[4thYearsEXOFFI] When I Lose You – Jongie

cover-when-i-lose-you

Title                             : When I Lose You

Author                         : Jongie

Genre                          : Brothership, Sad, Angst.

Rating                         : G

Summary                     :

“Kenapa Sehun, kenapa kamu terus menahanku padahal akulah yang menyebabkan orangtuamu terbunuh!” teriakan itu mendengung, bergema memekakkan telinga.

Dulu … mereka dua orang yang tak terpisahkan, sekarang pun demikian.

Bahkan batas yang nyata serta tidak, menjadi kabur diantara keduanya.


 

Dulu … mereka dua orang yang tak terpisahkan.

Seperti kembar yang tak mau dipisah.

Saling berpegang tangan, keduanya melangkah.

Memulai hari dengan senyuman dimasing-masing wajah.

Sebagian orang menganggap mereka kembar, sebagian lagi berkata mereka adik dan kakak.

Sekarang …

***

“Sehun-ah, ireona! Ppali! Ppali! Kamu mau dimarahi atasanmu, hah!” teriak Jongin di telinga Sehun. Biar cepat bangun Sehunnya. Kalau tidak begitu, Sehun tidak akan pernah bangun.

Tidak mempan hanya dengan teriakan, Jongin mempunyai jurus lain. Mengguncang sekuat tenaga tubuh Sehun sampai pemuda itu bangun. Membuka mata. Kalau sampai tidak bangun juga, Jongin bakalan menggulingkan tubuh Sehun sampai mencium lantai.

Terdengar erangan yang artinya usaha Jongin berhasil. Tapi hanya itu saja, tidak ada yang lain. Maka dari itu, Jongin sekali lagi berteriak di telinga Sehun.

“Oh! Se! Hu—emph!”

“Iya, iya, aku bangun. Tidak perlu teriak-teriak.” meski sedikit tidak rela, Sehun bangun juga. Terhuyung, pemuda berkulit pucat itu berhasil mendudukan tubuhnya dengan sebelah tangan masih membekap bibir Jongin.

Yak! Dasar tidak tahu terimakasih, kalau tidak aku bangunkan, terlambat masuk baru tahu rasa kamu!” gerutu Jongin yang sudah seperti ibu-ibu setelah berhasil membebaskan mulutnya dari bekapan Sehun.

Memutar tubuh menghadap Jongin, Sehun membuat wajahnya sememelas mungkin. “Tapi, Nini, aku baru tidur jam dua pagi tadi,” katanya.

“Itu salahmu. Sudah tahu punya bos kejam, masih berani datang terlambat. Makanya cepat berangkat! Kamu mau diberi tugas tambahan seperti semalam.” Jongin tidak mau kalah, dia selalu punya cara untuk memojokkan Sehun.

Setelah menggeram tidak rela, Sehun akhirnya beranjak dari tempat tidur juga. Berjalan terhuyung, pemuda itu masuk ke kamar mandi setelah sebelumnya mengambil handuk dari lemari.

“Jangan lama mandinya. Nanti kamu tidak sempat sarapan!” teriak Jongin, sempat-sempatnya sebelum Sehun menutup pintu kamar mandi.

***

“Sehun-ah, aku harap kamu tidak melupakan pertemuan hari ini.”

Sehun menghela napas setelah membaca pesan yang Junmyeon kirim satu jam yang lalu. Pertemuan kali ini, Sehun sepertinya tidak bisa menghindar lagi. Dia sudah mangkir dari dua pertemuan sebelumnya. Saat Sehun kembali ingin melewatkan pertemuan tersebut dengan alasan lembur, tiba-tiba atasannya memanggil Sehun. Sehun kira apa, ternyata beliau mendapat telpon dari Junmyeon yang meminta khusus pada atasan Sehun untuk membebas tugaskan pemuda berkulit pucat tersebut agar bisa melakukan pertemuan dengannya. Sehun hanya bisa pasrah, tidak bisa berbuat apa-apa.

Jadi, saat Sehun berniat untuk menghindari pertemuan selanjutnya, Sehun berpikir ulang. Jangan sampai, kejadian yang mempermalukannya terulang kembali.

Maka, di sinilah Sehun saat ini. Berdiri di depan pintu ruangan praktik Junmyeon sejak lima belas menit yang lalu. Belum ada niatan baginya untuk membuka pintu. Sehun belum siap bertemu dengan Junmyeon.

