[EXOFFI FREELANCE] Isn’t Love Story (Chapter 9)

chapter 10.jpg

Title: Isn’t Love Story Chapter 9 – Help

Vartstory Present

Main Character:

Kim Jongin | Jung Jihyun | Park Hyunji | Oh Sehun

Supporting Character:

Yook Sungjae | Park Soo Young/ Joy | Yoon Hyena | Jackson Wang | Do Kyungsoo | Kang Ahra

Genre:

Romance | Friendship | School

Leght:

Chaptered

Teaser + Cast Introduction | Chapter 1 | Chapter 2 | Chapter 3 | Chapter 4 | Chapter 5 | Chapter 6 | Chapter 7 | Chapter 8 | Chapter 9

Namun saat Sehun memutar tubuhnya untuk kembali menuju mobilnya, langkahnya terhenti saat mendengar teriakan Jihyun. Sehun pun refleks berlari menuju rumah Jihyun dan menemukan Jihyun yang tengah menangis sambil memeluk tubuh ibunya yang tengah tergeletak di lantai.

Sehun kemudian mengecek nadi ibu Jihyun yang tentunya hal itu membuat Jihyun kaget, karena Jihyun mengira Sehun sudah pulang sejak tadi. Lalu tanpa aba-aba lagi, Sehun menggendong ibu Jihyun, “Kita harus segera membawanya kerumah sakit.” Ucapnya lalu berjalan menuju mobilnya diikuti oleh Jihyun.

Jihyun yang kini duduk di kursi penumpang bersama ibunya terus saja menangis yang tentunya membuat Sehun yang tengah mengemudi dilanda kepanikan. Karena tangisan Jihyun itulah, Sehun membawa mobilnya dengan kecepatan yang menggila.

“Ibu bangunlah kumohon.”

Dan sesampainya dirumah sakit, Sehun segera berlari masuk ke dalam rumah sakit dan tak berapa lama kemudian Sehun kembali dengan beberapa perawat yang dengan sigap langsung membawa ibu Jihyun menuju ruang penanganan

“Tenanglah, ibumu akan baik-baik saja.” Ucap Sehun dan secara tak sadar Sehun menarik Jihyun kedalam pelukannya, membiarkan Jihyun terisak di dalam dekapannya. Dan entah kenapa Sehun justru membeku di tempatnya, jujur saja ini pertama kalinya Sehun membiarkan dan bahkan menarik seorang gadis ke dalam pelukannya. Bahkan saat Hyena berusaha memeluknya, Sehun langsung mendorong gadis itu agar menjauh darinya. Oh Sehun sadarlah, dia itu mainanmu.

Jihyun melepaskan pelukannya saat seorang dokter keluar dari ruangan dimana ibunya berada, “Bagaimana keadaan ibuku dokter?”

“Ibumu hanya mengalami kelelahan, sepertinya beliau terlalu memaksakan tubuhnya untuk bekerja.”

Jihyun menghela nafas lega saat mendengar penuturan dokter dihadapannya, lalu masuk ke ruang rawat ibunya saat dokter tersebut mempersilahkannya. Jihyun memandang nanar ibunya yang tengah terbaring tak sadarkan diri di ranjang.

Namun sebelum menghampiri ibunya, Jihyun terlebih dahulu mengucapkan terima kasih kepada Sehun. Se-menyebalkan apapun Sehun, pria itulah yang telah menolong dirinya dan juga ibunya, “Terima kasih sudah menolongku dan ibuku, aku benar-benar berhutang budi padamu.” Ucap Jihyun sambil membungkukkan tubuhnya kearah Sehun.

Sehun tersenyum miring kearah Jihyun. Lihatlah bahkan saat keadaan Jihyun sedang seperti ini, Sehun masih saja tetap menyebalkan, “Berarti kau harus membayarnya dua kali.”

Rasa terima kasih Jihyun buyar sudah saat mendengar jika Sehun meminta imbalan atas pertolongannya kepada Jihyun, “Tidak bisakah kau menolong orang lain secara ikhlas tuan Oh?”

