[4thYearsEXOFFI] The Dark Roses – Ken’s

The Dark Roses-Poster

Title : The Dark Roses

Author : Ken’s

Genre : Romance, Drama

Rating : PG 15+

Summary : Keindahan yang diagungkan Tuhan.. adalah keindahan yang terletak pada kedua bola matamu. Keindahan yang membuatku buta akan seperti apa itu cinta.. Apakah itu sebuah Obsesi? Ataukah Ambisi? Atau mungkin.. hanya sebagai pelampiasan hasrat seorang manusia yang haus akan kenikmatan cinta?

Kau tahu? Tuhan memang seringkali tidak memberikan apa yang manusia inginkan. Melainkan ia akan memberi apapun yang manusia butuhkan. Bukankah itu lebih baik?

Pepatah lama yang sama sekali tak berlaku didunia modern yang fana ini.

Dengkuran halus terdengar pada sebuah ruangan bernuansa hijau tosca dirumah megah tersebut. Terbaring seorang gadis yang tengah melakukan aktivitasnya pagi ini, ia sedang mengerang kecil. Meluapkan segala rasa lelahnya setelah bergelut dengan pekerjaan yang melelahkan semalaman.

Gadis itu bangkit dari ranjang minimize tempatnya untuk berbaring sedari tadi. Sesaat ia melirik jam wecker yang bertengger diatas laci.

“Masih pagi..”

Ia kemudian beranjak. Memutuskan untuk beralih menuju dapur yang tak lain jaraknya hanya beberapa langkah dari tempat tidur miliknya. Sengaja ia memberi jeda sesedikit itu agar ketika rasa laparnya menguak, ia hanya akan berjalan beberapa kaki saja untuk mendapatkan sepotong sandwich.

“Lian.. kau sudah bangun?”

Kegiatan Lian menjadi terhenti tatkala sebuah suara berat khas seseorang mendengung di telinganya. Suara itu.. milik seseorang yang amat ia cintai.

“Oppa..” Lian membalikkan badan.

Seseorang yang ia panggil ‘Oppa’ itu menyunggingkan senyumnya, yang harus ia akui lebih mirip seperti seringaian terukir di wajahnya yang berkharisma. Sosok pria itu kemudian menghampiri Lian yang tengah berada di meja dapur. Langkah kaki tegas dengan balutan sepatu hitamnya yang pekat.

“Apa kau tidak bekerja hari ini?” pria itu bersuara. Menanyakan suatu hal dengan nada yang agak lirih.

“Aku akan mandi dulu.. kemudian pergi ke kantor” Lian menjawab pertanyaan pria itu dengan senyuman. Tangan mungilnya terulur untuk membenarkan dasi abu-abu milik sosok didepannya tersebut. Tak lupa dengan kecupan singkat yang mendarat di bibir ranum pria berparas tampan itu.

“Hati-hati dijalan. Sehun oppa..” Lian tersenyum. Begitu juga dengan pria yang ia panggil Sehun oppa itu.

“Hmm..”

“Ibu baru saja pergi..”

“Hmm.. itu lebih baik..”

“Oppa..”

Orang yang baru saja ia panggil menatapnya lamat.“Ada apa? Eum?”

“T-tidak.. aku akan menahan bibirku untuk mengatakannya” Lian terdiam dengan posisi kepalanya yang setengah tertunduk.

“Mengapa begitu?” Pria itu mendelik heran. Ia lalu menyesap kopi hangat ditangannya perlahan.

“eum.. tidak ada, Oppa” Gadis itu mengelak.

“Baiklah.. jika itu maumu” ia berdehem. Kemudian kaki jenjangnya ia langkahkan menuju pintu stainless ruang tamu. Lian mengikuti kemana ia melangkah dan memandang sendu punggung sosok yang berbalut jas hitam tersebut sebelum ia menghilang dan hanya meninggalkan suara kenop pintu yang tertutup rapat.

Klekk..

