[EXOFFI FREELANCE] The One Person Is You Season 2 (Chapter 2)

PhotoGrid_1470535099794

Tittle                           : The One Person Is You Season 2 (Chapter 2)

Author                       : Dancinglee_710117

Main Cast                 :

  • Park Chanyeol (EXO)
  • Lee Hyojin (OC)
  • Kim Myungsoo / L (INFINITE)
  • Park Jiyeon (T-ARA)

Other Cast                :

  • Bang Yongguk (B.A.P)
  • Kang Rae Mi (OC)
  • Oh Sehun (EXO)
  • Park Yoora (OC/Chanyeol sister)
  • Kim Jong In / Kai (EXO)
  • Kim Hyoyeon (SNSD)
  • Choi Jun Hong / Zelo (B.A.P)
  • Kim Himchan (B.A.P)
  • Jung Yong Hwa (C.N. BLUE)
  • And other you can find in the story

Genre                        : Romance, Comedy, Drama, Friendship, Family, Sad, and other

Rating                        : T

Length                       : Chapter

 

~Happy Reading~

*Hyojin POV*

 

Aku bisa gila! Aku bisa gila! Aku bisa -tunggu! Aku memang sudah gila karena berani mengacungkan jari tengah kepada senior itu!. Bagaimana kalau dia melaporkannya pada dosen Im? Lebih-lebih pria tua itu juga menyaksikan kejadian tersebut?!. Atau malah, dosen Im sengaja memata-mataiku melalui senior itu? agar dia dengan mudah mencari alasan untuk mengeluarkanku?!.

 

“Ahhh~ kenapa aku melakukannya?!”

 

Aigooo, mau berapa lama lagi kau berguling mengelilingi ruang tamu?”

 

Dasar Kim Jong In! apa tidak bisa diam dan biarkan aku melakukan apa yang aku mau?. Seharusnya kau juga ada disana saat aku melakukan hal buruk karena terlalu emosi!. Ah tidak, jika Jong In juga disana dan bukannya berkencan dengan nona Kim, maka dia akan menghabisiku saat ini juga. Semoga saja Sehun menutup mulut dan tak menceritakan apapun pada Jong In.

 

“Apa mungkin… bertemu seseorang yang menyebalkan lagi?” imbuhnya seraya melirik Chanyeol sesekali. Ahahahaha… dia paham sekali kalau Myungsoo sunbae itu sejenis dengan Chanyeol. Tapi maaf Jong In, aku tidak bisa tertawa sekarang.

 

“Apa jika bertemu seseorang yang menyebalkan, dia selalu seperti ini?” tanya Chanyeol yang sekarang sedang duduk disamping Jong In, mengganti saluran televisi sambil memberikan tatapan herannya padaku. Haiisssh! Apa dia tidak sadar kalau rambut merah jamurnya itu malah lebih konyol dari siapapun?!.

 

“Yup!” Jawab Sehun, keluar dari dapur sambil membawa dua cup ramyeon kemudian memberikan salah satunya kepada Jong In yang langsung duduk dilantai. “Bahkan bisa lebih parah dari ini.”

 

Ck ck ck, bukannya paham soal keadaan temannya, pria tampan nan kaya ini malah membuatku semakin stress. Juga, kenapa setiap ada makanan Sehun selalu saja membaginya dengan Jong In?, apa aku hanya pajangan? Atau pihak ketiga dari hubungan mereka?. Kejam!.

 

“Sehun-ah, sepertinya anak kucing peliharaanmu sedang kelaparan dan iri padaku.” Ledek Jong In dengan mulut penuh dengan mie.

 

“Aku bukan anak kucing!” kesalku, tapi dengan tak tahu dirinya mendekati Sehun juga Jong In untuk meminta -sebenarnya merebut paksa- ramyeon milik mereka. “Aku anak harimau, camkan itu!”

 

“Memangnya harimau merebut makanan milik orang lain?. Setahuku, mereka hewan yang terhormat dan tak mirip sepertimu.”

 

Aku mendongak dan memasang wajah masam, menodongkan sumpit bekas Sehun ke muka pria bernama Park Chanyeol itu.

 

“Memangnya aku ini terlihat seperti binatang?!. Dasar orang asing…”

 

Dan dia malah menjulurkan lidahnya untuk meledekku. Wah! Ajakan perang ini namanya!.

 

“Jadi kalian memutuskan untuk pacaran?”

 

Uhuk!. Sialan Jong In, aku jadi tersedak. Karena Sehun tak membawa minum, aku jadi harus bersusah payah pergi ke dapur untuk menyegarkan tenggorokan sekaligus menghilangkan rasa perih ini. Ya ampun, kuahnya sampai keluar dari hidung!.

 

‘Kalian memutuskan untuk pacaran?’

 

“Pacaran apanya? Aku menunggu tiga tahun sebagai temannya, bukan pacar!” gumamku setelah meneguk satu botol besar air dingin.

 

Sebaiknya aku segera kembali ke ruang tengah, perasaanku mengatakan mereka sedang berbicara yang aneh-aneh tentangku.

 

“Jadi, kau belum memutuskan?”

