SILHOUETTE | 11

done

SILHOUETTE (EXTRA PART)

Starring by :

Oh Sehun |  Kang Mirin | Xi Luhan | Song Yerin

T

Sad  | Romance | Lil hurt

Chapter

[WAJIB DIBACA!]

Full flashback. Edisi special flashback buat yang gagal move on. Buat yang kemarin bertanya-tanya ‘kenapa Se-Rin putus?’ ‘masa lalu Luhan kek apa?’ ‘kenapa Yerin tiba-tiba bersama Luhan?’ ‘Luhan kok jahat?’ nahh itu dijawab disini. Kalau emang ga kepo sama pertanyaan-pertanyaan itu juga gapapa sih wkwkwk.. yang pasti kalau baca part ini, teka-teki dari awal bakal kebuka. One more thing, tiap ada nama yang mejeng, itu berarti PoV nya dia.. biar ga bingung entar bacanya ini ada adegan yang diprolog dikit. Yang belum baca mangga. So….

Happy reading guyss~~~

***

Previous part : PROLOG |1 | 2 | 3 | 4| 5 | 6| 7| 8 |9 | 10

***

Playlist : Taehyun – I’m Young

 

 

|Yerin|

“Kau siapa?”

Aku menatap lekat laki-laki didepanku. Rasanya ingin meloncati meja pembatas aku dan laki-laki asing ini lalu mencakar-cakar wajahnya. Kesal. Dengan matanya yang sembab –tapi ku buat setajam mungkin- mencoba mengintimidasi laki-laki yang tiba-tiba menarikku duduk manis di café. Membatalkan niat awalnya yang ingin membuntuti Sehun. Masih ada hal yang harus di luruskan. Perihal laki-laki itu yang tidak tahu bagaimana ceritanya bisa pergi berdua dengan gadis biasa-biasa saja yang namanya cukup terkenal karena kekonyolannya bersama rekan sejawatnya. Sainganku dalam meraih popularitas dan perhatian di sekolah, sekarang juga menjai sainganku memperebutkan Sehun.

“Tadi ‘kan aku sudah bilang namaku Luhan,” kemudian dia menyesap Cappuccino-nya santai.

Semakin jengah. Aku lelah. Aku juga tahu laki-laki ini lelah. Wajahnya yang berminyak dan matanya yang sendu yang berbisik ke alam pikiranku sejak tadi.

“Aku tahu apa yang kau pikirkan, manis. Jangan menatapku begitu. Nanti aku semakin terpesona,”

Dan seketika aku merinding mendengarnya. Kurasa dia tidak waras.

“Kau mabuk? Memang Cappuccino mu diberi alcohol? Hei…hei.. sadar tuan… kau baru saja menggoda pacar orang,”

“Dan sayangnya, pacarmu baru saja di ambil orang,”

Sial. Tanpa sadar aku menggeram. Semakin menggeram dengan gigi yang saling bergesekkan didalam mulut yang tertutup rapat. Laki-laki ini benar-benar minta dicakar.

“Kau tahu apa sih?”

“Aku tahu semuanya. Ralat, hampir semuanya. Intinya, kau, si rambut pendek dan si pucat terlibat cinta segitiga. Iya kan?”

“…”. Dia tahu? Dia cenayang kah?

Laki-laki didepanku yang mengatas namakan dirinya Luhan tersenyum. Membiarkan punggungnya jatuh perlahan hingga menempel nyaman disandaran kursi. Sementara tangan kirinya terlipat didepan dada dan tangan satunya disangga didagu. Pose berpikir ala Luhan, “Biar kutebak lagi, ya. Hemmm… biasanya, di cerita-cerita tentang cinta segitiga, pasti ada pihak yang jadi nomor tiga. Dan kurasa….”