Sibuk dengan pikirannya sendiri, Sehun sampai tidak sadar seseorang baru saja keluar dari ruangan di depan matanya.

“Oh, Sehun kamu sudah datang? Baru saja aku mau pergi ke apartemenmu. Ayo masuk!”

Tentu saja itu Junmyeon. Tapi Sehun sudah seperti melihat hantu saja. Matanya membelalak, saat Jumnyeon menyebut-nyebut soal apartemennya. Itu tidak bagus sama sekali.

“Kenapa diam saja? Kamu datang untuk pertemuan itu, kan? Ayo masuk! Kamu tidak punya pobia dengan ruanganku, kan?” Junmyeon yang sudah akan kembali membuka pintu ruangannya, urung begitu melihat Sehun tidak juga beranjak dari tempatnya. Belum lagi wajah pemuda itu yang kelihatan pucat sekali juga berkeringat. Membuat Junmyeon kian khawatir.

“Sehun-ah,” panggilnya sekali lagi karena tidak juga mendapat respon.

Ne?” balas Sehun, seolah baru kembali ke peradaban.

“Kamu … baik-baik saja?”

Ne, hyung. Aku baik-baik saja.” susah payah Sehun menjawab disertai anggukan.

Junmyeon tersenyum hangat. Gagasan untuk tidak menggunakan ruangannya terlihat di kepala Junmyeon. “Ah, karena aku sudah terlanjur berganti pakaian, bagaimana kalau kita jalan-jalan saja. Akan lebih menyenangkan kalau pertemuan kali ini kita lakukan di luar,” usul Junmyeon yang diangguki Sehun.

Terserah, aku hanya ingin cepat selesai, monolog Sehun dalam hati.

***

Junmyeon yang memimpin langkah, Sehun mengekor di belakangnya. Mereka berdua benar-benar berjalan-jalan, menggunakan kaki, bukan kendaraan. Sehun tidak tahu kemana Junmyeon akan membawanya, dia tidak bertanya pun tidak mendapat gambaran dari sekelilingnya karena tempat yang mereka datangi sangat asing bagi Sehun. Sepanjang perjalanan keduanya tenggelam dalam pemikiran masing-masing, tidak ada salah satu dari mereka yang berinisiatif untuk membuka pembicaraan. Ketenangan yang mengungkung seolah menjadi simfoni yang menenangkan.

Jalanan yang Sehun tapaki bersama Junmyeon mulai menanjak sejak meninggalkan gerbang belakang rumah sakit. Dan terus menanjak sampai keduanya sampai di sebuah pohon yang sangat rindang, juga tua. Sehun bisa pastikan dari sulur-sulur yang tumbuh dari dahan-dahan pohon tersebut. Sehun tidak mengerti untuk apa Junmyeon membawanya kemari.

“Apa kamu suka tempatnya?” tanya Junmyeon seraya menoleh ke arah Sehun setelah terdiam cukup lama sesampainya mereka di pohon yang Junmyeon rindukan.

Sehun mengangguk. Dia belum benar-benar memperhatikan pemandangannya. Pikirannya berkemelut dengan pertanyaan tujuan Junmyeon yang sebenarnya.

Junmyeon kembali menggagumi hamparan bunga forget me not yang baru saja mekar di depan sana. “Syukurlah. Dia juga sangat menyukai tempat ini.” Sehun tahu siapa yang Junmyeon maksud dengan dia. Sehun mulai tidak suka dengan arah pembicaraan Junmyeon serta alasan laki-laki itu membawanya kemari.

“Aku juga sangat bersyukur kamu sudah kembali ke kehidupanmu. Aku harap, semua ini bukan pura-pura. Kamu tahu, kamu pantas bahagia, Sehun-ah.”

Sehun tidak pernah yakin, apa dia sudah bahagia dengan pilihannya.

“Sudah sepuluh tahun semenjak kejadian itu. Sudah hampir delapan tahun juga kamu meninggalkan Seoul. Apa kamu tidak berniat kembali ke sana lalu meneruskan bisnis ayah?” ada sesuatu yang meresahkan begitu Junmyeon menyebut-nyebut kata ayah. Namun keresahan tersebut berhasil Sehun sembunyikan seperti biasanya. Di balik topeng wajahnya yang memang tidak banyak ekspresi tercipta di sana.