Bagaimana menurutmu mengenai kisah sosok kedua manusia yang tersambung dalam ikatan saudara. Namun dengan frasa yang berbeda. Kedua manusia yang saling mencintai. Terobsesi. Dan memiliki ambisi untuk saling memiliki. Menentang hak sebagai sepasang saudara dan memilih menjadi sepasang manusia yang ditakdirkan untuk hidup bersama.

Sorot mata hitam dengan pandangan kosong. Tubuh menggigil nyaris tak berbalut baju hangat guna menutupi kulit putihnya. Ranting-ranting pohon Oak berjatuhan disisi jalan. Cuaca di kota Seoul saat ini sedang mengalami keadaan begitu ekstrem. Meskipun matahari telah terbit, namun Kristal-kristal salju yang kemarin malam menebal belum sepenuhnya meleleh. Hembusan napas berat gadis itupun masih mengeluarkan kepulan asap dingin.

Mau tak mau gadis itu harus segera beranjak, sebelum ia mati membeku ditempat itu. Terminal umum tempat ia biasa menunggu Bus bahkan sangat sepi saat ini. Mungkin karena cuaca begitu dingin, jadi orang-orang tak mau keluar rumah bahkan itu untuk bekerja sekalipun.

“Lian!!” panggil seseorang yang tiba-tiba saja datang.

Lian membalikkan badan begitu ia mendapat panggilan tersebut. Mata indah gadis itu berubah menjadi terbuka lebar ketika melihat sosok pria berbadan tegap berdiri dihadapannya dengan memegang sebuah payung putih transparan ditangan. Wajahnya yang tampan itu tampak sedikit pucat, disertai bibir tebalnya yang agak membiru dan tubuh menggigil. Tangannya menyodorkan salah satu payung yang ia bawa ditangan kanannya.

“Yifan?” Lian terkejut.

“Ini .. untukmu” Pria bernama Yifan itu sedikit bergetar saat menyodorkan benda ditangannya. Dan sepertinya, Kadar dingin dalam tubuh pria itu benar-benar telah memenuhi batas yang ada.

“Kau tidak usah repot-repot begini, Yifan.. aku bisa mencari Taxi yang akan lewat disekitar sini” Lian berusaha seramah mungkin pada Yifan yang sungguh-sungguh berharap ingin memberinya tumpangan ke kantor. Terlihat dari raut wajahnya yang begitu khawatir itu.

“Lian..”

“Hmm?”

“Ayo ikut bersamaku kedalam mobil..” Tawar Yifan langsung ke inti

“eoh?” Lian menatap bingung pria bertubuh tinggi dihadapannya.

Kajja.. sebelum salju semakin banyak.. dan kau bisa mati kedinginan disini!”

Yifan menarik tangan Lian keseberang jalan dengan sedikit paksaan. Lian sempat menolak, namun karena genggamannya yang begitu kuat, Lianpun menurut saja. Alasan mengapa Yifan melakukan hal tersebut sebab ia tahu bagaimana sifat Lian. Yang akan menolak apapun tawaran baik seseorang, termasuk dari dirinya. Keduanya-pun akhirnya segera masuk kedalam mobil yang sama, sebuah mobil Porsche hitam yang detik berikutnya melaju dengan kecepatan normal.

Kuperhatikan raut wajah masam itu dari kejauhan. Tampak mempesona ketika ia sedang berjalan seorang diri. Mata bulat yang indah, alis hitam pekat, bibir merah ranum dan hidung kecilnya yang sungguh sempurna. Ia menunggu Bus yang tak kunjung datang. Salju putih menjadi latar dimana ia akan beranjak. Hatikupun berkata ingin sekali menghampirinya lalu mengulurkan sebuah tumpangan untuknya. Namun kekalutan kembali menghujam jantungku yang kian berdentum cepat ini. Hingga kuputuskan untuk memberinya sesuatu yang berguna untuk melindungi tubuhnya dari rintik-rintik salju yang mulai turun. Walau sesungguhnya.. hatiku benar-benar ingin memilikimu. Ingin kupeluk tubuh kecilmu itu dalam dekapanku.. berusaha membuat kehangatan tersendiri untuk melindungimu dari marabahaya.. sungguh.

