[EXOFFI FREELANCE] All Is Patient (Chapter 11)

Poster All Is Patient

Title:

All Is Patient

 

Author:

Candyness

 

Lenght:

Chaptered

 

Genre:

Romance, marriage life

 

Rating:

PG16

 

Main Cast:

Park Chanyeol (EXO)

Oh Sehun(EXO)

Son Wendy (RED VELVET)

Kang Seulgi (RED VELVET)

 

Other Cast:

EXO member

RED VELVET member

Seohyun (SNSD)

And many more

 

Disclaimer :
Fanfict ini murni karangan Author, dan fiktif belaka. Ff ini juga di publish di candynessblog.wordpress.com

Note:
Maaf ya telat update..

Happy Reading!~

.

Saat akan masuk ke coffee shop, Ia menatap jalanan di sekelilingnya, rasanya jalanan ini tidak asing. Lagi-lagi, Wendy mengingat perkataan Sulli kemarin tentang Ibu Chanyeol.

Wendy mengejar wanita itu. Kali ini Ia tidak langsung menyapa wanita tersebut, Ia terus mengikuti langkah kakinya. Dan setelah sekian lama Ia mengikuti sang wanita, Wendy memasuki sebuah rumah yang masih sangat tradisional. Ia mengeluarkan ponselnya dan melihat foto dari layar benda canggih itu, dan betapa terkejutnya Ia, matanya membulat. Ekspresinya berubah seketika.

Chapter 11

Wendy melihat wanita paruh baya tadi sedang duduk karena lelah. Ia kembali menatap layar ponselnya. Kali ini Ia yakin, orang itu adalah Ibu Chanyeol. Bagaimana bisa Ibu seorang pengusaha sukses bisa berada di tempat macam ini? Kotor, atapnya bocor, pintunya masih pintu geser, dan rasanya gelap di dalam karena penerangan yang kurang. Wendy bingung harus melakukan apa sekarang. ia tidak bisa memilih antara pergi dan tetap tinggal walaupun hanya sekedar menyapa Ibu mertuanya.

Wendy kini teringat akan nama Sulli. Kenapa Sulli seakan tahu kalau Ibu Chanyeol ada di sini? Wendy masih membeku tak bergeming walau sedikitpun. wanita tadipun tidak menyadari kehadiran Wendy karena Ia memang sengaja tidak menampakkan dirinya.

“Permisi..” Akhirnya Wendy menyerah. Ia memanggil wanita yang Ia yakini sebagai Ibu Chanyeol itu.

“Anda siapa?” Tanya wanita paruh baya yang tadi dipanggil Wendy.

~

Chanyeol menuju ke butik Park Yoora untuk menjemput Wendy seperti biasa. Ia keheranan, kenapa jam 7 begini Wendy tidak ada di tempat biasa Chanyeol menjemput? Karena penasaran, Chanyeol masuk menuju ke ruangan Yoora.

“Noona, apa Wendy sudah pulang? Kok tidak ada di luar?” Tanya Chanyeol pada kakaknya.

“Aku tidak tahu. Tadi pukul setengah empat sore Wendy izin untuk pergi membeli coffee” Ujar Yoora.

“Benarkah?” Tanya Chanyeol.

“Setahuku Dia juga tidak di butik sekarang. mungkin Ia memiliki urusan di luar, jadi Aku biarkan saja” Jawab Yoora.

Chanyeol mengangguk, lalu Ia mengeluarkan ponselnya dan menghubungi Wendy.

“Halo, Sayang.. Kamu dimana?” Tanya Chanyeol to the point.

“Oppa..” Suara Wendy terdengar lirih di ponsel Chanyeol.

“Wae? Kenapa suaramu begitu?” Chanyeol terdengar agak khawatir.

“Aku sudah ada di persimpangan depan butik. Aku akan menunggumu” Wendy menjawab lalu sambungan telepon terputus. Membuat Chanyeol keheranan dibuatnya.

Setelah mendengar telepon terputus, Chanyeol pamit pada Yoora untuk pergi menjemput Wendy.

Wendy menunggu Chanyeol dengan perasaan tak menentu. Setelah beberapa saat Ia menutup telepon dari Chanyeol, muncul Chanyeol tak jauh di depannya. Lelaki itu keluar dari mobil dan menghampiri Wendy dengan senyum mengembang.

“Kenapa Kau ada di sini?” Tanya Chanyeol. Wendy menatap Chanyeol penuh, lalu menggeleng.

“Lalu kenapa wajahmu begitu?” Tanya Chanyeol lagi.

“Aku lelah” Wendy menjawab sekenannya.