Sehun lalu mensedekapkan tangannya, “Tentu saja tidak bisa. Kau tahu nona, tidak ada yang gratis di dunia ini. ”

“Terserah kau saja.” Jihyun yang muak meladeni Sehun, memutuskan untuk masuk untuk menemani ibunya yang sedang tak sadarkan diri. Bahkan kesedihannya sudah hampir hilang karena berdebat dengan Sehun.

Sedangkan Sehun memutuskan untuk kembali kerumahnya. Dan selama perjalanan menuju rumahnya Sehun berkali-kali membayangkan saat tadi Jihyun terisak di dalam pelukannya. Tidak. Ini tidak benar, Sehun segera menepis bayangan itu dari pikirannya. Yang kulakukan tadi hanyalah menolongnya. Dan aku mengantarnya tadi bukan karena aku khawatir, ya benar aku tidak khawatir. Aku hanya memastikan kalau mainanku selamat sampai rumah. Akan sangat bahaya jika mainanku dan Kai tidak lagi utuh.

Keesokan harinya Jihyun terbangun dengan merasakan sakit di beberapa bagian tubuhnya karena harus tidur dengan posisi duduk. Jihyun melemaskan otot-ototnya hingga tak menyadari jika ibunya sedang mengamatinya.

Jihyun tersentak saat melihat ibunya yang sudah terlihat lebih baik, “Ibu, kau sudah sadar? Syukurlah, aku sangat mengkhawatirkanmu bu.”

Menanggapi omelan kecil dari anak perempuannya, ibu Jihyun hanya tersenyum menanggapinya, “Ibu tak apa, jangan berlebihan seperti itu. Dan kenapa juga kau membawa ibu kerumah sakit? Kau hanya perlu menidurkan ibu di kamar, tak perlu sampai membawa ibu kerumah sakit seperti ini.”

“Mana mungkin aku melakukan hal seperti itu bu. Kemarin kau tidak sadarkan diri di dapur, apa ibu pikir aku akan bersikap tenang saja. Lagipula aku sudah sering mengatakan pada ibu untuk tidak bekerja keras bukan? Kenapa ibu tak mendengarkanku? Mulai sekarang hingga beberapa minggu ke depan, ibu tak boleh bekerja. Yang perlu ibu lakukan hanya beristirahat dirumah, menonton televisi, bercengkrama dengan para tetangga dan menyiapkan makanan.”

“Mana bisa ibu seperti itu. Kalau ibu tidak bekerja, bagaimana keuangan keluarga kita?”

Jihyun tersenyum lalu memegang tangan ibunya, “Jangan khawatirkan hal itu bu. Aku adalah anak ibu satu-satunya dan sudah menjadi kewajibanku untuk menggantikan posisi ayah sebagai tulang punggung keluarga. Ku mohon bu, kali ini saja. Aku tak mau sesuatu yang buruk terjadi pada ibu. Hanya ibu yang kumiliki di dunia ini.”

“Baiklah, ibu akan menurutinya. Tapi tunggu, jam berapa ini? Bukankah kau harus sekolah?”

Jihyun menggelengkan kepalanya, baginya saat ini menemani ibunya adalah hal terpenting, “Aku akan menemani ibu, jadi aku tidak akan sekolah.”

“Beasiswa yang kau ambil di Empire tidaklah mudah, jadi jangan sia-siakan sekolahmu dengan membolos hanya untuk menemani ibu. Pergilah, ibu tak apa. Ada banyak perawat disini yang akan membantu ibu.”

Walaupun perkataan ibunya seratus persen benar, tapi tetap saja Jihyun merasa berat untuk meninggalkan ibunya sendiri dirumah sakit. “Tapi bu.”

“Tidak ada kata tapi, pergilah atau ibu tak akan menuruti permintaanmu untuk terus berdiam diri dirumah.”

Mendengar ancaman ibunya, mau tidak mau Jihyun menurutinya. Jihyun pulang menuju rumahnya dengan tergesa-gesa, karena waktu yang tersisa sebelum bel masuk berbunyi adalah kurang dari 90 menit lagi.

