[EXOFFI FREELANCE] Good For You (Chapter 2)

fN5qRc5

JiYeol Park Present

Good For You (Chapter 2)

Staring

Sehun Of EXO-K as Oh Sehun

Baekhyun Of EXO-K as Byun Baekhyun

Kai Of EXO-K as Kim Jongin

Jiae Of OC as Kim Jiae

Namjae Of OC as Lee Namjae

Other.

Genre

Romence, Friendship, Angsty, Drama, AU.

Lenght

Chaptered

Rating

PG 17

disclaimer

This story is pure mine. Dont read if you dont like this story, this story just a fiction with alternative universe plot. Hope you like this story and try to be a good readers, dont bash and give me your comment. Thanks!

 

…Ada saat dimana kesetiaan tidak selalu menjadi prioritas, yang ada hanyalah pengorbanan…

.

.

.

.

.

.

Namjae menghentikan mobilnya diparkiran  sebuah klub malam yang cukup ternama dikawasan gangnam, dia tahu bahwa baik jiae maupun sehun sudah melarangnya untuk datang kesana ditambah sekarang ia hanya pergi sendirian. Tapi namjae tidak terima ditinggal sendirian dirumah sedangkan kedua orang itu bersenang senang tanpanya, lagipula ia sudah merasa lebih baik dari sebulan lalu.

 

Dengan langkah mantap ia mulai memasuki tempat yang dipenuhi dentuman musik keras dan aroma alkohol itu, ia sudah memutuskan hanya akan duduk dan memperhatikan saja disana. Ia segera menyusul jiae ketempat VIP yang sudah dipesan oleh gadis itu untuk pertemuan dengan klien dari luar negerinya, namjae bingung kenapa pertemuan sepenting itu harus dilakukan ditempat sebising klub malam. Mereka bicara soal investasi uang bukan untuk bersenang senang disana, kan? Andai saja paman jiae melimpahkan semua pekerjaan pada gadis itu setelah ia benar benar lulus dari universitas pasti ia tidak akan sesibuk sekarang. Beruntung bagi namjae karna sang ayah belum berniat mengusik hidup bebasnya dengan setumpuk pekerjaan seperti yang menimpa jiae sekarang sehingga ia masih bisa melakukan banyak hal tanpa takut harus berbentrokkan dengan jadwal pekerjaan. Bisa dibayangkan sendiri bagaimana ia harus bekerja ditengah keadaannya yang berbadan dua.

 

Ia sedikit bingung saat melihat hanya ada sehun yang duduk sambil menghisap sebatang rokok yang tinggal setengah di kursi ruang VIP dan tidak menemukan keberadaan jiae disana maupun orang yang lainnya, hanya ada sehun yang duduk disana sambil menatap lurus kedepan. Tak menyadari kehadiran namjae karna mungkin terlalu sibuk dengan pikirannya sendiri. Tanpa pikir panjang ia langsung menghampiri pria itu dan duduk tepat disamping kanannya, sehun cukup terkejut melihat kehadirannya namun segera kembali lagi pada kegiataan awalnya.

 

“Kupikir kau sudah berhenti menjadi perokok.” Ucap namjae pelan.

 

“Hanya sesekali, ini bisa sedikit membuatku tenang.” Balas sehun tanpa melirik namjae. Gadis itu lantas mendelik curiga pada sehun.

 

“Apa kau sedang menghisap ganja?!” Tanya namjae terkejut.

 

“Tentu saja bukan, ini hanya rokok biasa. Menjauhlah sedikit, kau tidak boleh dekat dekat dengan orang yang sedang merokok!” Ucap sehun kesal sambil menyalakan satu lagi rokok yang sudah berada ditangannya.

 

“Oke oke dasar tukang marah, mana jiae?” Tanya namjae lagi.

 

“Dia sedang bersenang senang di dance floor bersama mantanmu.” Ucap sehun santai sambil menghembuskan kepulan asap dari mulutnya, dan saat itulah namjae semakin yakin bahwa pria disampingnya itu tengah mabuk. Entah itu mabuk minuman atau memang benar benar tengah berada dalam pengaruh ganja.