“APA?! KAU MAU BILANG AKU ORANG KETIGANYA?! JANGAN SOK TAHU! SI ANEH ITU YANG TIBA-TIBA MENGAMBIL SEHUN-KU! AKU….AKU…”dapat kurasakan perih merayapi telapak tangan. Aku juga sadar betul tadi menggebrak meja dan berteriak mengakui status rendahan didepan orang asing. Sakit rasanya jika orang lain memberinya cap seperti itu. lebih baik mengaku sendiri, ‘kan?

Luhan terkekeh. Manis tapi menyebalkan.

“Kenapa marah? Aku tidak bilang kau orang ketiga, loh,”

“Berisik. Kau Konyol. Kau bodoh,”

Dan Luhan tertawa lagi. Membuat ku gemas ingin mengguyur wajah lelah Luhan dengan Cappuccino Luhan yang masih mengepulkan uap panas. Dia berhenti tertawa. Kembali menegakkan tubuh, wajahnya sok serius sekarang.

“Aku hanya ingin memberimu saran….” Dia menjeda laju katanya sendiri. Hening yang dia ciptakan, menjadi saksi saat dengan tangan-tangan putihnya itu ia mengeluarkan dompet tidak… bukan dompet tapi kertas kecil yang ternyata adalah selembar foto.

Sekarang apa?

Dia bercanda? Apa maksudnya menunjukkan foto seseorang yang mirip denganku? Sebenarnya kulitnya lebih bersih, dia lebih sipit, dan…wajahnya lebih ramah . Sementara aku, kulitku sedikit coklat, dan jangan tanyakan bagaimana air mukaku. Aku tahu aku sangar.

Kejutan kedua. Wajah orang asing ini mendadak sendu

“Namanya Lin,”

…suaranya parau. Wow dia akan menangis ?

“Nasibnya sama sepertimu,” ucapnya tanpa niat menatapku. Masih sibuk menatap senyum dua dimensi Lin. Dan aku? Masih diam karena kurasa dia akan menjelaskan tanpa ku tanya lebih jauh.

“Tapi sekarang, entah karena laki-lakinya yang brengsek karena telat menyadari si gadis, atau gadisnya yang memang bodoh, Lin yang patah hati akhirnya gantung diri,”

Deg!

Cepat-cepat aku mengangkat kepalaku. Aku anggap kosa kata koreanya masih kurang banyak jadi dia tidak bisa menemukan kata yang lebih halus dan lebih sopan untuk dikatakan pada seorang gadis.

“Kau mendoakan ku mati mengenaskan begitu? Hei… kau pikir hanya karena wajah aku dan si Lin sama, lalu kami sama-sama menjadi orang ketiga suatu hubungan, kau pikir aku juga akan menyerah karena patah hati? Hey! Dengarkan aku Luhan-ssi, aku bukan gadis lemah. Memang aku tadi menangis tapi itu bukan tanda aku sedang dititik terbawah. Memang benar. Aku mencintai Sehun. Dulu, dari sebelum dia menerimaku. Sekarang, ketika baginya aku hanya keindahan sesaat dibawah bayangan, yang harus bersembunyi dan mengemis-ngemis meminta waktunya. Bahkan nanti, ketika dia akhirnya meninggalkanku pamit atau tidak sekalipun dan akhirnya aku harus ditakdirkan untuk menunggu atau bahkan melepaskan. Aku rela. Aku pastikan aku tidak apa-apa. Karena aku sadar diri aku memang harus berjuang lebih untuk sekedar dilihat Sehun. Tidak apa, selama fisikku masih kuat. Selama hati ini masih ada. Meski akhirnya aku dilupakan aku tidak apa-apa…”

Aku menangis. Satu tetes air mata yang jatuh dari mata kiriku menjadi titik dari argumen panjangku yang penuh emosi. Menyedihkan ya? Seorang gadis yang katanya kuat dan penindas disekolah menangis didepan orang asing yang tiba-tiba menariknya hingga duduk manis di café.

