[4thYearsEXOFFI] The Runner’s Tale – Shin Jiyoo

The Runner's Tale-Poster

Title: The Runner’s Tale

Author: Shin Jiyoo

Genre: Family, Slice of Life

Rating: G

Summary: “Jika kau memang adikku, kau tidak akan menyerah pada kedua kakimu. Kau akan berusaha untuk berlari hingga langkah kita sejajar!”Dialah alasan sekaligus tujuan Baekhyun berlari.

“Jadi, Byun Baekhyun, kau pasti punya alasan yang membuatmu menggeluti cabang olahraga lari pada awalnya, kan?”

Baekhyun menoleh pada siswi yang menjadi pewawancara tersebut, diam-diam kagum juga pada anggota ekskul multimedia sekolahnya. Hebat, mereka bahkan rela menungguku latihan di lapangan sekolah sampai pukul lima sore demi sebuah wawancara! Baekhyun pura-pura berpikir sebelum menjawab, padahal sebenarnya ia sedang membiarkan angin menerbangkan helaian rambut hitamnya yang basah oleh keringat agar terkesan lebih keren. Baru ketika kru di hadapannya mulai terlihat jengkel, jawaban atas pertanyaan tadi keluar disertai cengiran lebar, “Tentu saja aku punya alasan.”

Si pewawancara mengangguk-angguk. Namanya Kwon Seoji, berdasarkan lencana yang tersemat pada seragamnya.“Apa kau keberatan menceritakan alasanmu?”

“Tidak, tentu saja tidak,” jawab Baekhyun santai.Ia mengarahkan matanya ke kamera dan menambahkan, “Tapi, alasanku cukup panjang. Bisa-bisa wawancarasiswa-siswi berbakat ini berubah jadi drama Korea dua puluh episode.”

Seoji tertawa. “Tidak apa-apa, seisi sekolah pasti dengan senang hati menyimaknya.”

“Oke, tapi jangan menyela ceritaku karena itu akan mengurangi efek dramatisnya,” kata Baekhyun. Cengiran super lebar melintangi wajahnya. “Pertanyaan-pertanyaanmu dapat disimpan dulu hingga akhir cerita.”

Setelah mendapat persetujuan Seoji, Baekhyun menarik napas panjang, hendak memulai ceritanya. Sebelum wawancara ini, ia tidak pernah menceritakan alasannya berlari pada siapa pun. Bukan berarti ia menyembunyikannya, hanya saja tidak ada yang pernah bertanya.

Baekhyun menatap lapangan sekolah yang membentang di hadapan mereka. Dibayangkannya sesosok anak laki-laki dengan kaus merah sedang berlari di sana, dan di belakangnya, seolah hanya menjadi bayang-bayang, seorang anak laki-laki yang lebih kecil duduk di kursi roda—statis. “Kakakku,” dimulainya kisah dengan kata itu. Kata yang membuat ekspresinya seketika melembut. “Hyunjae. Dia yang menjadi alasanku untuk berlari.”

“Dulu kakiku tidak bekerja seperti seharusnya,” Baekhyun menepuk-nepuk kedua lututnya. “Sejak kecil, sejauh yang kuingat, aku didiagnosa memiliki otot kaki yang lemah. Ketika anak-anak sudah mulai bisa berdiri dan berjalan di umur satu tahun, aku sama sekali tidak. Aku selalu limbung dan terjatuh.

“Masuk taman kanak-kanak, aku mulai memakai kursi roda. Semua orang selalu menyemangatiku, berkata bahwa aku sama utuhnya dengan manusia normal. Tapi aku tahu itu tidak benar. Manusia normal dapat berdiri, berjalan, berlari dengan kedua kakinya. Tidak peduli betapa mereka berkata bahwa tak apa-apa jika aku tidak bisa menggunakan kakiku, aku tetap membenci keadaanku.

Tawa kecil keluar dari mulut Baekhyun. “Dan di atas itu semua, yang paling kubenci adalah kakakku.”

Bukan hanya Seoji, seluruh kru di sana mendengarkannya dengan seksama. Mata mereka memancarkan rasa penasaran. Tidak ada murid di sekolah yang mengetahui bahwa Baekhyun mempunyai kakak, meski dia sangat populer.

