[4thYearsEXOFFI]She was pretty – Stephanni H

PicsArt_07-23-10.52.17

Tittle : She was pretty.
Author : Stephanni H.
Genre : Romance. Comedy. Friendship.
Rate : 15+
Summary : Oh Sehun telah di asingkan oleh mamanya ke negeri gingseng yang indah, tinggal sendiri di apartemen dan juga mengalami kekonyolan bersama 5 sahabatnya. Sehun tipikal yang yang mudah marah.

|  S h e  W a s  P r e t t y  |
Bab 1.

Jakarta 20 Juli 2016.

“Uwaaa!!!”

Mama Sehun memekik sangat kencang sehingga menggema di lorong apartemen yang sepi. Wanita setengah baya itu memegang jantungnya yang hampir meloncat keluar. Bola matanya membesar, melihat dan mulutnya terbuka lebar kamar apartemen anaknya yang luar biasa berantakan. Ini adalah pemandangan buruk, benar benar sangat buruk. Barusan saja tadi malam anaknya bilang kamar ini sangat bagus, rapi dan bersih. Tapi sekarang apa yang terjadi di ruang ini?. Apakah anaknya berencana merusak repotasi keluarga dengan cara begini?.

Kaki Mama Sehun melangkah masuk lebih dalam ke pelosok kamar apartemen. Suara gemeletuk high heels nya kembali terdengar menggema diruang yang sepi tapi super duper berantakan, tidak ada siapapun didalam apartemen kecuali dirinya, dan sekarang dirinya punya pertanyaan baru. Dimanakan anaknya berada?. Seberkas cahaya matahari pagi yang tembus dari rongga-rongga jendela, membuat bayangan di permukaan piguran keluarga Oh yang berukuran besar tergantung di atas meja vas bunga.

Tangan Mama Sehun perlahan mengelus pelan piguran itu. Sehun sudah dewasa sekarang, tidak sama lagi dengan dirinya yang ada di piguran itu, sudah tiga tahun berlalu, dan anak itu sudah sangat mandiri dibanding anak yang ada di piguran, tapi tetap saja perilakunya tidak berubah sama sekali. Dasar anak nakal. Apa yang ia perbuat pada kamar ini?. Kemana perginya anak yang pantas di panggil bocah itu?.

“Dasar, sudah kubilang jangan buka!!” Nyonya Oh, atau jelasnya Mama Sehun mendengar suara itu, benar-benar sangat mendengar dengan jelas, tapi suara siapa itu. Itu bukan suara anaknya. Atau mungkin nyonya Oh yang sudah salah masuk kamar apartement. Tapi bagaimana mungkin disini  ada photo Sehun.

 “Cepat buka, aku ingin memegangnya sekali saja” Nyonya Oh bisa mendengar suara Sehun barusan, anak nakal itu ada di balkon kamar, kedengarannya memang disana. Dan buru-buru nyonya Oh berlari-lari kecil dengan high heels nya menuju kamar itu. Kamar itu juga berantakan, selimut sudah tergeletak di lantai bersama bantalnya dan ada beberapa bekas cup mie yang berserakan sampai lantai itu benar-benar lengket.

“Dasar pelit!!!. Untuk apa datang kemari kalau tidak membiarkanku memegangya, cepat buka!!, atau aku sendiri yang buka!!” sebuah suara  mengancam kedengaran seperti suara Sehun. Sungguh nyonya Oh khawatir dengan maksud percakapan mereka barusan. Beberapa pikiran kotor mulai membumbung di otak wanita paru baya itu sekarang.

“Tuh kan!!-”

Brukkk.

“KYYAAAAAAAAAAAA!!!!”

Nyonya Oh memekik, lagi. Sangat keras sampai beberapa orang yang berlalu lalang di halaman parkiran bawah menoleh ke atas sana, semuanya. Dan apalagi sekarang, siapa anak itu, matanya sipit, tubuhnya pendek, pipinya benar-benar chubby seperti bakpao, dan matanya mengerdip berapa kali kearah Nyonya Oh yang sudah kejang. Bagaimana tidak kejang saat melihat anak laki-lakinya saling tindih menindih di atas sofa dengan seorang laki-laki. Sehun normalkan?!!. Jika tidak Nyonya Oh lebih baik melompati balkon dari ketinggian ratusan meter ini saja.

