[EXOFFI FREELANCE] HATER X FAN (Chapter 5)

hatersxfans-redo

Tittle : HATER X FAN

Author : Choco(L)ate

Main Cast : Krystal Jung | Kim Jongin (Kai) | Park Chanyeol | Bae Irene

Genre : Drama, Sad, Romance, AU

Rating : PG 15+

Length : Chaptered

Disclaimer : This is my story. Don’t be Plagiarism! Enjoy!

And Thanks to Xyoblue Design for nice poster!

[Teaser] [Ch1] [Ch2] [Ch3] [Ch4]

«Previous Chapter

 

Perasaannya jadi sangat tak enak. Haruskah ia menegakkan kepalanya dan melihat siapa orang itu? Tidak, ia tidak mau. Tapi kepalanya berkhianat. Ia menoleh. Sialan. Pria itu lagi. Kim Kai.

 

Jari-jari Krystal yang masih mengait di pegangan cangkirnya semakin kuat. Haruskah ia menumpahkan minuman panas ini ke wajah pria yang kini duduk di hadapannya?

 

“Why you showing me that your fuckin’ face?! Go away. Now.” Ujar Krystal sepelan mungkin menekan emosinya dalam-dalam.

 

Kai melipat kedua tangannya diatas meja, mencondongkan tubuhnya agar lebih mendekat pada Krystal. Ia tersenyum.

 

“You’re beautiful when you angry.”

 

 

#Chapter 5

 

Krystal tertawa lewat hidungnya. Harus berapa banyak lagi ia mengumpat tentang pria tak waras di hadapannya ini? Lihat saja wajah menyebalkan yang tengah menatap Krystal dengan senyum mengerikan itu. Dan lihatlah sekelilingnya, orang-orang menatap mereka dengan tatapan tak wajar. Oh ayolah, mungkin neptunus sedang berbaik hati mendatangkan seorang idol ke kafetaria itu bahkan tanpa masker atau penutup wajah lainnya.

 

Gadis itu meletakan cangkirnya sedikit kasar.

“Kau yang pergi atau aku?”

 

Kai membanting punggungnya pada sandaran kursi sambil menyilangkan tangannya di depan dada.

“Aku hanya ingin bicara.”

 

Krystal memutar bola matanya malas.

“Sayang sekali aku tidak ingin bicara denganmu.” Ia segera meraih tasnya berniat meninggalkan saja pria itu daripada kepalanya semakin pusing. Tapi saat ia berdiri Kai menendang permukaan bawah meja dengan ujung sepatunya. Cangkir di atas meja itu bahkan ikut berbunyi dan bergeser beberapa senti, membuat Krystal berjengit kaget. Bukan hanya gadis itu, tapi juga orang-orang yang berada disana.

 

“Siapa yang mengizinkanmu pergi? Duduk.” Perintah Kai, menunjuk kursi dengan rahangnya agar gadis itu kembali ke tempat semula.

 

Baiklah, Krystal kembali duduk di tempatnya. Ia pikir ini lebih baik daripada pria sinting itu membuat keributan lain. Yah walaupun hatinya jengkel setengah mati tapi akhirnya ia menurut juga.

“Bicaralah” Ujarnya tanpa menatap Kai.

 

Kai terdiam beberapa saat.

“Soal kontrak kerja..” Suaranya menggantung. Kalimat itu berhasil membuat Krystal menoleh malas padanya, tebakannya tidak meleset.

 

“Jika itu yang ingin kau bicarakan, datanglah pada Luhan. Aku benar-benar muak mendengar soal kontrak sialan itu” Ia menatap Kai jengah.

 

Kai menatap gadis itu beberapa detik lalu kembali bersuara. “Aku tahu kau tidak bodoh. Kau tahu betul jika kontrak itu butuh tanda tanganmu.”

 

“Dan aku tidak ingin menandatangani kontrak itu.” Jawabnya tak sabaran.

 

Kai hanya mengangguk-angguk lemah. “Sepertinya kau sangat membenciku.”

 

Krystal tak habis pikir jika kalimat itu yang akan ia dengar. Membencinya? Oh tentu saja. Ia masih waras, bagaimana bisa ia tak membenci orang yang mencelakai ayahnya?

“Kau tahu jawabannya” Balasnya tak acuh.

 

Kai tersenyum miring. “Ah, kau seperti berkata sebaliknya. Bukankah kau fansku?-” Ia kembali melipat tangannya di atas meja lalu menatap manik mata Krystal lekat. “-Masternim?” Lanjutnya dengan sebelah alis yang terangkat.