“Lian, Hati-hati dijalan” Yifan menutup pintu mobil miliknya setelah memastikan gadis itu turun didepan sebuah perusahaan besar. Pria itu tersenyum kikuk.

Lian membalasnya dengan senyum kecil. “Kau tidak ikut masuk, Yifan?”

Yifan menggeleng. “Aku perlu segelas kopi terlebih dahulu, Lian” ia tertawa ringan.

Lian terkekeh dibuatnya. “Baiklah, aku masuk dulu ya?”

“Hmm. Hati-hati” Yifan melambaikan tangan besarnya. Bahkan senyuman gummy itu tak pernah hilang ketika bola matanya hanya tertuju pada punggung seorang gadis bertubuh mungil dihadapannya. Namun, beberapa menit kemudian senyuman itu memudar tatkala matanya menangkap kehadiran sosok yang tak asing mendekati gadis yang disukainya.

Pria itu.. Oh Sehun.

Yifan memperhatikan keduanya lamat-lamat dari balik kaca hitam mobil Porsche miliknya. Terlihat ketika Lian berada di Lobi, Sehun menghampiri gadis itu, Menyapanya dengan senyuman kecil kemudian mengecup puncak kepalanya singkat. Sehun merangkulkan tangannya dibahu Lian ketika keduanya berjalan menuju lift.

Yifan mengerutkan keningnya heran. Spekulasi aneh melintasi otaknya ketika ia termenung sejenak. Ia kemudian segera menggeleng cepat guna menghilangkan ansumsi buruk itu dari otaknya.

“Tidak Yifan.. Tidak.. mereka hanya bersaudara, jadi wajar saja bukan?” Yifan berusaha menenangkan dirinya.

Suara tapak high heels menderap disekitar koridor. Terdengar semakin memburu kala telinganya menangkap bunyi pintu lift yang hendak tertutup.

“Hey!! Tunggu!!” gadis itu berteriak ketika lift sudah tertutup rapat.

Dengusan kecil terdengar dari bibir tipisnya. Ia melihat arloji yang bertengger ditangannya sekilas. Decakan kecil keluar disertai mimik wajah yang tampak begitu frustasi.

“Aku bisa terlambat” ia bergumam. Tangannya kembali meneka-nekan tombol lift agar ia bisa segera naik ke pintu berikutnya.

“Ayolah..” ia kembali menekan tombol berulang-ulang.

Ting…

“Akhirnya..” gadis itu menarik napas lega.

Pintu lift akhirnya terbuka. Namun ketika ia hendak masuk. Langkah kakinya mendadak terhenti. Mata gadis itu membelalak seketika, berkas-berkas ditangannya nyaris terjatuh ketika ia menangkap satu pemandangan yang begitu mengejutkan dihadapannya. Sepasang manusia yang tengah berpagut mesra didalam lift.

“P-presdir Oh.. L-lian..” ucapannya menjadi terbata.

“Kim Yura..”

Beberapa hari kemudian..

Suara ketikkan keyboard computer yang tengah dijalankan oleh jemari seseorang dengan tempo yang lumayan cepat itu mendominasi seisi ruangan miliknya. Sorot mata tajam yang tak henti-hentinya menatap layar monitor membuat sang empu merasakan hal yang tidak biasa di hari itu.

“ini tidak mungkin..” suara berat seseorang tengah menggeram.

“ada apa? Wu Yifan?” tanggap orang lain yang berada dalam satu ruangan dengannya.

“A-aku.. aku benar-benar tidak tahu harus mengatakan apalagi..” pria itu mengusap kepalanya kasar “Disini tertulis kabar jika Oh Sehun dan Oh Lian.. menjalin hubungan layaknya sepasang kekasih” Nada suara beratnya terdengar semakin lirih.

“Apa maksudmu?” sosok itu menghampiri Yifan dengan kening berkerut. Kemudian ia melanjutkan “Apa mereka.. berpacaran” Tanya-nya ragu, terdengar nada yang begitu lirih.