 

Langkah kakiku terhenti begitu mendengar nada bicara Jong In yang tinggi. Sudah berapa jauh pembicaraan mereka yang aku lewatkan sampai pria berkulit gelap itu terdengar kesal?.

 

“Aku hanya merasa trauma.”

 

Trauma? Apa Chanyeol masih belum bisa melupakan perasaannya pada Rae Mi?. Juga, kemarin Rae Mi bilang Chanyeol memberitahukan kepulangannya melalui pesan. Apa mungkin… mereka masih berhubungan via sns atau telepon?. Bisa jadi. Bahkan aku sama sekali tak menghubunginya sejak dia putuskan pergi ke Thailand, pasti Chanyeol mengira aku sudah melupakannya.

 

Atau mungkin… memang sudah?.

 

“Yak! Kim Jong In! tenggorokanku masih terasa perih karena omong kosongmu!”

 

Jong In nampak terkejut akan kedatanganku yang tiba-tiba, tapi berusaha menutupinya. Terlambat kawan, aku telah mendengar pembicaraan kalian.

 

“Ba-bagaimana bisa kau menyalahkanku?!”

 

“Tidak peduli! Pokoknya jatah ramyeonmu akan jadi milikku!”

 

“Yak!”

 

Chanyeol mematikan televisi lantas menghadap kearahku yang kembali duduk bersama Jong In dan Sehun.

 

“Bukankah kau sudah bertemu dengan orangtuamu? Kenapa kau tinggal disini?”

 

“Aku butuh waktu untuk menyesuaikan diri, lagipula jarak antara rumah orangtuaku dengan tempat kerja juga kampus terlalu jauh dan memakan waktu lama. Jadi aku putuskan menumpang kepada teman baikku, benar kan sobat?”

 

Jong In memberiku tatapan tajam, “Pastikan kau lakukan tugasmu dengan benar!” tegasnya, mengingatkan soal tugas yang harus aku lakukan jika menumpang secara cuma-cuma di rumahnya. Yah, tidak bisa dikatakan gratis juga jikalau aku membayarnya dengan tubuhku.

 

Oops! Sepertinya aku mengatakan hal yang ambigu. Maksudku adalah, aku membayarnya dengan membantu pekerjaan Jong In. Seperti menyapu, mengepel dan mencuci baju. Tolong jangan memikirkan hal negatif tentang persahabatan kami.

 

“Bohong. Dia pindah kesini karena tak bisa akur dengan Jinhyo!”

 

Sialan kau Oh Sehun! Kenapa malah membuka kedok?!.

 

“Hahahaha! Aku masih ingat bagaimana dia datang kemari sambil membawa koper dan rambut yang berantakan!”

 

[Flashback On]

 

“Jong In-ah… hiks… Jong In-ah…” seruku lirih karena menahan tangis. Kusentuh pipiku yang memar dan sedikit terluka. Ah! Perih. Huhuhu… kenapa Jong In tak segera membukanya sih?.

 

“Siapa itu? teman Jong In?”

 

“Apa dia habis dihajar atau kerampokan? Pakaiannya sampai berantakan seperti itu.”

 

“Rambutnya sampai naik keatas, pasti berkelahi karena pria!”

 

Ya ampun wanita-wanita itu… tidak sadar usia? Masih saja menggunjing soal orang lain padahal orang tersebut masih bisa mendengarnya dengan JELAS!. Ingin sekali aku protes, tapi mengacau dilingkungan rumah orang lain, terutama rumah Jong In bukanlah hal yang baik. Terlebih aku tak mau membuat kawanku itu diusir karena Hyojin tak mampu menahan amarah.

 

“Jong In-ah… apakau kau tidur?. Ini aku… Lee Hyojin… hiks…”

 

Ini semua karena Jinhyo sialan itu! jika saja dia mau sedikiiiiit saja berbaik hati pada kakaknya, maka aku tidak akan minggat dari rumah seperti ini. Tidak minggat juga sih, aku sempat pamit pada ayah dan ibu kok. Tapi rasanya lebih seperti diusir secara tak langsung sih…

 

‘Krieeet’

 

Pintu tua nan reyot ini kembali berderit. Apa Jong In tidak punya uang untuk menggantinya? Sumpah! Aku benci sekali dengan pintunya!.

 

“Benar… kau Lee Hyojin?”

 

“Tentu saja bodoh! hiks…”

 

“Kau… manusia kan?”

 

Aku menggeram lantas menjambak rambutnya sampai dia berteriak kesakitan. Persetan dengan tanggapan tetangga atau wanita-wanita tadi, tidak peduli dengan wajah konyolku yang akan mereka lihat, sudah cukup aku dibuat emosi oleh Jinhyo!.

 

[Flashback Off]

 

*Author POV*

 

“Karena Jinhyo sialan itu aku tidak bisa merasakan nyamannya keluarga padahal aku baru saja bertemu dengan orangtuaku. Yak! apa mempunyai adik laki-laki memang semenyebalkan itu?!”

 

Tak ada jawaban dari tiga pria tersebut. Sehun mengalihkan perhatian pada foto keluarga Jong In dan foto masa sekolah mereka. Hyojin memandang Jong In dan Chanyeol yang memberinya tatapan tajam, sepertinya tersinggung dengan pertanyaan Hyojin barusan.

