[4thYearsEXOFFI] The Another Story of Arang – haneul88

CnabIS_UEAAoerD.jpg large

Tittle    : The Another Story of Arang

Author : haneul88

Genre  : Romance, fluff, liltle comedy

Rating : T

Poster by : HyeKim Art @ http://www.hyekim16world.wordpress.com

Summary : Baekhyun menghentikan langkahnya sesaat tatkala kedua matanya menangkap sesuatu yang sedikit menganggu di akar pohon itu. Ia menghampiri pohon itu dan seorang wanita cantik ia dapati. Wanita cantik yang tak seharusnya Baekhyun cintai.

The Another Story of Arang

Baekhyun berjalan perlahan dengan mendengus beberapa kali. Bosnya malam ini menyuruhnya bekerja lembur membuatnya hampir tengah malam begini baru bisa pulang. Beberapa kali Baekhyun mensandung-sandung tanah yang ada dibawahnya menggunakan sepatu putihnya yang membuat ujungnya kini menjadi berwarna coklat.

“Arrgghh.. sialan. Aku jadi harus pulang berjalan kaki malam ini. Bos Park sialan!” dan beberapa umpatan-umpatan lainnya.

Saat ini Baekhyun sedang berada di gang sempit yang cukup gelap hanya cahaya remang-remag dengan satu dua lampu jalan. Jujur saja Baekhyun sebenarnya cukup takut karena beberapa hari terakhir ini dikabarkan banyak orang yang melewati jalan ini sering di ganggu makhluk halus. Baekhyun percaya tidak percaya degan semua itu, toh ia juga belum pernah mengalaminya bukan?

Ketika hampir sampai rumahnya, Baekhyun melihat pohon besar yang sedikit menganggu penglihatannya, Baekhyun menghentikan langkahnya sejenak. Bukan, bukan karena betapa besarnya pohon itu yang menyita perhatiannya, maupun betapa gelap dan mengerikannya area sekitar pohon itu, melainkan seseorang yang terduduk di akar besar pohon tersebut. Seseorang itu yang dapat Baekhyun pastikan seorang perempuan karena posisinya yang tengah memunggunginya dan rambut panjangnya yang menjuntai terlihat sedang menekukka kepalanya. Sepertinya wanita itu sedang duduk berjongkok memeluk lututnya jika Baekhyun tidak salah. Dan seperti telah tersihir, Baekhyun melangkahkan kakinya menghampiri wanita itu tanpa sadar.

“Kau sendiri? Tapi ini sudah malam, tidak baik seorang gadis keluar malam-malam seperti ini.” ucap Baekhyun ketika sampai di belakang gadis itu.

Seseorang itu berdiri kemudian berbalik membuatnya berhadapan dengan Baekhyun. Baekhyun tertegun sejenak karena kecantikan gadis yang ada didepannya kini meskipun mukanya dipenuhi oleh coretan debu maupun tanah.

Hiks

Gadis itu menundukkan kepalanya setelah meloloskan satu isakan yang membuat Baekhyun tersadar dari lamunannya. “Kau tak apa?” Baekhyun mengulurkan tangannya meraih dagu gadis itu membuatnya terdongak menatap dirinya. Mata yang indah, sayangnya memerah batin Baekhyun.

“Ada yang bisa ku bantu?” Baekhyun menawarkan diri.

“Benarkah kau mau membantuku?” ucap gadis itu dengan mata berbinar.

Seperti tersihir dengan tatapan gadis itu, secara spontan Baekhyun mengatakan “Tentu.”

“Bantu aku, mengungkap fakta siapa pembunuhku”

Baekhyun tak terlalu mengerti maksud dari perkataan gadis itu, namun ia menganggukkan kepala dan mengajak gadis itu untuk pulang kerumahnya karena hari sudah malam.

