[4thYearsEXOFFI] Tattoos & Flying Tampon – Autumnder

Tattoos & Flying Tampon-Poster

  • Title: Tattoos & Flying Tampon
  • Writer: Authumnder
  • Genre: Slice of Life, Comedy
  • Rating: Teen

Summary: Xi Luhan punya seribu masalah dan Cewek Tampon—atau haruskah Luhan menyebutnya sebagai ‘Belahan Jiwa’?—adalah salah satunya. Tapi omong-omong, apa yang kau harapkan dari mahasiswa akhir yang sedang kena serangan gila saat bertemu jodohnya? Yap, benar, ia melarikan diri.

TATO itu akhirnya muncul ketika Luhan menginjak usia sembilan belas, saat-saat di mana hal seperti soulmate kehilangan sisi romantisnya (justru meninggalkan sebuah tulisan tidak jelas yang sukar hilang dari tubuhnya), saat-saat di mana mengobrolkan belahan jiwa kedengaran terlalu naif dan tolol, saat-saat di mana Xi Luhan sudah nyaris dewasa dan orang dewasa tentu tidak repot-repot meluangkan waktunya untuk mencari jodoh hanya dengan bekal sebuah tato jelek di bagian tubuh.

Semua orang punya tato itu, Luhan tahu, siapa pun dan di mana pun pasti akan mendapatkan tanda itu saat waktunya tiba, katakanlah di usia pubertas atau sesudahnya—tapi sesungguhnya, Luhan tidak peduli. Kehidupan kuliahnya benar-benar berantakan dan ia bahkan tidak punya waktu untuk memberi perutnya makanan sehat lima sempurna, jadi apa yang Tuhan harapkan saat memutuskan untuk memunculkan tato itu? Well, apa pun itu harapannya, Luhan tentu tidak akan mewujudkannya—paling tidak untuk saat ini.

Namun tetap saja, meskipun ia mengaku tidak berniat sama sekali untuk mencari tahu siapa jodohnya, Luhan mau tidak mau tetap tertarik akan tulisan di tato yang muncul itu. Tampon. Yap, benar, cuma itu—dan kalau-kalau kau belum tahu apa itu tampon, Luhan dengan senang hati akan menyarankanmu untuk mencarinya di Google atau di apotek terdekat. Ia sendiri enggan menjelaskan, waktunya bakal tersita banyak kalau ia diharuskan melakukannya. Kembali ke tato tadi; guratan itu muncul di sisi kanan perutnya, huruf-hurufnya mungil dan bewarna hijau kebiruan—terlihat seperti tato buatan yang umurnya sudah tua.

Hmm… mungkin sedikit penjelasan dibutuhkan di sini, bukan begitu?

Di dunia tempat Xi Luhan hidup, Tuhan punya cara mudah untuk mempertemukan manusia dengan belahan jiwanya (ini deskripsi termudahnya, meski Luhan harus mengerutkan keningnya dengan jijik saat kata belahan jiwa disebut-sebut), yaitu dengan memunculkan tato-tato abadi di bagian tubuh tertentu (setiap orang berbeda). Tato tadi bukan gambaran biasa, dan kau tidak bisa memalsukannya—tato itu punya makna yang sangat penting di balik tulisan-tulisannya (sulit mencari arti penting dibalik ‘tampon’, tapi Luhan berusaha berpikiran positif). Guratan itu menunjukkan apa yang akan dikatakan belahan jiwa-mu padamu kali pertama kalian bertemu. Jadi, kata pertama yang akan diucapkan jodoh Luhan adalah… well, tampon.

(Luhan tahu ia harusnya bersyukur karena tatonya tidak menunjukkan tulisan superbiasa semacam ‘hei’, halo’, atau ‘siapa namamu?’ karena, tentu saja, banyak sekali orang yang mengatakan itu padanya.)

Sekarang Xi Luhan berusia dua puluh satu tahun dan ia sudah nyaris lupa akan tato-belahan-jiwanya itu. Saking lupanya, ia bahkan tidak berpikir tentang hal itu sama sekali ketika seseorang berteriak di balik bahunya,

Tampon! Hei, awas tampon!”

