[4thYearsEXOFFI] Dreamer – Rinda Jung

dreamer-poster

Tittle : Dreamer

Author : Rinda Jung

Genre :Romance, Friendship

Rating : G

Summary : Ketika keadaan memaksa untuk memilih. Antara rasa, persahabatan dan mimpi. Sebuah keberanian atau bungkam menjadi seorang pengecut sejati.

#

Terkadang sebuah perbincangan ringan harusnya cukup untuk menebus rasa rindu. Berbalut langit jingga dengan ditemani secangkir kopi hangat hari ini. Empat pasang mata itu masih saling menatap. Sesekali tersenyum geli ketika pikirnya melayang entah kemana.

“Kau sudah mengepak semua barangnya?” Tanya pemuda cantik yang baru saja meletakan cangkirnya di meja. “Sudah. Aku sudah selesaikan semuanya tadi pagi.”

Luhan mengangguk. Menghela napasnya ringan sembari menatap deburan air laut sedang menyisir pantai. Memecah gelombang tinggi itu ditengah-tengah. Musim panas yang menyenangkan bagi semua orang. Harusnya begitu. Apa lagi untuk sang pengejar mimpi seperti gadis itu.

Pergi ke bulan….

Menggelikan bagi seorang yang mendengarnya pertama kali. Mimpi yang tak pernah terbayang akan terjadi di kehidupan nyata. Berbekal tekad dan kerja keras. Gadis itu berhasil meraih mimpinya. Merasakan debaran jantungnya yang bahkan dapat Luhan rasa. Ketika bola matanya mulai menjelajah kesana-kemari. Gadis itu gugup.

“Aku selalu berdoa untukmu. Jadi jangan khawatir seperti itu.” Tegur Luhan

Untuk seorang gadis yang sepantaran dengannya terlalu jaim jika Luhan tak merasa gugup. Jikalau ia yang berada diposisinya sekarang. Mungkin rasa ingin melompat dari tebing yang jauh di ujung barat resort ini akan teralisasi.

“Bagaimana jika penerbanganku gagal?”

Kalimat itu seolah menjadi cambuk bagi Luhan. Bayangan akan kegagalan penerbangan tidak bisa ia hilangkan dari pikirnya. Juga, kekhawatiran Hayoo yang beralasan. Takut terjatuh. Karena itu, semua orang akan berjalan sehati-hati mungkin.

“Harusnya kau yakin dengan kemampuanmu. Diterima di NASA. Kau hebat sekali Yoo.” Gadis itu tersenyum. Pujian lagi. Terkadang, ia lupa bagaimana rasanya mendengar cibiran. Seperti dulu-dulu, Hayoo tak pernah lepas dari belenggu kegilaan seorang anak TK yang terobsesi menjadi astronot. Keinginan untuk terbang ke bulan dan menyapa para alien di sana. Bahkan kedua orang tuanya sempat berencana membawanya ke psikiater. Menganggapnya gila. Mimpi dan cita-citanya.

“Kau tahu?” Luhan menatap Hayoo penasaran. Gadis itu suka sekali menggantung kalimatnya. Membuat rentetan pertanyaan berbaris rapi menunggu waktu yang tepat untuk diungkapkan.

“Apa?”

Hayoo merubah air mukanya menjadi masam. Berubah menjadi ekspresi tak beriak yang benar ia tujukan pada pria itu.

“Jangan memujiku terus. Bisa nge-fly tau!”

“Dasar! Siapa juga yang memujimu. Hanya mengatakan realita saja kok. Narsis deh.”

“Apa? Narsis? Kalau aku narsis lalu kau apa?”

Overactive?”

Keduanya terus berdebat. Menghabiskan waktu senja kali ini dengan kegilaan keduanya. Kehumorisan Hayoo selalu bisa membangkitkan humor Luhan yang terkadang ciut. Pria yang lebih suka menyendiri dan melamun. Terlalu lama berpikir karena pilihannya menjadi sorang yang realistis. Tak seperti Hayoo yang sarat akan mimpi-mimpi gila yang akhirnya dapat ia wujudkan. Mematahkan semua asumsi orang yang mengatainya gadis kurang waras yang harus diperasingkan.

Ya. Sebuah hubungan yang terbangun atas ketidak sengajaan. Pertemuan mereka di sebuah konser band rock 5 tahun lalu adalah awal pertama mereka bertatap muka. Meskipun akhirnya saling mengejek ketika mengetahui kalau mereka bersekolah di tempat yang sama. Tanpa saling mengenal satu sama lain. Sibuk dengan urusan dunia dan memikirkan masa depan yang semakin dekat kian hari.