“Kupikir begitu.. Yura-ssi..” pria bertubuh tegap itu menutup matanya jengah “Menurutmu.. mengapa mereka melakukan hubungan terlarang seperti itu” Yifan bergumam lesu. Tubuhnya benar-benar lemas setelah melihat kabar yang beredar di social media tersebut.

“….” wanita yang ia panggil bernama Yura itu hanya diam. Seolah tak sanggup mengatakan hal yang menyakitkan itu pada sosok sahabat yang ia sayangi ini. Meskipun pada awalnya Yura memang mengetahui akan hubungan kedua insan tersebut. Namun karena rasa sayangnya pada Yifan lebih besar, ia tak mau mengatakan mengenai hal itu pada Yifan. Dan malah menyakiti hati sahabatnya.

“ .. aku.. benar-benar kecewa dengan Lian..” Yifan membenamkan wajah lusuhnya disela lipatan kedua tangannya diatas meja.

“bersabarlah.. Yifan.. mungkin ini memang menjadi pilihan Lian..” Yura berusaha menenangkan. Meskipun itu percuma saja.

Yifan menggeram. Tangannya terkepal kuat tatkala bayangan sosok kedua manusia itu terlintas di otaknya. Mengingat bagaimana kedua sosok itu seringkali terlihat begitu dekat satu sama lain. Namun dengan bodohnya Yifan hanya menganggap jika mereka adalah saudara sedarah. Dan berspekulasi jika hal itu sudah biasa terjadi.

“Apa Nyonya Oh sudah mengetahui hal ini?” Tiba-tiba suara Yifan berubah tegas.

“Aku tidak tahu, Yifan” Jawab Yura seadanya.

“Kuharap.. Nyonya Oh tidak murka setelah melihat ini..” Yifan menyorotkan tatapan kosong dalam kesepiannya.

Yura tergelak. “Apa itu artinya.. kau akan membiarkan itu terjadi?” Nada suara gadis itu terdengar bergetar.

“Ya.. akan lebih baik jika Nyonya kita mengetahui tentang perlilaku kedua anaknya selama ini” Yifan menyambar jas hitam yang ia letakkan diatas meja. Kemudian pria itu pergi begitu saja.

“Yifan..”

Klakk..

Pintu ruangan itu telah tertutup rapat.

Amarah dan ego telah menguasai ragaku. Tak dapat kutahan sejak aku melihat apa yang telah melintasi pikiranku sehingga membuatku begitu kacau. Orang kucintai diam-diam telah memudar bak pesona sang embun pada rembulan. Yang datang hanya satu kali seumur hidup. Namun menghilang dalam sekian detik saja.

Plakk!!

“Apa yang telah meracuni otakmu itu, Oh Sehun!!”

“Omma..”

“Dia adikmu!! Tidak bisakah kau menghargainya layaknya saudaramu sendiri??!!” nyonya Oh mengepalkan tangannya kasar.

“Tidak!! Omma!!” Sehun berkata tegas. “Aku tidak pernah menganggap dia sebagai adikku.. karena kami memang bukan saudara kandung!!”

Plakk!!

“Kau.. kau anak durhaka, Oh Sehun..” suara Nyonya Oh memenuhi seisi ruangan pribadi miliknya. Geram kemarahannya memantul disetiap dinding marmer mewah ruangan tersebut.

“Aku ingin menikah dengan Lian!!”

Plakk!!

“Pukul aku, Ibu.. Pukul!!

“Hiks.. hiks..” Tangisan Lian mulai terdengar. Namun Sehun berusaha menenangkan gadis itu dengan cara menggenggam tangannya seerat mungkin.

“K-kau..” Nyonya Oh tidak dapat melontarkan kata-kata lagi. Ia benar-benar tak pernah menyangka. Jika tatapan sosok yang disayangkannya itu begitu rapuh. Tatapan seseorang yang ia besarkan selama dua puluh tahun lamanya.

“Aku sungguh-sungguh ingin menikah dengannya ibu.. tolong.. restui kami..” Sehun menundukkan wajahnya. Nada suaranya terdengar lemah. Perasaannya sungguh kalut saat ini. Campur aduk antara takut dan merasa sangat tidak sopan.