Berarti sekarang, aura penindasku tidak bereaksi ketika

Pertama, dengan aura dingin Sehun, dan kedua, dengan kehangatan yang tiba-tiba merengkuh tubuhku. Rasa hangat yang mengalir dari orang asing yang entah sejak kapan duduk disebelahku dan menenggelamkan aku didadanya.

“Tapi aku,tidak ingin ada Lin lainnya disini. Aku tahu, akhir cerita si brengsek pasti sama. Kalau kau mau berjuang, ijinkan aku membantumu,”

Aku mendorong dadanya. Melonggarkan pelukannya dan mendongak menatap matanya. Meminta penjelasan dari kata membantu disana.

“Aku akan membantumu. Entah nanti keputusanmu melupakan atau tetap berjuang. Karena mungkin, dengan membantumu bahagia bisa menjadi penebusan dosaku pada Lin dulu,”

Dan kau tahu bagaimana cepatnya suasana hatiku berubah? Karena pada akhirnya, aku mendapat dukungan. Memang aneh, karena dia secara tersirat mengakui dialah sibrengsek yang membuat Lin gantung diri.

Tapi toh biarlah. Setidaknya.. laki-laki ini bisa kugunakan sebaik-baiknya kan?

“Nanti, kalau aku hampir menyerah, aku akan memanggilmu,”

.

.

.

.

.

| Mirin|

Namanya Oh Sehun. Sifatnya dingin seperti salju yang turun dini hari. Seperti laut musim dingin. Kadang tenang, sedikit beriak. Enak dilihat selama tidak lama-lama melihatnya karena yang namanya laut, setenang apapun bisa saja membuatmu tenggelam.

Dan kuakui, sejak dua tahun yang lalu, sejak pertama kali aku melihat wajahnya dari samping. Mengagumi garis hidungnya, garis rahang sampai dagu lancipnya, sorot matanya, keindahan yang dipaparkan langsung sinar matahari dibawah langit cerah Seoul dipagi hari kala itu, benar-benar membuatku mengucap syukur dalam hati karena datang terlambat hingga akhirnya bisa berdiri sejajar dengannya yang –waktu itu- tingginya tak beda jauh dariku.

“Tidak usah terpesona begitu. Aku tahu aku tampan,”

Satu rangkaian kalimat yang masih jelas kuingat sampai sekarang. Kalimat yang meluncur mulus dari mulutnya ketika aku tertangkap mengagumi garis-garis tegas wajahnya. Kalimat yang berhasil menaikkan darahku kekepala dan memfokuskannya dipipi.

“Tapi kau pendek,”

Jelas saja aku malu, dan dengan lantang menolak mengiyakan pernyataannya tadi. Lebih memilih balik badan, lalu menuruti perintah guru BP super galak yang meminta para siswa yang terlambat lari berkeliling lapangan bola. Tidak tanggung, 10 keliling untuk perempuan dan 20 keliling untuk laki-laki.

Lalu cerita kembali berjalan. Kami sering berpapasan. Mungkin karena dendam dulu kupanggil pendek, akhirnya dia makan tiang hingga tingginya sekarang hampir sama dengan guru olahraga kami yang badannya sangat atletis itu. ketika dia melewati pintu kelas, rasa-rasanya pintu itu jadi beberapa senti lebih pendek.

Tidak, aku bercanda. Aku tidak tahu bagaimana caranya dia bertambah tinggi hanya dalam beberapa bulan. Wajarkan kalau aku perkirakan dia makan tiang?

“Halo, pendek,”

Dan setiap kami berpapasan, gelar pendek itu dia sumbangkan padaku. Dia ucapkan secara lantang hingga rasa-rasanya terdengar sampai radius 20 meter. Buktinya? Orang-orang disekitar dalam radius 20 meter pasti menoleh ketika gelar itu diucapkan Sehun tanpa keraguan didepan umum.

Kesal, tapi entah mengapa aku menikmatinya.