***

Dan disinilah Baekhyun sekarang, didepan sebuah rumah megah yang Baekhyun tak ketahui benar siapa pemilik rumah ini. Baekhyun melangkahkan kakinya hati-hati, namun sebuah mobil tampak keluar dari kediaman tersebut. Baekhyun cepat-cepat menyingkir dan bersembunyi berharap tak seorangpun melihatnya. Arrggghh.. sial! Kenapa aku harus menyetujui permintaan gila seperti ini?! ucap Baekhyun dalam hati. Semua ini bermula ketika malam hari seorang gadis yang Baekhyun temui mengutarakan permintaannya.

Flasback On

Baekhyun telah sampai di depan apartemen kecil miliknya. Ia menekan beberapa sandi untuk membukanya, kemudian mempersilahkan gadis yang tadi ia temui untuk masuk.

“Sebaiknya kau membersihkan dirimu terlebih dahulu. Kamar dengan pintu bercat putih yang ada di pojok sana, kau bisa kesana didalam ada kamar mandi dan pakaian yang dapat kau gunakan” ucap Baekhyun seraya menunjuk tempat itu kemudian dibalas angukan kepala oleh gadis itu.

Baekhyun sedang mengaduk coklat panas ketika sebuah pintu di pojok ruangan terbuka. Gadis itu duduk di sofa yang ada kemudian disusul Baekhyun dengan dua cangkir coklat panas di tangannya.

“Terimakasih” ucap gadis itu sambil menerima uluran tangan dengan secangkir coklat dari Baekhyun.

“Jadi, namamu siapa?”

“Arang, Cho Arang.”

“Arang? Nama itu terdengar familiar. Eung, kau tinggal dimana?”

“aku? Aku tak mempunyai rumah.”

ah, maaf.” Ucap Baekhyun menyesal kemudian melanjutkan perkataannya tadi. “Jadi, apa yang bisa ku bantu?”

Tubuh gadis yang ada di depannya itu tampah menegang beberapa saat kemudian berkata. “aku.. aku hanya ingin kau memperlihtakan bukti pada pengadilan siapa yang membunuhku. Kau cuku-”

“Tunggu. Kau bilang membunuhku? Maksudnya, membunuhmu?. Tak mungkin. Aku pasti sudah gila.” Ucap Baekhyun dengan mata melototnya dan menggeleng tak percaya.

“Kau tak gila tuan Byun. Dan jika kau berpikir ini mimpi ini juga tidak mimpi. Aku yang memilihmu, karena selama ini setiap orang yang ingin ku mintai tolong selalu lari terbirit-birit.”

“a-apa maksudmu? Aku tak paham”

“Kau berbelit-belit tuan. Jadi begini, kau tahu berita yang marak beredar tentang hantu wanita yang ada di dekat pohon yang kau lewati tadi? Itu aku! Dan selama ini aku tidak bermaksud menakutinya, aku hanya ingin meminta bantuan mereka. Dan malam ini, ketika aku putus asa tak ada orang yang dapat membantuku, secara tiba-tiba kau menghampiriku, aku agak heran sebelumnya, namun pada akhirnya aku berkesimpulan bahwa aku memilihmu. Dan kau tahu kisah hantu Arang? Itu diriku! Aku butuh seseorang utuk membantuku menjebloskan pembunuhku kedalam penjara. Dan kuharap kau mau membantuku. Ah, ya satu lagi! Jika kau berpikir aku gadis aku sudah tidak lagi menjadi gadis perawan. Aku wanita!” Ucap wanita itu yang diketahui bernama Arang. Ia mengerucutkan bibirnya sampai ia sadar bahwa Baekhyun masih saja melihatnya dengan mata melotot dan mukanya yang mendadak terlihat pucat. “Hei! Jangan pingsan!!!”

Baekhyun menggeleng-gelengkan kepalanya, kemudian tersadar. “k-kau hantu? Bag-bagaimana bisa aku melihat arwah sepertimu?”

“Karna aku memilihmu! Sudah cepat katakan sekali lagi! Apa kau mau membantuku?”

