yang kebetulan mengelilingi diriku. Aku sedikit gelisah karena mereka terus mendorong tubuhku, entah sengaja atau apa. Sedangkan Sehun berada jauh dariku. Juga berdiri disana dengan matanya yang fokus ke luar kaca bis. Syukur minumanku dan miliknya sudah kami berikan pada orang yang ada di halte tadinya, jadinya kami tidak terlalu pusing membawanya.

 

Mereka kembali mendorongku bahkan nyaris membuatku terjatuh ke penumpang yang sedang duduk. Aku benar-benar kesal dengan ulah mereka. Mengamati lengan kiriku yang memerah karena membentur kursi penumpang. Sedikit meringis ketika kucoba menyentuhnya dengan tangan kananku. Pasti akan lama sembuh. Oo? Tangan kananku ditarik oleh seseorang. Membuat tubuhku bergeser dan berakhir bersandar pada tiang kecil. Dan dihadapanku, 2cm dihadapanku Sehun berdiri menghadapku. Omo, ini terlalu dekat. Tapi paling tidak aku terbebas dari pria-pria nakal itu.

 

Bis terguncang kesana kesini. Tapi tidak terjadi apapun padaku. Itu karena Sehun memenjara tubuhku dengan tangannya yang nyaris memeluk tubuhku. Dapatku hirup aroma tubuhnya, salah satu yang sangat aku rindukan. Dapat kurasakan mataku yang mulai berkaca-kaca saking senangnya. Kehangatan tubuhnya menghangatkan tubuhku. Sungguh, aku merindukan semua ini.

“ kau terluka? “ bisiknya padaku. Masih sulit berkata, aku hanya menggeleng. Kudengar ia mendengus. Semoga bukan kesal karenaku.

 

Bis berhenti tidak jauh dari hotel. Kami segera turun karena sudah terlalu gerah. Baru saja turun dari bis, kami diterjang angin dingin musim gugur, yang suhunya lebih dingin jika berada di Jeju. Tentu aku mendadak bersin berkat itu. Aku tahu Sehun tengah menatapku, tapi aku tak berani membalas tatapan itu. Jantungku kini sudah berdebar kacau. Tak ingin ia mengetahui itu, aku segera melangkah mendahuluinya. Oo? Tanganku kembali ditarik olehnya, membuatku berputar dan langsung menghadapnya. Ia membuka jaket tebalnya dan langsung memakaikan ke tubuhku yang hanya berbalutkan 2 lapis sweater. Setelah itu ia melangkah mendahuluiku tanpa mengatakan apapun. Kurasa kini pipiku sudah merona. Aku tak mampu menahan senyuman diwajahku. Omo, senyumanku semakin lebar, bagaimana ini?!

 

♡ Sehun Pov

Nyaris saja memeluknya. Syukur aku berhasil menahannya. Kulihat ia sudah masuk kedalam kamarnya. Barulah aku beranjak masuk kekamarku, yang letaknya tepat disamping kamarnya. Kubuka gorden yang menutupi dinding kaca itu. Terlihatlah langit mendung dengan beberapa kilat yang menyambar langit. Suara gemuruh mulai terdengar dan lama kelamaan semakin terdengar keras. Sontak pikiranku langsung melayang kepadanya. Yoona takut suara petir.

 

Mondar mandir diruanganku sambil terus mengamati dinding kamarku yang menyatu dengan dinding kamarnya. Aku bisa menebak, ia pasti tengah meringkuk di dalam selimut sembari meringis ketakutan. Bagaimana ini? Haruskan aku menghampirinya? Tapi itu hanya akan meruntuhkan pertahananku selama ini. Kucoba untuk menyalakan televisi dan menikmati siaran tersebut, tetap tidak bisa membuatku berhenti memikirkannya. Sepertinya aku tidak bisa menahannya lagi. Segera aku melangkah keluar.

 

Kulihat Seung Hoon sunbae yang baru saja masuk kedalam kamarnya. Terlihat raut cemas diwajah sunbae. Sesuatu menggelitik hatiku, rasanya tidak enak. Berdehem guna menghilangkan perasaan itu. Dengan berat hati aku kembali masuk kedalam kamarku.