Oke, mungkin hal barusan kedengaran lucu sekali keluar dari mulut seorang mahasiswi di kampusnya, tapi jadi tidak lucu sama sekali kalau jeritan cewek itu memang benar dan, kejutan!, sebuah tampon memang tengah melayang di depan matanya.

Luhan tidak tahu harus berkata apa, bahkan ketika benda itu akhirnya jatuh di kakinya. Ia terlampau terkejut untuk mengumpulkan kesadaran lagi, jadi sebaliknya, ia mendongak untuk mencari tahu siapa pelempar tampon itu.

Di depannya, cewek tadi berlarian dengan amat cepat dan tergesa-gesa—kalau saja mulutnya sedang tidak menggumamkan sesuatu yang kelihatannya seperti ‘sialan, sori, sialan’, Luhan pasti akan mengira kalau perempuan itu tengah iseng berlari maraton.

“Sori—Ya Tuhan, aku sungguh minta maaf. Aku tidak sengaja melemparkan—” gadis itu memberi isyarat dengan matanya ke tampon yang tergeletak pasrah di kaki Luhan. “—itu ke padamu. Aku bersumpah itu murni ketidaksengajaan, atau…”

Saat itulah kesadaran menghantam Luhan. Tampon. Kata pertama yang diucapkan orang asing itu adalah tampon. Kata yang sama yang ada di tato di perut bagian kanannya. Ganti Luhan yang heboh, dengan refleks menggemborkan, “Tragedi!”

Seruannya itu memotong penjelasan terburu-buru pelempar tampon tadi, sepertinya, karena gadis itu langsung terdiam dengan kening berkerut dan bertanya, “Apa?”

TRAGEDI!” Luhan berteriak lagi, kali ini mengentakkan kakinya ke permukaan tanah (tentu saja untuk mendramatisir keadaan yang bahkan sudah dramatis sebelum ia melakukannya).

Mahasiswi dengan kuncir kuda itu terdiam sejenak, memutar otak mengira-ngira apakah itu dari kejadian barusan yang membuat cowok di depannya gila tapi kemudian bohlam kecil menyala di atas kepalanya dan ia ikut berteriak dengan heboh.

Ya Tuhan.

Kekacauan itu akhirnya terhenti (untuk beberapa saat) setelah pandangan menyelisik dari mahasiswa yang berlalu-lalang jatuh ke mereka berdua.

Luhan berdeham, berusaha menetralkan suaranya yang tiba-tiba serak (yah, well, tidak diragukan lagi, mengingat ia memekik selama satu menit penuh). “Oke… um, tragedi.” Ujarnya, tidak yakin mengapa ‘tragedi’ sepertinya adalah satu-satunya kata yang ada di kepalanya sekarang. “Tampon. Itu kata pertamamu untukku, ‘kan?”

Lawan bicaranya menggaruk kening dengan rikuh sebelum akhirnya mengangguk. “Um.. yep. Dan kata pertamamu untukku adalah… tragedi, ‘kan?” katanya.

Barulah Luhan menyadari bahwa ia tidak bisa menghadapi kompleksitas ‘Belahan Jiwa’ itu saat ini. Tidak ketika tugas akhir semesternya belum juga terselesaikan dan ia masih harus menghabiskan sekitar empat tahun lagi merevisinya agar sesuai dengan ekspektasi dosen. Juga tidak ketika kepalanya berdentam dengan keras di balik tempurung kepalanya. Jadi, mengikuti insting, Luhan memutuskan untuk melarikan diri.

Xi Luhan tidak percaya ia melakukannya—minggat dari hadapan soulmate yang baru ia temui, maksudnya. Ia tidak percaya ia benar-benar kabur dari gadis itu, bahkan setelah ia menyadari cewek asing itu tengah tersenyum menatapnya. Ia tidak percaya dirinya kapabel melakukannya, menyakiti hati seseorang yang seharusnya eksis di dunia ini untuk menemaninya. Tapi apakah Luhan menyesalinya? Apakah hatinya ikut-ikutan sakit melihat ekspresi terperanjat gadis itu saat kaki-kakinya melangkah lebar-lebar menghindarinya?

