[EXOFFI FREELANCE] DON’T LOOK BACK (Chapter 3)

DONT LOOK BACK CHAPTER3 PW AERI.jpg

[EXOFFI FREELANCE] DON’T LOOK BACK (Chapter 3)

Title : Don’t Look Back

Author : RF.Aeri

Length : Chapter

Genre : School Life, Romance , Slice of Life, Friendship

Rating : Teenager

Cast : Park Chanyeol EXO || Jung Eunji APINK

Main Cast : Jung Eunha GF ||Minatozaki Sana TWICE || Im Nayeon TWICE || Ten NCT U || Krystal F(x) **bisa bertambah sewaktu-waktu**

Disclaimer : Fanfic ke-2 yang dibuat oleh RF.Aeri, tentu, terlahir dari otak Author murni. Seperti biasa, beberapa alur terinspirasi dari beberapa drama korea dan anime. Mohon maaf jika ada kesalahan dalam penulisan atau typo yang meraja lela. ‘-‘, dan  jika ada kesamaan tokoh atau latar, bukan bermaksud untuk memplagiati, tapi cuma kebetulan aja. Cerita ini dibuat hanya fiktif belaka, engga semuanya berupa fakta, hanya karangan indah :’ Author aja.

 

CHAPTER 3

Eunji semakin menjauh dari tempat tadi ia menabrak Chanyeol. Eunji terus mendengus kesal karena sikap Chanyeol tadi.

Disisi lain, Seorang Park Chanyeol sedang memperhatikan langkah Eunji menjauh darinya, menatap punggung kecil Eunji. Chanyeol merasa bersalah karena ia tau sikapnya membuat Eunji kesal.

“Kenapa kau menanyakan hal yang membuatku sakit? Aku tidak ingin menyakitimu, tetapi kau-lah yang menyakitiku. Mianhae Eunji-ya” Chanyeol menundukkan kepalnya sebentar, lalu mengangkatnya kembali, berniat untuk kembali menatap punggung kecil Eunji, tetapi punggung itu sudah menghilang di telan gelapnya malam.

Pikiran Chanyeol sedang kacau, Chanyeol banyak memikirkan sesuatu. Membuatnya sedikit sensitif. Sampai-sampai membuat gadis yang selalu menemaninya hampir 10 tahun itu kesal.

Chanyeol berbalik badan dan segera berjalan menuju sebuah tempat yang sering ia kunjungi untuk me-refresh kembali pikirannya yang kacau.

Eomma, aku pulang” Eunji berkata dengan pelan, takut-takut sang ibu sedang tertidur.

Tetapi diluar dugaan, kini sang ibu sedang berdiri di dekat tangga menatap putrinya dengan tajam. Eunji berjalan pelan mendekati Ny.Jung, ketika mata Eunji dengan Ny.Jung saling bertemu, Eunji segera mengalihkan tatapannya kea rah sepad yang ia pakai, takut.

“Sudah pukul berapa ini?” Tanya Ny.Jung dingin.

“Pukul 11 malam” Eunji menjawabnya pelan setelah melihat arloji yang terlingkar di pergelangan tangan kirinya.

“Itu kau tau, kenapa kau pulang selarut ini hm? Apa Eomma mengajarkan ini padamu?” Nada bicara Ny.Jung meninggi.

“Tidak Eomma, Mianhaeyo” Eunji masih menundukkan kepalanya, tidak bernani mengangkatnya walau sesenti-pun.

Ny.Jung mengehembuskan nafas berat, lalu menatap putrinya yang sedang menundukkan kepalanya.

“Lain kali kau tidak boleh melakukannya lagi. Ini pasti karena teman-teman-mu yang tidak disiplin. Apa kau tadi bermain dulu? Sudah kukatakan! Kau tidak boleh bermain!. Sekarang masuklah ke kamar-mu, dan belajar” Ny.Jung melangkah menjauhi Eunji.

Eunji bernafas lega ketika Ibunya pergi, Eunji mulai berani mengangkat kepalanya. Dengan langkah yang berat, Eunji menaiki tangga dan segera menuju kamarnya.