Dan jadilah sekarang Jihyun masuk sekolah dengan keadaan berantakan, rambut yang dikuncir asal dan juga mata sembab yang mendominasi wajahnya. Bahkan orang-orang disekolah kini memandang Jihyun aneh.

“Ji apa ada sesuatu yang terjadi? Wajahmu terlihat tidak baik Ji.” Sungjae yang melihat Jihyun masuk ke kelas dengan penampilan yang tak biasanya menduga jika ada sesuatu yang terjadi kepada Jihyun. Belum lagi mata sembab Jihyun menambah rasa penasaran Sungjae.

Jihyun duduk di kursinya lalu menidurkan kepalanya di atas meja, “Ibuku masuk rumah sakit Sungjae.”

“Ya Tuhan, lalu bagaimana keadaan ibumu? Kenapa kau tidak mengabariku Ji?” Sungjae memang tidak terlalu dekat dengan ibu Jihyun tapi bagaimanapun persahabatannya dengan Jihyun yang sudah berlangsung bertahun-tahun, membuatnya merasa seperti keluarga dengan Jihyun.

Jihyun menghembuskan nafasnya berat lalu menyenderkan punggunya pada kursi yang sedak didudukinya, “Aku terlalu panik semalam. Tenanglah, keadaan ibuku sudah lebih baik.”

“Syukurlah jika keadaan ibumu sudah membaik. Aku pasti akan mengunjungi ibumu. Tapi lebih baik sekarang kau ke kamar mandi, penampilanmu terlihat sangat kacau.”

Jihyun mengangguk lalu berjalan menuju kamar mandi, selain untuk memperbaiki dirinya, Jihyun juga ingin membasahkan wajahnya untuk membuatnya sedikit lebih segar.

“Bukankah dia gadis yang diperebutkan Kai oppa dan Sehun oppa?”

“Ah iya benar. Astaga aku tidak habis pikir kenapa Kai oppa dan Sehun oppa sampai tertarik padanya.”

“Kau benar. Dia bahkan tidak lebih cantik dariku.”

Jihyun yang sedang membasahkan wajahnya, terusik dengan pembicaraan dua orang gadis yang sedang menatapnya tidak suka. Jihyun hanya bisa menghelas nafasnya dan sama sekali tidak berniat untuk menyanggah ucapan kedua gadis itu dan lebih memilih untuk menyudahi kegiatannya. Dan secara kebetulan saat keluar dari kamar mandi, Jihyun berpapasan dengan Kai.

Kai langsung menghampiri Jihyun saat melihat mata Jihyun yang sembab, “Apa yang terjadi denganmu? Kau habis menangis?”

Jihyun mencoba tersenyum untuk meyakinkan Kai jika dirinya baik-baik saja, “Aku tak apa sunbae, tidak ada yang terjadi padaku.”

“Kalau tidak ada yang terjadi padamu, kenapa matamu bisa seperti itu huh?” Kai terlihat tidak percaya kepada Jihyun sedangkan Jihyun sedikit bingung dengan sikap yang diberikan Kai.

“Ibuku masuk rumah sakit. Dan sepertinya mataku seperti ini karena semalam terlalu lama menangis.”

“Benarkah? Lalu bagaimana keadaan ibumu sekarang.”

Karena mereka berdiri tepat di depan kamar kecil, kini Jihyun dan Kai diam-diam menjadi bahan tontonan dan juga omongan oleh para siswa yang kebetulan melihatnya, “Keadaannya sudah membaik.”

“Syukurlah kalau begitu.”

Kai yang sadar jika dirinya dan Jihyun kini menjadi pusat perhatian, melemparkan tatapan tajam pada siapapun yang kini sedang menatap mereka. Para siswa yang didominasi oleh perempuan, hanya menunduk saat mendapatkan tatapan seperti itu dari Kai.

“Lihatlah mereka, mereka bahkan lebih pintar membicarakan orang lain daripada mengurusi dirinya sendiri. Menyedihkan.” Kai yang sengaja memperkeras suaranya, membuat semua yang mendengarnya hanya bisa menunduk bahkan beberapa dari mereka sampai memutar balik karena tak ingin bertemu dengan Kai.