Tidak.

Oke, well, tidak terlalu. Fine, Luhan ikut-ikutan sakit melakukannya, tapi pilihan apa yang ia punya? Ia masih tidak menduga kalau Tuhan akan mempertemukannya dengan sang jodoh hanya dalam jangka waktu dua tahun sejak ia pertama kali menyadari tatonya. Apa, sih, yang tengah Tuhan pikirkan ketika Ia menetapkan cara Xi Luhan bertemu dengan soulmate-nya? Tampon? Tragedi?

Lucunya, Luhan pikir Tuhan agak sedikit romantis karena telah memberikan kata berawalan sama untuk ia dan cewek itu.

Berhenti berpikir, Demi Tuhan! Luhan memaki dirinya sendiri, sekali lagi, setelah menyadari ia menghabiskan waktunya dengan melamun alih-alih mendengarkan penjelasan dosennya di depan. Ia tidak seharusnya melakukannya, sebenarnya, karena dari semester awal kemarin, tidak pernah yang namanya Xi Luhan tidak melamun di kelas ini. Tapi tetap saja, Luhan merasa bahwa ia harus melanjutkan hari ke-6 setelah pertemuannya kemarin dengan baik-baik saja, karena kalau tidak, gadis itu pasti akan menertawainya, ya, ‘kan? Well, mungkin tidak, tapi ia tahu kalau Cewek Tampon (Luhan bersikeras untuk menjauhkan mulutnya dari menyebut belahan jiwa, jadi karena ia belum juga mengetahui nama si gadis kemarin, ia memutuskan untuk menjulukinya begitu. Plus, nama itu tidak terlalu jauh dari kenyataan, bukan? Bagaimanapun, cewek itu memang melempar sebuah tampon—yang syukurlah masih dalam keadaan baru—ke bahunya kemarin!) pasti marah terhadapnya. Luhan sendiri akan sangat terkejut kalau ia tidak marah.

“Bisakah kita bicara?”

Ini hari kesepuluh dan Luhan tahu ada yang salah dengannya kalau ia belum juga mampu menghapus bayang-bayang Cewek Tampon. Ia berusaha keras mengubur kenangan itu dalam-dalam—kalau bisa melupakan tato, tampon, tragedi, dan gadis itu sekalian—tapi sepertinya keadaan sedang tidak berpihak kepadanya.

Jadi inilah yang ia lakukan sekarang: berkunjung ke Fakultas Bahasa tempat Cewek Tampon sepertinya menuntut ilmu (kemarin Luhan menangkap sekelebat gantungan kunci fakultas itu di tas belahan jiwa-nya) dan bersyukur karena berhasil menemukannya di kantin fakultas tanpa harus memanjat naik ke lantai dua, tiga, dan seterusnya terlebih dulu.

Seseorang yang mendengar ucapan Luhan mendongak, “Um, sori, tapi kau bicara pada siapa?”

Luhan mengutuki dirinya sendiri karena melupakan kenyataan penting kalau, sialan sialan sialan, ia masih juga belum mengetahui nama Cewek Tampon. Ia berusaha keras untuk tetap tersenyum saat menunjuk cewek itu.

“Zhao Jei, kau dipanggil, tuh.” Seorang anak perempuan lain di meja Cewek Tampon berkata, mungkin merasa tidak nyaman lantaran Luhan masih berdiri di sana meski pertanyaannya jelas-jelas diacuhkan. “Jei!”

(Aha! Namanya Zhao Jei!)

Cewek Tampon sendiri tetap menunduk menatap piringnya, menolak diajak berkomunikasi.

Temannya yang lain ikut menimpali, “Sudah sana, Jei! Kau sendiri yang kemarin bilang ingin kesempatan kedua, ‘kan? Kau juga bilang kalau kau ingin diberi waktu untuk menjelaskan kalau penampilanmu kemarin sangat berantakan dan kalau kau bisa terlihat jauh lebih cantik ketimbang—” pernyataan panjang-lebarnya terpotong ketika Zhao Jei melotot dan mendekap mulutnya.