“Mama!!” Sehun memekik saat perlahan mamanya linglung dan jatuh, sehun bangkit dari sofa dan memangku kepala mamanya di pelukan, apa yang terjadi tadi bukan seperti yang Mama Sehun pikirkan, itu salah paham, sangat salah paham. Sehun menoleh kearah meja, di atasnya tergeletak sebuah sangkar burung milik red riding Hood, si burung parkit merah yang tadi pagi Min Seok bawa kemari. “sial” umpat Sehun kesal.

“Kalian…. Yang kalian lakukan tadi itu…. adalah pertanda  kiamat nak. Mama akan kirim kamu ke Seoul, Sehun. Titik!!”

Sehun terlonjat kaget, Seoul?. Itu Sangat jauh?. Sebenarnya tidak masalah, itu kota besar kan?, tapi bagaimana dengan dirinya sendiri, bagaimana kalau dia tersesat dan jadi gembel disana. Sangat-sangat tidak bisa dibayangkan untuk keluarga kaya seperti keluarga Oh. Apalagi dia belum fasih bahasa hangul.

“Tapi ma, itu sangat berleb….”

“Tidak ada tapi-tapi!!!”

Sehun menoleh ke arah Min seok, teman setempat les bahasa hangulnya, anak itu juga keluarga korea yang tinggal di indonesia, dan baru-baru ini menjadi teman Sehun. Min seok tersenyum menyengir dan memeluk si parkit merah nya yang menyebalkan.

“Ini gara-gara si betina Red riding hood mu, Bodoh!!”

|  S h e  W a s  P r e t t y  |
Bab 2.

Sehun tidak tahu apa dosanya, yang jelas ini sudah terlajur terjadi. Seoul memang tidak buruk, kotanya indah bersih dan bebas hambatan. Udaranya juga bersih, bebas bernafas di pinggir trotoar yang Sehun telapaki sekarang. Pria itu masih sibuk dengan peta dan gps nya, bolak balik sana sini membuat kakinya pegal, Sehun sadar betapa tega mama nya membuangnya kekota sibuk ini, tanpa diberi tempat tinggal pula, untung saja ia membawa uang yang jumlahnya banyak, jika kurang dia bisa meminta mamanya mentransfer atau menemui bibinya. Karena sekarang Sehun bebas.

A..anyeong haseo (Sapaan bahasa korea/Hallo).” Sehun kaku, jantungnya berdetak begitu cepat saat mulutnya mulai berucap dengan bahasa hangul, seorang gadis yang berdiri sendiri di halte menoleh menatapnya dalam diam, semakin membuat Sehun takut saja. “Bi…. bisakah kau tunjukan alamat ini?” Gadis itu masih diam, Sehun tidak tahu mengartikan tatapannya, tapi tiba-tiba gadis itu tersenyum dan memegang tangan Sehun erat.

Oppa!!(Panggilan wanita korea untuk pria yang lebih tua/kakak), kau kelihatan sangat tampan. Aku akan mengantarkanmu ke manapun. Bagaimana?” gadis itu bicara dengan bahasa hangul, sangat cepat hampir sama dengan rapper Eminem.

“Eh, bo..boleh” Sehun tersenyum semakin membuat gadis pelajar itu deg-degan dibuatnya, tangan gadis itu menggengam erat tangan Sehun, dan membawanya masuk ketika bus yang sudah di tunggu dari tadi datang. Dan bus melaju dengan kecepatan normal.

“Boleh aku tahu nama mu, Oppa?” gadis itu memulai kembali percakapan saat mereka sudah menempati kursi dalam bus, semua mata tertuju kearah mereka, tepatnya kearah Sehun yang tampan dan menarik perhatian.