Kai lalu mengalihkan pandangannya kearah Jihyun dan tatapannya pun langsung melunak saat menatap gadis bersurai panjang itu, “Karena ulahku dan Sehun kemarin, kau sekarang menjadi bahan pembicaraan di sekolah. Jadi, mulai saat ini kau harus belajar tuli.”

Jihyun hanya mengerjapkan matanya karena tidak paham dengan apa yang dimaksud Kai untuk dirinya belajar tuli. Namun setelah berpikir beberapa saat, Jihyun akhirnya paham dan mengangguk kecil.

“Jangan dengarkan apapun yang mereka bicarakan tentangmu, mengerti?”

Jihyun mengangguk dan tersenyum menanggapi ucapan Kai. Kai balas tersenyum dan mengacak rambut Jihyun, “Kembalilah ke kelasmu.”

Jihyun tertegun sesaat, namun setelahnya Jihyun tersadar lalu menganggukkan kepalanya lagi dan berjalan meninggalkan Kai. Sungguh perlakuan Kai tadi entah kenapa membuat jantung Jihyun berdebar tidak karuan.

Jihyun lalu memegang dadanya, mungkinkah? Tidak, ini tidak benar. Jihyun menggelengkan kepalanya dan menghalau semua asumsi-asumsi yang dirinya sendiri ciptakan.

Sepulang sekolah, Jihyun langsung mengunjungi ibunya yang berada di rumah sakit. Namun, sebelum Jihyun masuk ke ruang rawat ibunya, seorang perawat memanggilnya terlebih dulu.

“Keadaan nyonya Jung yang sudah lebih baik, jadi besok nyonya Jung sudah bisa meninggalkan rumah sakit. Tapi sebelumnya, nona bisa menyelesaikan administrasinya terlebih dahulu.”

“Baiklah kalau begitu, terima kasih.”

Jihyun benar-benar melupakan perihal administrasi rumah sakit. Jihyun lalu berjalan menuju bagian administrasi dan menanyakan perihal biaya rumah sakit ibunya. Jihyun cukup terkejut dengan biaya yang harus ditanggungnya. Dua juta won, dan itu bukanlah nominal yang sedikit. Jihyun sedikit memaki Sehun karena sudah membawanya dan ibunya ke Taewon Hospital rumah sakit terbesar di Seoul, seharusnya Sehun membawanya ke klinik biasa saja atau setidaknya ke rumah sakit yang levelnya lebih rendah dari Taewon.

“Kau kenapa? Apa ada sesuatu yang terjadi?” ibu Jihyun yang sedari tadi memperhatikan raut wajah Jihyun yang seperti memikirkan sesuatu langsung bertanya kepada anaknya itu.

“Tidak bu, aku hanya lelah karena tugas sekolahku yang semakin banyak.” Jihyun terpaksa berbohong kepada ibunya karena Jihyun tidak mau menambah beban ibunya. Jihyun bertekad akan mencari uang untuk membayar rumah sakit ibunya tanpa harus ibunya mengetahui berapa jumlah yang harus dibayarkannya.

Sekitar 30 menit kemudian Jihyun lalu berpamitan pada ibunya karena Jihyun tetap harus bekerja. Dan selama perjalanan menuju kedai bubur, Jihyun memikirkan cara untuk membayar biaya rumah sakit ibunya. Dan satu-satunya cara yang tentunya tidak merepotkan orang lain adalah dengan mencari pekerjaan paruh waktu lainnya.

Saat disela-sela pekerjaannya, Jihyun menceritakan permasalahannya kepada Ahra “Jadi, kau akan mencari pekerjaan lagi?”

Jihyun mengangguk lemah, Jihyun sesungguhnya bingung harus mencari pekerjaan dimana lagi. Karena di sisi lain, Jihyun harus tetap bekerja di kedai bubur. Bukan karena kontrak kerja atau apapun, tapi Jihyun sudah merasa seperti keluarga bersama dengan Ahra dan Chon Sik.

