[EXOFFI FREELANCE] Black Heart (Long Version) Chapter 1

Black Heart Poster copy

Black Heart (Long Version) Chapter 1©      

 

Author : Rinata N.

Cast : EXO’s Baekhyun and OC’s ??

Genre : Slice of life, fantasy, mystery, and (maybe) slight romance.

Lenght : Chaptered

Rated : PG-13

DISCLAIMER : This is just a work of fiction. I don’t own the cast including the OC. The real characters belong to their real life, and for the OC, I just made them inside my brain, it means ‘they’re not real’, just belong to their appearance in this fiction. I just own the storyline. Please DON’T be a PLAGIATOR or repost it without my permission and also, please don’t take the plot (or basically the whole ideas).

_____________________________________________________

Siapa kau sebenarnya?

__________________________________

Author PoV

“BYUN BAEKHYUN!”

Sebuah teriakan memekakan telinga bergema di suatu ruangan. Pemilik nama yang mendengar suara itu hanya memejamkan matanya malas. Terbersit raut cemas dalam wajahnya.

Neo…… Apa kau sudah gila? Kerjaan macam apa ini?!” Sekali lagi pemilik suara berteriak sambil membanting setumpuk kertas. Bedanya, sekarang ia melakukannya di depan pemuda ini.

Pemuda bernama Baekhyun ini hanya menunduk, karena orang yang berkepala setengah botak di depannya itu merupakan atasannya.

Jwesonghamnida. Saya akan melakukannya lebih baik lagi kedepannya. Jeongmal jwesonghamnida” Pemuda berkulit putih bak pualam itu menunduk dan membungkuk dalam. Orang yang berada di hadapannya itu menghembuskan nafas berat, memijat kepalanya.

“Baiklah, kuberi kau kesempatan. Jika pekerjaanmu ini tidak ada perubahan yang baik, kau …….” Ia berkata dengan nada mengancam. “akan kupecat.”

Ne, algeseumnida.” Ia membungkuk lagi, kemudian atasannya itu berlalu. Baekhyun duduk di tempat duduknya lemas.

 

****-****

 

*Lunch Time*

“Haah…..” Baekhyun duduk sambil termenung. Sup yang merupakan makan siangnya itu teraduk-aduk tanpa masuk sedikit pun ke mulutnya.

Ya.

Tiba-tiba seruan terdengar. Seruan perempuan. Baekhyun tampak tidak mendengarnya. Perempuan yang sudah memegang makan siang di tangannya itu lalu duduk di hadapan pemuda itu.

Ya, kau tidak makan?” tanya perempuan ini berbasa-basi. Ia mengambil sepotong daging, dan memakannya.

“Kau ini seperti mayat hidup saja.” ucapnya kembali seraya meletakkan sepotong tempura ke mangkuk Baekhyun. Baekhyun tersenyum miris. Ternyata masih ada juga yang memedulikannya.

“Jina Noona. Apa kau tidak malu makan bersama–

Ucapannya terhenti. Manik mata Baekhyun menangkap apa yang ada di belakang orang bernama Jeon Jina di depannya.

“Apa di kantor ini ada karyawan baru?” tanya Baekhyun dengan mata tetap memandang sosok itu.

“Apa?” Jina mengikuti arah pandang pemuda yang sedang melihat ke belakangnya. Hanya terlihat karyawan-karyawan lain yang berseliweran memegang makan siang. Tidak ada orang baru.

“Yang mana?”

“Itu …. Yang berbaju abu-abu itu ..” Baekhyun menunjuk ke arah jendela. Jina hanya melongo. Tak ada siapapun di pandangannya.

Mwo?” Ia menatap pemuda di depannya itu dengan tatapan yang seolah mengatakan ‘apa orang ini sudah gila?’. Baekhyun tetap terus menatap jendela di belakang mereka dengan tatapan penasaran.

“Sepertinya kau harus ke dokter, Baekhyun.”

 

****-****

 

Baekhyun PoV *2 days later (Saturday)

Aku menuruti nasihat Jina Noona, mengunjungi dokter. Sebenarnya ini  karena ia memaksaku juga. Sekarang ia ada di luar, sedangkan aku sedang berhadapan dengan orang berjas putih berkacamata di depanku. Tertulis di papan namanya, “Kang Junseok, Psikiater”.

