[EXOFFI FREELANCE] THE ROYAL SCANDAL – Part 4

THE ROYAL SCANDAL

THE ROYAL SCANDAL

She has the laugh of Devil and the smile of the an Angel.

She’s a wicked, wild, and wreckless thing.

-oOo-

SUMMARY

Oh Sehun adalah seorang secret agent dari National Intelligent Services yang diberikan sebuah misi pribadi oleh Presiden Korea Selatan untuk menemukan dan memusnahkan foto-foto skandal seks anaknya, Kim Jong In, dengan seorang model majalah pria dewasa terkenal, Ashley Kim. Berhasilkah Sehun mengalahkan sang wanita dominan, Ashley Kim, dan menuntaskan misinya dengan mudah?

-oOo-

TITLE                        : THE ROYAL SCANDAL

AUTHOR                  : MINERVA RENATA

BLOG            : www.tyjawline.wordpress.com

MAIN CAST             : OH SEHUN (EXO), ASHLEY KIM (OC)

SUPPORT CAST     : PARK CHANYEOL (EXO)

GENRE                     : ACTION, ROMANCE, (LITTLE BIT) COMEDY

RATING                    : NC-17

LENGTH                   : CHAPTERED

DISCLAIMER          : THIS STORY AND PLOT ARE MINE. ALL OF THOSE CASTS BELONG TO THEMSELVES. SO, DON’T TAKE OUT ANY CONTENT WITHOUT PROPER CREDIT!

AUTHOR NOTE      : Insipired by Sherlock – A Scandal in Belgravia

PREVIOUS CHAPTER : [1] [2] [3]

-oOo-

Malam ini, seiring dinginnya angin yang berhembus kencang menyusup celah-celah jendela kusam di sudut ruangan, diantara suasana sunyi senyap yang hanya terhias oleh suara titik-titik kecil hujan, Sehun dan Ashley duduk saling berhadapan di atas sebuah sofa panjang yang berdebu. Mereka memutuskan untuk menghabiskan sisa malam hari ini di dalam sebuah rumah kosong, tempat dimana mobil Sehun berhenti di depannya setengah jam lalu. Kondisi yang sama-sama lelah, juga terluka parah, menyebabkan Sehun dan Ashley pada akhirnya membuang jauh-jauh pemikiran untuk melanjutkan pelarian dari sekumpulan pria Amerika itu.

“Bagaimana agen-agen CIA itu bisa menyanderamu?” Sehun memecah keheningan malam dengan suara beratnya yang khas, dan juga dengan suara kotak P3K yang terbuka.

“Biarkan itu menjadi rahasiaku saja,” jawab Ashley singkat sembari mengamati setiap pergerakan yang tersuguh dihadapannya. Sehun—dengan sebelah tangan—mengambil sebuah kapas dari dalam kotak P3K, bersusah payah membuka tutup botol antiseptik, dan kemudian menuangkan cairan antiseptik tersebut ke atas kapas dengan hati-hati—meskipun gagal karena ia malah berakhir dengan menumpahkan sepertiga isinya.

Ashley mendengus dan memutar bola mata dengan sebal mendapati pria dihadapannya masih tak kunjung menyerah untuk menuangkan cairan antiseptik ke atas kapas dengan sebelah tangannya yang tak terbebat perban. “Sungguh, aku benci sifatmu yang sok kuat dan keras kepala itu, Oh Sehun! Bukankah sudah ku bilang jika aku bisa mengobati sendiri luka di kakiku ini? Satu hal yang perlu kau lakukan hanyalah mengistirahatkan total bahumu yang terluka itu.”

Sehun tampak tak peduli terhadap Ashley yang kini tengah berbicara panjang lebar, sekilas mengingatkan pria itu kepada sosok ibunya yang dulu selalu mengomel ketika mengetahui bahwa Sehun tak menghabiskan sarapan paginya sebelum berangkat ke sekolah. Dengan satu sentakan keras yang tiba-tiba, Sehun menarik kaki kiri Ashley yang terluka dan menempatkan di atas pangkuannya. “Akan melukai harga diriku jika tak mengobati luka yang telah dengan sengaja ku timbulkan. Kau boleh saja menganggapku sebagai pria egois, sinis, dan tak punya hati, karena aku memang begitu. Tetapi ada dua hal yang perlu kau tahu, yaitu aku masih mempunyai harga diri yang tinggi dan rasa bertanggung-jawab terhadap apa yang telah ku perbuat.”

Kalimat yang baru saja Sehun lontarkan membuat Ashley sontak tertegun, terdiam sejenak dan pikirannya berkelana di angan-angan sebelum pada akhirnya sebuah rasa perih yang tiba-tiba menjalar di pergelangan kakinya menarik wanita itu kembali ke kesadaran penuh.

“Aww!” Ashley meringis menahan perih ketika sebuah kapas lengkap dengan cairan antiseptik diatasnya telah bergerak mengusap lukanya dengan gerakan yang sangat hati-hati.

“Tahan sedikit. Dasar manja!” cibir Sehun yang masih memusatkan perhatiannya pada kaki indah Ashley. Ya, kaki wanita itu tetaplah terlihat indah meskipun terdapat bekas goresan peluru, lengkap dengan darah yang mengalir cukup deras disana.