“Bagaimana kalau kau bekerja di tempatku?” seorang pelanggan pria yang sepertinya mendengarkan percakapan Ahra dan Jihyun tiba-tiba saja menyambar. “Ah maaf, perkenalkan namaku Kim Minseok. Club tempatku bekerja sedang membutuhkan pelayan wanita, dan tadi aku tidak sengaja mendengar kalau kau membutuhkan pekerjaan lain, benarkan?”

Jihyun terlihat ragu mendengar penawaran dari pria dihadapannya ini, karena pria itu menawarkan pekerjaan di Club malam. Bagi Jihyun, Club malam adalah tempat terlarang untuk didatanginya.

“Tenanglah, Club tempatku bekerja adalah club kelas atas jadi tidak akan ada hal-hal yang terjadi seperti yang kau bayangkan, jadi kau tidak usah khawatir. Jika kau tertarik, kau bisa datang ke Octagon Club di Nonhyeon-ro dan bertemu denganku.” Pria itu lalu mengeluarkan secarik kertas yang ternyata adalah sebuah kartu nama dan memberikannya kepada Jihyun.

“Maaf, kalau ku boleh tau, berapa bayaran bekerja di tempat kerjamu.” Ahra yang mengeluarkan pertanyaan bodoh itu, menerima cubitan di pinggangnya oleh Jihyun. Sungguh Jihyun benar-benar malu saat ini.

“Sekitar 250rb won, dan itu belum termasuk tips.”

Mendengar bayaran yang diterima, Jihyun dan Ahra saling pandang. Dan hal itu cukup menggiurkan untuk mereka berdua, terutama Jihyun. Setidaknya, Jihyun harus bertahan bekerja ditempat itu setidaknya delapan bulan untuk bisa membayar uang rumah sakit ibunya.

Sepeninggal pria tadi, Jihyun terus memikirkan mengenai penawaran pria itu. Club malam memang tempat yang buruk tapi bekerja ditempat itu bukanlah suatu kesalahan. Lagipula Jihyun hanya menjadi seorang pelayan, bukan wanita penghibur.

Setelah berpikir cukup lama, Jihyun pun memutuskan untuk menerima pekerjaan itu. Dan setelah pulang bekerja, Jihyun langsung mendatangi Octagon Club. Awalnya Jihyun dilarang memasuki Club karena umurnya namun saat Jihyun menunjukkan kartu nama yang diberikan pria tadi saat di kedainya, Jihyun diperbolehkan masuk dan langsung menemui Minseok yang ternyata menjabat sebagai manager Octagon Club.

Jihyun lalu menjelaskan jika dirinya tertarik untuk bekerja disini, Minseok pun menjelaskan hal-hal yang terkait dengan pekerjaan yang akan dilakukan Jihyun, “Karena kau memang bekerja sebagai pelayan, jadi ku pikir kau tidak membutuhkan training lagi. Pekerjaanmu disini sama seperti pekerjaanmu di kedai, mengantarkan minuman dan apapun yang terkait dengan pesanan pelanggan disini. Jam kerjamu dimulai dari jam 11 malam hingga jam 4 pagi. Dan bisa kupastikan, pekerjaanmu disini akan jauh dari tindak pelecehan. Karena kami sangat menjunjung harga diri dan privasi karyawan kami. Bagaimana nona Jung, kau setuju?”

Jihyun menganggukkan kepalanya tanda setuju, sebenarnya jam kerja yang diberikan cukup berat. Karena artinya Jihyun hanya mempunyai waktu tidur sekitar 2 – 3 jam. Tapi karena ini semua demi ibunya, Jihyun merasa jika dirinya tidak boleh mengeluh.

“Kau bisa memulai pekerjaanmu esok hari. Dan jika kau mau, kau bisa berkeliling. Ah ya tunggu sebentar.” Minseok lalu meninggalkan Jihyun sejenak untuk mengambil sesuatu, lalu memberikannya kepada Jihyun, “Ini adalah ID Cardmu, sementara kau bisa memakai ini sampai aku memberikan ID Card yang asli. Kau bisa menggunakan ini untuk masuk ke dalam.”