Nyonya Oh menghela napas panjang. Rambut pendeknya yang memutih dan permukaan kulitnya yang mulai menua tampak begitu rapuh.

“baiklah.. akan ku izinkan kalian menikah.. tetapi..”

Lian dan Sehun bertatap sekilas. Perasaan tegang menghujam kedua insan yang telah melakukan kesalahan terbesar dalam hidup mereka saat ini.

“Pegilah ke USA.. dan jalankan bisnis kita yang ada disana.. bagaimanapun juga.. orang-orang di perusahaan tak boleh mengetahui mengenai hal ini.. karena ini sungguh memalukan”

Keduanya kemudian saling bertatap mata. Berpikir untuk membuat sebuah keputusan yang pasti. Lalu bagaimana jika mereka benar-benar mengambil satu takdir yang sungguh hina itu?

“ … baik Omma..”

Kala bunga mawar hitam merekahkan kelopaknya. Duri tajam menusuk jemari putih yang memucat. Menancapkan perih yang semakin lama menyengat tubuh mungil itu. Berbalut kain tipis dengan mata hitamnya yang mengkilat. Memancarkan tatapan tajamnya yang begitu indah. Aroma darah perlahan mengalir dengan permukaan bibir yang membiru. Membekukan hati dan raga yang mencoba untuk tetap tegar. Dan akhirnya ia tak dapat bertahan. Kehinaan itu akhirnya terjadi. Bersatu demi cinta yang terlarang. Maka bersatulah demi kebahagiaan serta hasrat mereka di dunia. Namun jangan pernah salahkan Tuhan tatkala menghukum mereka di kehidupan selanjutnya.

Tamat

21 tanggapan untuk “[4thYearsEXOFFI] The Dark Roses – Ken’s”

  1. hay ken, lama ku tak berkunjung ke sini, aku slalu suka sama ff kamu, aku langsung tancap setelah lihat judulnya dam ceritanya over, bagus amat ken, tapi aku kurang suka hubungan mereka, yang katanya saudara, ehh kenapa musti punya cinta, dan aku juga baru tahu kalau ff kamu masuk nominasi, ditunggu project lainnya yah ^^

  2. Selamat dini hari kak Kens! Btw congrats yapseu ff nya masuk nominasi cerita favorit^^

    Oke langsung aja nih … secara keseluruhan aku menikmati alur ceritanya mengenai cinta terlarang yang harusnya engga boleh direstuin dengan alasan apapun sih, hehe. Terus untuk koreksinya adalah mengenai penggunaan huruf kapital sebab di beberapa awal kalimat kakak rupanya masih menggunakan huruf kecil. Berlanjut pada penggunaan kata depan dan kata imbuhan. Apabila merujuk pada nama tempat maka penggunaannya dipisah. Contoh : di kamar. Sedangkan untuk kata imbuhan yang merujuk pada kata kerja maka penggunaannya digabung. Contoh : dimasak.

    Lalu, penggunaan elipsis masih kurang tepat ya kak, sebagai contoh koreksinya adalah sbb :
    “bersabarlah.. Yifan.. mungkin ini memang menjadi pilihan Lian..” Yura berusaha menenangkan. Meskipun itu percuma saja. >> “Bersabarlah … Yifan … mungkin ini memang menjadi pilihan Lian …. ” Yura berusaha menenangkan, meskipun itu percuma saja.

    Perhatikan juga ya kak konsistensi penggunaan panggilan juga point of view di cerita ini. Soalnya ada bagian di mana kakak tiba-tiba menggunakan sudut pandang orang pertama padahal dari awal sudut pandang pengarang serba tahu.

    Terakhir mengenai romanji Hangeul. Di sini penulisan “Omma” yang berarti ibu menurutku kurang tepat mengingat penulisan Hangeul-nya sendiri itu 엄마. Jadi, yang benar ialah Eomma.

    Sekian dariku, mohon maaf jikalau ada kalimat yang kurang berkenan. Di sini aku juga masih dalam tahap belajar. Semoga selanjutnya kak Kens bisa menghasilkan banyak karya yang lebih baik lagi. SEMANGAT KAK!!!