“Jadi … apa keluhanmu?” Psikiater dengan kacamata bulat di depanku bertanya.

“Belakang ini saya sering melihat sosok tak terlihat, seonsaengnim. Padahal, teman saya tidak melihatnya.” jelasku. Sosok itu sudah 2 hari ini terus menampakan diri dan membuatku menjadi ‘orang gila’ karena berteriak kaget saat ia muncul.

Psikiater itu menulis sesuatu di catatannya. “Apa dia mengajakmu bicara?”

“Tidak. Dia hanya diam saat saya bertanya padanya. Hal itulah yang membuat orang di sekitar saya mengira saya ini sudah gila.”

“Anda sedang mengalami tekanan belakangan ini?”

“Hmm .. mungkin bisa di bilang seperti itu. Beban pekerjaan saya sedang menumpuk karena seminggu lalu saya sakit. Juga tekanan dari atasan yang .. tegas.” Aku menjawab. Hampir saja aku mengatakan ‘atasan yang galak bertampang mengerikan’. Ia kembali menulis di catatannya, ‘teman khayalan’.

“Yah, baiklah. Untuk sementara ini, tidak berbahaya. Jika kau masih melihatnya lagi kedepannya, kau dapat datang lagi kesini.” Ia menulis sebuah catatan dan menyerahkannya padaku. “Ini adalah resep obat penenang. Minumlah dengan teratur sesuai dosisnya.”

Kamsahamnida, seonsaengnim.” Setelah membungkuk, akupun keluar dari ruangannya.

“Sudah selesai?” tanya Jina Noona begitu aku keluar.

Eo.”

“Bagaimana hasilnya?”

“Yah, aku tidak gila ……. Jadi, kau tidak perlu khawatir.” Aku berkata tak peduli lalu melengang pergi meninggalkannya.

“Benarkah? Apa kata dokter?” Ia berlari, menjajarkan langkahnya denganku.

AishNoona berisik sekali! Bisakah kau diam? Sepertinya Noona yang harus ke dokter untuk menjahit mulutmu yang tidak bisa berhenti mengoceh itu.” Aku kembali pergi meninggalkannya. Tidak peduli walaupun ia berteriak marah-marah di belakangku.

Ya!!”

 

****-****

 

 

“………….” Aku merebahkan diri setelah sampai rumah. Rumah kecil yang baru aku tinggali selama beberapa bulan ini. Sendirian, tidak ada siapapun. Orangtuaku sudah lama tiada.

KRINGGG KRINGGG …… (suara telepon berbunyi)

Yeoboseyo?” Terdengar suara di seberang.

“Oh, Samchon! Sudah lama tidak bertemu!”

“Kau baik-baik saja disana? Bagaimana pekerjaanmu?” tanya orang yang menelpon, pamanku.

“Aku baik-baik saja. Pekerjaan ….. yah, kalau yang itu, kabarnya tidak terlalu bagus.”

Kau tidak kekurangan apapun kan? Maafkan aku yang sibuk ini, jadi tidak bisa sering menjengukmu.”

“Ah, gwenchanayo. Aku ini sudah 24 tahun, Samchon. Aku bisa merawat diriku sendiri.” sahutku sambil tertawa nyengir. Setidaknya, walaupun banyak beban yang aku tanggung, aku tidak harus merepotkan orang lain dengan … mempedulikanku.

Hyung!” Terdengar suara lain.

“Oh, Hongmin-ah! Apa kabar?”

“Aku baik-baik saja, Hyung!” sahut sepupuku yang berumur 11 tahun itu di seberang. “Hyung! Lain kali mampirlah! Seomin juga sudah kangen dengan Hyung.” Hongmin begitu semangat mengatakan itu. Seomin adalah adik perempuannya.

Geurae …. Nanti Hyung mampir ke rumah ya! Kita bakar daging, oke?” Aku menjawab. Keponakanku itu menjerit kegirangan.

“Asyik!!!”

“Sudahlah, Appa ingin bicara dengannya.” Suara Samchon kembali terdengar. “Oh, Baekhyun-ah. Jika kau ada waktu, mampirlah kesini. Sepupumu ini rindu denganmu. Kita juga dapat mengobrol. Aku tahu kau pasti punya banyak beban, setidaknya kau bisa berbagi. Baiklah, sampai nanti!”