“Nama ku Oh Sehun, kau bisa memanggilku Seh-“

“Nama ku Han Ji Hyun, kau bisa memanggilku Yoona, atau Suzy, atau Naeun. Teman-teman ku suka memanggilku begitu, mereka bilang aku sangat mirip dengan artis-artis itu. Senang bertemu dengan mu, Sehun Oppa”  Seketika tenggorokan Sehun terasa kering, ia ingin meneguk saliva nya tapi itu semua terasa sia-sia karena tiba tiba saja mulutnya kering dan tidak ada yang bisa ia telan. Sehun memerhatikan gadis itu, tubuhnya tidak terlalu tinggi dan sedikit berlemak, matanya sipit, rambutnya lurus panjang sebahu berwarna coklat gelap, Sehun akui kulit gadis itu putih begitupula semua orang yang ada didalam bus itu, tapi tidak melebihi dirinya sendiri, dan gadis bernama Jihyun itu berbanding terbalik dengan artis yang ia sebut barusan.

Bus berhenti, mereka turun kembali ke halte di tempat yang berbeda, gadis itu menarik tangan Sehun membawanya kesebuah apartement yang tidak jauh dari sana.

“Ini adalah tempat yang kau cari, Oppa. Berikan aku ponselmu akan kucatat nomorku jika kau perlu sesuatu, aku akan pulang dulu, beberapa menit lagi aku akan kembali kemari” Sehun memberikan ponselnya tanpa menoleh ke arah Jihyun ia masih sibuk mengagumi apartement itu, sedangkan Jihyun terlihat memanas melihat wallpaper ponsel Sehun, siapa gadis ini?, pikir Jihyun. Dia juga tidak mengerti dengan bahasa yang ada di ponsel mahal Sehun.

“Emmm. Oppa, aku akan mencatatnya di kertas saja” Sehun menoleh kearah Jihyun dan menunggu nya selesai mencatat, Jihyun memberikannya kepada Sehun dan melambai setelah pamit pulang.

|  S h e  W a s  P r e t t y  |
Bab 3.

2 bulan kemudian.

Sehun kembali mengeluh, perutnya sungguh kelaparan tapi tetap saja gadis yang sedang melipat pakaian diseberang sana tidak kunjung memasakan lauk untuk dimakan. Eunbi adalah kekasih sekaligus tetangga Sehun, wanita inilah yang mengurus pria itu kurang lebih sudah 2 bulan. Eunbi belum masak malam ini, padahal bukan hanya Sehun saja yang mengeluh kelaparan di apartemen wanita itu, tapi ada sekitar 4 orang pria lainnya.

Jongin yang pemalas, Chanyeol yang jahil, Baekhyun yang berisik, dan Luhan yang kalem. Tapi sungguh, kepribadian mereka itu tidak tampak saat ini. Mereka hanya merengek di karpet halus depan tv.

“Noona, kapan kau akan memasakan kami makanan. Perutku sungguh lapar” Baekhyun kembali merengek. Disusul Chanyeol yang mengangguk di sampingnya.

“katakan dulu siapa yang mengempeskan ban mobil Yifan saat dia mengerjakan tugas bersama ku tadi?” tidak ada yang bersuara setelah Eunbi bertanya. Tapi Eunbi yakin, pelakunya adalah salah satu dari mereka berlima.

“Aku sungguh tidak bercanda, hei boy. Jika kalian melakukannnya lagi, aku tidak akan memasak makanan untuk kalian sampai tahun depan”

“Tapi babe..

“Tidak ada kecuali, hun. Belajarlah untuk tidak manja”

Ting tong.

Bell apartemen Eunbi berbunyi, gadis itu lantas berdiri dan membuka pintu untuk melihat siapa yang datang. Han Jihyun?. Apa yang wanita itu lakukan disini?. Ujar eunbi membatin. Sedangkan di belakang Baekhyun berdiri untuk melihat juga siapa yang datang.

“Wah, tante bawa makanan yah?” Baekhyun berteriak ceria lantas membuat Jongin, Chanyeol dan Sehun berhambur menuju pintu. seolah melihat emas, ketiga mata pria itu berbinar dan berlari menuju Jihyun.

“Kebetulan kalian semua berkumpul, ayo kita berpesta malam ini” Han jihyun, si wanita berlemak tapi kaya itu mengandeng tangan sehun manja dan diikuti ketiga pria lainnya yang sudah berebut jatah di belakang. Mereka sudah masuh ke dalam apartemen Sehun dan sungguh Eunbi benci itu. Memangnya siapa kekasih pria itu, huh?.