 

Malam sudah larut dan Hujan sudah reda. aku baru keluar dari kamarku setelah menyelesaikan laporanku hari ini. Aku melangkah menuju lift hendak mencari makanan ringan di supermarket terdekat. Langkahku mendadak terhenti, kulihat Yoona tengah berdiri di depan lift. Masih mengenakan jaket milikku. Kurasa tidak perlu menghindarinya sejauh itu. Kakiku kembali melangkah dan berdiri disampingnya. Dapatku lihat dari pantulan pintu lift, kini dirinya tengah menatapku tak percaya. Tapi aku berusaha berlaku santai. Sampai pintu lift terbuka, aku pun langsung masuk kesana diikutinya yang masih saja menatapku.

 

Kami sudah memasuki sebuah supermarket yang luar biasa besar. Ya, kami. Dia juga ikut bersamaku. Tadinya ia sudah mengatakan padaku bahwa ia memang memiliki tujuan yang sama denganku. Masih berusaha tenang dan mulai mengelilingi supermarket itu. Kulihat dia sudah menenteng sebuah keranjang yang sudah berisikan banyak makanan. Tidak denganku, aku tidak membutuhkan keranjang karena aku hanya memerlukan beberapa makanan saja. Brukk! Keranjangnya terjatuh kelantai. Kulihat ia meringis kesakitan seraya meniup-niup lengan kirinya. Baru kuingat, aku melupakan itu, tadinya ketika di bis, aku tahu itu, mengenai lengan kirinya yang terluka. Melihatnya yang kesusahan mengangkat keranjang dengan tangan kanannya membuatku iba. Penuh pertimbangan aku melangkah menghampirinya. Tanpa berkata aku langsung mengangkat keranjangnya.

“ yak, gwenchana.. aku bisa.. “

“ masih ada yang ingin kau beli? Jika masih cepatlah pilih. Ini berat sekali. “ kataku cepat. Ia hanya menatapku dalam diam. “ berhenti menatapku dan lekas bergerak. “ kataku membalas tatapannya tajam. Ia tertegun dan segera melangkahkan kakinya.

 

Ia sedang membayar di meja kasir dan aku memilih menunggu di sebuah kursi tak jauh darinya. Makananku juga dibayar olehnya. Tidak bisa berbuat apapun, ia sangat memaksa. Kulihat ia sudah selesai membayar tagihannya, sebelum sempat diangkatnya, kakiku langsung melangkah cepat dan segera Meraih dua plastik kresek itu dalam satu genggaman tanganku sekaligus.

 

Berdiri ditepi jalan menunggu lampu hijau menyala. Padatnya pejalan kaki membuatku terpaksa sedikit menempel pada tubuhnya. Berkat itu tanganku yang bebas terus bersentuhan dengan punggung tangannya.  Berusaha tenang dan terus menunggu. Tidak seperti ketika kami pergi, kali ini jalanan jauh lebih padat. Lampu hijau menyala dan aku segera melangkah. Baru saja melangkah beberapa langkah, aku sadar bahwa Yoona tidak ada di sampingku. Ketika aku berbalik mencari tahu, ternyata ia tengah kesulitan melangkah dikarenakan kepadatan pejalan kaki pada saat itu. Tidak mungkin berdiam saja, aku melangkah menghampirinya. Dengan santai meraih tangannya lalu mulai menuntunnya. Jarak penyebrangan lumayan jauh dikarenakan kami berada simpang 6 yang luas. Takut ia terlepas dariku, tanganku reflek bergerak lembut turun dari lengannya hingga mengisi setiap sela jemarinya. Menggenggam tangannya dengan erat barulah aku bisa merasa tenang.

 

♡ Yoona Pov

Tahukah bagaimana perasaanku saat ini? Jika diizinkan melompat pastilah aku sudah melompat setinggi mungkin. Sehun yang menggenggam tanganku seperti ini sungguh diluar harapanku. Aku benar-benar merindukan genggaman ini. Genggaman tangannya masih sama seperti dulu, hangat dan penuh kelembutan. Hingga kami sudah melewati penyebrangan, ia masih menggenggam tanganku. Entah karena lupa atau apa. Yang pastinya aku bahagia luar biasa. Hingga kami hampir sampai di halaman hotel, barulah ia melepas tanganku.