“Ku ucapkan selamat, Tuan Oh Sehun! Kau telah sukses menjatuhkan harga jualku seiring dengan luka yang pasti akan meninggalkan bekas ini,” ujar Ashley sakartis, membuat Sehun pun seketika menghentikan gerakan tangannya yang tengah mengusap luka wanita itu.

“Apa maksudmu?” tanya Sehun dengan kedua matanya yang telah memicing tajam.

“Huh! Kau pasti tahu jika kesempurnaan tubuh adalah investasi tertinggi bagi seorang model sepertiku.”

“Seperti itukah caramu berterimakasih atas semua yang telah kulakukan?!” tukas Sehun dengan nada bicara yang mulai meninggi. Oh, Tunggu! Sejak kapan pria itu mulai berbaik hati meluangkan waktu untuk terlibat dalam perdebatan dengan Ashley tentang hal yang tak begitu penting?

“Tidak.” Ashley menggeleng pelan sembari menarik satu sudut bibirnya menjadi sebuah senyuman penuh kesan misterius. “Apa kau lupa dengan kecupan ungkapan rasa terimakasih yang kuberikan setengah jam lalu? How that’s feel? Do you like it?” lanjut wanita itu dengan seduktif. Akhirnya, seorang Ashley Kim dengan segala kerlingan nakal di matanya dan nada bicara menggoda yang meluncur ringan dari bibir tipisnya itu telah kembali secara sempurna.

Sehun diam, sama sekali tak berusaha menanggapi karena sungguh ia sedang tak berminat membahas hal tersebut. Ia memilih untuk kembali membersihkan luka goresan peluru itu dengan hati-hati, dan kemudian mulai melilitkan kain perban pada kaki Ashley. “Apa yang kau miliki di dalam microchips itu? Mengingat bahwa CIA tidak akan tertarik jika hanya berisi foto-foto skandalmu dengan Kim Jongin.” Pria itu mengalihkan topik pembicaraan dengan membahas perihal sekomplotan agen CIA yang telah jauh-jauh terbang dari Amerika Serikat menuju Korea Selatan, membuang-buang belasan jam berharga mereka di atas pesawat, hanya demi sebuah microchips.

Ashley melipat kedua tangan di depan dada dan mengendikkan bahunya tak acuh. “Some of pictures, informations, and anything I might find useful.

For blackmail?

No. For protection.” Ashley dengan cepat meralat terkaan Sehun, menegaskan bahwa semua data yang berada di dalam microchips miliknya itu bukanlah untuk sebuah tindakan pemerasan, melainkan sebagai tindakan perlindungan diri.

“Bagaimana kau bisa mendapatkan semua informasi itu?”

I told you, I misbehave. I like to know people will be on my side exactly when I need them to be,” ujar Ashley dengan tetap mempertahankan senyum penuh misteri yang tergambar di bibirnya.

“Tetapi, karena microchips itu, kau malah memperoleh sesuatu yang lebih berbahaya daripada sebuah perlindungan. Nyawamu selalu terancam. Apa kau tahu resiko itu?” Sepertinya, rasa penasaran Sehun mulai tergelitik. Pria itu tak bisa mengenyahkan begitu saja segala tanda tanya besar yang semakin timbul di benaknya.

I know. But, that microchips is my life. Mungkin aku akan mati jika seseorang mengambilnya dari genggamanku.” Ashley bangkit dari duduk, melangkah dengan anggun dan tegas menuju sudut ruangan yang gelap tanpa memperlihatkan sedikit pun gurat-gurat kesakitan di wajahnya ketika tengah berjalan. Sebuah luka cukup parah yang tercetak jelas di pergelangan kaki sama sekali tak menghambatnya. Apa mungkin seorang model memang telah terbiasa berjalan dengan kondisi kaki cedera, mengingat berjalan di runway dengan menggunakan high heels memiliki resiko yang tinggi? “Sehun, sepertinya hanya ada satu kamar tidur di rumah ini. Bagaimana?” lanjut wanita itu sesaat setelah membuka beberapa pintu dan melongok ke dalamnya satu-persatu untuk memastikan berapa ruangan yang masih layak disebut sebagai kamar tidur.

Well, aku akan tidur di sofa.” Sehun menanggapinya dengan ringan.

Di ujung sana, Ashley terdiam dan tampak tengah menimbang-nimbang sesuatu di dalam pikirannya sebelum pada akhirnya wanita itu kembali melangkah mendekat ke arah Sehun.

“Bahumu akan semakin membengkak jika kau tidak bisa merebahkan tubuh dengan rileks. Maka dari itu, sebaiknya kau tidurlah di kamar,” ujar Ashley sembari menatap Sehun yang masih disibukkan dengan meletakan kembali obat-obatan ke dalam kotak P3K.

“Tidak, kau saja. Bagaimana bisa aku membiarkan seorang wanita tidur di luar? Asal kau tahu, aku masih mempunyai sedikit rasa menghormati wanita, sekalipun kau adalah seorang kriminal kelas kakap. Dan seperti yang telah ku katakan sebelumnya, aku juga mempunyai harga diri yang selalu terjunjung tinggi.”

Ashley tergelak sesaat mendengar jawaban Sehun. “Siapa bilang aku akan tidur di sofa?” ujar wanita itu di akhir tawa renyahnya, membuat Sehun seketika melemparkan pandangan penuh tanda tanya.