Chanyeol menganggukkan kepalanya. Ia seakan tahu kalau ada yang tidak beres pada Wendy. Ia memegang tangan Wendy dan membukakan pintu mobil untuk gadis itu.

“Ayo pulang” Ujar Chanyeol.

Wendy hanya menuruti Chanyeol saja. Moodnya benar-benar buruk sekarang.

~

Seulgi sedang menata baju Sehun di lemari. Ia melirik Sehun yang sedang bermain ponsel, mungkin sedang bermain game. Sekarang Seulgi berencana untuk mengunjungi ayahnya di kantor kepolisian. Namun apakah Sehun baik-baik saja jika Ia tinggal sendirian di rumah begini?

“Sehun, Aku mau keluar sebentar. Apa boleh?” Tanya Seulgi. Sehun hanya mengangguk tanpa menoleh ke arah Seulgi. Bagaimana bisa Sehun seperti itu padanya? Mengacuhkannya?

Seulgi menghirup udara dalam-dalam lalu mengeluarkannya dengan pelan. Ia berlanjut menuju ke lemari untuk mencari baju, karena baju yang Ia kenakan saat ini adalah baju tidur. Setelah menemukan baju yang kira-kira pas, Seulgi hendak mengganti bajunya di situ juga. Sehun melihat apa yang akan Seulgi lakukan.

“Apa yang Kau lakukan?” Tanya Sehun.

Seulgi menoleh. Ah ya, Ia lupa kalau Sehun sedang amnesia dan tidak terbiasa dengan hal ini.

“Ah maaf. Aku akan ganti di kamar mandi” Ucap Seulgi. Sehun mengangguk.

Setelah siap, Seulgi menuju ke kantor polisi menggunakan taxi. ia menunggu Ayahnya di sebuah ruangan yang dibatasi oleh kaca yang berlubang. Tak lama, Ayahnya muncul dengan pakaian tahanan dan duduk di balik kaca pembatas tadi.

“Anakku..” Ucap beliau. Seulgi prihatin melihat Ayahnya yang terlihat kurus. Apakah Ayahnya ini sudah menyerah? Kenapa terlihat lemah?

“Ayah, Kau terlihat kurus” Seulgi berkata.

“Kau juga terlihat kurus” Ayahnya berkata lagi.

Selanjutnya, Seulgi dan Ayahnya sama-sama hening. Tidak ada yang berkata, hingga akhirnya Seulgi membuka suara lagi. “Apa benar Ayah yang melakukannya?”

Ayah Seulgi terkejut dan menatap anaknya. “Maafkan Ayah” Beliau menunduk. Seulgi menjadi sedih. Apa ini sudah menjadi akhir? Kenapa hidupnya begitu pelik seperti ini?

“Ayah tidak bersalah. Benar?” Seulgi berkata lagi. kali ini Ia menatap penuh Ayahnya.

“Mianhanda” Ayahnya berkata lagi.

“Ayah, Aku mohon… Kali ini katakan kalau Kau tidak bersalah.. Tolong Ayah” Seulgi mulai terlihat putus asa. Kali ini Ia benar-benar mencoba untuk tidak menangis.

“Makanlah yang banyak dan tetap sayangi suamimu” Beliau hanya berkata demikian lalu pergi meninggalkan Seulgi yang masih mematung di tempatnya. Mencoba bersabar dan memikirkan kata-kata Ayahnya.

~

18.00 KST.

Chanyeol dan Wendy sampai di rumah. Wendy begitu murung, bahkan saat di mobil Ia tak berbicara sama sekali. chanyeol terus dibuat heran. Ia mencoba menunggu Wendy bercerita tentang sesuatu yang membuat istrinya murung seperti itu.

“Kau kenapa?” Tanya Chanyeol akhirnya. Ia melihat Wendy sedang duduk di kursi makan untuk meneguk air putih dari kulkas.

“Lelah” Kata Wendy singkat kemudian menuju ke kamar mandi bersiap untuk membersihkan badan.

“Ayolaah. Kenapa Kau terlihat murung? itu tidak menyenangkan sama sekali” Chanyeol berkata di luar pintu kamar mandi. Namun tidak ada sahutan dari dalam. Chanyeol menggembungkan pipinya, Ia berpikir mungkin Wendy masih butuh waktu untuk bercerita.

Selesai mandi, Wendy menuju ke dapur untuk memasak selagi Chanyeol mandi. Ia masih memikirkan kejadian beberapa waktu lalu.

Flashback

“Anda siapa?” orang yang Wendy yakini sebagai Ibu Chanyeol bertanya.

“Anyeonghaseyo Eomonim” Wendy membungkuk 90 derajat pada mertuanya.

Ibu Chanyeol terlihat kebingungan dengan perkataan Wendy.