(Luhan sendiri berusaha keras meredam tawa yang hendak keluar. Ia merasa berdosa sekali karena telah menghancurkan kepercayaan diri Jei dengan meninggalkannya begitu saja, membuat gadis itu mengira Luhan kabur karena tidak senang dengan penampilannya.)

Jei lalu bangkit dan menarik tasnya, berkata dengan ketus, “Baiklah, ayo!”

Luhan mengikuti langkah-langkah tergesa Jei, membiarkan gadis itu memimpin jalan mereka berdua (plus berharap kalau Jei bakal memilih tempat yang sedikit lebih sepi dari kantin).

“Aku tahu aku harusnya marah padamu, apalah itu dengan sikap pengecutmu yang kurang ajar itu, tapi sebelum melakukan keinginanku yang itu, aku punya sesuatu yang ingin kukatakan lebih dulu.” Jei langsung berkata—bahkan sebelum Luhan sempat menarik napas lega setelah perjalanan mereka berhenti di bagian belakang bangunan fakultas. Ia menarik napas dalam-dalam, lantas membuka mulutnya kembali. “Kemarin itu, aku tahu aku kelihatan jelek sekali dengan tampon-tampon itu, aku sedang berusaha mengeluarkan buku teks Bahasa Inggrisku dari tas tapi benda itu ikut-ikutan dan karena kesal aku akhirnya menyentakkannya dan jadilah tampon itu melayang dua meter ke arahmu.”

Dengan ragu Luhan merespons, “O…ke.”

Zhao Jei menghela napas lagi. “Aku ingin menjelaskan bagian itu kemarin, tapi kau keburu minggat. Omong-omong, aku belum sepenuhnya memaafkanmu. Tapi mungkin kejadian kemarin salahku juga, apalah itu dengan dandananku yang superberantakan. Sekarang juga, sih,” ia menatap celana jins biru dan sweter putihnya (Luhan tidak bisa tidak ikut memandang—dan ia tidak bisa tidak ber-ooh-aah dalam hati setelah menyadari kalau Zhao Jei, syukurlah, tidak bisa dibilang jelek). “Kenapa, sih, kau selalu muncul saat aku tidak berdandan?! Lupakan. Poinku di sini adalah, aku mungkin akan memaafkanmu kalau alasanmu kabur kedengaran masuk akal. Aku bahkan akan menerimanya kalau kau berkilah bilang kalau kau lupa mematikan kompor.”

Pernyataan terakhir Jei membuat Luhan tersentak. “Um, tidak kusangka kau sosok yang rendah hati.” Komentarnya tanpa sadar, lalu segera meralat ketika Jei menjengitkan sebelah alis lagi. “M-maksudku, kukira aku akan menghabiskan hari ini dengan mengejarmu ke sana-kemari untuk meminta maaf… tak kusangka kau ingin memaafkanku.”

“Bukan ingin,” Jei menyela dengan galak, “tapi mau. Bedakan sendiri keduanya. Plus, aku tahu amarahku tidak akan bertahan lama, aku sudah lama menunggu saat-saat aku akan bertemu denganmu, sebenarnya. Bukannya aku tahu kalau soulmate-ku adalah kau, maksudku.” Pipi Jei sudah sewarna tomat selesai ia mengatakannya. “Anyway, kau belum menjawab pertanyaanku soal alasanmu kabur.”

Sebelah tangan Luhan refleks terangkat untuk menggaruk kening. Ia bingung, tapi tak punya pilihan lain. Jadilah Luhan akhirnya mengatakan yang sejujurnya—soal kewajibannya untuk lulus tahun ini karena orangtuanya mengancam akan berhenti mengiriminya uang bulanan kalau skripsinya ditolak lagi, soal ketakutan tidak bisa fokus mengerjakan tugasnya kalau ia terlampau sibuk menjalin hubungan, juga bahwa masalah kaburnya tidak ada sangkut-pautnya sama sekali dengan penampilan Jei atau ketidaksukaan Luhan akan Jei. Bahkan, Luhan menambahkan fakta baru kalau ia sebenarnya menganggap Jei sangat manis. Di akhir pidato panjangnya, tidak ada lagi kejengkelan atau kerutan kening tersisa di wajah Zhao Jei.