“Apa maksudmu?” Sehun bertanya dengan nada hati-hati dan penuh selidik.

Ashley hanya menyunggingkan senyum selama beberapa detik. “Bagaimana jika kita tidur bersama saja?” ujarnya ringan, tanpa beban.

BANG!

Tepat seperti terkaan Sehun selama ini, jalan pikiran Ashley ternyata memang benar-benar abstrak dan selalu sukses membuat setiap orang yang mendengarnya terheran-heran sampai terdiam kaku setidaknya pada tiga detik pertama.

-oOo-

Pagi ini, di saat kicauan burung mulai terdengar dan pancaran sinar matahari mulai melesak masuk melalui ventilasi ruangan, Sehun terbangun dari tidurnya. Namun anehnya, pria itu bukanlah terbangun karena kicauan berisik burung yang saling bersautan ataupun pancaran hangat sinar matahari yang membanjiri wajahnya, melainkan sebuah deru nafas halus seseorang yang menerpa permukaan kulitnya dengan lembutlah yang telah sukses mengembalikan kesadaran Sehun dari alam mimpi.

Sehun tidak pernah tahu jika jalan pikirannya akan membawa pria itu berakhir terbaring di sebuah ranjang kecil dengan seorang wanita bernama Ashley Kim yang tengah terlelap damai tepat disampingnya, bersama selama berjam-jam dan menghabiskan malam dalam jarak kurang dari sepuluh sentimeter.

Bagaimana bibirnya bisa begitu mudah mengkhianati hatinya yang jelas-jelas menentang usulan tidur bersama itu? Mengapa bibirnya bisa begitu ringan mengucapkan kata ‘Baiklah’ sebagai sebuah jawaban? Oh! Sungguh, kini Sehun tengah sibuk merutuki dirinya sendiri.

SEHUN-ASHLEY

Lima menit sudah Sehun membuka mata, dan entah magnet apa yang terdapat di ranjang tua ini sampai-sampai membuat pria itu masih merasa enggan untuk segera bangkit dari tidurnya. Tak dihiraukan sama sekali jutaan sel di dalam kepala yang telah berteriak kencang, menyuruhnya agar cepat-cepat meninggalkan rumah kosong ini dan kembali melanjutkan pelariannya.

Apa mungkin karena deru nafas teratur yang masih menerpa kulitnya itu terlalu lembut untuk dilewatkan begitu saja?

Atau, apa mungkin karena wanita yang masih terlelap disampingnya dengan beberapa anak rambut jatuh menutupi sebagian wajah cantik itu tampak begitu polos dan alami, sehingga membuat Sehun tak ingin kehilangan sedetik pun momen langka tersebut?

Sehun tak tahu jawabannya.

Mungkin, ini adalah pagi terdamai di dalam hidup Sehun,—entah atas dasar apa pria itu menominasikannya—jika saja tak ada pintu yang secara tiba-tiba di dobrak dengan kasar dan juga tidak ada suara desingan-desingan peluru yang mulai memenuhi seluruh sudut ruangan.

Kini, kedamaian pun berubah menjadi suasana yang mencekam dalam sekejap mata.

Asap pekat mulai mengepul, keluar dari beberapa granat asap yang menggelinding di lantai. Sehun, dan Ashley yang baru saja terlonjak bangun dari tidurnya, dengan refleks langsung bergerak menutupi hidung. Menghirup gas campuran hexachloroethane secara berlebihan tentu akan cepat membuat mereka kehilangan pasokan oksigen di dalam paru-paru.

Sehun dengan sigap mengambil revolver miliknya dari dalam saku celana dan mulai menembak tak tentu arah. Kepulan asap tebal membuat pria itu kehilangan sebagian besar jarak pandangnya ke depan. Peluru demi peluru meluncur berkali-kali, memecahkan kaca jendela, melubangi dinding, dan juga sempat melukai salah satu agen CIA meskipun tak sampai mengenai organ-organ vitalnya. Sehun terus saja menarik pelatuk revolver itu tanpa target yang jelas dan pasti, sampai akhirnya pria itu pun menyadari bahwa ia baru saja menghabiskan seluruh persediaan peluru yang dimilikinya. Sial!

Oh! I feel sorry for disturbing you and interrupting your morning romance, my dearest Ashley.” Terdengar sebuah suara terkesan licik dengan tawa remeh di akhir kalimat seiring munculnya sosok pria tegap berwajah khas latin dari balik kepulan asap yang masih membumbung tinggi. Alis tebal, tatapan tajam, dan rahang besar membuat pria itu tampak penuh kuasa dengan aura gelap menakutkan yang selalu mengelilinginya.

Di lain sisi, Ashley tampak terhenyak dengan apa yang kini terpapar tepat di depan matanya. Ia menatap cukup lama wajah pria yang sudah selama bertahun-tahun tak dijumpainya itu dengan sorot mata penuh kilat kebencian. Sungguh, Ashley tak pernah mengharapkan pria itu hadir kembali di dalam kehidupannya.

“Michael Joan Harris! What the hell are you doing?!” tukas Ashley tajam. Wanita itu bangkit dari ranjang dan melangkah dengan hentakan tegas ke arah pria latin bernama Michael tersebut.