“Aku istri Park Chanyeol” Wendy menjelaskan sambil tersenyum. Seketika wajah wanita itu memancarkan raut gembira.

Benar! Wanita ini memang ibu Chanyeol.

“Aku pernah mendengar bahwa Chanyeol menikah beberapa bulan lalu. Aku juga melihat foto kalian. Maaf Aku melupakan wajahmu. Kau sangat cantik. Siapa namamu?” Tanya Ibu Chanyeol sambil mempersilahkan Wendy untuk duduk. Wendy menurutinya.

“Nama Saya Son Wendy”

“Kau bukan orang korea?” Ibu Chanyeol terlihat bingung.

“Tidak, saya asli korea. Nama korea saya Son Seungwan” Wendy menjelaskan.

“Nama yang indah”

“Gamsahabnida”

Wendy dan Ibu mertuanya berbincang ringan, dan tanpa terasa, hari sudah menjelang petang.

“Eomonim, ini sudah mau malam. Saya pamit” Wendy berdiri dari duduknya hendak pulang.

“ Ah ya, bisakah Kau mengirimkan salamku pada Chanyeol?” Ibu Chanyeol terdengar memelas.

“Ne. Tentu” Wendy mengiyakan dengan senyum manisnya.

Langsung saja sang ibu berbinar-binar. Ia memang ingin sekali bertemu Chanyeol, namun Ia tak bisa. Siapa yang tidak merindukan anak kandung yang terpisah sekian lama?

“Hati-hatilah”

“Ne” Wendy membungkuk.

Setelahnya, Wendy langsung keluar dari rumah tua itu. Saat akan membuka gerbang, Ia berpapasan dengan Ayah mertuanya. Ayah Chanyeol. Wendy berekspresi kaku, Ia tak menyangka orang berdedikasi seperti Ayah Chanyeol mengasingkan istrinya sendiri di sebuah rumah kotor. Wendy sudah mendengar semua cerita tentang Ibu Chanyeol.

Ayah Chanyeol juga berekspresi kaku. Ia terkejut Wendy ada di rumah ‘mantan’ istrinya.

“Anyeonghaseyo” Wendy menyapa.

“Oh. Bagaimana bisa Kau ada di sini?” Tanya Ayah Chanyeol dengan muka yang nampak tak suka.

“Itu.. Saya hanya mengobrol ringan dengan Eomonim”

“Siapa Kau sebut Eomonim!” Ayah Chanyeol berkata tegas, membuat Wendy sedikit takut. “Jangan katakan apapun pada Chanyeol jika Kau tak ingin terjadi sesuatu yang tak di inginkan, dan besok pergilah ke rumahku tanpa Chanyeol! Pukul 4 sore”

Wendy terkejut sesaat, namun akhirnya Ia hanya mengangguk dengan ragu.

Flashback End

Wendy berhenti mencuci sayuran sejenak untuk sekedar menghela nafas. Tiba-tiba, Ia merasakan sebuah lengan kekar mengitari perutnya. Dan itu membuatnya kaget.

“Lelah?” Terdengar suara Chanyeol, pemilik tangan kekar. Wendy hanya diam. Ia memegangi tangan Chanyeol di perutnya.

“Apa ada hubungannya dengan butik baru Noona?” Chanyeol bertanya lagi. wendy mengeluarkan nafas pelan lalu berbalik, membuat Chanyeol harus melepaskan pelukannya.

Wendy menghadap Chanyeol dan mendongak menatap iris mata suaminya. “Aku takut” Katanya.

“Takut apa?” Tanya Chanyeol.

Wendy menggelengkan kepalanya. “Aku takut Kau belum mandi” Wendy berkata asal untuk mengalihkan topik.

“Hei, Aku sudah sangat wangi ini!” Chanyeol protes pada Wendy.

Wendy hanya tersenyum memandangi wajah lucu suaminya.

……………………………………….

Seulgi kembali dari kantor polisi dengan taxi lagi. ia masih sedih mendengar penuturan maaf Ayahnya, seakan Ayahnya itu memang tersangka kecelakaan mobil Ibu Sehun.

Berhubung Seulgi tidak memiliki sesuatu untuk dimasak, Ia mampir ke supermarket dulu. Saat sedang membayar di kasir, tanpa sengaja ekor mata Seulgi melihat ada Kim Jongin.

“Direktur Kim” Sapa Seulgi pada Jongin setelah selesai membayar belanjaannya.

“Ah Nona Kang, tak perlu formal begitu, panggil saja Jongin. Mari Kita bicara informal karena Kita seumuran”

“Ah.. Kau juga panggil Seulgi saja” Ujar Seulgi. Jongin tersenyum dan mengangguk.

