[EXOFFI FREELANCE] HATER X FAN (Chapter 6)

Hater x Fan Chapter 6.jpg

Tittle : HATER X FAN

Author : Choco(L)ate

Main Cast : Krystal Jung | Kim Jongin (Kai) | Park Chanyeol | Bae Irene

Genre : Drama, Sad, Romance, AU

Rating : PG 15+

Length : Chaptered

Disclaimer : This is my story. Don’t be Plagiarism!

Really nice poster Art by Kak ΙRISH @ Poster Channel

[Teaser] [Ch1] [Ch2] [Ch3] [Ch4] [Ch5]

«Prev Chapter

“Kau kelihatan bahagia dari biasanya, apa ada kabar baik?” Ujar Kai setelah memasukan sepotong daging ke mulutnya.

Irene kembali tersenyum saat mendengar pertanyaan Kai. “Kau tahu kan pria yang sering ku ceritakan?” Katanya penuh semangat.

Oh, dia lagi. Pria yang selalu Irene ceritakan, pria yang sama yang selalu berhasil membuat Kai patah hati. Kai hanya mengangguk menunggu kalimat selanjutnya.

“Temanku yang bekerja di tempat yang sama dengannya bilang jika dia akan pulang. Kai, Park Chanyeol akan kembali ke Korea!”

#Chapter 6

Kai berhenti dari aktifitas mengunyah daging yang baru saja masuk ke mulutnya. Ia menatap Irene yang tengah tersenyum berbinar ke arahnya. Pria itu akan kembali? Kai merasa kepalanya seperti baru tersiram air es.

Ingatannya kembali menerawang masa-masa itu, saat Kai dan Irene masih berada di panti asuhan. Masa dimana Irene berada di sekolah menengah atas dan ia masih sekolah menengah pertama. Park Chanyeol, adalah nama yang sering Irene bicarakan. Teman sekelas, populer, berprestasi dan tampan. Ya, ia ingat pria itu. Cinta pertama Irene.

“Sehubungan dengan perusahaan JStal di Korea yang sedang dalam masa krisis, ku dengar Chanyeol akan meninggalkan cabang JStal Amerika untuk beberapa saat dan membantu pemulihan disini.” Jelas Irene.

Kai mencoba kembali menetralkan ekspresinya. Walaupun ia merasa jika Irene baru saja menancapkan belati tak kentara tepat di hatinya. Kai melengos. “Membantu? Memang siapa dia hingga terdengar seperti seorang pahlawan? Lagipula peduli apa dengan perusahaan di Korea.” Ujar namja itu datar. Ia kembali fokus pada makanannya.

Entah apa yang membuat Irene malah merasa begitu semangat untuk menjawab pertanyaan itu. Ia melipat kedua tangannya di atas meja lalu menatap Kai yang terlihat tak acuh.

“Dia memang bukan siapa-siapa di perusahaan, Presdir Jung Jaewon yang sepenuhnya berkuasa. Tapi berkat kerja kerasnya selama beberapa tahun, ia berhasil mengangkat nama JStal di Amerika. Dan dia telah resmi menjabat sebagai Pemimpin disana. Ku dengar dia memiliki hubungan baik dengan Presdir Jung, mungkin karna itu ia peduli pada perusahaan.”

Kai hanya mengangguk-angguk paham. Padahal dalam hatinya ia mengumpat keras-keras mendengar bagaimana ia kembali mendengar Irene membanggakan nama itu setelah sekian lama. Sejurus kemudia ia menatap dalam manik Irene. “Jadi, Dia benar-benar akan kembali dan berada di JStal Korea? Itu artinya—”

“Aku akan bertemu lagi dengannya! Aku akan sering melihatnya, Kai!” Irene menyela dengan sangat antusias, bahkan sebelum Kai menyelesaikan kalimatnya.

Kai kembali membeku di tempat. Melihat bagaimana reaksi Irene tentang kepulangan pria itu, entah mengapa rasa sakit dari belati yang telah tertancap di hatinya semakin terasa nyata. Terutama kala ia melihat senyum gadis itu pasih terpatri nyata. Dan itu bukan untuknya.

Dan sekali lagi hatinya tertohok. Bukankah itu salah satu teguran keras untuknya? Kai menunduk menatap jatuh pada mangkuk nasinya yang masih penuh, ia tersenyum miris.