 

“Kenapa? Pertanyaanku aneh?”

 

“Kau benar-benar tidak sadar ya?” tanya Jong In balik. Dengan dengusan kesal yang membuat Hyojin merinding sedikit.

 

Chanyeol menghela nafas berat lalu menyandarkan diri pada sofa, “Aku adalah adik laki-laki!” ungkapnya.

 

“Aaah… aku lupa…” sesal Hyojin seraya tersenyum kikuk. “Maaf ya.”

 

“Aku merasa sedang berhadapan dengan kakakku sendiri.” Sindir Jong In, melempar sumpitnya ke meja. “Kakak kejam yang menganggap seluruh adik laki-laki itu menyebalkan!”

 

Sehun menahan tawanya, “Seharusnya kau paham situasi saat ini, dua temanmu ini adalah seorang adik dan punya kakak wanita. Beruntung aku anak tunggal dan tak masalah dengan pertanyaanmu barusan.”

 

“Yak! mana aku tahu -eh, aku tahu tapi lupa hehe.”

 

“Wah… lupa? Padahal berapa lama ya kita berteman?. Ah! Terserah, aku tak peduli!” Jong In mengambil ramyeonnya, berjalan ke kamar, setelah itu membanting pintu dengan keras.

 

“Yak! Maafkan aku, serius aku minta maaf!” seru Hyojin coba merayu sahabatnya, tapi Jong In tak menggubris. “Hei! Setidaknya jangan diambil ramyeon itu kan bisa…” sekali lagi Hyojin menyesal.

 

“Bukannya merasa bersalah, ini malah memikirkan makanan!” Chanyeol berdecak lantas kembali menyalakan televisi, menyetel volumenya cukup keras, lalu tertawa saat komedian Yoo Jae Suk melakukan hal yang lucu disebuah acara.

 

“Aku kan sudah minta maaf ishh!”

 

***

 

“Sehun sudah pulang?”

 

Jong In pergi begitu saja setelah selesai menyeduh kopi, ia kembali masuk ke kamarnya tanpa menjawab pertanyaan Hyojin. Tak lupa menutup pintu dengan keras, lagi. Menunjukkan bahwa dia masih marah kepada sahabatnya tersebut.

 

“Merajuk lagi… ah biarlah, beberapa hari lagi juga baikan.”

 

Hyojin putuskan untuk membiarkan Jong In saja, memberikannya waktu untuk sendiri. Ia pergi ke ruang tamu, duduk manis di sofa, meraih remote yang tergeletak di meja bekas digunakan untuk makan tadi, lalu memencet tombol untuk menyalakan televisi.

 

“Padahal aku mau menguasai ruang tamu.”

 

Hyojin menoleh, pipinya memanas mendapati Chanyeol yang datang dengan rambut basah, membuat jantungnya berdegub lebih cepat dari biasanya. Dan jangan lupa akan baju yang Chanyeol kenakan saat ini, kaos hitam tanpa lengan, menunjukkan lengan berotot, dimana baru pertama kali ini Hyojin melihatnya. Chanyeol menghampiri Hyojin sambil mengeringkan rambut dengan handuk yang sejak tadi tersampir di lehernya.

 

“K-kau kan bisa tidur di kamar Jong In sementara… sampai kau bisa menemukan tempat tinggal baru.”

 

Chanyeol berdecak lalu menatap Hyojin dengan jarak yang begitu dekat.

 

“Kau lupa ya?”

 

Hyojin menelan ludah susah payah, lantas teringat perkataan Jong In pada Chanyeol tadi.

 

“Aaah… ‘Jangan pernah bermimpi tidur di kamarku!’ adalah yang Jong In katakan padamu. Aku baru ingat sekarang.” Katanya sambil mengalihkan muka.

 

Chanyeol tersenyum miring, “Apa kau kasihan padaku?. Kalau begitu kau mau berbagi kamar denganku?” ujarnya sambil mendekatkan wajahnya pada Hyojin.

 

Hyojin memberanikan diri membalas tatapan Chanyeol. “Memangnya aku sudah gila?” ia pun memicingkan mata seraya mendorong kepala pria itu dengan jari telunjuknya, “Minggir. Aku tidak bisa melihat televisinya!”

 

Chanyeol merebut remote di tangan Hyojin, kemudian tersenyum jahil, mengangkat remote itu tinggi-tinggi agar Hyojin tak bisa meraihnya.

 

“Yak!” tangan Hyojin berusaha menggapai benda persegi panjang itu, namun Chanyeol semakin meninggikannya guna membuat Hyojin kesulitan.

 

“Ayolah! Kupikir dalam waktu tiga tahun kau bisa menambah tinggi badanmu!”

 

“A-apa kau bilang tadi?!. Kau saja yang terlalu tinggi! Dasar tidak normal!”

 

“Wajar jika seorang pria diusiaku tumbuh semakin tinggi. Nah kau? Berapa usiamu sekarang? Harusnya kau masih bisa tumbuh lagi kan?”