 

Krystal membeku di tempat. Ia baru ingat, Kai mengetahui jika ia adalah fansnya. Dan sekarang bahkan pria itu tahu jika ia seorang master fansite-walaupun sudah tidak lagi. Oh andai saja ia bisa, rasanya Krystal ingin meninju wajah itu. “Sudah berakhir.”

 

Kai tertawa mencemooh. “Kau bahkan menentang ayahmu saat dia berkali-kali memintamu untuk berhenti. Kau pasti sangat menyukaiku.”

 

Kali ini Krystal mati-matian agar mulutnya tak mengeluarkan umpatan seperti yang hatinya lakukan. Bagaimana bisa? Pria itu bahkan tahu hal dalam tentang ia dan ayahnya.

“Jika bicaramu sudah selesai aku akan segera pergi” Ujar gadis itu malas.

 

“Belum. Tentang kontrak kerja. Kau harus menanda tanganinya. Jika tidak..” Kai kembali menggantung kalimatnya, membuat kening Krystal mengkerut. “Aku akan membuat ayahmu benar-benar tak bisa bangun.” Lanjutnya setengah berbisik.

 

Krystal menatap Kai sarkatis. “Kau sedang mengancamku?”

 

“Tidak, aku hanya memberimu pilihan.” Jawabnya santai.

 

Krystal tidak bodoh, jelas-jelas itu sebuah ancaman. Apa Kai begitu ingin bekerja sama? Mengapa ia bersikeras tentang kontrak kerja itu? Atau mungkin.. Ini karna perempuan bernama Irene?

 

“General affair Irene. Apa karna dia yang mengajukan kontrak padamu? Sepertinya kau mengenalnya. Dan, Ketara sekali perasaanmu itu.” Kini giliran Krystal yang tertawa mencemooh.

 

Kai mengingat kejadian beberapa waktu lalu tentang ia yang begitu melindungi Irene atas tindakan Krystal. Tapi dugaan gadis itu salah besar. Kai tersenyum miring. “Kau tidak menyimak pembicaraan kita sebelumnya. Aku bilang aku membuat kontrak kerja itu dengan Presdir Jung. Percaya atau tidak, tapi ia sendiri yang mengajukan kontrak itu padaku. Bagaimana?” Kai tersenyum menang.

 

Krystal kembali membeku, rasanya seperti kepalanya disiram air es. Ayahnya? Itu tidak mungkin. Krystal selalu ingat bagaimana ayahnya melarang dan mempermasalahkan tentang ia yang menyukai dan menjalani fansite Kai. Lalu sekarang ia dengar ayahnya yang langsung membuat kontrak itu dengan Kai? Omong kosong.

 

“Mengejutkan? Ya, ini memang untuk kejutan di hari ulang tahunmu. Kado istimewa sebelum ia mengirimmu pergi belajar di Amerika.” Ujar Kai santai. “Ups.. Apa aku memberitahumu rencana sebenarnya?” Lanjut pria itu dengan nada seolah ia menyesal, nyatanya tidak sama sekali.

 

Krystal semakin membeku ditempat. Mendengar kenyataan yang terus menerus menyakiti hatinya bagaikan tubuhnya ditembaki peluru tanpa henti. Mengejutkan dan membuat luka yang baru. Bahkan Kai tahu dan menyebut-nyebut rencana sang ayah tentang kuliahnya di Amerika. Mengerikan.

“Seberapa banyak kau tahu tentang keluargaku?” Krystal berucap datar.

 

Kai tersenyum. “Banyak. Bahkan jauh diluar ekspektasimu”

 

Krystal termenung di tempatnya menatap manik Kai, pria ini memang mengerikan, pikirnya. Tapi apakah benar sebanyak itu? Tapi bagaimana? Mengapa? Lalu tiba-tiba otaknya kembali berputar pada kecelakaan ayahnya, juga Kai yang mengajaknya bicara di sungai Han.

 

Matamu.. Mengingatkanku pada seseorang

 

Kau benar, aku melakukan semuanya dengan sengaja

 

Aku hanya memberikan apa yang telah aku

dapatkan. Jika kau benar-benar ingin tahu,

tanyakan pada ayahmu jika ia berhasil bangun

dari koma!!