  3. San orangtua merekkaa?? Merestui? Oh sial! Entah knp aku nggak ngeh banged sama saudara yg jadi cinta gitu, ayolah.. meskipun mereka saudara tiri, setidaknya ya.. gak gitu juga… aih.. :”” ff ini, alurnya aku suka, yaa.. meskipun seperti yg ku bilang aku ga terlalu suka hub.cinta saudara -yg entah apa istilahnya biasanya aku lupa, ato overall aku suka, ffnya kerenn.. ^^ dan dari awal liat judul.. aww.. aku langsung beneran tertarik sama ffnya.. 😂 dan oh my godd.. pengandaiannya keren bangedd.. aku suka.. >< adududu.. :"" last, sukses terus buat semua fanfiksi kakak.. , keep writing and fighting!! ^^

  4. Selamat buat Ken’s yang masuk jadi salah satu nominasi cerita favorit 😀

    Idenya secara pribadi sih aku suka. Cinta terlarang, lumrahnya emang berakhir tragis. Sebenarnya sih aku nggak gitu nangkep maksud dari paragraf terakhirnya. Si ceweknya ini matikah? Dia hantukah? Tiba-tiba ada adegan itu tanpa aku tahu apa konteksnya. Atau emang ada clue-nya di awal tapi akunya aja yang kurang ‘ngeh’?

    Entahlah, tapi alurnya cukup ngalir sih walaupun aku tetep bertanya-tanya bahwa point apa sih yang bikin Lian bisa jatuh cinta ke saudaranya sendiri? Sehun perhatian? Oke, mungkin kecupan ala Sehun adalah sebuah bentuk caring-nya dia. Meski kalau dilihat lagi justru jatuhnya Yifan yang lebih care sih menurutku.

    Lalu, apa ibunya Sehun nggak terlalu mudah dalam mengiyakan keputusan anak-anaknya? Tampar aja mah nggak cukup Tante, sikat dong. Jodohin Sehun sama aku aja 😀

    Buat typo-nya tadi aku sempet nemu misalnya :

    Didunia ~> Di dunia
    Dirumah ~> Di rumah
    Disisi ~> Di sisi
    Ditempat ~> Di tempat
    Ditangan ~> Di tangan
    Kedalam ~> Ke dalam
    Dibahu ~> Di bahu
    Dimana ~> Di mana
    Diatas ~> Di atas
    Didepan ~> Di depan
    Apapun ~> Apa pun
    Ansumsi ~> Asumsi
    Ketikkan ~> Ketikan

    “eoh?” ~> “Eoh?” (dan beberapa awal kalimat lainnya yang juga masih pakai huruf kecil)

    “Omma..” ~> “Omma ….” (Buat nulis tanda elipsis di akhir kalimat yang nggak ada kalimat keterangannya biasanya setelah (…) di tambah satu titik lagi.

    Dan penggunaan ‘Omma’ ini juga kurang konsisten yah karena di kalimat-kalimat berikutnya Sehun manggilnya malah jadi Ibu.

    “Apa itu artinya.. kau akan membiarkan itu terjadi?” ~> “Apa itu artinya … kau akan membiarkan itu terjadi?” (Kalau tanda elipsisnya di tengah kayak gini biasanya dikasih spasi sebelum maupun sesudah tanda (…))

    “Masih pagi..” ~> “Masih pagi.” (Kalau menurut aku gini lebih tepat sih soalnya nggak ada kalimat penjelasannya juga)

    Beberapa kalimat ada yang kurang efektif dan agak boros. Kayak yang ini :

    [Memutuskan untuk beralih menuju dapur yang tak lain jaraknya hanya beberapa langkah dari tempat tidur miliknya.]

    Mungkin bisa dirampingin dengan menghapus kata ‘tak lain’ yang sebenarnya nggak terlalu ngefek juga.

    Lalu, paragraf ini ….

    [Keduanya-pun akhirnya segera masuk kedalam mobil yang sama, sebuah mobil Porsche hitam yang detik berikutnya melaju dengan kecepatan normal.

