[4thyearsEXOFFI] Proscription – monamuliaa

Proscription-poster

Title : Proscription

Genre : Fantasy, Romance

Rating : G

Summary :

“Kau hanya memiliki kesempatan jatuh cinta satu kali, tapi kenapa kau memilih seseorang yang terlarang?”

“Ini sesuatu yang rumit. Kita berdua sama-sama tak mengetahui jawabannya. Kau tak mengerti betapa menderitanya aku terkurung disini. Penderitaan ini berlipat-lipat ganda daripada penderitaan manusia. Pun perasaan ini.”

“Mau kemana kau?”

Kyungsoo terlonjak dan seketika memutar tubuh 180 derajat, namun manakala melihat bahwa itu hanya Jongin, ia bernafas lega.

“Turun,” jawabnya singkat kemudian kembali merajut langkah.

“Turun?” cecar Jongin mensejajari Kyungsoo, lalu segera merendahkan suaranya hingga hanya serupa bisikan. “Kau pasti sudah gila. Semua tempat kecuali Olympus sekarang terlarang untukmu.”

“Aku tahu persis,” balas Kyungsoo. “Tapi aku tidak bisa hanya diam disini.”

“Kau akan mati jika ketahuan.”

Kyungsoo berhenti sebentar untuk melihat Jongin. Sebuah senyum tersungging di bibirnya. “Toh, aku pun akan mati bukan pada akhirnya?”

Jongin terpukau atas jawaban Kyungsoo. Barangkali apa yang dikatakan Kyungsoo benar, tapi keputusan belum diambil. Tetap ada kemungkinan Yang Mulia akan mengampuni saudara laki-lakinya ini.

“Kau tidak boleh pergi,” cegah Jongin, dihadangnya langkah Kyungsoo.

“Jangan bercanda,” desis Kyungsoo. “Minggir!”

“Tidak! Tindakanmu ini hanya akan membuat Yang Mulia bertambah murka.”

“Aku paham betul apa konsekuensi dari tindakanku.”

Jongin mendengus. “Kau bahkan tak peduli apakah besok akan tetap hidup demi untuk menemuinya?”

Kyungsoo meremas rambutnya. Ia mulai frustasi atas sikap Jongin yang tak tahu apa-apa tentang keadaannya sekarang. Sedangkan ia sendiri tak bisa menjelaskan. Fajar sebentar lagi menyingsing, dan tatkala semburat jingga itu terbentang di cakrawala, barangkali tak akan ada kesempatan lain baginya untuk pergi, sebab mungkin ini adalah kesempatan terakhirnya.

“Saudaraku, dengarkan. Aku tahu kau menyayangiku, akupun menyayangimu hingga tak ingin kau dalam masalah. Bayangkan apa yang akan terjadi jika kau kedapatan berada di lorong pada dini hari seperti sekarang bersama seorang tawanan.”

“Saranku, lebih baik kau segera menyingkir. Biarkan aku pergi, kembalilah ke kamarmu dan berpura-puralah pertemuan ini tak pernah terjadi,” terang Kyungsoo. Ia berharap hanya dengan itu, Jongin bersedia menurutinya. Namun nyatanya Jongin tetap tak menyingkir.

“Kau hanya memiliki kesempatan jatuh cinta satu kali, tapi kenapa kau memilih seseorang yang terlarang?”

“Ini sesuatu yang rumit. Kita berdua sama-sama tak mengetahui jawabannya. Kau tak mengerti betapa menderitanya aku terkurung disini. Penderitaan ini berlipat-lipat ganda daripada penderitaan manusia. Pun perasaan ini.”

Jongin mengawasi. Ia tahu dirinya akan menyerah ketika melihat ekspresi muram serta nada suara putus asa seperti itu.

“Aku tak akan pergi,” sahutnya, lalu menambahkan, “sebelum mengantarmu hingga gerbang.”

Kyungsoo mengangkat kepala dan baru menyadari apa arti dari ucapan Jongin saat melihat justru pemuda itu lah kali ini yang memimpin jalan.

“Tunggu dulu,” sergahnya.

“Apa lagi sekarang?” Jongin memutar bola matanya, persis manusia.