 

Rasanya kalimat-kalimat Kai saat itu kembali berputar di otaknya. Krystal memejamkan matanya beberapa detik. Ia kembali menatap Kai yang juga masih menatapnya. Lalu rasa penasaran tiba-tiba merayapi hatinya. Mengapa Kai melakukan itu pada ayahnya? Mengapa Kai sejahat itu? Mereka tidak saling mengenal. Dengan sekuat hati ia memberanikan diri menanyakan pertanyaan yang selama ini membuat hatinya tak tenang.

 

“Mengapa kau berfikir ingin membunuh ayahku? Apa alasanmu? Kau bahkan tak mengenalnya. Ayahku orang baik” Ujar gadis itu masih datar, padahal hatinya begitu perih jika mengingat ayahnya bahkan masih terbaring dirumah sakit.

 

Senyum di bibir Kai semakin melebar. Akhirnya ia mendengar kalimat itu. Tapi semakin lama ia menatap Krystal, senyumnya makin menghilang. “Sepertinya itu yang harus aku katakan. Kau tidak mengenal ayahmu”

 

Krystal menatap Kai bingung. Kalimat itu terlalu ambigu. Ia jelas-jelas mengenal baik sang ayah. Ia putrinya. Lalu apa maksudnya mengatakan itu? Menangkap kebingungan Krystal, Kai kembali tersenyum miring.

“Aku pernah bilang jika kau ingin tahu tanyakan saja pada ayahmu jika nanti ia bangun. Oh aku lupa, apakah jika seseorang mati otak akan kembali bangun dari komanya? Atau tanpa aku berbuat lagi, dia akan menyusul ibumu?”

 

Dan sekali lagi kalimat itu menohok hati Krystal. Kai pasti sengaja mengingatkan bahwa ayahnya masih tak sadarkan diri. Mengingatkan bagaimana hancurnya Krystal saat melihat sang ayah bermandikan darah pada malam itu. Mengingatkan jika kemungkinan ayahnya bangun hanya sedikit. Rasa sakit dan marah kembali menggerogoti hatinya. Kini giliran Krystal yang tersenyum miring.

 

“Aku tahu anak panti asuhan yang tak di urus oleh orang tuanya akan berakhir menyedihkan. Sepertimu. Ingin membunuh orang lain, tak beretika dan kasar. Benar-benar menyedihkan”

 

Untuk beberapa saat Kai terdiam, menatap lawan bicaranya datar. Ia hampir lupa jika gadis dihadapannya ini adalah mantan seorang master fansite. Paling tidak Krystal mengetahui rincian hidupnya.

 

“Orang tuamu..” Krystal menggantung kalimatnya, melihat ekspresi Kai yang berubah signifikan. “Mereka juga pasti sama menyedihkannya denganmu.”

 

Dan kalimat itu, berhasil menohok hati Kai untuk pertama kalinya. Rasanya seperti ia mendapat serangan balik dari boomerang yang ia lemparkan. Ia membeku di tempatnya.

 

“Kau hanya membuang waktuku” Krystal kembali bangkit dari duduknya dan segera beranjak. Kali ini Kai tak melakukan apapun. Hingga teriakkannya menginterupsi langkah Krystal.

 

“Shareene Lee!”

 

Krystal berhenti di tempatnya dan menoleh menatap Kai bingung. Ia tidak salah dengar bukan? Apa Kai baru saja meneriakan nama mendiang sang ibu?

Kai ikut beranjak dari tempatnya, mendekati gadis yang masih mematung ditempatnya lalu ikut terdiam sambil menatapnya dengan tatapan yang sulit di artikan.

 

“Shareene Lee. Perempuan itu..” Kalimatnya ia gantungkan saat tatapannya berubah menajam. Bahkan dalam hati, Krystal berucap jika tatapan itu membuatnya takut.

“Jika kau membenciku, lalu apa yang harus aku katakan tentang ibu atau ayahmu? Huh?” Lagi-lagi Krystal mendapat tatapan itu, tatapan yang ia sendiri tidak tahu apa namanya. Hancur? Entahlah.

“Jaga ucapanmu. Sebelum kau merendahkan orang lain, kau harusnya tahu seberapa menjijikannya orangtuamu!” Setelah mengatakan itu dengan suara yang hampir seperti bisikan, Kai melangkah pergi dan dengan sengaja menabrakan bahu Krystal kasar yang masih mematung, masih berusaha mencerna kalimat yang Kai lontarkan.