Ne, annyeong.” Aku menutup telepon sambil tersenyum. Dapat kubilang, paman adalah keluargaku yang paling dekat. Samchon sangat sayang padaku layaknya anaknya sendiri. Meskipun ia tidak bisa untuk sering menengokku, aku tetap senang. Ia merupakan satu-satunya adik Appa. Saudara-saudara Eomma kebanyakan tinggal di Jepang.

Appa dan Eomma meninggal dalam kecelakaan pesawat. Kejadian itu terjadi beberapa tahun silam. Aku tidak ingat semuanya. Yang kuingat hanyalah ketika mereka berangkat dan berjanji akan membawakanku oleh-oleh. Sisanya ……. seakan lenyap, pergi bersama kenangan pahit itu.

Tiba-tiba dadaku sesak. Mengingat kenangan menyedihkan itu seakan menusuk dada dengan pisau tajam. Pahit dan sakit. Aku sangat menyayangi mereka, dan … mereka pergi, begitu cepat, meninggalkan aku sendirian di dunia ini. Kesepian dan hampa, seolah tidak berjiwa.

Aku menyambar obat penenang itu. Tak peduli berapapun dosisnya, aku menelannya. Seketika aku merasa tenang. Mungkin karena melebihi dosis, obat itu bekerja dengan cepat. Pandanganku menjadi kabur dan benda-benda seakan hanya berupa bayangan.

 

EommaAppa … Aku merindukan kalian ……..”

 

****-****

 

Author PoV

Sinar matahari menyinsing dari ufuk timur. Kicau burung dan kokokan ayam jantan pun mulai terdengar di pagi hari yang sangat cerah ini. Mereka bertigalah yang membantu manusia ‘bangun’ dan memulai aktivitasnya. Sungguh berkah Tuhan yang luar biasa.

Tetapi, lain dengan rumah pemuda Byun ini. Tampak tidak ada tanda-tanda kehidupan di rumah kecil itu. Detakan jarum jam besar di ruang tengah nampaknya hanya bagaikan suara semut, tak terdengar. Padahal ia tidur di ruang tengah.

Oh, jangan tanya mengapa ia dapat tidur disitu alih-alih di kasur empuk kamarnya. Karena pengaruh obat yang ia minum semalam, ia terlihat seperti ‘orang mabuk’ yang tidur dengan posisi badan setengah di sofa dengan kaki menjuntai ke lantai. Sungguh menyedihkan sekali kelihatannya.

Euunnghh ….” Ia menggeliat. Nampaknya sinar matahari yang sudah tinggi itu membangunkannya. Setelah menggosok-gosok mata sesaat, ia melakukan peregangan.

“Aaah!!” Ia menjerit. Pandangannya jatuh pada sosok yang sama yang terus muncul selama 2 har- oh tidak, ditambah kemarin menjadi 3 hari. Ia menggelengkan kepalanya malas, dan juga berharap sosok ini dapat segera menghilang.

“Aish, lagi-lagi kau! Kau tidak bosan mengikutiku terus?!” bentak Baekhyun pada sosok perempuan transparan ini. Perempuan itu hanya membeku di tempatnya, tanpa bergerak sedikitpun. Ekspresi datar terlukis dari wajah pucatnya.

“Siapa kau sebenarnya?” Baekhyun mengernyit sambil terus memandangnya. Ia berharap setidaknya sosok-tak-terlihat-oleh-orang-lain-selain-dirinya ini dapat menjawab, untuk membuktikan bahwa ia tidak gila.

Sosok itu terus diam, bahkan tanpa berkedip. Dan Baekhyun mulai berpikir apa ia ini benar-benar sudah tidak waras.

“Mungkin aku memang harus ke dokter itu lagi.” pikirnya. Ia mengetuk kepalanya berkali-kali, berusaha mengembalikan akal sehat yang hilang. Akhirnya, tanpa peduli pada sosok itu, ia berjalan menuju kamar mandi.

“Sebaiknya kau jangan mengintip!” Tiba-tiba ia berbalik, memperingati sosok itu. Untuk pertama kalinya, sosok itu mengangguk.

