[EXOFFI FREELANCE] Gone (Oneshot)

Gone

[EXOFFI FREELANCE] Gone – ONESHOOT

Title     : Gone

Author : Angestita

Main cast : Alessandra (OC) dan Oh Sehun (EXO)

Genre  : Sad

Rating : PG – 13

Disclaimer       : aku penulis baru disini. Ini FF pertamaku yang aku kirim ke EXOFFI. Ini murni karyaku. Jika ada kesamaan tokoh maupun alurnya itu adalah ketidak sengajaan. Aku tidak mencontoh karya orang lain dan aku berharap kalian dapat melakukan hal yang sama. FF ini bukan karya yang spektakuler sehingga jika kalian tidak puas aku mohon maaf. Semoga kalian dapat memahaminya. Terimakasih.

Sumarry           : Ketika seseorang punya pacar mereka akan membuat banyak kenangan bersama. Tetapi setelah kata ‘putus’ terucap, Alessandraselalu  merindukan masa itu. Itu lah alasan mengapa dia di akhir tahun selalu ke tempat itu.

“I’m standing here because I miss you so much.”

Alessandra menatap langit yang mulai gelap, sinar matahari mulai tak terasa kehangatannya sedari langkahnya terhenti tadi. Wanita bersurai hitam itu masih setia memandang langit, tapi kini rautnya berubah. Ada senyum sendu yang menghiasi bibir tipisnya. Dia sudah melakukan ini selama lima kali dalam lima tahun terakhir. Dan entah itu kebetulan atau sudah takdirnya hujan selalu datang tepat di kedatangannya ke kota itu.

Wanita itu memutuskan untuk melanjutkan langkahnya yang tertunda. Mengabaikan awan gelap yang semakin tebal menaungi langkahnya. Dia hanya punya waktu tak lebih dari dua jam sebelum pesawatnya berangkat. Ritual mengunjungi masa lalu selalu terselip di jadwal padatnya sebagai seorang dosen.

Seharusnya dia tidak melakukan hal ini lagi, mengingat sekarang sudah ada cincin berlian yang terselip di jari manisnya. Tanda dia sudah mengikat janji dengan pria lainnya. Tapi bagi wanita bernama Alessandra itu tak ada alasan yang patut di ucapkan jika tidak mengunjungi tempat itu. Terkadang pada waktu tertentu dia sendiri merasa perjalanan pulang ke masa lalunya adalah kegiatan bodoh. Menghabiskan uang dan tenagaga – sama seperti yang ucapan sahabatnya, Natalie.

Tapi sifat keras kepala pada wanita itu membuat tekatnya bulat untuk datang di akhir tahun ke tempat ini. Sebulat itu lah tekat Natalie membantah ajakan dirinya untuk ikut juga. Menurut wanita bersurai merah terang itu masa lalu adalah masa lalu dan kita tak perlu mengungkitnya lagi. Lupakan dan temukan yang baru. Alessandra setuju dengan pendapat pertama sahabatnya bahwa masa lalu adalah masa lalu tetapi untuk yang terakhir sampai waktu ini dia masih meragu.

Tak terasa langkah wanita itu sudah sampai di sebuah rumah kuno yang di bangun dengan dua lantai. Alessandra menatap gerbang besi yang catnya telah sempurna mengelupas itu dengan ragu. Hatinya mendadak bimbang, merasa ragu akan kah kembali kedalam masa lalunya akan berakhir manis layaknya biasanya. Dia tak lagi sendiri sekarang ada seseorang yang sudah menjadi tunangannya, melangkah masuk dan berjumpa dengan kenangan lama dia takut itu akan merusak pondasi yang dia bangun satu tahun ini.

Netra layu wanita itu menyapu halaman rumah dengan perasaan bimbang. Ada dorongan kuat di hatinya untuk masuk dan berjumpa dengan kenangan masa lalunya seperti yang dia lakukan setiap akhir tahun. Alessandra menarik nafas dalam-dalam sebelum memutuskan pilihannya.

“Baiklah, anggap ini perjalanan terakhirku sebelum aku menikah.” Bibir tipis itu berkata lembut. Jemarinya bergegas mengeluarkan kunci dan membuka pintu gerbang itu. Ada bunyi nyaring yang membuat tengkuknya merinding ketika pintu itu di dorong olehnya. Alessandra berdiam diri cukup lama menatap halaman di depannya. Sembari ia merajut langkah menyisiri halaman itu, di kepalanya berputar sebuah kenangan antara dia dan pria itu. Kenangan yang mereka buat di tempat itu.

“Cha, buku-bukunya sekali lagi terimakasih.” Tutur pria bermata sipit itu.

Wanita yang merasa namanya di panggil menoleh dan tersenyum lebar, “Tidak apa-apa. Itu salah satu tugas ku kan?” ada nada jenaka yang dia selipkan di akhir pertanyaanya. Pria yang ada di samping wanita itu tersenyum lebar, pipinya terlihat sedikit merona.

“Sebaiknya kamu masuk. Di luar hujan, udaranya juga dingin.” Pria itu tertawa kecil, tangannya meraih payung berwarna merah muda yang dibawa wanita itu dan berkata dengan nada membujuk. “Aku akan masuk… tetapi biar kan aku mengantar kekasihku sampai dia masuk kedalam mobilnya.”