Eomma, apa kau senang disana?” Guman Chanyeol sembari menatap langit yang masih menyisakan beberapa awan yang menghalangi bintang-bintang untuk bersinar.

Angin malam yang cukup kencang membuat rambut hitam Chanyeol sedikit terangkat, menari-nari mengikuti arah datangnya angin. Angin malam yang dingin menyentuh kulit putih Chanyeol.

Chanyeol memasukkan tangannya kedalam saku jeans hitam yang ia pakai. Tatapan Chanyeol masih tertuju pada langit malam yang hitam. Tatapannya sayu, matanya sudah dipenuhi air mata, 1…2…3… Tik, Chanyeol menitikkan air mata.

“Aku tidak boleh menangis” Chanyeol menghapus air matanya kasar, lalu ia mundur beberapa langkah, lalu berbalik meninggalkan tempat yang baru saja ia datangi.

“Park Chanyeol menyebalkan” itulah yang ditulis Eunji di beberapa buku yang sedang ia baca.

Seperti pada malam malam sebelumnya, Eunji sedang sibuk ‘mengobrol’ dengan dirinya sendiri di hadapan buku-buku tebal yang harus ia baca dan pelajari. Membaca buku dengan suara sedang, lalu mengulangnya, terus mengulangnya sampai ia mengerti dengan apa yang dimaksud ‘sang buku’.

Seperti orang gila, jika ia tidak mengerti dengan materi dibuku itu, ia akan mengacak rambutnya frustasi lalu mengomeli diri sendiri.

Eunji beranjak dari kursi meja balajar menuju ranjangnya. Menghempaskan tubuhnya ke permukaan ranjang yang empuk dan lembut itu, membiarkan rambut setengah punggung kecoklatan sedikit ikal dibagian bawahnya terurai diatas bantal empuk.

Eunji menatap langit-langit kamarnya yang berwarnaa putih, menghela nafas pelan. Lalu memejamkan matanya. Park Chanyeol. Kenapa ia terlintas di pikiranku?, batin Eunji sembari membuka kembali matanya.

“Ahh aku pasti sudah gila” Badan Eunji bergerak ke kanan dan kekiri, sambil ‘memukul-mukul’ kakinya ke ranjang.

###

Pagi hari yang cerah membuat Eunji bersemangat untuk segera berlari kedalam kelas. Eunji baru saja memasuki gerbang sekolah luas itu, berhenti sejenak menghirup udara pagi. Lalu melanjutkan perjalanannya menuju kelas.

Annyeong Eunji-ya” Eunha mengagetkan Eunji di balik dinding salah satu koridor.

Ya! Kau membuatku kaget” Eunji mendengus kesal. Sementara Eunha, ia hanya menyegir kuda sambil menggaruk kepala belakangnya yang tidak gatal.

“Ahh ayo, kita ke kelas” Eunha menarik Eunji menuju ke kelas mereka.

Berbeda dari biasanya, biasanya setiap pagi Eunji, Eunha dan Nayeon selalu bercanda dan tertawa bersama, tetapi kini tidak. Karena candaan Eunha kemarin, Nayeon dan Eunha menjadi tidak akrab lagi. Eunha tidak merasa bersalah sama sekali dan Nayeon, yahh mungkin ia terlalu memasukkannya kedalam hati.

Eunji duduk dibangkunya sambil mencorat-coret secarik kertas kosong, sesekali menatap Eunha dan Nayeon secara bergantian. Mereka sibuk dengan dirinya sendiri. Eunji menghela nafas berat, lalu menghembuskannya.

Clak…clak…clakkk. Beberapa tetes cairan berwarna merah menetes dari hidung Eunji, menyadari itu, Eunji segera mengangkat kepalnya, mencegah darah itu menetes lagi, dengan gesit, Eunji mengambil tisu dari dalam tasnya.

