[4thYearsEXOFFI] GONE — Rizka Amalia

1465616430004

Tittle : Gone

Author : Rizka Amalia

Genre : vignette, sad, friendship

Rating : G

Summary : Tak hentinya sehun memanjatkan doa setiap malam. Bangunnya sang sahabat lantas tak langsung membuat Sehun merasa bahagia.

*

Entah sudah berapa lama Sehun menatap pintu didepannya tanpa maksud untuk membukanya apalagi memasuki ruangan dibalik pintu itu. Tangannya menggantung membawa serangkai bunga. Dari ujung lorong terlihat suster berjalan dan berhenti ketika menyadari bahwa suster ini mengenal pria didepannya. “Oh, Sehun?” kata suster menyapa Sehun dengan senyum yang mengembang. Sehun berbalik, “Kau datang lagi rupanya hari ini,” lanjut suster perempuan ini tanpa menghilangkan senyumnya. “Ah begitulah,” jawab Sehun agak canggung. “Kenapa tak langsung masuk saja?” Tanya suster itu lagi disekon selanjutnya. “Ah anu,” Sehun menggantung kalimatnya sambil menggaruk tengkuknya yang tak gatal. “Bagaimana keadaan Jongin, sus?” suster itu nampak mengintip kamar Jongin melalui kaca buram persegi yang terdapat dipintu itu. “Aku baru saja mengeceknya lima belas menit yang lalu, keadaan nya masih sama.” Wajah Sehun tak terlalu lesu dan tak terkejut mendengar perkataan suster tersebut. “Baiklah tuan oh, aku harus mengecek pasien lainnya.” Suster itu beberapa kali menepuk bahu Sehun sebelum berlalu pergi.

Dengan memantapkan niatnya ia membuka pintu yang selama ini ditatapnya. Suara detektor jantung dan alat rumah sakit lainnya yang menempel pada tubuh Jongin menggema diruangan yang tampak dingin itu. “Aku datang lagi, jong,” sapa Sehun di pertemuan kesekian kalinya dengan Jongin yang terbaring pucat. “Hari ini aku membawa bunga kesukaanmu. Bunga yang kau anggap seperti paha ayam, makanan kesukaanmu.” Sehun tertawa kecil di akhir kalimat. Sehun duduk di sofa pendek depan ranjang Jongin. Mengambil kalender duduk dan pulpen yang ada disana. Mencoret tanggal duapuluh dua dari bulan agustus dan menatapnya agak lama. “Jika dihitung-hitung, kau sudah dua bulan seperti ini, mungkin lebih.” Sehun kembali meletakan kalender duduk dan pulpen kembali ketempatnya. Sehun bangkit dari duduknya dan menghampiri tubuh Jongin. “Kapan kau akan sadar dan menari kembali?” Sehun menatap wajah Jongin yang pucat. Wajah yang ia anggap bukan diri Jongin yang sebenarnya.

Semuanya bermula dari keinginan Jongin yang membahaykan dirinya, yang membuat orang lain khawatir. Dan kebodohan Jongin yang malah melanjutkan kegiatannya yang memperparah penyakitnya.

Flashback on!

            Kakinya terasa nyeri ketika Jongin baru saja naik keatas panggung. Jongin berusaha untuk menahan rasa sakitnya. Jongin berpikir mungkin obat yang sebelumnya ia minum akan meredakan rasa sakitnya sekarang. Tepat sebelum musik mulai, kakinya sudah tidak merasa nyeri dan tubuhnya sudah berhenti bergetar. Di balik panggung Sehun dengan cemas berharap, agar Jongin tidak terjatuh di tengah tariannya. Sehun kembali mengingat perkataan  dokter  Han sebulan yang lalu.

            “Tuan Kim Jongin, anda mengidap,, kanker sumsum tulang belakang stadium tiga. Penyakit ini tumbuh dari dua tahun lalu. namun, karena anda baru mengceknya sekarang, penyakitnya baru ketahu. Satu-satunya jalan agar kau sembuh adalah, mendapatkan donor dan melakukan operasi. Kusarankan agar kau tidak mengikuti audisi itu. Aku hanya takut penyakit mu menyerang dank au tidak bisa menahannya. Itu akan berbahaya. Minumlah obat ini ketika kau merasa nyeri diseluruh tubuhmu.”

Sehun sangat ingat, bagaimana ekspresi Jongin saat itu. Matanya membulat sempurna. Wajahnya menjadi pucat. Dan Jongin menjadi pemurung seminggu setelahnya.