“Kau serius dengan kata-katamu? Percayalah, ini bukan piknik menyenangkan ketika sakura bermekaran. Aku tak mau menyeretmu ke dalam masalah.”

“Kuberi dua pilihan. Kau pergi dengan syarat aku yang mengantarmu hingga gerbang atau tidak pergi sama sekali?”

“Aku pergi.” Kyungsoo menjawab cepat. Ia bisa menebak apa yang akan Jongin lakukan jika ia menolak. Dan berurusan dengan para penjaga adalah hal terakhir yang diinginkannya saat ini.

“Bagus, ayo.”

Kyungsoo tak mengatakan apapun lagi. Disusulnya Jongin yang mempercepat langkah setelah menuruni undakan batu aula depan. Mereka berjalan di bawah naungan bayang-bayang pepohonan hutan yang melindungi mereka dari jangkauan sinar rembulan. Beberapa kali mereka berkelit ke gang-gang kecil, melalui jalan menanjak serta menurun dan akhirnya tiba di depan gerbang emas melengkung yang puncaknya tersembunyi dibalik awan-awan gelap.

“Cepat pergilah.” Jongin berkata ketus sembari menunjuk ke luar gerbang menggunakan dagunya.

Kyungsoo menarik bahu Jongin dan memeluknya singkat sembari berbisik, “aku sungguh berterima kasih padamu saudaraku. Aku berjanji akan segera kembali begitu urusanku selesai dan tak akan pernah menyusahkanmu lagi.”

Setelah mengucapkannya, ia pun menyeberang melalui celah kecil yang terbuka pada sisi gerbang. Ia menoleh sebentar pada saudara lak-lakinya sebelum akhirnya menghilang.

“Pemuda itu gila,” gumam Jongin. “Benar-benar gila. Dan akupun sepertinya begitu.”

 

 

Sekarang saatnya, pikir gadis itu tatkala instrumen pengiring menyentuh nada klimaks. Diratakannya satu telapak kakinya dengan lantai dan sedikit ditekuknya, kemudian dilemparnya kaki kedua ke samping untuk membuat satu putaran. Tatkala tubuhnya berputar, segera ditaruhnya kaki tadi ke atas lutut sembari kaki yang lain menjinjitkan pointe. Dan ia pun melakukannya. 32 fouttés en tournant.

Rasanya begitu membahagiakan. Nyaris membuat pingsan. Jantungnya memukul-mukul dan dunia berputar cepat di sekililingnya layaknya gambar-gambar abstrak. Tak ada yang mampu menandingi sensasi ini. Paling tidak, belum ada.

Ia membungkukkan badan begitu rendah, disusul gempita tepuk tangan yang bergaung di dalam gedung. Bahkan beberapa penonton dilihatnya memberi standing ovation. Ia tersenyum bangga.

“Luar biasa Haneul, kau berhasil melakukannya.”

Haneul terkejut dan hampir saja menangis manakala guru baletnya menghambur memeluknya erat di belakang panggung, namun segera diusapnya kasar sebelum bulir bening itu lolos dari kedua matanya.

“Ibu bangga padamu. Benar-benar bangga. Kau melakukannya dengan baik sekali. Sangat indah. Kerja kerasmu selama ini terbayarkan. Dan sebentar lagi mimpimu akan tercapai,” ucap guru baletnya. Suaranya pecah. Dan pada akhirnya, Haneul tak bisa lagi menahan diri untuk tidak menangis.

Setelah berhasil melepaskan diri dari pelukan guru baletnya, Haneul kembali ke ruang rias lalu segera mengganti konstum balet serta sepatunya dengan one piece dress selutut warna biru muda dan sneakers. Dan ia sedang berusaha melepas gelungan rambut saat tiba-tiba seorang asisten penata rias masuk ke dalam ruangan.

“Disini kau rupanya. Ini,” ucapnya sembari mengulurkan sebuket bunga.

Haneul menerima uluran tersebut, ia telah lupa pada niatnya untuk melepas gelungan rambut.

“Seorang pemuda bermata besar menitipkannya untukmu.” Asisten penata rias itu memberitahu. Lalu pergi setelah Haneul mengucapkan terima kasih.