Eunji ‘menyumbat’ hidungnya dengan tisu yang baru saja ia keluarkan dari dalam tasnya. Ia meremas kertas yang terkena tetesan darahnya. Tiba-tiba, Eunji merasakan kepalanya benar-benar sakit, penglihatannya menjadi sedikit buram. Eunji terus mengedipkan matanya sampai akhirnya penglihatannya kembali normal walaupun kepalanya masih terasa sakit.

Eunji beranjak dari tempat duduknya menuju bangku Eunha.

“Eunha-ya, aku akan ke uks, aku merasa tidak enak badan. Tolong baritahu guru yang akan mengajar di jam pertama ini, aku izin” Eunji meminta tolong kepada Eunha.

“Baiklah, apa mau ku antar?” Eunha berdiri dari duduknya, menatap Eunji khawatir.

“Tidak usah, aku bisa sendiri” Eunji tersenyum, meyakinkan. Eunha mengangguk lalu duduk kembali.

Eunji berjalan menuju luar kelas, menuju uks, ketika Eunji hendak membuang sampah, ia berpapasan dengan Chanyeol. Chanyeol berjalan dengan datarnya tanpa melihat kearah Eunji sedikitpun.

Setelah membuang sampah, Eunji berjalan cepat ke uks, karena ia merasakan keplanya menjadi semakin sakit saja.

Eunji membaringkan badannya di ranjang uks. Putih, semuanya putih, bau obat-obatan tercium, Eunji tidak menyukainya. Ia menarik selimut, menutupinya hingga perut. Lalu memejamkan matanya. Hening sekali.

Kelas sudah dimulai sejak 10 menit yang lalu, semua murid fokus dengan pelajaran yang sedang Taemin seonsaengnim jelaskan di depan kelas. Tidak dengan Chanyeol, ia tidak fokus sama sekali, pikirannya sedang ‘berjalan’ kemana-mana.

Ssaem!” panggil Chanyeol sambil mengangkat tangannya.

“Ada apa Park Chanyeol?” Taemin sensaengnim melihat Chanyeol.

“Aku sedang tidak enak badan, apa aku boleh ke uks?” Tanya Chanyeol sambil memegangi pundaknya, berakting agar terlihat seperti orang yang sedang sakit.

“Eo, silahkan, jangan memaksakan dirimu” Taemin seonsaengnim mengizinkan Chanyeol untuk pergi ke uks.

Chanyeol-pun segera berdiri dan meninggalakan kelas, menuju uks. Chanyeol mengambil langkah cepat, alasan ia ke uks bukan karena sakit, tetapi seorang perempuan yang tadi pagi ia abaikan, benar, Jung Eunji.

Chanyeol membuka pintu uks dengan pelan, takut ‘mengganggu’ penghuni uks. Sepi, tidak ada siapapun, hanya terlihat sebuah meja kerja penuh dengan berkas-berkas, lemari obat, poster-poster tentang kesehatan tertempel di dinding, sebuah torso dan beberapa tirai yang menutupi ranjang uks.

Chanyeol berjalan secara mengendap-endap, membuka satu persatu tirai berwarna putih itu, mencari seorang gadis yang sedang ia cari, Jung Eunji. Sampai Chanyeol menemukan posisi Eunji, Chanyeol membaringkan badannya di ranjang sebelah Eunji yang terhalang oleh tirai putih.

Chanyeol memiringkan posisi tidurnya, membuka sedikit tirai putih, memperlihatkan seorang Eunji yang sedang tidur terlentang dengan damai, wajahnya pucat, keringat keluar dari pelipisnya, membuat Chanyeol sedikit khawatir. Bagaimana tidak khawatir? Eunji adalah sahabatnya sejak kecil, dan kemarin ia membuat Eunji kesal dan parahnya lagi, tadi pagi Chanyeol mengabaikan Eunji. Chanyeol merasa bersalah.

“Chanyeol-ah? Apa itu kau?” tiba-tiba Eunji berbicara dengan pelan.

“Iya” jawab Chanyeol singkat.

“Hmm.. sudah kuduga” Eunji tersenyum. Chanyeol dapat meliat senyum manis Eunji dengan jelas, karena saat Eunji mulai berbicara, Chanyeol membuka tirainya dengan lebar dan terduduk di atas ranjang.