Sekarang apa yang harus ia telan? Makanan dimulutnya atau kenyataan pahit yang baru saja menghujamnya dengan tajam?-kepulangan pria itu dan kenyataan bahwa ia akan kembali patah hati. Brengsek sekali, pikirnya. Keduanya terasa tak enak.

“Sebenarnya aku sudah makan diluar, jadi sekarang aku ingin istirahat saja.” Ujar Kai bohong lalu ia segera bangkit berniat pergi ke kamarnya.

“Jongin,” Tapi baru beberapa langkah, suara Irene menginterupsinya untuk berhenti. Ia menoleh,

“Sebenarnya, ada hal lain yang ingin aku bicarakan.” Lanjut gadis itu menatap manik Kai lurus. Kai bisa merasakan perubahan ekspresi Irene yang signifikan.

“Aku benar-benar lelah, nanti saja.” Ujar Kai dingin yang secara tidak langsung menolaknya. Ia pun kembali melanjutkan langkahnya. Ayolah, moodnya benar-benar sedang buruk lalu Irene membuatnya kembali semakin buruk berkat topik pembicaraannya tentang Park Chanyeol.

“Tentang Presdir Jung! aku sudah tahu, Aku tahu semuanya!” Kata-kata Irene kembali menghentikan langkah Kai tepat saat tangannya hampir meraih daun pintu yang kini terhenti di udara. Ia menoleh.

“Aku sudah dengar semuanya dari manager Shim.” Jelas Irene yang kini sudah berdiri dari duduknya.

Tapi tak ada yang berubah dari ekspresi Kai. Ia tetap menatap Irene datar. Oh, salahkan saja gadis itu yang terlanjur membuat moodnya hancur untuk kedua kalinya.

“Baguslah, jadi aku tidak perlu menjelaskan apa-apa lagi padamu.” Kembali namja itu berujar dingin lalu ia segera berbalik, tapi niat untuk membuka pintu kamarnya kembali gagal.

“Kim Jongin!” Irene yang merasa terlanjur kesal dengan reaksi Kai yang seolah mengabaikannya segera melangkah mendekati Kai dengan suara yang cukup melengking. “Mengapa kau melakukannya?!”

Tapi tak ada jawaban, Kai masih diam memunggungi Irene. “Mengapa kau melakukannya?! Kau sadar? Kau hampir saja membunuh seseorang, Kim Jongin!” Nada suara Irene semakin meninggi, bercampur dengan rasa kecewa meliputinya.

“Berapa kali aku harus memberitahumu untuk melenyapkan kebencian itu?! Lupakan tentang masa lalu! Lupakan tentang balas dendam konyolmu! Kau tidak akan merubah apapun. Kau malah menyakiti dirimu sendiri dengan terus mengingat perkara kematian ibumu.” Nampaknya kecewa dan emosi sudah tak sanggup Irene bendung. Matanya mulai berkaca-kaca. “Kim Jongin—”

“Memang apa pedulimu?!!” Kai berbalik menghadap Irene berteriak kencang. Membuat Irene terkesiap di tempatnya. “Apa pedulimu tentang apa yang aku lakukan?!!” Jika boleh jujur, ini adalah pertama kalinya Jongin berbicara dengan nada seketus dan sekencang itu pada gadis yang sangat ia sukai. Ini pertama kalinya ia membentak Irene.

“Aku bicara begitu karna aku pedu—”

“Kau mau bilang jika kau peduli? Jangan bicarakan kematian ibuku seolah kau benar-benar peduli padaku! Sadarlah, kau bahkan membicarakan pria lain padahal aku baru saja mengungkapkan perasaanku padamu. Selalu seperti itu dan tidak pernah berubah. Itu manyakitiku. Jadi, dimana letak pedulimu?” Kai sudah tak bisa membendung emosinya. Sudah terlalu banyak ia menahan amarah hingga Irene menjadi pelampiasannya. Biarpun begitu, ia benar-benar merasa seperti pria brengsek yang membuat orang yang ia sukai menangis.

“Jongin—” Irene bergumam dengan suara yang terdengar bergetar.

Kai menarik napas dalam seraya memejamkan matanya. Ia kembali menatap Irene.

“Pulanglah, aku benar-benar lelah.” Tungkas Kai yang segera memasuki kamarnya. Meninggalkan Irene yang masih mematung di tempat.