 

Melewati rekan tim kami yang sedang duduk santai di lobi. Tidak menghiraukan panggilan mereka. Terus melangkah hingga masuk kedalam lift. Perasaan canggung terlihat jelas di wajah kami. Hanya diam menunggu lift tiba di lantai yang kami tuju. Pintu lift terbuka, Sehun lebih dulu keluar setelahnya barulah aku melangkah mengikuti langkah panjangnya. Tepat dihadapan kamarku, dia menghentikan langkahnya. Menyerahkan plastik itu kepadaku. Segera ku raih dan cepat-cepat merogoh plastik itu untuk mengambil plastik kecil yang sudah aku pisahkan. Kuberikan barang miliknya padanya. Ia menerimanya. Tanpa mengatakan apapun, ia melangkah masuk kedalam kamarnya.

 

Saat ini aku sedang membuat strawberry milkshake. Tentu aku membawa mini blande yang selalu ku masukkan kedalam koper besarku. Membersihkan strawberry yang baru saja kubeli. Tak lupa mencampurnya dengan yogurt dan sedikit susu. Tanpa sadar aku membuatnya menjadi dua gelas. Diam sejenak mengamati dua milkshake itu. Meyakinkan diri, kuambil sebuah botol minuman yang kubawa dari rumah. Memindahkan milkshake itu kedalam botol dan tak lupa menutupnya dengan rapat. Penuh keyakinan, aku melangkah keluar kamar, dan dengan berani mengetuk kamarnya. Tak kusangka, beberapa detik kemudian ia sudah membuka pintu kamarnya. Kulihat ia yang hanya mengenakan kaos bertangan puntung dengan handuk kecil yang masih bergantung di bahunya. Sepertinya ia baru selesai mandi, terlihat dari rambutnya yang setengah basah dan aroma sabun mint yang terhirup kuat.

“ … “ diam menatapku. Menunggu aku berkata. Bersandar pada tembok menghadapku.

“ yogi.. aku baru saja membuat.. “

“ Haru-a.. jangan berlari! “ teriak seorang ibu kepada anak laki-lakinya yang tengah berlari di koridor. Tepat ketika itu si anak tengah berlari kearahku, ia berlari sangat kencang membuatku termenung bingung. Tapi sedetik kemudian kurasakan tanganku yang ditarik oleh Sehun hingga membuat tubuhku membentur dada bidangnya. Dugg! Dugg! Dugg! Aku nyaris tak bernafas. Pipiku yang menempel ditubuhnya mendadak memanas. “ omo, jesong hamnida.. jesong hamnida.. “ kata si ibu kepada kami.

“ tolong jaga anakmu.. “ kata Sehun rada ketus. Aku langsung menjauh darinya.

“ ani gwenchanayo.. lagi pula dia masih anak-anak.. omo.. anak anda tampan sekali. “ kataku berusaha bersikap akrab kepada ibu itu.

“ tampan apanya. “ gumam Sehun dan langsung kusikut tangannya.

“ gwenchanayo omonim.. “ tambahku. Ibu itu berkali-kali menunduk meminta maaf, membuatku merasa tidak enak.

“ kalau begitu kami pergi dulu.. “ kata si ibu masih terlihat merasa bersalah. Tinggallah aku dan Sehun disana.

“ kau kasar sekali. “ grutuku padanya.

“ apa yang ingin kau berikan padaku? “ tanyanya masih ketus.

“ tidak jadi! “ selaku tak kalah ketus. Aku hendak melangkah masuk kedalam kamarku, tapi tiba-tiba saja Sehun menarikku masuk kedalam kamarnya.

“ duduk. “ ucapnya sedikit memerintah. Aku mengikuti perintahnya. Duduk di sudut kasurnya. Tidak lama kemudian Sehun ikut duduk disampingku. “ buka jaketmu. “ pintanya yang membuatku merinding mendengarnya.

“ apa maksudmu..! “ meletakkan botol minuman itu ketas kasur lalu menyilangkan tanganku ke dada.

“ kau pasti berpikir jorok. “ katanya seraya menjitak kepalaku. “ cepat buka, tanganmu harus segera diobati. “ nada suaranya mendadak melembut seperti sutra. Aku baru menyadari itu, dan mulai membuka jaketku yang sesungguh miliknya. Sehun bergerak lembut melipat lengan kemejaku yang sebelah kiri. Terlihatlah, kulit lenganku yang lebam. “ kau masih saja tak peduli pada tubuhmu. “ gumamnya pelan. Mengoleskan salap ke kulit lenganku, lalu menempelkan sebuah plaster berukuran besar hingga membalut lenganku. “ ini untukku? “ tanyanya setelah itu yang sudah meraih botol minuman itu. “ jadi tadi kau membuat ini? “ dan mulai meneguk minuman favoritnya itu. “ massisoyo. “ ujarnya. Dan sedetik kemudian menatapku, yang sedari tadi hanya diam menatapnya. Aku terlalu shock melihat perlakuannya terhadapku.