Setiap moment yang bahkan tidak penting seperti adegan pinjam-meminjam penghapus menjadi mulai bermakna dimemoriku. Setiap adegan tidak penting sampai menjijikan seperti saat dia melempar seragam olahraganya yang basah –kau tahu pasti basah kenapa- kewajahku, tidak, dia bahkan membungkus kepalaku, lengkap sampai keujung rambut sebahuku yang baru saja ku potong dan di manjakan disalon kemarin. Memang saat dibungkus aku kesal. Marah-marah, mencak-mencak, teriak-teriak. Tapi fakta tersembunyinya adalah, diam-diam aku merekam harum tubuhnya. Mengingat dengan baik perpaduan antara keringat dan parfum maskulinnya.

Aku yang meronta-ronta, hampir menangis karena kehabisan nafas, akhirnya dilepaskan dari jeratan baju penuh keringat. Begitu udara segar masuk menyeruak ke penciuman, aku sudah siap melancarkan tinju, pukulan, makian. Tapi semuanya batal. Karena saat aku lepas dari kaus berkeringat Sehun, wajah Sehun yang tersenyum jahil tepat berada satu senti didepan wajahku.

Dan aku yang bodoh, malah terpaku menatap bibir merahnya yang tersenyum jahil.

Saat itu.. aku masih limabelas tahun, dan aku sudah memikirkan yang tidak-tidak bersama Oh Sehun hanya karena melihat bibir tipisnya . Aku merasa benar-benar malu hingga beberapa kali –tidak sebenarnya selalu- menghindarinya karena takut isi otak kotorku terbaca olehnya.

“Jangan menghindar lagi,” itulah yang dia ucapkan saat itu dengan nafas terputus-putus karena suatu hari, berusaha mati-matian mengejarku yang naik sepeda.

“Jangan menjauh lagi,”

“Aku…aku minta maaf karena waktu itu membuatmu kesal dengan baju olah ragaku. Aku hanya mau kau melihatku..”

“A…Aku s….suka kau… Mirin…J..jadi pa….p..pacarku, ya?”

Saat itu, entah karena aku memang terlahir bodoh atau terhipnotis iris gelap Sehun, aku hanya diam tidak membalas. Menolak apalagi menerima. Barulah, ketika kepalanya tertunduk lesu, disusul badannya yang berbalik lemah dan aksesku menatap iris matanya tertutup, aku sadar aku belum menjawab permintaannya. Secepat kilat aku turun dari sepeda, hingga suara benturan sepeda dan aspal terdengar nyaring, membuatnya yang sudah berjalan lima langkah kembali berbalik. Dan aku, niat hati ingin merengkuhnya dari belakang, malah mendapat bonus karena menubruk tubuh depannya dan tenggelam dalam pelukannya.

Debaran jantungnya saat itu masih kuingat dengan baik . Tidak beraturan, menggebu-gebu, tapi merdu. Sama seperti milikku didalam sana yang juga dapat dirasakan pangeran es ini. Lewat debaran-debaran dan gelenyar aneh sinyal dari tubuh, aku menjawah iya.

Satu bulan.

Dua bulan.

Satu tahun…

Dan akhirnya hampir dua tahun sudah aku lewati bersamanya.

“Mirin, kau tidak apa-apa?”

Masih kuingat tepukan-tepukan kecil dibahuku kala aku menangis waktu itu. Penyebabnya satu. Siapa lagi kalau bukan Oh Sehun. Kali ini ditambah rumor yang berterbangan tentangnya dengan seseorang. Gadis, yang pasti bukan aku.

….Mereka bilang, Sehun dan aku sudah putus sejak setahun lalu. Ingin ku bogem mulut mereka karena bicara gossip aneh begitu. Memang benar, entah perasaanku saja atau memang begitu faktanya, Sehun jadi sibuk sendiri belakangan ini sabtu ia gunakan bermain Xbox. Telat menjemput dengan alasan bersama Kai. membatalkan janji pergi. Saat berdua lebih sibuk dengan ponsel. Kami jarang pergi bersama seperti dulu.

