Center Of Universe -adoraamora

tumblr_mllsotomrj1qe6n66o1_500

Center of Universe

Keduanya saling memendam rasa, namun malu untuk sekadar bertegur sapa.

Adora Amora©2016

Sehun Alderick ♥ Chaerrytha Agatha

Oneshoot for 13+ with Romance genre

‘This story is pure mine, please don’t do anything about plagiarist.’

Sehun Alderick

tumblr_n681xn4u411s85b5to1_500

Chaerrytha Agatha

asian-beautiful-beauty-black-and-white-favim-com-740599

Chaerrytha Agatha, Pelayan Cafe

Jatuh cinta pada seseorang yang hanya dapat kalian pandang dari kejauhan dan tidak untuk menjadi sosok yang disandingkan denganmu bukankah menyakitkan? Seperti telah membungkus kado tetapi tak pernah memberikannya karena tidak seindah yang lain, seperti bulan yang setia dengan bumi yang mengejar matahari, seperti bintang jatuh yang kemudian hilang sebelum tangan ini sempat menggapai. Katanya, jatuh cinta dalam diam itu lebih sakit dari sekadar patah hati.

Pengandaian untuk aku dengan perasaanku pada dia, pria tampan yang tengah memandang gemericik hujan di luar jendela dengan menyesap eiskaffe. Minuman asal Jerman hasil perpaduan es kopi, susu, gula, es krim vanilla, dan whipped cream. Pria itu duduk nyaman dengan bersilang kaki pada kursi kayu gabungan besi. Menempati meja berangka tiga puluh satu. Meja yang aku lirik setiap pukul tiga sore pada hari Selasa, Kamis, dan Sabtu karena pria itu datang diwaktu tersebut. Lucu ya, aku sampai hafal jadwal kunjungannya meski jika kalian bertanya ‘mengapa?’ aku hanya bisa menggeleng dan menghendikkan bahu. Benar, jikalau cinta itu melumpuhkan logika.

Namun sepertinya pengecualian untuk hari ini yang aku ketahui hari Rabu dan pukul tujuh malam. Pria itu tiba – tiba datang ditengah hujan lebat yang menyelimuti kota dengan membawa payung biru gelap untuk perlindungan diri, meski aku masih dapat melihat kemeja putih dibeberapa bagian bahu dan punggungnya yang terkena percikan hujan mencetak kulit pucatnya. Wajahnya masih sama meski sedikit membiru, kaku tanpa ekspresi pasti dan ya… tampan. Sangat tampan sampai menarik perhatian kaum hawa sepengunjung cafe. Suara baritonnya saat menyebut menu pesanan pun seperti mesin penghangat yang tak hanya sampai di pori namun juga di hati. Huh, hiperbolis tetapi itu adanya.

Aku masih memandangi sosoknya seperti penggemar memuja sang idola. Memandangi pria yang entah kapan atau bagaimana caranya mengambil seluruh ruang hati dan memenuhi otakku. Seringnya aku bertanya bagaimana aku bisa jatuh hati pada pria itu? Ahh, tidak nyaman rasanya memanggil dia dengan sebutan ‘pria itu’. Aku sebenarnya tahu namanya ketika dia menyebutkan untuk keperluan pembelian, Sehun Alderick. Sungguh, jantungku dengan reaksi yang berbahaya ketika Sehun menyebutkan identitasnya. Pria yang tidak terlihat ramah dengan stel armani di tubuhnya, memesan eiskaffe dan donat tanpa topping setiap kunjungannya, membayar tunai tanpa pengembalian, selalu memandang keluar jendela dan tidak pernah terlihat menggandeng wanita. Oh Tuhan, aku tahu banyak tentangnya! Oke, option terakhir meski aku pun tidak juga yakin. Bagaimana mungkin Sehun yang aku menyebutnya ‘dewa yunani masa kini’ itu tidak memiliki pasangan? Tetapi menengok kembali ketika pria itu tak pernah sekalipun membawa seorang wanita sepertinya mungkin saja jika Sehun masih free. Apa ini kesempatan? Hahaha, aku terkikik geli membayangkannya. Tidak mungkin pria tampan dan mapan itu akan jatuh cinta dengan gadis pelayan sepertiku.