Setelah pintu kamarnya tertutup, Kai terdiam untuk beberapa saat. Hingga suara langkah menjauh dan terdengar pintu apartemennya ditutup, ia tahu Irene sudah pergi.

Kai bersandar pada pintu, tubuhnya merosot duduk dilantai seraya menatap langit-langit kamarnya. Semua perkataan Irene sekarang memenuhi otaknya. Ya, mengapa ia melakukan semua ini? Hampir membunuh seseorang? Mengapa ia tak bisa menerima takdir yang terjadi? Apa alasannya?

Kai bangkit lalu melangkah ke arah sebuah pintu di yang ada didalam kamarnya. Saat pintu itu terbuka, seperti ruangan biasanya yang tak terlalu besar. Terdapat rak buku besar di sebelah kanan, di depannya terdapat meja dengan kursi yang cukup besar. Tepat di dinding yang berhadapan dengan kursi itu, sebuah papan berukuran sedang tertempel disana. Di atas papan itu terdapat bingkai foto yang cukup besar, memajang senyum seorang wanita cantik dan seorang anak laki-laki yang tersenyum cerah. Kai dan ibunya.

Kai melangkah ke arah papan itu, memperhatikan beberapa potongan koran lusuh yang tertempel rapi. Matanya berpendar menatap beberapa tulisan disana.

2010, April 08

Kecelakaan maut merenggut nyawa Istri sekaligus Designer kenamaan JStal Company, Shareene Lee

2010, April 09

Pria berinisial KJS yang juga terlibat kecelakaan maut diduga kuat sebagai selingkuhan Shareene Lee

Rasa emosi kembali menjalari hatinya kala membaca tulisan itu. Matanya kembali berpendar lalu terhenti saat ia melihat nama ibunya tercetak jelas pada potongan kertas lainnya.

2012, April 01

Lagi, JStal Company kehilangan designer kenamaan Yoon Dahee akibat overdosis takaran obat di rumah sakit

Tangan Kai mengepal kuat, dengan perasaan sakit luar biasa yang terasa menggores hatinya. Ia ingat, alasan mengapa ia berlaku sejauh ini adalah kematian ibunya. Hal yang paling ia sesali selama ini. Kenyataan bahwa ibunya dibunuh adalah alasan utama dendam di hatinya semakin membengkak.

Tiba-tiba Kai merasa ponsel di saku celananya bergetar. Sebuah panggilan masuk dari nomor tak dikenal. Ia segera menggeser tombol hijau dan mendekatkan ponselnya ke telinga.

“Ini aku, Luhan” Terdengar suara di seberang.

“Ada apa?”

“Kau bisa mengikuti rapat besok jam 8 pagi. Pemotretan akan dilakukan Lusa” Jelas Luhan. Pernyataan yang berhasil membuat Kai tersenyum miring. Nampaknya seseorang telah mengikuti alur permainannya.

“Jadi, kontraknya sudah di tanda tangan?” Kai berujar dengan nada mencemooh.

“Seperti yang kau inginkan. Kalau begitu, ku tutup” setelah itu terdengar nada sambungan terputus.

Kai kembali tersenyum miring. Karna tidak ada yang gratis di dunia ini, maka nyawa di bayar nyawa.

Krystal masih berkutat dengan pensil dan buku sketsa di meja belajarnya. Beberapa waktu ini ia hampir melupakan hobinya, menggambar.

Entah sudah terlalu lama tidak menyentuh pensilnya atau karna begitu banyak hal-hal yang bersarang di otaknya, Krystal berkali-kali menghapus bahkan merobek kertasnya. Namun lagi-lagi pandangannya menumpu pada benda yang sedari tadi berada di atas kasur-sebuah kamera lensa.

Krystal beranjak dari tempatnya, meraih kamera itu lalu mendudukan dirinya di pinggiran ranjang. Beberapa waktu lalu Victoria datang kerumahnya dengan membawa kamera itu-milik Krystal. Ia sendiri bahkan lupa jika ia menitipkan kamera itu dirumah Victoria.

Senyum gadis itu terus mengembang kala melihat gambar dirinya saat bersama Victoria. Matanya berbinar menatapi betapa bahagianya ia di dalam foto itu. Hingga sedetik kemudian, foto yang di tampilkan berubah. Bukan gambar dirinya atau Victoria. Senyumnya hilang. Itu gambar seseorang yang beberapa waktu ini mengganggu pikirannya. Pria itu-Kim Kai.