Si wanita merasakan rona merah di pipinya yang putih, pria itu selalu saja dapat membuatnya malu. Gerakannya melindungi ketika lengan itu menyatukan jarak diantara mereka. “Payungnya sempit nanti kita kehujanan jika berjauhan.” Mereka melangkah menuju sebuah mobil yang terparkir sedikit jauh dari pintu rumah. Ketika langkah keduanya sudah berada di ambang pintu mobil, si wanita berbalik untuk menatap wajah kekasihnya.

“Aku pulang dulu, jangan lupa istirahat dan minum obatnya. Jangan membuatku khawatir lagi ya…” pria itu tersenyum lebar menampilkan barisan giginya yang tersusun rapi. Senyumnya manis sekali. “Jangan rewel…” ada anggukan ketika suara itu bertutur lagi.

Si wanita tersenyum lebar, netranya enggan terlepas dari bola hitam bening yang selalu menatap lembut kepadanya itu. Hatinya berdebar tanpa syarat. Menikmati gelombang rasa yang timbul dari tatapan itu. Dan entah keberanian dari mana pria didepannya tiba-tiba mengecup bibirnya lembut. Kecupan yang ringan namun mampu membuat daya tubuhnya menghilang.

Pria itu tersenyum lebar untuk beberapa detik, senyumnya kemudian berubah menjadi senyum jahil. Dia berhasil membuat kekasihnya melayang. “Nanti malam, tidur yang nyenyak ya.” Entah seperti apa ekspresi wajahnya waktu itu. Yang dia tahu pipinya panas dan dia ingin berteriak.

Langkah wanita itu tak terasa sudah ada di depan pintu. Dengan gerakan pelan dia memutar kunci dan membuka pintu. Suasana pengap khas rumah yang tidak di tinggali menyergap indera pernafasannya. Wanita itu menatap ruang tamu yang kosong sebelum melanjutkan  langkahnya. Di dalam ruangan itu cahayanya redup, membuat Alessandra memutuskan untuk tetap membiarkan pintunya terbuka.

Hujan mulai turun ketika kaki wanita itu menapaki setiap anak tangga yang menghubungkan dengan teras atas. Di atas jika malam hari, kita dapat melihat pemandangan kota yang gemerlap membentang sepanjang mata. Rumah itu unik, memiliki dua tangga yang menghubungkan dengan lantai atas. Tangga yang berada di sebelah ruang tamu menghubungkan dengan kamar sementara tangga yang di naiki Alessandra yang berada di ruang makan menghubungkan dengan teras atas.   

Udara dingin menyambut kedatangannya di teras atas. Hujan mulai menjadi ketika wanita itu memandangi tulisan-tulisan di dinding sebelahnya. Ada senyum tipis ketika pikirannya kembali ke sebuah masa. Dulu, mereka menulis harapan kecil itu disana. Atau saat keduanya tengah bertengkar dan tak mau bicara mereka akan bertukar pesan di dinding itu, Jemarinya mengikuti setiap tulisan di dinding itu hingga akhirnya berhenti di sebuah pesan. Pesan yang dia tulis satu tahun yang lalu, pesan yang tak berbalas.

Wanita itu mengeluarkan pena dari dalam tasnya, tangannya bergerak seiring hatinya yang berbisik. “ini perjalanan ke lima ku dalam lima tahun terakhir… Aku tak tahu kemana untuk dapat menemuimu. Aku masih menunggumu pulang. Aku hanya ingin tahu dimana aku dapat menemukanmu… selama  lima tahun terakhir ini aku hanya bisa mengunjungi tempat ini karena aku tak tahu harus menemukanmu dimana. Jika rasanya berat untuk kembali ke sini. Bawalah cukup ragamu datang. Selama ini kamu menunggumu. Selama itu pula kami tak tahu harus menemukanmu dimana. Biarkan kami menemukanmu… Sayang, mungkin harapan itu tak mudah terwujud. Karena itu aku berharap dimana pun kamu berada dimana pun itu… semoga Tuhan melindungimu… menjagamu untuk kita.

Di tulisanku kali ini akan sedikit panjang. Maaf… mungkin ini akan jadi tulisan terakhir yang aku tulis untukmu. Kamu tahu lima tahun terakhir ini aku-kami menunggumu tapi kamu tak kembali. Aku melewati masa sulit sepanjang tahun itu. Aku mencoba untuk berbaikan dengan rasa itu. Itu sulit. Tapi Tuhan seperti katamu dia selalu punya jalan cerita yang teraik untuk kita… aku menemukan separuh bagianmu yang hilang dalam dirinya. Aku memutuskan untuk bersamanya… bukan niatku untuk meninggalkanmu pergi. Mari kita berbaikan…

Oh Sehun… terimakasih atas banyak hal yang pernah kita lewati bersama. Terimakasih… semoga di surga nanti kita akan bertemu…”

Sebulir air mata lolos dari pelupuk matanya. Ya, ini lima tahun sepeninggalan Sehun. Pria yang amat sangat dia cintai. Pria yang memutuskan kembali ke rumahnya. Meninggalkan Alessandra dalam kegelapan seorang diri.

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s