[EXOFFI FREELANCE] Autumn: Lady of the Night (Chapter 5)

lady-of-the-night

Autumn: ℒady f the Night

by: Andelle/Han

Main cast:

EXO’s Oh Sehun, OC’s Alexa Kim and Kris Wu

Additional Cast:

EXO’s Byun Baekhyun and Kim Jongin

OC’s Jung Yunhee, Lee Hyena and Choi Hana

A Thriller, Suspense, Tragedy, Romance, and Psycho story

PG-17 rated  ¶  Chaptered length

Credit Poster: Hyunleea@ Indo Fanfiction Arts

DISCLAIMER

We just own the plot and the original character. This is Andelluhan & Byunhunnie second fanfict collab in our Season Fanfict Project―Every season has their own story. Previous series has been done for you [Summer: Mirage], you can find that on HERE.Now we come with a new story on new season; Autumn. So, enjoy the Autumn! And there’s no element of plagiarism in this story. Copy this story without any credit and/or our own permission is prohibited.

COPYRIGHT©2016 ANDELLE & HAN ALL RIGHT RESERVED

HAPPY READING

◊◊◊◊◊◊

#Teaser 1

 #Teaser 2 || #Chapter 1 || #Chapter 2 || #Chapter 3 || #Chapter 4 || [NOW] #Chapter 5

#5: Give up?

Sehun menatap kotak yang ada di hadapannya dengan tatapan kosong. Pagi ini, seseorang mengirimkannya paket yang sama seperti kemarin. Isinya pun sama, selembar kertas di dalam sebuah amplop. Namun kali ini kertasnya kosong, sama seperti hari-hari sebelumnya. Selama empat hari berturut-turut setelah kejadian itu, Sehun hanya menemani Alexa di apartemennya. Ia ingin menjaga Alexa dari si peneror itu. Tapi tidak ada yang terjadi sampai sekarang.

Sehun sebenarnya ingin menemani Alexa di apartemennya lagi hari ini. Tapi Alexa memaksanya untuk pergi bekerja. Yah, memang tidak lucu jika seorang CEO harus libur berhari-hari lamanya. Alexa juga berkata dengan lagak meyakinkan Sehun kalau tak ada yang perlu di khawatirkan. Katanya, selama ia masih memiliki pisau dapur, ia akan baik-baik saja. Jadi disinilah ia sekarang, di ruangannya dengan tumpukan kertas yang ada dihadapannya.

Sejujurnya, Sehun tak tega meninggalkan Alexa seorang diri di apartemen yang sepi itu. Kalian pasti sudah tahu kalau ibu Alexa akan pergi bekerja saat pagi hari dan pulang saat akan mendekati jam tidur malam.

Sehun menghela napas lalu menyingkirkan kotak yang baru saja ia terima, menarik beberapa kertas dan mulai membaca tulisan yang tertera di setiap lembarnya. Lebih baik ia bekerja dari pada berdiam diri, bukan? Meski yang terlintas dalam otaknya tak pelak adalah Alexa Kim semata, namun Sehun mencoba fokus dengan pekerjaannya saat ini.

Alexa akan baik-baik saja, Oh Sehun. Kau harus percaya padanya.

“Masuklah,” ucap Sehun spontan saat mendengar dua kali ketukan di pintu ruang kerjanya. Ia lalu melepaskan kacamata yang bertengger di hidungnya.

Tubuh tinggi semampai Lee Hyena memasuki ruangan yang ditempati Sehun. Ia lalu tersenyum manis sambil membungkukkan badannya. “Tuan Oh, ada yang ingin bertemu denganmu,” ucap gadis itu sopan.

“Suruh dia masuk,” ucap Sehun singkat, lalu kembali membaca dan membubuhkan tanda tangannya di bagian kanan bawah kertas.

Gadis yang menjabat sebagai sekretaris Sehun sejak tahun lalu itu kembali membungkukkan badannya lalu pergi meninggalkan Sehun. Sehun berpindah ke sebuah sofa, mempersiapkan diri untuk menerima tamunya. Beberapa saat kemudian, seorang pria dengan tubuh tinggi masuk. Ia tersenyum ramah ke arah Sehun lalu membungkukkan badannya. “Selamat siang, Tuan Oh.”

Sehun membungkukkan badannya, “Selamat siang, silahkan duduk” ujar Sehun.