Tak kunjung mendapat jawaban, Junmyeon kembali menoleh ke arah Sehun. “Sehun-ah, apa kamu tidak merindukan ayah dan ibu? Mereka selalu menanyakan keadaanmu, Sehun-ah.”

Sehun tidak berani menatap Junmyeon. Karena hanya dari tatapan saja, Junmyeon bisa mengetahui segalanya.

“Aku akan menelpon mereka setelah ini,” sahut Sehun berkesan seperti keharusan, bukan kerinduan seorang anak pada kedua orangtuanya.

Junmyeon tahu Sehun berbohong. Berbohong padanya juga pada dirinya sendiri. Hanya dengan memperhatikan raut wajah Sehun, Junmyeon sudah dapat menebak dengan mudah. Pemuda berkulit pucat itu, selalu berhasil menyembunyikan perasaannya di balik wajahnya yang berkesan minim ekspresi.

“Pulanglah, temui mereka. Menelpon tidak memberikan dampak apa-apa.” Tidak mengindahkan Sehun yang menatap tajam ke arahnya, Junmyeon menatap sendu ke arah pemuda itu. “Kamu tidak bisa terus menerus menghindar Sehun-ah. Aku tahu ini berat bagimu, awalnya aku juga tidak dapat menerima dengan mudah. Tapi ini sudah sepuluh tahun, Sehun, mau sampai kapan kamu terus menghindar?” sebagai dokter, Junmyeon tahu apa yang dilakukannya itu salah. Memaksa seorang pasien untuk menyadari kenyataan yang ada. Tapi, sebagai seseorang yang juga menyayangi Sehun, Junmyeon tidak bisa terus menerus melihat Sehun seperti ini.

Semua orang bisa melihat seorang Oh Sehun baik-baik saja. Tampan, mapan, baik. Siapa yang tidak jatuh hati padanya. Tapi dimata Junmyeon, semua itu hanya kamuflase. Kepura-puraan yang Sehun ciptakan untuk menyembunyikan kerapuhannya, rasa sakitnya, penyesalannya.

Sehun yang sekilas bertemu pandang dengan Junmyeon segera membuang muka. Bagaimana bisa dia terbuai dengan kata-kata Junmyeon lalu membiarkan laki-laki itu melihat ke dalam dirinya saat Sehun tidak sadar.

“Aku yakin, hyung tahu kenapa aku bisa sampai di sini.” Mati-matian Sehun menahan agar suaranya tidak bergetar, namun sepertinya itu sia-sia belaka. Karena kalimat Junmyeon selanjutnya, menamparnya dengan telak.

“Kamu di sini untuk menghindar, berusaha melupakannya namun bayangan itu malah semakin kuat dan kamu semakin sulit untuk keluar dari lingkaran yang kamu ciptakan sendiri, Sehun-ah. Aku yakin kamu yang paling tahu karena kamu mengalaminya sendiri.”

Sehun menatap tidak percaya ke arah Junmyeon yang telah berkata demikian. Sehun tidak habis pikir, Junmyeon berani mengatakan itu langsung. Inilah yang tidak disukai Sehun dari pertemuan rutin dengan Junmyeon, laki-laki itu selalu memaksa.

“Aku tidak tahu sebesar apa luka yang diberikan adikku padamu Sehun-ah. Bahkan setelah meninggalpun, dia masih bisa menyakitimu.”

Junmyeon sudah keterlaluan! Junmyeon sudah melewati batas!

Tidak!

Junmyeon tidak bisa berkata seperti itu!

“Tidak, hyung! Dia belum meninggal, justru karena dialah aku jadi sesukses ini!”

Tidak Sehun-ah. Kamu sukses karena kamu berusaha melupakan dia dengan mengalihkan perhatianmu pada pekerjaan.

“Sehun-ah,” panggil Junmyeon lirih. Air mata sudah menggenang di kedua pelupuk matanya. Bersiap meluncur kapanpun Junmyeon mau. Namun, menangis di depan Sehun bukan option bagus.

Bukannya menjawab, Sehun malah berjalan mundur. Melihat Junmyeon yang bersiap untuk menangis, seperti alarm yang memperingatkan Sehun agar segera pergi dari tempat tersebut. Sehun berbalik, bersamaan dengan setetes air mata yang lolos di pipi Junmyeon, Sehun mulai berlari. Tak diindahkannya teriakan Junmyeon di atas bukit sana yang menggema kemana-mana, hingga ke dalam relung hatinya yang paling dalam.

