[4thYearsEXOFFI] #brokenheartednity – Ziajung

brokenheartednity-poster

Title                 : #Brokenheartednity

Author             : Ziajung

Genre              : Friendship, Romance

Rating             : G

Summary         : Mencintai bukan suatu pilihan. Tapi sakit hati juga bukan hal yang bisa ditentukan. Dan mereka bertiga selalu mengalami penyakit hati kompilasi karena cinta bertepuk sebelah tangan.

Jam istirahat memang waktu indah yang sangat berharga di sekolah.

Apalagi sambil melihat para senior laki-laki kelas 3-3 dengan badan penuh keringat. Rasanya udara musim panas berubah menjadi aroma bunga sakura di musim semi.

Kelas 3-3 memang berisi laki-laki tampan seantero kelas 3. Kim Junhee melihat orang itu dalam diam, tersenyum dengan mulut terbuka dan mata menerawang melihat laki-laki tinggi yang sekarang sedang bercanda dengan temannya. Angin yang menerbangkan rambut Junhee pelan, membuatnya seperti sedang berada di dalam music video bersama laki-laki itu.

“Ck, ck, ck, siapa gadis jelek yang sedang tersenyum bodoh ini?”

Bayangan Junhee yang sedang bergandengan dengan Jonghyun—senior yang dari tadi ia perhatikan—pecah berkeping-keping sudah saat suara sengau yang bercampur bunyi derit kursi yang digeser. Junhee menoleh, lalu mendecih sebagai balasan.

“Diam kau, Otak Sapi!”

Aigo, aigo,” Oh Sehun, laki-laki-plester itu mengusap-usap kepala Junhee, tapi gadis itu langsung menepisnya kasar. “Wajahku ini juga tampan, lho! Kenapa tidak menatapku saja.”

Harusnya laki-laki ini bercermin di ruang latihan klub tari sekolah yang super besar untuk melihat seburuk apa wajahnya itu! Apa wajahnya itu buku koleksi plester luka?! Banyak sekali plesternya. Kalau Junhee tidak punya hati, ia pasti sudah menekan salah satu luka Sehun sampai mengeluarkan darah lagi, setelah itu ia akan pergi ke kantin, meminta garam, lalu menaburkannya di wajah kurang ajar Sehun. Pasti menyenangkan!

“Tampan, katamu?! Kau lebih terlihat seperti anjing Dalmatians! Bagaimana mungkin—eh, tunggu…” Junhee berhenti mengoceh dan memperhatikan wajah Sehun lebih intens. “Kau berkelahi lagi, ya?!”

Sehun menepis tangan Junhee dari wajahnya, dan memasang wajah sok, seolah itu bukan masalah besar. “Ini tanda perjuangan. Perjuangan cintaku untuk Yoo Chaeyoung.”

“Dia hampir mati kalau aku tidak datang.” Seorang laki-laki lainnya, yang duduk di meja sebelah Junhee menyahut. Ia tidak peduli dengan tatapan mengancam Sehun dan terus berbicara. “Padahal jelas-jelas Chaeyoung sudah menolaknya, dan Yongseok seonbae sudah memberi ‘salam manis’ padanya kemarin, tapi dia tetap mencoba berbicara dengan Chaeyoung di kantin tadi.”

“Ck, ck, ck, siapa laki-laki tampan tapi otaknya di dasar Sungai Han ini…” ucap Junhee sambil menatap iba Sehun. “Perlu kuobati lagi?”

“Aku tidak butuh plester bunga-bunga milikmu!”

“Setidaknya aku mencoba membantu!”

“Kau malah membuatku tambah jelek di hadapan Chaeyoung!”

“Itu masalahmu, Otak Sapi!”

Junhee dan Sehun saling bertatapan sambil memicing. Dari tatapan keduanya seperti tercipta percikan api yang sebentar lagi berubah menjadi kilat mematikan bagi siapa saja yang melewati mereka. Awan hitam sudah bergulung-gulung di kepala masing-masing. Dalam keheningan keduanya yang memanas, masing-masing merapalkan mantra kematian.