 

“Baekhyun maksudmu?” tanya namjae ragu saat menyebutkan nama pria yang sempat menjadi kekasihnya beberapa bulan lalu.

 

Sehun mengangguk singkat dan namjae langsung membeku ditempatnya, tak mampu mengeluarkan suara lagi.

 

“Baekhyun adalah patner kerja jiae kali ini. Kau tahu, si ratu party itu sudah bertemu dengan raja party yang sesungguhnya.” Ucap sehun lagi, dia terdengar seperti tengah…. cemburu? Well, dia sebenarnya tidak perlu secemburu itu kalau sudah tahu bahwa baekhyun adalah mantan namjae dan bukannya mantan jiae, kan?

 

Penasaran, namjae melirik sedikit kearah dance floor di depan mereka dan refleks menghembuskan lelah, ia lelah melihat baekhyun yang tak berubah. Ia mengutuk si playboy kelas teri sialan itu, sekarang bahkan ia ingin mendekati jiae yang notabene adalah sahabat namjae, mantannya sendiri? namjae bahkan terang terangan menunjukkan ekspresi jijiknya saat melihat baekhyun yang mulai nakal menyentuh nyentuh jiae yang saat itu tidak sadar tengah menari dengan siapa. Dengan tak sabaran namjae menepuk nepuk bahu sehun untuk menyadarkan pria itu bahwa ia harus segera bertindak sebelum si baekhyun sialan itu berbuat macam macam pada jiae.

 

“Bodoh, kau seharusnya pergi kesana sebelum si baekhyun sialan itu menggeret jiae kekamar hotel!” Ungkap namjae frontal, dia tidak peduli lagi pada ucapannya.

 

Sehun menuruti saran namjae, di berjalan pelan ke arah kumpulan orang mabuk yang tengah asik menggoyangkan tubuh mereka dibawah temaram lampu klub yang berkelap kelip. Dia menemukan sosok jiae ditengah sana tengah dipeluk peluk oleh pria yang sehun kenali sebagai Byun Baekhyun, jiae hampir saja dicium oleh pria itu andaikan sehun terlambat dan kini sehunlah yang menggantikan posisi baekhyun setelah ia berhasil mendorong telak baekhyun untuk mundur.

 

“Kau pulang ke rumahku setelah ini!” Ucap sehun kesal.

 

“Jadi kau ingin menghukumku, begitu?” Tanya jiae sambil menyeringai remeh, setengah mabuk dan setengah sadar.

 

“Ide yang bagus.” Gumam sehun sebelum ia melumat ganas bibir gadis didekapannya itu, jiae mengalungkan kedua lengannya dileher sehun kemudian membalas lumatan sehun tak kalah panas dari sebelumnya.

 

 

**

 

 

“Dasar pasangan mesum.” Gerutu namjae setelah melihat apa yang sehun dan jiae lakukan di dance floor.

 

Dia menyesal datang kesini, seharusnya ia tidak perlu datang kesini kalau hanya disuguhkan adegan adegan rated M oleh sahabatnya. Lagipula ia sudah mulai merasa mengantuk, ya lebih baik ia beristirahat dirumah. Namjae mengambil ponsel dan dompet sekaligus kunci mobil yang ia taruh di atas meja kemudian segera beranjak dari tempat itu menuju parkiran.

 

Namjae hampir saja membuka pintu kemudi mobilnya kalau saja ia tidak mendengar suara yang melontarkan kata kata umpatan kasar dari mobil yamg berada tepat disebelah mobil miliknya. Dia melirik sebentar kearah pria berkemeja hitam yang berdiri didekat pintu mobil milik pria itu, pria itu terlihat kesal sekali. Namjae membulatkan matanya terkejut saat si pria berkemeja hitam meluruskan pandangannya, mata mereka langsung bertemu dan itu berhasil membuat namjae salah tingkah dan tidak mampu untuk mengalihkan pandangannya.