“Pria itu memang tampan tapi apa kau tak lelah terus memandanginya?”

Suara yang terdengar dari belakang telinga itu mengejutkanku. Lantas aku berbalik dan menemukan Sophia dengan senyum jenakanya. Dia rekan kerja sekaligus sahabatku dan dia dua tahun lebih tua daripada aku.

“Eh! Kamu mengejutkan aku saja.” Gerutuku padanya yang dibalas tawa renyah.

Dia memberiku sebuah kain persegi berwarna hijau yang sedikit basah. “Cher, daripada kamu melamunkan pria tampan itu bersihkan meja cafe saja, aku yang akan menjaga kasir.” Ucap Sophia diselingi canda.

Mendengar itu sontak membuat mataku melebar. “Si-siapa yang me-melamun sih? Ah, sudahlah aku juga bosan berdiri disini sedari tadi. Aku akan pergi bersihkan meja.” Balasku dengan terburu menyambar kain di tangan Sophia lalu pergi menuju meja penuh dengan gelas dan piring yang ditinggal pelanggan, menjauh dari wanita yang terkekeh geli di belakangku. Ugh, menyebalkan!

Sehun Alderick, Pengunjung Cafe

Aku menyesap kopi kepemilikan negara beribu kota Berlin di cafe ini. Bangunan yang terletak di persimpangan jalan dekat lampu merah dan jembatan penyeberangan. Langit tampak kelam tanpa bintang maupun bulan. Sudah genap dua jam kota kelahiranku diguyur hujan malam hingga menyisakan genangan air di beberapa badan jalan maupun trotoar yang dapat aku lihat dari balik jendela. Kaca berukuran besar berhias bintik air bening perlahan menurun hingga membuat raut tersendiri yang pada akhirnya menyatu dengan bintik lain. Hujan rupanya tak cukup dengan membuat genangan namun juga turut membawa kenangan. Seringnya orang menggunakan ribuan tetes air itu untuk mengadu bila mereka rindu. Lantas bagaimana dengan aku?

Hawa saat ini terasa dingin, sedikit berbeda dengan secangkir eiskaffe hangat yang dapat dilihat kepulan asap putih meski berangsur menghilang di hadapanku. Kopi itu masih tersisa setengah isi. Aku enggan cepat – cepat menandaskan minuman berkafein itu dan memilih memandang sesuatu dari balik kaca yang menghalangi hujan untuk menyerang badanku. Hujan mengharuskanku datang ke tempat ini untuk sekadar berteduh, tidak seperti hari lain ketika aku mengunjungi cafe ini di waktu senggang. Aku melepas pandanganku dari mobil yang berlalu lalang ataupun orang – orang sedang melawan hujan ke dalam cafe. Tak kupedulikan belasan pasang netra yang mengarah padaku dengan bisik – bisik meski tak terdengar berbisik, karena aku pun dapat menangkap tanggapan sekumpulan wanita yang duduk di tengah cafe itu tentang diriku. Wanita – wanita dengan barang menguras kantong dan make up tebal melapisi wajah seperti mereka itu pasti merepotkan. Bermanja – manja hanya pada hal yang mereka tahu bernama uang. Tak sulit menemukan sejenis mereka di tengah kota metropolitan dunia ini.

Netraku berhenti pada seorang gadis yang tengah membersihkan piring dan gelas peninggalan pengunjung tiga meja dari sini. Gadis yang kuketahui memiliki mata bulat dengan pupil berwarna cokelat ketika berhadapan dengannya. Tulang pipinya terlihat jelas karena berwajah tirus. Hidungnya bangir cocok dengan bibirnya yang mungil tertutup lipstick oranye. Surainya panjang melebihi bahu berwarna cokelat dengan sedikit ikal pada ujung, yang kini ia gulung dengan sembarangan meninggalkan beberapa anakan rambutnya sampai menyentuh pipi. Cukup memenuhi definisi cantik menurutku. Aku tidak mengenalnya atau mengetahui apapun tentang gadis cantik itu selain menjadi pelayan di cafe langgananku. Tapi yang aku tahu, aku tertarik padanya. Tertarik pada gadis yang bahkan kamu tidak tahu namanya? Jika itu gila, ya memang aku pun setuju dan hey! Bukankah cinta bisa membuat siapapun jadi gila?