 

“Wah! Sepertinya kau menggali lubang kuburanmu sendiri!” kesal Hyojin, ia berkacak pinggang, menatap Chanyeol tajam. “Kau benar-benar mau mati ya?”

 

Chanyeol menjulurkan lidahnya untuk meledek Hyojin, “Coba saja kalau kau bisa!” lantas tertawa, masih sambil mengangkat remote.

 

Hyojin emosi tingkat tinggi, wajahnya memerah seolah mau meledak. Tapi Chanyeol tak paham situasi. Gadis itu berdiri dengan cepat sehingga dapat meraih remote ditangan Chanyeol. Rencananya setelah itu adalah memelintir tangan Chanyeol, menendang tubuhnya, lalu sentuhan terakhir dengan memberikan jeweran maut agar telinga Chanyeol lebih lebar dari sekarang.

 

Tapi rencana tinggal rencana. Hyojin tak menyangka Chanyeol mampu mengelak. Pria itu menepis tangan Hyojin lalu bergerak mundur sampai jatuh ke lantai. Jatuhnya Chanyeol yang mendadak membuat Hyojin kehilangan keseimbangannya. Kakinya terpeleset sehingga ia pun jatuh…

.

.

.

Diatas tubuh Chanyeol.

 

Chanyeol terdiam, menatap wajah didepannya dengan seksama. Hyojin berubah, bukannya lebih cantik atau apa. Hanya saja, seperti ada sesuatu yang membuat gadis itu terlihat lebih manis dimata Chanyeol. Tangannya mengepal, lalu memberanikan diri untuk memegang wajah Hyojin dengan kedua tangannya, tak mengacuhkan deguban jantung yang begitu cepat.

 

“Apa yang kau lakukan?” tanya Hyojin dengan alis terangkat sebelah, memberikan Chanyeol ekspresi heran yang membuat kegugupan pria tersebut hilang seketika.

 

“Bukan apa-apa.” Ucapnya datar seraya melepas tangannya dari wajah Hyojin. “Kau tidak mau menyingkir?” sindirnya pada gadis itu yang tak kunjung berdiri.

 

“Oh, maaf.” Hyojin segera menyingkir seraya tersenyum konyol seperti Hyojin tiga tahun yang lalu.

 

“Apa kau tak merasakan apapun tadi?”

 

“Merasakan apa maksudmu?”

 

Bukannya menjawab pertanyaan Chanyeol, Hyojin malah bertanya balik. Dan wajah santainya itu membuat Chanyeol merasa kesal entah apa sebabnya.

 

“Jangan-jangan… kau memikirkan sesuatu yang jorok ya?!. Wah! Otak orang ini perlu dicuci, apa di Thailand kau banyak melihat video ‘itu’?”

 

“Sudahlah, tak perlu kau pikirkan!”

 

Chanyeol berdiri, beranjak menuju kamar Hyojin yang berada disebrang kamar milik Jong In.

 

“Yak! itu kamarku!”

 

Baru Hyojin hendak berdiri untuk mencegah Chanyeol, pria itu sudah memasuki kamarnya yang tak terkunci lantas membanting pintunya kasar.

 

“Apa-apaan dia?” bingung Hyojin tanpa berinisiatif untuk mengambil alih kamarnya.

 

Chanyeol duduk meringkuk, menyandar pada daun pintu yang tertutup. Ia mengacak rambut asal, antara kesal dan malu karena menggunakan kamar orang lain untuk menenangkan diri, terlebih lagi kamar tersebut milik orang yang sudah membuatnya kesal. Tapi tak ada pilihan lain. Pergi ke kamar Jong In malah akan membuat sang pemilik rumah kesal, dan mengusirnya. Karena itu Chanyeol membuang rasa malunya dan melampiaskannya dengan mengacau di kamar Hyojin.

 

“Dia bahkan tak membawa banyak barang dari rumahnya… jadi aku harus bagaimana untuk membalasnya?”

 

Tangan Chanyeol menyentuh setiap barang milik Hyojin tanpa berniat mengambilnya. Ia berhenti pada sebuah album foto yang terletak di nakas. Penasaran Chanyeol membukanya, melihat setiap foto yang merupakan album kenangan Hyojin semasa SD.

 

“Hahaha… lucu juga anak ini.” lirih Chanyeol saat membuka lembaran berisi foto Hyojin yang tertawa lepas bersama beberapa temannya. “Sepertinya ia mendapatkan album ini dari orangtuanya-”

 

Foto berwarna dengan potret Hyojin kecil tersenyum canggung, bersama seorang anak laki-laki yang lebih tinggi darinya. Anak laki-laki tersebut merangkul Hyojin, bukannya menatap kearah kamera malah melirik gadis kecil disebelahnya dengan sebuah senyuman yang berarti banyak. Chanyeol merasa tak nyaman dengan foto itu. Ia mengambilnya, membalik foto tersebut dan mendapati tulisan tangan di belakangnya.

 

Sunbae yang Hyojin kagumi, terima kasih.” Chanyeol membaca tulisan itu, “Apa ini tulisan Hyojin? Siapa pria ini? sepertinya bukan Yong Hwa-ssi.”

 

“Hey! Jangan lancang tuan Park!”