Hingga kembali pada sebuah takdir yang mengharuskan salah satunya melepas yang lain. Membantunya dengan dukungan dan doa meraih sebuah impian. Keteguhan hati pada satu-satunya harapan yang sudah melambung tinggi dalam genggaman. Membuat seorang lagi terluka karenanya. Memendam sakit hati ketika seorang lagi tertawa penuh bangga di atas sana.

Seorang pernah berkata. Tidak ada namanya persahabatan antara seorang pria dan wanita. Selalu ada yang tersakiti pada waktunya. Akhirnya, Luhan bisa merasakannya. Kepedihan hati yang tak pernah ia bagi kepada Hayoo. Seorang gadis yang selalu jujur mengungkapkan isi hati dan uneg-uneg yang menumpuk di hatinya. Kepada seorang penjaga kunci rahasianya. Juga semua rahasia tentang perasaannya terhadap Hayoo.

“Wah, Harusnya kita jalan-jalan saja kan? Cuacanya bagus sekali tadi. Kan sayang kalau hanya menghabiskan waktu dalam resort.”

Luhan meneguk kopinya lagi. Kali ini adalah rasa paling pahit dan pekat. Kopinya habis. Bersama dengan bahasan humornya untuk mengembangkan suasana. Tidak kembali menjadi canggung ketika harus memutar otak ketika kembali membeo.

“Ya sudah ayo.” Ajak Luhan. Hayoo mendongak. Menatap Luhan sedikit bingung. Luhan mendesah pasrah.

“Jalan…? Yuk.” Ulang Luhan

“Oke. Kalau dipaksa.”

#

“Airnya! Waaaahhhh…. Aku basah bodoh!”

“Lagi pula kau juga belum mandi. Tidak salah kan kalau mandi air laut?”

“Tidak seperti ini juga! Ini sudah malam Luhan! Kau mau membuatku masuk angin setelah ini?”

“Hahaha…. Cemen sekali sih, sudah pilek ya?”

Hayoo mencicit. Bibirnya bergerak sebal. Mengatai Luhan bodoh sepertinya harus ia ralat. Pemuda itu terlalu pintar kalau di katai bodoh. Sekaku-kakunya ia bicara. Ia selalu mendapatkan jawaban tepat atas semua perkataannya. Mengembalikan semua menjadi bom waktu yang seakan selalu siap meledakkan hatinya.

Membuat darahnya berdesir hebat ketika senyum tulus yang selalu ia lihat 5 tahun ini masih bisa ia rasakan. Ekspresi yang terus membuncah hebat ketika jemarinya tersapu oleh sisiran air asin itu. Sekelebat rasa gelisah kembali tumbuh dalam dirinya. Hal yang paling ditakutinya kembali Hayoo rasakan.

Seperti ia sendiri sedang mengikat sebuah tambang di sebuah pohon yang siap digunakan untuk menggantung dirinya hidu-hidup. Napasnya selalu tersenggal ketika bayang-bayang kegagalan terus menghantuinya akhir-akhir ini.

“Dooorrr.”

Hayoo mendongak. Mendapati Luhan yang mengacungkan sebuah pistol tiruan yang ia buat dari jemarinya. Mengarahkannya tepat pada wajah Hayoo. Salahkah? Pertanyaan itu sekarang berangsur menuntut jawaban. Niatnya ingin menghibur Hayoo malah berbalaskan sebuah isakan di dada bidangnya. Begitu lara ketika Luhan merasakan debaran hebat di jantung Hayoo.

“Kau kenapa sih Yoo? Menangis seperti anak kecil. Tunggu, terakhir kau menangis adalah 2 tahun lalu ketika nilai matematikamu 7 kan?”

“Hei sudahlah. Kenapa? Kau bisa ceritakan semuanya padaku Yoo.”

Menyerah. Luhan hanya bisa menepuk pundak Hayoo. Menenangkannya tanpa mengeluarkan sepatah katapun. Tenggelam bersama sang mega yang larut dalam luas samudra di depan sana. Terus terisak dan memeluk tubuh Luhan erat. Sangat erat.

#

Luhan mengantarkan Hayoo sampai di depan rumahnya. Rumah sederhana berpagar hitam yang membatasi istana mimpi milik hayoo itu dari ribuan pasang mata. Termasuk Luhan. Tempatnya dulu sering menghabiskan waktu akhir pekan ketika suntuk di rumah. Beralasan mengerjakan tugas yang sebenarnya sudah dikerjakannya jauh-jauh hari.

“Tidak turun?” Tanya Luhan hati-hati.