Aku hanya dapat memandanginya dari meja bernomor tiga puluh satu ini meski tak secara langsung karena umumnya aku selalu melihat keluar jendela. Tepatnya melihat pantulan samar diri gadis itu yang juga tengah menatapku. Ada rasa senang membuncah dan berdebar ketika gadis itu terus memandangku disela waktu bekerjanya, meski dia tidak pernah tahu bahwa aku juga tengah membalas pandangnya. Menyimpannya dalam ekspesi yang aku sendiri tidak tahu bagaimana menyebutnya, eum.. datar? Katakanlah jika aku pengecut tetapi aku memang tidak terbiasa mendekati seorang wanita. Tidak tahu bagaimana cara memperlakukan mereka. Aku justru takut kalau itu akan menyakiti hatinya dan membuatnya mengeluarkan air mata. Walaupun tidak memungkiri, ingin sekali aku mengenalnya lebih dalam, berjalan di sampingnya ketika akhir pekan, merangkul bahunya dengan penuh sayang. Ah, membayangkannya saja membuat kedutan sudut bibirku muncul. Dasar budak cinta!

“Aduh!”

Bukan, itu bukan suaraku, rintihan itu terdengar berasal dari…gadisku? Ah, sialan menyebutkan dia ‘gadisku’ saja jantung ini sudah bergejolak tak karuan. Gadis itu sedang meringis memandang tangan kiri yang ada dalam tangkupan tangan kanan. Aku menyipitkan mata ketika melihat sedikit bercak merah dikain yang ia gunakan untuk membersikan meja sebelumnya. Rupanya gadisku sedang terluka. Entah mendapat dorongan yang darimana asalnya, aku berjalan mendekati gadis itu. Tanganku menjumput tisu dari kotak berwarna hijau gelap di atas meja cafe ketika sampai di hadapannya. Menarik pelan tangan kirinya yang ternyata memiliki luka sayat sedikit lebar. Aku dapat merasakan gadis itu sedikit tersentak tak jauh berbeda dengan jantungku yang bergejolak. Aku tersenyum tipis kepadanya yang menurutku gadis itu tidak akan dapat menyadari karena aku tidak terlihat seperti sedang tersenyum. Kedua tanganku sedang bekerja, yang satu menggenggam tangan gadis itu sedang yang lainnya menyapu darah yang keluar dari luka sayatan yang tidak tahu didapat dari mana dengan tisu yang aku ambil tadi.

Tidak ada yang mengawali pembicaraan. Kami sama – sama terdiam, bedanya aku bergerak membersihkan lukanya sedang gadis itu mematung kaku. Apa perbuatanku ini salah? Suasana cafe yang tadinya ramai orang berbincang pun sekarang hanya terdengar suara samar. Aku dapat merasakan tubuhku memanas karena menjadi sorotan segala sudut tempat umum ini, tidak seperti sebelumnya yang aku tak juga mempedulikan, ini jauh berbeda karena yang menjadi sorotan tak hanya aku tapi gadis cantik di depanku. Sedikit mencuri lirik padanya, aku dapat melihat rona merah di pipi meski ia sedang menunduk. Ingin rasanya aku mencubit gemas pipi itu. Astaga gadis ini benar – benar membuatku gila!

“Lebih baik cepat ditutup plester dan lain kali hati – hati, Nona.” Ujarku pada akhirnya sebelum pergi dan… tidak ada jawaban darinya. Apa dia marah? Kenapa diam saja? Bodohnya kau Sehun! Kau harus meminta maaf padanya setelah ini!