 

Chanyeol kaget dengan suara teriakan Hyojin sehingga menjatuhkan album beserta foto yang dia pegang. Gadis itu sudah berada didepan pintu masuk kamarnya, memandang Chanyeol dengan penuh emosi, mengambil benda miliknya yang sudah pria itu ambil dan mengembalikan foto yang terpisah pada lembaran yang kosong.

 

“Jadi… siapa sunbae yang kau kagumi itu?” tanya Chanyeol dengan wajah cemberut.

 

“Siapa?”

 

“Lihat dibalik foto tadi.”

 

Hyojin menurut, rasa marahnya berubah jadi penasaran karena dia sendiri belum melihat seluruh isi album karena baru menemukannya beberapa hari sebelum minggat dari rumah. Itu berarti sekitar dua minggu yang lalu. Belum lagi pekerjaan paruh waktu serta tugas menumpuk membuatnya kekurangan waktu senggang.

 

“Eoh!”

 

Chanyeol menajamkan telinganya, berusaha mendengar apapun yang diucapkan Hyojin mengenai seseorang di foto tersebut.

 

“Ini aku, dan…”

 

Chanyeol sampai menahan nafas karena sangat penasaran akan apa yang Hyojin katakan. Pacar? Cinta masa kecilnya? Musuh? Kakak kelas yang mesum?. Tanpa pria itu sadari kepalanya penuh dengan macam-macam pertanyaan mengenai anak laki-laki difoto itu.

 

“Siapa ya?”

 

‘Dhuak!’

 

Chanyeol merasa kepalanya ditimpa oleh batu besar dari belakang.

 

“Bukannya ini fotomu? Kok bisa tidak ingat huh?!”

 

“Yak, memangnya aku harus mengingat segala yang terjadi padaku?. Ada kalanya ingatan manusia melupakan suatu hal yang terjadi dikehidupan mereka. Apalagi aku baru-baru ini bertemu keluargaku, jadi secara tak langsung aku baru kembali ke masa kecilku!”

 

“Ta-tapi lihat ekspresi anak laki-laki itu! sepertinya dia menyukaimu!. Belum lagi tulisan dibelakang foto. Omo! Jangan-jangan sejak kecil kau itu playgirl atau dekat dengan banyak pria ya?”

 

Hyojin menatap Chanyeol datar, menghela nafas seraya menggeleng tak percaya. Gadis itu memutar matanya tak peduli dengan setiap prasangka buruk -yang sebenarnya konyol- Chanyeol tentangnya.

 

“Terserah kau mau bilang apa, toh sepertinya anak laki-laki ini tak begitu penting sampai aku melupakannya.” Ucap Hyojin sambil menepuk dada bidang Chanyeol, dimana perkataan gadis itu membuatnya tersenyum samar. Hyojin berjalan menuju pintu keluar, lalu berbalik sebelum benar-benar meninggalkan kamarnya.

 

“Hari ini aku ada pekerjaan ditoko dan baru pulang besok pagi, jadi hari ini kau boleh tidur dikamarku. Tapi ingat! Jangan lancang lagi, oke?”

 

“Oke call!. Hati-hati dijalan!” seru Chanyeol seraya melambaikan tangan.

 

“Tidak penting ya… hehe…”

 

***

 

Kepala Hyojin terus terjatuh karena mengantuk. Bahkan meski sudah meminum banyak kopi lalu membuka mata lebar-lebar sampai perih masih tak bisa menghilangkan rasa kantuknya. Ini semua karena dosen Im yang mengganti jam kuliah menjadi pagi hari padahal Hyojin baru saja menyelesaikan pekerjaan paruh waktunya ditoko.

 

“Mau tidur dibahuku?”

 

Kedatangan Myungsoo disebelahnya membuat Hyojin hampir berteriak. Beruntung dia sempat menahannya, kalau tidak dosen pemarah yang sedang mengajar didepan sanggup menulis ‘F’ disetiap nilai tugasnya. Hyojin memaki Myungsoo tanpa suara, sementara pria itu memberinya senyuman tampan.

 

“Kau bisa tidur dibahuku, dan kupastikan dosen Im tidak mengetahuinya.” Tawar Myungsoo sekali lagi.

 

“Tidak, terima kasih.” Jawab Hyojin dingin. “Dan maaf, untuk yang kemarin.”

 

Myungsoo terdiam memikirkan apa yang Hyojin maksud, lantas menjentikan jari seraya tersenyum manis pada juniornya tersebut.

 

“No problem.” Katanya lembut, “Kalau kau mau, kau boleh mengacungkan jari tengah kapanpun kau mau, asal… kau mau jadi kekasihku.”

 

“Ohok!”

 

“Siapa itu yang berisik?!”

 

Hyojin menutup mulutnya cepat, langsung berpura-pura menulis dan menunjukkan ekspresi ‘tak tahu apa-apa’ saat dosen Im melihat kearahnya. Setelah pria itu kembali mengajar didepan kelas, barulah Hyojin membalas perkataan Myungsoo.

 

“Berikan aku tanganmu.”

 

“Huh?”

 

“Berikan saja tanganmu!”