Simple. Aku hanya ingin mengambil microchips itu dan mengembalikan stabilitas negara. Kau telah bermain-main terlalu jauh dengan CIA, dear.”

Tatapan tajam Ashley semakin menghunus manik mata coklat Michael, dan rahangnya mengatup rapat—sangat rapat, sampai-sampai terdengar suara gemeretak gigi yang saling beradu. Dengan satu gerakan cepat, menerapkan beberapa kombinasi jurus Taekwondo yang dikuasainya, wanita itu berhasil mengunci pergerakan kedua lengan Michael dan membuat pria itu jatuh berlutut di atas lantai marmer yang dingin. Namun, baru saja Ashley hendak meraih kepala Michael untuk kemudian memutarnya hingga terdengar suara patahan tulang mengerikan, pria latin tersebut telah terlebih dahulu menarik kedua tangan Ashley dan dengan mudah membanting tubuh wanita itu ke sudut ruangan, membentur sebuah lemari besi yang kontan saja menimbulkan dentuman cukup keras.

“ASHLEY!!!” Di ujung sana, Sehun yang tengah berusaha menghabisi beberapa agen CIA dengan sisa tenaga yang dimilikinya, refleks membelalakan kedua mata dan berteriak ketika mendapati Ashley telah jatuh tersungkur dengan darah segar mengalir deras dari pelipisnya.

“Apa kau lupa jika aku yang telah mengajarkanmu semua teknik bela diri semasa trainee? Kau tak akan bisa mengalahkanku, Ashley Kim. Oh! Atau, mungkin aku harus memanggilmu dengan sebutan Agent Athena?” ujar Michael dengan menekankan suaranya pada dua kata terakhir. Pria itu kembali bangkit sembari merapikan lipatan jas mahalnya yang sedikit kusut. Ia pun menyunggikan senyum licik di sudut bibirnya ketika melirik senang ke arah Ashley.

Shut up! Jangan pernah memanggilku dengan sebutan itu. Aku bukan lagi bagian dari CIA,” desis Ashley penuh penekanan di setiap katanya.

Sehun tanpa sadar menahan nafasnya ketika mendengar desisan rendah itu keluar dari bibir Ashley. Fakta bahwa wanita itu adalah mantan agen CIA seharusnya tak akan sampai membuat Sehun terlalu terkejut, mengingat hal tersebut memang telah terlihat jelas dari semua tingkah lakunya selama ini. Tetapi, entah apa yang kini terjadi sehingga membuat sebagian hati Sehun terasa mencelos mendengarnya. Padahal, seharusnya tidak begitu!

Ashley menggeram ketika telapak tangannya menyentuh pelipisnya yang terluka, menimbulkan sensasi ngilu yang teramat sangat. Luka itu tampaknya cukup dalam dan mengakibatkan retakan pada salah satu bagian tulang tengkorak yang membuat Ashley merasa pandangannya kini mulai berbayang dan mengabur.

Satu hal yang dapat ditangkap oleh indera pengelihatan wanita itu di detik-detik akhir sebelum semua berubah menjadi hitam kelam adalah senyum menyebalkan di bibir Michael yang masih setia menghiasi wajah aristokratnya.

Dan, satu hal yang dapat ditangkap oleh indera pendengar wanita itu di detik-detik akhir sebelum semua berubah menjadi sunyi adalah suara Sehun yang kembali meneriakkan namanya dengan lantang.

-oOo-

Sehun membuka mata perlahan, mengerjap beberapa kali untuk menyesuaikan retinanya dengan keadaan ruangan yang gelap gulita. Hal terakhir yang masih terekam di dalam memorinya adalah ketika ia refleks melangkah mendekati Ashley yang mulai kehilangan kesadaran akibat luka dalam di pelipisnya. Namun, baru sempat dua, tiga langkah berjalan, seseorang dari arah belakang tubuh Sehun secara tiba-tiba memiting kedua lengannya, menyekap mulutnya, dan kemudian menyumpalkan sebuah kain dengan bau alkohol yang sangat menyengat ke hidungnya. Pria itu berjengit, berusaha melawan, namun kerja zat tersebut ternyata jauh lebih cepat sehingga tak butuh waktu lama untuk Sehun terjatuh lunglai dan bernasib sama dengan Ashley.

Dan disinilah Sehun berakhir, menumpukan seluruh beban tubuh pada lututnya yang menempel di atas tanah berbatu, dan membiarkan rasa nyeri menyakitkan menjalar di sekujur lengannya yang terikat kuat pada sebuah tiang setinggi kurang lebih satu meter, menahan kedua tangannya agar tetap diam di atas.

Tak ada satu pun yang dapat ditangkap oleh mata Sehun. Semua terlalu gelap, terlalu hitam pekat, dan ia sama sekali tak bisa menganalisis tempat macam apa ini. Kini, pria itu hanya mampu mengandalkan beberapa indera yang tersisa, seperti penciuman dan pendengaran.

Dari hidungnya, Sehun mencium bau pengap bercampur debu-debu berterbangan yang cukup mengganggu. Oh! Ia juga mencium bau anyir dan merasakan ada sesuatu yang mengalir keluar dengan lambat dari balik kulitnya. Sial! Apakah jahitan luka di bahunya terbuka dan kembali mengeluarkan darah?