….Mereka bilang, sekarang Sehun bersama dengan gadis lain. Yang lebih cantik, lebih pintar, lebih populer dibanding aku yang mungkin hanya sebesar dan seharga biji kuaci ini. Ingin ku congkel satu-satu mata mereka yang bilang menjadi saksi adegan kencan Sehun dengan gadis luar biasa itu.

….Lalu akhirnya, JiAe bilang sebaiknya aku lupakan saja dia karena kelakuannya yang semakin tidak beres dari hari kehari.

Tapi aku bisa apa? Aku hanya bisa menggeleng lalu menangis. Mempercayai Sehun dengan janji setianya padaku. Karena apa?

Sudah kubilang, karena aku sudah terlanjur tenggelam dalam pesonanya. Dan sekarang aku tidak bisa naik keatas begitu saja.

Intinya, aku terlalu cinta dia.

.

.

.

.

.

|Sehun|

@ café | Sehun Mirin’s breakup day

“Yerin, kurasa hubungan ini tidak bisa dilanjutkan,”

Aku tarik nafas panjang. Lalu dihembuskan kasar hingga suara mendengus itu menggema kesekeliling kami. Dia tercekat. Aku dapat melihat perubahan air mukanya yang tiba-tiba sendu.

“Maksudmu?”

Nah sekarang apa lagi? Dia pura-pura bodoh didepanku.

“Yerin kumohon jangan pura-pura tidak tahu. Hubungan kita resmi berakhir sejak dua tahun kebelakang. Sejak aku jatuh cinta pada Mirin. Dan hubungan setelah hari itu, kita anggap saja tidak ada,”

Dia menatapku agak lama, “ Aku tahu kau berbohong. Barusan kau menggigit bibirmu Sehun,”

Nah… fakta lainnya dari Yerin yang sangat aku benci. Dia hafal seluk beluk diriku hingga yang terdalam.

Aku akui, aku setengah jujur. Kejujuran disana adalah aku benar-benar jatuh cinta pada Mirin. Tapi tidak sejak pertama kali bertemu. Baru beberapa bulan kebelakang. Saat valentine. Saat pertama kali aku merasakan manis bibirnya. Saat aku sadar ternyata dia yang diinginkan hatiku. Saat itu sadar aku lebih dari sekedar suka padanya.

Aku memang brengsek. Aku memutuskan Yerin dengan alasan sudah tidak mencintainya. Bahasa halus dari ‘aku-bosan-dengannya’ seperti yang sering teman-temanku bilang. Pacaran itu harus ada tantangannya. Tapi bersama Yerin, tantangan yang kudapat setiap hari adalah fans-fans gilanya, semua anak yang ditindasnya. Memang sedikit keren. Tapi aku bosan dengan popularitas anak bandel. Jadi, kuputuskan untuk mendekati Mirin yang polos dan naïf. Niat bermain-main mencari ketulusan Yerin, aku malah tergelincir dan masuk ke hati Mirin.

Terlambat sedikit tidak apa ,’kan? Aku masih punya hari ini untuk memperbaiki semuanya. Walaupun sedikit berat hati, karena aku juga sadar Yerin benar-benar mencintaiku.

“Baiklah Sehun, aku mengerti,” aku mengalihkan pandanganku yang tadinya pada sebuket mawar putih ditoko sebrang jalan. Ingin memberikannya pada Mirin sebagai pelengkap kejutan yang akan kuberikan padanya sebagai kado hari jadi kedua. Kembali pada Yerin. Dia menangis. Kurang brengsek apa aku sampai bisa membuat gadis sangar jadi berurai air mata begini.