“Sedang apa kau disini? Bukankah kelas sudah dimulai?” Eunji masih menutup matanya.

“Aku? Aku sedang sakit” Jawab Chanyeol kaku.

“Benarkah? Kau sakit apa?” kali ini Eunji membuka matanya.

“Entahlah” Chanyeol menggidikkan bahunya.

“Kau aneh sekali” Eunji melihat kearah Chanyeol.

Chanyeol hanya diam, memperhatikan sekitar, Eunji yang merasa aneh dengan sikap sahabat ‘kecilnya’ itu, ia memposisikan badannya untuk duduk di ranjang, mengikuti posisi yang dilakukan Chanyeol.

“Apa kau mengkhawatirkan ku?” Eunji tersenyum lebar. Chanyeol yang mendengar pernyataan Eunji, langsung menatap Eunji sinis.

Cih..Ke-PDan sekali kau”

“Yaaa kan bisa jadi kau mengkhawatirkanku. Kau kan sahabatku sejak kecil”

“Bukan berarti sahabat sejak kecil selalu mengkhawatirkan satu sama lain. Semakin dewasa seseorang, semakin banyak masalah yang menimpanya, dan tidak akan sempat mengkhawatirkan orang lain selain dirinya”

Chanyeol mengalihkan pandangannya, sementara Eunji, ia memajukan bibirnya, kesal. Cih, Kenapa sikapnya berubah drastis? Sekarang ia benar-benar menyebalkan, aku membencinya, batin Eunji.

Setelah itu lenggang, Chanyeol maupun Eunji, mereka berdua diam, tidak bicara sama sekali, seperti baru pertama kali bertemu.

Mi-“ Ucap Chanyeol dan Eunji secara bersamaan, mereka berhenti berbicara ketika mengetahui lawan biacaranya ingin mengatakan sesuatu.

“Kau duluan” Chanyeol mempersilahkan Eunji untuk berbicara lebih dulu.

“Kau saja” Eunji mempersilahkan Chanyeol untuk berbicara. Chanyeol diam sejenak, lalu mengambil nafas, menghembuskannya.

Mianhae”Ucap Chanyeol singkat. Eunji menaikkan salah satu alisnya, tidak mengerti.

“Untuk?”

“Kemarin” Chanyeol menatap Eunji.

“Kemarin? Eummm….” Eunji tampak sedang berpikir.

“Di supermarket”

“Ohh, itu? Sikapmu yang menyebalkan? Ahh Jinjja, disitu kau memang menyebalkan, memang seharusnya kau minta maaf padaku. Hmmm… Aku maafkan” Eunji tersenyum lebar.

“Kau ingin berbicara apa tadi?”

“Aku?Eo, kenapa sikapmu kemarin ? kau sangat berbeda” Eunji bangun dan merubah posisinya menjadi duduk.

“Bisakah kau tidak membahasnya?”  Chanyeol memasang ekspresi kesal.

“Ahh, baiklah” Eunji memutar bola matanya.

Setelah itu lenggang, hanya terdengar suara angin yang keluar dari Ac uks. Eunji membenahi duduknya yang menurutnya tidak nyaman.

“Chanyeol-ah, bayangkan” Eunji menundukkan kepalanya.

“Bayangkan apa?”

“Jika kau mempunyai orang tua yang menyebalkan, lalu salah satu dari mereka menyuruhmu untuk melakukan hal yang tidak kau suka. Kau akan membantahnya atau akan menurutinya?”

“Haha, tidak ada orang tua yang menyebalkan. Memang kadang mereka membuat kita jengkel, tetapi itu semua mereka lakukan untuk kita” Chanyeol terkekeh sambil memandangi Eunji.

“Dan jika salah atu dari mereka menyuruhku melakukan hal yang tidak aku suka, aku akan menurutinya” lanjut Chanyeol.

Wae?

“Karena itu perintah dari mereka, aku harus menghormatinya” Chnayeol mengeluarka ponsel dari saku jas nya, lalu menggeser-geser layarnya.