Dari telinganya, Sehun menangkap ada sebuah langkah kaki dalam suara pantofel yang terdengar menghentak tegas tanah berbatu itu. Dan menurut gema yang ditimbulkan, pria itu mampu mengkalkulasikan dengan tepat seberapa luas ruangan ini.

Sehun sontak meningkatkan kewaspadaannya ketika suara hentakan kaki tersebut terdengar semakin jelas ditelinganya, semakin mendekat ke arahnya. Ia mencoba untuk bangkit berdiri, namun kembali limbung dan terjatuh sedetik kemudian. Sepertinya, seluruh tenaga yang Sehun miliki telah terkuras habis seiring banyaknya darah yang keluar dari dalam tubuhnya.

“Apakah mimpimu indah, Tuan Oh Sehun?” Sehun merasakan sebuah deru nafas menerpa wajahnya seiring dengan tawa sinis yang menggelegar dan menggema di setiap sudut ruangan.

“Dimana Ashley, Michael?!” tanya Sehun lirih namun tetap dengan nada menusuk dan penuh penekanan. Tak butuh cenayang untuk Sehun tahu bahwa pria yang kini tengah berbicara kepadanya adalah seorang Michael Joan Harris, sang agen CIA bengis berpangkat tinggi.

“Wow! Sungguh mengharukan melihatmu mengkhawatirkan keberadaannya,” ujar Michael mencibir. “Kau, salah seorang agen terbaik yang dimiliki NIS, mengapa bisa begitu bodoh untuk peduli kepada wanita kriminal seperti Ashley Kim?”

Pertanyaan yang baru saja terlontar dari mulut Michael terasa kian menampar Sehun. Pria itu terhenyak mendapati fakta bahwa tanpa sadar dan secara tidak langsung ia telah mengkhawatirkan keadaan Ashley. Sungguh! Sehun tak tahu apa yang salah dengan otaknya hari ini, sehingga membuat syaraf bawah sadar sukses berkali-kali mengambil alih sebagian besar tindakannya.

“Baiklah jika kau memang ingin tahu. Aku akan menunjukan si jalang itu kepadamu dengan senang hati.” Sehun diam, namun tetap mempertahankan tingkat kewaspadaannya yang tinggi. Ia mendengar dengan seksama langkah Michael mulai menjauh beberapa meter.

Beberapa detik kemudian, Sehun merasakan matanya mulai pedih akibat seberkas cahaya yang muncul tiba-tiba dari dalam sebuah tong besi, memancarkan kobaran-kobaran api besar. Sehun baru saja akan memalingkan wajah dan menutup matanya untuk mengadaptasi kembali retinanya, ketika seseorang dari balik tubuhnya tiba-tiba menjambak dan menarik kepala Sehun dengan paksa agar tetap menatap lurus kedepan.

SCENE

“Lihatlah, dear! Seseorang di depan sana ternyata sangat mengkhawatirkanmu,” ujar Michael saat berdiri tepat di samping Ashley yang duduk di satu kursi kayu dengan tangan terikat ke belakang dan mulut tertutup plester hitam. “Well, sepertinya aku akan menjadi salah satu saksi hidup sebuah perjalanan cinta dua manusia bodoh yang penuh dengan pesakitan,” lanjut pria itu dengan tawa menyebalkan di akhir kalimatnya.

Ashley diam. Sehun pun diam. Tak ada yang melontarkan satu kata pun meski mereka memiliki ribuan kalimat yang kini tengah mengantri di tenggorokan, hanya tinggal menunggu untuk di eksekusi. Ashley dan Sehun hanya saling melemparkan tatapan, membiarkan mata yang saling berbicara dan mengutarakan apa yang ingin diucapkan.

“Bagaimana jika kita langsung mulai sesi interogasinya, dear?” ujar Michael sembari mengusap lembut kepala Ashley, membuat wanita itu langsung menjauhkan kepalanya dari jangkauan pria bengis tersebut.

“Jadi, dimanakah kau menyimpan microchips itu?” tanya Michael sembari melepaskan plester hitam di mulut Ashley dengan satu gerakan kasar yang sukses membuat wanita itu merasakan mati rasa di area sekitar bibirnya.

Ashley masih bergeming, mengatupkan bibirnya rapat-rapat, dan melemparkan tatapan penuh kebencian ke arah Michael. Wanita itu tak pernah mengira sebelumnya bahwa sosok pria yang pernah menjadi panutannya semasa trainee beberapa tahun lalu, kini telah berubah menjadi seseorang penuh kekejaman.

“Oh! Sepertinya, kau memilih opsi untuk tetap bungkam.” Michael melangkah ringan dan perlahan mengitari Ashley. “Thomas, do it!” teriaknya, memberi isyarat kepada seorang pria yang berdiri di belakang tubuh Sehun agar segera melayangkan sebuah tinjuan keras tepat di wajah Sehun.

Sehun sama sekali tak mengerang kesakitan meskipun kini ia merasa kepalanya berdenyut ngilu dan aliran darah segar mulai mengucur dari lubang hidungnya, karena pria itu paham betul tentang psikologis seseorang yang pasti akan merasa teramat senang jika lawannya menunjukan tanda-tanda kekalahan.