***

“Maaf, Sehun-ah.”

Sehun tertidur di sofa apartemannya, sesampainya dia disana pukul lima sore tadi. Kepalanya terasa berat saat Sehun berusaha mendongak, melihat ke balik jendela apartemannya. Langit Busan sudah gelap, tidak ada gemerlap bintang, yang ada gemerlap lampu-lampu gedung juga kendaraan lalu lalang yang menyemarakkan malam. Sehun tidak tahu sudah berapa lama dia tertidur. Mata Sehun terasa lengket, Sehun yakin saat ini wajahnya pasti berantakan sekali.

“Kamu sudah seperti orang patah hati kalau kamu mau tahu.” Suara itu mengalihkan perhatian Sehun. Dilihatnya sosok yang tidak asing lagi bagi Sehun, berjongkok di sofa yang bersebelahan dengan sofa yang Sehun tiduri.

“Sudah berapa lama?” tanya Sehun.

“Kira-kira, enam jam.”

Sebelah alis Sehun terangkat. Sudah lama juga Sehun tertidur. Begitu menebar pandang pada sekelilingnya, barulah Sehun sadar.

“Kenapa tidak menyalakan lampu?”

“Karena kamu tidur pulas sekali.” Sehun tidak yakin apa hubungannya antara menyalakan lampu dengan tidurnya. Meski begitu, Sehun mengangguk saja. Sehun sibuk memeriksa ponsel miliknya yang ternyata kehabisan baterai di saku jas yang dia kenakan. Sementara itu, sosok yang tadi berbicara dengannya menatap sendu ke arah Sehun. Tanpa Sehun sadari, sosok itu sudah duduk di sampingnya. Sampai sosok tersebut memeluknya erat, barulah Sehun menyadari keberadaannya.

“Aku tahu ini terlalu cepat, tapi aku ingin jadi yang pertama. Selamat ulangtahun, Oh Sehun,” bisik sosok tersebut di bahu Sehun.

Sehun mengernyit tidak suka. Ada yang tidak beres dari kalimat tersebut.

“Kamu bercanda, yah? Ulangtahunku masih tahun depan, tahu!” setengah bercanda, Sehun sampai tertawa kecil menutupi perasaan gelisah yang tiba-tiba menyelimuti.

“Tidak apa-apa. Aku hanya ingin jadi yang pertama.”

“Kamu selalu jadi yang pertama, Kim Jongin. Kamu nggak berniat buat pergi, kan Kim Jongin?” Sehun sudah tidak tahan dengan perasaan gelisah yang menjalari hatinya. Benar-benar membuatnya tidak nyaman. Setelah hari yang buruk, haruskah Jongin seperti ini juga?

Di dorongnya bahu Jongin hingga kini mereka berhadap-hadapan. Sehun dapat melihat wajah sendu Jongin, dan dia tidak suka.

“Ada apa ini? Kenapa semua orang berubah menyebalkan dalam sehari?” Sehun masih berusaha tertawa kecil demi untuk menyingkirkan suasana canggung yang tiba-tiba mengungkung. Tidak ada respon dari Jongin, pemuda berkulit eksotis itu masih tetap memandang sendu Sehun.

“Kamu sudah berjanji tidak akan meninggalkan aku, Kim Jongin! Tidak sampai masing-masing dari kita menemukan perempuan yang kita cintai.”

“Kamu tahu itu tidak mungkin Sehun-ah. Kamu tidak akan pernah menemukan seseorang jika terus menahanku seperti ini. Kenapa Sehun, kenapa kamu terus menahanku padahal akulah yang menyebabkan orangtuamu terbunuh!”

“Dan akulah yang menyebabkanmu terbunuh, dan itu belum cukup. Kamu masih memiliki hutang satu nyawa. Jadi, anggap saja keberadaanmu sebagai hukuman atas satu nyawa yang kamu biarkan terbunuh.”

“Tidak Sehun-ah, aku hanya bagian dari penyesalanmu. Kamu harus melepaskan aku!”

“Tidak!” setengah berteriak, Sehun berdiri dengan dada naik turun karena emosi. Bola matanya bergerak-gerak karena gelisah. Hari ini seolah dunia tengah mengejeknya, apa yang dia percayai, memintanya untuk melenyapkan kepercayaan itu. “Karena kamu bagian dari diriku, maka kamu tidak boleh pergi! Tidak semudah itu, Kim Jongin!”