Chaerrytha Agatha, Pelayan Cafe

“Argh! Aku bodoh!” keluhku sedikit menaikkan nada dan menangkupkan wajah diantara kedua tangan yang menyiku di atas lutut. Aku sedang berada di gudang penyimpanan makanan karena harus menghindar dari pertanyaan maupun pernyataan ketika bertemu orang lain saat ini. Terlebih mengingat kejadian lima belas menit lalu. Jemari tangan kananku meraba telapak tangan kiri yang sudah dilapisi plaster berwarna merah muda pemberian Sophia. Memutar kembali ketika tanganku diraih pria ‘dewa yunani masa kini’ pujaan hatiku. Bodohnya aku tak memanfaatkan waktu berharga itu untuk sedikit berbasa – basi dengannya. Malah gugup setengah mati dengan hanya menutup bibir dan menundukkan diri. Argh! Iya Aku bodoh! Cherry bodoh! Aku pun merutuki diriku sedari tadi. Sayangnya gambaran mimik wajahku tidak begitu, lengkungan bibir ke atas dengan pipi merah padam. Aku masih larut dengan rasa senang ketika pria itu berjalan menghampiriku demi membersihkan luka sayat yang sebenarnya tidak begitu menyakitkan hanya sedikit nyeri yang ditimbulkan. Bau citrus segar yang tadi menyambangi hidungku dari badannya jelas masih dalam memori. Begitupun suara bariton selain penyebutan kopi maupun donat pesanannya yang justru memberi perhatian padaku bagai seorang pria pada pujaan hati. Ah! Pikiranku sudah melantur tak diakal juga jantungku yang hilang kendali maupun perut penuh kupu – kupu kesana kemari.

Jam berapakah ini? Netraku melirik arloji biru pucat di pergelangan tangan kiri. Pukul 19.50. rupanya jam kerjaku hampir usai. Badanku pun menegak dan beranjak menuju ruang ganti untuk menukar pakaian kerja cafe ini menjadi pakaian kasual milikku. Jaket tebal berwarna merah muda bertumpuk kaus putih tanpa corak dan light blue jeans hingga menyentuh mata kaki yang aku lipat sedikit ujungnya. Heels tiga senti pun berubah menjadi sneaker abu – abu kusam. Aku menuju ke kaca yang memantulkan diriku secara full body. Tanganku menghapus make up dengan pembersih yang ada di kotak samping kaca sebelum merapikan rambutku menjadi kuncir ekor kuda. Dari kaca aku melihat kepala Shopia menyembul usai membuka pintu.

“Aku pikir kamu masih meringkuk di gudang makanan, baru saja aku akan memberitahu jika jam kerjamu sudah selesai.” Godanya dengan berjalan mendekat dan senyum yang penuh sirat.

Aku mengembuskan nafas jengah, membalikkan tubuhku dan menatapnya sebal. Melupakan bahwa dia lebih tua dari pada aku. “Jangan menggodaku begitu. Asal kau tahu, telingaku sudah panas mendengarnya. Oh, apa diluar masih hujan?” kataku sebelum kembali berbalik dan menghapus rias wajah di daerah pipi.

Sophia terkekeh kecil lalu mengangguk. “Tidak begitu deras. Aku tahu kamu tidak membawa payung jadi bawalah ini sekadar melindungi kepalamu untuk ke halte bus.” Dia menyodorkan mantel hitam dihadapanku.

“Tidak perlu, jarak halte hanya dua puluh meter, aku bisa berlari dalam satu menit.” Kilahku yang membuat dia memutar mata.

“Aku tahu kamu pasti memiliki seribu alasan untuk menolak, baiklah lagi pula lelaki tampan tadi menunggumu di luar, Cher.”

Aku menghentikan pergerakan kapas yang sebelumnya kutuangkan cairan make-up remover dan kini sudah terdapat beberapa bercak eye shadow bercampur bedak. Memastikan wajahku kembali bersih seperti biasanya. “Sudah kubilang, berhenti menggodaku! Sudahlah, aku pergi.” Timpalku melempar kapas tersebut dan berjalan kesal terlihat dari bunyi langkah berdegum kasar, meninggalkan Sophia di belakang yang ternyata berjalan mengikutiku. Beberapa langkah ke depan dapat aku rasakan bahuku terdapat beban. Itu tangan Sophia sedang merangkulku. Wanita itu membisikkan sesuatu.