“Kau tidak bergabung?” Eunbi menoleh kebelakang, ternyata masih ada yang tersisah di sini. Luhan memang cenderung lebih kalem, perhatian, dan yang paling normal dari keempat pria tadi.

“Ayo, aku juga malas masak saat ini, kita habisi saja uang wanita itu” Luhan dan Eunbi terkekeh pelan lalu berlari menuju apartemen Sehun.

|  S h e  W a s  P r e t t y  |
Bab 4.

            Sehun tersenyum pada setangkai bunga mawar pada jemarinya. Hari ini adalah hari terakhir akan kembali memekarkan cintanya dan Eunbi, mungkin wanita itu merajuk karena Jihyun kelihatan manja tadi malam, hehehe… jarang membuat wanita itu cemburu.

            Tok.. tok.. tok..

            Pintu apartemen Eunbi diketuk, namun pintu tidak terbuka, sudah empat kali sehun mengetuk tapi pintu masih belum terbuka. Sampai akhirnya  Sehun memilih langsung masuk kedalam.

            “Lu, aku merindukan mu. Bagaimana jika hari ini kita bertemu di cafe waktu itu?. Tenang saja, Sehun tidak akan tahu. sampai jumpa, Lu”

            Seketika bunga mawar itu terhempas, di lantai dan melepaskan kelopak indahnya. Sehun dia membeku di tempatnya, apakah eunbi telah berubah, dia tidak lagi mencintai Sehun ini.

            “Eh, sehun. Kau ada di sini?’ Sehun berlari, ia pergi dari apartemen itu. Sekarang ia harus mencari luhan, pria itu keterlaluan, jadi dia mencoa bermain dari belakang.

            Brakk.

            Pintu apartemen Luhan terkunci, pria itu tidak ada di dalam, pasti sekarang ia ada di lapangan basket. Dia memang sering menghabiskan waktu disana. Sehun juga sering mengunjunginya untuk ikut bermain, tapi untuk kali ini ia akan benar-benar menghabisi pria itu.

            Lift sudah turun di lantai dasar, Eunbi tidak lagi mengejar sehun di belakang, terserahlah. Sekarang sehun benar-benar tidak mempercayai semua orang, bahkan sahabanya sendiri yaitu luhan.

            “Hun, kau mau ikut bermain basket bersama ku?”

            BUGH.

            Satu pukulan sukses membuat berdarah bibir Luhan, pria itu tersungkur kebawah, ia tidak membalas dan hanya berdiri untuk meminta penjelasan.

            “dasar brengsek kau Luhan, ternyata begini caramu menghargai teman. Berlagak pendiam dan kalem, hanya untuk menari perhatian Eunbi kan?” Luhan masih tidak mengerti, keningnya sudah berkerut dari tadi.

            BUGH.

            Lagi, satu pukulan lagi menghantam pelipis Luhan, tapi sekarang pria china itu tidaktinggal diam, ia malah membalas Sehun dengan pukulannya yang tak kalah kuat.

            “Dasar payah!!. Itu bukan aku”

|  S h e  W a s  P r e t t y  |
Bab 5.

 

            Eunbi berlari tergesah gesah melewati kerumunan orang di sekitar lapangan basket, tangan nya mengenggam erat bunga mawar yang Sehun jatuhkan tadi, tidak perduli tangannya yang berdarah akibat duri dari bunga itu, ia juga tak perduli cuaca dingin yang menusuk permukaan kulit nya hanya pakai celana pendek.

            Bisa dilihat di kejauhan sana Sehun dan Luhan sama-sama jatuh terserungkur di lapangan basket yang dingin. Eunbi menangis, lantas memeluk erat Sehun yang sedang membersihkan darah dari bibirnya. Pra itu juga ingin memeluknya, sama sama berbagi kehangatan di cuaca yang dingin ini.

“Hun, Aku mencintai mu lebih dari diriku sendiri, hiks…. kau sudah salah paham. Yang aku panggil Lu tadi, hiks…..  bukan Luhan, tapi teman ku Luna”

“APA!!” Oh tidak. Ini sungguh memalukan.

END.

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s