“Aku harus ikut audisi itu, Hun.” Perkataan Jongin membuat Sehun mengentikan kegiatannnya. Malam yang sepi membuat perkataanya terdengar jelas ditelinga Sehun. “Tidak,jong. Tidak bisa,” ucap Sehun disekon selanjutnya. “Aku sudah berlatih keras untuk ini, Hun. Kau tahu itu,” ucap Jongin lirih. “Tidak, Jong!” bentak Sehun yang membuat Jongin terdiam “Kupikir kau temanku.” Langkah Jongin tercipta menuju kamarnya setelah kalimat mengatakan itu. Sehun sadar jika Jongin tak membawa obatnya. Ia mengambil, lalu mengantarkan kekamar Jongin, namun tersadar jika kamar Jongin terkunci. “Jong, buka pintunya!.” Tak ada jawaban. “Jong, obatmu disini.” Tak ada jawaban. Didetik selanjutnya terdapar erangan dari dalam kamar. Sehun tahu jika penyakit Jongin sedang menyerangnya. Ia khawatir dan kembali mencoba membuka pintu secara paksa. “Jong! Kau baik-baik saja?! Jong, jawab aku!” tepat setelah itu pintunya dapat dibuka dan terlihat Jongin yang terjatuh dilantai kamar. “Jong, kau baik-baik saja?! Jong, bangun!” Jongin dilarikan kerumah sakit. Selama tiga hari semenjak malam itu Jongin tak sadarkan diri. Dan pada pagi hari yang mendung ini, Jongin terbangun dan sadar jika ia sedang tidak dirumah. Setelah ituSehun masuk dan menyadari bahwa Jongin sudah bangun. “Besok, dokter Han sudah mengijinkanmu pulang.”

Waktu berlalu dengan sangat cepat. Sehun dan Jongin sudah pulang dari rumah sakit. Mereka sekarang sedang menyantap makan siang mereka. Sehun yang memulia pembicaraan. “Jong, dokter Han mengijinkanmu untuk ikut audisi itu.” Jongin menatap Sehun dengan tidak percaya. Masih dengan mngunyah makanannya Jongin berkata, “benarkah?” Sehun mengangguk. “tapi dengan syarat bawa obatnya, minum obatnya dan berhenti ketika tubuhmu kesakitan.” Jongin cecengiran, beranjak dari duduknya dan memeluk Sehun. “Hey!”

Jongin sudah mulai menari ketika musiknya sudah dimainkan. Setiap gerakannya mengisyaratkan bahwa ia telah berlatih keras. Jongin sangat menjiwai setiap gerakan nya. Begitu lentur ketika melodinya berubah lambat. Dan sngat semangat ketika beat nya semakin cepat. “Akh..” lirih Jongin ketika sampai pada puncak tariannya. Rasa nyeri itu kembali menyerang Jongin. Menjalar keseluruh tubuh. Menyuruh Jongin untuk berhenti menari. Jongin menahan sakitnya. Terlihat dari wajahnya yang berkerut. Sehun terkejut ketika melihat gerak-gerik Jongin yang aneh. Sehun baru sadar disekon selanjutnya. Sekarang Sehun tau, sakit Jongin kambuh. Tapi dengan seluruh tenaga yang Jongin punya, ia terus menari. Melawan rasa sakitnya hingga itu sangat sakit. Jongin mengeluarkan seluruh semangatnya, amarahnya, rasa sedihnya, rasa capeknya terhadap tariannya. Hingga pada hampir gerakan terakhir, penyakitnya hampir menang. Jongin semakin merasa sakit. Apa ia harus meminum obatnya sekarang atau menunggu hingga tariannya selesai? Ia pun bingung. Tapi Jongin sangat kesakitan. Ia kalah sekarang. Sudah tak tahan. Hingga pada akhirnya-

Bruugh.

            Jongin terjatuh.

            “Jongin!”

            “Tolong panggil ambulan!”

            “Jongin!”

            Jongin sudah masuk rumah sakit. Dokter Han memeriksanya. Dokter Han bilang kepada Sehun kalau  ini buka sesuatu hal yang bagus. Jongin harus segra mendapatkan donor sumsum tulang segera. Tenggorokan Sehun tercekat. Bagaimna bisa penyakit Jongin bisa menjadi begitu parah. Ditambah lagi darah Sehun dan Jongin berbeda. Sehun tau ia tak bisa mendonorkan sumsum tulangnya untuk Jongin.

Drrt.. drrt..