 

****-****

 

Baekhyun PoV

Setelah selesai mandi dan berpakaian, aku berjalan menuju dapur. Hidup sendirian selama bertahun-tahun membuatku mau tak mau harus belajar memasak. Aku melihat isi kulkas, tak banyak isinya. Aku pada akhirnya memutuskan untuk membuat gyeran mari (telur gulung) dan sup jagung. Untung saja masih ada tersisa kimchi lobak dari tetangga di sudut dalam kulkas. Aku sangat menyukai kimchi jenis itu. Setelah semua bahan siap, aku pun mulai memasak.

“Waaah .. enak.”

Aku menoleh terkejut. Lagi-lagi sosok ini sudah berada tepat di sampingku! Ia menatap ke penggorengan, melihat apa yang kumasak.

‘Apa sosok ini dapat berteleportasi?’, mungkin begitulah ekspresiku saat menatapnya.

Ya, kau …. menyingkirlah! Aku mau masak!” Aku berusaha mendorongnya walau sia-sia. Hanya ruang kosong yang kudorong. Entah cara apa lagi yang bisa kulakukan untuk ‘mengenyahkannya’.

Aku yang akhirnya menjauh sedikit. Tidak enak terus-menerus dilihat dan didekati oleh sosok ini. Risih, mungkin itu kata tepatnya.

Ah ya, karena sosok yang persis seperti orang sakit ini ‘tembus’ alias tidak padat, aku memutuskan untuk menyimpulkannya sebagai hantu. Mungkin juga ia hanya jiwa tersesat dan memutuskan untuk mengikutiku karena bosan atau ‘mungkin’ untuk tujuan tertentu. Dan mungkin, kalau aku berpikiran seperti itu, itu akan jauh lebih baik untuk pikiranku dan juga untuk keadaan jiwaku.

Aku meletakkan semua piring makanan ke meja. Dan syukurlah aku juga masih mempunyai nasi yang kumasak kemarin sore, sebelum aku berangkat ke dokter di rice cooker. Aku memandangi hasil masakanku ini dengan puas dan senang. Jarang sekali aku punya waktu luang untuk memasak seperti ini.

“Jadi ….. kau bisa memasak?”

Oke, ini aneh. Sosok ini memulai pembicaraan, tak seperti kebiasaannya yang selalu diam jika aku bertanya padanya. Aku menatapnya dengan heran. Ia sekarang duduk di hadapanku.

“Apa?”

“Aku ulang. Jadi kau sudah bisa memasak, Baekhyun-ah?” Aku tertegun.

Bagaimana ia bisa tahu namaku?’

Ah, mungkin ia melihatnya di kartu namaku, pikirku. Ketika aku bangun di hari-hari sebelumnya, ia memang selalu diam di sudut ruangan, seakan menungguku bangun.

Aku tidak menjawab pertanyaannya. Atau lebih tepatnya, berusaha untuk tidak peduli. Aku harus ingat untuk minum obat setelah ini.

Ia terus menatapku, yang membuatku terus tetap menunduk menghadap makanan. Risih serta tidak nyaman, ituah yang kurasakan.

“Ah, kau! Enyahlah! Aku muak karena kau terus memperhatikanku dari tadi!” Aku membanting sumpit. Hilang sudah kesabaranku karena sikapnya ini.

Ia tampak merasa bersalah. Wajahnya yang pucat seperti orang sakit itu bertambah pucat ketika aku menatapnya dengan marah.

Mianhae …..”

Suara kecil lolos dari bibirnya. Ia menunduk, tak berani melihatku. Entah kenapa aku jadi merasa sedikit bersalah karena membuatnya ketakutan.

“Baiklah, kali ini kau kumaafkan. Kau mau makan juga?” Ia menggeleng, seperti yang sudah kuduga.

Bodoh. Pertanyaan itu sangat bodoh. Mana ada hantu bisa makan? Mereka itu adalah sosok yang sudah tidak ada lagi di dunia ini.

“Tidak. Aku …. tidak perlu makan.” ujarnya. Tepat. Hantu memang tidak memerlukan makanan. Aku pun melanjutkan makan. Kali ini ia menjauh dan duduk di ujung meja makan. Setelah selesai, aku membereskan semua peralatan makan yang kotor dan segera membersihkan dapur.