 

Ia memang sering mengeluarkan sumpah bahwa jika ia bertemu langsung dengan baekhyun setelah hubungan mereka berakhir, ia tak akan segan untuk meninju wajah mulus pria itu. Tapi sekarang dia seperti mati kutu, bagaimana bisa baekhyun ada disini? seingat namjae pria itu masih ada didalam klub beberapa menit yang lalu.

 

Menyadari bahwa ia memang tidak sedang salah lihat ataupun berdelusi baekhyun berjalan semakin mendekat kearah namjae, dan gadis itu hanya bisa diam mematung sambil menggertakkan giginya geram.

 

BUK!

 

Tidak main, namjae benar benar meninju wajah pria itu dengan tangan kanannya yang kosong setelah mereka sama sama berdiri dalam jarak yang cukup dekat. Dan namjae tak mau menyia nyiakan kesempatan untuk segera meninju wajah baekhyun, dia sudah menantikan pertemuan seperti ini sejak dua bulan lalu sebenarnya.

 

“Arkh…. Apakah ini ucapan selamat datang yang kau berikan untukku?” Ringis baekhyun sambil memegangi pipi kirinya yang lebam akibat tinjuan telak dari namjae.

 

“Itu pantas untuk pria brengsek sepertimu, jadi terima saja dan anggap itu ucapan selamat datang lagi ke korea dariku.” Balas namjae acuh.

 

“Nami sayang, kau galak sekali.” Gumam baekhyun masih sambil mengelus elus pelan pipinya yang lebam.

 

“Aku jijik mendengar panggilan itu, kau sungguh membuatku ingin muntah.” Ucap namjae kasar, dia memang merasa sedikit mual lagi kali ini disamping itu memang karna ucapan baekhyun ataupun hormon kehamilannya.

 

“Boleh aku pinjam mobilmu? mobil sialan itu mogok!” Ucap baekhyun kesal sambil menunjuk nunjuk mobil hitam yang terparkir tepat disamping mobil namjae.

 

“Kau pikir aku sudi meminjamkan mobilku padamu? Kau terlalu percaya diri akan hal itu. Pulang saja dengan taksi.” Ucap namjae dingin kemudian segera membuka pintu mobilnya yang sempat tertunda.

 

Segera setelah ia duduk dikursi pengemudi, namjae menyalakan mesin mobilnya kemudian keluar dari parkiran meninggalkan baekhyun yang kini hanya bisa memasang ekspresi tersiksa. Tapi entah kenapa ia mengerem mobilnya secara mendadak saat hampir mencapai pintu keluar area perkiran, dia membuka kaca dipintu tempat kemudi. Kepalanya mendongak keluar.

 

“Cepat masuk sialan!” Teriak namjae pada baekhyun yang masih berdiri ditempat semula.

 

Dia kasihan juga sebenarnya, hari sudah larut dan tidak mungkin ada taksi yang bisa disewa di jam seperti ini. Walaupun ada, namjae tidak mau membahayakan keselamatan anak orang, terlebih itu baekhyun yang bagi namjae memang tidak pernah bisa diandalkan.

 

Baekhyun tertawa puas, ia langsung berlari kearah mobil namjae kemudian membuka pintu penumpang yang berada tepat disamping namjae. Dia ingin berada dekat dengan gadis itu, dan namjae hanya memberinya respon tidak berarti.

 

“Kalau kau berisik aku tidak akan segan segan untuk melemparmu keluar dari mobil.” Tegas namjae mulai menjalankan mobilnya lagi.

 

Mereka saling diam, namjae fokus dengan jalanan didepannya sedangkan baekhyun terlihat tengah sibuk dengan ponsel ditangannya. Setidaknya keheningan yang nyaman bagi namjae itu hanya berlangsung sebentar sebelum baekhyun mulai berbicara lagi. Dan beruntung namjae masih bisa menahan keinginannya untuk benar benar melempar baekhyun keluar, dia hanya akan merespon kalimat kalimat baekhyun dengan deheman ataupun beberapa balasan singkat lainnya karna memang sejak awal namjae tidak berniat untuk bicara terlalu banyak bersama pria itu.