“Permintaan maaf diterima,” gadis itu berkata riang dengan wajahnya yang bersemu pink. “Jadi?”

Butuh hitungan satu hingga lima sampai Luhan memahami maksud ‘jadi?’ yang barusan lawan bicaranya tanyakan. Dan, Luhan bersumpah, ia tidak akan membuat Zhao Jei kecewa sekali lagi dengan ketidakresponsifannya.

“Jadi,” Xi Luhan menyahut dengan senyuman lebar di bibir, “ayo berkencan.”

fin.

 

24 tanggapan untuk “[4thYearsEXOFFI] Tattoos & Flying Tampon – Autumnder”

  1. iissh dan aku baru ngeh dan langsung tancap gas apa artian tampon, dan ternyata artinya iiissahh bikin mrinding bacanya aku kwakwkwk :v #kagetjuga dan baru tahu, karna bikin penasaran

  2. Halo, Authumnder selamat yah udah jadi nominasi cerita favorit 😀

    Aku nggak tau tampon itu kayak apa tapi setelah aku tau, oh ternyata aku baru pertama kali liat. Oke, kayaknya aku emang manusia produk masa lalu.

    Cara kak Authumnder nulis juga enak buat diikutin. Kata per katanya asik banget. Walau begitu, aku bener-bener kabur soal setting-nya. Kampus. Oke. Tapi sebenernya mereka hidup di dunia yang kayak gimana? Dunia yang jodohmu ditentukan oleh tato, kenapa bisa gitu? Aku nggak nangkep maksud bagian itunya. Mungkin ini karena faktor internalku aja sih atau kalau ada penjelasan lebih soal tempat mereka hidup jelas bakal sangat ngebantu banget buat mendalami ceritanya.

    Dan di luar masalah itu, entah itu alurnya, gaya bahasanya, selera aku banget sih secara pribadi. Jadi, nyaman aja bacanya. Ah, aku juga ngefans deh sama karakter Luhan di sini. Dia kesannya nyenengin, agak comedic pula.

    Typo? Paling tanda elipsisnya aja sih kadang titiknya ada yang cuma dua, ada yang kurang spasi saat sebelum dan sesudah (…).
    Selebihnya aku menikmati banget, karya kakak keren.

    Selalu berkarya yah, Kak. Semangat terus dan maaf kalau ada yang agak nyinggung atau gimana. Aku nggak maksud kok. Semoga menang yah 😀

    simbak1016@gmail.com

  3. Ketika disaranin luhan cari di google apa itu tampon, dengan begonya aku beneran nyari di google, dan entah mengapa nyesel stlhnya, :’v (tentu saja untuk mendramatisir keadaan yang bahkan sudah dramatis sebelum ia melakukannya). Lol 😂 baca ff ini serasa kek baca novel terjemahan lol, 😂 seriously, bahasnya ini keren banged, agak bingung, saking kern bahasnaya, tapi yg ku tahu, luhan disini kaya pada akhirnya dia mendapatkan belahan jiwanya yg ya.. bisa dikatakan kaya sama dengan tatto di perut sebelah kanannya, jadi seakan itu uda takdir mereka di takdirkan bersama, am i right? 😂 aku kurang nangkep maksudnya soalnya kak /maapkandiriku T.T bahasnaya kayanya terlalu berat untukku, :” meskipun aku setelong nge single 15tahun ini.. *eh oke abaikan kak, 😂 maapkan diriku kak, :”” yg pasti sukses selalu buat ff kakakk yang lainnya, keep writing kak!! Fighting!! ^^

  4. Halo Authumnder, sepertinya aku bakal segera jadi salah satu penggemarmu kalau terus disuguhi komedi apik begini kkk~
    Well, kesan pertamaku saat baca kek lagi baca teenlit yang bahasanya ringan dan dialognya ga terlalu kaku, tapi bikin candu gitu, gimana sih bilangnya :’v

    Ketemu kalimat ini “Luhan mau tidak mau tetap tertarik akan tulisan di tato yang muncul itu. ” nalar aku sih langsung nangkepnya semacam magis dan scroll up lagi ke atas tapi ga menemukan genre fantasy di sana apalagi setelah masuk ke kalimat “Di dunia tempat Xi Luhan hidup.” aku rasa jadi melangkah ke fantasy deh, CMIIW ^^v