Setelahnya, Jihyun menuruti ucapan Minseok dan berkeliling. Dentuman suara musik yang keras, cukup menganggu Jihyun. Jihyun lalu menghembuskan nafasnya pelan, “Ini semua demi ibu.” Lirihnya.

Saat selesai berkeliling, Jihyun berpamitan kepada Minseok dan kembali ke rumah sakit untuk menjaga ibunya. Walau ibunya kini sudah tertidur, Jihyun masih susah untu menutup matanya. Jihyun memikirkan bagaimana caranya mendapatkan uang untuk membayar rumah sakit ibunya. Jika meminjam uang di bank, pasti akan ditolak karena Jihyun yang tidak mempunyai pekerjaan tetap.

Keesokan harinya setelah bel pulang sekolah berbunyi, Jihyun terburu-buru meninggalkan kelasnya. Jihyun sudah memantapkan hatinya untuk berusaha mendapatkan pinjaman dari bank dan jika bank tetap tidak mau memberikan pinjaman kepadanya, terpaksa Jihyun harus menempuh pilihan kedua.

“Apa tidak bisa diusahakan lagi? Aku memang masih pelajar, tapi aku sudah mempunyai pekerjaan tetap.” Jihyun yang saat ini sedang berada di bank, terus memohon agar mendapatkan pinjaman. Dan ini sudah bank ketiga yang didatanginya.

“Maaf nona, walaupun kau sudah memiliki pekerjaan tetap akan tetapi umurmu belum mencukupi.”

Jihyun menghela nafasnya, kalau sudah begini mau tidak mau Jihyun harus menggunakan opsi kedua. Yaitu mengambil semua uang tabungannya dan sisanya Jihyun terpaksa harus meminjam kepada paman Ji. Paman Ji adalah seorang pria paruh baya yang biasa meminjamkan uang kepada orang lain dengan memberikan bunga pada setiap pinjaman yang diberikannya, orang-orang biasa menyebutnya rentenir.

Jihyun lalu memeriksa buku tabungannya yang ternyata hanya berisi uang lima ratus won, dan Jihyun membutuhkan sekitar 1,5jt won lagi. Meminjam uang sebanyak itu di paman Ji pasti akan berbunga besar, Jihyun terus memutar otak untuk mendapatkan uang tambahan lagi. Dan akhirnya Jihyun memutuskan untuk meminta gajinya lebih cepat kepada atasannya di kedai, Chon Sik.

Sesampainya di kedai, Jihyun langsung menemui Chon Sik yang sedang berada di dapur, “oppa, maaf jika aku lancang. Apa aku bisa meminta gajiku lebih cepat?”

Chon Sik awalnya kaget saat mendengar Jihyun meminta gajinya lebih cepat, namun saat ingat jika ibu Jihyun kini sedang terbaring di rumah sakit, Chon Sik akhirnya paham, “Yaa kenapa kau formal sekali? Tunggu disini sebentar.”

Chon Sik lalu meninggalkan Jihyun dan kembali dengan sebuah amplop kecil ditangannya, “Ini gajimu, lain kali jangan sungkan seperti itu.”

Jihyun mengangguk lalu memeriksa uang yang diberikan Chon Sik, Jihyun cukup kaget dengan jumlah uang yang tidak semestinya Chon Sik berikan kepadanya. Seharusnya Chon Sik memberikannya 200rb won, tapi di dalam amplop terdapat uang 300rb won.

“Oppa, sepertinya kau salah menghitung.”

Chon Sik tertawa kecil, karena dia memang sengaja melebihkan uang gaji Jihyun, “Anggap saja itu bonus dariku karena kau sudah bekerja keras disini. Atau kau bisa menganggap itu sebagai bayaran karena kau sudah membawa chaebol kesini tempo hari.”

“Wah, kau tidak adil padaku oppa. Kau bahkan tidak pernah memberikan bonus padaku” Ahra yang baru saja selesai melayani pembeli, tiba-tiba saja muncul dan memasang wajah tidak percaya.