 

“Kau terlihat gemukan atau hanya perasaanku saja?” Ucap baekhyun.

 

“Baekhyun!” Geram namjae kesal.

 

“Baiklah, berat badan memang selalu menjadi topik yang sensitif untuk perempuan manapun, ya?” Ucap baekhyun terkekeh tanpa nada menyesal sedikitpun.

 

“Tentu saja, bodoh. Kau sudah sering bersama para perempuan tapi tidak pernah sekalipun peka terhadap mereka.” Balas namjae yang mulai terbawa arus.

 

“Tentu saja karna aku hanya akan peka padamu, sayang.” Balas baekhyun santai.

 

 

**

 

 

Namjae berusaha mencari cari skripsinya dirumah jiae namun tidak menemukannya dimanapun, bahkan jiae tidak menaruh benda itu ditempat biasa ia menyimpannya. Kalau sudah begini mau tidak mau ia harus mencari jiae, karna gadis itu sejak semalam tidak pulang kerumahnya dan ponselnya juga tidak bisa dihubungi. Bahkan sehun juga mulai bertingkah seperti jiae, sama sama tidak bisa dihubungi disaat genting seperti ini. Namjae butuh skripsi itu sekarang untuk ia perlihatkan kepada dosen sebelum sidang skripsi bulan depan, jiae sialan!

 

Sambil mengunyah kue yang diberikan oleh bibi lim beberapa saat yang lalu ia berjalan kearah mobilnya diparkiran, berniat pergi kerumah sehun. Hanya rumah sehun dan bukan rumah keluarga sehun karna ia tahu sehun sudah pindah kerumah pribadi miliknya. Butuh waktu setengah jam untuk namjae bisa sampai kerumah sehun, karna sehun sengaja membuat rumah yang berada tidak jauh dari rumah kekasihnya. Setelah sampai didepan rumah bergaya futuristik itu namjae mulai terlihat tidak yakin apakah ada orang didalam sana karna rumah itu terlihat sepi sekali, tapi setelah menemukan keberadaan mobil jiae digarasi keyakinannya kembali.

 

Namjae mendorong pelan pintu didepannya yang ternyata tidak dikunci sama sekali, orang bodoh mana yang lupa mengunci pintu rumahnya sendiri? Dasar ceroboh.

 

Namjae mulai lupa tujuan utamanya kemari saat melihat bagaimana megahnya rumah baru sehun itu, tanpa perlu ditebak seluruh rumah itu dibuat dari hasil kerja keras sehun selama ini. Ia sungguh tidak salah dengan menjodohkan jiae pada pria seperti sehun. Namjae menaiki tangga menuju kamar yang berada dilantai dua, lalu membuka perlahan pintu kamar satu satunya yang berada dilantai dua itu.

 

“Dasar pasangan mesum.” Gerutu namjae kemudian setelah melihat dugaannya memang tidak salah.

 

Jiae memang ada disana, bergelung dibawah selimut bersama sehun dan namjae yakin bahwa selain selimut kedua orang itu tidak menggunakan apapun lagi ditubuh mereka.

 

“Yyak bangun!” Ucap namjae cukup keras. Dan hanya dibalas lemparan bantal dari sehun, namjae semakin dibuat kesal saja karna itu.

 

“Serius?! kalian melempariku bantal? lihat saja apa yang akan tuan Oh dan samchon katakan setelah aku mengadukan perbuatan mesum kalian ini.” Ucap namjae kesal sambil menekan beberapa digit nomor diponselnya, yang pertama kali akan ia hubungi tentu saja ayah jiae. Membayangkan jiae dan sehun dinikahkan pada usia muda saja sudah membuatnya ingin tertawa puas seharian, apalagi saat ia melihat kedua orang itu di omeli habis habisan karna perbuatan mesum mereka. Bisa dipastikan namjae tidak bisa berhenti tertawa dengan mudah.