Ah, ia jadi ingat apa tujuan Victoria datang ke rumahnya.

“Aku pikir kita sudah dan tidak akan melakukannya lagi bukan? Aku benar-benar hampir mati tertawa jika mengingat apa yang kita lakukan sebelumnya. Mengejar dan mengikuti pria keparat itu hanya untuk melihat atau sekedar mendapatkan gambarnya.”

Krystal masih mematung menatap kameranya yang masih menampilkan gambar pria itu. Ya, dia berhenti.

“Lagipula kita sudah mendapatkan pekerjaan yang sebenarnya. Aku dengan cafe-ku, dan kau dengan jabatanmu. Bukan seperti si bodoh yang menghamburkan uangnya demi suatu hal tak bernilai.”

Ah Victoria benar, ia jadi ingat hal bodoh dan tak masuk akal apa yang sering ayahnya maksud. Menjalani sebuah Fansite hanya membuang waktu dan uangnya. Pergi ke konser, lokasi syuting, bandara, bahkan luar negeri. Tapi apa yang ia dapat sekarang? Ayahnya yang terbaring koma di rumah sakit?

Ngomong-ngomong tentang ayahnya, bibi Jo yang setiap hari berkunjung ke rumah sakit memberitahu Krystal jika masih belum ada perkembangan yang signifikan. Hal itu semakin membuat Krystal sedih. Ia benar-benar merasa kehilangan sosok ayah. Krystal merindukan ayahnya.

Tanpa terasa setetes airmata jatuh membasahi pipi gadis itu dan buru-buru ia seka dengan punggung tangannya. Krystal mematikan kameranya dan ia letakan di nakas.

Krystal menjatuhkan tubuhnya ke kasur, menatap langit-langit kamarnya dengan pikiran yang melanglang buana, dengan ayahnya yang masih mendominasi. Akhir-akhir ini tidak ada yang cerewet mengomelinya dari pagi hingga malam. Tidak ada yang mendekapnya hangat. Tidak ada yang menemaninya saat ia di meja makan. Tidak ada yang mengecup keningnya saat ia akan pergi tidur.

Tanpa diminta pun air matanya berlomba-lomba untuk keluar. Ia meletakan sebelah lengannya agar menutupi matanya. Membiarkan dirinya menangis untuk beberapa saat. Krystal benar-benar merindukan ayahnya.

Beberapa menit setelahnya Krystal merasa ada seseorang yang membuka pintu dan memasuki kamarnya.

“Nona?” Hingga sebuah sapaan terdengar di telinganya pun ia masih dalam posisinya. Ia hanya menjawabnya dengan bergumam ria.

“Di bawah ada Dokter Sena. Beliau bilang ingin bertemu dengan nona.” Kembali ujar bibi Jo.

“Baiklah, tunggu beberapa menit. Aku akan turun”

Krystal yang berbalut gaun tidur berwarna putih tulangnya kini sudah duduk di hadapan seseorang yang masih dengan seragam khas rumah sakitnya-Dokter Sena.

“Apa ada sesuatu yang penting hingga berkunjung kesini malam-malam?” Krystal membuka suara.

“Tidak ada hal yang begitu penting, hanya berkunjung. Apa tidak boleh?” Ujar perempuan dengan umur sekitar 28 tahunan seraya meletakan cangkir tehnya lalu tersenyum ramah.

“Ah, bukan itu. Tentu saja boleh. Maksudku, tidak ada ayah di rumah, seseorang yang sering dokter temui tidak ada. Jadi..” Kalimat Krystal menggantung.

“Aku mau menemuimu, Krys” Ujar dokter Sena seolah menjawab kebingungan Krystal.

“Aku? Memangnya aku kenapa?” Krystal menunjuk dirinya.

“Ya, dirimu. Karna kau tidak pernah mengunjungiku di rumah sakit, jadi sepertinya aku yang harus menemui mu. Dan aku harap kau tidak lupa jika kau masih punya jadwal terapi.” Kembali dokter Sena tersenyum ramah.