Hayoo baru saja berhenti menangis. Kemudian mendesah panjang dan menatap berat tempat tinggalnya selama 23 tahun terakhir.

“Aku banyak berpikir akhir-akhir ini, Lu.”

“Tentang sebuah mimpi atau lebih tepat ku katakan sebuah obsesi gila yang tidak bisa aku hentikan semudah aku membangun istana mimpi di rumah ini. Mematahkan semua olokan orang tentangku dan mimpiku.”

Hayoo memalingkan wajahnya. Menatap wajah teduh Luhan yang selalu menenangkan dirinya.

“Bagaimana jika aku berhasil terbang dan tidak bisa kembali menapak tanah. Momok paling mengerikan yang selama ini ku pikirkan. Resiko yang terlalu tinggi yang bisa membuatku mati muda. Benarkan?”

Hayoo terkikik pada akhir kalimatnya. Kata ‘mati’ yang biasanya tabu diucapkan seseorang sekarang dengan mudahnya keluar dari bibir mungil Hayoo. Matanya kembali berkaca-kaca. Menggenggam jemari Luhan yang bisa ia sentuh kapanpun ia ingin. Membiarkan pria itu juga merasakan bagaimana kacaunya batin Hayoo saat ini.

“Kau sudah memilih Yoo. Kau bisa lanjutkan. Entah itu obsesi atau mimpi, aku selalu mendukung keputusanmu.”

Hayoo tersenyum. “Benar…. Kau sahabatku, jadi sudah seharusnya begitu masukan yang ku dengar.”

Sesak memang. Ketika kata sahabat yang sekarang mulai Luhan benci. Sebuah tembok yang tak akan pernah bisa ia hancurkan begitu saja. Antara rasa cinta dan persaabatan. Logikanya tak dapat memisahkannya lagi. Sebuah kejujuran yang akan merusak semuanya. Memilih dekat dan mematikan rasa adalah pilihan Luhan. Dari pada menjauh dan melupakan. Bukankah rasa ini begitu indah sekaligus sakit untuk dilupakan?

“Oke. Hati-hati di jalan ya! Jangan lupa mengantarku lagi ke Airport lusa.”

Setelah itu mobil Luhan mulai menghilang dari pandangan Hayoo. Membuat gadis itu kembali mendesah panjang. Melangkahkan kedua kaki jenjangnya masuk ke dalam istana mimpinya.

“Dia benar. Obesi atau mimpi. Angan yang sudah berada dalam genggaman. Mengapa harus kulempar sia-sia demi seorang yang bahkan sama sekali tak pernah menahanku untuk berhenti. Terus memompa angan gila yang kian melambung seperti balon udara.”

Hayoo kembali menoleh. Jalanan gelap di penghujung sana menjadi pemandangan menarik baginya. Walau sesaat kembali ia berbicara pada angin malam. Berbalaskan riuh jangkrik yang sedang berpesta di halaman rumahnya.

“Dan sampai hari ini hatiku terus berdebar. Cinta pertama yang tak terbalaskan. Hahaha…. Menyedihkan sekali.”

Terdengar suara blam ketika gadis itu membanting pintu. Kamarnya penuh dengan tumpukan barang-barangnya yang sudah terisolasi. Siap dikirimnya ke tempat pengasingan. Hayoo mengangkupkan wajahnya pada telapak tangan. Mengusapnya kasar kemudian merebahkan tubuhnya ke atas ranjang. Menatap langit-langit sambil menghitung anakan domba agar membuatnya tertidur.

#

“Jaga makan mu disana. Kau tidak lupa membawa mantelkan? Sebentar lagi kan musim dingin. Jangan mati beku di sana.” Khotbah Luhan sambil membenarkan syal merah jambu hadiah darinya untuk Hayoo.

Jjang…. Kau benar-benar terlihat seperti astronot tahu!”

Hayoo mencebik. “Benarkah?”

Luhan mengangguk pasti.

“Tentu saja! Kejar mimpimu untuk menepuk langit angkasa. Bersapaan dengan asteroid yang sering kita ajak ngobrol lewat teleskop waktu itu.”

Hayoo tertawa miris. Mungkin diluar ia terlihat seperti orang paling bahagia di dunia. Seorang yang berhasil di terima bekerja di NASA. Dan juga, seorang pengecut yang gagal mengungkap rasa. Kalimat paling tabu yang tak pernah sekalipun terucap dari mulutnya. Mengatakan bahwa ia mencinta. Kepada seorang pria Cina yang entah sejak kapan mulai mendekte hidupnya. Membuatnya selalu menurut dan berjalan sesuai inginnya.