“Hei, Junhee, kau masih menyukai Jonghyun seonbae?”

Untungnya, mereka tidak jadi memporak-porandakan seisi kelas karena Do Kyungsoo berhasil membuat perhatian Junhee teralih. Junhee kembali membalikkan badannya ke arah jendela, lalu tersenyum saat matanya menemukan Shin Jonghyun yang sekarang sedang bermain sepak bola. Ia sepenuhnya mengabaikan Sehun yang masih tidak terima ia diabaikan begitu saja oleh Junhee. Namun pada akhirnya ia mengalah, dan ikut melihat ke luar jendela.

“Kyungsoo, dia temanmu?” tanya Sehun sambil menunjuk Junhee yang sudah berenang ke dunia khayal. Sehun hanya bersyukur Junhee tidak sampai mimisan saat melihat Jonghyun.

Kyungsoo terkekeh pelan, lalu duduk di meja Junhee. Ia ikut memperhatikan senior-senior yang sedang bermain bola di sana. “Kukira kau akan menyerah saat Jonghyun seonbae punya pacar.”

No, no, aku tidak semudah itu.”

“Pembual!”

Junhee tidak membalas Sehun karena tepat pada saat itu Jonghyun melambai ke arahnya. Junhee melongo beberapa detik, sebelum akhirnya balas melambai dengan gerakkan kelewat semangat. Ia bahkan hampir berteriak kalau saja Kyungsoo dan Sehun tidak membekap mulut gadis itu.

“Kalian lihat?! Jonghyun seonbae melambai ke arahku!” Junhee memekik tertahan. Kedua tangannya memegangi pipinya yang memerah.

“Jun, sebenarnya aku tidak tega mengatakan ini, tapi…” Sehun menunjuk jendela kelas satunya lagi, di mana banyak anak perempuan berkumpul. “Dia melambai kepada Woori.”

Mata Junhee mengikuti arah yang ditunjuk Sehun. Benar saja, ekspresi Woori sama senangnya dengan Junhee tadi. Wajah cantik gadis itu terlihat lebih manis dengan pipinya yang memerah. Lain dengan Junhee, cara Woori membalas salam Jonghyun terlihat sangat elegan, anggun, dan manis. Gadis itu hanya mengangkat sedikit tangannya sambil tersenyum. Walaupun Jonghyun bukan murid tertampan di kelas 3-3, tapi ia tetap laki-laki dengan penglihatan yang bagus. Ia sudah pasti memilih Woori daripada gadis-tak-kasat-mata-yang-berteman-dengan-dua-laki-laki-tak-kasat-mata-pula ini.

“Sudahlah… mencintai tidak harus memiliki.” Kata Kyungsoo sambil mengacak poni Junhee.

“Kau berbicara seperti kau mengalaminya saja,” balas Sehun ketus. Ya, di antara mereka bertiga, hanya Kyungsoo yang tidak punya kisah-cinta-tidak-terbalas.

. “Kau tidak tahu?!” Junhee yang menjawab. “Sebenarnya Kyungsoo—“

“Kim Junhee!”

“—juga punya cinta bertepuk sebelah tangan.”

“Benarkah?!” Sehun melompat dari kursinya. Ia ikut duduk di meja Junhee hingga membuatnya harus desak-desakkan dengan Kyungsoo. “Dengan siapa, dengan siapa…”

“Dengan… yang ada di lab biologi—hmp!”

“Kyungsoo! Biarkan aku mendengarnya!” Sehun menarik tangan Kyungsoo dari mulut Junhee. Untuk mengantisipasi adanya kudeta kedua, Sehun pun menggeser Kyungsoo dari meja Junhee hingga membuatnya terpaksa kembali duduk di kursinya.

“Jadi, siapa, Jun?”

Junhee melirik Kyungsoo dengan nakal, tapi laki-laki itu membuang wajahnya karena kesal. “Dia adalah…”

“Siapa? Siapa?”