Pria itu tersenyum lalu duduk di salah satu sofa dengan nyaman―seakan-akan ruangan itu adalah miliknya. Disusul kemudian Sehun yang juga duduk di sofa lain yang berada di samping pria itu.

“Apa yang membuatmu datang ke sini, Tuan Wu?”

Tuan Wu adalah salah satu saingan terbesar perusahaan ini. Wu Company memang sudah lama ingin menjatuhkan perusahaan ini. Bahkan sebelum Sehun menjadi CEO di sini. Tak ayal jika Sehun mengenal pemilik Wu Company itu karena mereka sering bertemu dalam pertemuan-pertemuan para pemimpin perusahaan besar di Korea.

Sedikit informasi, Sehun tak menyukai kepribadian Kris yang keras kepala dan selalu ingin menang sendiri tanpa peduli dengan yang lainnya. Seakan-akan hidup adalah miliknya.

“Aku hanya ingin menanyakan kabarmu,” ucap Kris santai.

What? Jadi, Kris rela meluangkan waktunya datang ke sini hanya untuk menanyakan kabar Sehun? Ini sungguh di luar akal sehat, bukan? Mereka juga bukan teman dekat. Hanya sebatas saling mengenal.

“Kabarku baik,” ucap Sehun dingin.

“Benarkah?” Kris tersenyum miring. Ia kemudian menatap wajah Sehun yang sarat akan kedinginan hatinya lalu membenarkan posisi duduknya menjadi lebih tegap.

“Kabarku juga baik. Apa kau sudah menerima paket yang kuberikan untukmu?” sambung Kris.

“Jadi kau pengirimnya?” tanya Sehun dengan tenang. Ia berusaha untuk tidak bersikap gegabah dan lebih memilih untuk tenang. Bisa saja ini salah satu trik Kris, rivalnya, untuk menjatuhkannya.

Bukannya menjawab pertanyaan Sehun, Kris malah bertanya kembali kepada Sehun, “Apa kau senang dengan hadiahku? Menarik, bukan?”

“Aku sama sekali tidak menyukainya,” ucap Sehun penuh dengan penekanan.

“Kalau begitu aku senang.”

Sehun mengernyitkan dahinya. Pria yang satu ini memang tidak bisa berhenti membuatnya marah. “Tidak bisakah kau menghentikan permainan bodohmu itu? Itu terlalu kekanakan, Kris. Apa sebenarnya maumu?”

“Mauku?” Kris mengangkat salah satu alisnya lalu tersenyum mengejek. “Lebih baik kau memikirkan keadaan Alexa-mu itu sekarang,”

Sehun sudah tidak tahan lagi. Kris benar-benar mampu menyulut emosinya dengan cepat. Sehun bangkit, mendekat ke arah Kris dan langsung menarik kerah baju lelaki itu dengan kasar hingga tubuh jangkung Kris sedikit tersentak. “Apa yang kau lakukan padanya?!”

“Tenanglah, Oh Sehun. Ia tidak apa-apa. Hanya saja mungkin ia sedang kedatangan tamu penting yang ingin melakukan sesuatu yang tertunda”

“Apa maksudmu? Katakan dengan jelas!” bentak Sehun, ia mengeratkan genggamannya pada kerah baju Kris.

“Apa kau masih tidak mengerti? Kau tidak ingat insiden Myeongdong itu? Tentu saja membunuh Alexa, menurutmu apa lagi?” ucap Kris dengan diakhiri senyuman licik.

Tanpa bisa dihindari lagi, pukulan tangan Sehun mendarat tepat di wajah Kris. Pukulan itu sukses membuat Kris jatuh di sofa di belakangnya. Sudut bibir Kris mulai mengeluarkan darah. “Jika aku menemukan Alexa dalam keadaan buruk, aku takkan segan-segan untuk membunuhmu saat itu juga! Jadi, jangan pernah menyentuhnya!”

Dan Kris hanya tertawa mendengar kalimat itu sambil menyeka darah di sudut bibirnya. Ini hanya sebuah permulaan.

 

-[Autumn: Lady of The Night]

WHEN LOVE PRESENT BY BLOOD

 

Sendirian memang tak menyenangkan. Dan Alexa tahu betul akan hal itu. Ditambah dengan suasana menakutkan yang tengah datang menghampiri, lantas Alexa hanya bisa meringkuk dalam hangatnya selimut di apartemen yang entah mengapa jadi sangat senyap beberapa hari ini. Suasananya sangat berbeda.