“Untuk ini aku tidak menggodamu, lihat saja di luar.”

Aku menarik salah satu alisku ke atas dengan pupil di sudut mata. “Memangnya jika dia di luar itu menungguku? Siapa tahu menunggu kekasihnya?” Entah kenapa ada rasa tak rela ketika aku menyebut kata terakhir, seperti cubitan yang menimbulkan bekas dan rasa sakit. Aih, apa – apaan ini!

Shopia terlihat berfikir dan membisu sebelum mengangkat bahu sedetik dan melepaskan rangkulannya dari tubuhku. “Kalau tidak percaya ya sudah, traktir pizza jika aku benar.” Titahnya dengan berjalan mendahului menuju dapur.

Aku tidak menjawab malah membelokkan tubuhku menuju pintu minimalis berwarna silver mengkilap di sisi kanan, yang merupakan pintu keluar para staff cafe ketika usai dengan jam kerjanya. Hembusan angin menusuk kulit menyapa tepat setelah aku membuka pintu. Kulihat tetes air yang tak sebanyak setengah jam lalu tepatnya sebelum aku menyembunyikan diri di gudang makanan gara – gara lelaki itu. Omong – omong tentang lelaki itu, sepertinya Shopia memang sedang mengejekku karena saat ini aku tidak melihat seorang pun terlebih yang katanya menungguku. Meski sedikit kecewa, aku mulai melangkahkan kakiku menuju halte bus terdekat yang berjarak hanya dua puluh meter. Sebentar, kecewa? Argh! Ada apa denganmu Cherry???

“Sepertinya besok pagi aku harus ijin kerja untuk pergi ke dokter spesialis saraf atau otak.” Gumamku merutuki diri sendiri.

“Kenapa ke dokter syaraf? Memangnya Anda sakit?”

Tubuhku menegang dengan langkah kaki yang berhenti. Tanganku yang sebelumnya mengayun pun beralih menyengkram ujung jaket. Suara berat itu..

Mungkinkah?

Sehun Alderick, Pengunjung Cafe

Terhitung tiga puluh menit aku berdiri dua meter jauhnya dari sebuah pintu bercetak tinta merah ‘Staff Only’. Netraku bergantian menatap langit hitam dengan tetes air yang sedikit berjeda membasahi tanah. Kedua telapak tanganku saling bergesek guna menaikkan suhu tubuhku karena lingkungan sekitar. Gadis itu tak kunjung kelihatan.

Sudah kubulatkan tekad untuk meminta maaf atas perlakuan yang mungkin tidak sopan, sungguh aku pun tidak mengerti bagaimana tubuh ini bisa berkerak dan bereaksi seperti itu. Walau sebenarnya tidak ada secuil rasa menyesal karena menggenggam tangan gadis itu, gadis-ku. Ahh.. lagi – lagi jantungku berkontraksi. Terlebih mengingat bagaimana lembut kulit tangannya dan semburat merah menggemaskan yang ada di pipinya tadi. Aku tidak sadar bila sekarang sedang terkekeh geli. Gadis itu benar – benar membuatku jatuh hati hanya dengan gerak gerik sederhana seperti tadi.

Cklek!

Badanku yang semula menyandar pada tembok pun menegak ketika mendengar bunyi pintu terbuka. Sedikit menolehkan kepala, aku melihat gadis itu berdiri menyerong membelakangiku dengan pakaian yang lebih santai dari seragam cafe sebelumnya. Ya itu dia, gadis yang selalu memenuhi kapasitas otakku akhir – akhir ini dan beruntungnya aku sempat mendengar temannya memanggil dia dengan sebutan ‘Cherry’. Nama yang pantas untuk gadis yang apas, ku pikir. Netraku mengikuti setiap gerak – gerik kecil tubuhnya, aku tahu gadis itu sedang menggigil kedinginan meski memakai jaket karena suhu saat ini hampir mencapai nol derajat. Tapi, apa yang dapat aku lakukan? Membantunya? Mustahil. Aku saja tak membawa jaket atau mantel untuk melindungi diriku sendiri. Jangan berpikiran kami –para lelaki dalam dunia nyata– seperti kisah drama romansa yang tayang di Cinema atau buku fiksi telenovella. Please girls, perfect boys only exist in books.