Haneul mengamati buket bunga yang tesusun dari mawar peach dan pink, didekatkannya bunga itu ke indera penciumannya. Aroma wangi seketika memenuhi dirinya. Dilihatnya kembali bunga mawar peach dan pink yang diterimanya, baunya memang harum, tapi ia lebih suka mawar merah.

Haneul mendekap buket bunga tersebut lalu mulai membaca catatan yang disematkan di atasnya.

 

Selamat untuk keberhasilanmu. Penampilanmu sungguh luar biasa. Kau bersinar terang layaknya Venus ketika menari di atas panggung.

 

Tanpa nama pengirim. Tapi gadis itu tahu persis siapa yang mengirimnya.

Haneul meraih tasnya, memasukkan leotard, tutu, stocking serta pointe secara tergesa-gesa ke dalam tas kertas lalu berlari keluar ruangan. Dalam hati ia berniat akan membuang buket bunga yang diterimanya jika orang itu pergi begitu saja tanpa menemuinya secara langsung.

“Mencariku?”

Haneul berhenti di pintu keluar lalu berputar. Pada detik itulah ia merasakan sensai persis ketika dirinya melakukan 32 fouttés en tournant, hanya karena sebuah senyuman. Dan pada detik itu pulalah, untuk pertama kalinya ia menginginkan hal lain di dunia ini selain balet.

Pemuda itu memperpendek jarak diantara mereka. Setiap inci langkahnya membuat jantung Haneul tak terkendali, ia dapat merasakan beberapa ekor kupu-kupu menggelepar lemah di dasar perutnya.

Oh, ia tak jadi membuang buket bunga ini.

Kyungsoo berhenti. Keningnya berkerut beberapa detik. Namun kerutan itu segera menghilang begitu melihat senyuman Haneul.

“H-hai.”

“Kau tampak bahagia hanya dengan melihatku.”

Haneul buru-buru mengangguk tanpa berusaha menyembunyikan kebahagiannya.

“Sangat. Terima kasih sudah datang, dan terima kasih juga untuk bunganya.”

Kyungsoo mengangguk singkat.

“Kupikir kau sudah pergi.”

“Bagaimana jika aku benar-benar sudah pergi? Kau akan membuang bunga dariku?” Kyungsoo bertanya dengan mata berkilat.

“Kenapa aku harus membuangnya,” gerutu Haneul segera. Padahal sebelumnya ia memang memiliki niatan demikian.

“Lalu?”

Bola mata Haneul bergerak-gerak ke kanan-kiri. Itu selalu terjadi ketika ia bingung untuk menyampaikan sesuatu.

“Yang terpenting, kau masih disini,” serunya. “Aku tak suka berandai-andai.” Ia menambahkan dengan bibir mengerucut.

“Kau manis sekali kalau seperti itu,” gumam Kyungsoo lalu bertanya, “kau tak ada rencana apapun selama sisa hari ini?”

Bibir Haneul bergumam dan pandangannya menerawang. “Sebenarnya, aku ada janji dengan seseorang malam ini. Aku sudah menunggu ajakan kencan darinya sejak tadi, tapi kupikir dia tak akan melakukannya. Walaupun demikian aku senang dia mengirim buket bunga, dan membandingkanku dengan planet Venus meski aku tak yakin apa maksudnya.”

Kyungsoo terkekeh lalu mengambil alih tas kertas yang dijinjing Haneul. “Kau harus memperbanyak membaca. Ayo, akan kuantar kau menemui orang yang kau maksud.”

Senyum Haneul merekah. Disusulnya Kyungsoo dan dilingkarkannya tangannya pada lengan pemuda itu.

Kyungsoo tersentak saat kulit telanjang mereka bersentuhan. Ia melirik sebentar apa yang Haneul lakukan, namun tak mengeluh ataupun menarik diri.

“Apa kau selalu seperti ini dengan laki-laki yang baru kau kenal?”

“Hm?”

Kyungsoo menggerakkan lengannya sedikit untuk menunjukkan apa yang ia maksud.

“Aku tidak merasa baru mengenalmu.”

“Kau lupa? Kita baru bertemu sebanyak tiga kali. Oh, empat kali dengan hari ini.”

“Benarkah?” tanya Haneul dengan wajah polos. “Tapi kenapa aku tidak merasa demikian?”