             Ponsel pintar dokter Han berbunyi. “Tunggu sebentar.” Sehun melihat dokter Han yang berbincnag dengan seseorang disebrang sana. Nampak serius. Pikir Sehun. “Oke.. Baiklah..” kata dokter Han yang terlontar terakhir kali sebelum ia menutup teleponnya dan kembali berbicara ke Sehun. “kata dokter Kim, seseorang bisa mendonorkan sumsum tulangnya untuk Jongin. Ia bisa dioperasi lusa.” Sehun senang mendengar hal itu. Jongin sekarang koma setelah terjatuh sehabis melakukan tariannya. “Tapi, kemungkinannya untuk sadar dan sembuh sangat kecil. Apa kau akan tetap melakukannya?” dokter Han sedikit khawatir dengan operasinya karena walaupun operasi terasa hanya percuma saja. “setidaknya walaupun kecil, itu masih ada kemungkinan. Tolong sembuhkan Jongin, dok,” lirih Sehun di akhir kalimatnya.

            Lusanya, Jongin dijadwalkan untuk operasi dua jam dari sekarang. Sehun memasuki ruangan dimana Jongin tertidur, koma. Mendekatinya dan berbicara, “Jong, semoga sukses dengan operasimu. Cepat sembuh. Aku ingin kau menari lagi.” Sehun melihat ranjang Jongin diabawa keruang operasi. Dokter Han sudah memperingati Sehun dan berkata semua akan baik-baik saja. Dokter Han akan berusana sebaik yang ia bisa. Hingga operasi selesai. Ia melanjutkan koma nya. Jongin belum pernah bangun lagi.

Flashback off.

            Setetelah Sehun menyelesaikan kalimatnya, suara alat detector jantunya berubah menjadi sangat cepat. Sehun merasa ada yang tidak beres disini. Ia ingin memanggil dokter Han atau siapa pun suster yang lewat. “Se.. se.. hun.” Ia mendengar sayup-sayup suara Jongin. Ia berbalik dan berlari menghampiri Jongin. “Jongin! Kau sudah sadar! Akan aku panggilkan dokter Han.” tepat sebelum Sehun pergi jauh, tangan lemah Jongin menghentikannya. “ter.. rim aka.. sih, hun.” Suara lemah terbata-bata Jongin kembali terdengar. Sehun sudah tak kuasa untuk menahan air matanya. “i..ni.. wak..tu.ku.” tepat setelah itu mata Jongin tertutup kembali. Suara detector jantung menjadi sama.. dilayar ditampilkan garisnya sangat lurus, menandakan si pemilik sudah tak bernyawa. “Tidak,jong! Bangun, jong! Jongin, kim Jongin. Bangun!” tangis Sehun pecah. Teriaknya mungkin menggangu seseorang sampai membuat dokter Han datang. Dan kembali memeriksa Jongin. Dokter Han, selesai memeriksanya. Tubuhnya melemah seperti Sehun. Hanya saja Sehun menangis banyak. Dokter Han menggeleng, yang dibalas gelengan lagi oleh Sehun. “Ia sudah tidak ada.” Sehun semakin kuat menggeleng. “Tidak! Jongin! Bangun kau! Kim Jongin!” Sehun menggoyang-goyang tubuh Jongin yang sudah mulai dingin. Airmatanya jatuh ke tubuh Jongin itu sendiri. “tolong, catat waktu kematiannya. 22.05. aku turut berduka cita.” Sehun, bangkit. Ia menghapus air matnya. Ia sudah bisa menerima apa yang terjadi. Kesedihan bukan jalan yang benar. Ia harus menerima bahwa ia akan hidup sendiri. Bahwa Jongin sudah tidak ada.

            Musim panas yang berbeda kali ini. Matahari yang bersinar terik. Bunga bunga yang masih bermekaran indah. Anak-anak sekolahan memenuhi tempat wisata ini. Ditangannya terdapat bunga lili putih yang indah. Sehun sengaja lewati jalan ini untuk me refreshing mata dan otaknya yang selama ini hanya berkutat di depan layar monitor. Ini juga satu-satunya jaln menuju tempat makan Jongin. Ini sudah hampir setahun setelah kepergian Jongin. Sehun terkejut ketika sampai dimakam Jongin, ia melihat dokter Han juga pergi kesini. Sehun menghampirinya. “ini sudah setahun.” Sehun terkejut bahwa dokter Han yang memulai pembicaraan. “Ya begitulah, waktu begitu cepat.” Dokter Han sedikit tertawa. “kalau begitu aku duluan.” Dokter Han menepuk bahu Sehun pelan beberapa kali. Sehun tersenyum. Sekarang hanya ia yang berada dipemakaman Jongin. “Aku datang lagi, jong.aku membawa bunga yang katamu mirip seperti paha ayam, makanan kesukaanmu.” Sehun tertawa diakhir kalimta. Lalu ia melanjutkan,

            “Jong,aku merindukanmu.”

“Ini semua tentang mimpinya, dan penyakit yang dideritanya.

Tentang hobinya, yang merenggut nyawanya.”

Fin.

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s