“Hyunjae, umurnya terpaut dua tahun dariku. Semua bajunya berwarna merah, dan dia selalu berlari,” cerita Baekhyun. “Tak pernah dia menyapaku, tak pernah dia membiarkanku bermain bersamanya. Yang dilakukannya hanya berlari hingga kaos merahnya dibanjiri keringat. Tidak peduli di mana pun kami berada, dia berlari seperti bocah kesetanan. Dan aku benar-benar merasa terhina karenanya. Dengan berlari, dia seolah mengejekku tepat di depan mata—seorang adik yang bahkan tidak bisa menggunakan kakinya untuk berdiri.

“Akhirnya, suatu hari ketika aku kelas 3 SD, aku benar-benar muak. Kami berbeda sekolah, dan saat itu Ibu menyuruh Hyunjae untuk menjemputku. Iya, dia memang datang ke sekolahku, tapi dengan suara monoton dia menyuruhku mendorong sendiri roda pada kursiku, lalu dia berlari pergi.

“Sekuat tenaga aku memutar roda. Kupikir dia pulang duluan, tapi ternyata dia menungguku sambil berlari mengelilingi lapangan sekolahku. Aku segera menghentikan kursi rodaku. Aku meneriakkan umpatan yang paling kasar yang bisa diketahui oleh anak SD. Kukatakan pula bahwa aku membencinya.”

Dalam benaknya terulang kembali kejadian itu, anak laki-laki berkaus merah yang akhirnya berhenti berlari. Anak itu menoleh ke belakang, ke arah adiknya. “Jika kau memang membenciku, kejar aku, Baekhyun. Kejar dan tangkap kakiku hingga aku jatuh. Begitu pula jika kau ingin bermain bersamaku, kau harus gunakan kakimu! Jika kau memang adikku, kau tidak akan menyerah pada kedua kakimu. Kau akan berusaha untuk berlari hingga langkah kita sejajar!”

Kalimat itu tajam dan menohok. Membuat si anak laki-laki di kursi roda, dengan air mata mengalir di pipinya dan wajah yang hampir semerah kaus kakaknya, perlahan melepaskan diri dari benda yang selalu menopang hidupnya. Bertekad bulat untuk menyanggupi tantangan kakaknya yang ia benci.

“Apa kau berhasil?” tanya Seoji, tidak kuasa menahan pertanyaannya hingga di akhir cerita.

“Tidak, tentu saja tidak. Keajaiban tidak datang secepat itu.” Baekhyun cengengesan. “Karena sudah lama tidak pernah mencoba berdiri, aku malah membuat kaki kiriku menginjak kaki kananku. Aku langsung jatuh berdebum.”

“Tapi yang mengejutkanku adalah, kakakku tertawa,” kata Baekhyun. “Bukan tawa menghina, tapi tawa yang sempurna muncul akibat kebahagiaan. Dia menghampiriku merangkulkan lenganku di bahunya, lalu memapahku pulang. Ayah dan Ibu memarahinya habis-habisan karena meninggalkan kursi rodaku di sekolah, juga karena memaksaku untuk berjalan.

“Tidak butuh waktu lama bagiku untuk tersadar, selama ini Hyunjae memprovokasiku supaya aku mau berusaha untuk menggunakan kedua kakiku. Dialah yang mengerti keinginan terbesarku—dia sepertisetengah jiwaku yang lain. Dan aku pun berusaha setelah itu, kupatahkan diagnosa dokter bahwa aku tidak akan pernah bisa menggunakan kedua kakiku. Perlahan, aku mulai berhasil berjalan, lalu berlari. Hyunjae masih jauh lebih cepat dariku, tapi aku selalu berusaha untuk mengejarnya. Kakakku itulah yang menjadi alasanku untuk masuk ke dalam cabang olahraga ini,” jelas Baekhyun. Ia menambahkan, “Dan, kalau-kalau setelah ini ada pertanyaan tentang tujuan, tujuanku adalah berlari lebih cepat darinya.”

Seoji bertepuk tangan, kekaguman terpampang jelas di wajahnya. “Baekhyun, sungguh, kisahmu sangat menyentuh,” ia memuji. “Apakah tujuanmu sudah tercapai?”