“Bag-Baiklah, aku akan membantumu”

Flashback Off

ahh.. benar-benar! Ia hantu tapi mengapa menyebalkan seperti ini? huft!”

Baekhyun menolehkan kepalanya ke kanan kiri kemudian berjalan dengan mengendap-endap memasuki bangunan mewah itu. Tak ada penjagaan di dalam, hanya beberapa orang di depan dan sudah berhasil Baekhyun lalui. Ia jalan berjingkat-jingkat layaknya seorang pencuri namun memang ia bertujuan untuk mencuri. Bukan, bukan mencuri uang, perhiasan, atau barang mewah lainnya. Melainkan sebuah file dokumen yang telah lengkap untuk bukti pembunuhan Arang. Arang berkata file itu terdpat di ruang kerja pemilik rumah tersebut pada laci kedua, karna memang selama ini wanita itu selalu mengamati.

Ketika sampai pada ruangan yang ia tuju, ia membuka secara perlahan laci kedua yang Arang maksud. Baru separuh, namun suara ketukan sol sepatu dan lantai marmer dari luar terdengar jelas di pendengaran Baekhyun. Ia menghentikan aktivitasnya kemudian bersembunyi pada celah antara dua almari besar yang cukup ia masuki. Tempatnya memang tak mudah terlihat mata, namun jika ia melakukan pergerakan sedikitpun ia akan ketahuan.

Kriet

Pintu terbuka menampakkan seorang lelaki bertubuh tegap dengan rahang yang tegas sedang terkatup rapat. Ia melangkahkan kakinya, menghampiri meja kerjanya dan menatap heran lacinya yang separuh terbuka.

“Bukankah aku menutupnya dengan benar tadi? Apa seseorang masuk kedalam sini?” pria itu memiringkan kepalanya heran kemudian mencoba berkeliling ruangan.

Sial! Apa yag harus ku lakukan? Cho Arang Payah! Umpat Baekhyun dalam hati. Namun ketika seorang pria pemilih rumah tadi hampir sampai pada tempat Baekhyun berada, sebuah kain tampak datang untuk menutupi Baekhyun membuat pria itu tak dapat melihatnya kemudian meninggalkan ruangan. Kain itu adalah Arang. Ia membuat tubuhnya menutupi Baekhyun membuat pria itu mengira celah itu tak terdapat apa-apa. Karena tubuh Arang bagai kamuflase. Suatu hal yang membuat Baekhyun menahan napasnya beberapa saat adalah, Arang menutupinya namun dengan posisi wajah mereka yang berhadapan, dengan kata lain kamuflase itu menggunakan tubuh Arang. Wajah mereka dekat, sangat dekat. Mereka bertatap muka dengan intens membuat tanpa sadar salah satu organ tubuhnya yang bernama jantung berdegup kencang. Sial! Baekhyun menolehkan wajahnya membuat Arang tersadar. Ia keluar dari tempat semula dan menyuruh Baekhyun agar segera mengambil dokumen-dokumen penting itu. Setelah dokumen ada di tangan, Arang membawa Baekhyun pergi dengan tak terlihat. Baekhyun mendengus sebal. Mengapa Arang tak melakukannya dari tadi?!

***

Hari demi hari telah mereka lalui, hingga saat ini pria yang membunuh Arang telah melangkahkan kakinya dengan di tuntun dua orang polisi menuju ke sel yang membuatnya dipenjara 15 tahun. Baekhyun melangkahkan kakinya ringan dari pengadilan itu dengan raut penuh kelegaan, dan sedikit banyak raut kesedihan. Kasus telah selesai dan Arang sebentar lagi akan menghilang, tinggal menunggu jam. 9 jam lagi, dan ia akan menghilang.

“Dor”

Suara seorang wanita mengagetkannya dari belakang membuatnya menoleh dan menemukan seorang wanita cantik dengan rambut panjangnya tengah tersenyum konyol padanya.

“Terimakasih tuan, kau telah membantuku.” Ucap Arang dengan membungkukkan badannya 90o.