    Ketika baca judul “Tampon” dan mengenai tato tampon, bersyukur itu tatonya dalam bentuk tulisan kan ya? Bukan wujudnya :v
    Mengenai summary, aku pikir itu menarik karena aku ngerasa ada sesuatu yang menggelitik di sana dan bikin penasaran kembali lagi ke si tampon yang bikin seorang Luhan melarikan diri, aelah si tampon bikin salah fokus ~
    Pas aku baca ceritanya malah berasa singkat banget, berasa baru baca awal paragraf tau” udah sampai ke ajakan kencan, mungkin sesuai kalimat “cerita bagus bikin kamu lupa waktu” ~

    Intinya aku suka bagaimana dialog-dialog dalam cerita ini agak ga biasa dan gokil menurut aku.
    Mau ngakak sejenak seandainya aku hidup di dunianya Luhan semoga yang muncul bukan tato bertuliskan “Damaged” di jidat atau “HAHAHAHA” di bahu, ngeri dibacok Harley Quinn euy XD

    Keep writing, authornim!

    email : hannianizza@gmail.com

  5. haloooo salam kenal!

    firstly, lemme say congratulation! Selamat karena udah masuk nominasi ff favorit dan aku doakan yg terbaik buat kamuuu

    sebenernya aku mau tanya, kenapa kamu menggunakan ‘tampon’ untuk ff ini? bukannya bermaksud apa apa, hanya penasaran aja ehehehe.

    diksinya mah udah senpai lah ya aku ga berani utak-atik😂😂 tapi ada yg perlu aku koreksi di bagian ini; “Oke… um, tragedi.” Ujarnya. → setauku (cmiiw) itu di belakang kata tragedi pakenya koma, bukan titik, trs kata ujarnya diawali huruf kecil jd gini → “Oke… um, tragedi,” ujarnya. Bukan bermaksud menggurui atau apa, hanya berbagi yg aku tau aja😁

    Sama di genre, akan lebih baik slice of lifenya diganti dengan fantasy karena dari awal yg pertemuan jodoh dgn tato itu ga ada di dunia nyata (seandainya itu beneran terjadi mungkin jomblo di dunia ini berkurang populasinya😂)

    Lastly, nice ff!

  6. Jujur, aku masih belum paham apa itu ‘Tampon’ dan males nyari di mbah google meskipun tadi disuruh luhan /digampar luhan atau author(?)/ plak 😂🔫😄🔫😂
    Tapi yg jelas, bahasanya Bagus, dan sepahamku cerita ini itu bicarain tentang si belahan jiwa luhan yang bilang ‘Tampon’ dan belahan jiwa si cewek yg punya tatto itu. Mereka seperti keiket dalam benang merah tadir /eaks eaks 😂🔫😂🔫/ dan itu buat aku obesitas karena saking fluffy nya :”

    From,
    Cantikapark

  7. pertama baca, aku ngerasa kaya baca novel terjemahan karena bahasanya emang cukup berat untuk otakku hehe. tapi semakin ke sini semakin dapet feelnya dan aku suka penggambaran watak dan latar dari kakak author.

    untuk teknik penulisan dll kayanya ga ada masalah. aku ga liat typo, tulisannya juga rapi. cuma, aku sebenernya aku gak terlalu nangkep feel comedy-nya di sini. baru sadar ini genre comedy pas scroll lagi ke atas. saranku mungkin bisa diganti jadi romance atau fantasy.

    gitu aja sih dari aku, maaf kalo ada salah. keep writing ya! 🙂

  8. Kakk., maaf nih ya boleh tau kalo Tampon itu apa yah, aku dari tadi mikir tpi gx tau deh itu apa..hehehe

    “Kenapa, sih, kau selalu muncul saat aku tidak berdandan?!” ehh jei kok gtu..kkk

    “Jadi,” Xi Luhan menyahut dengan senyuman lebar di bibir, “ayo berkencan.” luhan oppa bikin senyum ih 🙂

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s