“Oh, Jeez Louise, i’m so  hungry―

Alexa bangkit dari tidurnya dan meraih ponselnya yang ada di atas nakas. Sudah enam jam lamanya Alexa hanya berada di dalam kamarnya yang berwarna putih. Dan sudah enam jam pula gadis itu menyendiri di sana. Tidak ada yang bisa ia lakukan, bahkan untuk sekadar bertandang ke kafe langganannya yang tak jauh dari apartemen ini.

“Hm, mungkin pizza terdengar baik.”

Lantas Alexa langsung menelpon salah satu restoran pizza untuk memesan satu kotak pizza dengan topping kesukaannya. Setelah itu, ia kembali merebahkan diri di atas tempat tidurnya yang nyaman itu.

Mata Alexa fokus menatap langit-langit kamarnya. Gadis itu menghela napasnya yang benar. Tuhan, dia benar-benar ingin segala kegelisahannya terhembuskan bersama nafasnya. Alexa meraih ponselnya yang kini ada di sebelahnya lalu memainkannya sebentar.

Entah sadar atau tidak, Alexa melihat-lihat semua fotonya bersama Sehun yang ada di ponselnya kini. Padahal mereka baru berkenalan satu bulan yang lalu, namun foto yang mereka buat sudah lumayan banyak. Yah, hanya foto selca biasa dengan pose tak menentu. Kadang, Alexa malah diam-diam menjepret Sehun dengan kamera ponselnya. Lumayan sebagai pemanis di galerinya. Lagipula, tidak lucu jika Alexa tidak punya foto calon suami sendiri.

“Ah, harusnya tak kubiarkan lelaki menyebalkan itu bekerja,” sesal Alexa sambil menghembuskan napasnya dan mematikan ponselnya itu.

Jujur, ia ingin sekali menghubungi Sehun saat ini. Bertanya tentang apa yang tengah lelaki itu lakukan, apakah ia bisa mengerjakan semua pekerjaannya, apa ada klien yang datang hari ini, jam berapa ia akan pulang ke rumah, makanan apa yang menjadi makan siangnya dan masih banyak lagi―meskipun ia tahu bahwasanya Sehun pasti tengah sibuk saat ini karena sudah libur selama empat hari berturut-turut.

Tapi Alexa benar-benar merindukan Sehun. Oh Tuhan. Kalau saja ada Sehun, pasti suasananya tidak akan sesenyap ini. Dan pasti mereka tengah makan di suatu tempat saat ini.

Ngomong-ngomong soal makanan, Alexa benar-benar lapar saat ini. Salahkan ibu Alexa yang hanya membuat roti panggang sebagai sarapan mereka tadi.

 

Ting Tong

 

Ting Tong

 

Oh, pizza-nya sudah datang! Cepat sekali! Padahal setahunya letak restoran itu cukup jauh dari gedung apartemennya. Hah, untuk selanjutnya Alexa berjanji akan menjadi pelanggan setia restoran itu!

Alexa langsung bangkit dan mengambil dompetnya lalu berjalan menuju pintu apartemennya, takut membuat si kurir pizza menunggu terlalu lama. Kenapa? Karena Alexa tahu bagaimana rasanya menunggu terlalu lama. Seperti saat ini, dia menunggu Sehun untuk waktu yang terlalu lama. Sungguh tidak menyenangkan.

 

Ting Tong

 

“Sebentar..”

Alexa membuka pintunya dan betapa terkejutnya ia saat mendapati bukan sesosok manusia dengan seragam dan sekotak pizza yang berdiri di hadapannya kini, melainkan seorang pria yang berdiri dengan tegap dengan seorang gadis bersurai hitam di sampingnya. Si pria menggunakan kemeja putih sementara si gadis itu menggunakan jaket warna hitam. Alexa hanya menatap keduanya heran. Ia belum pernah melihat kedua orang ini. Apa mereka salah satu klien ibunya? Tapi, untuk apa mereka membawa sebuah kursi roda?

“Maaf, kalian siapa?” tanya Alexa ragu.

Si pria tersenyum kecil dan menatap Alexa, seakan sudah mengenal betul gadis itu, “Alexa Kim, aku Kim Jongin, penggemarmu.”

Hee? Sejak kapan Alexa punya penggemar? Dia ‘kan tidak pernah jadi trainee di suatu agensi. Bingung, Alexa mengedipkan matanya beberapa kali dengan mulut yang sedikit terbuka.