“Jangan berbicara terlalu formal seperti itu Cho Arang..” ucap Baekhyun dengan senyum simpulnya

ahh…. Iya Byun Baekhyun…. Jadi, terimakasih Baekhyun.” Ucap Arang dengan cengiran lucunya.

“Sama-sama Cho Arang.” Baekhyun tersenyum kemudian memeluk Arang secara tiba-tiba.

“Maukah kau berkencan denganku? Di 9 jam terakhirmu ini? ku mohon…” ucap Baekhyun memelas dan sangat memohon.

“Ke-kencan? Baiklah.”

***

Angin malam berhembus perlahan menerbangkan beberapa helai rambut panjang Arang yang tak terikat. Langit tampak berwarna hitam namun bintang-bintang yang menghiasi membuat langit hitam itu terlihat lebih indah. Suara gemercik air yang mengalir terdengar menenangkan untuk siapapun yang mendengarnya. Hiasan lampu warna-warni di dekat jembatan membuat keindahan tersendiri untuk mereka yang menikmatinya malam ini, sungai Han. Sungai yang penuh cerita untuk seorang Byun Baekhyun. Disini ia bertemu cinta pertamanya dulu, disini tempat ia menanangkan diri, dan disini pula sebagai tempat kunjungan terakhir kencan alakadarnya Baekhyun bersama Arang. Dua jam tersisa.

Baekhyun menarik napasnya dalam secara perlahan kemudian menghembuskannya dengan teratur. Disebelahnya Arang tampak bermain-main dengan setangkai bunga sweat pea yang Baekhyun belikan untuknya. Bunga berwarna merah muda kecil-kecil yang menghiasi tangkainya beberapa orang mengatakan bahwa bunga itu memiliki arti selamat tinggal, atau ‘terimakasih untuk saat yang menyenangkan’. Ya.. terimaksih untuk saat yang menyenangkan ini meskipun tak lama.

“Apa bunga itu terlihat lebih menarik daripada diriku?” ucap Baekhyun sarkastis.

Arang yang menyadari ucapan itu di tujukan padanya hanya menganggukkan kepalanya sekali namun masih fokus dengan bunga yang ada genggamannya.

Baekhyun mendengus kesal. Harusnya tadi ia tak membelikan bunga itu untuk Arang daripada ia harus dikacangi seperti ini. Menyebalkan! Hantu sialan! Ternyata kau sama saja.

“Aku mendengarmu Byun Baekhyun.” Ucap Arang tiba-tiba kemudian menolehkan kepalanya kepada Baekhyun.

Baekhyun yang tak menyangka hanya melototkan kedua matanya tak percaya. “Ka-Kau bis-bisa mem ba-baca pikiran kuh-?”

“Tentu saja! Kau fikir selama ini aku bisa memahamimu dari mana?!”

Baekhyun menyeringai. “Memahamiku? Benarkah? Jadi.. apa kau tahu apa warna celana dalam kesukaanku?”

Pipi Arang bersemu merah. “Ka-kau menyebalkan Byun Baekhyun!” ucap Arang sebal kemudian memalingkan wajahnya dari hadapan Baekhyun.

“Jangan begitu…” Baekhyun meraih dagu Arang mengangkatnya dan membuat Arang menjadi menghadapnya. “Aku hanya bercanda..” Baekhyun mengelus perlahan pipi kanan Arang dengan lembut.

Kemudian secara tiba-tiba dan mengejutkan Baekhyun merengkuh tubuh mungil Arang. Jujur saja Arang tak faham dengan situasi yang terjadi saat ini.

“Baek-Baekhyun-ah1..”

“Biarkan, biarkan seperti ini. Untuk kali ini saja.. Ku mohon…”

Arang tak bisa mengelak lagi. Karna jujur saja dekapan ini terlalu hangat dan nyaman untuknya. Ia tak mau ini berakhir begitu saja. Namun, apa yang Arang inginkan tak terwujud. Baekhyun melepaskan pelukan itu beberapa menit setelahnya. Arang sedikit sedih. Karena sesungguhnya ia tak ingin pergi dari pemuda itu. Ia masih ingin disini, bersama Baekhyun.