“ waeyo? Kenapa kau seperti ini padaku? “ kataku masih menatapnya.

“ berhentilah membuatku khawatir. “ ujarnya lembut, menatapku lekat.

“ kau mengkhawatirkanku? “ tanyaku lagi.

“ … “ ia diam sejenak dalam tatapan itu. “ aku mau tidur. Kau sudah bisa keluar. Aa, makasih buat minuman ini. “ mendadak bangkit dari duduknya. Tak lagi menatapku. Menahan kekesalan itu, aku melangkah keluar.

“ jika kau tetap mempertahankan pemikiranmu, aku juga ingin kau mengetahui pemikiranku. Kepergiannya bukan dikarenakan kesalahanmu. Kau sama sekali tak bersalah. “ lalu menutup pintunya.

 

♡ Sehun Pov

Ombak menghempas pesisir pantai dengan semangat. Aroma air laut terhirup kuat. Kicauan burung dan suara desiran ombak menjadi satu. Langit memperlihatkan sinarnya. Disituasi seperti itu seharusnya pesisir pantai sudah dipenuhi banyak wisatawan, tapi yang terlihat hanya diriku seorang diri. Tidak. Ada seorang pria disana. Berdiri membelakangiku, tengah menikmati hempasan ombak yang menerpa kakinya. Tunggu, aku seperti mengenal sosok itu. Oh tidak! Tubuhku mendadak merinding. Ragu-ragu kulangkahkan kakiku mendekatinya.

“ Mino-a.. “ panggilku tidak begitu yakin. Pria itu berbalik dan menghadapku. Aku terjatuh saking lemasnya. Pria itu benar Mino. Sahabatku. Tapi, tapi Mino sudah tiada.

“ ah, Sehun-a.. wah, kau semakin tampan. “ ujarnya yang ikut duduk disampingku. Seperti biasa, menatapku dengan senyumnya yang memperlihatkan barisan gigi putihnya. “ kenapa kau lama sekali, aku sudah menunggumu lama. “ katanya seraya mengaitkan tangannya dileherku. Merasa ini tidak benar, aku tepis tangannya lalu berdiri sedikit melangkah menjauh.

“ kau, kau siapa? “ tanyaku dipenuhi rasa takut.

“ yak.. ini aku. Mino. Song Mino. “ jawabnya dengan gayanya seperti biasa.

“ ani, itu tidak mungkin. Kau, kau sudah.. “

“ ne.. majjayo. “ selanya. “ aku memang sudah tiada. “ raut wajahnya berubah sendu. Tiba-tiba saja langit cerah bergantikan dengan gelapnya malam. Angin kencang menghempas tubuhku dan tubuhnya. Wajahnya mendadak memucat, menatapku sendu. “ oraemaniya Sehun-a. “ masih tersenyum padaku. Kurasakan airmata yang sudah mengalir di pipiku. Mataku terasa panas. Jantungku berdetak berat. Aku sungguh terguncang. “ sepertinya kau baik-baik saja. Syukurlah. “ kembali memperlihatkan gigi putihnya. Ia melangkah mendekatiku. Tubuhku seakan terpaku, tak mampu menghindarinya. “ Sehun-a, ada yang harus aku katakan padamu sebelum waktuku untuk kembali tiba. “ menatapku yang tepat dihadapannya. Penuh keseriusan. “ lupakan kejadian 5 tahun lalu. Kematianku sama sekali tidak ada sangkut-pautnya denganmu. Semuanya murni kecelakaan. “ ia memegang bahuku. Kurasakan tangannya yang dingin seperti bongkahan es. “ jangan jadikan aku sebagai alasan untukmu menjauhinya. Jika kau mencintai, maka cintailah dia dengan sepenuh hati. Aku sebagai sahabat kalian tentu akan senang jika mengetahui bahwa kalian hidup bahagia. Kurasa kau sudah tahu bahwa Yoona juga menyukaimu. Lalu kenapa kau masih mengulur waktu. Kau hanya akan menyakitinya. “ dan kali ini menggenggam kedua bahuku. Menatapku tajam. “ demi aku, kumohon. Jaga Yoona baik-baik. “ sentuhan itu tak lagi kurasakan. Wajahnya memudar. Begitu juga tubuhnya yang perlahan menghilang terbawa angin. Hingga akhirnya benar-benar tak terlihat lagi. Tinggallah aku disana dengan deru nafas beratku. Kenyataan untuk menerima kepergiannya benar-benar menyakitkan. Aku hingga terisak hebat tak kuasa menahan kesedihan itu. Tiba-tiba saja kurasakan sesuatu menarik tubuhku dari sana. Dengan kuat hingga akhirnya aku terbangun dari mimpi itu. Ya, aku baru saja bermimpi.