 

Myungsoo menyodorkan tangan kanannya pada Hyojin dengan kebingungan. Gadis itu lantas memegang tangan mulus Myungsoo pelan-pelan lalu mengigitnya dengan keras. Spontan Myungsoo berteriak kesakitan, membuat pandangan seluruh orang dikelas terarah padanya. Hyojin melepas gigitannya dan kembali berpura-pura, kali ini ekspresi terkejut yang dia tunjukkan sambil menoleh kesana kemari.

 

“Ada apa Myungsoo-ya?” tanya dosen Im, setengah emosi dan setengah khawatir sebab sang mahasiswa teladan yang berteriak tadi.

 

Myungsoo hendak membuka mulut, mengadukan kelakuan aneh Hyojin yang membuat tangnnya sedikit memar. Tapi Hyojin memotong, mengatakan bahwa ada anjing liar yang tadi masuk lantas menggigit tangan Myungsoo, karena itu sang senior berteriak keras tadi.

 

“Ta-tapi aku-”

 

Saem! Sepertinya Myungsoo sunbae harus dibawa ke ruang kesehatan, aku takut anjing tadi terkena rabies setelah mengigitnya!”

 

Sontak satu kelas tertawa melihat gurauan Hyojin yang memasang wajah panik.

 

“Heh! Yang ada Myungsoo terkena rabies bukannya anjing itu!” kata dosen Im seraya memegang kepalanya. “Myungsoo-ya! Sebaiknya kau ke ruang kesehatan saja!”

 

“Ta-tapi bukan anjing yang menggigit, melainkan-”

 

“Sepertinya virusnya sudah menyebar! Lihat kaki Myungsoo melemas!” seru Hyojin yang semakin panik tak karuan. “Saya akan mengantar sunbae ke ruang kesehatan!”

 

Salah satu mahasiswi mengejek Hyojin, mengatakan gadis itu hanya mencari perhatian sampai mau mengantar Myungsoo. Ia pikir, Hyojin cuma mencari alasan agar bisa dekat dengan pria tampan seperti Myungsoo. Mendengar itu Hyojin jadi geram, ingin sekali menggaruk wajah mahasiswi yang tidak dia kenal itu dengan trisula Neptunus.

 

“Kalau kau mau berurusan dengan anjing rabies silahkan saja kau yang bawa pria ini ke toilet -eh! Maksudku ruang kesehatan!” kesal Hyojin sambil berkacak pinggang.

 

“Sudah-sudah, biar Myungsoo sendiri saja, kau bisa kan Myungsoo?”

 

Myungsoo tergagap, sebenarnya ingin menjelaskan bahwa tak ada anjing liar manapun yang menggigitnya, melainkan manusia aneh berjenis wanita yang duduk disebelahnya. Namun Myungsoo punya rencana lain, ia tersenyum miring sekilas lantas mengatakan sesuatu pada dosen Im yang membuat Hyojin harus membulatkan kedua matanya.

 

“Tugas yang anda katakan tadi… satu kelompok berisi dua orang…” ia melirik Hyojin, “Saya boleh minta tolong anda jadikan Hyojin anggota kelompok saya?”

 

Terdengar desahan kecewa dari para gadis yang mengidolakan Myungsoo, serta beberapa mahasiswa lain yang mengharapkan nilainya bertambah karena satu kelompok dengan Myungsoo.

 

“A-apa? Ti-tidak perlu saem!, sungguh tidak usah repot-repot!”

 

“Apa kau sudah mempunyai kelompok?” tanya dosen Im pada Hyojin, dengan nada dingin dan tak senang. Tentu saja, beliau ingin Myungsoo berkelompok dengan murid lain yang punya nilai bagus, bukannya Hyojin yang sudah mengambil cuti dan punya pekerjaan paruh waktu.

 

“Be-belum sih…”

 

Tapi permintaan Myungsoo seperti perintah untuknya, jadi sang dosen tak bisa membiarkannya begitu saja.

 

“Oke, Myungsoo dan Hyojin, silahkan kumpulkan tugas kalian minggu depan.” Bertepatan dengan itu dosen Im membereskan mejanya karena jam mengajar sudah usai, “Kelas bubar.”

 

“Sa-saem! Im sonsaengnim!” panggilan Hyojin tentu saja diabaikan oleh dosen Im.

 

“Aahhh! Apa-apaan ini!” racaunya seraya mengacak rambut, “Sunbae! Kau tak serius dengan ini kan?!” ia beralih pada Myungsoo yang sibuk mengotak-atik ponselnya.

 

“Yak! ini punyaku!” seketika Hyojin merebut kembali ponselnya, namun Myungsoo sudah terlanjur menyalin nomor Hyojin dan menyimpannya di ponsel miliknya sendiri.

 

“Aku akan mengabarimu jam pertemuan pertama kita. Sampai jumpa lagi!” setelah itu Myungsoo mengemasi barangnya, pergi bersama Jiyeon yang sudah menunggu didepan kelas Myungsoo, meninggalkan Hyojin yang masih tak percaya dengan apa yang pria itu lakukan tadi.

 

“Oh ya ampun! Cobaan macam apa lagi ini?!”