“Apa Kau belanja?” Tanya Jongin.

Seulgi mengangguk. “Apa Kau tinggal sendiri? Kenapa belanja sendiri?”

“Yah, begitulah. Haha”

“Mm, kalau begitu Aku duluan” Seulgi berniat pulang.

“Oh ayo kuantar. Ini sudah malam”

“Tak apa, Aku bisa naik taxi”

“Naik taxi itu boros. Tak apa, tak usah sungkan”

“Baiklah”

Akhirnya Seulgi pulang dengan diantar Jongin.

“Terima kasih atas tumpangannya” Seulgi membungkuk lalu keluar dari mobil Jongin dan masuk ke apertemen. Jongin mengangguk dan menjalankan mobilnya menuju rumah.

Tanpa Seulgi duga, ada Sehun di dekatnya.

“Oh Sehun” Seulgi tersenyum lebar pada Sehun.

“Siapa tadi?” Sehun memasang muka datar.

“Apa? Siapa? Aah, tadi adalah direktur Kim Jongin. Teman bisnismu” Seulgi menjelaskan sambil berjalan di sebelah Sehun.

“Kalian terlalu dekat” Sehun berkata lagi.

“Ne?” Seulgi terkejut. Apa maksud Sehun?

“Jangan dekat-dekat dengan pria lain. Kau sudah bersuami. Lain kali pulanglah dengan taxi. jika sudah malam, telepon Aku. Aku akan menjemputmu” Sehun masih berkata dengan datar. Sehun tidak tahu, kalimat itu keluar begitu saja dari mulutnya. Mengenai ingatan, tentu saja Sehun belum bisa mengingat apapun.

Seulgi berhenti berjalan, Ia menatap Sehun di sampingnya. “Benarkah ini Oh Sehun yang amnesia?” Batinnya. Ia senang Sehun menghawatirkannya. Bahkan sangat senang.

~

Sesampainya di apartemen, Seulgi memasak sup untuk Sehun. sehun menatap Seulgi dalam diam. Melihat gerakan lincah istrinya saat memasak. Ia masih bertanya-tanya sampai saat ini “Benarkah Ia istriku?” katanya dalam hati. Menurutnya, Seulgi itu cantik, pintar, lincah, ramah senyum, pintar memasak, dan baik pada semua orang.

“Kemarilah. Supnya sudah jadi” Ujar Seulgi. Sehun tersenyum kecil. Ia sangat bersyukur memiliki istri seperti Seulgi.

“Besok.. Aku akan mulai bekerja” Sehun berkata di tengah-tengah makan malam.

Seulgi menatap Sehun. “Kau yakin? Apa tidak terlalu awal?”

“Aku sudah sembuh. Sekarang hanya masalah ingatan” Ujar Sehun.

Mengingat tentang amnesia Sehun, lelaki itu belum ingat apa-apa, tapi sikapnya sudah tidak datar seperti waktu pertama kali bangun dari kecelakaan.

“Baiklah. Kau akan menyetir sendiri?” Tanya Seulgi.

“Iya”

“Tapi.. Baiklah, Kau harus hati-hati. Aku akan bangun pagi untuk membuatkanmu bekal makan siang” Seulgi tersenyum sangat manis.

Sehun mengangguk.

~

Pagi harinya….

“Sehun, bangunlah” Seulgi membangunkan Sehun.

Sehun menggeliat. Ia masih merasa sangat mengantuk.

“Ayolah. Kau harus berangkat bekerja” Seulgi membangunkan Sehun lagi.

Mendengar kata ‘bekerja’ membuat mata Sehun terbuka dan mambuat pemiliknya duduk. Sehun mengucek matanya, lalu Ia melihat ada Seulgi si sebelahnya yang masih memakai baju tidur dan rambutnya tergerai, terlihat berantakan, namun itu semua mampu membuat Sehun terpaku. Seulgi tetap cantik walaupun setelah bangun tidur. Tatapan Sehun membuat Seulgi bingung, Ia berdiri dan menatap Sehun.

“Apa Aku aneh?” Tanyanya sambil mengangkat kedua tangannya. Sehun menggeleng. “Kau cantik” Ujar Sehun, membuat Seulgi menurunkan tangannya dan tersenyum menatap punggung badan tegap Sehun yang beranjak keluar untuk mandi.

Picture 1

Sehun keluar dari kamar dan melihat Seulgi sedang menata hidangan makan pagi di meja makan. Seulgi menoleh pada Sehun. lagi-lagi, Ia melihat Sehun tidak memakai dasi dengan benar.

“Bagaimana bisa wakil Direktur kusut seperti ini?” Seulgi membenarkan dasi Sehun. mendengar kata-kata Seulgi, Sehun mematung. Selanjutnya lelaki itu memegangi kepalanya. Kepalanya terasa sakit sekali dan berdenyut.