 

♡ Yoona Pov

Sarapan bersama rekan-rekanku di restoran hotel. Padahal aku ingin duduk disampingnya, tapi kursi yang tersisa hanya disamping Seung Hoon oppa. Dengan terpaksa aku duduk disampingnya.

“ wae! Kau tak suka duduk disampingku?! “ bisik oppa kepadaku. Aku hanya tersenyum mendengarnya. “ malah tersenyum. Jangan tersenyum didekatku. Senyumanmu terlalu manis untukku lihat. “ ujarnya seraya mencubit pipiku dengan geram.

“ oppa! Appo.. “ menepis tangannya dari wajahku. Sekilas aku melirik ke Sehun. Kulihat dia menikmati roti panggangnya.

“ aa, Sehun-a. Apa kau putus dari Tzuyu? “ tanya Seung Hoon ke Sehun. Membuat semua rekanku termasuk aku melihat ke arah Sehun.

“ hem. “ dan mengangguk mengiyakan. OMG! Aku senang bukan main. Kutahan senyuman diwajahku. Kulihat Sehun yang melirikku sejenak sebelum kembali menyantap sarapannya. Omo, hanya karena tatapan itu jantungku kembali berdebar hebat. Ku teguk minumanku hingga tak tersisa.

“ hari ini ke taman bunga. Kalian sudah siapkan semua perlengkapannya. “ ujar salah satu dari rekanku lainnya.

“ ke taman bunga dengan para pria. Aish! Kenapa tim kita tidak ada wanita?! Mian Yoona. Kenapa harus banyak pria?! Benar-benar mengesalkan. “ celoteh Seung Hoon yang terlihat lucu bagiku. Membuatku tertawa kecil berkatnya. Kembali kucoba melirik Sehun, dia masih serius mengunyah. Sungguh aneh, sedari tadi aku merasa ia tengah menatapku, tapi ketika kucari tahu, ternyata tidak.

 

Kami sudah duduk santai didalam mobil menunggu perjalanan itu tiba di tempat tujuan. Kali ini Sehun yang menyetir. Dan aku sukses duduk disampingnya. Suhu udara hari ini jauh lebih dingin dari yang sebelumnya. Tapi aku sudah lengkap dengan kaos berlapisku, walau sepertinya tidak juga berguna. Aku terlalu terburu-buru hingga lupa membawa sweaterku.

 

Seung Hoon oppa bernyanyi diikuti petikkan gitar yang ia mainkan. Aku ikut bernyanyi bersamanya dan tetap sesekali melirik Sehun yang tengah serius menyetir. Pada saat itu Seung Hoon oppa memintaku untuk bernyanyi solo. Dan aku memilih lagunya Lee Hi yang berjudul Missing You. Syukur oppa mengetahui kunci gitarnya. Perlahan irama petikkan gitar terdengar, penuh penghayatan aku mulai menyanyikan syairnya. Bisa dikatakan suaraku tidak buruk, bahkan sudah pantas menjadi penyanyi. Jika mengingat masa lalu, Sehun sangat senang mendengarku bernyanyi. Karena itu, ketika kini aku bernyanyi, mataku tak luput darinya. Ia memang terlihat tidak mempedulikanku, tapi paling tidak ia mendengar nyanyianku.

 

Tak terasa kami sudah sampai di taman bunga. Disana masih sangat sepi mungkin kami datang terlalu awal. Baru saja Sehun memarkirkan mobilnya, rekan-rekanku sudah berlarian keluar dari mobil. Sedikit memperlama gerakku berharap bisa melangkah bersamanya, dia malah berbaring di dalam mobil.

“ kau tidak turun? “ tanyaku heran.