Untuk beberapa saat Krystal hanya terdiam. Oh, jadwal terapi. Sepertinya memang terlalu banyak yang ia pikirkan hingga otaknya sendiri lupa jika ia masih harus menjalani terapi untuk menghilangkan phobianya. Agora phobia.

“Aku pikir aku tidak perlu menjalani terapi lagi. Aku sudah baik-baik saja” Krystal menjawab dengan menyunggingkan senyum.

“Memang sudah tidak terlalu buruk, tapi mengingat malam itu.. Malam saat ayahmu kecelakaan, saat sekumpulan wartawan menghadangmu, kupikir itu kembali buruk.” Ujar dokter Sena hati-hati.

Krystal kembali mengingat ‘hari itu’. Dan oh, ia ingat bagaimana para wartawan menghadangnya, banyaknya sinar lampu blitz dan suara-suara yang menyerangnya dengan pertanyaan. Dan ia ingat betul bagaimana saat tiba-tiba ketakutan melanda dirinya, ketakutan akan suara bising dan keramaian yang membuat kepalanya berdenyut nyeri. Hingga hal terakhir yang ia ingat adalah ia jatuh tak sadarkan diri.

“Itu..” Krystal mencoba mencari-cari jawaban tapi ia tak menemukannya.

Dokter berparas cantik itu kembali tersenyum.

“Tidak apa-apa, kita hanya perlu kembali mengatur jadwal terapimu. Apalagi aku khawatir dengan jabatanmu sekarang. Jika dengan kondisimu yang seperti ini, kau akan selalu menemukan ketakutanmu.” Ujarnya dengan nada cemas.

Krystal tersenyum seraya menundukan kepalanya. Memandangi kaki-kakinya yang ia mainkan satu sama lain. “Itu hanya sementara, hanya saat ayahku tidak ada”

Perempuan yang disapa Dokter Sena itu menatap Krystal lekat. Seolah tidak setuju dengan apa yang Krystal katakan.

“Kau harus bersiap jika saja jabatan ini akan bertahan lama. Lebih lama dari yang kau pikirkan.”

Dan satu kalimat itu sukses membuat Krystal kembali menegakkan kepalanya penuh tanya.

Rapat direksi hari ini dilaksanakan pukul 8 pagi. Krystal sudah rapi dengan balutan pantcoat resmi berwarna hitam yang melekat pas di tubuh rampingnya. Setelah sampai kantor ia berniat langsung ke ruang rapat. Tapi tiba-tiba langkah Krystal terhenti saat menyadari map yang ia periksa belum lengkap.

“Ada apa?” Tanya Luhan yang ikut menghentikan langkahnya.

“Sepertinya beberapa dokumen masih ada di ruanganku. Kau duluan saja” Ujar Krystal seraya berlari kecil meninggalkan Luhan.

“15 menit! Jangan lebih!” Pekik Luhan mengingatkan jika rapat akan segera di mulai.

Krystal melangkah terburu-buru, tapi apa yang ia lihat saat ia membuka pintu ruangannya benar-benar membuat jantungnya hampir lepas. Pria itu-Kim Kai sedang menyilangan kakinya di atas sofa seraya memainkan ponsel.

“Astaga!” Pekik Krystal terkejut yang terang saja membuat Kai menoleh. “Apa yang kau lakukan di ruanganku?”

Kai beranjak dari tempatnya hendak menghampiri Krystal, dengan senyum yang masih terlihat mengerikan.

“Tentu saja aku menunggumu.”

Krystal menghindar dengan melangkah ke arah mejanya. Mencari berkas yang ia maksud seperti niat awalnya.

“Aku serius” Ujar gadis itu masih sibuk dengan kegiatannya.

Kai berbalik menghadap Krystal, mengantongi kedua tangannya di dalam saku celana. “Aku juga serius. Untuk rapat dan menemuimu”

“Kupikir kita sudah tidak ada urusan” Ujar gadis itu tepat saat menemukan berkas yang ia maksud dan mengambilnya. Lalu ia melangkah berniat untuk segera ke ruang rapat. Tapi pria itu mencekal lengannya.

“Urusan kita justru masih panjang” Kai berucap serius.

Krystal melirik pada jam di ruangannya lalu memandang wajah Kai jengah. “Rapatnya 5 menit lagi. Lepaskan tanganku”

Bukannya melepas, Kai semakin mengeratkan genggamannya. “Mengapa tiba-tiba menandatangani kontraknya?”