“Aku tidak tahu.” Senyum Baekhyun tidak mencapai matanya, kentara dipaksakan. Tirai menutup di mata pemuda itu, menghapuskan binar yang seharusnya ada di sana. “Orang tua kami bercerai tak lama setelah aku mulai bisa berlari. Kakakku pergi bersama ayahku ke Seoul. Sejak itu kami hanya berhubungan lewat ponsel.”

“Ah, maafkan aku. Aku turut menyesal atas perceraian orang tua kalian.” Seoji langsung membungkuk. Dia sama sekali tidak menyangka akan mendengar hal ini dalam wawancara mereka.

“Santai saja.” Baekhyun meringis. “Lagipula, kita akan mengetahui jawabannya sebentar lagi. Kami mengikuti turnamen yang sama besok.”

***

            “Iya, iya. Aku sebentar lagi sampai, Baekhyun. Fokuslah pada larimu sendiri!”

Sambungan diputus. Baekhyun menyerahkan ponselnyapada Pelatih Kim sambil tersenyum lebar.Baginya, hanya ada hari ini.Hari yang telah ditunggunya selama bertahun-tahun.

“Kau puas sekarang?” tanya Pelatih Kim. Lelaki paruh baya itumenjentik tengkuk Baekhyun dengan jarinya—tadi Baekhyunmengancam akan memporak-porandakan stadion atletik ini jika tidak diperbolehkan menghubungi Hyunjae sebelum pertandingan.

Baekhyun melompat-lompat di tempat. “Dia belum datang, Pak Pelatih. Bagaimana ini? Bisa-bisa dia terlambat!” katanya, tapi senyum lebarnya belum hilang-hilang juga. Tidak ada yang dapat menghilangkannya untuk hari ini.

Begitu aba-aba berkumandang, Baekhyun sudah siap. Matanya menatap lintasan, setengah mati berusaha tidak mencari-cari wajah kakaknya di antara peserta lain. Fokuslah pada larimu sendiri! Sepuluh kilometerjarak Baekhyun dari tujuannya.Diisinya paru-parunya dengan udara. Ia merasa seperti peluru, tepat sebelum pelatuk pistol ditekan.

Bunyi nyaring peluit terdengar di seluruh penjuru stadion.

Jika kau memang adikku, kau tidak akan menyerah pada kedua kakimu. Kau akan berusaha untuk berlari hingga langkah kita sejajar!

Dan Baekhyun berlari.

Kedua kakinya mantap, menjejak tanah satu setelah yang lain. Semuapesertadengan nomor dada masing-masing juga ikut berlari. Satu per satu peserta dilewatinya, hingga dia berada di urutan ketiga.

Di depannya, seseorang berkaos abu-abu. Memimpin turnamen lari, seseorang berkaos merah.

Demi melihat kaos merah itu, langkah Baekhyun seketika bertambah cepat.Hanya ada satu kilometer terakhir, dan dalam satu kilometer itu Baekhyun harus berhasil menyusulnya. Memenangkan turnamen, mencapai tujuan.

Ia memaksa kakinya untuk lebih cepat lagi. Kakinya yang dulu tidak berguna.

Lebih cepat.

Lebih cepat.

Lebih cepat!

Mereka kini sejajar. Garis finish hanya beberapa meter lagi jauhnya. Baekhyun tidak akan mengalah—dia menerjang maju, mengerahkan segalanya dalam setiap langkah. Angin menampar-nampar wajahnya, otot kakinya seolah akan meledak karena dipaksa lari melebihi kapasitas.

Baekhyun melewati garis finish. Butuh beberapa meter lagi sebelum kakinya dapat berhenti. Keringatnya bercucuran danseluruh tubuhnya gemetar, tapi kebahagiaannya tumpah ruah. Dia mendahuluinya. Dia melesat di depan si kaos merah.

Tanpa memedulikan pelatihnya yang memberinya handuk serta sebotol air mineral sambil mengucap selamat, Baekhyun berbalik ke belakang dan segera menujuHyunjae. Berniat untuk menerjang dan memeluknya.

Hanya saja, itu bukan Hyunjae.

Langkah Baekhyun terhenti, kedua lengannya yang sudah terbentang kembali jatuh ke sisi tubuhnya. Itu orang lain dengan kaos merah—sama sekali bukan Hyunjae. Dahi Baekhyun berkerut. Ia diam di tempat, matanya beralih untuk memperhatikan setiap peserta yang menyelesaikan lari mereka.