Sayangnya tugas Arang untuk membuat seseorang yang membunuhnya mendekam di tahanan di balik jeruji besi yang dingin sudah selesai. Ia harus kembali. Kembali keatas sana, tempat seharusnya ia berada. Bukan di dunia fana yang di sebut bumi ini.

“Kau baik-baik saja? Bibirmu nampak pucat”

Arang sontak saja tersadarkan dari pikirannya karena suara serak Baekhyun. “Ya… aku baik-baik saja. Bibirku selalu pucat asal kau tahu! ”

Baekhyun terkekeh pelan. “Ah.. ya, benar. Tapi entahlah, kali ini terlihat lebih pucat. Kita pulang saja ya?”

Mungkin sudah waktunya? Ucap Arang dalam hati. “Ya.”

Perjalanan pulang mereka hanya dihiasi keheningan. Suara ranting-ranting pohon yang bergerak dan hembusan angin seakan menjadi penggiring mereka.

.

Mereka berdua telah sampai di apartemen kecil Baekhyun dan sudah bersiap untuk tidur, namun ketika Arang melangkah akan menuju kamar tamu tempat ia biasa tidur, Baekhyun tampak menahan lengannya membuat wanita itu terhenti seketika.

1.Panggilan untuk orang yang sudah akrab dengan kita

“Tidurlah di kamarku. Bersamaku.”

Baekhyun memposisikan dirinya membuat Arang tidur bersandar pada dadanya yang hanya terbalut kaos V neck putih tipis. Suasana yang ada tampak canggung karena mereka memang tak pernah dalam keadaan seperti ini sebelumnya. Dan entah sadar atau tidak Baekhyun secara tiba-tiba memainkan rambut coklat Arang yang terasa sangat halus itu.

“Um,,, Arang,” ucap Baekhyun masih dengan memainkan rambut Arang. Wanita itu hanya menjawab perkataan Baekhyun dengan suara pelan seperti berkata eum? “Ak-aku tahu ini konyol, dan aku juga tak tahu bagaimana perasaan ini datang dan sejak kapan. Tapi jujur saja. Aku mencintaimu Cho Arang. Aku mencintaimu.”

Tubuh Arang yang menegang sejenak, namun dekapan hangat yang tiba-tiba menyelihutinya membuatnya rileks kembali. Baekhyun selalu bisa menjadi penenangnya. Ia selalu menjadi penghangatnya. Dan ia pemuda yang akhir-akhir ini selalu membuat degupan jantungnya berdetak dengan cepat. Tak hanya itu, pemuda itu pula yang seringkali membuat pipinya panas dan bersemu merah. Arang tak bisa memahami secara gamblang apa itu cinta karena masalalu tentang kisah percintaannya terlalu menyakitkan. Dan kini Arang tahu. Ini cinta. Yang ia rasakan kali ini. Perasaannya pada Baekhyun sama dengan perasaan pemuda itu pada Arang. Cinta yang saling terbalaskan.

“Jadi bagaimana? Apa kau juga mencintaiku?” Baekhyun mengelus pipi kanan Arang perlahan. Perlakuan yang Arang sukai dari Baekhyun.

“Ya. Aku juga mencintaimu Baekhyun-ah.

***

Ucapan penghantar tidur yang menyakitkan. Karena mereka mencintai namun tak dapat saling memiliki. Alam mereka telah berbeda. Dan hal itu yang Baekhyun sadari ketika bangun dari tidurnya di pagi hari dan menemukan tempat disebelahnya kosong. Dimanapun itu, di semua seluk beluk apartemen kecil Baekhyun, tak ia temukan wanita itu. Baekhyun akhirnya menyadari, bahwa cinta yang ia miliki hanyalah cinta sesaat.

 

-Selesai-

 

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s