“ turunlah, aku akan menyusul. “ memang nasibku yang sial. Sepertinya ia masih mengantuk. Kupikir lebih baik untuk meninggalkannya disana. Dengan tak adanya semangat, aku mulai turun dari mobil. Kakiku mulai melangkah menelusuri taman bunga itu. Disana luar biasa indah. Kupastikan memori kameraku akan penuh karena terlalu banyak memotret.

 

Satu jam sudah aku mondar-mandir. Lama Kelamaan mulai terlihat beberapa pengunjung yang hampir rata-rata adalah sepasang kekasih. Tentu cemburu melihat mereka. Seandainya Sehun ada bersamaku. Hah, lagi pula ia tidak menganggapku spesial. Ia bahkan sudah menjauhiku. Nasibku terlalu menyedihkan. Saat ini aku berada di sebuah puncak dimana aku dapat melihat isi dari keseluruhan taman. Lebih indah bahkan luar biasa indah. Sayangnya angin disini lebih dingin dari bayanganku. Aku sampai bersin berkali-kali. Tapi aku tak juga beranjak dari sana, itu karena aku masih menunggu kameraku yang merekam di satu titik untuk merekam perubahan cahaya disana. Hangat. Pipiku hangat. Seperti kilat aku menoleh mencari tahu. Ternyata Sehun sudah berdiri disampingku. Dan menempelkan sebuah kopi kalengan yang hangat. Dengan senyumku yang sudah mengembang, aku menerima minuman itu. Segera kunikmati minuman hangat itu.

“ gomawo.. “ ujarku pelan. Kulirik dia yang hanya diam disampingku.

“ berhenti melirikku. “ katanya seraya mendorong wajahku agar kembali menghadap kedepan. Hachim! Aku kembali bersin. “ dimana jaketmu? “ tanyanya.

“ dikoper. “ jawabku ketus. Hachim! Dan kembali bersin.

“ kau harus turun sekarang juga. Disini terlalu dingin. “ sudah menggenggam tanganku hendak menarikku turun dari sana. Tapi aku menahan tarikkannya.

“ shiroyo. “ tolakku dan kembali pada posisiku. Memeriksa kameraku dan kembali fokus pada pemandangan disana.

“ kau bisa sakit. “ suaranya terdengar cemas. Ia sudah kembali berdiri disampingku.

“ aku harus menyelesaikan rekaman ini. Ini sangat penting untukku. “ bersikeras untuk tetap disana walau bersin terus melanda. Hening. Tak ada suara yang terdengar. Kucoba untuk melihat kearahnya. Dan ia sedang menatapku. Aku mendadak kikuk dalam tatapan itu.

“ w-waeyo? “ tanyaku malu-malu. Ia masih saja diam dan terus menatapku.

“ kau masih saja keras kepala. “ ucapnya setelah itu. Terlalu lama dalam tatapan itu, segera kulepaskan pandanganku darinya. Kembali mengamati pemandangan disana.

“ aku hanya ingin mendapatkan rekaman yang bagus. Dengan begitu aku bisa.. “ hangat. Kali ini tubuhku yang hangat. Sehun memelukku dari belakang! OMG!

“ aku juga kedinginan. “ bisiknya. Perlahan kurasakan wajahnya yang menempel di samping wajahku, dan perlahan pelukan itu semakin terasa erat. Sukses menghangatkan tubuhku. “ semalam Mino menghampiriku. “ tentu aku kaget. “ lewat mimpiku. “ aku mendadak cemas.

“ kau baik-baik saja? “ tanyaku masih dalam pelukkan itu.

“ entahlah. Seharusnya aku sudah merasa baikkan. “

“ apa maksudmu? “ tak paham maksud dari perkataannya.

“ haruskah kurelakan kepergiannya? “ karena yang kuketahui, Sehun memang masih berat untuk merelakan kepergian Mino. Terlalu mencemasinya, aku segera berputar untuk menatapnya langsung.

“ sudah berapa kali aku katakan. Itu bukan salahmu. Kepergiannya.. “ perkataanku terhenti karena Sehun tengah menyentuh pipiku dengan jemarinya. Tubuhku mendadak mematung berkat sentuhan itu.

“ kau semakin gemuk. “ suaranya terdengar lembut. Sungguh, kerinduanku padanya perlahan terobati.

“ ani. Pipiku memang seperti ini. “ sahutku yang sudah salah tingkah. Memilih menunduk menghindari tatapannya. Ia kembali diam. Lama menunggunya, aku kembali menatapnya. Ternyata ia masih menatapku. Kurasakan desir panas yang mengalir dari tatapan itu. Sejenak, aku terhanyut pada tatapannya. Kami terdiam dalam beberapa detik menikmati sensasi menggetarkan itu. Masih saling menatap. Saling melepas rindu. Setelah 5 tahun lamanya berpisah.