 

Meski kesal begitu, Hyojin tak dapat berbuat apapun selain menerima kenyataan. Toh, meminta dosen Im mengubahnya juga percuma, karena nampaknya Myungsoo punya pengaruh besar sampai dosen Im bisa menuruti kemauannya dengan mudah.

 

Ponsel Hyojin berbunyi, menandakan ada panggilan masuk. Layarnya menampilkan foto Myungsoo yang sepertinya baru diambil tadi, serta nama kontak ‘Myungsoo oppa’ dengan tambahan tanda hati dibelakangnya. Hyojin ingin mematahkan ponsel itu jika saja tidak ingat bahwa ponsel dibeli juga dengan uang.

 

“Si brengsek ini!” ujarnya sebelum menjawab panggilan, “Apa?! Mau apa lagi?!”

 

“Wah wah wah… jangan kasar begitu, lain kali kau akan merindukan telepon dariku.” Suara Myungsoo disebrang sana terdengar percaya diri.

 

“Ya ya ya, terserah anda!. Ada apa kau menelpon?, memangnya sudah mau mengerjakan tugas kelompok?”

 

“Kenapa membahas soal itu terus?, kau kan bisa bertanya tentang oppa yang tampan ini-”

 

Sebelum emosi Hyojin semakin bertambah, ia memutuskan sambungan, mengacak rambut yang sudah berantakan sambil menendang apapun yang bisa dia tendang.

 

“Nanti jika aku perlu uang, aku akan menjual nomornya ke para gadis tadi, sepertinya akan laku terjual dan aku tak perlu repot-repot mencari cara kejam untuk membalasnya!” dengan kesal Hyojin memasukkan bukunya kedalam tas, “Toh sepertinya dia cukup terkenal disini!”

 

Ponselnya kembali bordering, tanpa melihat siapa yang menelpon Hyojin sudah menekan tombol hijau dan berseru kesal pada orang diseberang sana, menganggap si penelpon adalah Myungsoo. Tapi rupanya ia salah perkiraan, suara berat yang dia dengar bukanlah milik Myungsoo, melainkan…

 

“Park Chanyeol?”

 

 

 

~To Be Continue~

 

Wkwkwkwk mandek disaat yang penting ya? Ciyeee yang di PHP author wkwkwkwk *dilempar tombak sama pembaca* hehehehe… ampun deh, kan biar greget kaya abang Maddog.

 

Langsung ke mini FF / Pojok author yeth…

 

[MINI FF / POJOK AUTHOR]

 

Hyojin : “Yah, dikarenakan author sedang flu berat maka saya yang akan menggantikan interview kali ini. yup! Kali ini kita bersama dengan ‘sisa pemain’ dari season 2 yang akan meramaikan wawancara kali ini!. kita sambit -eh sambut men! Jung Yong Hwa! Kim Himchan! Choi Jun Hong! Bersama dengan Kim Hyoyeon! Dan Park Yoora!” (tepuk tangan sendiri)

 

Jun Hong : “Panggil Zelo aja napa! Nama panggung gua ini!” (kibas poni ganteng)

 

Hyojin : “Berisik!” (angkat linggis) “Yang gak terima selama interview boleh mengundurkan diri jadi pemain!”

 

Author : (tiba-tiba muncul) “Eh kampret! Jangan seenaknya mutusin sendiri!” (elap ingus)

 

Hyojin : (dorong author biar kembali ke dunia nyata) “Udeh dah yang sakit ya rehat aja kale!”

 

Himchan : “Thor ingusnya ituloh!, ih! Buruan pergi sono!” (mundur karena jijay)

 

(author pun kembali ke alamnya untuk kembali bertapa)

 

Hyojin : “Oke langsung saja tanpa perlu perkenalan karena para pembaca sudah kenal kalian semua!”

 

Hyoyeon : “Lah kampret!”

 

Yoora : “Alesan biar bisa cepet selesai ini roman-romannya.”

 

Hyojin : “ahahahaha… noona tau aja. Pokoknya langsung aja deh!. Pertanyaan pertama, kesan dan pesan kalian selama menjadi pemain di FF ini.”

 

Yong Hwa : “Lumayan, ada kegiatan selain nge-band, promosi secara tidak langsung, sama merambah dunia per-FF-an.”

 

Hyoyeon+Yoora : “Samain kayak dia.”

 

Hyojin : “Lah, dipikir mesen makanan?. Elu Him? Zel?”

 

Himchan : “Apaan Him? Kagak enak banget panggilannya!”

 

Hyojin : “yamasa gua panggil Chan? Ntar jadi Chanyeol dong, gebetan gua tuh!”

 

Yoora : “Adek gua tuh!, di chapter ini lu juga ngatain adek gua ya? Si ampret emang!”

 

(kemudian terjadilah perkelahian maut antara Yoora dan Hyojin. Please stand by dulu… *pembaca : artinya apa thor?* author : gua juga ga tau, ikutan yang dispongebob doang gua mah heheh*

 

Zelo : “Samain juga kayak Yong Hwa, Himchan hyung juga. Udah lanjut pertanyaan kedua biar cepet selesai!”