“Sel kulit bawang! Hahahahaha….”

Junhee tertawa terbahak-bahak di tempatnya, sedangkan Sehun dan Kyungsoo hanya menatapnya dengan datar. Tidak ada yang lebih buruk dari lelucon Kim Junhee yang sama sekali tidak lucu. Bahkan rumput yang bergoyang pun tidak mau tertawa.

“Ha-ha, lucu sekali, sampai rasanya aku ingin mencabuti bulu hidungku sendiri.” Ucap Sehun, lalu berbalik dan merebahkan kepala di mejanya—tidur.

“Kenapa? Itu lucu tau!”

Saat Junhee menoleh ke arah Kyungsoo, untuk meminta dukungan, laki-laki itu hanya menggelengkan kepala sambil berdecak lalu mengeluarkan buku soal-soal biologi dari laci mejanya. Junhee mendecih. Dia diabaikan karena lelucon bagusnya.

Selalu begitu sejak kelas dua SMP, bersama dua laki-laki yang selalu mengalami penyakit hati kompilasi karena cinta bertepuk sebelah tangan.

***

Sehun baru saja selesai dari latihan rutinnya bersama klub basket, sedangkan Kyungsoo—tadinya—menunggu di lab biologi dan Junhee sudah lebih dulu pulang ke rumah. Tadinya mereka berdua berjanji untuk pergi ke PC room dekat sekolah untuk menyelesaikan game online yang mereka mainkan. Tapi tiba-tiba Kyungsoo mengiriminya pesan dan membatalkan janji. Jadi dengan kata lain, sore ini Sehun harus pulang sendiri.

Sehun melihat ke luar jendela koridor yang tengah ia lewati begitu mendengar suara gemuruh dari langit, lalu beberapa detik kemudian hujan turun dengan deras. Ia mendesah. Bukan karena ia benci hujan, tapi karena ia harus berbalik lagi untuk mengambil payungnya di loker. Sehun bukan tipe laki-laki yang suka hujan-hujanan dan lebih memilih menyimpan payung di lokernya. Lagipula kalau sakit memangnya ada yang mau menanggung?!

Udara yang panas menjadi sedikit teredam dengan hujan ini. Bahkan dari dalam sekolah pun Sehun bisa mencium aroma tanah basah yang menenangkan. Saat ia sedang menikmati sisi melankonis hidupnya, Sehun tiba-tiba berhenti melangkah. Di ujung koridor, bersebelahan dengan tangga menuju lantai dua, ia melihat Kyungsoo dan seseorang baru saja keluar dari lab biologi.

Kyungsoo berusaha menahan senyumnya ketika Kang Jungwon menyerah dan membiarkannya untuk membawa lembar tugas teman-teman sekelasnya ke ruang guru. Di saat teman-temannya menggerutu tentang bagaimana kerasnya Kang Seonsaengnim, Kyungsoo sibuk menenangkan detak jantungnya setiap mata mereka bertemu. Entahlah. Kyungsoo tidak bisa menemukan sedikit celah untuk tidak menyukai wanita dewasa itu.

“Kyungsoo, sedang apa di sini?” Kang Seonsaengnim terkejut saat mendapati Kyungsoo masih berdiri di depan ruang guru, bersandar di salah satu dinding.

Saem!” Kyungsoo, sambil tersenyum, segera menegakkan tubuhnya ketika Kang Seonsaengnim keluar dari ruang guru. “Apa Saem membawa payung? Di luar hujan deras ternyata.”

“Sebenarnya… tidak—“

“Kalau begitu aku akan menunggu di sini bersama Saem sampai hujannya reda.”

Kang Seosaengnim tidak menjawab. Ia menatap Kyungsoo cukup lama dengan tatapan pias. Kyungsoo, yang tidak menyadari arti tatapan itu, hanya terus tersenyum polos dan perlahan melangkah meninggalkan koridor itu, diikuti dengan Kang Seonsaengnim. Perjalanan mereka menuju pintu masuk diisi dengan keheningan, tapi Kyungsoo sangat menikmatinya. Suara hujan di luar sana menciptakan kehangatan sendiri untuknya.