“ aku merindukanmu.. “ bisiknya. Membuatku tersenyum tersipu malu.

“ akhirnya kau mengatakannya. “ ia ikut tersenyum simpul.

“ mianhae, aku sudah terlalu banyak melukaimu. “ semakin menatapku dengan penuh keseriusan.

“ gwenchana. Yang terpenting sekarang kau sudah kembali padaku. “ kami sama tersenyum bahagia.

“ omona! “ suara itu sontak membuat kami kaget dan langsung menjaga jarak. Seung Hoon sudah berdiri di hadapan kami. Menatap kami bergantian. Kulihat Sehun yang tak menghiraukannya malah mengamati pemandangan disana dengan santai. “ ehei.. kalian membuatku sedih. “ mengelus dadanya. “ sedari tadi aku menahan diri untuk tidak cemburu dengan setiap pasangan yang berdatangan. Tapi kini aku malah melihat rekanku yang tengah kasmaran. Kenapa kalian membuatku merasa lebih menyedihkan?! “ mimik wajahnya terlihat sangat lucu. Aku bahkan tertawa melihatnya. Juga Sehun yang hanya tersenyum berusaha tenang. “ hoh, dan sekarang kalian menertawaiku? Baiklah, silahkan lanjutkan cinta-cintaannya. Aku pergi dulu! “ dan sudah berlari menuruni anak tangga. Suasana mendadak menjadi hening. Aku melirik Sehun yang ada disampingku.

“ apa kau sungguh telah putus dengan Tzuyu? “ tanyaku yang setelah itu menyesalinya. Sehun hanya tersenyum padaku. “ kenapa kau tersenyum? “ tanyaku lagi.

“ kau cemburu padanya? “ masih dengan senyuman diwajahnya.

“ a-ani! “ jawabku cepat. Tapi ia masih saja tersenyum.

“ kurasa kau sudah cukup lama merekam. Matikanlah kameramu. Kita harus segera turun sebelum kau membeku disini. “ dengan wajah manyun aku bergerak mematikan kameraku dan menyimpannya kedalam ranselku. Baru saja aku selesai memakai ranselku, Sehun sudah menarik tanganku. Menuntunku menuruni tangga dengan genggaman tangannya yang semakin erat. Kami terus melangkah hingga akhirnya melewati sebuah padang rumput yang ditumbuhi bunga berwarna ungu. Tentu aku segera berlari kesana dan genggaman tangannya terlepas dari tanganku.

 

♡ Sehun Pov

Aku masih berdiri diluar padang rumput. Mengamatinya yang tengah berfoto ria disana. Kuperhatikan setiap tindak lakunya. Wajah cantiknya, senyum manisnya. Membuat debaran jantungku semakin pecah semarak. Aku masih menahan diri untuk tidak menghampirinya. Masih berusaha tenang dengan mataku yang tak luput dari setiap gerak-geriknya. Sejenak kupikirkan itu, aku menyesal telah meninggalkannya 5 tahun yang lalu. Ia pasti sudah sangat tersakiti olehku. Berkat mimpiku pada malam itu, berkat perkataan Mino dalam mimpi itu, akhirnya aku dapat merasa lega. Bebanku yang selama ini terus memikulku kini musnah sudah. Benar yang Mino katakan, aku harus melindunginya. Dan aku harus mengungkapkan lagi padanya, mengenai perasaanku yang dari dulu hingga sekarang belum sedikitpun berubah.

 

Kulihat dia masih asik mondar mandir disana. Sedangkan aku masih disini, masih berusaha menahan diriku. Apa maksudnya itu? Entahlah. Seperti ada sesuatu yang mendesakku untuk melakukannya. Terlebih ketika aku melihat wajah itu, yang tersenyum, sangat menggoda. Sungguh, aku sudah tidak sanggup menahannya. Tak lagi menahannya. Kakiku mulai melangkah. Melewati rerumputan yang tingginya nyaris sepinggangku. Melepas kancing jaketku. Entah mengapa mendadak aku merasa gerah. Terus melangkah. Juga kubuka kancing kemeja teratasku. Masih menatapnya dan terus melangkah. Kulihat dirinya yang telah menyadari kedatanganku dan berdiri menghadapku. Pas sekali. Pikirku. Tinggal lima langkah lagi mendekatinya. Dan setelah itu, ketika sedikit lagi tiba dihadapannya, dengan gerakkan cepat kedua tanganku sudah menangkup wajahnya. Dan sedetik kemudian, Aku sudah mendaratkan bibirku di bibirnya.