Hingga peserta terakhir melewati garis finish, Baekhyun tetap tidak menemukan Hyunjae.

“Heh, Bocah, berani-beraninya kau mengabaikanku.” Pelatih Kimmenghampiri Baekhyun dan meletakkan handuk di kepalaanak didiknya tersebut. Melihat Baekhyun yang tidak bereaksi sedikit pun, Pelatih Kimbertanya dengan heran, “Ada apa?”

Tangan Baekhyun merayap ke handuk yang menjuntai hingga ke bahunya. Perlahan ia mendongak,keterkejutanmelintasi wajahnya begitu menyadari kehadiran Pelatih Kim—seolah dari tadi ia hilang dalam lamunan sendiri. “Eh, tidak ada apa-apa.” Baekhyun meringis.

“‘Tidak ada apa-apa’ apanya?” Pelatih Kim mendengus. “Kau menjuarai turnamen ini dan kau hanya diam? Byun Baekhyun yang kukenal akan menari-narihingga membuat seisi stadion mengira kau kesetanan.”

“Pak Pelatih Kim.”

“Ya?”

“Boleh aku pinjam ponselku?” tanya Baekhyun.

Pelatih Kim memperhatikan Baekhyun dengan seksama. Baekhyun tersenyum, tapi ada sesuatu yang salah dalam senyumnya.Pelatih Kim menghela napas dan merogoh saku celana training, memberikan ponsel Baekhyun.

Logam itu terasa dingin di tangan Baekhyun. “Ayolah. Angkat,” gumamnya sambil menggigit bibir. “Angkat, Bodoh.” Apa Hyunjae membohonginya? Kenapa dia tidak ada di sini?

Mata Baekhyun kembali mencari-cari di sekelilingnya. Tidak, tidak ada Hyunjae. Hanya ada orang-orang yang tak dikenalnya di sini.Tak jauh darinya, seseorangmeluncur di atas kursi roda. Sudut bibir Baekhyun naik, membentuk sebuah senyuman lemah. Dia teringat sosok anak kecil di kursi yang sama.

Senyumnya berubah menjadi keterkejutan sempurna ketika kursi roda itu meluncur ke arahnya. Seolah ingin menjungkir balikkan dunianya, di atas kursi roda tersebut duduklah sosok familiar berkaos merah. Setengah jiwanya yang lain.Byun Hyunjae.

“Kau hebat, adikku.”

Lutut Baekhyun goyah. Mendadak ia lupa caranya berdiri.Takdir pasti sedang mempermainkannya. Hyunjae datang kepadanya di atas kursi roda, tepat di hari ia mengira ia telah berlari lebih cepat dari kakaknya itu?

Baekhyun terduduk di tanahdatar stadion, matanya memandang kosong ke depan. Tungkai bawah Hyunjae hilang. Yang tersisa darinya hanyalah tubuh hingga ke lutut. Tidak ada lagi kaki yang dapat melangkah tegap, yang selalu berlari, yang membuat Baekhyun benci setengah mati.

“Bagaimana mungkin?” tanya Baekhyun begitu menemukan suaranya kembali.

Kursi roda itu mendekat lagi dan berhenti tepat di hadapannya. “Aku mengalami kecelakaan kecil beberapa bulan yang lalu,” jawab Hyunjae lembut. “Kakiku terpaksa harus diamputasi, Baekhyun.” Tangannya terulur, mengacak rambut adiknya.

“Kecelakaan kecil?” Air mata Baekhyun meluap, bulir-bulirnya mengalir lembut menuruni pipi Baekhyun. “Kecelakaan kecil macam apa yang membuatmu diamputasi hingga tidak bisa berlari lagi?!”

“Kenapa kau membohongiku?”cecarBaekhyun tanpa memberikan waktu untuk menjawab. “Kau bilang kau akan mengikuti turnamen ini! Kau bahkan bersikap normalketika aku menelponmu sebelum pertandingan, Byun Hyunjae! Kau—”—membuatku berpikir bahwa aku telah mencapai tujuanku. Membuatku berpikir akutelah pantas menjadi adikmu. SebelumBaekhyun dapat menyelesaikan, kalimatnya telahruntuh menjadi tangisan.