“Kyungsoo, sampai sini saja.”

“Ya?” Kyungsoo berhenti dan menoleh.

“Suamiku sudah menjemput.”

“Suami?” Kyungsoo berbisik, hampir seperti embusan nafas saja. Mulutnya terasa kaku bahkan hanya untuk bertanya apa maksudnya. Tapi sepertinya Kyungsoo benar-benar tidak memiliki kesempatan. Bahkan sebelum bertanya pun, Kang Seonsaengnim sudah tidak menatapnya dan melambai pada seseorang yang sudah berdiri di samping mobil hitam dengan sebuah payung bening.

Mulut Kyungsoo terkatup rapat, namun matanya terus mengikuti sosok Kang Seonsaengnim. Guru itu tersenyum lebar pada pria-berpayung-bening yang berjalan mendekat ke arah mereka, lalu pergi bersama pria itu.

Kang Seonsaengnim juga pergi dari hatinya.

Mata Kyungsoo mengiringi kepergian mobil hitam itu, masih dalam diam. Tetes air hujan mulai membasahi ujung sepatunya. Haruskah ia membuang perasaan murni yang baru pertama kali ia rasakan ini? Terlebih… apakah Kyungsoo sanggup melakukan itu?

Kyungsoo tidak pernah bisa dekat dengan perempuan manapun, kecuali Junhee dan ibunya. Sebagai anak tunggal dari keluarga super sibuk, Kyungsoo tidak mau menghabiskan waktu untuk mencoba berhubungan dengan siapapun, karena itu merepotkan. Tapi setelah bertemu dengan Sehun dan Junhee—yang memaksanya untuk menjadi teman—berhasil merubah jalan pikirannya. Ia senang berteman dengan dua manusia itu. Dan dua orang itu juga yang mengajarkan Kyungsoo bagaimana bisa melihat dunia dengan cara baru, terutama dalam masalah cinta.

“Kyungsoo!”

Sebuah teriakan menyadarkan Kyungsoo dari lamunannya. Ia tidak sadar kalau sedari tadi ia melangkah, dan sekarang sudah berada di bawah guyuran hujan yang deras. Seluruh tubuhnya sudah basah kuyub, sebelum akhirnya Sehun, dengan payung birunya, datang menghampiri.

“Sehun…” dengan tatapan yang masih belum fokus, Kyungsoo menatap Sehun. Sehun balas menatap Kyungsoo dengan tatapan sendu. Melihat itu pun Kyungsoo yakin kalau Sehun melihat kejadian tadi. “Aku sangat memalukan, kan?” Kyungsoo tertawa pahit.

“Kau boleh menertawakanku.”

“Tidak ada yang bisa memilih pada siapa kau jatuh cinta,” Sehun menatap lurus ke depan. Kata-kata itu sebenarnya juga ditujukan kepada dirinya sendiri. “Dan tidak pernah tahu kalau ternyata merekalah yang menggoreskan luka paling dalam.”

Lagi-lagi Kyungsoo tertawa pelan, namun kali ini ia menertawakan perkataan konyol Sehun. Ia tidak pernah menyangka, orang semacam Sehun bisa mengeluarkan kata-kata seperti itu. Wah… ternyata hujan membawa pengaruh hebat juga terhadap anak ini.

“Hei, bukankah kau sendiri yang bilang, cinta tidak harus memiliki?” Sehun melirik Kyungsoo dari ujung matanya. “Woah! Kalau Junhee tahu kau begini, ia pasti sudah berguling-guling di lumpur!”

Tawa Kyungsoo kali ini berbeda dari beberapa saat yang lalu. Meski tenggorokannya masih sesak, tertawa bersama Sehun membuat perasaannya sedikit meringan. Setidaknya Kyungsoo tidak perlu menangis di depan laki-laki ini. Memalukan!