Seulgi terbingung-bingung.

“Sehun, Kau kenapa? Sehun.. Sehun..” Seulgi semakin panik ketika Sehun terduduk dan memegangi kepalanya.

Seulgi langsung menelepon dokter Kim minseok, Dokter yang direkomendasikan oleh Wendy dan Chanyeol

~

Dokter Kim minseok datang ke apartemen Seulgi dan kini berada di kamar Sehun bersama Seulgi.

“Jangan panik. Suami Anda pasti akan baik-baik saja” Ujar Dokter Kim.

Seulgi mengangguk, namun Ia masih memutar-mutar bola matanya dengan risau sambil menggosok-gosokkan kedua telapak tangannya. Ia takut ada sesuatu yang tak di inginkan terjadi pada Sehun.

Sehun tadi sempat pingsan setelah Seulgi membenarkan dasinya, entah apa masalahnya, Seulgi tidak tahu apa penyebab Sehun pingsan. Yang ia tahu Sehun hanya memegangi kepala dan terduduk di depannya.

“Aku rasa, mungkin.. Tuan Oh mengingat sesuatu” Ucap Dokter Kim lagi.

Seulgi langsung menoleh pada sang Dokter. “Benarkah Dok?”

“Itu mungkin saja, karena saya melihat dari gejalanya”

“Lalu, apakah Ia akan mengingat semuanya?” Tanya Seulgi berharap.

“Itu mungkin saja. Mari Kita berdoa yang terbaik” Kata Dokter bijak.

“Ne” Seulgi mengangguk dan tersenyum. Ia sangat berharap Sehun akan mengingat semuanya.
Tunggu.. Seulgi terlihat berpikir.. Jika Sehun mengingat semuanya, maka otomatis Sehun akan ingat tentang permasalahan Ayah Seulgi yang sedang menjadi tersangka atas kasus kecelakaan Ibu Sehun.

“Kalau begitu saya pamit. Ini obat yang sudah saya resepkan. Minum hanya jika merasa sakit kepala” Dokter Kim beranjak dari posisi duduknya.

Seulgi terbangun dari pemikirannya saat mendengar suara Dokter Kim.

“Ne, gamsahabnida” Tutur Seulgi dan membungkuk.

“Ne. Sama-sama, Saya doakan yang terbaik” Ujar Dokter lalu keluar dari apartemen.

“Ya. Kuharap juga yang terbaik” Gumam Seulgi masih menatap pintu apartemen.

……………………………………….

Wendy sedang membuat makan pagi untuk dirinya dan Chanyeol. Wendy memasak dengan pikiran tak fokus entah kemana, Ia terus kepikiran dengan Ibu kandung Chanyeol. Bahkan tadi malam Ia harus tidur dengan mengubah posisinya miring ke kanan-kiri untuk mencari posisi ternyaman agar cepat terlelap, namun tetap saja Wendy susah tidur. Chanyeol saja sudah tidur dengan pulas, namun harus terbangun karena gerakan ubah posisi Wendy yang membuatnya mau tidak mau harus bangun dan melihat Wendy yang masih belum tidur juga, hingga akhirnya Chanyeol memeluk Wendy dan terus mengusap-usap kepala gadis itu, dan cara tersebut ampuh membuat Wendy nyaman dan menjadi terlelap.

Chanyeol yang sudah rapi dengan pakaian kantornya menunggu Wendy membuat makan pagi di meja makan dengan sebuah tab di tangannya. Ia sedang memantau perkembangan perusahaannya.
“Majalah Kita peringkat 1 lagi” Chanyeol berkata santai seolah sudah terbiasa dengan kata-kata itu. Yah, majalah yang diterbitkan oleh perusahaan keluarga Park memang selalu menjadi nomor 1. “Kali ini Kau memasak apa sayang?” Tanya Chanyeol pada Wendy.

Wendy yang tidak fokus tidak mendengar pertanyaan Chanyeol sama sekali. ia terus membuat masakan dengan lesu. Chanyeol memandang istrinya tersebut. “Apa Kau seserius itu hingga tidak mendengar pertanyaanku hm?” Chanyeol tiba-tiba sudah ada di sebelah Wendy.

“O.. oh, ini masakannya sudah jadi” Ujar Wendy tersadar.

“Aku tidak menanyakan itu” Chanyeol pura-pura cemberut, Ia tahu kalau Wendy masih merasa sedih. Wendy melihat Chanyeol yang cemberut menjadi tersenyum dan menepuk pipi pria itu. “Kau sudah dewasa. Hentikan tingkah imut itu” Ujar Wendy sambil membawa masakannya ke meja makan.