Hyunjae mencondongkan tubuh dari atas kursi roda, menempelkan dahinya dengan dahi Baekhyun. “Aku tahu kau kecewa, tapi aku tidak akan meminta maaf. Karena ini juga bukan yang kumau.”

Mata Baekhyun melebar. “Kalau begitu, berusahalah!” teriaknya.“Kau pasti bisa kembali berdiri! Berjalan! Berlari! Kau pasti bisa mengubah kemustahilan menjadi kemungkinan, seperti yang kau perbuat padaku dulu!”

Kali ini Hyunjae membenturkan dahi mereka. “Sadarlah, aku tidak pernah berbuat apa pun padamu, Baekhyun!” serunya. “Kau yang membuat keinginanmu sendiri menjadi kenyataan.”

“Jika aku bisa, kau pasti bisa membuat keinginanmu menjadi kenyataan juga,” balas Baekhyun keras kepala. “Kau masih ingin menggunakan kedua kakimu, kan? Aku tahu itu.”

“Memang. Tapi, ada garis tipis yang membedakan kenaifan dan pengharapan,” kata Hyunjae. “Dan kau harus mengerti bahwa aku telah merelakan kemampuanku untuk menggunakan kedua kakiku.”

“Kenapa? Kenapa kau merelakannya?” Baekhyun menarik diri dan mengelap wajahnya dengan kaos. “Kakakku yang kukenal bukanlah orang yang mudah menyerah! Ia adalah alasanku untuk berlari, diajuga tujuan—”

“Karena kau.”

Stadion seketika senyap bagi Baekhyun. “Aku?”

“Karena aku tahu adikku akan tetap berlari bahkanketika aku tidak bisa melakukannya.” Hyunjae mengacungkan jempol, matanya membara oleh semangat. Dia terlihat seperti anak berkaos merah yang selalu berlari dan meninggalkan adiknya pada masa lampau.

“Tetaplah berlari, Byun Baekhyun. Kali ini, untuk mewakiliku.”

 

Tamat

 

31 tanggapan untuk “[4thYearsEXOFFI] The Runner’s Tale – Shin Jiyoo”

  1. Halo, Shin Jiyoo selamat yah udah jadi nominasi cerita favorit 😀

    Idenya mateng banget kerasa dari alurnya yang lancar macem jalan tol di hari Senin. Aku suka sama alasannya Baekhyun yang jadi inti cerita ini. Ada perubahan berarti dalam perjalanan karakternya. Ini point utama banget kalau kata aku sih.

    Walau cuma disinggung dalam dialog, chemistry antara Baekhyun sama Hyunjae nyata dan ngena. Kakak-adik yang sama-sama cowok seringnya gengsinya tinggi banget macem Tokyo Tower. Tapi seenggaknya persaingan mereka ini menimbulkan sesuatu yang sehat dan patut ditiru. Tenang, kalau niru ulahnya Baekhyun nggak akan dianggap plagiasi kecuali nyalin ceritanya. Itu haram maksimal.

    Cerita ini juga bersih banget di luar kesalahan sistem yang mungkin bikin beberapa kata jadi gandeng tanpa spasi. Bener-bener minim typo. Cuma sedikit sih, buat kalimat.

    [… Tidak peduli betapa mereka berkata bahwa tak apa-apa jika aku tidak bisa menggunakan kakiku, aku tetap membenci keadaanku.

    Tawa kecil keluar dari mulut Baekhyun. “Dan di atas itu semua, yang paling kubenci adalah kakakku.”]
    Menurutku sih yah, karena ada kalimat keterangan nyempil di situ, mungkin mending dialog di atasnya langsung di akhiri aja pakai tanda petik. Cuma pendapat aja sih.

    Selebihnya aku suka setiap bagian yang ngebangun cerita ini. Cakep.

    Ayo kita belajar teknik nulis terus biar karyanya makin cantik. Mari saling ngingetin juga bila ada yang salah. Sukses buat karyanya, Kak. Semangat terus dan semoga menang yah 😀 🙌🙌🙌

    simbak1016@gmail.com

  2. Halo, Shin Jiyoo selamat yah udah jadi nominasi cerita favorit 😀

    Idenya mateng banget kerasa dari alurnya yang lancar macem jalan tol di hari Senin. Aku suka sama alasannya Baekhyun yang jadi inti cerita ini. Ada perubahan berarti dalam perjalanan karakternya. Ini point utama banget kalau kata aku sih.