Karena seorang Park Hayoo adalah seorang manusia. Bukan sebongkah batu asteroid yang selalu bersinar dipandang mata. Gadis yang akan meredup jika ditanyai persoalan cinta yang gagal sebelum memulai.

“Aku akan merindukanmu Lu. Sangat.”

Luhan terperangah. Senyumannya bahkan mungkin tidak akan bisa mengatasi ngilu hati yang membuatnya juga ingin ikut merintih. Menangis dan memintanya tinggal. Berada disisinya dengan ocehan gila yang selalu ia dengar dari gadis itu.

Hanya memeluk dan saling menasehati. Sebelum akhirnya suara peringatan bahwa pesawat akan segera lepas landas sebentar lagi. Tentu kiamat bagi Luhan. Mungkin ia bisa menunggu jika harus. Menanti cinta rahasianya itu kembali dari luar angkasa. Tetapi menunggu tanpa kepastian yang berarti. Hanya sebuah keputusan bunuh diri yang sengaja diambilnya.

Mungkinkah harus…. Menahannya tinggal…?

Adegan pergulatan batin antara cinta dan persahabatan. Momok mengerikan yang menjadi racun mematika bagi Luhan. Melepas gadisnya terbang jauh. Melayang disebuah tempat tanpa udara. Memijakan telapaknya pada sang rembulan.

“Pergi…. Dan kembali segera…. Oke? Aku akan menunggu. Jaga dirimu baik-baik”

Hayoo terisak dalam senyumannya. Pelukan terakhir yang sekejap diberikannya untuk Luhan. Sekarang ia harus berjalan terus. Mengikuti garis impian yang sudah di depan mata. Harus dan akan ia lakukan. Pengorbanan berdarah ini. Meninggalkan keluarga, sahabat dan orang terkasih sesaat. Awal dari cara seorang Park Hayoo menjadi seorang yang membanggakan Negaranya. Pasti.

#

Ketika seorang telah mengambil kepususan final. Selalu ada celah hati berteriak meminta ditarik kembali keputusannya. Kemunafikan diri yang menjadi pilihan bagi Luhan. Membiarkan gadisnya pergi. Dan memilih kembali menjadi seorang penunggu sejati. Entah untuk satu atau dua tahun ke depan. Bahkan lebih. Membiarkan semua berjalan sesuka takdir Tuhan.

Terkadang tak semua hal yang pergi akan kembali. Setiap orang memiliki kesempatan untuk meninggalkan dan melupakan. Atau bertahan dengan harapan. Seperti acara TV ekslusif menayangkan seorang gadis pemimpi di dalam sana. Penerbangan perdananya sukses dan berhasil mengharumkan nama bangsa Korea. Berdiri sejajar dengan para astronot lainnya yang mengumbar senyum sapa bagi seluruh dunia. Tidak terlalu mengejutkan bagi Luhan melihat Hayoo berdiri diantaranya.

“Siapa orang paling berjasa mendukung anda dalam meraih cita-cita anda? Bukankah menjadi astronot bukan pekerjaan mudah?”

“Tentu saja aku sangat bersyukur kepada Tuhan. Keluarga ku dan sahabat-sahabatku yang mungkin sedang menyaksikanku di Korea…. Dan juga seorang terkasih yang mungkin sedang menontonku…. Bukankah ini acara live?”

“Tentu saja, nona Park.”

Darah Luhan berdesir. Ada sedikit rasa gugup yang kemudian menyergap batinnya. Menunggu seutas kalimat yang mungkin tak pernah di tujukan buatnya. Mungkin saja untuk orang lain yang beruntung di luar sana. Seorang yang lebih pantas dan berani.

“Untuk seorang pria Cina yang terus memompa semangatku. Terus support dan mendukungku tanpa ragu. Seorang penjaga kunci semua aib dan bagaimana kacaunya aku. Seorang sepesial yang mengakuiku sebagai seorang sahabat. Sahabat yang selalu menjadi tempat yang ku tahu ke mana harus pulang. Dia…. Seorang yang tak dapat di deskripsikan oleh sebuah ilmu pasti. Berapapun angka menunjukkan sebuah kisaran, aku tidak akan pernah menemukan hasilnya. Terima kasih…. Lu, terima kasih.”

Luhan tersenyum. Menahan sesak dadanya ia menarik jemarinya menyeka air asin yang menitik di sudut matanya. Kemudian Mengisi parunya rakus seakan oksigen gratis ini akan segera ditarik oleh sang pencipta.

“Dan untuk seorang sahabat yang aku cintai. Park Hayoo….”

 

-The End-

One thought on “[4thYearsEXOFFI] Dreamer – Rinda Jung

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s