 

Diam sejenak dalam sentuhan itu. Deru nafasku dan dirinya menyatu. Suara detak jantung entah milik siapa terdengar berbisik. Seluruh tubuhku bergetar geli tapi penuh kehangatan. Usai itu, perlahan aku mulai bergerak lembut, melumat bibirnya dengan lembut. Batang hidungku hingga menekan tulang pipinya. Kurasakan tangannya yang menggenggam lengan jaketku erat. Tapi aku semakin menariknya kedalam dekapanku. Deru nafas kami semakin menggebu-gebu. Dinginnya angin musim gugur tak lagi kami rasakan. Kami sudah terlanjur terbakar api asmara. Kurasakan dirinya yang mulai membalas ciumanku. Gerakkannya pelan, tapi cukup menantangku. Ini sudah terlalu jauh, kurasa aku harus menghentikannya. Dengan setengah hati, aku menarik wajahku menjauh darinya. 5cm di hadapannya. Sama-sama tengah mengatur nafas. Perlahan kembali saling tatap. Aku mengusap pipinya yang lembut.

“ saranghae.. “ bisikku padanya. “ sangat mencintaimu. “ tambahku. Ia tersenyum dengan matanya yang mulai berkaca-kaca. “ wae.. kenapa menangis? “ menyeka airmata di wajahnya.

“ aku masih tidak bisa mempercayai ini. Kau memelukku, menggenggam tanganku.. “ ia diam sejenak. “ menciumku. “ sambungnya. “ kau sungguh dengan semua ini? Berjanjilah untuk tidak meninggalkanku lagi. “ banyak yang ingin aku katakan padanya, tapi aku memilih untuk memeluknya saja. “ mwoya.. kenapa kau tidak menjawabku. “ katanya dalam pelukkanku.

“ percayalah padaku. Hanya itu yang harus kau lakukan. “ bisikku lagi padanya dan semakin memeluknya erat.

 

Usai sudah masalah kami selama ini. Semuanya memang dikarenakanku. Jika saja dulunya aku tidak meninggalkannya, ia tidak akan tersakiti olehku. Tentu aku menyesali perbuatanku.  Dan aku bertekad tidak akan membuatnya menangis. Aku akan berusaha sebaik mungkin untuk melindunginya dari apapun itu.

 

3 hari setelah itu. Kami semua kembali ke Seoul. Kembali melakukan aktifitas seperti biasanya. Yang berbeda hanya ada padaku dan dirinya. Walau kami menyembunyikan hubungan kami di kantor, sepertinya tetap saja ada yang mengetahuinya. Tak terlupakan untukku mengunjungi Omonim. Ibunya Yoona. Yang sudahku anggap seperti ibuku sendiri. Ia menyambutku dengan hangat. Memasakkanku banyak makanan. Tidak ada yang tidak kusuka dari masakkan buatannya. Itu karena ia memasakkanku khusus hanya makanan kesukaanku. Puas sudah, akhirnya aku bisa merasakan kehangatan pada keluarga ini. Keluarga yang nantinya akan menjadi keluargaku. Keluarga yang harus aku lindungi. Satu hal yang aku dapatkan dari peliknya masalah ini. Jangan simpan kata rindu. Datanglah padanya jika kau benar-benar merindukannya.

 

–The End–

 

Mohon komentarnya..

Gomawo..

 

Jika ingin membaca koleksi Hyull Fanfiction. Kalian bisa kunjungi webnya.

 

Hyull.web.id

8 thoughts on “[EXOFFI FREELANCE] Missing You (Oneshot)

  1. Eh ketemu author disini. Uda baca duluan di webnya author tp pengen baca lagi dan lagi ckkckkckk,,
    Aku nunggu2 The Fault loh thor blm author post jg
    Jgn lama2 update y thor..
    Keep writing…….

  2. Ini crita knp enk bgt sih yaampunnn
    Gw suka bgt sama jln crita yg bgini
    Sekali abis tp lengkap perfect
    Enk thor!
    Boleh deh singgah ke webnya
    Salam kenal author hyull.

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s