“Aku… seharusnya.. aku sadar diri.. maafkan aku,”

Aku menggeleng. Tidak, dia tidak salah. Sepenuhnya benar. Yang salah adalah aku, karena terus-terusan menyeretnya. Karena mempermainkan hatinya.

“Tapi sebelumnya, aku ingin meminta sesuatu darimu. Setelah itu, aku akan pergi,”

Aku melirik jam dipergelangan tangan kiriku. Masih ada limabelas menit sebelum waktu pertemuanku dengan Mirin. Jadi aku mengangguk menyanggupi.

“Bisa tolong pegang tanganku? Sekali saja,”

Dan akhirnya, untuk pertama dan terakhir kalinya. Aku menangkup kedua tangannya. Membungkus tangan mungil Yerin dengan tanganku. Saling beradu tatap dalam diam. Menyalurkan penyesalan dan kata maaf dari mataku untuk diterima hatinya. Hal yang mungkin sejak dulu ingin dia dapatkan, tapi tidak pernah aku berikan.

Drrttttt….

Benda bulat yang bergetar itu, adalah tanda minuman yang kami sudah selesai dibuat, sekaligus tanda aku dan dia positif berakhir.

“Biar aku yang ambil,”

Saat Yerin melenggang pergi, aku menggunakan detik-detik yang tersisa untuk menatap jendela besar disebelah kiriku. Hatiku sedikit lebih lega. Merogoh saku celanaku, mengamati kalung sederhana yang nanti akan kuberikan padanya. Nanti, kalau Yerin sudah kembali, aku akan keluar sebentar lalu menyebrang jalan untuk membeli mawar putih dan sekotak ice cream favorit –

“Mirin?” itu bukan suaraku, tapi suara Yerin. Dia berdiri mematung. Alisnya berkerut. Dengan dua cangkir Esspresso ditangannya. Aku mengikuti arah pandangnya. Dan benar, yang dilihat Yerin adalah Mirinku. Hanya saja yang aneh, dia berjalan menjauhi café ini, tempat pertemuan kami. Dengan kepala tertunduk dan jalan super cepat. Firasatku buruk seketika. Detik itu juga, aku melompat dari kursi. Berlari secepat yang kubisa. Menyebrang jalan sembarangan hingga akhirnya aku sampai satu meter dibelakangnya.

 

“Mirin!”

 

“…” Bukannya berhenti, dia malah mempercepat langkah kakinya.

 

“Mirin! Berhenti sebentar!”

 

“….”

 

“Mirin! Oh Tuhan…Astaga Mirin !!”

 

“…”

 

Dan akhirnya, aku berhasil menjangkaunya. Memegang erat lengan Mirin. Takut gadis itu berjalan semakin jauh. Dan dia, menolak sekedar membalikkan tubuhnya padaku. Dia, meronta-ronta. Dengan suaranya yang serak seperti menahan sesuatu, dia berteriak padaku,

 

“Lepas!”

 

Hatiku mencelos. Mirin mencoba menarik tangannya dariku. Maafkan aku, sayang. Aku tidak akan membiarkanmu pergi begitu saja.

 

“Sakit Sehun, please..” kali ini ia merintih. Hampir menangis, sepertinya. Tidak, kumohon Mirin, jangan menangis. Ku longgarkn sedikit cengkramanku. Dan dengan suara yang ku buat tulus menggambarkan kekhawatiran, aku menundukkan kepalaku, mencari matanya untuk ku tatap dan kumintai maaf.

 

“Mirin, coba jelaskan padaku. Apapun. Apapun yang membuatmu marah kali ini aku minta maaf. Tapi beritahu aku, jelaskan padaku. Jadi lain kali aku bisa –“

 

“Tidak ada lain kali,”

 

“Apa?” jangan bilang dia melihatku dan Yerin tadi? Baik, akan kujelaskan. Aku akan menceritakan yang sebenarnya padanya asal dia sudi menatap mataku. Dan aapa ini? kenapa aku hanya bisa bicara dalam hati?