Bukannya Chon Sik yang menanggapi ucapan Ahra, malah Jihyun yang menanggapinya, “Maafkan aku Ahra.”

Ahra yang tidak suka jika Jihyun meminta maafnya, langsung menepuk pundak sahabatnya itu, “Kenapa kau meminta maaf. Aku tadi hanya bercanda. Ah ya dan ini untukmu, itu titipan dari ayah dan ibuku. Dan dariku juga.” Ahra lalu menyerahkan amplop yang berisi uang 500rb won kepada Jihyun. “Jangan meminta maaf ataupun menolak Ji, aku akan sangat marah jika kau menolaknya.”

Jihyun yang terharu akan kebaikan Chon Sik dan Ahra langsung memeluk kedua rekan kerjanya itu, “Terima kasih, kalian benar-benar malaikat penyelamatku.”

Saat ini berarti Jihyun sudah mengumpulkan total 1jt 300rb won, dan artinya Jihyun membutuhkan 700rb won lagi. Ya setidaknya meminjam uang 700rb won kepada paman Ji tidak terlalu buruk.

Jihyun lalu berpamitan kepada kedua rekannya sekaligus meminta izin pada Chon Sik untuk tidak masuk kerja. Kemudian mendatangi kediaman Paman Ji untuk meminjam uang 700rb won. Jihyun lalu mengisi surat pernyataan yang disertai alamat tempatnya bekerja dan juga sekolahnya. Sebenarnya Jihyun harus menuliskan alamat rumahnya, tapi Jihyun tidak ingin jika ibunya mengetahui dirinya meminjam uang kepada rentenir.

“Kau harus membayarkan uang 700rb won beserta bunga 20%. Dan kau kuberikan waktu jatuh tempo satu bulan, jika kau tidak melunasinya maka aku akan menambah bunga menjadi 25%.”

Jihyun mengangguk tanda mengerti, lalu segera mungkin Jihyun pergi meninggalkan kediaman paman Ji untuk menuju rumah sakit. Jihyun lalu menyelesaikan semua administrasi rumah sakit dan membawa ibunya pulang, namun karena harus bekerja di Club jadi Jihyun terpaksa meminta tolong pada Ahra untuk mengantar ibunya pulang. Jihyun beralasan pada ibunya kalau dirinya bekerja di cafe dua puluh empat jam yang berada di daerah Gangnam. Karena memang tahu jika Gangnam adalah daerah yang tidak pernah tidur, ibu Jihyun percaya pada ucapan anaknya itu.

———————————-

Holaa, gimana part ini? Mohon maaf atas keterlambatannya. Oia sekedar info, kemungkinan part 11 dan 12 akan aku protect dikarenakan akan ada scene penting di salah satu part itu. Dan untuk dapetin passwordnya gampang kok, kalian hanya komen ATAU like cerita ini di setiap part yang kalian baca. Caranya bisa kalian liat di sini . Cukup ribet sih sebenernya, tapi untuk meminimalisir silent readers jadi terpaksa deh ^^

Spoiler for next part

“Kau baik-baik saja? Kau terlihat tidak baik Ji.”

“Hey nona Jung, kau dengar aku?”

“Kau cemburu padanya?”

13 thoughts on “[EXOFFI FREELANCE] Isn’t Love Story (Chapter 9)

  1. Iya sih aku baca awal chapter ini agak bingung juga, tapi mulai pertengahan udah bagus…
    Semoga chapter selanjutnya lebih gereget, fighting thor!!
    Oiya btw aku coba kling link diatas gk bisa, pokoknya kasih tau password nya ya… Fighting thor!

  2. agak gk ngeh diawal…kan chap sblmnya sehun nganter ke kedai bubur tmpt jihyun kerja kok tau” ada dirumah trus ada ibu jihyun yg pingsan jg….
    tapi alur selanjutnya boleh lah…hahaha
    penasaran kelanjutannya…apa jihyun bisa tahan double krja gtu…

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s