“Ayo makan” Wendy berujar lagi.

“Arasseo” Chanyeol mengangguk mantap seperti anak kecil yang disuruh Ibunya makan siang.

………………………………….

10.00 KST

Sehun membuka matanya perlahan, lalu mengerjap-ngerjap, Ia mulai mendudukkan dirinya. Ini sudah jam 10. Sehun menatap seisi kamar dan langsung terfokus pada foto pernikahannya dengan Seulgi. Ia juga melihat banyak sekali fotonya dan Seulgi.

Tak lama berselang, Sehun menundukkan dirinya. Ia merasa bersalah. Ia juga telah membawa Seulgi ke dalam situasi yang sulit. Itu benar-benar membuatnya terpukul. Bagaimana jika Seulgi sangat menderita selama ini?

“Ah, Kau sudah bangun?” Seulgi masuk masih dengan membawa sapu dan rambutnya dikucir kuda. Muka gadis itu terlihat pucat, sepertinya Seulgi habis bersih-bersih. Kini Seulgi tidak pernah pergi ke perusahaan Ayahnya lagi. mungkin Ia hanya pulang ke rumah Ibunya untuk sekedar bertanya kabar. Bahkan akhir-akhir ini Ia belum bertemu Yeri. Ia merindukan Yeri.

Sehun hanya memandangi wajah cantik istrinya.

“Kenapa diam? Kau lapar?” Seulgi bertanya lalu duduk di sebelah Sehun. dan lagi-lagi, Sehun hanya memandangi Seulgi, kali ini dengan mata berkaca-kaca.

“Maafkan Aku” Sehun menghadapkan dirinya ke Seulgi lalu menggenggam tangan perempuan itu. Seulgi mengerutkan kening pertanda bingung. apa maksud pria itu?

“Kau pasti mengalami kesulitan selama ini. Maafkan Aku” Sehun menatap penuh wajah Seulgi, membuat jantung Seulgi berdetak tak karuan.

“Sehun..” ‘mungkinkah Sehun sudah mengingat sesuatu?’ Seulgi membatin. Sehun tak menjawab, Ia masih menatap istrinya.

“Sekali lagi, maafkan Aku” Sehun berkata dengan jarak wajahnya yang hanya beberapa senti di depan Seulgi.

Detak jantung Seulgi semakin cepat tak terkira ketika Sehun tiba-tiba saja mencium bibirnya, membuatnya harus terkejut dan berpikir secara bersamaan, Ia hanya diam oleh perlakuan Sehun.

Tak kuasa menahan tangis, Seulgi akhirnya menitikkan air matanya juga. Ia pikir Sehun sudah tidak amnesia lagi, perlakuan Suaminya tadi sudah menjelaskan semuanya.

“Uljima” Sehun mengelap air mata Seulgi setelah menciumnya.

Seulgi masih menitikkan air mata dan menatap sehun dalam.

“Kau boleh membenciku. Aku tidak akan melarangmu” Sehun berucap. Seulgi diam sebentar.

“Bodoh!” Seulgi memukul dada bidang Sehun. “Kau tahu betapa khawatirnya Aku selama ini? Bagaimana bisa Kau tidak mengingat siapa Aku? Aku lelah karena harus menahan tangis ketika Kau memperlakukanku dengan dingin. Kau jahat Oh Sehun!” Seulgi terus memukuli dada Sehun.

Sehun membiarkan istrinya melakukan hal itu sepuasnya hingga akhirnya Seulgi lelah dan menunduk dalam yang membuat Sehun merasa bersalah dan akhirnya memeluk istrinya erat.

“Maafkan Aku. Aku juga menyesal telah melakukan hal bodoh hingga membuatmu dalam posisi yang sulit” Sehun benar-benar tulus meminta maaf. Seulgi terus menangis di dada bidang Sehun.

Akhirnya, Sehun sudah ingat semuanya. Ia sempat bergulat dengan pikirannya tentang apakah Ia harus membenci istrinya atau tidak. Tapi kenyataannya adalah istrinya tidak memiliki kesalahan apapun padanya. Dan mengenai kecelakaan ibunya, belum jelas secara pasti siapa yang benar-benar menjadi pelakunya.

~

Di perusahaan, Chanyeol sedang mengurusi tumpukan berkas di Kantor. Ia melirik jam yang melingkar di tangannya. Ini sudah jam setengah 1 siang, tadi pagi Sehun bilang akan pergi ke Kantor, namun kenapa belum sampai?