Akhirnya, setelah keluar dari detik-detik mengharukan, Kyungsoo dan Sehun berjalan keluar dari halaman sekolah. Rumah mereka—juga Junhee—tidak jauh dari sekolah, dan bisa ditempuh hanya berjalan kaki lima belas menit. Sesekali Sehun iseng menyipratkan air ke kaki Kyungsoo ketika temannya itu kembali terdiam. Sehun tidak mau melihat Kyungsoo menangis, karena ia bisa juga ikut menangis. Menangis karena takdir cinta mereka masing-masing yang menyedihkan.

“Jun!”

Sehun berteriak keras, sampai-sampai Kyungsoo meringis sambil menutup telinganya, ketika ia melihat sosok belakang yang dikenalnya. Junhee berdiri di depan palang pintu kereta api yang sedang menutup, di bawah guyuran hujan tanpa lindungan apapun. Melihat itu pun, Kyungsoo dan Sehun mempercepat langkah mereka lalu membawa Junhee dalam naungan payung Sehun.

Kyungsoo menundukkan kepalanya, menyejajarkan wajahnya dengan Junhee. Matanya lalu membulat. “K-Kau menangis?”

“Aku ditolak Jonghyun seonbae. Benar-benar ditolak.” Dengan suara serak, Junhee menjawab, masih sambil menatap ujung sepatunya.

“Jadi kau menangis hanya karena itu?!”

“Tentu saja! Aku ini kan seorang gadis yang berhati lembut!” balas Junhee pada Sehun. Kemudian, ia memelankan lagi nada bicaranya. “Tapi sebenarnya… lebih dari itu. Aku takut untuk menyukai orang lagi.”

Ada jeda beberapa detik yang hanya diisi suara derai hujan. Sebelum akhirnya Kyungsoo dan Sehun mengucapkan kalimat yang sama secara bersamaan. “Tidak ada yang tahu kau akan jatuh cinta dengan siapa.”

Junhee tertawa sambil mengusap sisa air matanya tadi. “Kalian kompak sekali.”

Melihat Junhee sudah bisa tertawa lagi, mau tidak mau Sehun dan Kyungsoo ikut tertawa. Dua kereta api melintas dengan cepat di depan mereka, bersilangan, membuat air hujan yang turun menerpa tubuh mereka karena angin. Dalam suara bising gesekkan roda kereta api dengan rel, ditambah derasnya suara hujan, mereka pun bergantian meneriakan apa yang sedari tadi menyesakkan dada.

“Kang Jungwon, saranghae!”

Dashi yeonhaehago shipda!”

Yeonhaehaja!”

Mencintai bukan suatu pilihan. Dan mereka yakin, suatu hari nanti takdir akan menjawab pertanyaan atas cinta mereka.

 

Tamat

24 tanggapan untuk “[4thYearsEXOFFI] #brokenheartednity – Ziajung”

  1. Demi apa ini keren banget, Ziajung! Ceritanya ngalir banget ga maksa, biar pun konsepnya patah hati tapi kenapa berasa ikhlas aja gitu kalo alur dan endingnya jadi begitu, persahabatan mereka kek ideal XD

    Dari awal aku udah dibuat ngakak dengan “Otak Sapi” berpikir seberapa bengalnya Sehun dan ga sukanya dia dengan plaster bunga-bunga, baca ini berasa kek anak sekolahan banget suasananya juga hidup didukung penggambaran latar juga karakter para tokohnya 😀
    Ini kek penggambaran kisah cintanya remaja yang mungkin bakal buat beberapa pembaca, termasuk aku tentunya mikir “kok berasa ceritanya aku banget ya pas di sekolah?”, yah tentunya ga sama persis tapi sedikit banyaknya nyerempet lah :v

    Dan kalau disuruh milih, cerita ini favoritku ❤
    Lebih-lebih summary ini, "Mencintai bukan suatu pilihan. Tapi sakit hati juga bukan hal yang bisa ditentukan. Dan mereka bertiga selalu mengalami penyakit hati kompilasi karena cinta bertepuk sebelah tangan."