“Apa kau begitu nyaman berada didekatku?”

“Mm hm. Sangat. Sampai-sampai aku merasa kita sudah saling mengenal sejak bayi.”

Kyungsoo terbahak mendengarnya.

“Kita akan pergi kemana?” tanya Haneul kemudian.

“Kemanapun yang kau inginkan.”

 

 

“Kenapa tiba-tiba hujan?” keluh Haneul pada tetes-tetes air yang menerpa jendela. Nada kecewa jelas terdengar dalam suaranya.

Sedangkan Kyungsoo tak mengatakan apapun. Dipandanginya langit yang tertutup awan gelap. Beberapa kali gemuruh terdengar darisana. Mereka pasti telah mengetahui kepergiannya. Dan itu artinya, ia juga harus segera kembali.

“Kenapa rencana kencan pertama kita harus berakhir seperti ini?”

Suara Haneul menarik konsentrasi Kyungsoo kembali.

“Tapi kita bisa pergi lain kali.” Haneul berseru. Mendadak ia kembali bersemangat. “Bukankah begitu?”

Kyungsoo hanya mengangguk, meski enggan. Ia tak yakin akankah lain kali itu akan datang.

“Sekarang, tak ada yang bisa kita lakukan disini.”

“Kita tidak harus melakukan apa-apa,” sahut Kyungsoo. “Bukankah kebersamaan kita ini sudah segalanya?”

“Ya Tuhan! Aku tak pernah bisa mengalahkan kata-katamu,” seru Haneul disusul kikik bahagia layaknya para remaja.

“Lihat, kau tampak senang hanya dengan mendengar beberapa kalimatku. Dan tadi kaupun mengatakan sangat bahagia hanya dengan melihatku.”

“Kau begitu pandai. Sebenarnya berapa usiamu?” tanya Haneul tiba-tiba.

“Aku?”

Haneul mengangguk.

Awas saja kalau kau lebih muda dariku.

Kyungsoo dapat mendengar gadis itu bicara dalam kepalanya, yang mana kata-kata itu membuatnya terkekeh.

“Jauh diatasmu,” jawabnya.

“Mana mungkin. Kau tampak begitu muda. Katakan yang sejujurnya. Duapuluh-empat? Kau pasti lebih muda, duapuluh?”

Duaratus-tigapuluh.

Itulah usianya yang sebenarnya. Sebab satu tahun di Olympus sama dengan sepuluh tahun bagi manusia. Tapi ia menjawab lain untuk pertanyaan Haneul.

“Kau ada masalah dengan perbedaan usia? Bukankah usia hanya deretan angka?”

“Dan penanda,” sahut Haneul. “Sudah seberapa banyak pelajaran hidup yang kita peroleh di dunia.”

“Percayalah, aku tahu lebih banyak daripadamu.”

Hah, sudah jelas kau memiliki banyak kekasih sebelum ini.

Lagi-lagi pikiran Haneul membuat Kyungsoo tergelak.

“Tidak ada yang lucu.”

“Ekspresimu sungguh lucu,” jawab Kyungsoo yang justru membuat Haneul semakin cemberut. Namun ekspresi Haneul berubah menjadi bingung saat mendengar bel pintu rumahnya berbunyi.

“Aku tidak merasa sedang menunggu tamu hari ini,” ucap Haneul lebih kepada dirinya sendiri.

“Tengoklah.” Kyungsoo memberi isyarat pada Haneul melalui anggukannya.

Haneul menyeret kakinya menuju pintu depan. Dan Kyungsoo hanya mengawasi. Ia dapat mendengar ketika pintu rumah di buka, disusul percakapan singkat, ucapan terima kasih, dan suara pintu kembali menutup.

“Kau yakin tidak datang dari langit?” seru Haneul tiba-tiba yang baru saja menghambur ke dalam ruangan. Bibirnya menyunggingkan senyum lebar. Sedangkan tangannya mendekap sekeranjang penuh bunga mawar merah.

“Bunga dari siapa?”

Ei, jangan bercanda,” balas Haneul yang berjalan kembali ke sisi Kyungsoo. “Bagaimana kau bisa tahu aku suka mawar merah? Katakan, kau pasti makhluk ajaib yang datang dari langit,” desak Haneul terpana.