Hingga jam 4 lebih, Sehun belum juga memberikan kabar pada Chanyeol. Chanyeol khawatir jika ada sesuatu terjadi pada Sehun lagi. ia tak mau sepupunya itu kenapa-napa. Dan juga, Ia juga kasihan pada Seulgi yang harus mengurus Sehun yang tidak mengingat apapun. Ia tidak tahu harus melakukan apa untuk adik sepupunya itu. Yang Ia bisa hanya membantu sedikit dan berdoa. Kini dirinya yang bersandar di sofa berdiri menuju jendela ruangannya yang ada di lantai 5. Ia memandangi pemandangan luar gedung, melihat langit Seoul.

Chanyeol hendak berbalik, namun belum sampai Ia mewujudkannya, Ia merasa ada yang memeluknya dari belakang. Jangan bilang itu Sulli!

“Oppa..” Huh, Chanyeol bernafas lega ketika suara Wendylah yang Ia dengar. Kenapa Wendy bisa ada di sini? Bukankah ini masih jam 4 lebih? Seharusnya Wendy selesai bekerja pukul 5 sore.

Chanyeol berbalik dan memeluk Wendy.

“Aigoo, kenapa bisa Kau ada di sini? Dan Kau langsung memelukku? Sebegitu rindunya kah?” Chanyeol berkata percaya diri.

Wendy melepas pelukannya dan tersenyum pada Chanyeol, namun senyum sedih. Chanyeol seakan menyadari itu.

Wae?” Tanya Chanyeol menatap mata bulat istrinya.

“Kenapa Kau tak mengatakan padaku kalau akan pergi ke Jeju besok?”

“Darimana Kau tahu? Maaf, Aku akan memberitahumu tadi pagi, tapi lupa”

“Ayo Kita makan malam diluar” Ajak Wendy.

‘Makan di luar? Tak biasanya Wendy mengajakku makan di luar’ batin Chanyeol.

“Baiklah. Ayo” Chanyeol menyanggupi ajakan istrinya walaupun bingung.

Chanyeol dan Wendy menuju ke sebuah restoran. Mereka memesan beberapa makanan. Di saat Chanyeol memakan makanannya, Wendy selalu menatap Chanyeol dengan tatapan sedih.

“Ada apa? Kenapa Kau menatapku begitu?” Chanyeol bertanya.

Wendy tersenyum manis. “Tak apa, Aku hanya ingin menatapmu. Kau sangat tampan hari ini”

Pujian itu membuat Chanyeol tersenyum. “Gomawo. Kapan Aku jelek?” Chanyeol berkata narsis, itu membuat Wendy tersenyum lebar “Kau juga sangat cantik”

Wendy tersenyum lagi. namun hanya berapa detik, setelahnya senyumnya langsung terganti dengan wajah sedih. namun sepertinya Chanyeol tidak menyadari itu.

…………………………

Pagi hari, pukul 7.10 am.

Wendy dan Chanyeol sudah berada di bandara, pesawat akan lepas landas sekitar 20 menit lagi. Wendy terus memegang tangan Chanyeol erat. Dan itu membuat Chanyeol heran.

“Aigoo, Kau menggenggamku erat sekali. apakah kau merasa dingin?” Tanya Chanyeol. Wendy hanya mengangguk.

“Oppa, bolehkah Aku meminjam ponselmu?” Tanya Wendy.

“Tentu” Chanyeol menyerahkan ponselnya pada Wendy.

“Ayo kita berfoto” Ajak Wendy.

“Apa?”

“Berfoto”

“Sekarang?” Chanyeol bertanya agak ragu.

“Iya  sekarang. ayolah” Wendy sedikit memohon.

“Baiklah” akhirnya Chanyeol menurut dan menghadap ke kamera ponselnya. Ia memamerkan senyum manisnya, begitu juga Wendy.

Sebuah pengumuman dari bandara terdengar.

“Baiklah. Aku berangkat. Jaga dirimu baik-baik” Chanyeol memeluk dan mencium kening Wendy.

“Ne” Wendy tersenyum.

“Anyeong!” Chanyeol melambai pada Wendy, kemudian berjalan menuju pesawat.

“Oppa..” Baru beberapa meter Chanyeol berjalan, Wendy memanggil Chanyeol dan mengejar pria itu.

“Ada a—”

Chanyeol tidak menyelesaikan kata-katanya karena Wendy mengecup pipinya secara tiba-tiba, ini kali pertama Wendy melakukan itu.

“Hati-hati, Aku akan sangat merindukanmu” Wendy tersenyum sangat manis.

Chanyeol masih terkejut dengan perilaku Wendy tadi. “Arasseo” Hanya itu yang terucap dari mulut Chanyeol. Selanjutnya Ia kembali berjalan menuju pesawat dan melambai pada Wendy, Wendy pun melakukan hal yang sama.