“Kenapa kau menghancurkan boneka beruang pemberianku? Apa kau tidak tahu kalau aku sudah bersusah payah membuat itu agar aku tahu semua yang kau lakukan?” sambung lelaki yang kita ketahui bernama Jongin itu.

Sontak jawaban Jongin langsung membuat Alexa kaget bukan main. Ia sama sekali tak menyangka bahwa si pengirim itu akan menemuinya hari ini. Raut wajah Alexa berubah menjadi ketakutan. Gadis itu refleks mundur untuk beberapa langkah dan menjatuhkan dompetnya ke lantai.

Sedetik kemudian, Alexa langsung menutup pintunya dengan kasar. Ia tak mau mati sia-sia. Namun sayangnya, si pria berkemeja putih itu berhasil menahan pintu itu dari luar dengan lengannya yang besar. Semakin kuat Alexa mencoba untuk menutup pintu itu, semakin kuat pula si pria mendorong pintu itu agar terbuka.

“Jangan takut, Alexa. Kami hanya ingin agar kau ikut bersama kami. Kita akan bersenang-senang.”

Kalimat itu benar-benar seperti kalimat dari neraka di telinga Alexa. Intonasi yang dingin benar-benar membuat Alexa semakin meringkuk dalam ketakutan. Apa yang tak diharapkannya terjadi! Dan Alexa mulai menitikkan air matanya, wajahnya memerah. Ia benar-benar cemas dan takut.

Alexa masih berusaha sekuat tenanganya untuk menutup pintu itu. Tangisannya semakin jadi. Dan keringat dingin perlahan turun membahasahi pelipisnya. Sungguh ia tak tahu apa yang harus ia lakukan sekarang ini.

Brak!

Alexa terjatuh dengan keras. Jelas ia tak mampu melawan Jongin yang lebih besar darinya itu. Kedua orang itu tersenyum miring memandangi Alexa yang terjatuh dan meringis. Menyadari bahaya yang tengah mengincarnya, Alexa langsung berlari ke dalam rumahnya untuk menemukan perlindungan. Disusul kemudian Jongin pergi mengejarnya dengan sebilah pisau di tangannya, sementara si gadis temannya itu menyeret kursi roda yang mereka bawa ke dalam apartemen.

“Bagaimana ini? Sehun, tolong aku! Aku benar-benar takut! Aku membutuhkanmu!”

Dengan nafas yang terputus-putus, Alexa berlari menuju untuk menemukan pisau dapur yang bisa ia gunakan untuk merobek perut Jongin jika laki-laki itu berani berbuat buruk padanya. Tapi sial, ia tak bisa menemukan apapun.

Alexa menangis sejadi-jadinya ketika lengan Jongin yang begitu kekar melingkar di lehernya. Jongin mendekapnya dengan kasar, membuat Alexa kesulitan untuk bernafas. Tangannya yang mungil tak mampu untuk melepaskan lengan Jongin dari lehernya. Ia terlalu takut. Sebilah pisau kecil yang tajam kini berada tepat di dekat tulang pipinya.

“Akh!”

Darah segar dengan warna merah pekat mengalir dari pipi kanan Alexa dan jatuh ke lantai yang putih bersih itu. Alexa hanya mampu menangis dan menahan rasa sakitnya karena Kim Jongin telah menggores pipinya yang mulus dengan pisau kecil itu.

“Sakit, ya?” Alexa bisa mendengar Jongin tertawa melihat reaksi kesakitan darinya. Sungguh pria yang mengerikan. Bagaimana bisa ada manusia semacam dia?

Jongin menjatuhkan pisaunya setelah mencabut benda itu dari pipi Alexa dan menyeret Alexa dengan kasar menuju ke arah temannya. Agaknya ia kesal dengan Alexa yang terus menerus memberontak dan mencoba meloloskan diri dari rangkulannya. Belum lagi teriakan gadis itu yang begitu membuat telinga Jongin sakit.

“AAHH!!”

Dan entah bagaimana, mata Alexa benar-benar terasa berat. Alexa terlalu lambat untuk menyadari bahwa ia tengah berada di bawah pengaruh obat bius. Sedetik kemudian, semuanya menjadi gelap dalam pandangan Alexa.

“Ah, seharusnya aku menggores wajahnya lebih dalam,” kata Jongin sambil mengusap darah yang ada di pipi Alexa. Agaknya lelaki ini sangat senang melihat darah yang masih terus keluar dari goresan pisau itu.