    Walau cuma disinggung dalam dialog, chemistry antara Baekhyun sama Hyunjae nyata dan ngena. Kakak-adik yang sama-sama cowok seringnya gengsinya tinggi banget macem Tokyo Tower. Tapi seenggaknya persaingan mereka ini menimbulkan sesuatu yang sehat dan patut ditiru. Tenang, kalau niru ulahnya Baekhyun nggak akan dianggap plagiasi kecuali nyalin ceritanya. Itu haram maksimal.

    Cerita ini juga bersih banget di luar kesalahan sistem yang mungkin bikin beberapa kata jadi gandeng tanpa spasi. Bener-bener minim typo. Cuma sedikit sih, buat kalimat.

    [… Tidak peduli betapa mereka berkata bahwa tak apa-apa jika aku tidak bisa menggunakan kakiku, aku tetap membenci keadaanku.

    Tawa kecil keluar dari mulut Baekhyun. “Dan di atas itu semua, yang paling kubenci adalah kakakku.”]
    Menurutku sih yah, karena ada kalimat keterangan nyempil di situ, mungkin mending dialog di atasnya langsung di akhiri aja pakai tanda petik. Cuma pendapat aja sih.

    Selebihnya aku suka setiap bagian yang ngebangun cerita ini. Cakep.

    Ayo kita belajar teknik nulis terus biar karyanya makin cantik. Mari saling ngingetin juga bila ada yang salah. Sukses buat karyanya, Kak. Semangat terus dan semoga menang yah 😀 🙌🙌🙌

  3. Jadi… ._. Oh my godd…. aku bener” nge fell mau nangis di akhir ini my godd… “Jika kau memang adikku, kau tidak akan menyerah pada kedua kakimu. Kau akan berusaha untuk berlari hingga langkah kita sejajar!” Hingga langkah kita sejajar!! Yakinkah langkah kita akan sejajar kali ini…. begitu baca tamat langsung pikran blank seketika. Oh my godd… ini ga terduga bangedd… si kaos merah yg baekhyun harapkan, ternyata bukan kakaknya, ceritanya bener” bikin awkward banged ini.. T.T kakaknya.. dia awal” kayanya ga terlalu peduli smaa baek tapi nyatanya dia bahkann sbenrnya peduli banged sama baekk…. oh my god.. T.T kakaknya bener” ngertiin baek banged aku ngerasanya disini, >< pokoknya sukses selalau buat ff" kakak, keep writing kak!! Fighting!! ^^

  4. Hai, author-nim, baca kisah ini jujur bikin nyeri-nyeri sedap, first of all aku suka gaya bahasamu, santai, rapi, juga ngalir yang buat aku menikmati bacaannya ga sekedar baca “awal-inti-ending”
    Dan ceritanya bikin sejenak terkenang kisahnya Itachi dan Sasuke di mana ada kalimat, “Kakak itu seperti dinding yang harus dilampaui adik”, kesampingkan itu semua cerita ini bisa aku bayangkan seperti nyata karena Baekhyun di sini seperti nyata, ekspresi dan tingkah laku karakternya juga dapet banget di benakku ~

    Bagian favoritku sendiri :
    Baekhyun menatap lapangan sekolah yang membentang di hadapan mereka. Dibayangkannya sesosok anak laki-laki dengan kaus merah sedang berlari di sana, dan di belakangnya, seolah hanya menjadi bayang-bayang, seorang anak laki-laki yang lebih kecil duduk di kursi roda—statis. “Kakakku,” dimulainya kisah dengan kata itu. Kata yang membuat ekspresinya seketika melembut. “Hyunjae. Dia yang menjadi alasanku untuk berlari.”