Krystal menatap Kai skeptis. Oh astaga ternyata tentang kontrak sialan itu lagi. Sebenarnya apa yang pria ini inginkan? Bukankah kemarin ia yang bahkan sampai mengancam Krystal jika tidak ingin menandatanganinya? Lalu sekarang pria itu bertanya seperti orang bodoh.

“Aku tidak punya waktu. Bukankah kau juga harus ikut rapat?”

Kai tak mengindahkan perkataan Krystal. “Kau punya rencana?”

Krystal menghela nafasnya kasar. Pria ini selalu saja membuatnya naik pitam. Dengan sekuat tenaga ia menarik lengannya paksa lalu menatap Kai sarkatis.

“Aku tidak seperti dirimu.” Lalu setelahnya Krystal segera melangkah terburu-buru.

Rapat sudah berlangsung selama 2 jam tapi masih juga belum berakhir. Krystal yang tadinya sangat antusias berubah menjadi sangat kebosanan. Sesekali ia menguap saat mendengarkan presentasi dari pegawai lain. Terlebih, ia merasa sangat jengkel saat pandangannya bertemu denga siluet menyebalkan itu. Pria yang duduk di kursi paling ujung yang kadang kala tersenyum aneh atau bahkan menyeringai.

“Karna ini edisi untuk musim panas, sebaiknya selain di studio kita juga harus mengambil gambar di luar ruangan. Seperti yang saya ajukan, kita bisa mengambil gambar di pulau Jeju” Ujar salah seorang photographer yang Krystal yakini bernama Dae Woo. Peserta rapat hanya memberi anggukan sebagai pendapat setuju.

“Apa itu tidak terlalu memakan biaya?” Krystal membuka suara. Karna menurutnya hanya untuk pemotretan ke pulau Jeju itu terdengar berlebihan. Atau dia yang tidak tahu?

Photographer Dae Woo mengangguk paham dengan apa yang dimaksudkan oleh Krystal. “Karna sebenarnya ini rencana lama, di penjelasan sebelumnya kita sudah membahas masalah biaya. Dan itu sudah masuk dalam biaya produksi, Presdir” Jelasnya.

Krystal hanya mengangguk-angguk paham. Sepertinya ia tak memperhatikan penjelasan sebelumnya tentang biaya produksi.

“Dan,” Lanjut Dae Woo “Karna ini bertema musim panas, aku harap Kai sebagai model edisi kali ini tidak keberatan jika nanti ada pose atau jenis pakaian yang memperlihatkan tubuh bagian atas”

Sontak hal itu membuat Krystal terkejut. Memperlihatkan tubuh bagian atas? Ia menatap bingung ke arah Dae Woo-yang tengah meminta persetujuan dari Kai. Krystal ikut mengalihkan pandangnya ke arah pria itu. Dan saat itu pula matanya bertemu pandang dengan Kai.

“Tidak masalah, bahkan jika memperlihatkan tubuh bagian bawah aku tidak keberatan” Ujarnya mantap seraya tersenyum miring ke arah Krystal.

Krystal seketika membulatkan matanya. Astaga, pria itu benar-benar sinting!

-TBC-

Haaai kamu yang baru selesai baca!😄

Gimana chapter ini? Aku ngerasa chapter ini aneh banget, serius.

Dan juga, biarpun visualisasi sekaligus cast cewenya adalah Krystal, entah mengapa sepanjang nulis cerita ini aku sama sekali gak pernah bisa ngebayangin muka dia.😄 hahaha *disiram*

Oke mungkin hanya itu cuap-cuap gak pentingnya.

Tolong katakan sesuatu :3 See you next chapter~

Jongin loves you guys❤

Hater x Fan Chapter 6 - Gambar Tambahan.jpg

31 thoughts on “[EXOFFI FREELANCE] HATER X FAN (Chapter 6)

  1. Sumpah eeeeeeeeelllll eh *maaf manggil begitu semoga line kita samaan* hihihi 😁😁 sumpah yaa el gregetan bgt nih sm barudak dua ini gue bikin pd klepek” nyahok lah eh hahhaha 😂😂 ini ceritanya makin keliatan jd tau alasan kai gmn. Duuhh maapkan jg nulis nama irene nya salah *pantes soal ngerasa ada yg aneh* hahahah sbnrnya agak bete agak gk enak kalo ada cast pake nama irene langsung dah ngebayangin visual irene nya, dan langsung naik pitam bgt *efek berita kemaren di hawaii sm si hun hun /kembaran tak serupanya kai* *plakk *udah ah jd curhat* wkwkkq yg penting lanjutkan 😂😂😂