“Begitu” Eunji mengangguk mengerti.

Eunji POV-

“Begitu” Aku mengerti.

Huaahh!! Tidak! Aku harus menuruti apa mau Eomma. Aku tidak ingin melakukan kompetisi itu, aku membencinya. Aku tidak mau sama sekali. Menyebalkan! Apa yang harus aku lakukan?!.

Aku benar-benar tidak menyukai kompetisi, untuk apa? Menururtku itu tidak ada gunanya. Hanya karena sebuah kompetisi, aku tidak diperbolehkan main. Menyebalkan! Menyebalkan! Menyebalkan.

-Author POV-

“Apa kau mengikuti kompetisi ini?” Tanya Chanyeol sembari menyodorkan ponselnya kearah Eunji. Alis Eunji terangkat, menunjukkan ia ingin tau apa yang dimaksud Chanyeol. Eunji mengambil ponsel yang Chanyeol sodorkan.

“Emm…” Eunji menggigit bibir bawahnya, ragu. Ragu untuk member tau Chanyeol. Karena tidak ada satu orang-pun yang mengetahui Eunji mengikuti kompetisi besar itu, sahabatnya-pun tidak Eunji beri tau.

“Aku sangat ingin mengikutinya” Chanyeol menghembuskan nafas berat.

“Kenapa kau ingin mengikutinya?” Eunji tersentak kaget ketika mendengar pernyataan Chanyeol.

“Aku ingin menjadi penyanyi yang membuat laguku sendiri”

Geurae, ikutilah” Eunji memperbesar sebuah gambar poster kompetisi yang akan diikutinya beberapa minggu lagi.

“Aku tidak bisa” keluh Chanyeol.

Wae? Kenapa kau bilang seperti itu? Semua orang bisa melakukannya!” Eunji membulatkan matanya, sedikit kesal.

“Aku tidak berbakat”

BUG! Sebuah pukulan keras diterima Chanyeol di punggungnya, ya, Eunji memukulnya.

“Aaaa!! Sakit! Kenapa kau memukulku?” Chanyeol mengusap kasar punggung yang Eunji pukul.

Eunji tidak menjawab, ia hanya berdecak kesal sambil melipat kedua tangan di depan dadanya.

“Aish! Kenapa kau memukulku?” Tanya Chanyeol lagi.

“Semua orang berbakat! Tidak ada orang yang tidak berbakat” Eunji memajukkan bibirnya.

“Hanya karena itu kau memukulku?”

Eunji mengangguk.

“Haish! Kau sadis sekali, hanya karena aku berkata aku tidak berbakat, kau sampai memukulku seperti ini, jahat sekali” Chanyeol masih mengusap punggungnya yang masih terasa sakit.

“Kau harus ikut” Eunji menatap Chanyeol.

Mwo?

“Kompetisi itu, kau harus mengikutinya” Eunji mengangguk-angguk, menunggu jawaban Chanyeol.

-Chanyeol POV-

“Kompetisi itu, kau harus mengikutinya” Eunji mengangguk-angguk, sepertinya menunggu jawabanku.

Kenapa aku harus mengatakan ‘Aku ingin menjadi penyanyi yang membuat laguku sendiri’. Chanyeol! Kau bodoh sekali. Gara-gara aku sendiri, aku terjebak disini! Terjebak dalam pembicaraan menyebalkan bersama Eunji.

“Aku tidak ingin mengikutinya” Tolakku.

Wae?! Kau harus mengikutinya” Eunji menunjuk-nunjuk wajahku. Menyebalkan.

“Aku tidak ingin, jangan paksa aku”

-Author POV-

“Aku tidak ingin, jangan paksa aku” Chanyeol menutup kedua telinganya.

“Isshhh” Eunji memutar kedua bola matanya, lalu ia kembali membaringkan badannya, membelakangi Chanyeol.

“Baiklah, aku akan mengikutinya” Chanyeol berkata dengan pasrah.