Lagi-lagi Sehun berbalik, lalu berlari. Namun kemanapun Sehun berlari, kenyataan tidak bisa dihindari.

***

Duduk memeluk lutut di balik pintu kamarnya, Sehun kembali ke masa dimana bencana itu menghancurkan hidupnya, kepercayaannya. Pada saat Jongin meninggal dalam dekapannya.

“Maafkan aku, Sehun-ah. Andai saja, aku lebih berani pada saat itu. Mungkin kedua orangtuamu tidak akan terbunuh,” bisik Jongin di sela-sela napasnya yang mulai tersengal.

Sehun tahu apa yang dimaksud Jongin. Perampokan yang terjadi bertahun-tahun lalu, perampokan yang menewaskan kedua orangtuanya, menjadikan Sehun yatim piatu di usianya baru genap tujuh tahun. Kemudian keluarga Kim mengadopsinya, sejak saat itulah Sehun dekat dengan Jongin. Selain usia mereka yang terpaut beberapa bulan, Jongin selalu mengajak Sehun bermain, memperhatikan Sehun, selalu ada untuk Sehun.

Semua orang yang melihat mereka sering mengira mereka anak kembar yang tidak identik. Kalau sudah seperti itu, baik Sehun maupun Jongin hanya tertawa menanggapi. Tidak perduli apa kata orang, selama Sehun memiliki Jongin, tanpa keluarga yang sesungguhnya, Sehun sudah cukup bahagia. Karena seseorang yang mati, tidak akan kembali. Itu yang Jongin katakan saat Sehun masih bersedih karena kehilangan orangtuanya.

Yah, orangtuanya yang sudah meninggalkan tidak akan lagi bisa memberikan kebahagiaan padanya. Ada Jongin yang lebih nyata yang memberikan kebahagiaan lagi padanya.

Sayang, seolah takdir tidak menyukai kebahagian yang Sehun miliki, sumber kebahagiaan sehun yang lain kembali direnggut, di hadapannya, karenanya. Jongin mendorong Sehun pada saat sebuah bus melaju cepat ke arahnya. Itu salah Sehun, karena bermain-main sampai ke tengah jalan. Kalau saja … kalau saja, Sehun tidak bermain ke tengah jalan.

“Ini … seperti sebuah hukum karma,” bisik Jongin lagi.

“Maaf—“ Sehun tidak dapat mendengar lanjutan dari kalimat Jongin, karena pemuda itu tak lagi dapat mempertahankan kesadarannya. Sehun tidak berteriak histeris ataupun menangis, yang dia lakukan malah mengguncang tubuh Jongin lalu memanggil-manggil pemuda itu sebagaimana dia membangunkan Jongin di pagi hari sebelum mereka berangkat sekolah.

“Dan ini juga seperti sebuah hukum karma bagiku,” gumam Sehun dibalik kedua lututnya yang terlipat.

***

Dulu … mereka dua orang yang tak terpisahkan.

Sekarang pun demikian.

Bahkan batas yang nyata serta tidak, menjadi kabur diantara keduanya.

“Maaf Sehun-ah, aku tidak bisa memberikan kebahagiaan itu lagi.”—Kim Jongin

***

 

FIN

One thought on “[4thYearsEXOFFI] When I Lose You – Jongie”

  1. “Aku juga sangat bersyukur kamu sudah kembali ke kehidupanmu. Aku harap, semua ini bukan pura-pura. Kamu tahu, kamu pantas bahagia, Sehun-ah.” apa maksud dari perkataan junmyeon? Aku gx ngeh..

    “Dan akulah yang menyebabkanmu terbunuh, dan itu belum cukup. Kamu masih memiliki hutang satu nyawa. Jadi, anggap saja keberadaanmu sebagai hukuman atas satu nyawa yang kamu biarkan terbunuh.” astaga jadi sbenernya jongin udah meninggal? Dan sehun gx rela ngelepas jongin., duh kasian dong jongin oppanya dia jadi gx tetang 😢

    Oh iya kak., tadi ada kata “Pikirannya Berkemelut” itu aku bcanya gmna gitu ya kak, kayak kurang pas,^^v mungkin ada yg lainnya kah yg lebih pas didenger gitu^^ , maaf otakku lagi mampet kak jdi gx bisa cari kata”nya..hehehe^^v

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s