“Ku ulangi sekali lagi. Jadi, dimanakah kau menyimpan microchips itu?” Michael kembali bertanya dengan wajah masih terhias senyuman sinis yang mengembang di kedua sudut bibirnya.

Ashley tetap pada pendiriannya yang kuat, memilih untuk tetap bungkam meskipun Michael telah sukses menciptakan kembali satu goresan luka di wajahnya dengan menampar wanita itu menggunakan ujung pistol.

“Kau benar-benar menguji kesabaranku, Ashley Kim!” Michael menggeram kesal tepat di depan wajah Ashley yang masih tak menunjukkan ekspresi apapun. “Stephen, do it!” teriaknya menggelegar. Pria itu kembali mengisyaratkan kepada salah satu anak buahnya untuk menorehkan luka di tubuh Sehun lagi.

Sesosok pria bertubuh besar muncul dari balik sudut kegelapan dengan sebuah tongkat besi berukuran besar digenggamannya. Belum sempat Sehun menatap dengan jelas wajah pria itu, satu ayunan tongkat besi telah sukses mendarat di perutnya, membuat organ-organ dalam Sehun serasa hancur berkeping-keping. Asam lambung serasa naik ke tenggorokan dan ia mulai memuntahkan darah segar yang telah memenuhi seluruh rongga mulutnya.

Sehun mengira bahwa satu pukulan keras yang didapatkannya telah memuaskan hasrat kejam Michael, namun hal tersebut rupanya salah besar. Pria bernama Stephen itu masih betah menghantam tubuh Sehun berkali-kali dan semakin membabi-buta. Tubuh Sehun terhuyung-huyung dan ia dapat merasakan tulang-tulangnya bergeser, juga retak di dalam sana. Erangan kesakitan yang mulanya masih dapat ditahan, kini mulai meluncur keluar dari bibirnya.

Di ujung sana, Ashley kini mulai menunjukkan perubahan pada ekspresi wajahnya. Mata yang membulat penuh itu menatap nanar ke arah Sehun seiring dengan nafasnya yang mulai tercekat. Michael yang menyadari perubahan itu pun tersenyum senang, ia melangkah mendekati Ashley dan menekuk lutut untuk mensejajarkan tinggi dengan tubuh wanita itu.

“Andrew, at the count of three, shoot the head of Oh Sehun!

Seketika Ashley menoleh cepat ke arah Michael yang kini tengah melemparkan senyuman timpang ke arahnya. Wanita itu sangat tahu bahwa Michael bukanlah tipe orang yang akan bermain-main dengan seluruh perkataannya. Hal itu terbukti dengan pria bernama Andrew yang datang dengan dua pistol penuh peluru di tangannya.

“HENTIKAN!” Ashley berteriak, membuat Stephen menghentikan pukulan demi pukulannya dan membuat Andrew menjauhkan ujung pistolnya beberapa sentimeter dari kepala Sehun.

Michael menyambut teriakan itu dengan segaris senyum. “Well, apa kau berubah pikiran?” tanyanya memastikan.

“Ya. Aku akan memberitahukan letak microchips itu dan menyerahkannya kepadamu,” ujar Ashley mantap. “Namun, dengan satu syarat.”

“Apa syaratnya?” tanya Michael yang terdengar cukup antusias.

“Lepaskan Sehun. Tak ada gunanya bagimu untuk menghajarnya terus menerus karena ia sama sekali tak mengetahui keberadaan microchips itu.”

“Hahahaha. Aku tidak akan tertipu dengan akal busukmu itu, dear,” ujar Michael sembari menyentuh dagu Ashley. “Apa kau memiliki penawaran yang lebih menarik?”

Ashley menggeram kesal dan menghembuskan nafasnya dengan kasar. “Baiklah. Kau boleh membunuhku dengan cara apapun yang kau inginkan jika aku berbohong ataupun mencoba untuk kabur.”

Sejenak, Michael tampak menimbang-nimbang sesuatu di dalam pikirannya, sebelum pada akhirnya ia tersenyum tipis dan mengangguk. “Baiklah. Lepaskan pria itu.”

Para anak buah Michael pun mengangguk paham dan mulai melepaskan ikatan pada kedua tangan Sehun. Tubuh Sehun pun langsung ambruk ke depan sesaat setelah kembali terbebas. Ia merasa setengah nyawanya telah terbang, hilang entah kemana.

“Sekarang, lepaskan aku. Kau ingat janjiku untuk tidak kabur, bukan?” tegas Ashley.

Michael hanya membalasnya dengan tersenyum singkat sebelum melangkah menuju kedua tangan Ashley yang terikat, dan kemudian membuka simpulan tali tambang itu menggunakan pisau lipat miliknya. Ashley masih sempat melemparkan tatapan tajam kepada Michael sebelum dirinya bangkit dari kursi dan melangkah secepat yang ia bisa ke arah Sehun yang jatuh terkapar disana.

“Sehun! Apa kau bisa mendengar suaraku?” Ashley duduk bersimpuh dan mengguncang tubuh Sehun beberapa kali, berusaha mengembalikan kesadaran pria itu. Beberapa menit kemudian, Sehun mulai membuka kedua matanya, bangkit dengan susah payah, dan akhirnya kini terduduk lemah tepat dihadapan Ashley.