 

“Jangan!” Ucap kedua orang itu panik dan langsung bangun dari tidur mereka.

 

“Baiklah, tidak jadi. Tapi kusarankan agar kalian memakai sesuatu terlebih dahulu, aku akan menunggu dibawah.” Ucap namjae sambil menunjukkan ekspresi anehnya saat melihat keadaan sehun dan jiae.

 

 

**

 

 

Jiae menggerutu untuk kesekian kali sambil mengambil skripsi milik namjae yang ia taruh didalam tas yang menjadi favoritnya akhir akhir ini, bukan apa apa, dia hanya sedikit kesal harus terbangun lagi dalam keadaan yang sama seperti kejadian di jeju. Ditambah ia dipergoki langsung oleh namjae kali ini, ingin ditaruh dimana wajahnya setelah ini huh?

 

Dia bahkan tidak diberikan waktu sedikit saja umtuk mandi kalau tidak mau diadukan pada ayahnya, sebenarnya satu satunya hal yang paling ditakuti jiae didunia ini hanyalah ayahnya. Bisa dibayangkan dia akan dicincang habis habisan kalau sang ayah tahu bagaimana kelakuannya dibelakang pria pemarah itu, terakhir kali saja ia hampir dikirim kembali kerumah kakeknya yang tidak kalah pemarah hanya karna dipergoki berciuman dengan salah satu mantannya, yaitu jongin.

 

“Bisa kau berhenti menggerutu seperti itu? kau terlihat seperti troll pemarah tahu.” Ucap sehun sambil mengambil sebuah kaos putih polos dari lemari miliknya.

 

“Hei! dimana baju bajuku?!” Tanya jiae panik saat melihat sehun berjalan keluar dari kamar.

 

“Baju bajumu belum kering.” Balas sehun tanpa berbalik.

 

“Lalu aku harus memakai kemeja super besar milikmu ini seharian, huh?!” Kesal jiae.

 

“Kalau kau tidak mau memakainya kau bisa telanjang saja seharian, bukan masalah bagiku.” Balas sehun usil.

 

“Bisa kau bantu aku berdiri?! Yyak Oh Sehun!” Teriak jiae saat sehun berjalan semakin menjauh darinya.

 

“Sehun sialan kau!” Dan sehun hanya tertawa saat mendengar teriakkan jiae dari dalam kamar sana, berusaha tidak peduli dan memilih untuk pergi keruang tengah menemui namjae.

 

Saat sampai di ruang tengah ia tak menemukan keberadaan namjae disana, namun suara berisik dari arah dapur segera menarik perhatiannya. Ia melihat namjae tengah membuat minuman disana, dan sehun segera merebut salah satu cangkir berisi teh yang berada ditangan kiri namjae dan segera meminumnya tanpa memperdulikan tatapan jengkel gadis itu yang bersarang padanya. Niatan awal namjae membuat minuman itu untuk jiae bukan pria tiang didepannya itu.

 

“Minuman itu untuk jiae, sehun.” Ucap namjae.

 

“Nanti aku buatkan lemontea untuknya, kau tidak perlu khawatir.” Balas sehun acuh, memilih untuk memperdulikan teh yang tengah diminumnya.

 

“Ada perlu apa kau kemari? Dasar pengganggu.” Lanjut sehun, kini mereka berdiri sambil menatap lurus kedepan.

 

“Aku tidak percaya jiae belum mengatakan hal ini padamu, hari ini aku harus menyerahkan skripsi pada Mr. Kang untuk diperiksa.” Jawab namjae yang hanya dibalas ‘Oh’ oleh sehun.

 

“Kalau begitu ambil saja dikamar, aku yakin jiae tidak akan bisa mengantarkannya untukmu.” Ucap sehun.

 

“Kapan skripsi itu diperiksa?” Lanjut sehun.

 

“Jam sembilan nanti, kau bisa menitipkan milik jiae sekalian. Sudah sana, ambilkan skripsi skripsi itu. Aku malas harus naik turun tangga.” Balas namjae.