 

Hyojin : “Oke pertanyaan kedua, gimana perasaannya jadi pemeran tambahan dari season 1 sampe season kedua?”

 

Yoora : “Itu pertanyaan dari author kan? Minta digibeng nih orang, scene gua kebagian dikit doang jir!”

 

Hyoyeon : “Iye! Mana kalau muncul selalu di Lotte mart mulu dah!. Palingan juga sering kesebut kalau Jong In muncul, eh tapi dia pacar orang jiirr, adek satu agensi lagi!”

 

Yoora : “Krystal ya? Iya deng, kok bisa ya krystal mau sama jong in yang panuan?”

 

(tiba-tiba interview berubah jadi arena gossip)

 

Hyojin : “Mari biarkan dua wanita ribet itu menggosip ria. Kali ini kita dengar jawaban dari para pria.”

 

Himchan : “No Comment, males gua ribut sama author yang lagi pilek.”

 

Zelo : “Wdih! Artinya apaan noh hyung? No komen segala…”

 

Himchan : “elu beneran bocah akselerasi kagak sih?”

 

Yong Hwa : “Samain sama Himchan. Udahan yeth, mau cao latihan sama anak band yang lain, kasian gak pernah ikut FF ini. tapi si Jungshin ikut drama Cinderella ding!”

 

Hyojin : “Marilah kita mengheningkan cipta untuk interview yang riweuh dan author yang tepar di kasurnya. Oh iya… SELAMAT HARI RAYA IDUL FIT-” (berhenti ngomong karena lemparan kapak jumbo dari Yongguk. Akhirnya seluruh pemain FF yang lama maupun yang baru berkumpul di ruang interview)

 

Yongguk : “Lebaran udah lewat nyet!”

 

Chanyeol : “Biar gua yang mimpin, dasar cewek jadi-jadian!”

 

(setelah semua berbaris rapih dan menghadap kamera toy cam author, chanyeol pun memulai aba-aba)

 

ALL : “HAPPY INDEPENDENCE DAY INDONESIA YANG KE-71 MERDEKA!” (teriak sambil semangat 45)

 

Hyojin : “Kasian si author, tujuh belasan malah kenal flu musim panas, nangis alias keluar air mata bukan karena sedih eh malah kena pilek. Okedeh, mewakili author nih ye… RCL JUESEYOOOO~~~”

 

(jangan lupa RCL ya pembaca kekekeke~)

15 thoughts on “[EXOFFI FREELANCE] The One Person Is You Season 2 (Chapter 2)

  1. Waah buat chanyeol dan hyojin jadian dong thor. Masa udh lama nunggu tetep jd sahabat. Kasian hyojin. Huwaa.. Kangen sm yonghuk raemi. Ok deh ditunggu next chapternya! Semangat thor!

  2. Seneng momen chanyeol dan hyojin banyak. Tp kangen banget sama yongguk raemi .. Hiks. Ok deh ditunggu chapter 3 nya thor. Klw bisa lebih panjang dan ada yongguk raeminya. Fighting!

  3. Kak kurang feel masaaaa
    Kapan mereka jadian nyaaa?? Padahal diakhir season 1 kemaren chanyeol udah terang2an nunjukin kalo dia tertarik sama hyojin. Apa kudu dibuat cemburu dulu sama myungsoo?
    Aduh aku jadi ngatur yak wkwkw maap ya kak, yowes se-pewe nya kaka aja nulisnya gimana. Aku dukung kok ^^
    Semangat kaaaa~~

  4. kangenn sma yongguk,raemi skrang lbih banyak myungsoo nya
    emang sihh ini agak muter2 bca nya perasaan nya kesana ke situ chanyeol,myungsoo.. Iya feel nya jga kurang dapet hehe

    tapi seneng kok baca nya panjang thor
    next.. Semangat

  5. Horeeeyy chanjin momentnya banyakkk ku sukaa💞 *kelewat seneng*
    Kok feeling gua foto hyojin pas kecil yg sama cowo itu si myungsoo yah.-. Tapi perasaan doang sih…
    Penasaran parah min next next next;)

  6. Next next next next, palli palli palli #teriakKayaMintaPermen hehe, cerita x tambah seru + bkin pnasaran kelanjutan x.. Fighting author-nim, jgn lama* ya d.next x, gomawo ^_^

    2016-08-26 8:50 GMT+07.00, EXO FanFiction Indonesia

  7. Ff nya seru sih cuman kaya ada yg kurang gitu ya tpi aku gk tau itu apa cuman kaya ada yg kurang aja pas baca. Tetep semangat author keep writing 😊😁

  8. Kok feel nya kurang dapet yaaa…gimanaa yaa…kurang srek gitu…
    Apa gara2 tokoh baru, atau aq nya udah mentok banget sma hyojin-chanyeol….
    Hehehehehehe
    Maaf yaa thor…tetap semangat…!!!

  9. emmm kok kurang seru ya thor, trus kata”nya jd kaku gitu 😕 biasanya kalo baca ff ini aku ketawa n senyum” sendiri, sekarang malah kurang ngefek, hehe mianhae thor 🙏 apa beda author? yg kemaren author A, sekarang B?
    tp next ya thor 😊 hwaiting!

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s