    Selebihnya pemaparan Baekhyun akan alasannya bagus biarpun panjang tapi ga berasa kek lagi baca pidato lol~
    Selamat, kamu berhasil menyuguhkan kisah yang menginspirasi dengan cara yang indah, mungkin yang baca bisa sekalian mikir, “Apa kakakku di rumah sana sebenarnya juga begitu? Ga terang-terangan nunjukin perhatiannya, tapi sebenernya peduli.”
    Seperti Hyun Jae, kakak idaman yang berhasil bikin Baekhyun bangkit dalam cerita ini, yah biarpun tragis akhirnya buat dia, tapi senang setidaknya harapan dia direalisasikan Baekhyun untuk jadi seorang juara 😀

    ps : aku sedikit gemas dengan beberapa kata yang nyambung tanpa spasi, mungkin lain kali bisa dikoreksi biar lebih nyaman dibaca ^^;

    email : hannianizza@gmail.com

  5. Halo, Kak. Salam kenal!

    satu kata untuk ff ini; DAEBAK! Pesan moralnya nendang banget. ff ini sarat akan motivasi dan aku memang butuh itu sekarang, so thank you so much karena sudah menulis fanfic ini :’))

    aku ga akan mengomentari eyd ataupun diksi karena aku yakin kakak lebih pro daripada aku.

    udah gitu aja. aku mau peluk byun bersaudara boleh kan?😂

  6. Halo, kak Shin Jiyoo! Sebelumnya aku mau ngasih selamat dulu nih karena ff nya bisa masuk finalis favorit. Yeaaay. Selanjutnya aku mau mengomentari beberapa hal terkait ff kakak ini dan jikalau ada yang kurang berkenan, aku mohon maaf ya kak karena aku sendiri juga masih dalam tahap belajar 🙂

    Dari judul gaada masalah dan nyambung banget sama alur yang kakak tulis di sini. Summary yang dibuat juga bikin aku penasaran banget jadi akhirnya memutuskan untuk baca seluruh cerita ini hingga selesai. Sebenarnya kalau aku katakan, cerita ini hampir sempurna kak! Ceritanya ringan dan kental akan pesan moral di mana kita gaboleh menyerah sama keadaan dan terus memacu diri kita hingga sampai atau bahkan melewati batas namun sayangnya ada beberapa bagian yang rupanya kakak kurang menambahkan spasi.

    Sekian dariku dan sekali lagi mohon maaf jika ada yang kurang berkenan ya, kak! Semoga seterusnya bisa menghasilkan cerita yang lebih baik lagi. Semangat terus kaaak!!

    email : whitearmor908@gmail.com

  7. mantap soul kakak. suka banget deh. speechless aku tu.

    yang jelas idenya keren dan ceritanya sangat sangat menginspirasi. feelnya dapet banget. terus apalagi yak, seketika lupa cara ngebacot…

    keep writing ya! 🙂 aku suka karyamu hehehehe

  8. FF ini bisa jadi inspiratis untuk tidak menyerah pada keadaan. Aaaaahhh….. Aku sukaaa
    Gomapsimnidha:) telah membuat cerita sepeti ini.

  9. Sumpah feelnya dapet banget. Enggak nyangka endingnya bakal begitu. Kebencian yang baek rasain malah jadi pemicunya agar bisa berlari ngalahin sang kakak. Salut juga sama Hyunjae, dia selalu ‘memanasi’ baek agar si baek punya motivasi. Fix ini cerita keren banget. isi pesannya pun dalem banget. Jjang pokoknya!

  10. sumpah feel nya dapet banget, walau gak nangis
    ceritanya keren, semangat baekhyun buat bisa ngalahin kakak nya dan bisa bermain di acungin jempol dehh
    sedih ternyata akhirnya keadaan terbalik, sekarang hyung nya yg gak bisa lari 😥

  11. Demi apa aku baca ini badanku merinding semua? Astaga, sumpah! Ini FF menginspirasi banget!!! Aku suka sama semangat baekhyun sama kebaikan Hyunjae. Astaga! Oh Tuhan, aku gk nangis cuma feel nya dapet. Banget!!!! Badanku merinding semua kak!!!!!!

    From,
    Cantikapark

  12. Huft., demi apa aku nangis kak bca ini 😥
    Perasaan ku campur aduk kak, bner bner nyesek, sedih, senang karna baekhyun menang.
    Banyak kata” yg menginspirasi seseorang untuk tetap smangat dan memperjuangkan sesuatu menjadi yg lebih baik^^

  13. Wow daebak.. ceritanya penuh inspirasi apalagi pda kaliamat”jika kau adikku, kau tidak akan menyerah pada kedua kakimu.kau akan barusaha untuk berlari hingga langkah kita sejajar” kereeeeeennnnnnn

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s