 

 

Krystal kembali ke rumah dengan langkah gontai. Selain ia lelah karna pulang menggunakan taksi, entah mengapa kalimat Kai beberapa waktu lalu terus berputar di otaknya. Ia bahkan acuh tak acuh saat melihat Luhan yang tengah duduk di sofa ruang tamunya sedang berbicara dengan bibi Jo.

Setelah mengambil segelas air putih di konter dapur, ia segera menghampiri Luhan, menjatuhkan tubuhnya di sofa yang bersebrangan dengan tempat pria itu. Ia menatap Luhan seolah meminta penjelasan untuk apa ia berada dirumahnya sekarang.

 

Luhan berkata jika ia meminta maaf tentang kejadian di kantor tadi pagi. Ia berbicara panjang lebar tentang ini dan itu menceritakan kejadian-kejadian setelah kepergian Krystal. Mulai dari para pegawai yang meributkan kedatangan Kai ke kantor, hingga ia yang menjadi peran utama saat mencoba bertengkar dengan Kai karna membela Krystal. Tak lupa, bagian dimana rasanya Luhan ingin menghancurkan kontrak. Caranya bercerita penuh emosi disertai gerakan tubuhnya sebagai pendukung. Krystal hanya mengerutkan keningnya tak mengerti. Jadi apa inti permasalahan sehingga membuat Luhan datang kerumahnya. Hanya itu.

 

“Ini.” Luhan memindahkan letak map cokelat di atas meja mendekat pada Krystal.

Untuk beberapa saat Krystal hanya terdiam. Namun ia kembali membuka dan meneliti isi kontrak itu dalam diam, yang malah menciptakan guratan kecemasan di wajah Luhan. Mata Krystal berhenti di satu poin terakhir yang menyebutkan jika kontrak itu hanya berakhir jika pihak kedua (Kai) yang memintanya. Jika tidak, denda yang berlaku 3x lipat.

Krystal berdecak begitu keras. Ia paham mengapa Luhan benar-benar tak bisa membatalkan kontraknya. Ia lalu menatap Luhan sejenak, ia sudah salah sangka pada sekertaris kesayangan ayahnya itu. Tapi itu malah membuat Luhan gelagapan, takut-takut Krystal akan melontarkan kalimat bahwa ia di pecat.

Krystal hanya tersenyum samar menyadari ekspresi aneh Luhan. Ia kembali meneliti kontrak di tangannya, tapi matanya kembali berhenti di lembar terakhir. Ia memandangi ruang kosong tempat dimana harusnya ia membubuhkan tanda tangan. Lalu memori beberapa waktu lalu kembali memasuki ingatannya. Kalimat-kalimat Kai berputar-putar lagi, membuatnya pusing setengah mati. Dengan gerakan cepat ia merogoh isi tasnya mencari-cari sesuatu.

 

“Jika kau butuh korek api, aku punya.” Ujar Luhan sambil merogoh isi jasnya. Ia pikir Krystal akan membakan kontrak itu, tapi nyatanya ia dibuat kaget saat Krystal mengeluarkan bolpoin dan dengan gerakan cepat yang seolah tak bisa ia hentikan, Krystal menandatangani kontrak kerja itu. Dan setelahnya ia kembali menggesernya ke arah Luhan.

 

“K..Kau menyetujui kontraknya?” Luhan menatap Krystal tak percaya. Tapi yang ia lihat Krystal menatapnya serius.

 

“Dia sedang menjalankan rencananya. Kita lihat apa yang akan dia lakukan dengan ini.”

 

 

Lain halnya dengan Krystal, setelah memarkirkan mobil di basement apartemennya, Kai terdiam di kursi kemudi mobilnya. Kalimat Krystal tentang merendahkan ia dan orangtuanya membuat emosi terasa meluap hingga ke ubun-ubunnya. “Gadis sialan.” Umpat pria itu sambil memukul setirnya keras-keras. Setelah itu ia keluar dari mobil meninggalkan parkiran.

Emosinya masih juga belum mereda sampai ia membuka pintu dan mendapati sepatu perempuan di rak sepatunya. Kai tersenyum simpul. Ia tentu tahu siapa pemiliknya, Irene.

 

Baru beberapa langkah, ia dapat melihat Irene masih dengan apron menggantung di lehernya membawa beberapa mangkuk makanan ke meja di depan tv. “Sudah pulang? Kau pasti belum makan. Aku sudah memasak, cepat kemari.” Ajaibnya suara dan senyuman lembut itu selalu berhasil membuat Kai luluh. Tanpa diminta emosinya menghilang, digantikan dengan rasa bahagia yang meledak di hatinya.