“Kau mau kemana?” Ia bertanya saat aku akan keluar.

“Bukan urusanmu.”

Aku memakai sepatu dan menutup pintu rumah. Aku akan ke minimarket, atau mungkin saja naik bus untuk ke supermarket, membeli beberapa bahan makan dan stok makanan yang awet, seperti ramyeon, sarden, atau buah kaleng.

“Kau jangan ikut!” seruku pada ia yang keluar menembus pintu. Ia berdiri mematung. Setelah memastikan ia tidak mengikutiku ketika mengunci pagar, aku pun berjalan menuju halte.

“Kau! Sudah kubilang kan!” Tiba-tiba saja hantu yeoja ini muncul dari balik pohon ketika aku membalikkan badan, memeriksa apa ia benar-benar diam di rumah atau pergi ke tempat lain.

“Ya sudahlah ..” Aku menghela nafas. Tidak gunanya menghabiskan waktu dan tenaga hanya untuk mengomel dan marah-marah pada sosok yang tak terlihat ini. Aku khawatir orang yang melihatku akan menganggapku memang sudah ‘tidak waras’.

‘Baiklah, ini bukan drama, Baekhyun! Ia tidak akan menurutimu jika kau menyuruhnya! Sadarlah! Jangan buat orang menatapmu aneh.’

Aku menggeleng-gelengkan kepala. Baiklah, anggap saja sosok menyebalkan ini tidak ada. Aku pun kembali merajut langkah menuju halte.

Yah, tak perlu lama menunggu, bus datang. Aku beruntung, bus ini tidak penuh penumpang, hanya ada sekitar 6 orang dalam bus ini. Setelah membayar di mesin, aku mencari tempat duduk.

Ketika menatap keluar jendela, pemandangan kota terlihat jelas. Gedung-gedung pencakar langit, spanduk dan televisi berukuran raksasa, yang merupakan ciri khas kota besar seperti Seoul ini tampak. Walaupun aku tidak tinggal persis di tengah kota, tempat ini tetap saja ramai. Salah satu hal yang tidak kusukai.

“Tumben kau tidak memakai earphone –mu”

Anggap saja dia tidak ada, Byun Baekhyun! Dia itu invisible, tidak terlihat! Aku memejamkan mata, berusaha menekankan pikiran itu dengan sebaik-baiknya.

Seorang nenek duduk di sampingku. Aku menghembuskan nafas lega, sosok itu jadi ‘tertutupi’ olehnya. Geurae, setidaknya perjalanan ini akan berjalan baik jika nenek ini tidak beranjak dari tempat duduknya sampai aku tiba di supermarket.

 

****-****

 

Aku sampai di supermarket dengan selamat. Nenek tadi belum beranjak ketika aku memencet bel untuk turun. Thank God.

Beras ukuran kecil, beberapa kotak susu, wortel, daun bawang, nori, ramyeon, sarden, kornet, spageti, dan lainnya, menjadi belanjaanku hari ini. Akupun membeli sampo dan sabun, yang kebetulan sudah mau habis.

Aku memang lebih suka memasak sendiri. Karena selain lebih hemat, makanan jadi lebih sehat. Eomma selalu mengajarkan aku untuk selalu memperhatikan nutrisi. Maka dari itu, aku selalu menyempatkan memasak daripada membeli makanan dari luar. Tapi, saat stres dan pekerjaan menumpuk, ini jarang berlaku. Biasanya aku hanya akan memasak ramyeon atau menggoreng telur saja.

Sejauh ini, aku tidak melihatnya lagi. Entah ia menghilang pergi kemana. Aku memerhatikan sekeliling, tidak terlihat sosoknya berkeliaran. Yah, buat apa aku peduli dengannya. Itu malah bagus, tak ada lagi penggangu yang akan mengusik kehidupanmu.

Tiba di rak berisi dus-dus berisi detergen, aku mengambil satu pak. Detergen di rumah sudah habis. Karena terlalu tinggi, tiba-tiba dus itu jatuh. Kardus berisi detergen yang berat itu akan menimpaku beberapa sekon lagi. Tak sempat lagi menghindar, dus itu semakin dekat denganku …..