 

“Kau tahu, seharusnya orang hamil banyak bergerak.” Ucap sehun sambil berjalan malas menuju tangga.

 

Ponsel ditangan kiri namjae berdering, ia melirik dengan tidak minat ke layar datar itu. Wajahnya semakin terlihat tidak mood saat mengetahui nama si pemanggil yang tidak lain adalah Byun Baekhyun, mau apa lagi sialan itu menelponnya?. Namjae langsung menghentikan panggilan itu, sudah cukup dia tidak ingin lagi hidupnya diganggu oleh sosok baekhyun. Pria itu memang tidak akan pernah bisa dipercaya selamanya.

 

“Sehun – ah!” Alis namjae langsung terangkat bingung. Sudah pasti orang yang barusana berteriak bukanlah jiae ataupun dirinya.

 

Karna penasaran namjae langsung pergi menuju ruang tamu dimana suara tadi berasal, Sedangkan ia melihat jiae dan sehun menuruni tangga dengan terburu buru dan meneriakinya agar ia tidak pergi ke ruang tamu tapi sekali lagi namjae terlalu acuh untuk memperdulikan ucapan kedua orang itu.

 

“Bagaimana kau bisa tahu aku ada disini?!” Tanya namjae kesal.

 

“Aku tidak tahu kau ada disini, aku mencari sehun tahu. Kau jangan terlalu percaya diri, nami sayang.” Orang itu baekhyun, dia datang entah dari mana dan langsung membuat namjae ingin sekali menggaruk tembok karna kesal.

 

“Lalu kenapa kau barusan menelponku?!” Kesal namjae, sejak kemarin baekhyun selalu saja membuatnya kesal.

 

“Hanya iseng, karna aku merindukanmu.” Balas baekhyun acuh sambil memainkan Ipad ditanganya, bersikap sok sibuk sendiri.

 

“Sudah aku bilang jangan menyusul kesini, namjae!” Jiae datang dari arah lain dengan nafas terputus putus, seperti habis berlari.

 

“Err… Jiae, kau melakukan apa saja bersama sehun sampai terlihat berantakan seperti itu.” Ucap baekhyun pelan sambil menatap jiae, lebih tepatnya tubuh gadis itu dari ujung kaki hingga ujung kepala tanpa berkedip sedikitpun. Terlihat takjub.

 

“Hyung, jangan kurang ajar. Kau juga, sudahku bilang jangan turun tapi kau keras kepala! lihat pasti sakit lagi, kan?” Sehun langsung menimbrung diantara ketiga orang itu kemudian menarik jiae kebelakang tubuhnya saat sadar gadis itu hanya memakai kemeja kotak kotak kebesaran miliknya, pantas mata baekhyun tidak bisa diam.

 

“Kalian habis… ‘Begitu begitu’? lalu kenapa namjae ada disini juga?” Tanya baekhyun curiga sambil menunjuk ketiga orang didepannya satu persatu bak tersangka kejahatan.

 

“Hyung, kumohon jangan keluar dari topik awal. Cepat selesaikan urusanmu lalu pergi dari sini!” Kesal sehun.

 

“Hyung??” Akhirnya namjae mengeluarkan pertanyaan yang sejak tadi mengusiknya. Dari sisi lain terdengar suara jiae yang menepuk jidatnya tak habis pikir.

 

 

-TBC-

 

Pertama JiYeol nulis chapter ini sambil mengumpat ngumpat gak jelas cuma karna MV Lotto, please itu sehun tolong dikondisikan!. Dan ya karna terlalu banyak mengumpat itulah akhirnya chapter ini jadi rada gaje dan patut untuk diberi rating M, menurut JiYeol sih. Dan juga karna kemunculan bekyun yang gak terduga disini JiYeol jadi harus muter otak lagi, gak terlalu di putar juga sih nanti jadinya malah pusing sendiri. Intinya nanti bekyun bakal ikut jadi pemeran di fanfic ini, JiYeol itu suka banget masukin cast utama baru di pertengahan chapter hehehe. Oke See you next time:*

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s