    • Hahaa iya gapapa, dipanggil apa aja diriku mah fayn😄 wkwkwk
      Udahlah hayuk kawinkeun /terus di gorok Kai stan/😄😄
      Whahaa makasih lah udah mampir2 ke lapak sini😄 wkwk
      Eh btw samaaa, sebenernya ya agak males juga kalo liat cast nama dia /lah terus ngapa bikin castnya dia/ /terus disiram/ apalagi yg hawaii ituuuuu azzz gondog juga nihh :v /ikutan curhat/

  2. Lagi nyari ff kaistal terus nyasar kesini…
    Ga tau harus komentar apa baca dr chap1 ngebut sampe chap6, trnyata seruuuuuuuu >.<
    Author izin baca ya maaf baru sempet kasih komentar di chap ini. Salam kenal! Hehehe
    Di tunggu chap selanjutnya…

    • Kurang pervert :v /disiram/
      Chanyeol? Nanti jufa dia nongol(?) Kok, hehe ditunggu aja yaaw;)
      Btw ini chapter terpanjang kalo diitung dari chapter satu😄 hahaha

  3. Astaga Kai….. pervert nya kambuh 😱😱😱
    suka sekali sama cerita nya ini, pelan pelan bisa lihat benang merah antara ayah nya Krys sama masa lalu Kai…

    Kak maafkan reader baru yang main nyelonong baca maraton dan baru kasih jejak di chap 6 ini yaa… soalnya sayang sih mau mutus cerita walaupun cuma 1 menit buat ketik komen doang hehehe 😁😁😁#ditabok kak choco

    Jadi kak, ini aku sekalian yaa minta ijin buat baca chap selanjutnya, siapa tau kakak bikin Kai bener bener lepas celana besok hahaha….
    kak salam kenal yaa…. ( ini ceritanya uda nggak sopan main nyelonong, ijinnya belakangan, masih punya muka buat kenalan… tapi aku anak baik kok kak, nanti aku kasih jejak lagi deh hehehe😆)

    • Kambuh kayak penyakit yak😄 wkwk
      Tjieelaaahhhh bahasa kamu benang merah😀 hahaa
      Semoga kedepannya tetep suka yak😄 jhaha

      oh, haii^^
      Iya gapapa kok, tapi sini deh mana pipinya? /gulung baju/ wkwk
      Btw kak choco? Sumpah sku ngakak so hard /emot teguling/ panggil aku L (re: el) aja😀 hihi

      Njirr lepas celana(?) Whahaa bahkan aku gag kepikiran buat melakukan itu😄 huhu jangan ekspektasi terlalu tinggi nak, aku gabakal lepas celana dia. Paking lepasin kolor(?)Nya *upss /digantung/

      Iyaa, salam kenal juga frey /lambai2 tangan/
      Oke, sampai ketemu di chapter depan;)

    • Kalo buka wordpress di hp suka aneh gitu, komentarnya berantakan :’3

      Kenapa? Jongin kenapa jongin? :v
      hahaha
      Mana coba yang bener? wkwk tunggu
      chapter2 depan yaa:)

  4. Anjiirr tatapan jongiiiin..aaaaaaaaaaww
    Author mungkin butuh bantuan buat ngebayangin Muka krystal??? 😆😆
    Aku kaistal shipper 😄😄😄
    Jd shareena itu ibunya krystal, dan dia selingkuh ama KJS. Mungkin itu ayahnya kai (masi blm terungkap). Trus ibunya kai meninggal karna minum obat ampe overdosis tp kai pikir ibunya di bunuh (ini jg masi belum terungkap)…
    G sabar nunggu next chap

    • Itu sejenis tatapan minta di ketjup(?)😄 hahaa
      Hoooyyy ternyata kamu kaistal shipper, aku bukan😄 *dan digantung* entahlah pengen aja castnya Krystal dan berujung gakbisa dapet feel😄 ckck
      Yaudah tebak2 dulu ajalah yaa, raba2(?)😄😄
      okee ditunggu yaaw😄 hihii

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s