    Semangat dan selamat! ^^)9

    email : hannianizza@gmail.com

  2. Halo, Ziajung selamat yah udah jadi nominasi ff favorit 😀

    Baca summary-nya dan ah, kayaknya aku bakalan suka. Masa SMA emang zaman paling bergairah untuk menikmati patah hati akibat cinta yang cuma melibatkan satu hati.

    Alurnya ngalir banget, aku menikmati saat baca kata per katanya. Sederhana tapi ngena.
    Penokohannya juga pukul rata. Aku nggak ngerasa ada yang lebih menonjol dari Sehun, Kyungsoo ataupun Junhee. Pembagian porsi cerita mereka masing-masing pas aja buat aku.

    Sayangnya aku udah sempet nebak kisah cintanya Kyungsoo. Walaupun begitu efek puasnya nggak berkurang sih.

    Ada beberapa typo dikit misalnya :

    Nafas ~> Napas
    Kuyub ~> Kuyup

    Terus aku agak ganjel sama kata ‘kompilasi’ aku umumnya denger di album yah hehe kalau menurut KBBI artinya gini :

    kom·pi·la·si n kumpulan yg tersusun secara teratur (tt daftar informasi, karangan dsb)

    [Dan mereka bertiga selalu mengalami penyakit hati kompilasi karena cinta bertepuk sebelah tangan.]
    Jadi, mungkin kata kompilasi di sini macem gabungan gitu kali yah? Sakitnya ngegrup gitu atau kompakan?

    Karena awalnya kukira ini typo tapi kayanya bukan. Jadi, maknanya mungkin macem itu.

    Awal, tengah, akhir top. Ayo kita sama-sama terus belajar tekik nulis yang baik biar karya-karya kita ke depannya makin cantik. Kalo ada yang keliru, mari saling mengingatkan. Semangat terus buat menulis. Sukses dan semoga menang, Kak 😀

    simbak1016@gmail.com

  3. ‘daripada gadis-tak-kasat-mata-yang-berteman-dengan-dua-laki-laki-tak-kasat-mata-pula ini’ Jujur ini bikin ngakak 😂 ‘Lagipula kalau sakit memangnya ada yang mau menanggung?!’ Jones sih bang.. 😂 yg “Tidak ada yang bisa memilih pada siapa kau jatuh cinta,Dan tidak pernah tahu kalau ternyata merekalah yang menggoreskan luka paling dalam.” oh my god… kata” inu beneran kaya kisah hudupku.. T.T /mewek ff ini, awal” sempet agak bingung, /maapkandirikuthor dan kurang greget menurutku/maapkan lagi kakk.. T.T tapi ending” oh my godd… keren bangedd.. >< kisah persahabatan antara sehun dio pas mereka pulang dari sekolah di bawah guyuran hujan waktu sblm bertemu sama yg oc, itu kerasa banged persahabatan mereka, kaya" itu nyata, dan waktu ketemu jun, oh my goddd.. mereka … kisah cinta mereka untuk yg kali ini berakhir menyedihkan aww… T,T pokoknya, sukses selalu buat kakak yapp.. !! ^^ keep writing thor!! Fighting!!! ^^

  4. Sel kulit bawang wkwkwkw junhee sini kucium kamu pake pantat pancinya kyungsoo.

    oke, kembali ke komen.

    Boleh koreksi sedikit? Di bagian ini “Ha-ha, lucu sekali, sampai rasanya aku ingin mencabuti bulu hidungku sendiri.” Ucap Sehun, → setelah kata sendiri seharusnya pake koma dan kata ucap diawali huruf kecil jd gini → “Ha-ha, lucu sekali, sampai rasanya aku ingin mencabuti bulu hidungku sendiri,” ucap Sehun (cmiiw) aku juga masih belajar soalnya😂😂

    satu lagi, kata baku dari nafas adalah napas.

    overall, ffnya menghibur bangetttt dan entah kenapa dari ketiga jones di atas yg paling mengenaskan adalah kyungie menurutku wkwkw GEBETANNYA UDAH PUNYA SUAMI ASTAGA… SU-A-MI (oke stop ngalay di komen orang)

    CONGRATULATION AND GOOD LUCK!