Ditengah pergelutan batinku ternyata gadis itu telah melangkah mendahului dengan berjalan ringan dan tangan bergelantungan kesana kemari. Aku tersenyum dalam diam sembari berjalan mengikutinya. Hendak menyapa namun bagaimana harus aku memulainya? Sialan, ini tak semudah yang kalian bayangkan. Jarak langkah kakiku dengan Cherry tak lebih dari tiga langkah tapi rutukilah nyaliku yang menciut seketika. Pelan tapi aku masih dapat menangkap gadis itu bergumam.

“Sepertinya besok pagi aku harus ijin kerja untuk pergi ke dokter spesialis saraf atau otak.”

Kepalaku sedikit terdorong kebelakang, refleksi tubuhku karena terkejut. Dokter? Oh Tuhan, apa gadisku sedang sakit? Dan apa katanya tadi? Dokter syaraf? Apa penyakitnya separah itu? Pikiranku seakan memberondong ratusan pertanyaan yang tak dapat kutemukan jawabannya.

“Kenapa ke dokter syaraf? Memangnya Anda sakit?” tanyaku pada akhirnya.

Cherry menghentikan langkahnya yang baru aku sadari dua detik kemudian, menyebabkan tubuhku tepat berada di belakangnya. Mungkin hanya terpaut sepuluh sentimeter. Dia membalikkan tubuhnya yang menyebabkan wajahnya tepat berada di depan dadaku. Aku dapat melihat ekspresi keterkejutannya meski dalam cahaya remang dari beberapa lampu pinggir jalan. Tubuh gadis itu terdorong kebelakang, sontak membuatku memajukan kaki kanan dan menahan pinggangnya untuk tak terjatuh. Wajahnya pun hanya berjarak lima senti dariku. Aku dapat merasakan kehangatan napasnya dan wangi strawberry. Kembali, aku memuja manik coklat menghias wajahnya yang semakin cantik dalam jarak sedekat ini. Tanpa sadar bibirku bergerak mengeluarkan suara.

“Saya ini, amat sulit mengungkapkan perasaan. Apapun itu. Terbiasa menutup diri.”

Dia terlihat kebingungan dan dimataku sungguh menggemaskan, tak lagi dapat ku tahan ulasan senyum acap kali berada di dekatnya.

“Sayangnya, saya tidak mampu menutupi bahwa saya mencintai kamu.”

Hening.

Aku pun terbelalak kaget menyadari atas kalimat yang baru saja aku utarakan. Sialan mulutmu Sehun! Harusnya aku meminta maaf karena kejadian lancang di cafe bukan malah menyatakan perasaan! Gila! Tapi, tunggu… bukankah cinta memang membuatmu gila? Jadi benarkan, jika aku jatuh cinta dengan gadis itu?

Central of Universe : END

♣Kotak Penulis♣

Hello ketemu dengan Adora Amora lageh~~

Oneshoot yang sepanjang sembilan lembar (iya kepanjangan!!) ini sebenarnya sebagai permintaan maaf ensured masih belum dapat di update hiks.. hiks.. hiks.. dikarenakan aku yang masih sibuk dalam orientasi mahasiswa dan sudah memasuki aktif jadwal kuliah yang pagi sampai sore /ciyemaba. Lagi pula nulis Ensured butuh konsentrasi tingkat tinggi /halah yang gak memungkinkan seperti oneshoot ini yang aku buat kebut – kebutan, posternya aja gak sempet buat langsung curi google wakakak. Sorry karena tidak memuaskan dan membosankan kebanyakan narasi, inspirasinya dari kakak tingkat ganteng di kampus yang hanya bisa aku pandang dari jauh! /gakdeng. Maaf ya kalau garing banget!