 

“Aku lelah”

 

“Mirin, sayang. Apa maksud –“ Lidahku terlilit sesuatu. Dadaku dihantam juga oleh batu tak kasat mata. Oh, Tuhan kumohon, semoga dia tidak mengatakan kata-kata itu.

 

“Aku lelah, Oh Sehun. Kita akhiri saja sampai disini,”

 

Dan saat itu juga, kurasakan lututku lemas seperti jelly.

 

 

 

 

 

 

-Tobecontinued-

 

 

Haluuu teman teman.. lama ya tak jumpa… masih nungguin Silhouette kah? Semoga iya ya T^T

Maafkan aku.. cerita ini pendek. Agak banyak halamannya karena aku kasih spasi banyak-banyak hahhahaah

Dan yang penasaran sama masa lalu Luhan, aku udah certain dikit diatas. Kebayang kan ya?

Hmm… apalagi ya??? Mungkin sekian aja buat hari ini.

Oh iya..udah ngucapin HaBeDe ke EXOFFI? EXOFFI udah jadi balita unyu-unyu sekarang hahahaha

 

Udah ya, sekian aja deh dari Keyo. Ini diedit sekilas jadi typo (kayanya aku emang typo terus hiks) dan feel datar mohon dimaafkan yaa..

 

 

XOXO

 

 

 

Keyo❤

 

 

11 thoughts on “SILHOUETTE | 11

  1. disatu sisi aku kasian sama yerin di satu sisi aku kasian juga sama mirin,tapi sehun nya emang jahat mirin sama yerin sama sama dikhianatin,sehun sehun kenapa kamu jahat sih? 😕 BTW,aku suka sama fanfiction author ini,ceritanya buat kita penasaran
    ditungguiin kelnjutannya ya thor kalau bisa jangan lama lama soalnya aku penasaran dan sukaa banget sama kelanjutan cerita di ff ini
    fighthing thor! 😁😂

  2. AAA BARU BACAA😭😭😭 JADI INI FLASHBACK GITU ALURNYA HEU😭😭😭 sehunnya jahat😭 tapi sweet juga😭 mirin sama sehun balikan aja kek:((( mian ya eon baru sempet bacaa:( ditunggu next nya yaaa SEMANGAT EONN!💪💪

  3. Woaaa sehun keterlaluan bgt ya dasar maknae nakal hmmm.. masa lalu luhan dikit bgt dsini dan agak kurang tapi gapapa deh ditunggu kak kelanjutannya ^^

  4. Ternyata gitu luhan ngebantuin yerin! Yerin mirip sma Lin ya? Nah itu siapa nya luhan?
    Uhuhu.. Mirin lagi2 cemburu ya.. kasihan mirin

    Next ka!

  5. ogituuu jd luhan bantuin yerin grgr dia pernah ngecewain ssorang,tp caramu tu salah Lu wkwk jiah Yerin sm Luhan malah peluk2an😢akutu enpyyyy
    maknae bgst yaaa wkwk
    Next keyooo,aku sll menunggu😀FIGHTING💪

  6. wahh woahh sehun kau!!! kau mempermainkan hati 2 wanita…maknae daebak…hahaha

    iyaaa udah jelas…tapi yg luhan kurang ngeh…maap yaa otak lemot

  7. Ohhh jadi sebelum part 1 dulu yg mereka putus, ada cerita soal sehun-yerin hmmmm

    Btw, maksudnya “Hubungan kita resmi berakhir sejak dua tahun kebelakang. Sejak aku jatuh cinta pada Mirin. Dan hubungan setelah hari itu, kita anggap saja tidak ada” itu maksudnya pas baru jadian sm mirin (2thn lalu), sehun msh ada hubungan sm yerin gitu?? O.o wahhh sehun brgsk dong kalo gitu:/

    Nextnya ditunggu eonn😄

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s