  5. Hahaha d blg koplak y koplak
    D blg ngenes y ngenes
    Y tp bgtu lahh persahabatan hrs saling menguat kan
    Jd kangen kumpul2 bareng sahabat
    #gknyambungamaffkomenny

  6. Hula kak Ziajung! Congrats btw udah masuk finalis ff favorit yeaay!

    Di sini aku mau memberikan kritik juga saran ya kak, semoga bisa diterima dan apabila ada hal-hal yang kurang berkenan aku minta maaf yaa.

    Secara keseluruhan baik tema, alur, summary, sampai eksekusi aku menikmati banget. Kakak bisa dengan mudahnya memberikan kisah yang ringan juga dekat dengan kita terkait cinta yang bertepuk sebelah tangan dan pesan moral yang mendalam soal percintaan.

    Namun, aku masih menjumpai penggunaan elipsis yang kurang tepat, kak. Contoh :
    – Terlebih… apakah Kyungsoo sanggup melakukan itu? >> Terlebih … apakah Kyungsoo sanggup melakukan itu?
    – “Jun, sebenarnya aku tidak tega mengatakan ini, tapi…” Sehun menunjuk jendela kelas satunya lagi >> “Jun, sebenarnya aku tidak tega mengatakan ini, tapi …. ” Sehun menunjuk jendela kelas satunya lagi

    Selebihnya aku suka kok kak! Semoga selanjutnya kakak bisa menghasilkan karya yang lebih baik lagi. Akhir kata, aku mohon maaf sekali lagi jika ada yang kurang berkenan ya kak. Semangat kakkk!!!

    Email : whitearmor908@gmail.com

  7. suka deh, bahasanya ga belibet tapi intinya tetep kena. alurnya juga terasa nyata. feel ‘soulmate’-nya dapet walaupun mereka jomblo semua (ngenes pula) wkwk:(

    ga ngerti harus komen gimana lagi padahal biasanya aku bacot. abisnya dari segi teknis ga ada masalah sih, udah rapi, ga ada typo.

    oke segitu aja. keep writing ya! 🙂

    p.s. junhee kenapa selalu kubaca junhoe
    p.s.s. aku kepikiran junhoe…
    p.s.s.s. ok forget it, have a nice day!

  8. Hahahaha, mereka jadi jones semua di sini, ku kira si junhee (Oc) bakal sama sehun, eh ternyata, mereka tetep jones bersama-sama 😂🔫😂🔫😂🔫
    Aduh bang sehun, kalo jones jangan ngajak2 juga dong bang 😂🔫😂🔫😂🔫
    Keep writing kak ^^

    From,
    Cantikapark

  9. “Sudahlah… mencintai tidak harus memiliki.” kyungsoo eomma emg bijak^^

    “Sel kulit bawang!” aigoo., kirain bneran ehh taunya#pout aku ktipu..hihi

    “Ha-ha, lucu sekali, sampai rasanya aku ingin mencabuti bulu hidungku sendiri.” hahahaha., bneran deh kak aku ngakak pas bca yg ini.,kkkk

    “Tidak ada yang bisa memilih pada siapa kau jatuh cinta,” wuohhh., sehun oppa bisa ngucapin kek gitu juga yah 🙂
    Kyungsoo, junhee jg sedih deh.. Senyum aja^^

    Mencintai bukan suatu pilihan. Dan mereka yakin, suatu hari nanti takdir akan menjawab pertanyaan atas cinta mereka.
    Yapss kakk bner banget 🙂
    Duh maaf kak coment ku terlalu panjang^^v

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s