Aku buat ‘COU’ ini sudut pandang orang pertama karena pengen aja nyoba nyoba hehehe kan seringnya sudut pandang orang ketiga dan kayaknya girls aku bakal lebih sering buat oneshoot karena kesibukanku dari pada lanjut ensured, tapi tetep kok ensured dilanjut tapi gak ada jadwal tentu. Hope you like it girls dan semoga sedikit menghibur yaa karena ensured belum sempat update~ sekali lagi sorry and thankyouu~

Tolong ya, ketersediaan pembaca meninggalkan jejak di komentar dan atau like, terimakasih

2A

10 thoughts on “Center Of Universe -adoraamora

  1. EONNII MASIH SIBUK KAH?:((( AKU BARU BACA DAN INI LUCUUU buat sequel nya aja dulu deh baru ensured heu:(( aku kangen ensured sebenernya tapi berhubung eonni sibuk menjadi maba huhu:( tapi SEMANGAT TERUS EON DEMI MASA DEPAN YANG CERAH LOL😂😂😂 maaf aku gila gara gara kangen ensured:(

  2. yuhuu hay Shareen, aq smpet bca ensured tp ngadat hehe sbenernya yg aq tnggu tu update ‘if you’re not the one’ (ff super lawas) tp aq cek wp qm uda g ad ff nya, sayang bgt :’)
    ini oneshoot yaa, tp bgus looh, Sehun nya bkin geli aj sih gbisa ngontrol mulutnya, iya mulut 😂
    tp pnsran loo, nggantung gni, gmna kondisi jantungnya Cheery wktu wjahnya super dket ama ‘dewa yunani masa kini’nya itu, n tiap Sehun nyebut ‘gadisku’ kog kya dy manggil aq ya#plak jdi deg”an gakaruan gtu deh,, kayanya Cherry n Sehun hrus ikut aq k dokter spesialis jantung deh 😂
    keep writing yaa Shareen, smpet nyariin qm(kemana??) krna ngilang bbrpa blan dlu 😣 brharap ini ada sequelnya haha fighting!!! :*

  3. Sama ensure jg blm sempet baca lbh tepatnya blm minta pw nya eh hahahha tp gpp kan baca yg ini dulu suka bgt kalo uda story nya sehun yg kay gini ini romance yg bikin meleleh luber (?) Hahhaha 😂😂 lanjutkan deh oneshoot nya deh semangat 💪💪

  4. Cerita’y menggemaskan,,, jadi greget bacanya.. knpa g dari dlu aja ngungkapin perasaanya toh dari kaca juga udh keliatan si “dia” jga punya ketertarikan yg sama..,, apa emg hobi mandangin bayangan d kaca?
    akhirnya cinta meruntuhkan psimis yg membelenggu mu, chukkae sehuna..

    Keep wreating chingu.., masih setia ko nunggu ensured ‘y…

  5. akhirnya kakak update lagi… senangnya🙂

    ceritanya keren bgt kak, feelnya dapet bgt…
    diksi yg digunakan top bgt,sehingga perasaan yg mereka rasakan bisa sampai ke pembaca🙂

    insurednya ditunggu bgt kak, udah gk sabar lihat moment sehun-janice di paris…
    gk usah pnjg” jg gpp asal chapter 6_nya segera dipublish,hehehe…. #maksa

    semangat terus buat real life nya ^__^

  6. Narasi’ny keren! Hm.. Penasaran gmn lnjtn’ny.. Dsr.. trnyt dr kaca kliatan reflection’ny chaery yg lg ccp-in 세훈 ya 😊 gt dong, make ur move, knalan trus jd-an! rainy season has come, kmrn plng krj jg hrs neduh bntr gegara ga bw pyng & buru2 jln di bwh guyuran hjn yg br mule sdkt reda, pdhl msh skt 😞 halah mlh curcol! Keren bgt ff’ny, brhrp ada sequel’ny, please..

  7. Haloo kak adora salam kenal yaa hihi..
    waah ceritanya bgs kak aku sukaa!!
    Oneshoot yah? Kirain chapter loh seriuss wkwkw
    Alurnya bgs penulisannya juga rapi daebaakk
    Kk nyebutin ensured? Pernah sih aku sekilas ngliat chapt brp gtu tpi kl gak slh wkt itu di protect castnya sehun kah kak? Izin baca yahh.. grgr baca ini aku jd suka heheh

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s