    Kuperhatikan raut wajah masam itu dari kejauhan.]

    Ada pergantian sudut pandang dari orang ketiga jadi orang pertama. Dan kalau kata aku agak terlalu ngagetin soalnya cuma dipisah sama paragraf aja tanpa jeda. Mungkin bakal lebih enak kalau dikasih tanda end of scene dulu.

    Secara keseluruhan aku menikmati, buat teknik menulis ayo kita bareng-bareng belajar. Saling kasih masukan biar tulisan kita makin cantik ke depannya. Sukses terus, Kak. Semangat menulis dan semoga menang 😀

    simbak1016@gmail.com

  5. Selamat buat Ken’s yang masuk jadi salah satu nominasi cerita favorit 😀

    Idenya secara pribadi sih aku suka. Cinta terlarang, lumrahnya emang berakhir tragis. Sebenarnya sih aku nggak gitu nangkep maksud dari paragraf terakhirnya. Si ceweknya ini matikah? Dia hantukah? Tiba-tiba ada adegan itu tanpa aku tahu apa konteksnya. Atau emang ada clue-nya di awal tapi akunya aja yang kurang ‘ngeh’?

    Entahlah, tapi alurnya cukup ngalir sih walaupun aku tetep bertanya-tanya bahwa point apa sih yang bikin Lian bisa jatuh cinta ke saudaranya sendiri? Sehun perhatian? Oke, mungkin kecupan ala Sehun adalah sebuah bentuk caring-nya dia. Meski kalau dilihat lagi justru jatuhnya Yifan yang lebih care sih menurutku.

    Lalu, apa ibunya Sehun nggak terlalu mudah dalam mengiyakan keputusan anak-anaknya? Tampar aja mah nggak cukup Tante, sikat dong. Jodohin Sehun sama aku aja 😀

    Buat typo-nya tadi aku sempet nemu misalnya :

    Didunia ~> Di dunia
    Dirumah ~> Di rumah
    Disisi ~> Di sisi
    Ditempat ~> Di tempat
    Ditangan ~> Di tangan
    Kedalam ~> Ke dalam
    Dibahu ~> Di bahu
    Dimana ~> Di mana
    Diatas ~> Di atas
    Didepan ~> Di depan
    Apapun ~> Apa pun
    Ansumsi ~> Asumsi
    Ketikkan ~> Ketikan

    “eoh?” ~> “Eoh?” (dan beberapa awal kalimat lainnya yang juga masih pakai huruf kecil)

    “Omma..” ~> “Omma ….” (Buat nulis tanda elipsis di akhir kalimat yang nggak ada kalimat keterangannya biasanya setelah (…) di tambah satu titik lagi.

    Dan penggunaan ‘Omma’ ini juga kurang konsisten yah karena di kalimat-kalimat berikutnya Sehun manggilnya malah jadi Ibu.

    “Apa itu artinya.. kau akan membiarkan itu terjadi?” ~> “Apa itu artinya … kau akan membiarkan itu terjadi?” (Kalau tanda elipsisnya di tengah kayak gini biasanya dikasih spasi sebelum maupun sesudah tanda (…))

    “Masih pagi..” ~> “Masih pagi.” (Kalau menurut aku gini lebih tepat sih soalnya nggak ada kalimat penjelasannya juga)

    Beberapa kalimat ada yang kurang efektif dan agak boros. Kayak yang ini :

    [Memutuskan untuk beralih menuju dapur yang tak lain jaraknya hanya beberapa langkah dari tempat tidur miliknya.]

    Mungkin bisa dirampingin dengan menghapus kata ‘tak lain’ yang sebenarnya nggak terlalu ngefek juga.

    Lalu, paragraf ini ….

    [Keduanya-pun akhirnya segera masuk kedalam mobil yang sama, sebuah mobil Porsche hitam yang detik berikutnya melaju dengan kecepatan normal.

    Kuperhatikan raut wajah masam itu dari kejauhan.]