Titik-titik buram berbentuk abstrak di mata Sehun akhirnya sedikit demi sedikit mulai menemukan fokusnya. Sehun mendapati wajah Ashley hanya berjarak beberapa jengkal darinya, dan semakin lama jarak yang tercipta semakin kecil.

Pria itu mencoba mengerjapkan mata, berasumsi bahwa ini hanyalah efek pening yang timbul akibat hantaman di kepalanya. Namun setelah berkali-kali mengerjapkan mata, tetap tak ada yang berubah. Faktanya, Ashley memang benar-benar tengah berusaha mempersempit jarak diantara mereka dengan mulai menangkup wajah Sehun menggunakan kedua tangannya.

Sehun terperanjat kaget ketika permukaan bibirnya yang kering, perlahan-lahan mulai terasa lembab kembali seiring dengan sapuan lembut dari bibir Ashley diatasnya. Wanita itu mulai melumat bibir Sehun dengan sangat hati-hati dan berusaha untuk tidak menyakiti pria itu lebih dalam lagi, sedangkan jari jemarinya kini mulai bergerak lembut menyusuri setiap helai rambut Sehun.

“Biarkan aku menciummu, Oh Sehun.” Ashley dengan tatapan matanya yang redup dan sendu bergumam pelan ketika wanita itu menyadari bahwa Sehun sama sekali tidak membalas ciumannya.

Ashley kembali mendekatkan wajahnya dan menggapai bibir tipis Sehun yang masih terkatup rapat, rupanya pria itu memang keras kepala! Ia pun mengambil inisiatif untuk sedikit menggigit bibir Sehun bagian bawah sampai si pemiliknya mengerang dan pada akhirnya membuka mulutnya. Kesempatan itu tak disia-siakan oleh Ashley yang segera memperdalam ciumannya dengan menyusupkan lidahnya masuk ke dalam mulut Sehun. Sama sekali tak dipedulikannya rasa anyir darah dari rongga mulut Sehun yang menyapa lidah wanita itu.

Mengejutkan!

Ya. Mengejutkan karena pada akhirnya, setelah beberapa saat, Sehun pun ikut terbuai dan mulai membalas lumatan-lumatan lembut yang diberikan oleh Ashley. Mereka tenggelam dalam pikiran masing-masing dan sama sekali tak memberi jeda sedetik pun untuk membiarkan paru-paru mendapatkan pasokan oksigennya kembali. Kini, kedua tangan Ashley telah melingkar di leher Sehun, begitu juga dengan Sehun yang telah mulai mengusap punggung Ashley dengan kedua telapak tangannya yang besar dan hangat.

Satu menit, dua menit, tiga menit, entah sampai menit ke berapa, pada akhirnya mereka memutuskan untuk melepaskan tautan bibir itu, merenggangkan jarak dan mulai mengisi kembali paru-paru yang telah kering kerontang. Nafas dan pandangan mereka saling beradu selama beberapa detik sebelum pada akhirnya Michael menarik paksa tangan Ashley.

“Kurasa, sudah cukup drama roman picisan yang kalian suguhkan kepada kami. Ini adalah waktunya untukmu menunjukkan letak microchips itu kepadaku,” ujar Michael yang tengah memegang erat pergelangan tangan Ashley, membawa wanita itu menjauh dan keluar dari gudang tua tempat penyekapan. “Kalian, lakukan sentuhan terakhirnya untukku,” lanjutnya lengkap dengan tawa licik menggelegar tepat sebelum pada akhirnya pria itu menghilang di balik pintu.

Sehun masih mencoba menormalkan kembali pernafasannya ketika kurang lebih sepuluh pria berbadan tegap telah berdiri mengelilinginya. Satu diantara mereka mundur beberapa langkah dan mulai mengacungkan sebuah pistol ke arah Sehun, namun pria itu terlalu lemah untuk mengelak. Jangankan mengelak, menggerakkan tubuhnya satu senti pun ia benar-benar tak mampu.

Sehun hanya bisa menghela nafas sebanyak mungkin, menutup kedua matanya rapat-rapat, dan menunggu suara tembakan terdengar seiring dengan sebuah timah panas yang bersarang di dalam tubuhnya.

Menyerah, adalah kata di urutan terakhir dalam kamus hidup seorang Oh Sehun. Sebuah kata yang tak pernah pria itu bayangkan sebelumnya akan menggunakannya di suatu hari. Namun kini dengan perasaan benci, Sehun pun mengakui bahwa pada akhirnya dirinya benar-benar menyerah.

-oOo-

 

INTRODUCTION CAST

MICHAEL JOAN HARRIS

61 thoughts on “[EXOFFI FREELANCE] THE ROYAL SCANDAL – Part 4

  1. Huaa penasaran buanget itu gimana nasib sehun?

    Hhaa ceelih itu ningrat bakar duetkan ya? Mklum olangkayya tkut duet nya jd sumber virus jd dbakar aje

  2. anyeoongg, hehe aku readers baru di ff ini😀. tapi aku baca yg chap 1-3 nya di blog sebelah. apa emang di post dua blog ??

    ff ini seruuuu banget. ikut tegang bacanya, sebelumnya mah senyum” gaje liat ashley adl lawan yg sepadan buat sehun wkwkw ngga taunya malah mantan agent CIA ckckc
    kasihan sehun. sehun ngga matikan ??
    masa ngga ada yg nolongin si thorr..