Kyungsoo menahan jawabannya beberapa saat, diperhatikannya wajah Haneul seksama. “Kau sendiri yakin kau bukan bidadari?”

Lagi-lagi Haneul terpana. Rona merah menjalari kedua pipinya. Dan ia berusaha keras mengulum senyum namun gagal. Nada bahagia dalam suaranya terdengar begitu jelas saat ia menjawab.

“Tentu saja bukan.”

“Tapi kau secantik mereka.”

“Wah, kenapa kau begitu pandai? Sudah berapa gadis yang kau rayu seperti ini huh?”

“Hanya satu, namanya Go Haneul.”

“Dasar. Tapi terima kasih untuk bunganya.”

Kyungsoo mengangguk, lalu beranjak berdiri. “Sekarang kau tampak lebih bahagia atas kemunculan bunga itu daripadaku. Kurasa sebaiknya aku pergi.”

Haneul buru-buru menyusul berdiri. “Tidak. Aku lebih bahagia melihatmu.”

Kyungsoo tersenyum mendengar ucapan Haneul. “Aku tahu kau tidak begitu,” jawabnya lalu melirik ke arah langit. “Malam semakin larut.”

Haneul turut memandang langit sebentar, lalu kembali pada Kyungsoo. “Kapan kau akan datang menemuiku lagi?”

“Aku tidak tahu,” jawab Kyungsoo pelan.

“Berikan aku alamatmu atau nomor telepon yang bisa dihubungi?”

“Aku akan datang sebelum kau menghubungiku.”

“Kau tak akan tahu kapan aku merindukanmu.”

“Aku akan tahu itu.”

“Bagaimana jika kau berhalangan datang?”

“Kupastikan akan datang dalam mimpimu.”

 

 

“Kau tahu apa yang sudah kau lakukan?” pertanyaan itu menggelegar layaknya guruh dikala badai. “Mulanya aku setuju untuk memberimu kematian. Tapi tampaknya, bukan kematian yang kau butuhkan, melainkan perenungan. Kirim dia ke Proscription.”

Jongin membelalak tak percaya mendengar nama itu. Dan dilihatnya Kyungsoo pun demikian. Saudara laki-lakinya itu tampak gemetaran. Sudah pasti ia ketakutan.

“Kita tidak bisa tinggal diam,” sela Chanyeol yang berdiri persis di samping Jongin. Namun saat hendak beranjak, langkahnya terhenti.

Jonginlah yang menahan Chanyeol. Ia menggelengkan kepala. Semua tahu, tak ada yang bisa menentang kehendak Yang Mulia Zeus. Tidak anak-anaknya, tidak pula cucu-cucunya.

“Tapi Yang mulia akan mengirimnya ke tempat terkutuk itu.”

“Itu pilihannya. Dan dia harus menerima resikonya. Apapun itu.” Jongin memberitahu.

Kemudian baik Jongin maupun Chanyeol tak melakukan apapun kecuali berdiri diam di baris belakang, manakala saudara laki-laki mereka digiring pergi dari Olympus oleh dua penjaga.

Bagi mereka―para keluarga dewa―ada hal yang lebih menakutkan, bahkan dibanding mati sekalipun, yakni Proscription―pengasingan. Ketika mereka yang bersalah ditinggalkan di sebuah dimensi peralihan, jauh dari Olympus, jauh dari peradaban manusia. Sebuah dimensi antara kehidupan dan kematian yang hanya dihuni jiwa-jiwa kesepian. Untuk selamanya.

“Kudengar, anak manusia ini ada dalam daftar tugasmu?” Chanyeol bertanya, ketika ia dan Jongin berjalan lesu keluar dari aula penghakiman.

Jongin mengangguk lemah. “Aku yang menanamkan bakat padanya ketika bayi.”

“Kau pasti bangga karena dia tumbuh menjadi gadis yang hebat.”

“Ya. Tapi aku lebih bangga sebab ia mampu memikat hati seorang putera Apollo, sang Dewa Musik.”

Termasuk hatiku.

 

END

Iklan

Satu pemikiran pada “[4thyearsEXOFFI] Proscription – monamuliaa

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s