    Ada pergantian sudut pandang dari orang ketiga jadi orang pertama. Dan kalau kata aku agak terlalu ngagetin soalnya cuma dipisah sama paragraf aja tanpa jeda. Mungkin bakal lebih enak kalau dikasih tanda end of scene dulu.

    Secara keseluruhan aku menikmati, buat teknik menulis ayo kita bareng-bareng belajar. Saling kasih masukan biar tulisan kita makin cantik ke depannya. Sukses terus, Kak. Semangat menulis dan semoga menang 😀

  6. Hai, Ken’s salam kenal dan aku langsung ke intinya aja ya, di sini banyak “di” atau “ke” yang ga dikasih spasi padahal merujuk pada tempat atau penulisannya sebagai kata depan bukan prefiks, aku ampe copy cerita ini ke ms word buat hitung jumlah katanya dan aku rasa sih bakalan tetap cukup kok kalo ditambahin spasi 🙂
    Juga banyak penempatan huruf kapital yang ga sesuai, yang awal kalimat ada yang huruf kecil jadi pas baca kerasa kebalik aja.

    Lalu ini, “Ayo ikut bersamaku kedalam mobil..” Tawar Yifan langsung ke inti
    ^ salah satu contoh beberapa kalimat kelebihan tanda baca dan ga ada tanda bacanya sebagai penutup, kalau emang mau ngasih kesan dramatis dalam dialog atau narasi mungkin elipsis lebih tepat dipake biar ga gantung gitu 🙂

    “Kuperhatikan raut wajah masam itu dari kejauhan. Tampak mempesona ketika ia sedang berjalan seorang diri. Mata bulat yang indah, alis hitam pekat, bibir merah ranum dan hidung kecilnya yang sungguh sempurna. blablabla” ini sudut pandang penceritanya orang ketiga kan? aku agak bingung nemuin kalimat ini apakah senandika atau aku yang bolot? Apa ga sebaiknya di-italic biar ga rancu? :’v

    Dan kalimat endingnya warbiasyaaaah, aku suka diksinya yang indah aja dibacanya dan bahasanya dalem gitu, seakan diajak mikir makna sesungguhnya itu gimana 😀

    email : hannianizza@gmail.com

  7. Pertama-tama, MAU BILANG INI HOROR 😅
    Cinta segitiga yang menurut aku lumayan rumit *apaan sih.
    Tapi mau koreksi dikit sih, diksi n tatanannya bagus sih. Tapi kenapa menurut aku terlalu berat ya 😅
    Jadi sempat ada titik bosennya pas baca *timpuk saya!!
    Kalau soal alur ceritanya overall bagus kok kayak novel kebanyakan ☺☺

    Tapi gaboleh dicontoh ya hubungan mereka,nanti masuk neraka kalo ama sodara ndiri 😂

  8. haloo mau koreksi beberapa hal teknis ya hehe.
    1. penggunaan kata depan “di” kalo diikuti kata tempat dikasih spasi yaa
    2. jangan lupa kasih tanda baca di setiap akhir dialog
    3. aku liat ada banyak dua titik (..). itu maksudnya gimana ya?hehe. kalo dimaksudkan untuk jeda dengan kata selanjutnya mungkin lebih tepat kalo titiknya ada tiga/elipsis (…)

    selebihnya untuk alur dll aku serahkan semuanya ke kakak author. overall, ceritanya tersampaikan ke pembaca kok^^
    maaf kalau terkesan menggurui atau gimana, kita di sini sama sama belajar wkw. keep writing ya! 🙂

  9. Sebenaranya boleh mereka nikah tapi kalo tumbuh dari kecil barwng agak tabu juga apalagi kalo lingkungan tahu hubungan mereka…. bisa disebut pelanggaran norma wkwk… kaya kisah junso dan eunso di endless love. Duh baper inget drakor eta

  10. Huhh., hubungan terlarang O.o merekakan kakak adik.
    Knapa Lian gx milih yi fan aja si ya O.o

    Ehh tapi kan., kalo kakk adik tpi gx ada hubungan darah sama sekali emg boleh??
    Ahh molla aku bingung

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s