Jinjja? Kau benar-benar akan ikut?”Tanya Eunji riang.

“Iya, tetapi aku akan daftar sendiri” Chanyeol kembali membaringkan badannya, membelakangi Eunji.

“Baiklah! Keputusan yang bagus!” Eunji terseyum lebar, ia sangat senang.

“Eunji-ya, kau sudah sembuh?” Tanya Eunha sambil berhambur memeluk Eunji ketika Eunji sampai di kelas.

“Iya, aku sudah sembuh. Jangan khawatir” Eunji melepaskan pelukan Eunha dan langsung segera duduk di bangkunya.

“Kau tau, tadi pelajaranannya benar-benar sangat sulit” Eunha meremas sebuah kertas lalu melemparkannya ke sembarang arah.

“Oh ya? Sesulit apa itu?” Eunji terkekeh melihat tingkah Eunha.

“Sesulit membangun sebuah gedung berlantai 1000” Eunha memukul kepalanya sendiri.

“Haha, kau ada-ada saja. Memangnya kau pernah melakukannya?” Tanya Eunji.

Eunha menggeleng, Eunji tertawa kecil.

Tinggal 10 menit lagi kelas bubar, Eunji segera bersiap-siap untuk pulang.

Sepulang sekolah, Eunji ingin merileks-kan pikirannya dengan beristirahat, tetapi tidak sesuai perkiraannya. Ny.Jung menyuruh Eunji untuk pergi les. Bukankah itu terlalu jahat? Kini Eunji sedang berjalan menuju tempat les.

Eunji memasuki ruang lesnya, terlihat Sulli seonsaengnim menyambut Eunji dengan senyumannya. Eunji menundukkan kepalanya dan segera duduk di tempat yang selalu ia tempati.

I NEED U …. I NEED U”

“Kau salah! Nadanya tidak serendah itu” Sulli seonsaengnim menegur Eunji. Eunji hanya bisa menghembuskan nafasnya berat lalu mengulanginya lagi.

Sudah berulang-ulang Eunji mengulang liriknya, tetapi tetap saja ia gagal. Eunji tidak tau apa yang harus ia lakukan.

“Kenapa jadi kacau begini? Ada apa denganmu? Kenapa kau menjadi seperti ini?” Sulli seonsaengnim memijit pelipisnya.

Mianhaeyo seonsaengnim” Eunji meminta maaf.

“Bagaimana bisa memenangkan konpetisi? Latihan saja berantakan seperti ini” Sulli seonsaengnim menyimpan kerats berisi lirik lagu dengan kasar.

Ssaem, sepertinya aku harus beristirahat sebentar” Eunji menundukkan kepalanya.

“Ahh benar, itu yang harus kau lakukan saat ini. Pulanglah, les kali ini sampai sini saja” Sulli seonsaengnim mengizinkan Eunji untuk pulang lebih awal. Memang itu yang inginkan Eunji sejak tadi.

Eunji meraih tas kecilnya dan segera pergi meninggalkan tempat lesnya dan segera kembali kerumahnya.

Dengan hati-hati, Eunji membuka pintu rumahnya, tidak ada siapapun. Mobil Ny.Jung tidak ada, menandakan Ibunya itu sedang pergi. Eunji berlari kearah kamarnya, menutup dan mengunci pintu.

Eunji melepas sepatunya dan segera berbaring diatas ranjangnya. Eunji menghembuskan nafas lega. Eunji mulai menutup matanya, menenangkan pikirannya yang kacau.

TBC

Udah hampir 2 minggu kita tidak jumpa ya? Wkwkwk, bingung sama jalan ceritanya. Lagi-lagi mentok, gatau harus buat jalan ceritanya gimanaaa…

Yang pasti, jadi Author itu ga segampang yang kita bayangin. Haha, yaa demi cita-cita mah apa aja dilakuinn… hehehe

One thought on “[EXOFFI FREELANCE] DON’T LOOK BACK (Chapter 3)

  1. Ping-balik: [EXOFFI FREELANCE] DON’T LOOK BACK (Chapter 3) | ciktih

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s