“Sekarang cepat taruh dia di sini, Jongin.”

Jongin menaikkan tubuh Alexa hingga dagu gadis itu ada di pundaknya dan berjalan lebih dekat menuju temannya itu yang kini tengah menatap mereka.

“Bantu aku, Hana.”

Hana membantu Jongin untuk mendudukan Alexa yang tidak sadarkan diri itu di atas kursi roda. Setelah dirasa pas, Hana langsung membuka jaketnya, menyampirkannya di pundak Alexa dan menutup kepala Alexa dengan topi yang ada di jaket itu lalu mendorong kursi roda itu keluar. Jongin berjalan mengukuti Hana dan menutup pintu apartemen Alexa dengan kasar.

Keduanya lalu berjalan menuruni tangga untuk menuju area parkiran dan langsung membawa Alexa ke suatu tempat yang telah direncanakan sebelumnya. Alexa hanya terduduk dan tidak sadarkan diri, dengan kepalanya yang tertunduk dengan pasrah. Dan darah di pipi Alexa masih menetes sesekali.

 

-[Autumn: Lady of The Night]

WHEN LOVE PRESENT BY BLOOD

 

Sehun baru saja pulang dari kantornya. Dia sudah tidak tahan lagi untuk berlama-lama di kantor dan meninggalkan Alexa seorang diri di dalam apartemennya. Kali ini, Sehun membawa motor sport-nya dan meninggalkan mobilnya di kantor. Setelah selesai memarkirkan motornya, Sehun langsung berlari kecil menuju apartemen Alexa.

Saat di tangga lantai sembilan, Sehun berpapasan dengan dua orang lelaki dan wanita yang sedang mendorong sebuah kursi roda. Sepertinya orang sakit, karena si wanita yang ada di kursi roda tersebut tak sadarkan diri.

Sehun buru-buru berjalan menuju apartemen Alexa di lantai dua belas dan menekan tombol password sebelum membuka pintu apartemen dengan tidak sabaran. Namun, Sehun dikejutkan dengan dompet warna merah jambu yang ia ketahui sebagai dompet kesayangan Alexa tergeletak di lantai.

Pria itu sontak panik dan masuk ke dalam apartemen. Sehun semakin dibuat terkejut dengan pemandangan ruang tengah yang sedikit berantakan. Dengan cepat, Sehun menuju kamar Alexa karena ia tahu gadis itu sangat berkurung diri di dalam ruangan pribadinya itu. Nihil, Sehun tak menemukan Alexa. Hanya ponsel gadis itu yang terlgeletak di atas tempat tidur.

Where’s Alexa?” gumam Sehun cemas lalu mengambil ponsel Alexa dan berjalan keluar.

Kalian bisa membayangkan wajah Sehun seperti tomat masak saat ini. Bukan karena tersipu malu, melainkan karena panik tak mendapati keberadaan gadisnya di dalam apartemen.

“Ah!”

Sehun meringis ketika ia meraskaan kakinya memijak sesuatu yang tajam. Lelaki itu langsung mengankat kakinya dan menemukan sebilah pisau kecil tajam di baliknya dengan darah di ujung mata pisau.

Tunggu! Darah? Yah, setidaknya itulah yang Sehun lihat dengan tiga tetesan darah lagi yang ada di sekitar pisau itu. Sontak wajah Sehun berubah menjadi  panik, ia tak menyangka bahwa sesuatu yang buruk terlah menimpa Alexa. Dan ia yakin ini pasti ulah si brengsek Kris!

Getaran dari ponsel Alexa yang tengah berada di genggaman tangan Sehun langsung menarik atensi lelaki dua puluh tiga tahun itu. Sebuah pesan masuk. Dan Sehun langsung membacanya. Dari nomor tidak dikenal. Siapa?

 

Annyeong, Oh Sehun.

Sedang mencari gadismu, ya?

Maaf karena sudah membawanya tanpa izin.

Aku tidak tahan lagi untuk bermain dengannya.

Kau menyerah?

 

To be Continued

 

Thank you for reading

Hope you like it

4 thoughts on “[EXOFFI FREELANCE] Autumn: Lady of the Night (Chapter 5)

  1. Aaarrrrggghhhh teriak frustasiiiii
    Ap lg yg paling nakutin selain TBC?!?!
    Othor lg asik2 ny inihhhh
    Huhuhu
    Semangat y thor bkinny
    Moga gk ad rintangan

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s