    Penasaran itu nnti ashley nya bakal diapain lagi..
    ditunggu kelanjutannya yaaaaa.
    Next klo bisa jangan lama” hehehe

    • Iya, FF ini di post juga di blog sebelah dan di blog pribadiku (tyjawline.wordpress.com)
      Jadi totalnya FF ini di post di 3 blog berbeda.

      Thankyou so much for your appreciation. Ditunggu chapter-chapter selanjutnya ya 😃

  3. Ashley mantan agent CIA… pantas sja dia tahu segalanya.. makin fans dah sma ashley.. muachhh…muachh..muaachh..

    bsa”nya ngambil kempatan kiss pdhal suasana lagi berbahaya kyak gini.. huh. SEHUN❤ ASHLEY..

    ditunggu chap selanjutnya thor..

  4. Akhirnya dipost jugaaa💪💪
    Ff favorite dan selalu paling di tunggu2 😄
    Sehun-Ashley romantis bgtttt😍😍
    Tpi keadaan sehun gimana? Trus Ashley beneran bakal ngasih microchips itu?
    Tpi tadi aku kaget bgt pas tau klo Ashley mantan anggota CIA whooaaa author keren bgtt👍👍

  5. keereeennnn abizz kak,,, bikin greget ajah nih ashley lama2.. aku d.sni kagum sm sosok ashley dlm kecerdasanyaaa… d tunggu chap slanjutnya kakkkk

  6. Dari awal baca prolog ini tu emang keren bgt bahkan sampe dichapter ini aku juga gak nemuin kesalahan typo atau yang lain penulisannya juga rapi banget pkoknya okelah maaf ya kak aku jarang bgt komentar pertama cuma diprolognya aja huhuhu
    Tapi beneran deh kak ini tuh bgs bgt serasa kaya nonton film action segitu berharganya microchipnya emg apaan si kak isinya gsk mungkin cuma foto2 kai doang kan? kasian ya sehun pliss jgn dibuat mati jgn sad ending kak hikss.. ditunggu kelanjutan ceritanya kak semangattt!!~

  7. Waah daebakk..
    Maaf yah ka aku baru bisa momen di part ini,😅
    Wahh ff ini bener bener bener krreeen👍👍 aku ga bisa banyangin gimana keadaan sehun😱😭
    Lanjut yah ka Fighthing!!

  8. wow, ternyata ashley mantan agen cia, pantesan dia cerdik,
    itu sehun gak mati kan? ah gak mungkin kalau mati, dia kan cast utama, hihi
    di saat seperti itu berharap anggota nis lainnya nyelamati sehun,
    ditunggu chap selanjutnya

  9. Whoaaa……. oh sehun kasian banget yah, ganteng2 tapi kok bonyok semua……. ashley!!!….. what are you doing? Don’t kiss my brother!!….. (abaikan saja:v). FIGHTING yah eonni, buat ffnya!!!!

  10. Part romancenya miris bgt eonn T_T
    Akhirkah? Baru aja secara ga langsung mereka udh pd mulai jatuh cinta, eh…. Malah berakhir tragis begini T.T
    Pd luka, ashley di bw michael, sehun idupnya udah diujung tanduk ckckck ada dewa penolong kek gitu nanti :”D

    Nextnya ditunggu bgt eonn😄

  11. Ditunggu chao selanjutnya yaa jangan lama” :v semangat eaaa nulisnya autornim soalnya ceritanya bagus & keren beneran dahhh :v /alay/ tapi beneran bagusss

  12. Sedikit demi sedikit masa lalu aslhey mulai terbongkar. Aduh kasihan sehunnya muka gantengnya bonyok badannya kena patah tulang semua kayaknya 😣 sehun sayang sini lari sama saya nyok. Tinggalkan ashley aku siap bersama mu kiq 😂😂😂 plakk

  13. waaaa ceritanya keren banyak kejutannya dari episode pertama
    maaf baru komen karena terlalu fokus ke cerita
    ditunggu ya min chapter selanjutnya

    daebak…fighting min😀😀

  14. sehunnnn…..
    disaat” seperti ini berharap chanyeol datang tiba” buat jadi pahlawan konyol..hahaha..

    kasian kan sehunnn..
    tapi……
    mreka sama” suka tuh..dicium aja bales..helah oh sehun mah …kkk~~

  15. Sebelumnya Sorry banget min , karna gua gak sempet komentar di ff lu dari chapter awal . Maaaaafff banget min *bow . Dan di chapter yg sekarang gua baru komentar , dan gua harap makin bagus lagi di chapter selanjutnya . Sebum shaleh bisa ngikutin satu sama lain .
    Ini gua takut2 beneran min kalo ntar charter ending bakal lu protect :v entah bagaimana nantinya nasib gua :3 so maaf banget baru komentar sekarang
    Keep writing ! Jgn lama2 post nya . Always nungguin :v ^^

  16. duh ikut tegang bacanya. sehun selamat kan? sehun pasti selamat kan authornim? mereka udah mulai suka kan sehun sama ashleynya? plis sehun selamat ya biar bisa selamatin ashley juga! ditunggu kelanjutannya yah authornim! fighting^^

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s