 

Kai menghampiri Irene, duduk di lantai berhadapan dengan gadis itu yang hanya terhalang oleh meja. Dilihatnya meja yang penuh dengan masakan rumahan, juga Irene masih memasang senyum anggunnya. “Ini yang membuatku tak bisa berhenti menyukaimu.”

 

Tapi yang ia dapat hanya tawa geli sebagai balasannya. “Adikku ini lucu sekali, kau pasti lapar. Makanlah.” Ujarnya sambil menyodorkan sumpit yang diterima dengan senyuman tulus oleh Kai. Seberapa banyak pun Kai mengungkapkan perasaannya pada gadis itu, sebanyak itu pula ia mendapat penolakan.

 

Kai dan Irene telah bersama sejak lama. Mereka di besarkan di panti asuhan yang sama. Semenjak ibunya meninggal, pihak agensi memilih Kai tumbuh di panti asuhan dibanding tanpa pengawasan sama sekali. Di saat Kai masih sulit menerima kenyataan pahit hidupnya, Irene adalah orang pertama yang membuatnya terkesan. Gadis itu tak pernah mengeluh, selalu terlihat ceria, dan begitu peduli padanya yang saat itu sangat tertutup dengan siapapun. Irene adalah orang pertama yang membuka hatinya setelah ia tutup rapat-rapat pasca kepergian sang ibu.

Irene memang lebih tua tiga tahun darinya. Tapi itu tak membuat perasaannya berubah sedikitpun. Usia bukanlah masalah. Tapi malangnya, Irene memiliki orang yang ia sukai sejak lama. Pria yang selalu Irene ceritakan bahkan saat gadis itu baru memasuki tahun pertama di sekolah menengah atas, bahkan hingga saat ini. Kai tersenyum miris.

 

“Kau kelihatan bahagia dari biasanya, apa ada kabar baik?” Ujar Kai setelah memasukan sepotong daging ke mulutnya.

 

Irene kembali tersenyum saat mendengar pertanyaan Kai. “Kau tahu kan pria yang sering ku ceritakan?” Katanya penuh semangat.

 

Oh, dia lagi. Pria yang selalu Irene ceritakan, pria yang sama yang selalu berhasil membuat Kai patah hati. Kai hanya mengangguk menunggu kalimat selanjutnya.

 

“Temanku yang bekerja di tempat yang sama dengannya bilang jika dia akan pulang. Kai, Park Chanyeol akan kembali ke Korea!”

 

.

.

.

TBC

 

Don’t be Sider, gimme the feedback.

See you next chapter~

Thanks! Jongin loves you good readers! :*

CqGZfE2XEAEIBvB

31 thoughts on “[EXOFFI FREELANCE] HATER X FAN (Chapter 5)

  1. Ping-balik: [EXOFFI FREELANCE] HATER X FAN (Chapter 7) | EXO FanFiction Indonesia

  2. Eh demi apaaaaa krystal suka chanyeol, chanyeol suka krystal, kai suka irine, irine suka chanyeol ealah kok ribet bgt yaakk ini rasanya hahhaha 😂😂 makin dibuat penasaran dah lanjutkan hehhehe 😉😉

  3. Ping-balik: [EXOFFI FREELANCE] HATER X FAN (Chapter 6) | EXO FanFiction Indonesia

  4. kok aku baca nya kai itu jahad bet ya sama krystal. ada apa sama kai sama ayahnya krystal, jadi penasaran di tunggu chap selanjut nya. jan lama” ya apdet nya/? :v

    • Hai!^^
      Padahal menurutku Kai segitu engga jahat2 banget :3 *disiram
      Terus ikutin chapter2 selanjutnya yaa;)
      Okee, makasih udah mampir dan baca🙂

  5. Adudududduduuuuu. Asyiknya. Jadi irene suka chanyeol? Chanyeol suka krystal? Krystal juga suka chanyeol? Kai suka irene? jdi cintanya segi brapa nih? Menyedihkan juga yah, kehidupan kai dii ff ini.
    Oh ya thor, lanjut trus yah…. Fighting…!

    • Hayoo cinta segi berapaa?
      Mungkin ini cinta segi prisma beralas lingkaran (?) *disiram
      Okee, makasihh yaa😀 ditunggu chapter selanjutnyaa😄

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s