 

Dan seketika semuanya menjadi gelap.

 

 

 

~To Be Continued~

 

 

 

 

Cuap-cuap Author :

Halo semua! Berhubung aku ini author baru, aku akan memperkenalkan diri terlebih dahulu! ^^

Namaku Rinata N.. Kalian boleh memanggilku sesuai dengan kehendak kalian. Rin, Rina, Rita, Nata dan sebagainya! Ini lebih baik dan nyaman buatku daripada dipanggil dengan sebutan ‘author’, hehehe. Btw, nama itu merupakan bagian dari nama asliku. Kata ‘Rinata’ yang dikasi italic itu hanya untuk ciri khas saja. Dan kata ‘N titik’ (?) itu merupakan singkatan dari Nakajima yang merupakan nama jepang abal-abal yang kubuat. Tapiii ……. sebenarnya juga itu hanya sekedar penghias saja sih, wkwkwkw. Karena .. menurutku jika nama Rinata itu berdiri sendiri, akan terlihat aneh:/

Oke, aku akan lompat topik. Sebenarnya ff “Black Heart” ini sudah pernah dipost sebagai Baekhyun Birthday Project, tapi …… tidak menang L Huhuhu, aku sedikit kecewa sih, tapi tidak apalah. Dan entah kenapa aku berpikir, aku tidak menang karena telah membuat Baekhyun mati di hari ulangtahunnya (ups, spoiler! >.<).

Karena tiba-tiba serangkaian alur baru nongol di otak, aku memutuskan untuk membuat versi panjangnya. Ini terjadi setelah 2 minggu ff yang BBP (Baekhyun Birthday Project) dikirim. Idenya dateng ketika lagi galau saat waktu senggang. Abis baru diputusin pacar sih, wkwkwkw (hahaha, bohong bohong. Aku ini jomblo akut yang sudah addict with Korean things. Palingan pacar cuma berbentuk tinta di kertas ato cahaya di laptop (alias bias) :’ #miris)

Balik lagi ke inti. Jadi, kuharapkan jangan membaca versi oneshot-nya jika tidak ingin kecewa atau merasa tidak enak karena sudah membacanya. Ngerti maksudku kan? Misalnya gini, jika suatu Kdrama sudah selesai tayang di Korsel, dan teman kalian sudah tamat menontonnya, sementara kalian belum, dan ia menceritakan seluruh alurnya padamu (alias spoiler), dan saat kalian menontonnya, kalian pasti merasa tidak ada feel-nya karena sudah tau alurnya kan? Jadi, itu alasanku. Yah, walaupun sebagian orang merasa biasabiasa aja saat spoiler bertebaran (macem aku ini, yang malahan mencari spoiler karena sudah saking penasarannya *sindrom akut kdrama muncul), aku hanya ingin membuat sebuah ‘kejutan’ agar enak saat membaca versi chapter ini. Aku tidak memaksa, tetapi lebih baik memang untuk ‘tidak’ membacanya versi oneshot-nya, karena aku ingin membuat versi ini beda dengan versi itu. Tentu dengan alur yang lebih menarik ^^ (maybe, wahahaha)

Dan satu hal yang aku mau bilang, ff ini tidak berkaitan dengan drama baru selesai tayang yang bertema hantu itu (kalian tahu kan?). Seperti yang aku udah katakan di atas, ff ini sudah di-post saat Baekhyun Birthday. Alur baru muncul beberapa minggu setelahnya. Tolong untuk tidak mengait-ngaitkannya😀. Serius, aku tidak mengikuti drama itu. Ide ini muncul begitu saja di kepalaku (yang penuh dengan pikiran-pikiran gaje).

Haah ……. oke, sekian dari banyak bicara dan perkenalannya.😀 Aku harap, aku dan kalian dapat ‘bekerja sama’ dengan baik! Annyeong!

 

Please give me some ‘cheering’ and support with your comments! It can be some critic, greeting or your opinion about my writting. And your comments will be so precious to me! I will appreciate them! Thank you!❤

 

 

With Love,

Rinata N.

2 thoughts on “[EXOFFI FREELANCE] Black Heart (Long Version) Chapter 1

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s