“Hati-hati” Teriak Wendy sekali lagi.

Setelah pesawat Chanyeol tak terlihat oleh mata Wendy, wanita itu berlari keluar dari bandara dan segera menaiki taxi.

Entah apa penyebabnya, Wendy menangis di taxi. ia terus menitikkan airmatanya tanpa henti, sampai-sampai supir taxi menanyainya tentang masalah apa yang sedang di hadapi Wendy.

“Agassi, kemana tujuan Anda?” Tanya sang supir.

Wendy menghirup nafas dalam sebelum menjawab.

Setelah menempuh beberapa menit, taxi sampai di tujuan. Wendy memasuki rumahnya dan Chanyeol yang besar itu. Ia menuju kamar dan mengeluarkan sebuah kertas dari dalam loker di kamarnya. Ia menulis sesuatu di beberapa lembar kertas.

Wendy meneliti semua tulisan di kertas itu, lagi-lagi, Ia menitikkan air matanya.

“Aish jinjja” gumamnya sambil mengelap air matanya.

Selanjutnya, Wendy menuliskan sebuah surat dan surat itu Ia masukkan ke sebuah amplop.

“Selamat tinggal Oppa”

~TBC~

Hai-hai, ada yang nungguin ff ini gak? Gimana ceritanya guys? Maaf kalau kurang panjang. Ini otak lagi bingung gimana nyambungin ceritanya. Menurutku chapter ini paling susah dibuat daripada chapter-chapter sebelumnya, dan alhasil seperti ini jadinya. Maaf ya kalau ceritanya jadi aneh. Huhuu. Komentarnya yaa!^^

Mengenai chapter 10, memang ada beberapa kesalahan, di sana ada nama Bogum kan tadinya? Nah harusnya itu Suho. Maaf atas kesalahanku L , terus yang kelimpungan nyari chapter 9, ada di blogku tuh. Silahkan buka di candynessblog.wordpress.com. J

Untuk yang nge-chat aku di line, maaf ya slowrespon, kuota terbatas, gak ada wifi.😀 , dan berhubung ff ini hampir tamat, siapa aja boleh request ff dengan cast Exo and red velvet, silahkan chat di line aku.

See You Next Chapter! Tetap komentar yaa, kalau banyak yang komen bakal cepet update. Karena komentar kalian yang buat aku semangat buat ngelanjutin ffnya. Maaf note nya kepanjangan. Fighting!

 

27 thoughts on “[EXOFFI FREELANCE] All Is Patient (Chapter 11)

  1. Akhirnyaa sehun inget jugaa T-T kirain seulgi bakalan menderita lebih lama lagi😦

    Ini si wendy mau kemana??? Apa gara2 dia nemuin tuan park? Hfttt tuan park jangan2 ngacem wendy

  2. Akhirnya ingatan Sehun kembali juga..
    Wae? Wae? Wae? Ada apa dengan Wendy?
    Selamat tinggal oppa itu maksudnya apa????
    Wendy disuruh cerai atau di usir ayahnya Chanyeol??😭😭

  3. Baru nemu fanfic ini dan langsung begadang baca dari chapter 1 sampe 11😛

    Suka banget sama ceritanya, terutama cerita Seulgi sama Sehun, entah kenapa dapet banget aja feel nya, degdegannya, sedihnya, frustasinya. Apalagi waktu tau Seulgi hamil tapi terus Sehun kecelakaan😦

    Ga sabar nunggu update selanjutnya (terutama tentang Seulgi dan bayinya ><)

    Semangat authornim! Fanfic nya jjang! ❤

  4. Hai author, aku reader baru salken yaa..
    btw aku suka bgt sama ff ini. apalagi main castnya my bias semua😍 Cepet update ya thor.. Hwaiting!!!

  5. yaampun aku bener bener baru baca ini dari chapter pertamaa, sumpah thorrr bagussss aku sukaaa
    aku kasian sama seulgi ;( banyakin kisah seulgi sama sehun ya hehehe apalagi seulginya lagi mengandung.
    btw si wendy kenapa lagiii dia mau kemana T.T terus dilanjut ya thor aku menunggu mu ahahahaha

  6. Huahh., sehun udah inget smuanya kah?
    Wendy knapa???
    Kayaknya sih iya nih, wendy kayak gtu ada hubungannya sama appanya chanyeol.

    Next kak ditunggu klanjutanya^^

  7. kenapa sama wendy???
    apa ada hubungannya sama ayahnya chanyeol??
    iya dimaklumi kalo updatenya lama..no problem…

    sehun jg udh gk masalah kan sama seulgi, iya harusnya gtu, kan seulgi gk ttau apa” dari awal…toh dari kecil dia di panti asuhan..

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s